Midori no Nikki pindahan dari yg di bloggaul

Blog Archive: October 2008
Oct
13
2008
Hari ini tdnya gue berencana untuk puasa bayar

sialnya gue bangun jam 4

gue pikir, "ah masih ada setengah jam lagi"

jadi gue masak mie aja (padahal bisa aja gue makan roti biar cepet)

pas gue lagi makan mie tiba2 berkumandanglah "Allahu Akbar... Allahu Akbar...."


ternyata subuh jam setengah 5 kurang

dan jam gue telat

karena leher gue seret, jdnya gue minum aja

dan gak jadi puasa

*hiks hiks hiks....

manusia berencana, Tuhanlah yang menentukan
Views: 287
Posting: 13-Oct-2008 12:05:00 WIB
Comments: 3 comments
Category:
Oct
11
2008
akhir2 ini gue jadi kepengaruh sama novelnya Tom Wolfe, The Electric Kool-Aid Acid Test. Novel ini novel wajib gue buat bikin makalah sastra kota. Novel ini adalah novel kebangkitan new journalism yang menceritakan tentang kehidupan Ken Kesey yang mengusung gerakan Psychedelic di tahun 1960-an.

Intinya, melalui novel ini gue jadi tahu alasan2 para hippies... mengapa mereka menghisap LSD, mengapa mereka pakaian bunga2, kenapa mereka suka alam, kenapa mereka suka hal2 dari Timur dan mengapa mereka anti sama yang namanya kemapanan.

Menurut orang2 Hippies ini, peradaban manusia yg mapan dan modern hanya memenuhi kebutuhan fisik manusia saja, tapi tidak kebutuhan jiwanya. Orang2 tahun 50-an dan 60-an di Amrik memang mencapai kemapanan fisik yg tinggi, tp buktinya rasialisme masih marak (terutama dengan hadirnya KKK) dan Perang Vietnam yg mengerikan pun terjadi. Kemapanan fisik ternyata merusak kemapanan jiwa masyarakat.

Karena itulah, Kesey dan kawan2 menciptakan gerakan Psychedelic, mencari agama2 baru yg populer di Asia, mempelajari astrologi2 jaman dulu, budaya Indian, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan alam. Bahkan mereka ingin kembali ke masa primitif dengan melakukan hal2 yang "irasional" saat memakai LSD (salah satunya seks bebas, dan inilah yang mengakibatkan fenomena seks bebas jd marak di Amrik). Mereka pikir, kalo orang2 yang "mengaku" beradab dan modern saja bisa bersikap kejam layaknya binatang pada saat perang Vietnam, mengapa tidak sekalian saja kembali ke jaman primitif di mana orang2 tidak pakai baju, berhubugan seks dengan siapa saja, dan melakukan apa saja yang mereka mau.

Sebenarnya, ada beberapa hal yang gue setujui dari pandangan Hippies ini. Memang, kehidupan modern kebanyakan hanya memenuhi kemapanan fisik saja dibandingkan dengan kemapanan jiwa. Tapi entah kenapa, deep down my heart, i feel that this idea is wrong. tp tetap aja gue gak bisa ngejelasin "why the idea is wrong."

Nah, Selasa lalu, waktu di kelas Sastra Anak, gue disuruh menganalisis sebuah cerita anak karya penulis Jepang (gue lupa namanya). Cerita anak itu judulnya Baba baba-san's Busy Night. Ceritanya simple. Hanya tentang seorang nenek nyentrik yang ingin melihat bintang di malam hari. Jadi, ia memutuskan untuk keluar dari rumahnya yg nyaman untuk memandang bintang halaman rumahnya. Namun, setelah ia pikir2 lagi, ia tetap membutuhkan selimutnya supaya tidak kedinginan, kompornya kalau2 ia lapar, dan segala perlatan2 rumah tangganya.

Akhirnya, si nenek malah mengambil semua perabotan dari rumahnya ke halaman rumah dan ia tertidur di tempat tidurnya dan lupa untuk melihat bintang malam itu.

Kata dosen gue, moral dari cerita itu adalah... meskipun seseorang sangat ingin kembali pada kehidupan alami (seperti para Hippies yg ingin kembali ke alam), mereka tetap membutuhkan civilization (peradaban).

Dan cerita anak tersebut membuat gue takjub. Benar juga, bagaimanapun juga kita tidak bisa kembali ke masa primitif. Kita membutuhkan peradaban modern, meskipun terkadang kita membencinya.

