Midori no Nikki pindahan dari yg di bloggaul

Blog Archive: April 2011
Apr
24
2011

Kalau yang ini cerpen yang pernah diterbitin di majalah Mini Eksprisi, FIB UI, tahun 2008.

Catatan Harian Beruang Kutub

Salam Kutub, Saudara-saudara.

Pernahkah Anda merasakan tinggal di suatu tempat sepi dan luas milik Anda sendiri? Tempat di mana segala keperluan Anda disediakan oleh Yang Maha Menyediakan segala sesuatu tanpa Anda perlu menghabiskan waktu Anda untuk berurusan dengan orang lain? Anda tidak perlu dikejar-kejar waktu oleh rutinitas sehari-hari. Anda tidur dan bangun sesuai insting Anda. Anda mendapat makanan yang bisa Anda tangkap dengan tangan sendiri. Jadi, Anda tidak merasa repot untuk mendapatkannya tapi juga tidak merasa merepotkan Tuhan atau orang tua atau siapapun karena toh untuk mendapatkan rezeki tersebut Anda menggunakan tangan Anda sendiri. Anda tinggal di tempat indah yang terpampang luas yang hanya diselimuti oleh warna putih saja tapi sejauh mana pun Anda melangkah, Anda akan selalu menemukan jalan pulang, karena insting Anda akan membimbing Anda kembali ke rumah.

            Itulah yang saya rasakan sekarang. Saya adalah beruang kutub yang sangat mensyukuri kehidupan saya. Kehidupan indah seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Hidup di tempat luas nan indah milik sendiri. Hanya bergaul dengan makhluk-makhluk yang serupa dengan diri saya, sesama beruang kutub. Kalaupun harus berhubungan dengan makhluk lain, paling-paling saya harus berhubungan dengan binatang-binatang yang saya buru, yang akhirnya akan berakhir di perut saya. Tak ada sakit hati antara saya dan makhluk-makhluk yang saya buru, karena memang mereka tercipta untuk saya dan saya merupakan salah satu alasan mengapa mereka diciptakan.

Saya pun tidak repot untuk mencari jodoh dan meneruskan keturunan. Saya tidak memerlukan kisah cinta seperti Romeo dan Juliet untuk bertemu dengan pasangan saya, karena toh sesama beruang kutub memang harus saling mencintai. Saya tidak perlu mematok standard untuk mencari beruang wanita tercantik karena semua burung kutub sama di mata Tuhan. Berapa banyak anak yang saya hasilkan pun tidak menjadi masalah finansial karena pada akhirnya semua anak-anak beruang kutub bisa mendapatkan makanan atas hasil jerih payah mereka sendiri.

Hidup yang begitu damai telah saya rasakan seumur hidup saya sebagai beruang kutub. Tenang, damai, itu-itu saja. Ya, itu-itu saja. Bukan suatu hal yang buruk menjalani kehidupan dalam situasi yang itu-itu saja karena kita tidak akan tersesat karena kita telah terbiasa melakukan hal yang benar sesuai fitrahnya. Sungguh saya merasa sangat beruntung karena saya tidak seperti makhluk paling berpengaruh yang sering disebut-sebut oleh ikan paus kenalan saya yang pernah menolong saya waktu kecil ketika sebuah bongkahan es mencair dan nyaris membuat saya tenggelam. Teman saya itu menyebut makhluk paling berpengaruh itu sebagai manusia (maaf-maaf saja jika Anda, yang membaca catatan harian saya ini adalah manusia. No offense, loh).

Saya dengar dari ikan paus yang menolong saya itu, manusia adalah makhluk yang menjalani kehidupan dengan rumit. Konon katanya mereka suka menangkap makhluk-makhluk lain non-manusia dengan berbagai alasan. Tadinya saya berkata pada si ikan paus, “Wajar saja bukan, kalau manusia menangkap kita? Kita juga menangkap makhluk lain untuk mendapat makanan, bukan?”

