asnwords my pathetic work in writing (",)v

Blog Category: Tulisan
Jul
25
2009

1. My favourite female character: Hermione Granger (cita-cita jadi kayak dia [dulu])
2. My favourite male character: Severus Snape (sama donk rimce ;p)
3. My favourite house: Gryfindor
4. My favourite book: Goblet of Fire (maybe ;p)
5. My favourite movie: Prisoner of Azkaban (kerennnnnnnnnnn)
6. My favourite spell: accio (mantra paling powerful buat orang males kek aku ;p)
7. My favourite scene: when the truth about sirius revealed (defender of snape bersorak "Tuh kan....")
8. My favourite deadly spell: crucio (sadist!)
9. My favourite non-human creature: phoenix (iri neh ma dumbledore!)
10. My favourite ghost: Bloody Baron (kisahnya romantis ui!)
11. My favourite subject: defense against dark arts (pelajaran paling guna kekekekek....)
12. My favourite teacher: Remus Lupin (Guru paling mendidik ;p)
13. My favourite couple (granted by J.K. Rowling): Lily n James Potter (Love-Hate Relationship ma Snape juga)
14. My favourite couple (not granted by Rowling): Draco - Hermione (kok ga kesampean seh?)
15. My favourite muggle-born: Hermione Granger (lihat atas)
16. My favourite pureblood: Draco Malfoy (idem ;p)
17. My favourite halfblood: Severus Snape (idem ;p)
18. My favourite triwizard champion: Victor Krum (beneran masi murid ya? kok udah kayak pemimpin getu?!)
19. My favourite place: Forbidden Forrest (always seru!)
20. My favourite voldemort's name: I am Lord Voldemort aka Tom Marvolo Riddle (anagram lovers)
21. My favourite voldemort's phase of life: the young tom riddle (cakep sih.........)
22. My favourite character that I don't think deserves to die: Weasley Twins (one deserve the other)
23. My favourite quidditch position: keeper (result of all)
24. My favourite director: Alfonso Cuaron
25. My favourite actor in movie: Ralph Fiennes (cakepnya ilang gara2 jadi voldy ;p)
26. My favourite actress in movie: Fiona Shaw (sesuai bgt ma bayanganku tentang Mrs. Dursley)
27: My favourite school other than hogwarts: beauxbattons (barbie begete ;p)
28. My favourite scary creature: dementor (that's why I love Prisoner of Azkaban)
29. My favourite patronus charm: Harry's First Unshaped Patronus Light (cahaya lebih keren kalo ga berbentuk *IMO*)
30. My favourite weasley: The twins (gokil.........)
31. My favourite potion: Veritaserum and Polyjus (ga bisa milih salah satunya ;p)
32. My favourite next generation: Scorpius Malfoy (Ah, little malfoy...................)
33. My favourite magical equipment: wand (apalah penyihir tanpa tongkat sihirnya, kekekekek)

Views: 163
Posting: 25-Jul-2009 09:25:05 WIB
Comments: 5 comments
Category: Review, Tulisan
Jun
01
2009

So you think you know what a grief is?

An enemy fiesting when your wheel crumble downhill.

Salty dust on your wound. Bitter but heals. The question is whose wound?

SN 1.1

Raja Castellans membuka mulutnya untuk menentang keputusan itu tapi diurungkan niatnya untuk berbicara melihat ekspresi keras kepala di wajah pria yang baru dikenalnya itu. Tatapan tanpa ekspresi itu mengingatkannya pada cerita yang berulang kali diceritakan kakeknya di masa lalunya. Tatapan itu adalah tatapan dendam, entah apa kesalahannya pada penyelamatnya ini. Dengan wajah kalah ia meninggalkan tahta kerajaan serta istana tempatnya memerintah.

Dalam tatapan itu Raphael seperti melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Seseorang yang selalu menyembunyikan perasaannya pada dunia dibalik tatapan tanpa ekspresinya dengan hawa kemarahan tertahan sangat nyata hingga dapat disentuh. Dia, Bernhard Michael, adalah sebuah bom waktu berjalan siap meledakkan segala yang dilaluinya. Layaknya tokoh kisah dongeng yang tiba-tiba menjelma nyata. Kebencian telah diwariskan, dahulu ia meragukan hal itu dapat terjadi, tapi kenyataan telah menunjukan bahwa keyakinannya tak selalu benar.

