Majelis hakim dalam persidangan Gayus H Tambunan meminta jaksa penuntut umum atau JPU untuk menghadirkan jaksa Cirus Sinaga dan Fadil Regan sebagai saksi dalam persidangan 24 Oktober 2010. Keduanya akan dimintai keterangan terkait peran dan tugas mereka pada waktu pemeriksaan Gayus untuk dugaan pencucian uang dan korupsi di Pengadilan Negeri Tangerang.
"Untuk sidang berikut pada Rabu tanggal 24 dari permohonan yang diajukan, akan coba diperiksa Fadil Regan dan Cirus Sinaga," ujar Ketua Majelis Hakim Albertina Ho dalam persidangan dengan Gayus sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (15/11/2010).
Majelis hakim juga meminta JPU menghadirkan saksi dari pihak Bank BCA. Saksi dari BCA tersebut akan dimintai keterangan dan bukti dokumen yang berkaitan dengan pemblokiran rekening BCA Gayus juga tabungan Gayus yang disita.
"Karena menurut terdakwa (Gayus) rekening tabungannya hanya Rp 16-Rp 17 juta, sementara saksi ada ratusan juta. Dan jangan lupa diberitahu bahwa dokumen berhubungan dengan deposito Gayus di BCA, juga surat-surat antara BCA dan Bareskrim," pinta Albertina kepada JPU.
Sebelumnya, tim kuasa hukum Gayus yang diwakili Adnan Buyung Nasution meminta kepada majelis hakim untuk menghadirkan sejumlah saksi tambahan dari pihak kepolisian, kejaksaan, hakim, pengusaha, dan Ditjen Pajak. Beberapa saksi yang diminta Adnan untuk diajukan, antara lain Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komjen Ito Sumardi, mantan Kabareskrim Susno Duadji, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, perwakilan Grup Bakrie, Deni Adrian, serta Fadil Regan dan Cirus Sinaga. Demikian catatan online Dolpin tentang Majelis Hakim.
Keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk tinggal dan memantau langsung perkembangan Gunung Merapi di Yogyakarta, mendapat respon positif dari pengamat politik dari Universitas Indonesia, Dr Ari Junaedi.
Menurut Ari, keputusan Presiden SBY memimpin langsung penanganan bencana letusan Gunung Merapi sudah tepat. Apalagi intensitas letusan Gunung Merapi kian membahayakan warga di sekitar lereng Merapi.
"Belum ada kata terlambat bagi SBY untuk memimpin langsung dan berada di tengah-tengah warga. Jika Wasior dan Mentawai, saya melihat SBY gagap. Namun untuk Merapi, saya salut untuk SBY," ujar Ari Junaedi kepada Tribunnews.com, Jumat (5/11/200) yang baru saja kembali dari Yogyakarta ubtuk memantau langsung kondisi penanganan pengungsian letusan Gunung Merapi.
Sikap Presiden yang akan tinggal beberapa hari di Yogyakarta dan memimipin langsung penanganan pengungsi Merapi, menurutnya adalah sikap Presiden yang didasari belajar dari berbagai macam kritikan masyarakat terhadap penanganan bencana di Wasior dan Mentawai. Langkah SBY untuk penanganan bencana Merapi yang tidak bisa diprediksi, sungguh lah tepat.
"Jika SBY berada di lokasi, aparat yang tidak bekerja akan merasa malu. Namun, itu saja tidak cukup kalau tidak didukung jajaran kabinetnya. Selama ini terbukti, dalam banyak kasus penanganan bencana tidak tuntas tertangani karena berbelitnya birokrasi," ujar Ari.
Tidak ada bendera putih dan layaknya keluarga yang sedang berduka.Suasana tampak seperti hari-hari biasanya,seakan tidak ada kejadian luar biasa di lokasi itu. Padahal sehari sebelumnya, warga digegerkan dengan penemuan mayat Daeng Ona, 80, di dalam rumah panggung di Jalan Indah 7 Kelurahan Pannampu,Kecamatan Tallo,dalam keadaan membusuk.
