Kolaborasi antara Teater Tetas dan Project Phakama menghasilkan
pertunjukkan yang sarat simbol dan pesan. Realitas sosial dibalut apik
dalam simbol-simbol yang digunakan.
Dengan memainkan simbol,
para aktor seolah-olah memaksa penonton agar ikut berpikir dan memahami
realitas di balik simbol yang mereka mainkan. “Bentuk teater mereka
sangat bersifat partisipatif di mana pertunjukan menuntut keterlibatan
seluruh aspek dalam pertunjukan,”ujar sutradara Teater Tetas, Agus Arya
Dipayana. Pentas The World at My Feet yang digelar di Gedung Kesenian
Jakarta (GKJ) merupakan gagasan cemerlang dalam mengangkat tema sosial.
Pentas
kolaborasi seniman-seniman ini bahkan mampu menyiasati kendala bahasa
justru dengan menjadikannya sebagai senjata untuk membuat pentas ini
berbeda. Teater Tetas merupakan salah satu teater kontemporer asal
Indonesia yang secara berkala mementaskan karya dalam melakukan
tawaran, melempar gagasan, dan wacana sebagai tanggapan atas berbagai
persoalan.
Dengan demikian, Project Phakama merupakan lembaga
kesenian asal London yang merupakan kelompok yang kerap melakukan
kolaborasi dengan berbagai grup di banyak negara. Pertunjukan The World
at My Feet sendiri memiliki gagasan, bahwa kenyataan manusia hidup di
suatu dunia di mana segala sesuatu sangat mungkin.Manusia
berharap,bercita-cita,bermimpi,hingga kemudian bisa menjelma sebagai
sebuah kenyataan.
Kisah ini dimulai dari sebuah pulau di mana
seorang pengembara melakukan ritual pengembaraannya ke berbagai wilayah
di belahan dunia. Seorang pengembara yang membawa sebuah benih kebaikan
untuk ditanam di bumi yang dikuasai oleh manusia.Perjalanan seorang
pengembara ini dalam mencari media yang cocok untuk menanam benih
inilah yang menjadi benang merah hingga mengantarkan sebuah
cerita-cerita dalam babak kehidupan manusia.
Sebuah kisah yang teramat dekat dengan kehidupan manusia. Lakon itu memaparkan Kanghari,
maksudnya lakon ini memaparkan keluh kesah manusia dalam rutinitasnya
bekerja, perilaku manusia yang serakah dengan alam hingga fragmen
tentang bagaimana manusia mereka ibaratkan robot yang dipaksa untuk
bekerja pada kaki-kaki kapitalis. Pentas kolaborasi dua pelaku seni ini
memang tidak seperti pentas teater lainnya. Mereka cenderung memainkan
beragam teknik dalam bercerita untuk menceritakan lakon yang mereka
pentaskan.
Konferensi, Presiden Hu Jintao dan PM Wen Jiabao saat menghadiri
konferensi di parlemen di Beijing, kemarin. Setelah dua bulan lebih
bersitegang, Amerika Serikat (AS) mencoba untuk memperbaiki hubungan
dengan China lewat kunjungan dua pejabat seniornya, kemarin. Melalui
wakil menteri luar negeri James Steinberg serta penasihat senior Gedung
Putih untuk Asia Jeffrey Bader yang mengunjungi Beijing, kemarin, AS
seperti memberi isyarat kalau mereka sangat serius dalam memperbaiki
hubungan dengan China.
Kedua pejabat senior tersebut bahkan
be-rencana menghabiskan tiga hari di Beijing demi misi memperbaiki
hubungan dengan China. Sebagai awal dari misi tersebut, Steinberg dan
Bader sudah duduk semeja dengan perwakilan China. Kedua negara membahas
berbagai persoalan yang selama ini menjadi perhatian mereka.
