Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa harlequin adalah tipe bacaan yang sangat bagus. Akan tetapi, belakangan terjemahan harlequin di Indonesia mulai membosankan. Entah karena judul yang diputuskan untuk terbit memang sudah tidak sebaik dulu, atau karena kendala dalam penerjemahan yang tidak/belum menemukan ramuan yang pas.
Harus diakui bahwa kisah-kisah dalam serial harlequin masih standar cinderela, namun cinderela pun dapat menjadi cerita yang cantik jika diceritakan dengan baik. lalu di mana letak kelemahan harlequin indonesia sekarang???
Dalam tahun belakangan, saya hanya menyukai serial RAINTREE, dan JD ROBB-in death series-, serta beberapa judul lainnya. apakah ini suatu tanda kebosanan???
hanya waktu yang dapat menjawabnya
Mungkin karena boomingnya serial Wallflowernya Lisa Kleypass, banyak sekali penerbit yang mualai ambil ancang-ancang untuk menerbitkan buku sejenis untuk menyaingi gramedia. Pertama yang menggebrak adalah tentunya gagasmedia dengan buku Joanna Lindseynya. Lalu Dastan pun tak mau kalah dengan rencana untuk menerbitkan Lisa Kleypass Contemporary Romance.
Karena ceritanya yang segar dibanding dengan genre HQ sejenis, HR memunculkan wabah baru dalam bacaan roman. Dalam HR terdapat konflik yang lebih ‘berat’ dari pada roman kontemporer. Karena masih kuatnya faham feodal dalam setting yang diambil para penulisnya. Tentu budaya ini sangat dekat dengan budaya Indonesia sendiri yang masih kental unsur kekerabatannya.
Bagaimana menurut anda?
Silakan berkomentar!
NEED HOSTING ??? CLICK HERE
