Seorang anggota punk tewas dengan kondisi mengenaskan di Jalan Ahmad
Yani, Kelurahan Cipaisan, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat,
menurut informasi yang didapat Hosting
Murah Indonesia Indositehost.com. Kepala korban hancur hingga
otaknya tercecer di jalan setelah dilindas truk yang ditumpanginya.
Korban
diketahui bernama Iman (25), warga Kampung Karang Anyar, Kelurahan
Nagri Tengah, Kecamatan Purwakarta. Kini jasad korban masih berada di
kamar jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bayu Asih menunggu
keluarganya.
Peristiwa tersebut, menurut Kasat Lantas Polres
Purwakarta AKP Edy Kusmawan, berawal ketika serombongan anak-anak punk
menyetop truk yang kebetulan sedang melintas. Secara bersamaan dari arah
Bandung menuju Jakarta, berhenti sebuah truk bernomor polisi B 9641 DO
yang dikemudikan Ridwan.
“Ketika mereka naik ke atas bak, korban
terpeleset yang kemudian jatuh ke kolong truk. Kepalanya pun langsung
terlindas ban kiri belakang hingga hancur. Nyawa korban tidak dapat
tertolong dan meninggal di TKP,” ujar Edy, Kamis (27/5/2010).
Untuk
penyelidikan lebih lanjut, lanjutnya, truk bersama pengemudinya dibawa
ke Mapolres Purwakarta untuk dimintai keterangan. Berdasarkan keterangan
Ridwan, anak-anak punk tersebut memaksa untuk menghentikan
kendaraannya.
Sementara itu, salah seorang teman korban yang
menolak menyebutkan identitasnya justru memberi keterangan berbeda.
Terjatuhnya korban bukan karena terpeleset saat menaiki truk. Akan
tetapi, sopir secara mendadak tancap gas begitu semua teman-temannya
sudah berada di atas truk.
Iman yang kebetulan berada di samping
kiri tidak dapat berpegangan saat truk melaju secara mendadak, menurut
informasi yang didapat Belajar HTML.
Akhirnya jatuh dan terlindas ban belakang,” ujarnya sembari menunggui
jasad korban di kamar jenazah
Isu perlindungan lingkungan merasuk di dunia mode. Hal tersebut
dilakukan para pelaku mode Barat, layaknya Eropa dan Amerika, sekaligus
di Asia. Salah satu pelaku mode yang memfokuskan diri pada gerakan mode
hijau adalah firma asal Jerman, Messe Frankfurt.
Untuk keenam
kalinya menurut pengamatan Hosting
Murah Indonesia Indositehost.com, Messe Frankfurt menggelar
”Ethical Fashion Show” yang mempertunjukkan koleksi busana ramah
lingkungan di Paris. Pertunjukkan khusus tersebut berhasil menarik
perhatian ribuan penikmat mode, buyer, juga kalangan media. Sekaligus
menjadi salah satu highlight ajang fashion capital tersebut.
”Pertunjukan
ini menjadi komitmen kami untuk membantu lingkungan dan memajukan
pembangunan berkelanjutan dari sisi mode,” ujar Direktur Messe Frankfurt
Detlef Braun.
Braun mengatakan, green fashion merupakan salah
satu cara bagi pelaku mode untuk ikut melakukan gerakan perlindungan
lingkungan tanpa harus bersusah payah.” Singkatnya, dengan memilih
membeli kaus yang dibuat dari serat organik, berarti Anda telah membantu
mengurangi pencemaran lingkungan dari insektisida,” paparnya.
Messe
Frankfurt aktif mengampanyekan gerakan mode hijau melalui trade fair
sejak 6 tahun lalu. Setiap tahunnya, Messe Frankfurt menggelar 100
pameran di seluruh dunia yang menghadirkan ratusan pelaku industri
tekstil yang telah melakukan gerakan mode hijau.
Lebih lanjut,
Braun mengatakan bahwa green fashion sebenarnya merupakan celah industri
yang potensial untuk digarap. Tahun lalu, Messe Frankfurt berhasil
membukukan transaksi total sebesar USD671 juta untuk pameran yang mereka
gelar di Inggris.
