Belajar Ngeblog Sedang belajar ngeblog

Blog Archive: March 2010
Mar
27
2010

Kolaborasi antara Teater Tetas dan Project Phakama menghasilkan pertunjukkan yang sarat simbol dan pesan. Realitas sosial dibalut apik dalam simbol-simbol yang digunakan.

Dengan memainkan simbol, para aktor seolah-olah memaksa penonton agar ikut berpikir dan memahami realitas di balik simbol yang mereka mainkan. “Bentuk teater mereka sangat bersifat partisipatif di mana pertunjukan menuntut keterlibatan seluruh aspek dalam pertunjukan,”ujar sutradara Teater Tetas, Agus Arya Dipayana. Pentas The World at My Feet yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) merupakan gagasan cemerlang dalam mengangkat tema sosial.

Pentas kolaborasi seniman-seniman ini bahkan mampu menyiasati kendala bahasa justru dengan menjadikannya sebagai senjata untuk membuat pentas ini berbeda. Teater Tetas merupakan salah satu teater kontemporer asal Indonesia yang secara berkala mementaskan karya dalam melakukan tawaran, melempar gagasan, dan wacana sebagai tanggapan atas berbagai persoalan.

Dengan demikian, Project Phakama merupakan lembaga kesenian asal London yang merupakan kelompok yang kerap melakukan kolaborasi dengan berbagai grup di banyak negara. Pertunjukan The World at My Feet sendiri memiliki gagasan, bahwa kenyataan manusia hidup di suatu dunia di mana segala sesuatu sangat mungkin.Manusia berharap,bercita-cita,bermimpi,hingga kemudian bisa menjelma sebagai sebuah kenyataan.

Kisah ini dimulai dari sebuah pulau di mana seorang pengembara melakukan ritual pengembaraannya ke berbagai wilayah di belahan dunia. Seorang pengembara yang membawa sebuah benih kebaikan untuk ditanam di bumi yang dikuasai oleh manusia.Perjalanan seorang pengembara ini dalam mencari media yang cocok untuk menanam benih inilah yang menjadi benang merah hingga mengantarkan sebuah cerita-cerita dalam babak kehidupan manusia.

Sebuah kisah yang teramat dekat dengan kehidupan manusia. Lakon itu memaparkan Kanghari, maksudnya lakon ini memaparkan keluh kesah manusia dalam rutinitasnya bekerja, perilaku manusia yang serakah dengan alam hingga fragmen tentang bagaimana manusia mereka ibaratkan robot yang dipaksa untuk bekerja pada kaki-kaki kapitalis. Pentas kolaborasi dua pelaku seni ini memang tidak seperti pentas teater lainnya. Mereka cenderung memainkan beragam teknik dalam bercerita untuk menceritakan lakon yang mereka pentaskan.

Views: 94
Posting: 27-Mar-2010 03:32:50 WIB
Comments: 0 comments
Category: Bloging
Mar
04
2010

Konferensi, Presiden Hu Jintao dan PM Wen Jiabao saat menghadiri konferensi di parlemen di Beijing, kemarin. Setelah dua bulan lebih bersitegang, Amerika Serikat (AS) mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan China lewat kunjungan dua pejabat seniornya, kemarin. Melalui wakil menteri luar negeri James Steinberg serta penasihat senior Gedung Putih untuk Asia Jeffrey Bader yang mengunjungi Beijing, kemarin, AS seperti memberi isyarat kalau mereka sangat serius dalam memperbaiki hubungan dengan China.

Kedua pejabat senior tersebut bahkan be-rencana menghabiskan tiga hari di Beijing demi misi memperbaiki hubungan dengan China. Sebagai awal dari misi tersebut, Steinberg dan Bader sudah duduk semeja dengan perwakilan China. Kedua negara membahas berbagai persoalan yang selama ini menjadi perhatian mereka.

