Bintang Belajar Ngeblog

Welcome to My Blog
Please sit down and relax...
Nov
07
2011

Wakil Sekretaris Pengadilan Pajak Winarto Suhendro mengatakan, jumlah perkara yang diputus dan ditangani oleh Pengadilan Pajak makin meningkat setiap tahun karena kesadaran masyarakat terkait masalah sengketa pajak juga terus bertambah.

"Berdasarkan data dapat terlihat bahwa jumlah penyelesaian perkara meningkat setiap tahun," ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Sabtu.

Ia menjelaskan, ketika Pengadilan Pajak berdiri pada 2002, berkas perkara yang harus diselesaikan sebanyak 2.120 berkas, dengan jumlah putusan sebanyak 1.288 berkas dan sisa berkas menjadi 832 berkas.

Namun, pada 2009, Pengadilan Pajak harus menangani 14.473 berkas yang berasal dari kumulatif tahun-tahun sebelumnya, dengan 4.650 berkas berhasil diselesaikan dan menyisakan 9.823 berkas.

"Jumlah tersebut ditambah berkas masuk tahun tersebut sebanyak 5.125 berkas, maka jumlah berkas yang harus diselesaikan sebanyak 14.948 berkas," ujar Winarto.

Menurut dia, jumlah sengketa pajak makin meningkat karena adanya ketidaksepahaman antara aparat pajak dengan Wajib Pajak dalam memahami pelaksanaan Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan, karena prinsip penilaian sendiri (self assessment).

"Akhirnya dapat terjadi sengketa karena ada perbedaan penafsiran, metode, pembuktian dan sebab-sebab lain seperti integritas, kapasitas, visi misi dari pihak-pihak terkait tersebut," ujarnya.
(S034)

Views: 125
Posting: 7-Nov-2011 02:56:17 WIB
Comments: 0 comments
Category: Blogging
Oct
09
2011

TOP 1 Oli sintetik mobil-motor Indonesia ~> Aksi perampokan bersenjata api (senpi) kembali terjadi di Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel). Kaliinikorbannyaadalahpedagang emas. Para pelaku membawa kabur 0,5 kg perhiasan plusuangtunaiRp20juta. Korban diketahui bernama Jungkar Hasibuan,58 yang merupakan pedagang emas di Pekan Maralaung, Desa Maralaung, Kecamatan Simangambat, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta). Warga Desa Ranto Jihor, Kecamatan Sei Kanan,Kabupaten Labusel, ini memperkirakan kerugiannya mencapai Rp80 juta.

Jungkar dirampok dua pria menggunakan senjata berbentuk pistol di kawasan Tugu,Desa Teluk Rampah Kecamatan Torgamba, Kabupaten, Jumat (7/10) sore. Berdasar informasi yang dihimpun SINDOdari seorang kerabat korban, kemarin, perampokan terjadi sekitar pukul 17.45 WIB. Saat itu, Jungkar dan istrinya berboncengan mengendarai sepeda motor Honda Supra. Mereka ingin kembali ke rumahnya seusai berjualan.

Dalam perjalanan menuju kediamannya,pasangan suami istri mengetahui diikuti dua pria yang berboncengan di sepeda motor Yamaha Vixion.Namun karena tidak menaruh curiga dengan gerak-gerik kedua pria itu, mereka tidak begitu memperhatikannya. Saat melintas di kawasan Tugu, Desa Teluk Rampah,Kecamatan Torgamba,sepeda motor korban tiba-tiba dipepet kendaraan dua pria tak dikenal itu.

Begitu jaraknya benar-benar rapat, salah seorang pria merampas tas istri Jungkar yang berisi emas dan uang hasil penjualan. Jungkar dan istrinya sempat berupaya melawan, namun mereka tak berdaya. Soalnya, pelaku langsung mengacungkan senjata mirip pistol sembari mengingatkan agar mereka tidak diikuti. Keduanya langsung kabur ke arah Desa Maralaung.

Kapolsek Torgamba Ajun Komisaris Polisi (AKP) Marajungjung Siregar mengatakan, peristiwa perampokan ini terjadi di perbatasan antara Kecamatan Torgamba dengan Desa Maralaung, Kecamatan Simangambat, Kabupaten Paluta. Lokasi tepatnya tidak jauh dari tugu perbatasan. Dia meragukan senjata yang digunakan pelaku adalah senjata api.Alasannya,mereka hanya mengancam korban dari jarak dua meter dan tidak meletuskan senjata itu.