Mereka bergegas melalui jalan tikus. Sebuah jalur yang dipakai lelujur Sang Raja untuk memasukkan harem para raja dari luar istana. Betapa memalukan penghinaan yang harus ditanggung Sang Raja akibat kebodohannya di masa lalunya.

“Kemana kita semua akan pergi?” tanyanya.

“Kau berbicara padaku, Raphael?” Bernhard balik bertanya.

“Tentu saja padamu memangnya siapa lagi yang bisa menjawab pertanyaanku? Kau pikir siapa yang mau menolong kita? Kerajaan Vish dikenal karena kerajaan berhasil menundukkan banyak kerjaan di sekitarnya. Jadi kurasa takkan ada yang mau menolong kita sekarang,” terang Raphael.

“Ada seseorang yang mau menolong kalian. Kalau tidak apakah kau berpikir bahwa aku akan menolongnya? Sangat lucu!”

“Baiklah aku mengerti, tapi tidakkah menurutmu seseorang juga perlu tahu sesuatu? Hanya untuk menenangkannya,” desak Rafe sambil menunjuk orang yang dimaksudkannya.

“Kurasa ini bukanlah waktu yang tepat, Rafe. Selain itu bukan tugasku memberitahunya. Terima kasih, Tuhan! Itu takkan tertahankan,” kata Bernhard.

“Dengan segala hormat saya mengerti, tapi…………….” elak Rafe.

“Kurasa itu bukan urusanmu, Rafe. Atau aku tidak akan mengantarkan kalian! Pikirkanlah Rafe, ini hal yang terlalu penting untuk kau pertaruhkan,” jawabnya.

“Aku tahu, tapi …………………” elaknya lagi.

“Tak ada tapi-tapian. Aku akan mengantarkanmu sampai kau bertemu dengan penghubungku. Kalau kau mau memberikan pendapat simpanlah sampai kau bertemu dengannya. Bagaimana?” tanyanya dengan suara memaksa. Sebuah anggukan menyetujui kesepakatan itu. Kemudian ia kembali menemui Raja Castellans.

Dalam kebingungan yang semakin menderanya, akhirnya Raja Castellans angkat bicara. “Jadi siapa kau sebenarnya? Darimana asalmu dan apa kepentinganmu dalam masalah ini? Aku yakin kau bukanlah sekedar tamu yang datang ke pestaku atas undangan Raphael kan?”

“Well, tentu saja bukan. Tapi maaf saya tidak berhak untuk memberitahu Anda, Yang Mulia. Seperti saya telah katakan berulang kali darimana dan kemana saya akan pergi adalah rahasia dan saya tidak berhak memberitahu Anda.”

“Baiklah, tapi setidaknya berikanlah sedikit petunjuk padaku tentang kemana kita akan pergi,” Sang Raja berkata dengan wajah memelas.

“Well, saya kira saya tidak akan dihukum jika hanya sedikit memberitahu Anda tentang tujuan kita, Kerajaan Palsia. Tepatnya menuju Puri Sir Iron,” jawab Bernhard.

“Bukankah kerajaan itu telah hancur bertahun-tahun yang lalu dan menutup hubungan dengan dunia luar?” tanyanya.

“Sepertinya tidak sehancur yang diharapkan banyak orang, tetapi saya rasa isolasi itu malah menguntungkan keadaan Anda sekarang,” jawab Bernhard Michael diplomatis sambil tersenyum ganjil. “Karena sepertinya seseorang juga ingin ikut rombongan kita, aku akan membereskannya. Yang Mulia Anda masih ingat  jalan rahasia menuju ke sana bukan? Rafe, pergilah dulu, aku akan segera menyusulmu”

Sang Raja tak habis pikir bagaimana bisa dirinya terlibat lagi dengan kerajaan yang dianggap telah hilang itu. Ingatan masa kecilnya masih menyimpan kenangan tentang kerajaan yang dipimpin oleh Dinasti Demeter yang misterius itu. Saat dia masih berumur 10 tahun dan begitu senang menjelajahi Istana Peristirahatan Kerajaan Vayou yang kosong. Tanpa ia sadari ia telah menemukan jalan rahasia keluar tembok istana menuju sebuah hutan di seberang sungai belakang istana yang belakangan diketahuinya adalah wilayah kerajaan Palsia.