Saat ditemukan, mayat Daeng Ona dalam kondisi yang mengenaskan, tubuhnya membusuk dan kulit keriputnya juga mulai terkelupas. Polisi memperkirakan mayat nenek renta itu meninggal tiga hari sebelum ditemukan. Polisi yang melakukan visum juga menyatakan, almarhum mengalami kekurangan asupan gizi di samping usianya yang sudah menua. Kisah memilukan ini berawal dari derita kemiskinan yang mendera keluarga yang tidak dikaruniai anak ini. Istrinya telah lama sakit-sakitan, sementara suaminya yang kesulitan mendapatkan pekerjaan akhirnya depresi dan mengalami gangguan kejiwaan.
Kondisi ini makin diperburuk dengan sikap tak acuh pemerintah setempat terhadap kondisi yang dialami keluarga miskin ini. Saat ditemui SINDO di rumah panggung Daeng Ali,sang suami hanya ditemani Daeng Ngeppe,keluarga dekatnya.Tidak satu pun anggota keluarga lainnya yang datang melayat. Ali mengenakan sarung, berkemeja batik lengan panjang, dan kopiah di kepala.Sekilas dia tampak seperti orang normal.Pakaian yang dikenakannya tidak menunjukkan dia sedang berpenyakit jiwa.Dengan ramah menyilakan penulis masuk ke rumah berlantai papan itu. Menurut Daeng Ngeppe, lelaki yang pernah bekerja di salah satu perusahaan tambang di Pangkep itu mengalami depresi, lantaran kehilangan pekerjaannya.
Kendati mengalami gangguan kejiwaan,dia masih bisa menghidupi keluarganya dengan menjual batu permata dengan penghasilan yang tidak menentu. Daeng Ngeppe, warga Kampung Berua Makassar ini, mengatakan, alasan tidak mengubur jenazah istrinya, lantaran tidak memiliki biaya. Hal ini senada dengan pengakuan Daeng Ali kepada polisi,sehari sebelumnya.Untuk membeli kain kafan sekalipun, Daeng Ali tidak mampu, apalagi membayar lahan kuburan seluas 2X1 meter seharga ratusan ribu, lelaki ini angkat tangan. Lelaki asal Labbakkang Kabupaten Pangkep ini kemudian meninggalkan istrinya di rumah dalam keadaan pintu terkunci di dalam rumah.Kepada polisi dia beralasan mencari biaya pengurusan jenazah istrinya.
Ironisnya setelah tiga hari mencari uang, dia tidak membawa pulang uang. Dia juga tidak menyampaikan kepada tetangganya bahwa istrinya meninggal. Kejadian ini baru diketahui setelah tetangganya mencium bau busuk dari dalam rumah dan menemukan mayat Daeng Ona dalam kondisi yang mengenaskan. Kondisi ekonomi keluarga Daeng Ali ini tampak dari kondisi rumahnya itu. Di ruang tamu hanya ada tujuh kursi plastik dan satu meja. Di ruang tamu itu pula terdapat sebuah lemari pakaian dilengkapi cermin yang tidak bisa digunakan, lantaran buram dan tidak bisa memantulkan cahaya. Rumah ini tidak memiliki jaringan listrik PLN. Masih di ruang tamu, ranjang besi dengan kelambu masih terpasang.
Ranjang yang dilengkapi kasur lusuh berwarna putih dan sudah berubah warna. Di atas ranjang itulah almarhum istrinya, Dg Ona, ditemukan terbujur kaku tidak bernyawa. Masih ada bau menyengat menusuk hidung yang kemungkinan bersumber dari kasur bekas mayat itu. Maklum, selama tiga hari, mayat istrinya dibiarkan terbaring di tempat tidur. Selain itu, bau kurang sedap bersumber dari kolong rumahnya yang digenangi air berwarna hitam pekat. Jalanan di depan rumah juga tergenang setinggi mata kaki.Oleh warga setempat sudah terbiasa dengan kondisi yang berlangsung bertahun- tahun ini,meski warga mengaku gatal-gatal akibat genangan air itu. Bahkan jika terjadi hujan lebat, air akan masuk ke rumah warga.