Messe Frankfurt memulai ”Paris Ethical Fashion
Show” pada 2004 dengan hanya 20 desainer. Dan kini, pertunjukan mode
ramah lingkungan tersebut telah didukung lebih dari 90 perancang mode
dari seluruh dunia.
”Melalui acara ini, kami ingin
menyampaikan informasi kepada masyarakat dan penikmat fashion bahwa
green fashion tidak harus mahal atau serbaorganik,” ujar Isabelle Quehe,
pendiri Messe Frankfurt.
Satu hal yang ingin dicapai Quehe
adalah membantu meningkatkan kesejahteraan negara-negara miskin. Menurut
Belajar HTML bahwa banyak
perusahaan mode menggunakan tenaga kerja dari negara miskin untuk
menekan biaya produksi, yang justru tidak memberikan banyak keuntungan
bagi para pekerja. Harapan gerakan mode hijau ini agar masyarakat
semakin sadar dan selektif dalam memilih brand yang ramah lingkungan dan
beretika sosial,” tutur Quehe.
Selain masalah gugatan hukum dan kekerasan terhadap pers,kebebasan pers
juga dipengaruhi oleh faktor peraturan perundangan yang berlaku di suatu
negara, terutama yang bersinggungan dengan kerja pers. Jika suatu
peraturan hukum kondusif, akan membantu pers dalam menjalankan tugasnya
sebagai pencari dan penyebar informasi untuk publik. Sebaliknya menurut Hosting
Murah Indonesia Indositehost.com, jika peraturan itu
konservatif,akan mengancam kebebasan pers. Sebagai contoh misalnya
pengesahan Undang-Undang (UU) No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik (ITE).
Peraturan ini,di satu sisi baik
karena memberikan payung hukum terhadap kebebasan informasi dan
transaksi elektronik.UU ini juga mengatur persebaran informasi di dunia
maya yang kerap meresahkan masyarakat, seperti konten multimedia yang
mengandung kekerasan atau pornografi. Persoalannya adalah sejumlah pasal
dalam UU ITE berpotensi mengganggu kebebasan pers karena memuat
larangan-larangan yang mirip pasal pidana dalam KUHP.
Ini bisa
dilihat pada Pasal 27 ayat3danPasal28ayat2yangintinya melarang siapa pun
menyebarkan informasi yang dianggap mencemarkan nama baik dan
menimbulkan permusuhan. UU ITE juga berpotensi menghambat kebebasan
berekspresi.Media ekspresi tidak hanya berwujud pers. Berkat kemajuan
teknologi, setiap orang kini sudah bisa menyampaikan informasi.
Artinya,
bukan tidak mungkin akan lebih banyak lagi arus informasi yang
berpotensi membuat pihak-pihak tersinggung dan memicu sengketa, seperti
sudah terjadi pada kasus Prita Mulyasari baru-baru ini.Terkait UU
ITE,Dewan Pers sudah menyatakan keberatan dengan sejumlah pasal yang
mengandung unsur pidana dan saat ini sedang ditindaklanjuti oleh
parlemen. Selain UU ITE, tantangan UU “konservatif” lain yang juga akan
menjadi tantangan bagi pers ialah RUU Rahasia Negara.
Dalam
rancangan itu, pada nantinya negara diberikan jaminan hukum untuk
mengatur informasi apa saja yang boleh diakses dan informasi apa saja
yang tidak boleh diakses publik. JikaRUUinijadidisahkan,bukantidak
mungkin akan menghambat pers dalam mencari informasi. Selain itu,RUU ini
juga berpotensi memicu gugatan terhadap pers karena kerahasiaan
informasi atau informasi yang tidak bisa disampaikan akan dilindungi UU
dan dikenakan sanksi bagi yang melanggar.
UU ini memang masih
dibahas dan ada kemungkinan tidak jadi dibahas karena pemerintah sudah
mengesahkan UU No 14/2008 tentang Kebebasan Informasi Publik yang
berlaku per 30 April lalu.Kendati demikian,kedatangan UU “konservatif”
ini tetap harus diwaspadai.
