YoGyA CinTaKu Kehangatan Cinta Keluarga EsHaPe Yogya

Welcome to My Blog
Please sit down and relax...
Nov
15
2008

Sebelum meninggalkan pulau Bangka, kembali ke Jakarta lagi, aku banyak cerita tentang beberapa mantan Bosku yang suka memimpin dengan hati.

Semua bos memang punya kewajiban untuk memimpin anak buahnya, dengan segala cara yang dia kuasai dan dia sukai. Mau tidak mau dia harus memimpin. Bahkan dalam ajaran agama[ku], semua orang adalah bos.

“Setiap dari kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggung jawabannya atas apa yang dipimpinnya”( Bukhori ;893). 

"Sebaik-baiknya pemimpin adalah yang mencintai Rakyatnya dan dicintai Rakyatnya, dan seburuk buruknya pemimpin adalah yang membenci rakyatnya dan dibenci serta dilaknat oleh rakyatnya.” Hr Muslim

Kadang saking semangatnya memimpin, para bos suka lupa bahwa mereka kelak akan dimintai pertanggung jawabannya. Mereka memimpin dengan kekuasaan jabatan yang dia pegang.

Ciri bos seperti ini biasanya "tidak tahan terhadap kritik" dan "cenderung memaksakan kehendaknya", ujung-ujungnya jadi marah kalau kehendaknya ditentang oleh anak buahnya atau lingkungannya.

Ada bos yang suka menggunakan kata,"sebaiknya" dibanding kata "seharusnya". Ada juga yang lebih suka berkata,"nanti biar gak salah lagi, bagaimana cara ngerjakannya?" daripada bilang,"cara ngerjakannya salah tuh, begini nih yang benar..."

Secara otomatis [manusiawi], selalu muncul perlawanan dari diri seseorang bila di awal kalimat sudah muncul "judgemnet" tentang kesalahan yang kita perbuat. 

Meskipun faktanya, kita memang salah, tapi hati kita bisa menjadi luluh [bin trenyuh] ketika bos sama sekali tidak menyinggung kesalahan kita, justru bos aktif mencari solusi terhadap kesalahan yang kita perbuat.

"Wah, ternyata yang kita perbuat kemarin membuat aliran dana tersendat. Nih data yang dikirim oleh proyek A. Gimana solusinya ya agar dana di semua proyek tidak tersendat."

Nah, pernyataan itu akan menyejukkan hati kita [soalnya kemarin kita membuat keputusan yang salah tanpa persetujuan bos, tetapi bos mengatasnamakan kesalahan itu pada kelompok, bukan pada stafnya, si pembuat keputusan salah].

Bandingkan dengan kata-kata ini,
"Kamu ini sudah dibilangin, kok masih membuat kesalahan aja sih. Seharusnya kan bla..bla..bla..."

Wah, kuping kita langsung pasang mode :"BUDEG". Terserah bos mau bilang apa, yang penting aku gak dengar.

Yang bikin lebih sakit lagi, ucapan yang dilontarkan bos itu terjadi di depan anak buah kita.

Huaduh sakitnya hati ini. Kalau saja boleh, pasti sudah kujitak tuh kepala bos yang suka meruntuhkan kehormatanku di depan orang lain.

Alhamdulillah, selama hidupku ini aku lebih banyak dipertemukan dengan bos yang suka memimpin dengan hati. Ada sih yang tadinya memimpin dengan "POWER", tapi ketika "POWER"-nya makin redup diapun akhirnya mulai meninggalkan kepemimpinan dengan "POWER" itu. Sedikit demi sedikit dia mulai memimpin dengan hati, mulai mau memeluk anak buahnya [tidak hanya menyodorkan tangan, tapi aktif merangkul dalam pelukannya].

Senangnya mereka yang sudah ikut pelatihan ESQ.

Mereka sudah mengenal dengan baik bagaimana menjadikan suara hati [GOD SPOT] sebagai pemimpin semua organ tubuhnya, sehingga semua yang dikerjakan adalah cerminan dari suara hati yang paling jernih dan paling jujur. Itulah 99 suara hati terbaik di dunia, karena itu adalah Asmaul Husna [99 nama Allah]

Kalau Gede Parma menulis tentang "Memimpin Dengan Hati", maka ESQ mengajari kita bagaimana caranya menghancurkan belenggu yang membuat hitam suara hati kita, sehingga suara hati kita menjadi bersih dan dapat menyinari lingkungan kita.

"Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR. Tirmidzi)
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya) dan aku (Nabi SAW) adalah sebaik-baik kalian bagi keluargaku" (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
“Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti sebatang pohon kurma. Apapun yang kamu ambil darinya akan memberikan manfaat kepadamu.” (HR. Ath-Thabrani)

Selamat Memimpin [keluargamu]

Views: 412
Posting: 15-Nov-2008 00:27:49 WIB
Comments: 0 comments
Category: 99 Suara Hati, Alumni Esq, Berbagi, Memimpin, Memimpin Dengan Hati, Senyum
Nov
15
2008

Ketika pak Paijo naik pangkat dan kemudian jadi OKB [orang kaya baru], maka banyak tetangga yang memberikan apresiasi pada pak Paijo, namun ada juga yang malah menebarkan gosip miring untuk pak Paijo.

Bermacam-macam gosip memang kalau makin digosok makin sip. Jadilah, isu OKB itu menjadi santapan empuk para ibu-ibu di kampung.

"Enak tuh jadi pak Paijo. Mau beli apa-apa tinggal bilang saja. Coba kalau inget dulu. Wah... mau beli indomie aja susah banget"

"Kok bisa tahu-tahu jadi orang kaya. Kenapa ya?"