***

Sudah lama ia tak pernah menghirup udara sesegar ini. Mereka pasti tidak menyangka bahwa ia telah melarikan diri sampai ke tempat ini. Siapa suruh mereka menahannya di dalam istana dengan permainan membosankan itu, sekarang tanggung sendiri akibatnya, pikirnya jahil.

“Hei! Kau kira siapa kau? Berani sekali kau masuk kemari? Apa kau tidak membaca prasasti di depan hutan ini?” tuduhnya.

“Hei, siapa kau berani membentakku? Memangnya jalan ini milik moyangmu apa!” bentaknya.

“Aku cuma bertanya apa kau tidak membaca prasati di depan hutan ini? Apa selain buta kau juga tuli, heh?”

“Memangnya ada prasasti apa sih yang membuatmu genting begitu?”

“Prasasti yang berisi larangan memasuki hutan ini, bodoh! Memangnya orang tuamu tidak memberitahumu untuk memjauhi hutan ini. Jadi apa kau melihatnya?”

“Maaf, aku rasa aku tak melihat hal seperti yang kau katakan tadi. Jadi siapa kau dan mengapa kau berada di hutan ini kalau tak ada yang boleh masuk?”

“Itu bukan urusanmu! Kalau kau masih sayang nyawamu, kembalilah lewat jalan yang tadi kau lalui. Semoga kau menikmati perjalananmu dan jangan kembali lagi kemari.”

Lalu gadis itu masuk kembali kedalam hutan dalam sekejap mata tanpa menoleh sekalipun. Sang Pangeran terpana untuk beberapa saat karena sebelumnya tak ada yang pernah mengatainya buta dan tuli kemudian berlalu begitu saja tanpa menoleh kembali. Siapa sebenarnya gadis itu, ia tahu walaupun memakai jubah hitam lengkap dengan kerudung yang menutupi wajahnya tak mungkin suara bentakan semerdu itu milik seorang laki-laki. Sama halnya dengan membandingkan suara nyanyian merpati dengan raungan singa gunung.

Lalu ia teringat tentang penyihir hutan di perbatasan Kerajaan Vayou dengan Kepangeranan Palsia seperti yang sering diceritakan Rafe. Dulunya dia yakin Rafe hanya mengada-ada tapi mau tak mau sekarang dia harus mempercayai cerita itu.  Hanya penyihir saja yang bisa menghilang secepat itu.

Dengan langkah gontai Sang Pangeran menelusuri kembali jalannya seperti yang disarankan penyihir itu. Akhirnya ia menemukan prasasti yang bertuliskan larangan untuk memasuki wilayah hutan milik Kepangeranan Palsia itu. Ia tak habis pikir kenapa ada jalan tembus dari istana kerajaan menuju kerajaan hantu itu. Nanti akan ditanyakannya kepada Rafe.

Sesampainya di istana ia lupa bertanya tentang hal itu karena Rafe langsung memarahinya. Kemudian ayahandanya memerintahkan berbagai macam hal untuk dikerjakan Rafe hingga ia melupakan hal tersebut. Sampai hari ini.

***

“Selamat datang di Palsia,” kata Bernhard Michael dengan wajah sumringah.

Goyangan ranting dan dedaunan tertiup angin sepoi menyambut kedatangan rombongan itu di depan gerbangnya. Hutan itu lebih lebat dari pada ketika ia masih kecil dan rasanya dahulu tidak ada suara singa gunung seperti yang sayup-sayup ia dengar. Namun tak ada yang berubah, kemisteriusannya masih tertinggal. Kira-kira apa yang akan ditemukannya dibalik hutan ini. Menurut cerita yang beredar, tak ada yang pernah kembali setelah masuk ke dalam hutan ini.

“Saya akan mengantar kalian ke Puri Sir Iron yang akan menjadi tempat tinggal Anda ke depan. Aku yakin kalian akan betah disana. Di ujung hutan ini ada kereta yang akan mengantarkan kita ke tempat tujuan kalian,” ajaknya.