DI tengah gempuran krisis keuangan dunia tahun lalu, perekonomian
Indonesia terbukti bisa bertahan. Pertumbuhan ekonomi masih
memperlihatkan grafik positif, padahal di banyak negara perekonomiannya
negatif. Usaha mikro kecil dan menegah (UMKM) diyakini merupakan salah
satu motor penggerak yang membuat laju perekonomian terus positif. Pada
triwulan III/2008 pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6%, gejolak
krisis keuangan global 2007 mulai dirasakan dampaknya di Indonesia
terutama menjelang akhir 2008, menurut hasil pnyelidikan Hosting Murah Indonesia Indositehost.com.
Hal ini misalnya terlihat dari indikator perlambatan kegiatan ekonomi
secara signifikan terutama karena anjloknya kinerja ekspor. Kendati
begitu,sepanjang 2008 perekonomian Indonesia masih tumbuh 6,1%. Pada
2009 pertumbuhan perekonomian Indonesia mencapai 4,5%.Angka ini
merupakan tertinggi ketiga di dunia setelah China dan India.Tahun ini
pertumbuhan ekonomi bahkan diperkirakan akan mencapai 5,5–6%.
Perekonomian
Indonesia tidak bisa dipisahkan dari UMKM mengingat jenis usaha ini
banyak menjadi tumpuan kehidupan masyarakat. Untuk memperkuat
perekonomian nasional, UMKM harus diberdayakan secara maksimal. Menurut
Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan, pemberdayaan koperasi dan
UMKM merupakan bagian integral dalam pembangunan nasional yang
bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Dalam rentang waktu perjalanan panjang proses pembangunan nasional
disadari bahwa koperasi dan UMKM telah memberikan berbagai sumbangan
yang sangat berarti bagi kehidupan ekonomi masyarakat. Sjarifuddin
menambahkan, UMKM adalah istilah yang sangat identik dengan rakyat.
Setiap
kali membicarakan potensi dan peran penting sektor UMKM,dengan
sendirinya secara intens akan memasuki masalah yang paling esensial
dari sektor yang satu ini yakni rakyat itu sendiri. Sektor UMKM yang
bergerak dalam berbagai kegiatan ekonomi sudah lama dinilai sebagai
sektor terpenting dalam mengatasi masalah yang dihadapi Indonesia yakni
pengangguran, setengah pengangguran, dan kemiskinan. Karena itu,
pengembangan sektor yang tersebar di seluruh Indonesia ini dinilai
sangat baik dan strategis tidak saja untuk memperbesar lapangan kerja
dan kesempatan kerja,tetapi sekaligus pula mendorong pembangunan daerah
dan kawasan pedesaan di Indonesia.
Sjarifuddin menegaskan,
khusus industri skala mikro dan kecil, peranan UMKM dalam perekonomian
nasional juga sangat penting, terutama dalam aspek peningkatan
kesempatan kerja, pemerataan pendapatan, akselerasi perekonomian di
pedesaan, dan peningkatan ekspor nonmigas. Dengan demikian, peranan
UMKM dalam mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki
pola pertumbuhan ekonomi sangatlah signifikan. Hal ini didukung
berdasarkan sejumlah data dan fakta lapangan. Pertama, terdapat
hubungan yang erat antara besarnya kontribusi sektor UMKM dalam
penyediaan lapangan kerja dan kontribusi dalam pembentukan nilai tambah.
Dalam
kaitan ini, upaya untuk lebih menyeimbangkan pertumbuhan produktivitas
per tenaga kerja antara UMKM dan usaha besar perlu terus ditingkatkan.
Kedua, pertumbuhan UMKM yang lebih cepat dibanding kelompok usaha besar
akan memperbaiki struktur usaha dan distribusi pendapatan secara
keseluruhan. Sejauh ini baik pertumbuhan nilai tambah maupun
peningkatan produktivitas UMKM memang lebih baik. Dengan demikian, jika
UMKM dijadikan tulang punggung perekonomian, peningkatan produktivitas
UMKM harus menjadi isu sentral dari kebijakan ekonomi di masa
mendatang. Sebagaimana diketahui, salah satu peran penting dari sektor
UMKM dalam perekonomian nasional adalah kemampuannya menciptakan
lapangan kerja secara cukup signifikan karena lebih bersifat padat
karya.