“Jika
kunjungan ini bisa diartikan sebagai usaha kami untuk fokus ke masa
depan serta demi kerja sama dalam isu-isu penting yang bisa kami
lakukan bersama, saya kira kami sedang berusaha untuk memenuhi usaha
tersebut,”tutur juru bicara Departemen Luar negeri AS Philip Crowley.
Selain
memperbaiki hubungan AS–China, kedatangan Steinberg dan Bader ke
Beijing juga sebagai bentuk persiapan kedua negara sebelum mereka duduk
bersama dalam berbagai pertemuan penting dunia, termasuk pertemuan soal
keamanan nuklir di Washington, April mendatang.
“Kunjungan ini
merupakan alasan mengapa kami harus mencari pertemuan khusus sebelum
memfokuskan diri pada isu-isu spesifik, terutama soal Iran,” tambah
Crowley. Baik AS maupun China menolak untuk memberi keterangan lebih
lanjut soal detail ataupun hasil pertemuan kedua negara, kemarin.
Namun,
kedua negara diperkirakan membahas soal isu nuklir Iran serta sepakat
untuk mengusahakan kembali digulirkannya pertemuan enam negara (AS,
China, Korea Utara, Jepang, Korea Selatan, Rusia) guna menyelesaikan
persoalan nuklir Korea Utara, menurut pengamatan Type Approval Indonesia.
Perundingan enam negara terhenti setelah Korea Utara mengundurkan diri
April tahun silam karena Dewan Keamanan PBB memberi sanksi terhadap
mereka.
Melihat perselisihan tajam China– AS, tugas
Steinberg–Bader untuk memperbaiki hubungan kedua negara jelas sulit.
Pasalnya, China sudah telanjur marah kepada AS yang dinilainya arogan
dan selalu mengabaikan peringatan keras mereka. Dalam beberapa
kesempatan, secara terang-terangan China selalu menuding AS sebagai
penyebab merenggangnya hubungan kedua negara.
“Pihak yang paling
bertanggung jawab dalam renggangnya hubungan kedua negara tentu saja
AS. Kami harap mereka memahami posisi China secara serius,” tandas juru
bicara Kementerian Luar Negeri China Qin Gang. Permintaan serupa
disampaikan juru bicara badan penasihat legislatif China Zhao Qizheng.
Dia menegaskan bahwa China tidak akan menoleransi berbagai bentuk
penindasan AS selama ini.
“Amerika harus memahami kalau hubungan
China-AS seperti mobil dengan dua sopir di dalamnya. China mengontrol
jalannya roda, akselerasi, dan rem. Dua sopir dalam satu mobil itu
harus saling berkonsultasi satu sama lain kalau tidak ingin mobil itu
melintir,” ucap Zhao.
Hubungan China dan AS meregang dalam dua
bulan terakhir karena berbagai sebab dari persoalan serangan terhadap
situs Google, rencana AS untuk menjual senjata ke Taiwan hingga
puncaknya saat presiden AS Barack Obama menerima kedatangan pemimpin
spiritual Tibet Dalai Lama di Gedung Putih, akhir bulan lalu.
Semua
tindakan AS selama ini dinilai China sebagai bentuk pengkhianatan.
Terkait serangan Google, perusahaan penyedia keamanan jaringan komputer
di AS Damballa mengatakan serangan terhadap Google kemungkinan
dilakukan oleh pihak amatir bukan karena konspirasi negara seperti yang
didengungkan AS selama ini.
Saya pastikan kelompok hacker ini
tidak memiliki banyak dana karena alat yang mereka pakai jauh dari kata
superior. Mereka tidak disponsori oleh negara,”jelas Gunter Ollmann,
wakil presiden Damballa. Serangan hacker terhadap Google di China
terjadi sejak akhir tahun lalu. Serangan ini membuat AS melakukan
protes keras terhadap negara tirai bambu itu.
Apalagi, China
secara tegas menolak permintaan Googledan AS agar negara tersebut
menghapus sensor pada Google. Karena persoalan ini, Google bahkan
berencana hengkang dari China. Pemerintah AS bahkan berencana membawa
persoalan Google ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).