“Terimakasih atas kebaikanmu tapi apakah pemilik puri itu tidak akan keberatan menampung kami ditempatnya,” ucap Sang Raja.

“Sebenarnya pemiliknya sedikit keberatan tapi karena menolong Anda adalah permintaan langsung dari pemimpin kami, jadi Anda akan selamat selama berada disini,” jelasnya. “Apakah Anda keberatan, Yang Mulia?”

“Tentu saja aku tidak keberatan, semuanya tergantung pada keputusanmu. Aku tak berhak memilih penolongku bukan?”

“Kalau begitu akhirnya kita sepakat mengenai satu hal. Ayo kita bergegas, keretanya tak jauh dari sini,” ajaknya sekali lagi.

Mereka bergegas mengikuti langkah Bernhard menuju puri itu. Setelah sampai di gerbang masuk kota, ia menunjukkan tanda pengenal kemudian gerbang itu membuka dengan lebar. Ia lalu berbicara dengan penjaga gerbang tersebut.

“Perkenalkan ini Trochunter Delirius yang akan mengantarkan Anda menuju puri. Trochunter Delirius sudah menyiapkan kereta untuk rombongan Anda. Semoga Anda menikmati perjalanan Anda. Maafkan saya karena tidak dapat mengantar Anda sendiri.”

“Aku tak keberatan. Toh kalaupun aku keberatan aku tak berhak mengajukan keberatanku. Aku sadar ini sudah bukan daerah kekuasaanku,” jawab Raja Castellans.

“Semoga kita tak bertemu lagi, Yang Mulia”

“Yah, tidak perlu aku hanya bertanya kenapa kau begitu ketus. Dan mungkin ini agak terlambat, tetapi aku sangat berterimakasih atas bantuanmu. Tolong sampaikan salamku kepada ibumu, ia sangat beruntung mempunyai putra sepertimu,” ucapnya mencoba bersahabat.

“Menurutku malah sebaliknya…..” gumamnya.

“Maaf apakah tadi kau mengatakan sesuatu?” tanya Raja Castellans.

“Tidak, hanya saja saya teringat ada hal yang harus segera saya kerjakan. Sampai jumpa di lain kesempatan, Yang Mulia!”

“Baiklah,” yakin Sang Raja.

Mereka berpisah menuju tujuan masing-masing. Sang Raja bersama Trochunter Delirius berkereta sepanjang jalan dari gerbang Kerajaan Palsia ke kediaman Sir Iron. Untuk memecah keheningan, Raja Castellans menanyakan perihal pemilik puri yang akan mereka tuju.

“Jadi siapa sebenarnya orang yang kalian sebut Sir Iron itu?”

“Hmmm, apakah beliau tidak menceritakannya kepada Anda?”

“Beliau? Maksudmu Bernhard? Apakah dia sepenting itu? Aku tak mengira,” katanya. Namun karena tidak mendapat tanggapan Sang Raja melanjutkan, “yah, ia hanya mengatakan bahwa kami akan berlindung di Puri Sir Iron, tetapi dia tidak menjelaskan lebih detail.”

“Kalau begitu, Anda tidak tahu siapa beliau?”

“Memangnya siapa dia? Apakah dia atasanmu? Seberapa berkuasa dia di daerah ini?”

“Mungkin nanti saya akan menceritakan kepada Anda. Kita sudah hampir sampai gerbang puri.”

Raja Castellans melongokkan kepalanya melewati jendela, dan terhipnotis oleh keindahan puri di depannya membuat dirinya kehilangan kata-kata. Ia tak mengira di kerajaan hantu ini ia bisa menemukan istana yang keindahannya bahkan menandingi puri peristirahatan kesayangannya.

Kekagumannya akan keindahan itu terusik oleh kengerian pemandangan yang memasuki penglihatannya. Ada dua orang anak  yang berlarian  ke arah kereta mereka. Hal itu membuatnya spontan berteriak, “Awas!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Lalu kereta tiba-tiba terhenti. “Tenanglah Yang Mulia! Mereka memang suka menantang bahaya. Mereka takkan membiarkan kita menabrak mereka,” katanya sembari tersenyum. Trochunter Delirius lalu turun menghampiri mereka.