Tapi ikan paus sahabat saya itu langsung memberi argumen lain. Katanya, kadang manusia itu menangkap makhluk non-manusia untuk tujuan lain. Misalnya, si ikan paus tua yang sudah lama menjelajah dunia melalui samudera ini mengatakan bahwa ia pernah menyaksikan manusia mengambil bulu-bulu harimau Siberia atau serigala-serigala

Alaska

untuk dijadikan apa yang mereka sebut sebagai pakaian. Manusia tidak memiliki kemampuan adaptasi mandiri seperti makhluk lain. Mereka tinggal di berbagai tempat, dari mulai tempat dingin hingga tempat panas, sehingga mereka harus menyesuaikan pakaian mereka dengan iklim tempat mereka tinggal. Untuk beradaptasi itulah, mereka harus membunuh makhluk hidup lain. Tentu saja saya tidak menyalahkan manusia untuk itu, sebab itu memang sudah fitrah mereka..

Tapi ada hal lain yang menyebabkan manusia jadi lebih rumit di mata saya. Berdasarkan penjelasan ikan paus tua sahabat saya, beberapa manusia memburu beberapa binatang sebagai pakaian untuk membuat wanita-wanita yang mereka cintai menjadi terlihat lebih cantik supaya mereka tambah mencintai wanita-wanita mereka. Tentu saja ini adalah hal yang tidak bisa diterima oleh saya sebagai beruang kutub karena bagi beruang kutub, semua beruang kutub patut dicintai dan semua beruang kutub betina sudah cantik dari sananya tanpa embelan apa-apa. Tapi sekali lagi, saya tidak bisa menyalahkan manusia, karena mungkin saja itu sudah fitrah mereka.

Mereka juga tidak lagi mencari makanan seperti dahulu. Belakangan ini, manusia suka mencari apa yang mereka sebut sebagai uang. Ikan paus tua pernah melihat beberapa bangunan yang disebut para manusia sebagai “pabrik” (entah apa itu, demi Tuhan, saya tidak tahu) dengan gempulan benda gas hitam dan cairan yang tidak terlalu bersih mengalir dari dalam bangunan itu. Jika Anda mendekati apa yang disebut pabrik itu, tubuh Anda sekejap akan terasa begitu panas. Setidaknya, itulah yang dikatakan oleh ikan paus tua sahabat saya. Ikan paus tua juga bercerita bahwa ia pernah mendengar pembicaraan dari manusia-manusia di sekitar bangunan itu.

“Kau pikir kenapa kita repot-repot ada di tempat terpencil seperti ini!? Karena uang! Untuk mendapatkan uang itu, kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja! Persetan apa kata para enviromentalis! Mereka semua munafik! Kerja untuk uang! Camkan saja itu!”

Begitulah kira-kira bait yang sempat didengar oleh ikan paus sahabat saya itu. Tentu saja, sekali lagi saya tidak bisa menyalahkan manusia. Bisa saja mereka membutuhkan uang seperti mereka membutuhkan makanan, jadi mereka harus mendirikan bangunan-bangunan aneh di hampir setiap sudut di dunia ini. Dan bangunan-bangunan itu adalah tempat untuk berusaha mencari uang. Dan bangunan itu, setidaknya  saya pikir tidak terlalu mengganggu. Hanya terlihat jelek dan terasa panas. Saya rasa tidak akan ada hal merugikan yang bisa diperbuat oleh sebuah bangunan jelek panas yang tidak bisa bergerak. Setidaknya, bangunan-bangunan itu tidak akan memakan kami, para beruang kutub..

Sepertinya akan saya hentikan dulu catatan saya hari ini. Sudah saatnya saya hibernasi. Saya akan kembali setelah saya selesai hibernasi. Jangan ke mana-mana.

 

*******

Salam Kutub, Saudara-saudara.

Sudah cukup lama setelah saya hibernasi. Nampaknya saya telah berhibernasi terlalu lama sehingga saya sudah tidak mengenali lagi lingkungan sekitar. Hamparan putih luas yang terlalu luas yang bisa saja menyesatkan saya ketika saya masih seekor beruang kutub kecil kini tidak terlalu luas lagi di mata saya. Tidak beberapa jauh dari sisi saya, saya sudah dapat melihat air. Air mengelilingi hamparan putih tempat saya berpijak. Saya berjalan memperhatikan sekeliling. Tidak ada beruang kutub lain. Tidak ada penguin, anjing laut, atau bahkan ikan paus sahabat saya yang biasanya selalu saya temui setiap kali saya mendekati daerah perairan.

