Sekarang ini, aku berumur 17 tahun, tetapi sampai sekarang aku belum pernah sekalipun pacaran. Aku juga tidak tahu mengapa tidak ada cowok ganteng dan gagah yang memintaku jadi pacarnya, padahal kulihat wajahku cukup kece, yaa … walaupun tidak terlalu kece. Aku juga tidak memiliki jerawat atau bintik – bintik hitam di wajahku, pokoknya wajahku halus dan mulus. Tentu saja, itu berkat masker yang sering kupakai.
Lalu, bentuk tubuhku juga bagus, aku tidak gemuk, juga tidak terlalu kurus. Dan, otakku juga cukup pintar, nilai – nilaiku bagus, ranking - ku selalu masuk sepuluh besar. Pergaulanku juga cukup luas, temanku cukup banyak. Walaupun aku cukup pendiam dan tidak terlalu hiperaktif seperti teman – temanku yang lain, tapi aku cukup pandai berkomunikasi, teman – temanku senang ngobrol denganku. Semua temanku menganggapku baik, dan aku yakin, kalaupun aku mengadakan survey ke seluruh sekolahku, pasti tidak akan banyak kutemukan orang yang membenciku atau tidak suka padaku. Yaa, kira – kira perbandingannya antara 1 : 1000.
Begitulah nasibku … walaupun selama ini aku selalu berharap ada seorang pemuda tampan yang baik padaku, selalu melindungiku, menjagaku, membelaku jika ada orang yang ingin menjahatiku, selalu bersamaku, setia padaku, bersedia mengantar dan menjemputku sekolah, selalu menjadi pendengar setiaku, mendengarkan setiap keluhanku, menghiburku jika aku sedang sedih, dan selalu berbagi kebahagiaan denganku, mengucapkan kata – kata romantis saat memberiku kado ulang tahun dan valentine … Ah, benar – benar impian yang tak tercapai.
Aku tidak terlalu senang dengan kehidupanku yang sekarang. Walaupun setiap hari ada belasan, bahkan puluhan cewek menyemangatiku dari pinggir lapangan saat aku sedang bermain basket, walaupun setiap tahunnya akan banyak cokelat dari para cewek yang menghampiriku pada hari valentine, walaupun setiap hari ulang tahunku aku selalu menerima banyak kado dari mereka, walaupun mereka memberikan julukan “ COOL “ karena sikapku yang agak jutek terhadap cewek.
Meskipun setiap hari banyak sekali cewek yang memberiku surat cinta, ada yang memberikannya dengan malu – malu, ada yang langsung lari setelah memberikannya, ada yang memaksaku untuk menerima dan membacanya, ada yang menyelipkan hadiah di dalamnya, pokoknya bervariasi. Walaupun aku tidak pernah menyambut perasaan mereka, aku tidak pernah membuang surat – surat dan hadiah mereka, karena barang – barang itu dapat kujadikan objek untuk belajar menyatakan perasaanku pada orang yang kusukai.
Aku tidak suka kehidupan seperti ini, aku lebih suka impianku akan pangeran berkuda putih yang akan menyatakan cintanya padaku menjadi kenyataan. Aku sangat berharap impianku tercapai, sangat berharap … …
“ BRAKK !!! “
Sebuah suara keras membuyarkan lamunanku dan membawaku kembali ke dunia nyata. Aku memang sering mengalami kejadian seperti ini, tapi suara – suara yang kudengar tak pernah sekeras ini. Aku segera keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi. Dan saat aku keluar …
“ Eddie !!!! “ teriak seorang cewek mungil yang langsung memelukku ketika aku keluar.
Aku segera melepaskan pelukkannya. “ Siapa kamu ? “
“ Aduh, Ed, masa kamu lupa sama aku ? Aku Rina … RINA … R – I - N – A, boleh dibaca dengan huruf kecil, huruf BESAR, huruf tebal, huruf miring, dan digaris bawahi juga boleh ! “ cewek itu mengeja namanya sendiri.
“ Rina ? “ aku mulai memutar otakku. Memang aku pernah kenal cewek bernama Rina, tapi seingatku cewek bernama Rina yang kukenal ada puluhan orang. Lalu, dia ini Rina yang mana, ya ?
“ Iih, sebel, deh ! Masa baru 5 tahun aku ke Jayapura kamu sudah lupa ? “ gerutu cewek mungil itu manja.
Jayapura ? Ah, aku baru ingat ! Rina, benar, Rina adalah sepupuku yang ke Irian 5 tahun yang lalu. Ia lebih muda satu tahun dariku, dulu kami sangat akrab, kami sering main bersama, sebab aku kan anak tunggal. Dulu kami sering jalan – jalan bersama, melakukan banyak percobaan gila bersama, hampir tenggelam di laut bersama, tersesat di hutan bersama, kehujanan bersama, pokoknya dulu banyak hal yang kami lakukan bersama. Hubungan kami sangat dekat, bahkan dulu Rina merengek – rengek pada Om-ku agar diijinkan tinggal di rumahku, karena ia tidak mau berpisah denganku.
Aku benar – benar tidak menyangka ia akan pulang sekarang. Sejak dulu rambut Rina pendek, tubuhnya tinggi dan kurus, ia juga selalu memakai celana, tepatnya ia selalu berpenampilan seperti anak laki – laki. Tapi sekarang ? Rina ya tetap Rina, masih seperti dulu. Tomboy.
“ Rina ? Kamu Rina ? Rina anak Om Edwin kan ? “ tanyaku senang.
“ Memangnya ada Rina yang mana lagi ? Dasar, jahat ! Masa kamu lupa, sih padaku ? Padahal selama ini aku selalu ingat padamu, aku juga sering kirim surat padamu, tapi kamu tidak pernah membalasnya “
“ Surat ? Aku tidak pernah terima “
“ Masa sih ? Padahal kan aku sudah menuruti kata – katamu, suratku sudah kuikatkan pada seikat balon, lalu aku menerbangkannya ke langit “
“ Apa ? Begitu caranya kamu mengirim surat ? “
Rina mengangguk. “ Kan kamu yang bilang begitu padamu “
Aku langsung tertawa, anak ini polos sekali, bahkan ia percaya kata – kataku tentang mengirim surat melalui balon, padahal aku bilang begitu padanya hanya supaya ia mau ikut papanya pindah, tak kusangka, ia malah percaya.
“ Jadi kamu percaya ? “
“ Tentu saja, bodoh ! Tapi waktu umurku 15 tahun aku baru tahu kalau kamu membohongiku, jadi aku tidak melakukannya lagi “
Aku masih tertawa. “ Rina … Rina … “
“ Sudah, jangan tertawa lagi ! Ayo, angkat koper – koperku masuk ! “ teriak Rina sambil menunjuk empat buah koper besar di sampingnya.