“Io, Ichi, apa yang kalian lakukan di sini? Jangan bilang padaku kalian bolos latihan Hex lagi! Apa yang akan kalian katakan pada Sir Iron jika Beliau tahu?”

“Paman Delirius tidak akan berani, aku tahu itu makanya kami nekad. Jadi apakah ayah kembali bersama kalian?” tanya anak laki-laki itu.

“Apakah Sir Iron ada di dalam, Ayah?” tanya si anak perempuan yang ternyata putri Trochunter Delirius sambil langsung berlari membuka pintu kereta.

“Ichii, jangan!”

“Io, kamu pasti terkejut. Lihat siapa di dalam sini! Ayahmu sudah ubanan, pasti dia kangen sama bibi. Ayo lihat sini!” teriaknya pada Io.

“Io!”

“Aku mau lihat, Paman.”

Io kemudian ikut masuk ke dalam kereta, lalu berkata, “Dia bukan ayahku! Ayahku tidak setua ini. Ichii, awas ya nanti kulaporkan ke ayah biar kamu dihukum masuk penjara bawah tanah!”

Ichii berlari menghindari pukulan Io menjauhi mereka. Lalu Delirius kembali masuk ke dalam kereta. “Maafkan mereka Yang Mulia. Sepertinya mereka terlalu dimanja oleh ibu mereka sehingga agak nakal,” katanya sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa, mereka anak-anak yang lucu. Apakah mereka anakmu?”

“Ichii, memang putriku. Sedangkan Io adalah putra Sir Iron,” jawabnya singkat.

“Putrimu cantik,” puji Sang Raja.

“Terimakasih, Ichii adalah salah satu alasanku untuk tetap hidup. Mari silakan kita sudah sampai.”

“Baiklah, mari!”

Seorang wanita berpakaian putih telah menunggu mereka di depan pintu  masuk puri tersebut bersama beberapa orang yang berpakaian seperti Trochunter Delirius. Seorang pria keluar dari kelompok tersebut segera menghampiri Delirius.

“Delirius, Sir Iron memintamu untuk mengantarkan pesan ini kepada Yang Mulia Raja Vayasin,” katanya seraya menyerahkan gulungan pesan kepada Delirius.

“Kapan Sir Iron kembali, Echium?”

“Aku tidak tahu ini permintaannya sebelum kepergian terakhirnya. Aku sendiri tidak mengerti mengapa bukan Sir Iron sendiri yang menyampaikannya. Tampaknya ada hal yang merisaukan Sir Iron belakangan ini,” kata Echium.

“Baiklah!”

Kemudian pandangannya beralih pada seorang wanita berpakaian serba putih di dekat Echium. “Saya diminta untuk menyerahkan nasib Raja Castellans selanjutnya pada Anda. Aku akan pergi sekarang,” katanya singkat. Delirius berbalik kembali ke kereta kudanya dan segera memacu kudanya keluar gerbang puri.

Wanita berbaju putih itu berjalan di depan Echium dan pria lainnya kemudian pergi menyambut Raja Castellans yang masih mengagumi keindahan puri tersebut. “Saya Krya Belowud, selamat datang di Puri Sha ini, semoga Anda menikmati perjalanan Anda. Saya yakin sebentar lagi Sir Iron akan kembali untuk menyambut kedatangan Anda,” katanya memperkenalkan diri.

“Terimakasih atas sambutan Anda yang ramah, berbeda sekali dengan sambutan yang kami terima sebelumnya.”

“Jika demikian kiranya kami berhutang maaf kepada Anda. Echium akan menunjukkan sayap timur yang telah disiapkan untuk Anda tinggali selama berada di sini, dan Argen akan mengantarkan makan siang Anda. Malam ini kami mengundang Anda dalam jamuan sederhana kami,” kata Belowood lagi.

***

Setelah melepas lelah dalam kamar tamu di sayap timur puri, mereka menuju ruang jamuan dengan diantar Echium. Betapa terkejutnya Raja Castellans melihat siapa yang juga ikut menghadiri jamuan itu. Selain ada anak laki-laki kecil yang tadi hampir ditabrak keretanya, yang lebih mengejutkan lagi melihat seseorang yang seumur dengan Bernhard Michael duduk di ujung meja jamuan tersebut. Dia berdiri untuk menyambut kedatangan Raja Castellans.