Saya melangkah hingga ujung hamparan putih yang berbatasan dengan perairan. Saya berusaha mencari makhluk lain, tapi tidak saya lihat apapun. Apa ada migrasi besar-besaran dan saya ketinggalan berita? Apa saya tidur terlalu lama sehingga tidak tahu apa yang terjadi? Saya masih bingung, namun tidak panik. Karena saya yakin, apapun yang terjadi, Tuhan memberikan saya insting untuk menyelesaikan masalah apapun yang saya hadapi. Tiba-tiba saja di tengah kegalauan saya itu, saya melihat hamparan putih terujung pun mulai berubah menjadi air dan menyatu dengan perairan. Mungkin itulah sebabnya hamparan putih tempat saya tinggal menjadi mengecil. Karena hamparan putih itu mencair, saya pikir.

Sungguh saat itu saya merasakan sedikit kengerian dalam hati saya. Saya pun kembali ke tempat saya mula-mula tidur. Mengambil catatan saya dan menulis apa yang saya alami, seperti biasa. Ya, seperti sekarang ini. Berharap akan ada makhluk lain yang akan segera datang, membaca catatan saya yang biasanya saya konsumsi sendiri. Karena baru pertama kali ini saya merasakan kesendirian sebagai sesuatu yang tidak nyaman. 

******

Diterjemahkan ke bahasa manusia oleh Rima Muryantina

di Jakarta, 20 Januari 2008, Pukul 01.00 WIB

Views: 420
Posting: 24-Apr-2011 19:31:13 WIB
Comments: 0 comments
Category: Cerpen
Apr
24
2011

Lagi pengen ngepost cerpen2 lama. Ini cerpenku yang jadi 10 besar cerpen terbaik Erlangga Short Story Competition 2010. Sayang nggak jadi dibukukan karena kyknya ada masalah dana.
Kaya dan Negeri Pelangi
Oleh: Rima Muryantina

Pada zaman yang tidak terlalu dahulu kala, di sebuah kota, tinggallah seorang anak perempuan bernama Kaya. Kaya tinggal di sebuah rumah besar bersama ibunya. Setiap hari, ibunya menyuruh Kaya untuk pergi ke sekolah. Kaya tidak suka sekolah. Ia selalu dijahili oleh anak-anak lain di sekolah. Setiap hari, anak-anak mengejeknya, Berkali-kali Kaya meminta mereka untuk diam, tetapi mereka tidak mau diam dan terus mengejek Kaya.

Suatu hari, ketika hari sedang hujan, Kaya sudah sangat kesal dengan anak-anak di sekolahnya. Ia tidak ingin sekolah. “Aku tidak ingin sekolah, Ma,” begitu kata Kaya pada ibunya. “Tapi kamu harus sekolah. Kamu harus belajar di sekolah supaya pintar,” ujar ibunya.

Kemudian ibunya juga menasihati Kaya agar mau bergaul dengan anak-anak lain di sekolah. “Aku tidak mau bergaul dengan mereka. Mereka hanya mau menghinaku,” seru Kaya dengan kesal. Ibunya berkata, “Kamu belum mencoba. Kamu harus berusaha untuk bisa berteman dengan mereka.”

Kaya yang kesal akhirnya berangkat ke sekolah sambil membanting pintu. Ia berjalan di tengah hujan tanpa membawa payung. “Semua orang tidak pernah mendengarkan aku dan berbicara sesuka mereka! Aku ingin pergi ke dunia tempat orang-orang tidak bisa berbicara!” seru Kaya sambil berteriak ke langit.

Saat itu, tiba-tiba Kaya mendengar suara dari belakangnya. “Keinginanmu bisa kukabulkan,” ujar suara itu. Kaya menengok ke belakang dan melihat seorang pria tinggi yang berpakaian serba hijau. Pria tinggi itu mengenakan topi hijau, kemeja hijau, jas hijau, celana panjang hijau, dan sepatu hijau. Ia juga membawa sebuah payung berwarna hijau.

“Keinginanmu akan kukabulkan, Kaya. Tapi kau harus bersedia memakai payungku ini,” ujar pria berpakaian hijau tersebut.
“Kamu siapa? Kenapa tahu namaku?” tanya Kaya pada pria berpakaian hijau itu.
“Aku Tuan Payung dari Negeri Pelangi. Aku mengabulkan keinginan anak-anak yang sedang bersedih. Tapi dengan satu syarat, anak yang bersedih itu harus bersedia mengenakan payungku,” ujar Tuan Payung dari Negeri Pelangi.
Kaya sebenarnya tidak terlalu percaya dengan kata-kata Tuan Payung dari Negeri Pelangi. Akan tetapi, ia tetap menerima payung tersebut dari Tuan Payung. Kaya pikir, “Mungkin orang ini hanya orang baik yang ingin meminjamkan payung padaku supaya aku tidak kehujanan.”