“ Mau dibawa ke mana ? “
“ Tentu saja ke kamarmu “
“ Kamarku ? “
Rina mengangguk. “ He – eh, papa sudah pindah tugas lagi, tapi masih bulan depan, jadi untuk sementara aku tinggal dulu di sini, tepatnya di kamarmu. Kenapa ? Keberatan ? Tidak mau berbagi kamar denganku ? Jangan – jangan kamu punya rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain, ya ? Sudah, ngaku saja ! “
Sudah 5 tahun kami tak bertemu, Rina tambah bawel saja. “ Salah, salah, semua kata – katamu salah. Siapa bilang aku tidak mau berbagi kamar ? Aku mau. Ayo, kubawakan kopermu ! “
Aku pun membawa koper Rina satu persatu ke dalam kamarku. Lalu, sambil membereskan barang – barangnya, kami pun ngobrol.
“ Eddie, kamu ingat tidak tentang perjalanan kita mengelilingi dunia ? “
“ Yang mana ? Yang waktu itu, setelah makan bekal kamu sampai mau buang air besar, tapi saat itu kita sedang di hutan, jadi kamu harus buang air besar di pinggir sungai “
“ Ah, bukannya itu kamu ? “
“ Enak saja, itu kamu “
“ Kamu ! “
“ Kamu ! “
“ K – A – M – U - ! - ! “
“ Kamu, kamu, kamu, kamu … “
***
Selesai mandi dan makan malam, kami kembali ke kamarku untuk kembali melepas kerinduan.
“ Ed, aku baru sadar, ternyata kamarmu besar sekali, ya ? Ranjangnya besar, lemarinya besar … “ ucap Rina sambil berputar – putar melihat seluruh sudut kamarku.
“ Siapa bilang ? Buktinya lemari buku itu tidak cukup untuk meletakkan hadiah – hadiah dan buku – buku koleksiku “ aku mengerutu.
Rina terlihat seperti tidak mendengarkanku, ia hanya menatap poster – poster Westlife yang tertempel di kamarku.
“ Hei, dengar tidak ? Aku kan sedang bicara “
“ Iya, iya “ ucapnya, lalu ia menoleh padaku sambil menunjuk poster – poster itu. “ Kamu suka mereka, ya ? “
“ Tentu saja aku suka, mereka kan ganteng – ganteng dan suaranya bagus – bagus, semua orang juga suka, kenapa aku tidak boleh suka ? “
“ Soalnya jarang sekali ada cowok yang suka sama mereka, biasanya kan yang suka sama mereka cewek “
“ Loh ? Memangnya kamu tidak punya idola cewek ? “
“ Punya, sih ! “ Rina nyengir. “ O, ya, tadi kamu bilang lemarinya tidak muat ? Memangnya lemari sebesar itu kamu taruh apa saja ? Aku periksa, ah ! “
Rina pun mendekati lemariku yang berukuran 1 x 1,5 x 2 meter, lalu membukanya.
“ Wah, komik ! Banyak sekali, kamu suka baca komik, ya ? “
Aku mengangguk.
“ Tapi, kok komiknya serial cantik semua ? “
“ Habis serial cantik kan gambar cowoknya cakep – cakep dan ceritanya romantis “
“ Hah ? Dasar aneh, masa cowok suka baca komik cantik ? Bukannya sekarang banyak komik cowok ? “ Rina geleng – geleng kepala sambil mencari benda lain yang bisa dijadikan objek pembicaraan. “ Wah, jam ! Di sini banyak jam, bingkai, pajangan, lampu hias, wah, banyak sekali benda – benda lucu. Ada mickey mouse, ada tweety, wah … ! Ini semua ? “
“ Itu hadiah ulang tahunku “
“ Wah, banyak sekali ! Aku jadi iri “
“ Kalau mau ambil saja “
“ Buat apa ? Aku kan cuma suka melihatnya saja, lagipula kamu taruh di sini aku juga bisa melihatnya, jadi tidak perlu aku ambil. Dan lagi, itu kan hadiahmu, masa aku sebegitu tidak berperasaannya mengambil hadiahmu “
“ Dasar, sok jual mahal ! Padahal dulu kamu suka merebut mainanku “
“ Enak saja, kamu tuh yang suka rebut mainan orang ! “
“ Kamu ! “
“ Kamu ! “
***
Semalaman kami tidak tidur, kami terus ngobrol, ngobrol dan ngobrol. Tak habis – habisnya bahan pembicaraan kami. Itulah sebabnya mengapa hari ini kami telat pergi ke sekolah, karena kami kesiangan.
O, ya, apa aku sudah bilang kalau Rina pindah sekolah ke sekolah yang sama denganku dan sekarang ia jadi adik kelasku ? Pasti belum. Hari pertama masuk sekolah, ia malah telat. Dasar Rina !
Tapi kami berhasil melewati hari dengan lancar di sekolah, Rina mendapat banyak teman baru, dan aku ? Yaa menjalani kehidupanku seperti biasanya, kehidupan yang tidak sesuai dengan keinginanku.
Hari ini kami pulang sore karena aku ada kegiatan ekskul basket, dan Rina menungguku. Seperti hari sebelumnya, seusai mandi dan makan malam, kami ngobrol lagi di kamarku.
“ Wah, Ed, ternyata kamu sangat terkenal di sekolah ! Kamu tahu ? Semua teman cewekku menyukaimu, mereka semua suka padamu, mereka ingin jadi pacarmu. Tadi sewaktu aku menunggumu bermain basket aku juga melihat begitu banyak cewek yang menyemangatimu, wah, kamu sangat beken, ya ? “
“ Ah, biasa saja ! “
“ Biasa ? Mana biasa ? “ ucap Rina sambil menonjok pelan dadaku. “ Begitu banyak cewek, kamu pilih yang mana ? Atau, jangan – jangan kamu sudah punya pacar ? Ayo, ceritakan padaku ! “
“ Tidak, aku belum punya pacar, kok ! “
“ Kenapa ? Memangnya dari sekian banyak cewek yang mengidolakanmu, tidak ada seorang pun yang bisa membuat jantungmu berdebar ? Atau, jangan – jangan kamu seperti cowok – cowok di komik ? Sudah punya orang yang disukai, tapi tidak berani mengungkapkannya, karena cewek yang kamu sukai itu bukan salah satu dari sekian banyak penggemarmu ? Jadi kamu merasa dia tidak menyukaimu dan takut untuk mendekatinya ? Jangan khawatir, jika memang begitu masalahnya, aku akan selalu siap membantumu, katakan, cewek yang mana ? Biar aku membantumu mengungkapkan perasaaanmu padanya “ Rina menjabarkan khayalannya yang panjang lebar itu.
Aku tertawa sambil geleng – geleng kepala. “ Bukan, bukan begitu “
“ Kalau begitu … apa mungkin seperti … “
“ Cewek yang membuat jantungku berdebar – debar banyak sekali “ potongku.
“ Lalu, mengapa tidak kamu pacari satu ? “
“ Loh ? Untuk apa ? Mereka memang membuat jantungku berdebar – debar, tapi bukan karena suka, melainkan takut, karena mereka selalu mengejarku, ada yang selalu mengikutiku ke mana – mana lagi “
“ Lalu kamu maunya yang seperti apa ? “ tanya Rina bingung.
Aku mulai berpikir, apakah aku akan menceritakan impianku pada Rina ? Tapi, aku kan tidak pernah menceritakannya pada orang lain. Ah, Rina kan bukan orang lain, lagipula dulu kami juga saling curhat, kenapa sekarang tidak ?