Peran ini tentu saja akan sangat bernilai strategis
manakala pemerintah dapat terus melakukan upaya yang serius untuk
mengembangkan sektor UMKM sehingga tingkat pengangguran dapat terus
turun dari 7,6% pada 2010 hingga 5–6% pada 2014. Mengandalkan kemampuan
usaha besar saja dalam mendongkrak angka pertumbuhan dengan harapan
dapat menciptakan lapangan kerja tidak dapat dijadikan sebagai pilihan
tunggal dalam mengatasi jumlah pengangguran yang terus membengkak
setiap tahun. Dengan kondisi semacam itu,pemberdayaan dan pengembangan
UMKM merupakan prioritas yang tinggi bagi keberpihakan pemerintah.
Dasar
pertimbangannya sebetulnya cukup jelas yakni perekonomian berbasis UMKM
sesungguhnya lebih baik karena terbukti mempunyai daya tahan yang
tinggi terhadap krisis, lebih banyak menyerap tenaga kerja, serta dalam
perspektif populis lebih adil dan lebih memberikan kesejahteraan kepada
rakyat kecil. Itulah sebabnya sejak perekonomian Indonesia mengalami
keterpurukan akibat krisis ekonomi beberapa waktu lalu, sektor ini
menjadi primadona bagi pemerintah untuk dijadikan salah satu pilar
ekonomi Indonesia di masa depan. Munculnya kesadaran ini sekurang-
kurangnya menjadikan sektor UMKM sebagai tumpuan harapan di masa depan
terutama dalam menyerap tenaga kerja sekaligus dalam kerangka upaya
pengentasan kemiskinan.
Sejalan dengan itu, kekuatan lain dari
sektor ini adalah UMKM tidak hanya besar dari sisi jumlah (kuantitas)
karena tersebar di berbagai pelosok yang padat penduduk, tetapi juga
terbukti mampu memberikan penghidupan yang layak kepada orang-orang
yang bekerja di dalamnya beserta keluarganya.
Clotilde Dedecker tidak punya darah Afghanistan. Dia bahkan belum
pernah ke Afghanistan. Namun,dia membuktikan dedikasinya memperjuangkan
kemajuan perempuan negeri yang tak pernah henti dilanda konflik itu.
HARI
Natal 1967, Dedecker, yang saat itu masih duduk di kelas tiga sekolah
dasar, dan keluarganya meninggalkan Kuba.Dedecker kecil tentu belum
bisa memahami mengapa keluarganya pindah.Dia hanya menangis seraya
merajuk supaya diizinkan tetap tinggal di Kuba.Tangisan dan rajukan
tidak mampu meluruhkan niat keluarganya terbang ke Amerika Serikat
(AS), tempat ayahnya melanjutkan pendidikan kedokteran gigi.
KeluargaDedeckertinggaldiMiami, lantas pindah ke Buffalo,New York.
Menurut informasi yang diterima Hosting Murah Indonesia Indositehost.com
bahwa lambat laun dia mulai menikmati kota dengan populasi terbesar
kedua di negara bagian New York dan dihuni berbagai kelompok
masyarakat.Dedecker pun tumbuh menjadi gadis yang berwawasan luas
karena banyak mendengarkan cerita teman-teman tentang daerah asal
mereka.Dedecker trenyuh saat mendengar konflik berdarah di negara asal
teman-temannya.”Hidup di tengah kepungan peluru tentu
menakutkan,”paparnya. Cerita tentang peperangan terus menghantui
pikirannya.