Jadi, sebenarnya Modern Life IS NOT Rubbish. It DOES s**k sometimes... but we can't deny that it is useful for our lives. Kalaupun seandainya, ada beberapa bagian dari peradaban tersebut yang tidak baik bagi kita, solusinya bukanlah kembali ke masa lalu dan menjadi primitif. Solusinya adalah mencari jalan keluar untuk membuat peradaban baru yang lebih baik. Sama seperti hidup, kadang kita ingin kembali ke masa2 indah di masa lalu... tp kalo dipikir2 lagi, "gila, kita udah berjalan sampai di sini. masa kita mau menyerah begitu aja dan balik ke masa lalu? Dan apakah kita bisa kembali ke masa lalu? We have to move on, no matter how hard it is to move on."

Jadi, si penulis cerita anak2 asal Jepang ini lebih menangkap konsep postmodernism. Postmodernism bukanlah bersikap anti terhadap kehidupan modern, tetapi mengkritisi bagian buruk dari kehidupan modern, tp tetap menerima modernitas yang tak dapat terelakkan sambil berharap akan ada sesuatu yang lebih baik setelah tahap modernism (that's why it is called postmodernism).

Tom Wolfe dan Ken Kesey, yang notabene orang barat, tempat postmodernism berasal, justru kurang mendapat esensi dari postmodernism itu sendiri.

Dan hal inilah yang membuat gue salut dari orang Jepang. Mereka bisa mendapatkan intisari dengan lebih cepat dan menyampaikannya dalam bentuk yang lebih sederhana (bayangkan, si orang Jepang ini mengusung nilai2 yg begitu filosofis hanya dalam sebuah cerita anak. Sementara Tom Wolfe masih agak meleset dalam mengusung unsur filosofis dalam sebuah novel tebal).

Orang Jepang memang selangkah lebih maju daripada orang Barat.
Bravo .....

Views: 191
Posting: 11-Oct-2008 14:24:00 WIB
Comments: 4 comments
Category:
Oct
04
2008
I Don't Want to Popularize My Writing
By: Rima Muryantina


Mr. A said...

You're young, but your style is too conservative. You should try to write like a youngster.

Mrs.B said....

When you write, you just can't express everything that you feel. You have to satisfy your reader."


Mr. C said...
You have to get away from conservative themes...Get humorous!

Ms. D said...
You have to put teenage romances on your writing...


Mr. E added...
Or maybe some sex issues will do...


I said, "Piss off... I don't want to popularize my writing"
Views: 158
Posting: 4-Oct-2008 15:10:00 WIB
Comments: 2 comments
Category:
Oct
02
2008
pas malam takbiran kemaren, gue sempet kesel bgt
soalnya ada orang ngirim hadiah ultah buat nyokap gue (telat sehari) tp tuh orang nyoloooottt abisss... ngomongnya kasar, gak sopan, terus omongan2 dia hanya terdiri atas frase2 tak berhubungan yg gak jelas SPO-nya (cuma dalam bentuk keterangan aja)...

"Ini tadi di sini kan"
"nomor telepon sini"
"ini siapa?" (kenapa jd dia yang nanya gue siapa? jelas2 dia yg bertamu)

*ngomoong apaaa?

ternyata setelah ditanyakan ke teman nyokap gue yg ngasih hadiah itu... ternyata orang yg ngirim hadiah itu adalah seorang mantan marinir suruhan temannya nyokap gue itu... dulu dia marinir. sekarang kerja sama temennya nyokap gue...

awalnya gue sempet bete bgt sih sama tuh orang
tp mengingat pelajaran sosiolinguistik, gue jd berpikir, mungkin aja kemampuan bahasa dia yang super menyebalkan itu disebabkan oleh faktor2 sosial yang melatarbelakangi
setelah gue pikir2, kalo dia emang marinir, pasti waktu dilatih dulu selalu dibentak2 dengan kasar sama atasannya. semua perintah yg diberikan atasan juga disampaikan dalam bentuk frase2 saja (kan tentara2 itu cuma bisa bilang, siap! laksanakan! gt2...)
jd wajarlah kalo dia kesulitan menyalurkan pesan yg ingin dia sampaikan dalam bentuk kalimat sempurna.

*mohon maaf lahir batin ya pak marinir kalo saya sempat ngejutekin bapak (habis bapak nyolot sih)

fiuuuhh.... aku, sebagai seorang calon linguis (amin) harus lebih banyak melihat kemampuan berbahasa seseorang secara objektif... tp kok kadang2 susah ya... kadang2 ngedenger orang omongannya udah gak beradab dikit, gue udah bt bgt... bawaan gue jd pengen ngeluarin kata2 gak beradab juga...
meskipun biasanya gue tahan2in sih
Views: 150
Posting: 2-Oct-2008 09:49:00 WIB
Comments: 1 comments
Category:
 1 2 >