“ Yang aku mau adalah seorang pemuda tampan yang baik padaku, selalu melindungiku, menjagaku, membelaku jika ada orang yang ingin menjahatiku, selalu bersamaku, setia padaku, bersedia mengantar dan menjemputku sekolah, selalu menjadi pendengar setiaku, mendengarkan setiap keluhanku, menghiburku jika aku sedang sedih, dan selalu berbagi kebahagiaan denganku, mengucapkan kata – kata romantis saat memberiku kado ulang tahun dan valentine “
Rina langsung tertawa terbahak – bahak. “ Eddie, kamu bercanda, ya ? Itu kan impian setiap cewek “
Aku tersenyum malu. “ Memangnya tidak boleh, ya kalau aku juga punya impian seperti itu ? “
Rina terbelalak, wajahnya langsung menghampiri wajahku, dekat sekali. “ Jadi, kamu serius ? “
“ Tentu saja “ jawabku.
Rina menghela napas panjang. “ Kamu tau ? Sepertinya, aku juga lebih menyukai cewek feminim daripada cowok – cowok iseng dan bau keringet di sekolah. Itu berarti, kamu bukan cuma sepupu kesayanganku, tapi kamu juga teman sebangsaku “
SELESAI
CREATED BY : LUSIANA
Views: 132
Posting: 25-Feb-2008 18:52:00 WIB
Comments: 3
comments
Category:
“ Boleh aku tau kenapa kau memilihku ? “ di samping sebuah ranjang, Lia dengan mata berkaca-kaca menatap Rian, seorang cowok ganteng berwajah pucat yang sedang berbaring sekarat di depannya.
Dengan terbata-bata Rian menjawab “ Karena … aku mencintaimu … aku … aku … “
Tak sempat Rian melanjutkan kata-katanya, napas terakhirnya sudah terlanjur dihempaskan. Air mata Lia langsung mengalir deras, diikuti dengan teriakan histeris Lia “ Rian !!!!!!! “.
Sambil mengguncang-guncangkan tubuh Rian yang sudah tak bergerak lagi, Lia terus berteriak “ Rian, bangun ! Jangan tinggalkan aku seperti ini ! Rian, bangun !! “
“ Cut ! “ sebuah suara dari belakang memecahkan suasana dramatis yang sedang terjadi. Terlihat Hanes, seorang cowok bertubuh agak tinggi dan besar, memakai kemeja dan jeans casual sedang tersenyum sambil bertepuk tangan. “ Bagus ! Lo berdua emang bakat jadi aktris dan aktor “
***
Siapa yang nggak kenal Lia ? Diva ekskul drama, cantik, pintar dan yang terpenting aktingnya bener-bener keren itu sangat memikat para lelaki buaya darat d sekolah Lia.
Namun, meskipun cantik, pintar dan jago akting, Lia hanyalah perempuan biasa. Yang punya rasa cinta dan kasih. Bukan hanya itu, Lia juga punya Prince Charming yang sangat disukainya, Tony. Tony adalah seorang cowok ganteng paling terkenal dari ekskul basket.
Lia memutuskan akan mengungkapkan perasaannya kepada Tony besok, seusai dramanya dipentaskan.
***
Selesai latihan, Lia langsung pergi menuju restoran tempatnya dan Tony janjian. Hari ini Tony ulang tahun, jadi Lia ditraktir makan sepuasnya di restoran itu.
Betapa beruntungnya Lia, karena hanya dialah yang ditraktir Tony hari ini. Padahal, Lia dan Tony kan baru kenal tiga bulan. Kejadian itu bermula dari jadwal ekskul drama dan basket yang tiba-tiba aja bentrok akibat ketidakbaikan menagement pembina ekskul. Jadi kedua kelompok itu menjalani kegiatannya dengan berbagi pembina.
Hal beruntung itu pun menghampiri Lia. Saat itulah dia berkenalan dengan Tony dan seketika itu juga mereka jadi akrab. Padahal, menurut informasi yang didapat Lia, Tony tuh nggak begitu suka deket-deket sama cewek. Dan itu berarti Lialah satu-satunya cewek dan cewek pertama yang bisa deket sama Tony.
Dengan perasaan senang, Lia sampai di restoran. Setelah celingak celingukan beberapa kali, akhirnya Lia menemukan Tony sedang duduk di sebuah kursi dan segera menghampirinya.
“ Hi, dah lama ? “ Lia tersenyum, kemudian duduk di seberang Tony.
Tony tersenyum. “ Barusan, kok ! “
“ Gimana ? Kita mau makan apa ? “ tanya Lia bersemangat.
“ Kan lo yang ditraktir, jadi lo aja yang tentuin “ Tony menyerahkan buku menu kepada Lia.
Lia ketawa. “ Duh, jadi nggak enak, nih ! Kan lo yang traktir. Lo aja deh yang tentuin “ Lia mendorong buku menu ke depan Tony.
Tony tersenyum. Kemudian mengambil buku menu dan membukanya. “ Oke, kalo gitu gue yang tentuin, ya. Tapi inget, makannya harus habis, nggak boleh ada sisa sedikit pun “
Lia hanya tersenyum nakal. “ Lho, ini kan bukan restoran buffet “
Tony geleng-geleng kepala. Lia tertawa senang.
Tony mengusap-usap dagunya sambil memperhatikan tulisan-tulisan dalam buku menu. “ Ehm … gimana kalo kita makan steak aja ? “
“ Steak ? Ng … “ Lia terlihat gelisah.
“ Kenapa ? “ Tony mengerutkan alisnya.
“ Sebenernya … gue vegetarian. Tapi kalo lo mau makan nggak pa pa kok. Gue makan yang laen aja “ ucap Lia dengan tampang kasian.
Tony terlihat serius. “ Oo… sorry kalo gitu. Ya udah, kita pesen yang laen aja, ya “
Tony kembali membolak balik buku menu. “ Ehm … kalo gitu, gimana kalo kita pesen soup aja ? “
“ Soup ? “ Lia kelihatan terkejut. “ Ada santennya nggak ? “
Tony memperhatikan gambar dalam buku menu. “ Kayaknya sih ada. Kenapa ? “
“ Ng … gue … gue alergi santen “ ucap Lia pelan.
Sekarang giliran Tony yang terkejut. “ Oo… gitu ya ? Oke, kalo gitu … “ tangan Tony menelusuri tulisan-tulisan dalam buku menu dengan kecepatan siput.
Beberapa menit berlalu, namun Tony belum juga menentukan menu ke-3. Cowok itu kelihatan bingung dan sedikit takut, maksudnya takut salah milih menu lagi.
Dan tiba-tiba aja tawa Lia meledak. Tony kontan melongok dan memperhatikan Lia dengan tampang bego.
“ Kenapa ? “ tanya Tony bingung.
