Dolpin Belajar Ngeblog

Blog Category: Update
Nov
07
2011

Jalur yang menghubungkan Kabupaten Kerinci dengan Provinsi Sumatera Barat lewat Kabupaten Pesisir Selatan yang mengalami longsor di delapan titik, saat ini masih lumpuh. Kepala Dinas Kabupaten Kerinci, Guldiyanto ketika dihubungi, Minggu mengatakan, longsor di jalur yang menghubungkan Kabupaten Kerinci dengan Provinsi sumatera Barat (Sumbar) lewat Kabupaten Pesisir Selatan yang terjadi sejak Kamis (3/11) saat ini belum bisa diatasi.

"Hingga kini jalur tersebut masih lumpuh atau belum bisa dilewati kendaraan, dan semua kendaraan dari dan menuju menuju Sumbar harus lewat Kabupaten Solok Selatan," katanya. Delapan titik longsor itu, empat di antaranya berada di wilayah Kabupaten Kerinci, dan empat lainnya sudah masuk wilayah sumatera Barat atau Kabupaten Pesisir Selatan.

Longsor terparah atau empat titik terjadi di wilayah Sumbar, yang menutup semua badan jalan panjangnya 15 hingga 20 meter. Sementara itu longsor yang terjadi dalam wilayah Kabupaten Kerinci sudah dilakukan pembersihan dengan menyingkirkan batu dan tanah yang menutupi badan jalan.

Untuk menyingkirkan longsor wilayah Sumatera barat tersebut dibutuhkan alat berat, namun hingga kini pihak Dinas Perhubungan setempat belum berhasil dihubungi. Kabupaten Kerinci wilayah paling barat Provinsi Jambi terdapat tiga jalur atau pintu masuk lewat transportasi darat, dua di antaranya melalui Provinsi Sumatera Barat dan satu lewat kabupaten tetangga Merangin, Provinsi Jambi.

Tiga jalur tersebut semuanya rawan longsor pada musim hujan seperti saat ini, karena melintasi Bukit Barisan dan berada di sisi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Pengemudi diimbau selalu berhati-hati saat melintasi jalur tersebut, dan tidak memaksakan diri melanjutkan perjalanan bila sedang terjadi hujan lebat atau angin kencang.

Views: 485
Posting: 7-Nov-2011 02:39:45 WIB
Comments: 1 comments
Category: Update
Nov
05
2011

Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan memastikan hilangnya mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Dwi Oktaviani (22), bukan karena diculik. Dwi diperkirakan masih di sekitar Ciputat, Tangerang Selatan. Kapolres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Imam Sugianto, Jumat (4/11/2011) di Jakarta mengatakan, Dwi sengaja meninggalkan rumah karena tak ingin dijodohkan dengan pria pilihan orangtuanya.

"Dia bukan diculik, tapi kabur dari rumahnya karena mau dijodohkan sama pilihan orangtuanya. Sementara, dia sudah punya pacar," ujar Imam. Ia mengatakan, pacar Dwi berdomisili di Cileungsi, Bogor. Polisi memperkirakan Dwi tidak berada di rumah kekasihnya itu. Polisi menduga Dwi masih berada di sekitar Ciputat. " Mungkin di rumah temannya," kata Imam.

Meski tidak menemukan unsur pidana dalam kasus ini, polisi tetap akan menelusuri keberadaan mahasiswi jurusan Ilmu Perpustakaan itu. Polisi akan berupaya mempertemukan Dwi dengan keluarganya. Dwi meninggalkan rumah saat kedua orangtuanya pergi ke pasar pada Senin (31/10/2011). Orangtuanya meninggalkan Dwi seorang diri di rumahnya, yang terletak di Jalan Kertamukti No. 3, RT 004 RW 008, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan.