Kondisi ini diperparah dengan saluran air yang tidak berfungsi dengan baik. Bagian dalam rumah Daeng Ali dipisahkan menjadi dua ruangan menggunakan dinding anyaman bambu. Bagian luar digunakan sebagai ruang tamu, sedangkan bagian dalam dibuat dapur. Tidak tampak kompor gas elpiji tiga kilogram hasil konversi dari minyak tanah yang dibagikan gratis itu. Rumah itu juga tidak memiliki kamar mandi. Kamaruddin, tetangga Daeng Ali, mengatakan, keluarga tersebut sudah puluhan tahun tinggal di rumah itu. Dia mengatakan, Daeng Ali dan istrinya hidup kadang harus makan dari belas kasih tetangganya. “Kadang tetangga yang berikan makanan untuk Daeng Ali dan istrinya,” ujar Kamaruddin.
Dia mengakui Daeng Ali memang tidak memiliki daya membiayai penguburan istrinya. Beruntung, Dinas Sosial Makassar turun tangan membantu proses pemakaman almarhum Daeng Ona secara gratis. Jenazah dimakamkan di Pemakaman Boroangin Makassar. Biaya pemakaman di Boroangin ini sebesar Rp900.000 yang ditanggung sepenuhnya oleh Dinas Sosial Makassar,. Biaya ini untuk pengganti kerusakan kuburan lainnya yang rusak saat dilakukan penggalian. “Di Baroangin memang agak mahal karena penuh.Kalau ada yang dikuburkan di situ akan merusak makam yang lainnya,”tutur Kepala Dinas Sosial Makassar Ibrahim Saleh. Biaya pemakaman di Makassar memang cukup tinggi. Hal ini disebabkan terbatasnya lahan pemakaman di Makassar. “Sebenarnya ada yang gratis di pemakaman Sudiang,”kata dia.
Dia juga menyayangkan korban yang tidak segera melapor perihal meninggalnya Daeng Ona. Padahal, Dinas Sosial Makassar telah memiliki program Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) yang salah satunya memberikan pelayanan kepada masyarakat miskin yang tidak memiliki biaya pemakaman. Hanya, program ini tidak tersosialisasi dengan baik di masyarakat. Padahal, setiap kelurahan sudah ada petugas yang siap mengurus jenazah sampai tahap pemakaman. “Sejak 2008 program ini sudah berjalan.Awalnya melalui APBN, tapi tahun ini sudah menggunakan APBD.Anggarannya Rp 320 juta,”ujarnya. Dia mengungkapkan, lebih dari 20.000 warga Makassar yang masuk dalam kategori sangat miskin dan 64.742 rumah tangga miskin.
Benteng Sombaopu akan segera disulap menjadi taman bermain keluarga atau Makassar Discovery Park (MDP). Rencananya, peletakan batu pertama proyek Rp20 miliar tersebut akan dilakukan pada Selasa (19/10) bersamaan dengan hari jadi Sulsel. MDP akan dilengkapi sejumlah fasilitas rekreasi, seperti water boom, taman burung, taman gajah, arena outbound treetop (permainan di atas ketinggian).Peresmian pembangunan proyek yang mendapatkan persetujuan DPRD Sulsel ini akan dilakukan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo. Investor MDP Zainal Thayeb mengungkapkan, dalam pembangunan proyek tersebut, akan digunakan lahan seluas 16 hektare (ha) dari total 100 ha tanah di Benteng Sombaopu. Proyek itu dijamin tidak akan merusak situs sejarah pada benteng peninggalan Kerajaan Gowa itu.
“Lahan yang digunakan adalah lahan kosong yang tidak termanfaatkan penduduk sekitar maupun termasuk kawasan situs benteng. Kami jamin tidak akan mengganggu keberadaan warga ataupun sejarah Benteng Sombaopu,” ungkap Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Wilayah Bali ini kepada SINDO kemarin. Pengusaha asal Bali ini mengungkapkan, untuk merealisasikan proyek tersebut, pihaknya menyiapkan anggaran Rp20 miliar. Investasi itu belum termasuk biaya mendatangkan satwa dari sejumlah daerah, seperti 20 ekor gajah dari Sumatera dan puluhan jenis burung melengkapi fasilitas di areal tersebut.
