Antara Cinta dan Dusta - A Fans Fiction Cerita di luar script Persembahan Bu Dhe - A Special Member

Oct
06
2011
Spoiler Bu Dhe #57 –Sultan dan Atikah Main Film ‘Welcome, CheVan’ – Part 1

Spoiler Bu Dhe 06 Oktober 2011 –Sultan dan Atikah Main Film  ‘Welcome, CheVan’ – Part 1


Ternyata Atikah tidak bisa berhenti memikirkan usulan dokter Bee, yaitu agar dia dan suaminya main film bersama.  Terlebih ketika pada hari kedua dan ketiga, pasien yang datang tetap banyak. Jika di hari pertama  kelompok ‘Titania’, maka pada hari kedua kertas pendaftaran berwarna putih   berderetkan nama ‘Kudaciya’, dan hari ketiga ‘Chevanian’. Dari hasil pembahasan suaminya, dokter Bee, Ton dan Van,  akhirnya Atikah tahu, bahwa penyebab wabah tersebut adalah sebuah sinetron. Atikah benar-benar takjub! Sehingga tanpa sadar telunjuk kanannya sudah masuk ke mulut. Kebiasaan yang sering ditegur Sultan…

Sultan sedang membaca artikel di komputer, ketika  Atikah tiba-tiba mendekati dan  melingkarkan kedua lengannya dari belakang leher suaminya. 

Atikah  : “Kangmas, emang dokter boleh main film?”

Sultan ( sambil mengecup lengan kiri  isterinya ) : “Ya, boleh aja. Asal bisa”.

Atikah ( tertawa )  : “Tapi pemain film cuma boleh menjadi dokter boongan, ya?” 

Sultan ( ikut tertawa ) : “Maksud kamu, dokter boongan dalam film? Emang banyak…” 

Atikah : “Ada nggak sih, pemain film yang kemudian sekolah dokter beneran?”

Sultan  : “Mungkin saja ada.  Tergantung impian masing-masing. Emang kenapa?”

Atikah : “Kalau Tikah mau main film, Kangmas setuju nggak?”

Sultan ( membalikkan tubuhnya dan menatap wajah isterinya )  : “Apa???!!!”

Atikah ( spontan membekap mulut suaminya ) : “Jangan teriak begitu. Bikin kaget, tahu? Terus itu mata, melototnya dikit aja”.

Sultan ( tertawa ) : “Kalau sedikit ya namanya bukan melotot, Nci…”

Atikah ( kedua lengannya melingkari leher Sultan sehingga wajah mereka sangat dekat ) : “Mau ya, main film?”

Sultan : “Maksudnya, kamu yang mau main film?”

Atikah ( agak merengek ) : “Bukan cuma Tikah. Kangmas juga”.

Sultan : “Kangmas ini dokter, Nci…”

Atikah : “Kan kata Kangmas, dokter juga boleh main film?”

Sultan ( menegaskan )  : “Kalimat itu masih berlanjut, ‘kalau bisa’. Kamu tahu, Kangmas tidak pernah kursus atau studi tentang itu”.

Atikah ( berapi-api )  : “Ah, Kangmas pasti iso. Kangmas pinter. Tikah percaya, pasti iso…”

Sultan ( dengan pandangan menyelidik ) : “Kamu nggak sedang ngidam, ‘kan?”

Atikah ( tertawa ) : “Nggak tahu, deh…”

Sultan ( menjepit hidung isterinya )  : “Jelas nggak mungkin. Kangmas kan sudah pernah bilang, kalau Nanda berusia empat tahun lebih baru dia punya adik…” Lalu berkata dengan wajah jahil, “Lagipula …”

Atikah ( penasaran karena suaminya tidak melanjutkan kalimatnya ) : “Lagipula apa, Kangmas?”

Sultan ( tersenyum kecil, lalu wajah jahilnya  berganti serius ) : “Nci, bermain film itu tidak mudah. Kamu harus bisa berperan sebagai orang lain, yang belum tentu sama dengan karaktermu. Kamu juga harus siap mental”.

Atikah : “Opo maneh?”

Sultan : “Kalau akting kamu bagus lalu dipuji, jangan besar kepala. Kalau dikritik karena dinilai jelek, jangan mencari alasan. Kalau gerak-gerikmu dipantau, jangan protes…”

Atikah ( menggeleng-gelengkan kepala ) : “Kangmas, yang jelas, to. Maksudnya apa?”