Marajungjung juga kurang yakin dengan pengakuan korban yang sempat mengatakan bahwa perampokan itu menyebabkan mereka mengalami kerugian uang tunai sekitar Rp20 juta dari hasil penjualan emas plus perhiasan emas seberat 0,5 kg. “Kita sudah minta buktibukti surat perhiasan emas yang hilang kepada korban, tapi sampai sekarang belum ada disampaikannya.Cobalah logikanya, di kampung-kampung bawa emas setengah kg, apa mungkin itu,”ujarnya.

Berdasarkan pengakuan korban saat pemeriksaan, dia sudah tiga kali menjadi korban perampokan di kawasan Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labusel, tepatnya pada 2009, 2010,dan terakhir Jumat (7/10) ini. Sementara itu, Kapolsek Sungai Kanan AKP Marahusin Siregar mengatakan, pihaknya juga ikut membantu untuk mengejar kedua pelaku perampokan itu.“Memang saya dapat informasi ada perampokan yang terjadi di perbatasan,makanya kami juga diperbantukan untuk menyelidiki kasus itu.

Tetapi korbannya membuat laporan pengaduan di Polsek Torgamba, bukan di Polsek kita,” tandasnya. Sekadar mengingatkan, seorang tauke kelapa sawit, Anton Hasibuan,50,warga Dusun Sumberjo, Desa Asam Jawa, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labusel, Jumat (30/9), nyaris menjadi korban perampokan. Beruntung, keramaian warga membuat perampok tak sempat merampas uang puluhan juta miliknya.

Sebelumnya,menjelang Lebaran, aksi perampokan bersenjata api, Selasa (16/8) malam, terjadi di wilayah hukum Polsek Torgamba. Sebanyak Rp1,4 miliar uang untuk pembayaran pembelian buah sawit dan sebagian untuk pembayaran gaji karyawan milik PT Torganda dirampok. Seorang satpam yang coba mengamankan uang perusahaan itu kritis ditembak perampok.

Views: 116
Posting: 9-Oct-2011 21:19:09 WIB
Comments: 0 comments
Category: Artikel
Feb
24
2011

Puluhan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Bandung (Unisba) berunjuk rasa di depan Unisba,Jalan Tamansari, Kota Bandung,kemarin. Aksi ini merupakan reaksi dari kebijakan cuti paksa yang diterapkan pihak rektorat. Dalam orasi, mahasiswa mengecam putusan sepihak dan diskriminasi pihak kampus atas nasib rekan-rekan lainnya. Mahasiswa sempat membakar ban bekas. Mereka melemparkan kartu tanda mahasiswa dan beberapa lembar uang ribuan ke kobaran api sebagai simbol kekesalan. Presiden BEM Unisba Bayu mengatakan, aksi ini menyikapi surat keputusan (SK) rektorat soal cuti paksa rekan-rekannya.

Dia meminta kebijaksanaan atas perpanjangan waktu pembayaran uang kuliah (uang semester). SK ini baru diberlakukan pada semester genap ini. “Intinya kami minta pihak kampus bijak menyikapi ini.Apalagi, persoalan keuangan bisa dibicarakan lebih lanjut.Terpenting, mahasiswa bisa kuliah dulu,” ujar Bayu. Dia menjelaskan, batas akhir pelunasan uang semester yaitu satu minggu sebelum ujian akhir semester (UAS).Jika telat membayar, data mahasiswa dalam sistem akan terhapus,mata kuliah sejumlah SKS yang diambil pun dianggap kosong.

“Seharusnya ada komunikasi dulu kenapa mereka telat membayar,”katanya. Menurut dia,tidak adanya pemberitahuan kepada mahasiswa yang bersangkutan dinilai sebuah putusan sepihak.Mereka berharap SK ini bisa ditinjau kembali dan tidak diberlakukan. “Dan ada negosiasi dulu dengan mahasiswa,” ucapnya. Sementara itu, belum ada keterangan resmi dari Rektorat Unisba terkait aksi tersebut. Namun berdasarkan informasi, pihak rektorat akan berupaya meninjau kembali SK itu.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba Angga Setia Yudha Buana menilai kampus kurang menyosialisasikan kebijakan uang kuliah tetap (UKT) kepada mahasiswa. “Banyak teman kami yang tidak tahu.Pengumuman hanya ditempel di tempat-tempat tidak strategis yang jarang dilalui mahasiswa,” katanya. Menurut dia, kebijakan UKT dikeluarkan pada waktu mahasiswa libur. “Saat itu, ya sudah pasti tidak banyak mahasiswa yang datang ke kampus. Jadi, bagaimana kami bisa tahu,” tambahnya. Demikian catatan online Bintang tentang Puluhan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa.

Views: 166
Posting: 24-Feb-2011 13:59:27 WIB
Comments: 0 comments
Category: News
Blog Category