Ketika Kaya memegang payung tersebut, tiba-tiba Kaya terbang dengan payung hijau itu ke atas langit. Kaya terbang melewati awan. Hujan perlahan berhenti dan langit pun mulai terlihat cerah. Kaya melihat ada pelangi muncul di tengah-tengah awan. Di sana, ada anak-anak kecil yang bersayap sedang bermain-main. Mereka berseluncur di atas pelangi. Mereka memainkan awan seolah-olah awan-awan itu adalah gulali. Anak-anak itu kemudian membentuk sebuah tulisan dengan awan-awan tersebut. Tulisan itu menunjukkan pesan: “Selamat Datang di Negeri Pelangi”

Kaya yang masih melayang dengan payung hijaunya, kemudian mendekat ke arah anak-anak bersayap itu. Anak-anak bersayap itu mengajaknya bermain tanpa berbicara apa-apa. Mereka hanya bisa tertawa dan bersuka cita. Mereka tidak mengeluarkan kata-kata yang menyakiti Kaya. Semua sesuai dengan harapan Kaya. Kaya bahkan tidak perlu memperkenalkan diri pada mereka, mereka sudah langsung menerima Kaya sebagai bagian dari Negeri Pelangi. Kaya memang tidak kehilangan suaranya, tapi ia tidak perlu mengeluarkan suaranya karena tidak ada yang menuntutnya untuk bersuara. Kaya hanya diajak tertawa dan bersenandung bersama mereka.

Sejak saat itu, Kaya tinggal di Negeri Pelangi dan tiap hari bermain bersama anak-anak bersayap. Mereka berseluncur di atas pelangi, memakan gulali awan, menangkap bintang-bintang di saat malam, tidur di atas Nyonya Bulan, mendengarkan senandung burung yang berterbangan, dan menonton pertunjukan pantomim yang dilakukan oleh Tuan Matahari. Tidak ada yang bertengkar karena tidak ada yang berbicara. Sehari-harinya, mereka hanya tertawa dan bersenandung bersama.

Pada suatu malam, ada sebuah bintang jatuh. Anak-anak Negeri Pelangi berusaha mengejar bintang jatuh tersebut. Mereka berlomba-lomba untuk menangkapnya. Biasanya, setiap malam, anak-anak bersayap akan mengejar dan menangkap bintang tanpa harus bertengkar karena jumlah bintang di malam hari tak terhitung banyaknya. Mereka tidak pernah kekurangan bintang. Akan tetapi, kali ini mereka bertengkar memperebutkan bintang jatuh karena jumlah bintang jatuh hanya ada satu. Anak-anak bersayap yang tadinya hidup damai kini jadi saling memukul dan menjambak. Mereka menarik-narik bintang jatuh sambil saling membentak.

Kaya berusaha mendiamkan dan melerai teman-temannya. Namun, anak-anak bersayap tidak mendengarkan. Karena semua anak berteriak, secara bersahut-sahutan, kata-kata Kaya tidak lagi didengarkan. Akhirnya Kaya pun mengumpulkan gumpalan-gumpalan awan dan membuat tulisan di dekat pelangi. Kaya menulis “MAAF” dengan huruf yang sangat besar.

Nyonya Bulan memantulkan cahaya dari Tuan Matahari untuk membantu Kaya menerangi tulisan dari gumpalan awan tersebut. Karena cahaya yang dipantulkan Nyonya Bulan cukup terang, akhirnya anak-anak bersayap memperhatikan tulisan tersebut. “Kalian harus saling meminta “Maaf,” ujar Kaya pada anak-anak bersayap. “Ayo kalian bilang “maaf” satu sama lain,” pinta Kaya pada teman-temannya.