Sultan : “Kalaupun Kangmas jelaskan sekarang, tetap aja kamu sulit mengerti…”

Atikah ( buru-buru menyela ) : “Kalau gitu langsung main film saja, Kangmas. Nanti Tikah pasti mengerti…”

Akhirnya bujuk rayu  Atikah berhasil. Suaminya setuju. Demikian juga ibu Ema dan  keluarga besar dokter Rizal. Bahkan sambil tertawa-tawa Ibu Yulia berkata bahwa dia tidak keberatan jika diminta ikut bermain…

Entah bagaimana, semua berjalan cepat.  Tiba-tiba saja naskah sudah di tangan. Mereka akan bermain dalam Film Televisi, atau biasa disebut FTV, dengan durasi sekitar sembilan puluh menit.  Direncanakan mereka akan main dalam dua judul. Yang pertama ‘Welcome, CheVan’, dan  satu lagi bertema Natal untuk bulan Desember. 

Atikah : “Jadi kita akan main film dua kali?”

Sultan
 : “Ya, hanya dua kali. Sehabis itu, Kangmas nggak mau lagi”.

Atikah ( mengangguk )  : “Ya, Kangmas. Terima kasih ya, Kangmas bersedia…”

Dengan penuh semangat Atikah mulai membaca naskah pertama. Tapi baru sebentar, sudah teriak-teriak. Membuat kaget Sultan yang sedang menggunting kuku.

Atikah : “Kangmas, ini bukan buat kita. Namanya lain”.

Sultan ( tertawa, karena langsung memahami maksud Atikah ) : “Emang siapa nama di situ?”

Atikah : “Jovan dan Cherie. Pasti naskah ini salah”.

Sultan : “Sabar, ya? Kangmas selesaikan menggunting kuku dulu..”

Atikah meletakkan naskah, kemudian memperhatikan suaminya yang sedang menggunting kuku. Dan dengan sabar Sultan menjelaskan bahwa itulah nama mereka dalam film nanti. Pasti sudah dipikirkan baik-baik oleh pembuat naskah. 

Atikah : “Emang ndak boleh kalau tetap memakai nama Atikah dan Sultan?”

Sultan : “Nci, masih ingat kata-kata Kangmas? Jika kita mau main film, artinya ya bersedia menjadi tokoh lain, termasuk menggunakan  nama lain. Di sini disebutkan, kamu berperan sebagai gadis bernama Cherie. Dan Kangmas sebagai Jovan”.

Atikah ( cemberut, lalu menjawab dengan judes  ) : “Ojo ngenyek, to! Tikah bukan gadis lagi, sudah punya anak!”

Sultan ( terbahak-bahak ) : “Nci, Nci. Polos amat dikau! Ini dalam film, sayaaang. Yang umur tiga puluh tahun saja bisa berperan sebagai anak es em a, gituuu… Sebaliknya, yang masih gadis kadang dituntut untuk memerankan seorang ibu, lengkap dengan ekspresi kesakitan saat melahirkan”.

Atikah ( menatap wajah Sultan ) : “Begitu, ya?”

Sultan : “Tikah, kalau kamu ragu, nggak usah saja. Ini bukan pekerjaan mudah. Segala sesuatu harus dikerjakan dengan hati senang dan bertanggungjawab”.

Atikah ( menyela cepat ) : “Nggak papa, Kangmas. Nggak papa. Seperti yang Tikah bilang, Kangmas pasti bisa ngajarin Tikah. Jadi, Tikah nanti dipanggil Cherie, gitu? Dan Kangmas dipanggil Jovan? Kangmas tahu,  apa arti nama-nama ini?”

Sultan ( mengangkat jempol kanannya tinggi-tinggi ) : “Pertanyaan yang bagus dari nyonya dokter Sultan… Isteriku sayang, Cherie itu  artinya ‘tercinta’. Sedangkan Jovan, berarti ‘megah’…”

Atikah ( mencoba berpikir )  : “Megah itu… , megah itu…mirip gagah begitu, kan?”

Sultan : “Betul sekali!  Gagah dan indah”.

Atikah : “Waktu di Wagir Kidul, tetangga yang rumahnya di sebelah rumahnya teman Mbahnya Tikah ada yang  namanya Suparman, artinya gagah perkasa. Dia gak pakai nama Jovan”.

Sultan ( mengulang lambat-lambat kalimat isterinya ) : “Tetangga yang rumahnya di sebelah rumahnya teman Mbahnya Tikah… Ribet amat. Maksud kamu temannya Mbah Marni?”