“ Haha … sebenernya … gue nggak vegetarian “ kata-kata Lia terus diiringi tawa. “ Gue … gue juga nggak alergi santen “
Tony terlihat memperhatikan Lia dengan serius. Wajahnya seperti menyiratkan kata-kata berikut. “ Apa sih maksud cewek ini ? “
Masih diiringi tawa. “ Akting gue bagus, khan ? “
Tony pun tersenyum sambil geleng-geleng kepala. “ Hmm… susah deh kalo sama calon aktris… “
Lia tersenyum bangga. “ Tertipu ni yee … “
“ Iya, deh ! Gue tertipu. Sekarang lo aja deh yang pesen makanannya. Gue udah blank, nih ! “ kata Tony sambil menyerahkan buku menu kepada Lia.
***
Gemuruh suara tepuk tangan memenuhi ruang aula. Lia dan kawan-kawan aktris dan aktor dari ekskul drama bergandengan tangan dan memberi hormat kepada penonton dari atas panggung.
Selesai beres-beres, Lia buru-buru keluar aula dan menemui Tony di sana.
Di depan, Tony sudah menunggu Lia. Sambil tersenyum, Tony mengacungkan jempol ke arah Lia. “ Hebat !! “
Lia ketawa. “ Makasih, ya “
“ Ehm… jangan lupa, lho ! Lo kan janji setelah nonton drama ini lo mau traktir “ tagih Tony.
“ Iye, iye … gue nggak lupa, kok ! “
***
Tony melihat ke sekeliling. “ Suasana restoran ini romantis banget, pantesan lo maksa-maksa mesti ganti baju dulu baru ke sini “
Lia ketawa. “ Asyik, khan ! Ada musiknya lagi “
“ Oke, sekarang kita mau pesen apa ? “ tanya Tony sambil mengacungkan buku menu.
“ Pecel lele “ celetuk Lia.
“ Pecel lele nenek lo, restoran elit begini mana ada pecel lele ? “ Tony ketawa.
Tiba-tiba aja wajah Lia terlihat sedih. Tony jadi agak khawatir.
“ Kenapa ? “
“ Ng … gue jadi inget nenek gue… “ Lia mulai menitikkan air mata.
Tony kelihatan ketakutan, ia pun segera mengusap air mata di wajah Lia. “ Emang nenek lo di mana ? “
“ Nenek … nenek gue udah meninggal “ air mata Lia makin deras.
Tony kelihatan bingung, nggak tau mesti gimana. “ Ng … “
Lia masih menangis.
“ Ng … “ Tony masih berpikir mau gimana menghibur Lia.
Tapi, tiba-tiba aja hal itu jadi nggak penting lagi. Tawa Lia meledak.
“ Ketipu lagi ! “ Lia dengan wajah berlinang air mata ketawa.
Tony menghela napas. “ Lia … lo bener-bener bikin gue bingung. Kapan sih lo bener-bener jadi Lia dan kapan lo jadi aktris ? “
Lia ketawa. “ Tebak aja “
Tony tersenyum. “ Ya udah, sekarang kita udah bisa pesen makanan, khan ? “
Lia mengangguk senang.
***
Terlihat Lia dan Tony sedang berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Kemudian mereka berhenti di depan sebuah rumah, rumah Lia.
Tony tersenyum. “ Oke, sampe besok, ya “
Lia tersenyum sambil melambai-lambaikan tangannya. “ Dadah “
Tony berbalik dan berjalan menjauh. Tapi tak lama kemudian teriakan Lia menghentikan langkahnya.
“ Tony ! “ panggil Lia.
Tony menoleh, Lia sudah ada di belakangnya sambil terengah-engah.
“ Kenapa ? “ tanya Tony.
“ Gue … ada yang mau gue ngomongin “ Lia terlihat gugup dan salah tingkah.
Tony melipat tangannya dan tersenyum. “ Ngomong aja, nggak pa pa, kok ! “
Lia sedikit tertunduk. “ Gue … sebenernya sejak dulu gue suka banget sama lo. Tapi … gue nggak berani bilang atau pun deketin lo, soalnya ada gosip yang bilang kalo lo tuh benci sama cewek. Tapi … waktu jadwal ekskul kita bentrok, kita jadi kenal dan … jadi akrab kayak sekarang. Gue seneng banget “
Tony kelihatan menanti-nanti apa kata-kata Lia selanjutnya. “Jadi ?“
“ Jadi … lo … lo mau nggak … jadi … pacar gue ? “ Lia kelihatan gugup sekali waktu kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Tony tersenyum. “ Lia … sebenernya … dulu gue emang benci sama cewek. Karena gue pikir cewek tuh kerjaannya cuma ngegosip dan melakukan kegiatan sejenisnya. Tapi hal itu berubah sejak jadwal ekskul kita bentrok waktu itu. Waktu itu gue liat lo lagi akting, gue bener-bener kagum. Gue nggak nyangka kalo di dunia ini ada cewek kayak lo. Lo bener-bener ajaib. Karena itu gue jadi suka bertemen sama lo “
Lia berubah jadi semangat, wajahnya memerah akibat malu.
“ … Belakangan, gue sadar kalo perasaan gue ke elo bukan cuma temen. Ternyata … gue juga suka sama lo … dan gue berencana nembak lo. Tapi nggak disangka, malah lo yang nembak gue duluan “
“ Jadi … sekarang kita udah jadian ? “ Lia bersemangat sekali, wajahnya berseri-seri.
Tony terlihat serius. “ Sorry … cerita gue belom selesai. Tolong dengerin dulu sampe selesai. Dulu, gue emang niat nembak lo “
“ Dulu ? “ Lia berteriak dalam hati.
“ … tapi ada suatu hal yang mengubah itu “
“ Apa ? “ tanya Lia cepat.
Tony mempertegas kata-katanya. “ Masalahnya, gue nggak tau kapan lo jadi Lia yang sebenernya dan kapan lo lagi akting. Jadi, gue nggak tau kata-kata lo yang mengharukan barusan itu bener atau enggak. Siapa tau lo lagi akting kayak waktu lo bilang kalo lo itu vegetarian, alergi santen atau sedih karena nenek lo yang udah meninggal “
“ Tapi … tapi gue bener-bener suka sama lo. Gue nggak lagi becanda, gue serius, kok ! “ Lia membela diri.
Tony menggeleng. “ Sorry … gue nggak bisa … udah cukup gue dibohongi 2 kali, gue nggak mungkin ketipu ketiga kalinya “
Kemudian, Tony pun pergi meninggalkan Lia seorang diri. Lia segera berlari ke dalam rumah dan menangis di dalam kamarnya.
***
Meskipun sedih, Lia tetep pergi ke sekolah keesokkan harinya. Tapi, begitu ia sampai di kelas …
“ Wah, Lia … lo vegetarian ? Kok gue baru tau ? Bukannya lo paling suka makan bakso ? “ goda Dido ketika Lia baru aja masuk kelas.
Lia langsung melirik ke arah suara. “ Darimana dia tau … “
“ Eh, bukan tau. Lia nggak vegetarian, tapi dia tuh alergi santen “ teriak Eni.
“ Alergi santen ? Mana mungkin ? Tiap pagi kan si Lia makan ketupat, minta kuahnya banyak lagi “ celetuk Roni.
Kemudian temen-temen sekelas yang berjumlah sekitar 10 orang itu ketawa.