"Jangan-jangan.............."

Wah, kalau sudah jangan-jangan, pasti ujung-ujungnya makin tidak jelas dan makin jauh dari kenyataan.

Sambil menggosip, dalam hati para penggosip mulai muncul keluhan sedikit demi sedikit. Makin banyak menggosip, maka dalam hatinya akan makin banyak keluhan terhadap kehidupannya yang terasa kurang.

Begitulah, mengeluh memang suatu pelarian yang sering menimpa manusia, dan kalau sudah mengeluh, maka para pengeluh itu selalu merasa keluhannya adalah keluhan yang paling luar biasa.

Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (QS 70: Al Ma’aarij ayat 19-20)

Seangkan pak Paijo sendiri, apa benar dia sudah puas dengan hidupnya?

Dulu dia susah mau beli supermie, sekarang mau beli mie pangsit sak grobaknya saja dia sudah sanggup.

Tapi apa dia sudah puas?

Belum tentu. Saat masih miskin, memang keinginannya cuma beli super mie, tapi saat uang sudah banyak di tangan, maka munculllah keinginan baru yang belum dapat dipuaskan oleh duit yang ada di tangannya.

Dia sudah tidak mikir mie, tapi sudah mikir "hom titer", LCD yang sebesar dinding rumahnya.

Kalau dulu kemana-mana naik angkot, sekarang dia mulai melihat iklan Alphard.

Akhirnya kekayaan itu memang hanya tipuan semata. Kekayaan hatilah yang akan membuat hidup jadi enak dan indah.

SO, enjoy aja...!

Views: 407
Posting: 15-Nov-2008 00:25:08 WIB
Comments: 0 comments
Category: 99 Suara Hati, Kehangatan Cinta, Kekayaan Hati
Nov
15
2008

 


Kalau perut terasa lapar, pingin makan ikan patin bakar [bambu] dan sedang berada dekat pintu tol Cimanggis, maka pilihan rumah makan yang paling "joss gandhos" [mak nyuss] sebaiknya dijatuhkan ke Pondok Ikan Bakar "Kalimantan".

Pondok Ikan Bakar ini memang berbeda dibanding Pondok Ikan Bakar lainnya. Kalau melihat menu makanannya, model restorannya, maka pasti kita langsung menduga bahwa Pondok ini pasti mengusung warna sunda.

Tentu itu adalah tebakan yang tidak salah, karena memang begitulah suasana yang diciptakan oleh pemilik pondok ikan ini. Khas sunda banget.

Cuma kalau kita memesan Ikan Patin Bakar Bambu, maka orang sundapun akan bingung dengan cita rasanya. Kok model cita rasanya tidak seperti yang disajikan di warung sunda lainnya ya....

Rasanya benar-benar pas. Tidak gosong, lembut, gurih dan [mungkin ini yang utama] rasanya segar banget.

Setelah selesai makan, maka saat ke toilet, baru terjawab mengapa ikannya seger banget. Rupanya ada beberapa kolam besar yang dangkal [dengan aerasi pancuran air] dan penuh dengan ikan patin yang ukurannya sekitar sekiloan.

Rumusku untuk mengetahui rumah makan itu jorok atau tidak adalah dengan melihat kamar mandinya. Bila toiletnya bersih, terawat rapi, maka bisa dipastikan rumah makan ini dikelola dengan manajemen yang baik dan tidak asal bisa menyajikan makanan yang terasa enak tapi tidak jelas kebersihannya.

Menu lainnya yang kucoba adalah karedok yang khas sunda banget. Wuihhh ini juga rasanya pas banget.

Minumannya, kupilih kelapa muda [campur jeruk] dengan gelas besar. Biasanya aku kesulitan untuk menghabiskan minuman seukuran gelas besar ini, tapi penyajian warnanya yang megundang selera membuat aku sanggup menghabiskan minuman gelas besar ini.

Minuman ini juga dilengkapi dengan tambahan gula cair, sehingga bagi yang tidak suka manis, tidak perlu menuang gula cair itu. Bagi yang suka manis, maka bisa minta lagi gula cairnya, jika dirasa masih kurang manis.

Ada lagi yang biasa tapi istimewa, yaitu pete [bakar, goreng maupun mentah]. Gak tahu juga, apa karena sudah terbius oleh rasa Patin Bakar Bambu, maka petenyapun jadi ikut terasa enak.

Perlu diketahui bahwa pete, jika dibandingkan dengan apel, maka selain kaya akan kalium pete memiliki karbohidrat dua kali lebih banyak, tiga kali lipat fosfor, protein empat kali lebih banyak, lima kali lipat Vitamin A dan zat besi, dan dua kali lipat jumlah vitamin dan mineral lainnya.

[sumber internet, CMIIW]

Last but not least, pasti yang membuat semua itu terasa lebih mantap adalah sambalnya yang bener-bener bikin kelimpungan. Biarpun tidak pedas [tomatnya cukup banyak], tapi kelihatannya sudah di"set-up" agar pas dengan Patinnya.

Silahkan test kalau pas dekat dengan pintu tol Cimanggis. Yang penting jangan berlebih-lebihan.

"Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah (SWT) tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan". (al-A'raf: 31)

Dua JempOL untuk rasa dan suasana rumah makan [shoot by : septiawan]


Suasana yang teduh dan adem [teduh ya pasti adem donk]


Silahkan pilih yang sesuai kantong

Views: 557
Posting: 15-Nov-2008 00:23:11 WIB
Comments: 0 comments
Category: Kuliner, Ikan Bakar, Patin, Patin Bakar, Patin Bakar Bambu
Guestbook