“Selamat malam, saya kira saya harus meminta maaf karena saya tidak berada di sini ketika Anda tiba. Saya harap Anda memakluminya.” Ia berhenti sejenak untuk melihat reaksi Raja Castellans. Melihat reaksi Sang Raja yang biasa-biasa saja, ia melanjutkan, “Saya Demitrious Sha, mungkin Anda sudah bertemu istri saya, Kea Bellowood,” ia menunjuk wanita yang tetap memakai pakaian putih yang tadi dikenakannya, “dan si kecil yang nakal ini adalah putra saya Io. Saya harap kenakalannya tadi tidak membuat suasana hati Anda memburuk dan melanyapkan selera makan Anda,” katanya pada Raja Castellans.

“Tentu saja tidak, lagi pula ia anak yang manis.”

“Baiklah. Semoga Anda dapat menikmati kelezatan makanan ini.”

Setelah itu jamuan berlangsung dalam kesenyapan sampai Io mengusik keheningan. “Kakek, bolehkan kalau Io panggil kakek?”

“Boleh saja. Panggil saja kakek Cast, Kakek boleh panggil kamu Io?” kata Raja Castellans. Sepertinya ia sangat menyukai anak kecil hingga tidak menyebut kedudukannya sebagai raja.

“Tentu saja boleh nama Io kan Io jadi ya kakek mesti panggil Io pakai nama Io dong!”

“Kakek, Kakek Cast, kenapa rambut kakek banyak ubannya? Apa kakek rindu nenek seperti Papa yang selalu rindu Mama jadi rambut Papa ada ubannya walaupun sekarang pasti sudah hilang kan sudah ketemu mama. Nah, kalau kakek sampai sebanyak itu ubannya berarti kakek sudah lama tidak bertemu nenek. Apa Io benar, Kek?”

“Io, Kakek sudah tidak sekecil kamu makanya kakek punya banyak uban. Kakek kemari bersama nenek kok, tapi nenek masih lelah jadi nenek makan malam di kamar. Nah sekarang kakek tanya balik. Kenapa Io pikir kakek merindukan nenek? Padahal kakek selalu bersama nenek.”

“Habis Ichii bilang kalau ada orang yang rindu sama orang lain, dia bakalan ubanan kayak Papa Io yang setiap pergi pasti rambutnya tambah banyak yang putih. Hehehe,” katanya sambil tersenyum jahil.

“Io, mana sopan santunmu? Apa kamu tidak mendapat pelajaran tentang sopan santun? Awas nanti Papa tinggalkan kamu belajar sendiri besok ya?!?” kata Bernhard.

“Ah tidak mungkin Papa berani, karena kalau tidak Mama pasti melarang Papa makan kue favorit Papa seperti dulu waktu papa pergi ke tempat nenek tanpa Io, hehehe,”

“Kali ini papa serius kalau kamu masih tetap nakal papa tidak akan menemani Io kemanapun lagi. Kali ini kamu harus mengerti hal yang dapat kamu tanyakan dengan sopan dan bertanya sesuai tempatnya. Kamu mengerti?”

“Tapi, kekek kan tidak marah, lalu kenapa Io yang dimarahi? Papa tidak adil sama Io!”

Demitrious kemudian berdiri dan menggeser kursinya. “Permisi sebentar, saya harus membicarakan sesuatu dengan putra saya yang terlalu manja ini,” katanya pada yang lainnya. Pandangannya berpaling pada putranya, “Io, ikut papa sebentar keluar.”

Merasakan aura kemarahan yang dipancarkan ayahnya, Io segera mengikuti langkah-langkah tegap ayahnya meninggalkan ruangan itu. Belum lama berselang, terdengar suara gemerisik aneh menembus ruangan yang baru saja ditinggalkan Demitrious bersama putranya. Kemudian terdengar teriakan panik Io.

“Papa! Papa! Papa, jangan tidur di sini! Malu kan pa! Papa dengar Io kan?!? Mama, Papa tidur di lantai lagi! Mama marahi Papa dong!”