“Makassar Discovery Park dibangun dengan memperhatikan estetika sehingga dominan kawasannya ditanami pepohonan dalam rangka penghijauan,” ujarnya seusai mengikuti dengar pendapat dengan Komisi E DPRD Makassar guna mendapatkan persetujuan wakil rakyat ini kemarin. Pascapeletakan batu pertama, pihaknya akan segera memulai pekerjaan dan diprediksi pada 2012 secara keseluruhan fasilitas tempat bermain ini bisa dinikmati. Khusus outbound di atas pohon bisa dinikmati pengunjung dua hingga tiga bulan ke depan, setelah peletakan batu pertama. “Kehadiran kami memberi warna baru dalam pariwisata di Sulsel sehingga sejumlah sarana dan prasarana ekstra disiapkan bagi pengunjung, termasuk menyiapkan asuransi bagi pengunjung di setiap tiket yang dibeli Rp10.000,”tuturnya.
Dalam mendukung penyelesaian pembangunannya dan mengembalikan sejumlah modal, serta menyelesaikan sejumlah kewajiban ke Pemprov selaku pemilik lahan, pihaknya meminta proses kerja sama berlaku hingga 30 tahun. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Syuaib Mallombassi mengatakan, pengembangan lahan Somba Opu diharapkan mampu menarik wisatawan lokal dan wisatawan nusantara berkunjung ke tempat ini.Apalagi selama ini yang ditawarkan di tempat itu hanya wisata budaya. “Akta kerja samanya dalam waktu satu hingga dua hari akan dirampungkan, sisa menunggu hasil kajian biro hukum terhadap sejumlah klausal perjanjian,” katanya.
Sementara itu,Ketua Komisi E DPRD Sulsel Yagkin Padjalangi mengharapkan pembangunan taman bermain itu tetap memperhatikan keberadaan sejumlah situs budaya di lokasi benteng.Tak hanya itu, pelibatan masyarakat setempat harus dikedepankan. “Syukurlah ada yang mau kelola lahan di sana. Daripada terbengkalai dan tidak dimanfaatkan maksimal, lebih baik diberikan pengelolaannya kepada pihak ketiga, dengan tetap mengedepankan pelestarian budaya yang sudah ada di benteng itu, seperti memelihara rumah adat yang ada di sana,”tandasnya.
Hari ini, Rabu 22 September 2010, tiga kabupaten di Provinsi Sumatera Barat menggelar putaran kedua pemilihan kepala daerah. Tiga kabupaten itu adalah Padang Pariaman, Agam dan Limapuluh Kota.
“Kami harap masing-masing KPU (kabupaten) bisa menjalankan pilkada putaran dua ini dengan baik,” kata anggota KPU Sumbar bidang sosialisasi Husni Kamil Manik pada VIVAnews, Selasa, 21 September 2010 kemarin.
Di Padang Pariaman, pasangan koalisi Golkar, Hanura, dan PDIP akan bertarung dengan pasangan yang diusung koalisi 14 parpol. Incumbent Ali Mukhni-Damsuar yang diusung Golkar mengumpulkan suara terbanyak pada Pilkada lalu dengan perolehan 46.337 suara (29,2 persen) akan bertarung dengan pasangan Muhammad Yusuf-Zamzamil yang mendapatkan 30.505 suara (19,30 persen).
Di Kabupaten Agam, pasangan cabup Golkar, Indra Catri-Umar Junus yang mengumpulkan 52.051 suara (29,84 persen) akan bertarung dengan pasangan koalisi PAN-PPP, Guspardi Gaus-Mukhsis Malik, yang mendapatkan 36.927 suara (21,17 persen).
Sedangkan di Kabupaten Limapuluh Kota, kembali pasangan yang diusung koalisi Golkar-PBR, Alis Marajo-Asyrwan Yunus akan bertarung di putaran kedua melawan pasangan Demokrat Irfendi Arbi-Zadri Hamzah. Pasangan Demokrat unggul di putaran pertama dengan perolehan suara 28,59 persen. Sedangkan pasangan yang diusung Golkar memperoleh 24,49 persen suara.
KPU berharap, partisipasi pemilih pada putaran kedua menigkat dari pilkada putaran pertama. Di Padang Pariaman, partisipasi pemilih hanya berkisar 63 persen. Hal serupa juga terjadi di sejumlah daerah lainnya. Dari 14 pilkada serentak yang digelar di Sumbar akhir Juni lalu, hanya tiga daerah tersebut yang menggelar putaran dua.