Lia memperhatikan seisi kelas, air matanya mulai menetes. “ Ton, lo kok tega amat membeberkan hal ini ke semua orang ? Apa lo benci banget sama gue ? “
“ Lho, Lia lo kenapa ? Nenek lo meninggal ? “ Joni kembali memulai godaan.
Tawa dalam kelas kembali meledak.
“ Eh, eh, pada diem dulu … “ kata Seli menenangkan.
Anak-anak sekelas pun diam dan mendengarkan Seli.
“ Dia bukan nangis gara-gara neneknya meninggal, tapi gara-gara ditolak Tony “ teriak Seli.
Air mata Lia makin deras, ia pun berlari keluar kelas. Di tengah-tengah emosinya yang memuncak, Lia berlari tanpa mengenal arah. Ia pun menabrak tubuh seseorang, yang ternyata adalah tubuh Tony.
Tony tersenyum. “ Hi “
Lia segera memukul-mukul dada Tony. “ Ton, lo jahat ! Lo jahat banget ! Masa lo sebarin semua itu ? Lo jahat ! Jahat !! Kalo lo nggak suka gue, ya udah ! Kalo lo benci gue, ya udah ! Tapi kenapa lo harus mempermalukan gue kayak gitu ? Lo jahat banget ! “
Tony malah ketawa. “ Lho, kok gue dibilang jahat sih ? Gue kan cuma menceritakan kisah cinta kita sama temen-temen. Supaya mereka tau betapa romantisnya kisah cinta kita “
“ Kisah cinta apaan ? “ teriak Lia. Ia pun makin keras memukul-mukul dada Tony.
Tony tersenyum, kemudian memeluk Lia. Setelah Lia agak tenang, Tony mengusap air mata Lia.
“ Oke, oke … gue minta maaf … gue janji gue nggak bakal melakukan hal ini lagi. Jadi … “
Lia mengusap-usap air matanya sampe bersih. “ Jadi apa ? “
“ Jadi … sekarang kita udah jadian, khan ? “ Tony tersenyum.
“ Jadian ? “ Lia kelihatan bingung.
“ Ya iyalah ! Seluruh sekolah udah tau kok kalo kita udah jadian “
“ Tapi … tapi kemaren kan … “
“ Oh, kemaren, ya ? Kemaren kan gue cuma nyoba menyaingi akting lo. Lo ngerjain gue dua kali, gue ngerjain lo sekali. Cukup adil kan ? “ Tony ketawa.
Detik itu Lia baru sadar kalo dia udah dikerjain abis-abisan. Lia pun tersipu malu. “ Ah, Tony jahat ! “
“ Siapa suruh lo ngerjain gue terus “ sahut Tony.
Lia berubah menjadi serius. “ Ton, gue janji nggak bakal bohongin lo lagi. Gue cuma akan berakting di atas panggung dan nggak bakal akting di depan lo lagi. Gue cuma akan jadi diri gue sendiri kalo di depan lo. Tapi lo juga harus janji, lo nggak boleh bales gue kayak gini lagi “
Tony tersenyum. “ Oke, kalo gitu kita janjian … “
Tony mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Lia, kemudian mereka pun tersenyum.
Views: 95
Posting: 25-Feb-2008 18:51:00 WIB
Comments: 0
comments
Category:
Ferin berlari tergesa – gesa menghampiri Faily.
“ Ly ! Itu, Ly ! Dia dateng, Ly ! “ kata Ferin ngos – ngosan.
“ Siapa ? “ tanya Faily.
“ Itu, si Brad “ jawab Ferin sambil sesekali menarik napas.
“ Brad ? “
“ Iya, ayuk kita kenalan ! Ini kesempatan langka, loh ! Jarang – jarang kan liat dia di lantai 1 “ kata Ferin yang udah nggak ngos – ngosan.
“ Tapi … “
“ Tapi apa lagi ? Ayuk, pegi ! “ ajak Ferin sambil menarik baju Faily.
Faily berusaha melepaskan tarikan Ferin.
“ Gua nggak mau pegi, ah ! “ kata Faily.
“ Kenapa ? Lu kan udah lama suka banget ama dia, jarang lu ada kesempatan langka begini, mendingan lu pake sebaik mungkin, deh ! “
“ Tapi gua malu, dia pasti nggak mau kenalan ama gua “ jawab Faily.
“ Ya mau, lah ! Kan lu sendiri yang selalu bilang kalo dia itu orangnya bae, ganteng, pinter, keren, dan nggak sombong “ kata Ferin lagi.
“ Ah, pokoknya gua nggak mau ! Lu aja yang kenalan ma dia, nanti certain ke gua, ya ? “
“ Bener, nih gak mau ? “ tanya Ferin untuk terakhir kalinya.
Faily menggelengkan kepalanya.
“ Ya udah, tapi jangan nyesel dan ngoceh – ngoceh nyalain gua, ya ? “ kata Ferin sambil berlari pegi meninggalkan Faily.
Faily adalah gadis yang lincah, ceria, pintar dan … ehm, cantik. Tapi ada satu kelemahan yang sulit dihilangkannya, yaitu M – A – L – U. Dia itu orangnya pemalu banget, malu untuk tampil di muka umum, malu untuk mengungkapkan perasaan, pokoknya malu…. aja bawaannya.
Faily udah lama suka ama cowok yang namanya Brad. Brad adalah kakak kelas Faily yang buanyaaaak banget fansnya. Gimana enggak ? Dari semua cowok di sekolah Faily, kayaknya cuma dia deh yang memiliki semua yang disukai cewek. Udah ganteng, keren, bae, pinter, nggak sombong lagi, dan yang paling menggiurkan adalah Brad satu – satunya pewaris perusahaan papanya yang super gede.
Sekolah Faily terdiri dari 6 lantai, itu baru gedung khusus SMU loh ! Lantai 1 dan 2 untuk kelas 1, lantai 3 dan 4 untuk kelas 2, dan lebihnya untuk kelas 3. Jadi, kesempatan ketemu ama kakak kelas tuh langka banget, soalnya mesti naek beberapa lantai.
“ Gimana, Rin, tadi kenalannya ? “ tanya Faily penasaran.
“ Ya salaman, trus gua perkenalin diri “ jawab Ferin.
“ Trus ? “
“ Ya udah, emang mo ngapain lagi ? “
“ Yah, kok begitu doing ? Lu nggak ngobrol ma dia ? “ tanya Faily yang makin penasaran.
“ Orang yang kenalan bejubel, gimana gua ngobrolnya ? “ kata Ferin mulai tampak kesal.
“ Kenapa ? Kok kayaknya lu nggak seneng ? “ tanya Faily pelan.
“ Abis, tadi waktu desek – desekan ada yang nginjek sepatu gua, padahal kan ini sepatu baru “ jawab Ferin kesel.
“ Ya elah, gua kira kenapa “
Faily suka sekali berhayal. Dia sering membayangkan bisa kenalan ma Brad tanpa desek – desekan ma cewek laen. Makanya gak aneh kalo selama dua jem pelajaran terakhir hari ini dia berhayal lagi sampe bel tanda pulang berbunyi.
Faily bisa pulang jalan kaki bareng Ferin, temen baenya sejak TK. Rumah Faily dan Ferin kan deket banget ma sekolah, beberapa langkah aja udah nyampe ke sekolah, makanya nggak perlu pake kendaraan.