Begitu tiba di rumah kedua orangtua Dwi mendapati rumah dalam kondisi sepi. Mereka menduga anaknya sedang ke kamar mandi. Namun, saat ditunggu, Dwi tidak juga menampakkan diri. Ketika dihubungi, ponsel Dwi sudah tidak aktif. Semenjak hari itu, Dwi tidak kembali ke rumah. Dwi juga diketahui meninggalkan sepucuk surat yang berisi ketidakbetahan dirinya tinggal di rumah bersama orangtua. Keluarga lalu melaporkan hilangnya Dwi ke Polsek Metro Ciputat. Polisi kemudian menyebarkan foto Dwi di beberapa lokasi.

Views: 253
Posting: 5-Nov-2011 02:28:36 WIB
Comments: 0 comments
Category: Update
Nov
03
2011

PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) telah menyetor Rp1,565 triliun ke kas negara semua kewajiban keuangan kepada pemerintah di kuartal III 2011. Jika diakumulasi sampai kuartal ketiga tahun ini, maka Newmont telah menyetor kepada pemerintah sebesar Rp6,238 triliun. Manajer Public Relation Newmont Rubi Purnomo mengungkapkan, angka itu merupakan seluruh kewajiban keuangan kepada pemerintah berupa pajak, non pajak dan royalti. "Sesuai ketentuan kontrak karya," kata Rubi di Lokasi Tambang Batu Hijau, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Kamis, 3 November 2011.

Menurut Rubi, royalti produksi yang dibayarkan pada kuartal III 2011 ini, mencapai Rp59,445 miliar. "Untuk Tahun 2011, akumulasi  sampai kuartal III ini royalti produksi yang dibayarkan Rp135,017 miliar," katanya. Dibanding kuartal sebelumnya, setoran kuartal III ini lebih kecil. Pada kuartal II, Newmont menyetor Rp3,261 triliun. Selisih lebih besar bila dibanding kuartal yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,452 triliun dengan royalti produksi Rp87,522 miliar.

Rubi menjelaskan, Sejak 1997 sampai kuartal III 2011 ini Newmont telah menyetor Rp27,507 triliun. Dari jumlah itu khusus royalti produksi Rp2,088 triliun. Diberitakan sebelumnya, produksi tambang batu hijau milik Newmont turun produksi. Penyebabnya, penambangan masuk fase enam, yakni menggali lapisan atas pit yang kadar mineralnya rendah. Sementara pada 2010 penambangan fase lima, yakni di pit yang memang kaya kadar mineral.

Views: 171
Posting: 3-Nov-2011 23:32:00 WIB
Comments: 0 comments
Category: Update
Oct
09
2011

WALI Kota Palembang Eddy Santana Putra menyatakan, pihaknya akan lebih serius dalam mempersiapkan diri sebagai tuan rumah SEA Games. Persiapan yang dilakukan yaitu mulai infrastruktur hingga penataan kota dengan memperbanyak ruang hijau. Menurut Eddy, untuk perwajahan Kota Palembang, akan dipercantik dari semua aspek, terutama di bidang pertamanan dan lampu jalan. Khususnya, wilayah di sepanjang Jalan Kolonel H Barlian dan Jalan Sudirman yang menuju Jakabaring. “Untuk program penghijauan tersebut, diharapkan pemilik lahan atau rumah toko (ruko) di sepanjang jalan dari bandara hingga kawasan Jakabaring untuk memperindah lingkungannya.

Tanamlah tanaman berwarna atau tambahkan pot-pot bunga di pelataran ruko masing-masing,” ungkap Eddy belum lama ini. Untuk sosialisasi lebih lanjut, Eddy meminta pihak kecamatan menginstruksikan hal tersebut kepada seluruh pemilik ruko. Dengan demikian, ruko yang terlihat gersang dapat terlihat asri. Selain penghijauan dan penyebaran potpot bunga di area sepanjang jalan protokol tersebut, pemilik ruko diminta untuk mengecat rukonya sehingga terlihat cantik dan indah.