Setelah mendengar anjuran Kaya, anak-anak bersayap saling mengucapkan “maaf.” Setelah mengucapkan kata itu, mereka tidak lagi merasa kesal satu sama lain. Mereka menangis dan menyesal sudah bertengkar hanya karena ingin memperebutkan bintang jatuh. Meskipun begitu, mereka masih bingung harus melakukan apa pada bintang jatuh tersebut. Saat itulah, Tuan Payung yang berpakaian serba hijau tiba-tiba datang dan menawarkan bantuan pada Kaya. “Kaya, karena kamu sudah mendamaikan anak-anak bersayap dan mengajari mereka kata “maaf,” kamu boleh mendapatkan bintang jatuh itu dan menggunakannya sesukamu,” ujar Tuan Payung.

Anak-anak bersayap setuju. Mereka menyerahkan bintang jatuh itu pada Kaya. Ketika memegang bintang jatuh itu, Kaya teringat akan ibunya yang sudah ia tinggalkan sejak lama. Ia ingat sempat marah dan membanting pintu di depan ibunya. Kaya ingat bahwa ia sendiri belum meminta “maaf” pada ibunya. “Aku ingin bintang jatuh ini membawaku pulang ke bumi.”
Awalnya anak-anak bersayap bersedih mendengar Kaya akan pulang ke bumi. “Aku senang berteman dengan kalian, tapi rumahku di bumi. Aku harus kembali ke bumi,” ujar Kaya. Setelah mengucapkan perpisahan dan bermain dengan anak-anak bersayap untuk terakhir kalinya, Kaya diantarkan Tuan Payung kembali ke bumi dengan mengendarai bintang jatuh.

Kaya kemudian sampai di jalan tempat dia pertama kali bertemu Tuan Payung. Tuan Payung kemudian pergi kembali ke Negeri Pelangi bersama bintang jatuh. “Terima kasih Tuan Payung! Sampai jumpa,” kata Kaya sambil melambaikan tangan.
Di jalan itu, hujan tidak lagi turun. Kaya tidak lagi kebasahan. Ia berlari kembali menuju rumahnya. Kaya memanggil ibunya. “Mama, aku sudah pergi terlalu lama, ya?” tanya Kaya. “Kamu baru pergi tadi, Kaya. Dan kamu lupa bawa payungmu,” kata ibunya sambil menyerahkan sebuah payung hijau pada Kaya.
“Maafkan aku, Mama,” ujar Kaya sambil memeluk ibunya. “Aku akan pergi ke sekolah sesuai dengan perintah Mama. Dan aku tidak perlu payung hijau ini lagi, Ma. Hujan sudah berhenti,” kata Kaya sambil tersenyum.

Sejak saat itu, Kaya kembali menjalani hidup bersama ibunya, meski tidak selalu bahagia

Views: 378
Posting: 24-Apr-2011 19:29:28 WIB
Comments: 0 comments
Category: Cerpen
Apr
24
2011

"Oh My Enemy, and Wife of My Enemy, and Mother of My Enemy. It is I: for you have spoken three words in my praise, and now I can drink the warm white milk three times a day for always and always and always. But still, I'm the cat who walks by himself, and all places are alike to me."

The Cat That Walked by Himself

(From "Just So Stories" by Rudyard Kipling)

 

Aku punya beberapa teman pecinta anjing dan mereka selalu mempertanyakan kenapa aku lebih suka kucing daripada anjing. Mereka terus berkutat pada alasan anjing adalah teman sejati manusia, tidak seperti kucing yang hanya peduli pada manusia kalau mereka ingin makan. Salah satu temanku di Australia ada yang sangat suka dengan anjing. Dia terkejut waktu kubilang aku punya 6 ekor kucing di rumah dan 2 ekor mati. Dia bilang, "You only need one dog, and he'll be your friend forever. But cats.... Six cats? They don't really care about you." Tapi meskipun aku tahu perkatan temanku itu ada benarnya, aku tetap lebih suka kucing daripada anjing.