“ Aily pulang, Ma ! “ kata Faily ketika sampe di rumah.
“ Eh, Ly, cepet mandi, gih ! “ kata mama dengan nada tegang, seperti telah terjadi sesuatu.
“ Emang kenapa, Ma ? “ tanya Faily jadi ikut tegang.
“ Udah, cepet mandi ! Abis mandi beliin mama gado - gado, ya ? “ kata mama sambil nyengir.
“ Ya ela, kirain kenapa. Iya, nanti Aily beliin “ jawab Faily.
Setelah menaruh tasnya, Faily pun mandi, sesuai dengan amanat mamanya.
“ Beli di mana, Ma ? “ tanya Faily.
“ Itu, Ly, deket sebelah supermaket ‘ Murah Sekali ‘ “ jawab mama sambil memberikan Faily uang.
“ Iih, Mama itu kan jauh, mesti naek angkot dua kali ! “ seru Faily sambil mengambil uang yang diberikan mama dan menaruhnya di saku celananya.
“ Ah, gak papa ! Mama lagi pengen banget, nih makan gado – gadonya si Bu Ida. Tolong, donk beliin ! Kan Mama bayarin ongkosnya juga “ kata Mama dengan tampang kasian.
“ Mama kayak lagi ngidam aja “ kata Faily sambil nyengir.
Karena Faily anak yang berbakti, ya pegi juga deh akhirnya. Walaupun lama, akhirnya sampe juga Faily di tukang gado – gado. Setelah ngantri 15 orang, akhirnya gado – gado pesenan Faily jadi juga. Dan inilah saat yang tepat untuk pulang, setelah semua penderitaan yang barusan dialaminya.
Tapi, waktu di tengah jalan, pandangan Faily tertuju pada polisi – polisi yang lagi nertipin pedagang kaki lima. Sebenernya sih bukan liatin polisinya, tapi salah satu cowok yang ditangkep polisi itu, mirip banget ma Brad, eh, bukan mirip, tapi itu emang Brad.
Faily pun buru – buru turun dari angkotnya tanpa memikirkan ada ongkos tambahan nggak buat pulang, soalnya mama ngasih ongkosnya pas – pasan banget.
Faily buru – buru menghampiri cowok yang dianggap Brad itu.
“ Eh, Pak ! Tunggu, Pak ! “ kata Faily kepada polisi yang lagi nangkep Brad.
“ Kenapa, Neng ? “ tanya polisi itu.
“ Kenapa dia ditangkep, Pak ? “ tanya Faily sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Brad beneran, loh.
“ Dia ini pedagang kaki lima dan di sini nggak boleh jualan “ kata si Pak polisi.
“ Oh, bukan, Pak ! Bapak salah paham, dia ini murid SMU, Pak ! “ jelas Faily.
“ Dari tadi dia juga ngomong begitu, tapi saya suruh kasih buktinya gak ada. Kamu punya buktinya nggak ? “ tanya polisi itu lagi.
Faily berpikir sejenak, kemudian mengambil dompetnya dan mengeluarkan selembar foto dan kartu pelajarnya.
“ Ini kartu pelajar saya, Pak ! “ kata Faily sambil menunjukkan kartu pelajarnya kepada Pak polisi. “ Dan ini foto saya sama dia “.
Setelah polisi itu melihat semua yang ditunjukkan Faily, ia pun percaya dan melepaskan Brad.
“ Kali ini saya percaya, kamu saya bebaskan “ kata Pak polisi sambil melangkah pergi.
Brad menatap terus ke arah polisi yang menjauh itu, sedangkan Faily nggak membuang kesempatan untuk menatap Brad dari deket.
Tiba – tiba Brad menengok ke arah Faily yang sedang menatapnya, dan seketika itu juga, muka Faily merah padam.
“ Ng.. aku pergi dulu, ya ? “ kata Faily yang kaget dan pengen cepet – cepet pegi.
“ Eh, tunggu ! “ panggil Brad.
Faily pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
“ Siapa namamu ? “ tanya Brad.
“ A – ku Faily, F – A – I – L – Y “ jawab Faily gugup dan nggak sadar kalo dia mengeja namanya sendiri.
“ Faily, ya ? Terima kasih, ya kamu udah nolongin aku. Aku Brad “ kata Brad sambil tersenyum dan mengeluarkan tangan kanannya untuk disalami.
Melihat senyum Brad yang super keren itu, Faily pun spontan membalas senyum.
“ Nggak usah sungkan “ kata Faily sambil menjabat tangan Brad.
“ Boleh kulihat foto yang tadi kamu tunjukkan pada polisi itu ? “ tanya Brad masih dengan senyumnya yang super keren.
Faily pun cepat – cepat mengeluarkan foto yang dimaksud dari dompetnya, dan menyerahkannya pada Brad.
Brad menatap foto yang berisi gambarnya bersama team tennis sekolahnya waktu akan berangkat ke pertandingan persahabatan dengan sekolah lain.
“ Ng.. kamu satu sekolah denganku, ya ? “ tanya Brad.
Faily menganggukkan kepalanya. Betapa sedihnya Faily, ternyata Brad nggak pernah tau kalau mereka satu sekolah.
“ Kamu juga ikut tennis ? “
Faily kembali menganggukkan kepalanya. Hati Faily serasa ditusuk – tusuk dengan jarum sulam super gede, gimana enggak, padahal, Faily kan ikut ekskul tennis demi bisa berang Brad, eh ternyata Brad malah nggak pernah ngelirik Faily sekalipun dan yang lebih parah lagi, Brad nggak pernah tau kalau Faily satu kelompok dengannya. Apa sebegitu jeleknyakah muka Faily sampe – sampe nggak bisa diinget ma Brad ?
“ Kenapa waktu foto ini aku tidak melihatmu, ya ? Aku kok tidak tahu, ya kalo di sekolah kita ada cewek sebaik kamu ? “
Brad mengembalikan fotonya dan kembali tersenyum.
“ Terima kasih “ ucap Brad.
“ Sama – sama “ kata Faily sambil menaruh kembali foto itu di dompetnya.
Saat menaruh foto, Faily tidak sengaja melihat isi dompetnya yang tinggal 500 rupiah itu.
“ Hah ? Tinggal gopek ? Gimana, nih ? Nanti pulang naek apa ? Aduh, padahal kan mesti naek mobil dua kali “ kata Faily yang tiba – tiba histeris sendirian.
“ Kenapa ? “ tanya Brad.
“ Ng….. ngggak, nggak da apa – apa “ kata Faily dengan muka merah padam yang langsung menyembunyikan dompetnya.
“ Tadi kulihat kamu turun dari angkot dan langsung menghampiriku. Ongkosmu tidak cukup, ya ? Berarti itu karena menolongku, jadi sebaiknya kamu kuantar pulang. Bagaimana ? “ tanya Brad sambil tersenyum.
Yah, apa boleh buat, suasana yang memaksa, walaupun hati juga mau, Faily pun menerima tawaran Brad, walaupun pertama pake acara nolak.