 “Hal tersebut kita lakukan karena kita ingin menjadi tuan rumah SEA Games yang baik, di samping perbaikan taman dan lampu jalan memang sedang kita kerjakan,”ujarnya. Eddy menegaskan, surat edaran (SE) terhadap satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait sudah diberikan hingga dua kali. Dengan begitu, pihak camat, lurah, hingga rukun tetangga (RT) di wilayah tersebut dapat memperketat warga pemilik lahan dan ruko untuk berpartisipasi dalam memperindah kota jelang SEA Games ini.

“Diharapkan juga warga dapat memperbaiki tampak muka bangunannya biar tidak terlihat kumuh dan tidak rapi. Bila kurang cat, silakan akan kita bantu,”ujarnya. Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan Jalan, Pertamanan, dan Pemakaman (DPJPP) Kota Palembang Taufik Syaroni mengatakan, beragam program sedang dilakukan, di antaranya membangun taman di lokasi bekas pelebaran jalan. Wilayah tersebut dinilai menyisakan gundukan tanah yang dapat dimanfaatkan untuk ditata menjadi taman.

“Saat ini ada 200 titik taman yang tersebar di kota ini dan mungkin ada penambahan jumlah. Namun, hal ini memerlukan survei dan evaluasi agar tidak mengganggu badan jalan. Adapun yang sedang dikerjakan saat ini pem-bangunan taman di persimpangan radial,” ungkap Taufik. Selain itu, Dinas Penerangan Jalan, Pertamanan, dan Pemakaman (DPJPP) juga melakukan pengawasan kota dengan CCTV (closed-circuit television/ kamera keamanan) untuk mengontrol keberadaan fasilitas umum serta kondisi lalu lintas, khususnya saat SEA Games berlangsung.

CCTV diarahkan salah satunya ke kawasan Bundaran Air Mancur. Kawasan tersebut adalah pusat perlintasan yang banyak memiliki fasilitas umum yang perlu dipantau agar jangan sampai dirusak atau dicuri orang seperti fasilitas lampu air mancur dan lampu hias jalan. “Harapan kita agar masyarakat dapat menjaga fasilitas yang sudah ada untuk memberikan kesan yang bagus ke pada para tamu SEA Games nanti,”tukasnya. Demikian catatan online Dolpin yang berjudul WALI Kota Palembang Eddy Santana Putra.

Views: 265
Posting: 9-Oct-2011 19:54:13 WIB
Comments: 0 comments
Category: Update
Sep
30
2011

Pertumbuhan jumlah gedung pencakar langit di Kota Makassar tidak dibarengi pemenuhan peralatan penanganan kebakaran pada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB). Hingga September 2011, DPKPB hanya memiliki empat unit kendaraan khusus pemadaman kebakaran pada gedung tinggi. Kendaraan itu dilengkapi tangga dan penyemprot air yang mampu mencapai ketinggian sekitar 50 meter. Kepala Bidang Operasional DPKPB Kota Makassar Bahtiat Tawil mengungkapkan, sejauh ini unit kerja tersebut hanya dilengkapi 36 kendaraan dan empat khusus untuk penanganan kebakaran pada gedung jangkung.

Jumlah tersebut jauh dari angka ideal untuk Kota Makassar yang pertumbuhan gedung bertingkat di atas lima lantai sangat pesat. “Untuk mengatasi kebakaran yang terjadi di gedung tinggi, alat yang dimiliki hanya empat kendaraan. Akibatnya, jika ada kebakaran gedung, bisa dipastikan bahwa kami akan kewalahan karena mayoritas mobil hanya untuk kebakaran permukiman,” tuturnya kepada media, kemarin.

Dia mencontohkan saat kebakaran di Makassar Mall akhir Juni lalu. Kendati hanya berlantai tiga, petugas pemadam kesulitan menaklukkan si jago merah karena kurangnya peralatan pemadam untuk menjangkau titik api dari atas. Sementara itu, gedung jangkung yang dibangun di Kota Makassar, seperti hotel dan gedung perkantoran, rata-rata dibangun di atas 10 lantai.