Atikah ( tertawa ) : “Bukan, Kangmas. Tetangga temannya Mbah Marni…”

Sultan ( ikut tertawa )  : “Okelah, siapapun dia. Siapa tadi namanya? Suparman?”

Atikah ( cekikikan ) : “Iya, katanya dari kata Supermen. Karena tinggal di desa, diganti Suparman. Tapi orangnya memang gagah. Jadi cocok”.

Sultan ( menatapnya dengan wajah jahil seperti biasa dilakukan kalau sedang menggoda isterinya )  : “Jadi kamu mau nama Jovan diganti Suparman? Atau Jaiman?”

Atikah ( mengerutkan kening ) : “Jaiman? Tetangga temannya…”

Sultan ( menyela sambil tertawa ) : “Siapa lagi? Tetangga jauh teman dekatnya keponakannya suaminya Parto cucu angkatnya Mbah Pur…?”

Atikah ( tergelak )  : “Ah, Kangmaaas. Serius, Tikah mau nanya. Apa arti Jaiman?”

Sultan : “Pria yang berwibawa, hahaha… Jaim itu artinya jaga image, sayaaang…”

Atikah pura-pura cemberut. Tapi hatinya senang melihat Sultan begitu riang. Mungkin memang seperti ini rasanya jika saling mencintai…

Sultan ( berucap lembut ) : “Kok diam?”

Atikah ( tersenyum ) : Nggak papa, kok.  Kangmas, nanti Kangmas dulu yang membaca naskah ini, ya? Lalu Kangmas menjelaskan ke Tikah”.

Sultan : “Jadi kamu setuju dipangil Cherie?”

Atikah : “Setuju, Kangmas. Cherie, Cherie. Tadi Kangmas bilang, artinya ‘tercinta’. Indah, ya?”  Lalu menatap Sultan dengan mesra, “Apakah Tikah akan selalu menjadi isteri tercintanya Kangmas?”

Sultan ( menjawab dengan mesra pula ) : “Ya, Nci. Sampai kapan pun”.

Atikah : “Apakah Cherie ini juga menjadi gadis tercintanya Jovan?”

Sultan : “Lho, Kangmas ‘kan belum membaca naskah ini sampai selesai , Nci. Tapi biasanya orang lebih menyukai film yang tokohnya hidup bahagia. Jadi mungkin saja, Cherie adalah gadis tercintanya Jovan. Makanya nama mereka dipadukan menjadi CheVan”.

Atikah : “Kenapa judulnya ‘Welcome, CheVan’…?”

Sultan ( tertawa )  : “Wah, Kangmas juga nggak tahu. Kapan-kapan nanya saja sama yang membuat naskah... Ngomong-ngomong, Kangmas pantas nggak sih dipanggil ‘Jovan’?”

( bersambung )

Views: 842
Posting: 6-Oct-2011 22:26:43 WIB by Van22
Category:
Tools: Print
7 Responses to "Spoiler Bu Dhe #57 –Sultan dan Atikah Main Film ‘Welcome, CheVan’ – Part 1"
ls_lusia - 7-Oct-2011 07:35:09 WIB

ClapCheVan main film Smitten

ibeth87 - 7-Oct-2011 08:13:51 WIB

wuihhh ada yg baru lg....

horrreeeeee chevan main film SmittenSmittenCheesy

sri_ratna - 7-Oct-2011 09:16:52 WIB

asyik asyik asyiiikkkk Wivelsiap-siap antri karcis aaakkhhhh Wink

linasari - 7-Oct-2011 09:56:52 WIB

chevan maen di FTVSmitten 

Selanjutnya sinetron strippingBig Grin semogaaaaaaaClap

Van22 - 7-Oct-2011 12:32:35 WIB

Gallery nya udah dihias photo2 yah...nyicil baru segitu dulu... :D

Dezzy Qu - 7-Oct-2011 13:20:22 WIB

asiiiiikkkkkkk.... moga jadi kenyataaaaan main film nya niy CheVan Wivel

alavis - 7-Oct-2011 23:07:16 WIB

Bu Dhe top abisss....Thumbs Up

Asyiknyaaa pasti lihat Chevan eh Sultan Atikah main FTV... pasti hebohh..

Van yang baekkk.... makasih yaaaa udah taruh foto2 Chevan di Gallery.... blognya makin komplit.... makin betah main disini..Read

Your Comment:
Anda harus login bila ingin mengisi komentar
Blog Category