Brad pun mengambil mercinya yang diparkir tidak jauh dari tempat itu dan membawa Faily ikut serta di dalamnya.
Faily memberanikan diri bertanya kepada Brad.
“ Ng… tadi kenapa kamu bisa sampai dikira pedagang kaki lima ? “ tanya Faily yang masih sedikit takut.
“ Oh, tadi ? Tadi aku sedang menunggu temanku yang sedang ke kamar kecil, jadi aku duduk di kursi dekat tukang baso, tak disangka tiba – tiba polisi datang dan si tukang baso kabur, jadi aku dikira yang jualan “ jelas Brad.
Mendengar penjelasan Brad itu, spontan Faily langsung tertawa terbahak – bahak. Ia membayangkan bagaimana Brad dengan tampangnya yang keren itu dikira tukang baso. Polisi itu nggak bisa bedain orang keren ma tukang baso kali.
Brad pun ikut tertawa karena melihat Faily tertawa sampai sakit perut. Dan setelah selesai tertawa, Faily kembali bertanya.
“ Lalu sekarang temanmu itu ada di mana ? “ tanya Faily serius.
Belum sempat Brad menjawab pertanyaan Faily itu, ponsel Brad berbunyi.
“ Halo ? Iya, lu di mana ? Hah ? Pulang sendiri aja, ya ? Gua ? Sekarang lagi nganterin temen, udah, pulang sono ! “ kata Brad sambil menutup telepon genggamnya.
Faily menatap Brad dengan tatapan aneh.
“ Jangan – jangan kamu ninggalin temen kamu di sana, ya ? “ tanya Faily.
“ Nggak papa, kok ! Dia bisa pulang sendiri “ kata Brad sambil tersenyum, lesung pipitnya yang dalam itu membuat senyumnya makin manis.
Selama perjalanan, Brad dan Faily saling bercerita, ini pertama kalinya Faily tidak malu mengungkapkan semua yang ada dalam pikirannya.
Sesampainya di rumah.
“ Aduh, Ly, lu lama banget ? Mama udah laper, nih ! “ kata mama sambil ngerbut kantong yang dipegang Faily.
Setelah itu, mama menaruh gado – gado itu di piring dan mulai makan.
“ Eh, Ly, lu tadi dianterin siapa ? Pake merci lagi, ngegaet cowok mana lu ? “ tanya mama sambil cengengesan.
“ Cuma temen, kok, Ma “ jawab Faily.
“ Ala, boong aja lu ! “ kata mama sambil makan sesendok demi sesendok.
Malemnya, Faily nggak bisa berenti mikirin kejadian tadi siang, makanya malem itu juga Faily ngabisin pulsa 50000 buat sms – smsan ma Ferin. Abis Ferin nggak percayaan, sih, jadi mesti bales – balesan teru, deh sampe jem 10.
Paginya, Faily udah mempersiapkan semua kosakata yang dikuasainya untuk menjawab Ferin. Tapi Ferin tetep gak bisa percaya, katanya Faily cuma berhalusinasi, mimpi.
Faily cukup kesel dengan sikap tak percaya Ferin itu, tapi Ferin jadi nggak bisa ngomong apa – apa lagi waktu mujizat terjadi bagi Faily.
Mujizat itu nggak laen adalah waktu istirahat pertama, Brad dateng ke kelas Faily dan khusus buat nyari Faily.
“ Hi, Faily ! “ sapa Brad yang membuat semua cewek di kelas Faily iri.
“ Hi juga “ jawab Faily.
“ Ng.. malem ini kamu ada waktu nggak ? “ tanya Brad.
Seketika itu juga, muka Faily jadi mirip kepiting rebus, merah.
“ Ng… a..da “ jawab Faily gugup.
“ Gimana kalo malem ini kita makan malem bareng ? Kita cari tempat yang enak dan makan bareng, aku yang traktir, kok ! Ya, anggap saja untuk berterima kasih padamu karena telah menolongku kemarin “ kata Brad sambil melemparkan senyum manisnya ke muka Faily.
“ Ng… Ok, tapi kamu jemput aku, ya ? “ jawab Faily masih dengan muka kepiting rebusnya.
“ Ok, kalo gitu nanti malem aku jemput kamu jam 7 “ kata Brad .
“ Ok ! “ balas Faily.
Setelah itu Brad pun pergi dan Faily nggak percaya apa yang baru aja terjadi, rasanya Faily udah mo pingsan.
Pulang sekolah, kali ini tanpa disuruh, Faily cepet – cepet mandi dan buru – buru nyari baju yang bakal dipake nanti malem. Dan sambil ngepasin baju, Faily sms Ferin untuk nanya pendapatnya. Tapi jawaban Ferin.
“ Ati – ati, lu ma Brad, gua baru dapet informasi kalo dia itu playboy, katanya dia suka macem – macem, mang lu nggak curiga ? Masa baru kenal kemaren audah ngajak pegi ? Pokoknya lu ati – ati aja “.
Waktu yang ditunggu – tunggu pun tiba. Brad akhirnya dateng setelah Faily menunggu selama 2 jam lebih. Brad tepat waktu, loh, Faily aja yang kepagian dua jem dandannya.
Di mobil Brad.
“ Kita mau ke mana ? “ tanya Brad.
“ Terserah kamu aja “ jawab Faily.
“ Ok, kalo gitu kita ke Hotel Dirgantara aja “ kata Brad santai.
“ Ho – tel ? Katanya kita mo makan, kok ke hotel ? Aku nggak mau, aku mo pulang “ kata Faily seraya mencoba membuka pintu mobil.
Untung mobil Brad otomatis, jadi pintu mobilnya nggak langsung bisa terbuka, kalo enggak, Faily pasti udah jatoh.
“ Faily, tenang, kamu jangan salah paham, tenang dulu “ kata Brad sambil menenangkan Faily.
Faily yang gagal membuka pintu langsung teringat pesan Ferin.
“ Ternyata bener apa yang mereka bilang “ kata Faily hampir mo nangis.
“ Mereka ? Bilang apa ? “ tanya Brad bingung.
“ Mereka bilang kamu playboy, cowok nggak bener “ kata Faily mulai meneteskan air mata.
“ Bukan begitu, kamu salah paham. Aku mau mengajakmu ke hotel Dirgantara bukan untuk bermalam, tapi untuk makan baso, karena di sebelah hotel itu ada tukang baso yang enak banget basonya “ kata Brad sambil mengambil tissue dan menyerahkannya ke Faily.
“ Bener begitu ? “ tanya Faily sambil menghapus air matanya.
“ Ya, tentu ! “ jawab Brad pasti. “ Sudah, jangan nangis, masa begitu aja nangis ? Kan udah gede, malu, donk ! Tenang saja, semua yang dikatakan mereka itu tidak benar, kok ! Aku bukan playboy, apalagi cowok nggak bener, aku nggak bakal membahayakan kamu “.
Ternyata benar apa yang dikatakan Brad. Setelah sampai di hotel Dirgantara, memang ada tukang baso di sebelahnya. Dan setelah Faily mencobanya, emang enak banget.
Setelah makan baso, mereka pun kembali naik ke mobil.