Gedung jangkung ini, seperti Menara Bosowa, Gedung Balai Kota, Graha Pena, Hotel Clarion, Menara Bank Mega,Hotel Singgasana, Hotel Sahid, Imperial Aryaduta, dan sejumlah gedung pencakar langit lainnya. “Jika dikalkulasi,kekuatan armada pemadam kebakaran hanya sekitar 25% dari angka ideal. Seharusnya ada 150 kendaraan, termasuk untuk pemadaman gedung tinggi, tapi sampai sekarang belum terpenuhi,” tandasnya.

Salah satu kejadian kebakaran gedung tinggi, yakni di Gedung Bank Sulsel, Selasa (13/9). Salah satu ruangan di lantai lima gedung nyaris terbakar akibat korsleting listrik. Beruntung, karyawan dengan sigap memadamkan api dengan peralatan yang tersedia. Demikian halnya saat terjadi kebakaran di Kantor Gubernur Sulsel, 2010 lalu.

Titik api yang berada di lantai tiga gedung, hanya bisa dipadamkan dengan mobil penyemprot dari lantai satu sehingga tidak maksimal. Saat kejadian,tidak satu pun terlihat mobil yang dilengkapi tangga yang diterjunkan.

Untuk meminimalisasi kejadian serupa, Dinas Pemadam Kebakaran mengimbau pengelola gedung bertingkat menyediakan peralatan standar pemadam. Ketersediaan alat secara tidak langsung membantu petugas pemadam mengatasi bencana alam yang marak terjadi di Makassar. “Bukan hanya pemilik gedung tinggi, kami juga mengimbau warga senantiasa waspada,” ujar Sekretaris DPKPB Kota Makassar A Arifin,kemarin.

Kendati semua gedung tinggi yang ada di Makassar ini memiliki alat pemadam, warga diharapkan tetap waspada mengingat tingkat kesulitan pemadaman di tengah minimnya peralatan. Kepala Operasional Bahtiar menambahkan, setiap gedung tinggi wajib memiliki proteksi alat pemadam kebakaran, di antaranya fire hidran yang ditempatkan di halaman gedung.

Selain itu, harus memiliki alat pemadam otomatis, pendeteksi asap,atau smoke detector. Sementara itu,Kepala Seksi Wilayah I Syarifuddin menjelaskan, untuk membeli satu unit kendaraan pemadam, dibutuhkan anggaran Rp2,5 miliar. Sementara anggaran yang dialokasikan setiap tahun tidak mencukupi.

Sementara itu, Kepala Biro Perlengkapan Umum Pemprov Sulsel Ibrahim Beddu mengklaim seluruh ruangan di Kantor Gubernur Sulsel telah dilengkapi alat pemadam kebakaran ringan untuk mengantisipasi bahaya kebakaran yang kerap melanda gedung perkantoran. Bahkan, setiap tahun pergantian alat pemadan kebakaran ringan tersebut dianggarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sulsel.

Pengadaan alat ini juga telah melalui koordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Makassar. “Seluruh ruangan di kantor gubernur telah disiapkan alat pemadam kebakaran ringan dan setiap tahun kami ganti untuk mengantisipasi kalau mengalami kerusakan atau tidak berfungsi,” paparnya kepada media, kemarin.

Namun, saat disinggung mengenai anggaran pengadaan alat pemadam kebakaran, Ibrahim Beddu mengaku, tidak menghafalnya secara rinci.“Saya tidak hafal angkanya.Yang jelas kami telah lengkap untuk mengantisipasinya,” tandasnya. Demikian catatan online Dolpin yang berjudul Pertumbuhan jumlah gedung pencakar langit.

Views: 249
Posting: 30-Sep-2011 10:53:49 WIB
Comments: 0 comments
Category: Update
 1 2 3 4 > 
Blog Category