“Ada apa?” tanya Raja Castellans sambil bergegas keluar menghampiri mereka.

“Tidak ada apa-apa! Echium cepat antar Raja Castellans kembali menikmati jamuannya! Arsland! Dimana kamu cepat kemari bantu aku! Io, kembali ke kamarmu bersama Bibi Aurum dan segera tidur. Mengerti?!?” rentetan kata-katanya terdengar tegas sehingga tak ada yang berani membantahnya. Wajah pucatnya menyiratkan sesuatu yang tidak wajar telah terjadi, hal itulah yang membuat mereka segara mengikuti instruksinya.

Dengan sigap Echium segera menyeret Raja Castellans menjauhi kerumunan yang mengelilingi Demitrious. Tanpa berusaha memendam rasa penasarannya, Raja Castellans menanyakan keadaan Demitrious. Yang dengan ketus dijawab olehnya, “Maaf dengan ketidaknyamanan Anda ini. Saya yakin sebentar lagi Sir Iron akan kembali, tapi saya diperintahkan untuk mengantar Anda kembali ke dalam dan bukan untuk menjelaskan sesuatu kepada Anda, Yang Mulia. Maafkan saya. Mari lewat sini.”

“Aku mengerti kau diperintahkan untuk tidak berbicara, tapi tidakkah kau berpikir hal itu malah akan membuat orang lain penasaran dan mungkin membuat orang tersebut ingin menyelidikinya lebih jauh? Aku yakin kau tahu lebih banyak dan bahkan aku lebih yakin lagi kau ingin berada di sana untuk melihat ada apa sebenarnya. Apakah aku benar?” tanyanya.

“Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya Yang Mulia, saya harus mengingatkan Anda bahwa urusan rumah tangga puri ini bukanlah masalah yang harus Anda cemaskan, sebaliknya jika saya menjadi Anda, saya akan mencemaskan kerajaan saya yang sampai saat ini masih dikuasai orang asing yang belum tentu akan memperlakukan rakyat saya dengan baik. Bagaimana Yang Mulia? Saya kira kata-kata saya tidak salah, jadi sebaiknya mulai sekarang Anda memendam keingintahuan Anda tentang masalah ini dalam-dalam dan pikirkanlah hal yang seharusnya Anda pikirkan sebagai seorang raja sebuah kerajaan,” terangnya.

Kaget mendengar kebenaran dalam kata-kata yang diucapkan Echium, membuatnya terdiam memikirkan kelalaiannya mengenai keadaan rakyat yang telah ditinggalkannya untuk melarikan diri. Betapa hina dirinya sampai melupakan tanggung jawabnya terhadap rakyat yang telah melayaninya seumur hidup mereka padanya. Di sini ia malah menikmati kemewahan Puri Sir Iron yang bahkan bukan miliknya ini, namun tidak sedetikpun ia ingat terhadap rakyatnya. Apakah mereka diperlakukan dengan baik oleh Raja Vish yang telah mengambil alih kerajaan tersebut hingga ia harus melarikan diri seperti pengecut kemari.

Views: 164
Posting: 1-Jun-2009 10:00:35 WIB
Comments: 2 comments
Category: Tulisan, Prosa
Jun
01
2009

Apa yang kau harapkan dari sebuah pesta yang diselenggarakan oleh seorang raja? Sebuah kemeriahan tanpa akhir?  Sebuah tempat berkumpulnya para pemenang? Ataukah hanya sebuah pertunjukan kemewahan di antara derita rakyatnya? Itulah pikiran yang berkecamuk di dalam hati pria itu.

Seorang pria yang terasing dari seluruh kemeriahan itu, hanya berdiri memandangi taman dari seberang kaca tinggi mewah aula luas tempat puluhan pria dan wanita berdansa berpasangan mengikuti alunan musik. Pria yang menggenggam rahasia hingga berlindung dari seluruh dunia namun kehidupan selalu menyeretnya pada panggung terbuka untuk dinilai, untuk dihakimi. Baginya takdir begitu kejam padanya, mengapa dia tak dapat melawan?

“Maafkan saya, Paduka Yang Mulia memanggil Anda.”