“Jika kunjungan ini bisa diartikan sebagai usaha kami untuk fokus ke masa depan serta demi kerja sama dalam isu-isu penting yang bisa kami lakukan bersama, saya kira kami sedang berusaha untuk memenuhi usaha tersebut,”tutur juru bicara Departemen Luar negeri AS Philip Crowley.

Selain memperbaiki hubungan AS–China, kedatangan Steinberg dan Bader ke Beijing juga sebagai bentuk persiapan kedua negara sebelum mereka duduk bersama dalam berbagai pertemuan penting dunia, termasuk pertemuan soal keamanan nuklir di Washington, April mendatang.

“Kunjungan ini merupakan alasan mengapa kami harus mencari pertemuan khusus sebelum memfokuskan diri pada isu-isu spesifik, terutama soal Iran,” tambah Crowley. Baik AS maupun China menolak untuk memberi keterangan lebih lanjut soal detail ataupun hasil pertemuan kedua negara, kemarin.

Namun, kedua negara diperkirakan membahas soal isu nuklir Iran serta sepakat untuk mengusahakan kembali digulirkannya pertemuan enam negara (AS, China, Korea Utara, Jepang, Korea Selatan, Rusia) guna menyelesaikan persoalan nuklir Korea Utara, menurut pengamatan Type Approval Indonesia. Perundingan enam negara terhenti setelah Korea Utara mengundurkan diri April tahun silam karena Dewan Keamanan PBB memberi sanksi terhadap mereka.

Melihat perselisihan tajam China– AS, tugas Steinberg–Bader untuk memperbaiki hubungan kedua negara jelas sulit. Pasalnya, China sudah telanjur marah kepada AS yang dinilainya arogan dan selalu mengabaikan peringatan keras mereka. Dalam beberapa kesempatan, secara terang-terangan China selalu menuding AS sebagai penyebab merenggangnya hubungan kedua negara.

“Pihak yang paling bertanggung jawab dalam renggangnya hubungan kedua negara tentu saja AS. Kami harap mereka memahami posisi China secara serius,” tandas juru bicara Kementerian Luar Negeri China Qin Gang. Permintaan serupa disampaikan juru bicara badan penasihat legislatif China Zhao Qizheng. Dia menegaskan bahwa China tidak akan menoleransi berbagai bentuk penindasan AS selama ini.

“Amerika harus memahami kalau hubungan China-AS seperti mobil dengan dua sopir di dalamnya. China mengontrol jalannya roda, akselerasi, dan rem. Dua sopir dalam satu mobil itu harus saling berkonsultasi satu sama lain kalau tidak ingin mobil itu melintir,” ucap Zhao.

Hubungan China dan AS meregang dalam dua bulan terakhir karena berbagai sebab dari persoalan serangan terhadap situs Google, rencana AS untuk menjual senjata ke Taiwan hingga puncaknya saat presiden AS Barack Obama menerima kedatangan pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama di Gedung Putih, akhir bulan lalu.

Semua tindakan AS selama ini dinilai China sebagai bentuk pengkhianatan. Terkait serangan Google, perusahaan penyedia keamanan jaringan komputer di AS Damballa mengatakan serangan terhadap Google kemungkinan dilakukan oleh pihak amatir bukan karena konspirasi negara seperti yang didengungkan AS selama ini.

Saya pastikan kelompok hacker ini tidak memiliki banyak dana karena alat yang mereka pakai jauh dari kata superior. Mereka tidak disponsori oleh negara,”jelas Gunter Ollmann, wakil presiden Damballa. Serangan hacker terhadap Google di China terjadi sejak akhir tahun lalu. Serangan ini membuat AS melakukan protes keras terhadap negara tirai bambu itu.

Apalagi, China secara tegas menolak permintaan Googledan AS agar negara tersebut menghapus sensor pada Google. Karena persoalan ini, Google bahkan berencana hengkang dari China. Pemerintah AS bahkan berencana membawa persoalan Google ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Views: 81
Posting: 4-Mar-2010 18:46:37 WIB
Comments: 0 comments
Category: Bloging