Dia membayangkan perempuan-perempuan muda yang rindu
bersekolah,tetapi terpaksa tinggal di rumah.Akses pendidikan begitu
tipis dan mungil. Perempuan-perempuan ini sulit menerobos pengetahuan
yang sepatutnya mereka terima.Dedecker berubah menjadi orang yang
sentimental setiap kali melihat wajah teman-teman yang berasal dari
kawasan konflik. Mereka (teman- temannya) hanya sebagian kecil
masyarakat yang beruntung memperoleh pendidikan tinggi.
Selain
mereka, masih ada sejumlah besar perempuan yang terus bermimpi tanpa
tahu kapan bakal terwujud. ”Perempuan-perempuan ini seperti tengah
menanti di ujung gang,”pikir Dedecker. Menurut Dedecker,perempuan
Afghanistan sebenarnya punya keinginan sama dengan perempuan di negeri
lain.Mereka ingin belajar serta bersosialisasi dengan teman sebaya
dalam lingkungan sekolah, serta bisa maju. Sayang, niat ini lagi-lagi
terpaksa dipukul mundur.
Perempuan-perempuan Afghanistan
berhadapan dengan beberapa ketentuan dan larangan yang membuyarkan
mimpi mereka. Dedecker mendengar semua. Dia mencermati setiap kisah,
perkembangan, bahkan situasi yang terdengar statis, dan prihatin dengan
situasi yang dialami perempuan muda Afghanistan. Dedecker, seseorang
yang belum pernah ke Afghanistan ini, ingin mendengar perempuan
Afghanistan semakin maju.
“Saya ingin mereka bisa bersuara
lantang. Saya ingin mereka mengejar pendidikan dalam lingkungan yang
paling berbahaya sekali pun,”paparnya. Pada 2004, Dedecker mendirikan
Circle of Women.Pada awal pembentukan, organisasi nirlaba ini sukses
menyediakan dana pendidikan bagi 1.200 anak perempuan di beberapa
sekolah dasar di Kandahar dan sekitarnya.Bagaimana caranya? Dedecker
dan beberapa rekan mengajukan proposal ke beberapa orang tua murid di
beberapa sekolah di Buffalo.
Proposal ini bukan surat pengajuan
dana langsung. Dedecker menyebutnya permohonan izin. ”Kami mengajak
anak-anak mereka ikut serta dalam proyek penggalangan dana,”tutur
Dedecker. Dia lantas meminta murid-murid di Buffalo untuk membuat
kerajinan tangan dan menjual beberapa produk makanan.Dedecker bersyukur
karena hasil penjualan melebihi target semula, USD21.000 (Rp190 juta).
Keseluruhan
uang langsung didistribusikan ke beberapa sekolah dasar di
Kandahar,salah satunya Sekolah Zarghona.Kota Kandahar menjadi fokus
utama Dedecker dan kawan-kawan karena merupakan salah satu kawasan
tertinggal. Perempuan-perempuan Kandahar ingin maju,tapi kerap
terbentur ketentuan dan beberapa kepentingan lain. Dedecker menerima
semua laporan tentang perkembangan pendidikan di Kandahar.Dia mengaku
bangga terhadap perempuan muda Kandahar.
“Saya belajar tentang
nilai-nilai pendidikan dari perempuan Kandahar,”katanya.Dia ingin
perempuan yang tinggal di negara maju turut becermin pada perempuan
Kandahar. ”Bahkan dalam keadaan serbasulit mereka terus berjuang untuk
maju,”tuturnya. Hingga kini Dedecker masih aktif dalam Circle of
Women.Perempuan berwajah lembut ini berusaha tidak mengeluh selama
memimpin Circle of Women.
Dia hanya ingin melakukan hal-hal baik
untuk generasi muda dunia. ”Semua tidak bisa diukur dengan uang,begitu
juga pekerjaan saya,”tuturnya. Dia mempelajari nilai kemanusiaan yang
sederhana dari Ibu Theresa.“ Kita seperti pensil yang mungil,” katanya
mengutip kalimat Ibu Theresa.Kendati hanya tampil sebagai sebatang
pensil,tapi manusia bisa menulis harapan dan peluang yang baik bagi
sesama. Kalimat ini terus menjadi penyemangat Dedecker untuk memajukan
pendidikan perempuan Afghanistan.