Pria itu menoleh pada asal suara itu. “Ada apa Rafe? Tak bolehkan aku sendiri di sini?”

“Saya rasa itu tidak bijaksana. Anda tahu Yang Mulia sangat mudah marah jika keinginan Beliau tidak terkabul,” ujar Rafe sambil tersenyum getir.

“Itulah yang aku takutkan, Rafe. Jika aku menemui beliau maka berakhirlah keberadaanku di kerajaan ini,” balasnya tak kalah getir.

“Sebaiknya Anda temui Paduka segera, jika tidak apapun yang Anda khawatirkan akan menjadi lebih buruk.”

Pria itu terdiam sejenak lalu menghela nafasnya. “Baiklah kalau begitu, ingatlah kata-katamu sendiri, Rafe. Apakah ada yang lebih buruk dari apa yang akan terjadi. Tapi kika itu terjadi jangan pernah menyesal itu bukanlah pilihanmu tapi pilihanku,” ucapnya sambil menepuk bahu kuyu Rafe. Pria itu kemudian berlalu dengan mantap.

Rafe mengantarkan pria itu melalui kerumunan para bangsawan yang sedang larut dalam suasana pesta menuju satu-satunya pintu yang masih tetutup. Sebelum ia sempat mengetuk pintu tersebut menjeblak terbuka. Seorang pria dengan wajah pias keluar dari ruangan tersebut. Begitu menatap wajah Rafe dan pria itu wajahnya langsung berseri kembali. Cepat-cepat ia mempersilahkan mereka masuk.

“Maaf saya mengganggu, apakah ada yang dapat saya lakukan untuk Paduka?” sapa pria itu.

Sang raja menoleh pada pria yang sedari tadi ditunggunya untuk muncul itu. “Ah akhirnya kau muncul juga. Tadi aku menceritakan kemampuanmu dalam membaca masa depan pada sahabatku ini, kemudian dia tertarik untuk membuktikannya. Jadi maukah mau meramal masa depan sahabatku ini?” Tanya sang raja dengan ceria seperti seorang anak sedang memamerkan mainan barunya pada teman-temannya.

“Tapi, Yang Mulia? Apakah Anda yakin?” pria itu kembali bertanya.

“Apalagi yang kamu takutkan? Takkan ada yang menyebarluaskan kemampuan anehmu di luar kok!” kilah sang raja sumringah.

“Baiklah, jika begitu. Saya hanya berharap Anda tidak akan menyesal Yang Mulia,” tambah pria tersebut.

“Ayo kemari sahabat, pinjamkan tangan kananmu barang sebentar,” ajak sang raja sambil mengamit tangan sang sahabat.

Pria tersebut kemudian mengelus tangan sang sahabat sambil memejamkan matanya. Sahabat sang raja memperhatikan pria yang berada di depannya yang bagai berada di dunia lain. Aura mistis menguar dari dalam tubuhnya. Tadinya dia hanya mengganggap perkataan sang raja tentang kemampuan pria itu untuk meramal masa depan sebagai sebuah lelucon. Orakel atau peramal biasanya adalah seorang gadis suci yang bersemedi di kuil-kuil elemen. Tidak mungkin pria tegap di depannya ini adalah seorang Orakel. Namun kali ini sepertinya sang raja tidak sedang bercanda.

“Bagaimana? Apakah sahabatku akan mendapatkan keinginannya? Apakah dia akan menemukan cinta sejatinya? Ayo katakan!” seru sang raja tak sabar.

Pria itu kemudian membuka matanya dan menatap sahabat raja dengan tatapan yang tak bisa digambarkan. Antara bertanya dan menuduh, “Apakah Anda benar-benar yakin Yang Mulia?”

Sang raja kehabisan kesabarannya, “sudahlah, katakana saja apa yang kau lihat!”

“Perkataan Anda adalah titah bagi hamba.” Kemudian pria itu mulai bercerita tanpa dapat dihentikan lagi.

Di tempat lain seorang pria lain tersentak dan menjatuhkan sebuah buku.

***

Views: 102
Posting: 1-Jun-2009 09:56:38 WIB
Comments: 0 comments
Category: Tulisan, Prosa