“ Ng… maaf, ya, Brad, aku udah berpikir macam – macam tentang kamu “ kata Faily setengah malu.
“ Ah, nggak papa ! Justru kamu memang harus bersikap begitu dalam keadaan seperti itu. Aku nggak nyalain kamu, kok, asal mulai sekarang kamu mesti percaya padaku, ok ? “
“ Ok ! “ jawab Faily.
Brad dan Faily pun tersenyum.
Setelah itu, Brad pun mengantar Faily pulang dan sempet pamit pulang ma mamanya Faily.
Malem itu, Faily nggak bisa tidur, terus aja mikirin kejadian tadi dan saat – saat bersama Brad yang menyenangkan. Cuma sama Brad Faily bisa ngerasa deket dan bisa ngungkapin semua perasaannya.
Keesokkan harinya, saat pulang sekolah.
“ Hi ! “ sapa Brad sambil mendekati Faily.
“ Hi juga “ jawab Faily.
“ Kamu mau ekskul tennis, ya ? “ tanya Brad.
“ Iya, sekarang aku mo ganti baju dulu “ jawab Faily.
“ Aku tunggu di lapangan tennis, ya ? “ kata Brad.
“ Iya “ jawab Faily sambil berjalan meninggalkan Brad.
Tiba – tiba perut Faily terasa sakiiiit sekali. Sakit perutnya, bukan karena mo ngebom, juga bukan karena lagi dateng bulan, sakitnya beda, sakiiit banget.
Brad yang masih ngeliatin Faily terus jadi kaget dan buru – buru membawa Faily ke rumah sakit.
Setelah diperiksa, kata dokter tidak apa – apa, tapi Brad nggak percaya, kalihatannya dia khawatir banget, jadi Brad minta Faily dironsen. Setelah dikasih obat, sakit perut Faily hilang, kata dokter itu karena salah makan.
Setelah itu, Brad mengantar Faily pulang, dan keesokkan harinya mengambil hasil ronsen. Brad tidak pernah mengungkit – ngungkit hasil ronsen itu, jadi Faily juga nggak pernah nanyain.
Hari ini Brad ngajak Faily makan malem bareng lagi, tapi bukan sekedar makan bareng. Malem ini Brad menyewa seorang pemain piano untuk memainkan sebuah lagu untuk Faily.
Setelah itu, si Brad nembak Faily, tapi bukan pake senapan, pake kata – kata romantis, loh !
Faily hampir nggak bisa percaya. Dia nggak bisa langsung jawab begitu aja, makanya Faily minta waktu buat mikir dulu ma Brad.
Faily pun mulai curhat dan minta pendapat ma Ferin. Ferin yang tadinya berpikiran negative terhadap Brad, sekarang malah ngedukung banget Faily nerima Brad. Tapi Faily nggak mau, dengan alasan Brad Cuma nembak dia karena unsur terima kasih.
Faily nggak percaya kalo Brad bener – bener suka ma dia. Dia nggak cukup PD buat percaya hal itu.
Hari ini, Brad dateng terus ke kelas Faily. Dan kali ini dia ngajak Faily makan malem di rumahnya. Tadinya mo bareng orangtuanya Brad juga, tapi mereka ada keperluan mendadak, jadi nggak sempet.
Selesai makan malem, Brad ngajak Faily ngeliat – liat kamarnya.
“ Wah, kamarmu gede banget ! Rapih lagi, nggak kayak kamar anak cowok biasanya “ kata Faily ketika melihat kamar Brad yang baguuus banget.
Nggak lama kemudian, pembantu Brad dateng dan manggil Brad karena ada telepon. Nah, Faily jadi punya kesempatan, deh buat ngeliat – liat.
Waktu lagi ngeliat – liat, Faily nggak sengaja nemuin hasil ronsen di kamarnya Brad. Hasil ronsen itu menyatakan bahwa orang yang dironsen menerima kanker rahim.
Faily tersentak kaget, waktu dia sakit perut dulu, hasil ronsennya kan Brad yang ngambil, jangan – jangan ini dia hasilnya.
“ Gimana ? Udah selesai liat – liatnya ? “ tanya Brad yang nggak lama kemudian dateng.
Faily nggak menjawab, tapi setelah Faily membalikkan badannya menghadap Brad, Brad kaget sekali, karena Faily sudah bercucuran air mata.
“ Kenapa ? Apa yang terjadi ? “ tanya Brad khawatir.
“ Kamu tidak benar – benar suka padaku kan ? Kamu nembak aku Cuma karena kasian, kan ? “ kata Faily dengan air matanya yang hampir membanjiri kamar Brad.
“ Apa maksudmu ? Kamu dengar issue boong dari temanmu lagi ? “
“ Nggak, nggak ada issue boong. Ini apa ? “ tanya Faily sambil memperlihatkan hasil ronsen yang ditemukannya.
Brad mengambil hasil ronsen itu dan melihatnya.
“ Itu hasil ronsenku kan ? Aku menderita kanker rahim, jadi kamu kasian padaku, lalu kamu nembak aku, begitu ? “
Tetapi muka Brad yang tadinya serius, berubah menjadi ceria. Brad tertawa terbahak – bahak.
“ Kenapa ? Kok kamu malah tertawa ? “ tanya Faily sambil mengusap air matanya.
“ Ini, … ini kan hasil ronsen pasien mamaku. Ini tidak ada hubungannya denganmu, hasil ronsenmu sangat baik, tidak ada masalah, kamu cuma salah makan “ kata Brad setengah tertawa.
“ Ng… bener kamu nggak boong ? “ tanya Faily sambil menghapus semua air matanya.
“ Ya iya, lah ! Lagian kamu kan masih muda, umurmu baru 16 tahun, kamu kan belum pernah hamil, kemungkinan kamu kena kanker rahim sangat kecil “ kata Brad yang masih terus tertawa.
Seketika itu juga muka Faily yang udah merah karena nangis, jadi tambah merah karena malu.
“ Ja… di… itu bukan hasil ronsenku ? “
“ Sudah, jangan berpikir macam – macam ! Ini, hapus air matamu “ kata Brad sambil memberikan sapu tangan kepada Faily.
Faily pun mengusap air matanya dengan sapu tangan Brad.
“ Kau percaya tidak kalau aku benar – benar suka padamu ? “ tanya Brad yang tiba – tiba berubah jadi serius.
Faily hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa.
“ Sekarang juga aku katakan padamu, aku benar – benar suka padamu, bukan karena kasian atau karena unsur lainnya. Kalaupun aku nembak kamu, itu karena semua yang ada dalam dirimu, semua itu membuat aku suka padamu, jadi percayalah padaku. Bolehkan kamu mencoba menerimaku jadi pacarmu ? Aku janji, aku akan selalu memperlakukanmu dengan baik, akan selalu berada di sampingmu, mendukungmu dan melindungimu “ kata Brad dengan muka seriusnya yang ganteng.
Faily terharu banget ngedenger semua kata – kata Brad itu, dan karena kata – kata itu juga, akhirnya Faily menerima Brad jadi pacarnya.
TAMAT
CREATED BY : LUSIANA
Views: 105
Posting: 25-Feb-2008 18:50:00 WIB
Comments: 0
comments
Category: