Pemkot Surabaya dan Kementrian Pekerjaan Umum (PU) mulai membersihkan bangunan liar (bangli) dan sampah di Jembatan Petekan. Ini dilakukan untuk melancarkan arus sungai yang tersumbat. Langkah ini dilakukan sejak beberapa bulan lalu. Pemilik bangli yang ada di areal jembatan itu, termasuk yang berada tepat di bawah jembatan baru hanya bisa melonggo saat petugas ketentraman dan ketertiban (Trantib) Satpol PP membongkar paksa beberapa bangli. Penertiban ini akan dilakukan secara maraton mulai Selasa (4/1) hingga Minggu (16/1) mendatang atau sekitar dua pekan. Bangli dan sampah dinilai memberikan andil besar akan mandegnya arus sungai di kaki jembatan itu. Apalagi sekitar Agustus 2010 lalu,bagian jembatan ada yang ambruk karena termakan umur. “Akibatnya aliran sungai jadi terganggu.Makanya kami bersihkan,” ujar Kasi Ketenteraman dan Ketertiban (Trantib) Satpol PP Kecamatan Semampir, M Ilyas,kemarin.
Penertiban dari personel Satpol PP itu relatif tak ada perlawanan dari beberapa penghuni bangli. Meski terlihat tak rela, namun mereka ikut mengangkuti barangbarang dan memindahkannya keluar areal jembatan.Sedangkan selain penertiban,beberapa warga juga ikut membantu membersihkan tanamanliaryangbanyaktumbuhdi sekitaraliransungaiyangtersumbat itu. ”Setelah semuanya selesai, maka komponen besi yang ambruk akan disimpan.Setelah itu,rencananya sekitar jembatan akan dibuat taman dan air mancur,”kata dia. Menurut dia, jembatan petekan mempunyai nilai historis tinggi. Karena itu, jembatan itu peninggalan Belanda itu akan dijadikan cagar budaya. ”Bangunan ini memang cagar budaya,dan agar terawat maka harus diperbaiki dan dipercantik sekitarnya,”ucap Ilyas.
Kasi Pengawasan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) V Surabaya, Yudi Widargo mengungkapkan, jembatan itu memang sudah tak berfungsi lagi sejak 1993 lalu. Sebagai pengganti, maka Departemen PU membangun dua jembatan baru disisinya. Namun, sebagian jembatan lalu ambruk sehingga mengganggu aliran sungai disana. ”Terutama kalau musim hujan, debit air di sebelah selatan jadi tinggi sehingga arus sungai naik karena terhambat ini,”ujarnya. Terkait pengangkatan komponen besi jembatan, pihaknya akan menggunakan satu unit backhoe. Ini sekaligus juga dimanfaatkan mengeruk lumpur di dasar sungai dengan lebar sekitar 20 meter itu. ”Jembatan ini akan dibongkar sebagian saja,karena sisanya akan digunakan sebagai cagar budaya.
Proses pembongkaran dan pengerukan memang memakan waktu lama,”katanya. Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Surabaya,Wiwiek Widayati menambahkan jika fokus utama adalah normalisasi aliran sungai Kalimas dulu. Baru setelah itu, pihaknya akan membenahi sekitar jembatan untuk monumen cagar budaya. ”Kami menggarap normalisasi aliran sungai dulu,” terangnya.