Bukan berarti aku tidak suka anjing. Aku bersikap "netral" pada para anjing dan menganggap mereka sama dengan burung, ikan, atau binatang-binatang lain. Justru anjing yang tidak terlalu suka padaku. Di Canberra banyak sekali anjing dan mereka selalu menggonggongiku entah kenapa. Tapi sekali lagi, aku bukan pembenci anjing. Hanya saja kalau disuruh memelihara binatang, rasanya aku hanya akan memilih kucing dan kucing saja. Aku juga suka binatang peliharaan lain. Banyak yang jauh lebih lucu daripada kucing (misal: kelinci, landak, hamster). Tapi tetap saja kalau aku bisa memelihara binatang, aku hanya ingin memelihara kucing saja. Alasan yang jelas pastinya karena praktis (gampang kasih makan dan merawatnya dibanding beberapa binatang lain) dan tidak ada rintangan dalam agama dalam memeliharanya (dalam Islam, boleh memelihara anjing, tapi ludahnya itu najis. Jadi kalo kena ludahnya, harus cuci pake air tanah 7 kali dulu bisa solat). Tapi selain itu, aku merasa ada konektivitas tersendiri dengan makhluk yang namanya kucing.

Dan hari ini, aku membaca cerpen karya Rudyard Kipling yang judulnya "The Cat That Walked by Himself." Dan aku semakin paham mengapa aku suka kucing berkat cerita ini. Jadi ceritanya begini (buat yang nggak suka spoiler mending ga usah lanjut baca): Zaman dahulu semua binatang itu liar, tidak ada yang jinak. Suatu hari seorang manusia (perempuan) ingin menjinakkan beberapa binatang untuk membantunya dan keluarganya menjalani kehidupan sehari2. Hewan yg datang pertama padanya adalah anjing. Karena diberikan makanan, anjing menjadi jinak. Anjing yang semula memanggil manusia sebagai "My Enemy" (seperti semua binatang lain memanggil manusia saat itu) akhirnya memanggil manusia "My Friend." Sejak saat itu anjing setia menemani majikan manusianya berburu. Hewan kedua yang datang adalah kuda. Iya diberi makan rumput dan akhirnya jinak juga. Tadinya ia memanggil manusia dengan "My Enemy" akhirnya ia memanggil manusia dengan "My Master." Sejak saat itu kuda digunakan sebagai alat transportasi manusia. Kemudian hewan ketiga adalah sapi. Nasibnya sama seperti anjing dan kuda. Sejak saat itu ia membantu memberikan susu untuk manusia.

Tapi kucing berbeda. Dia juga ingin mendapat makanan dan tempat tinggal seperti ketiga hewan itu. Tapi dia tidak mau menjanjikan apa-apa pada manusia. Dia tidak mau terikat menjadi teman, pelayan, atau pemberi kehidupan bagi manusia. Ia ingin tetap hidup bebas seperti dirinya sebelumnya. Bagi si kucing, ia adalah hewan yang berjalan di atas kakinya sendiri, dan melewati semua tempat seorang diri. Baginya semua tempat sama saja, jadi dia tidak pernah menetap untuk setia di suatu tempat. Termasuk untuk tinggal bersama manusia. Awalnya manusia pun tidak berniat memelihara hewan seperti itu. Tapi karena kecerdikan si kucing, akhirnya ia dapat menawarkan jasa yang tidak bisa ditolak manusia tersebut: "menawarkan kelembutan dan teman bermain untuk anak dari manusia itu dan menangkap tikus yang berkeliaran di rumah dengan gesit." Sejak saat itu kucing pun dipelihara manusia, tapi ia tetap tidak menjanjikan "kesetiaan" apa-apa.

Rudyard Kipling benar-benar berhasil menggambarkan sifat kucing dengan baik dalam cerita ini. Dan dari cerita ini saya sadar mengapa saya suka kucing:

1. Karena meskipun individualis dan tidak setia, kucing ini sangat mandiri. Ia tidak mau terikat dan berjanji pada apapun. Ia punya integritas atas dirinya sendiri.

2. Kucing ini tidak mudah berubah pendirian seperti binatang lain yang mudah dijinakkan. Meskipun ia tidak bisa memungkiri bahwa ia butuh bantuan manusia untuk hidup, ia tidak lantas mengubah kata "My Enemy" menjadi "My Friend" atau "My Master." Ia tahu seberapa butuhnya ia pada manusia, ia tidak dapat percaya seratus persen terhadap manusia begitu pula sebaliknya. Karena pada dasarnya, sesuai hukum alam, kadang dan entah kapan saja, suatu makhluk bisa menjadi musuh bagi makhluk lain.

3. Alasan yang paling masuk akal dari semua alasan adalah... karena sifatku itu mirip kucing (pantesan sering digongongin anjing. LOL).

Views: 717
Posting: 24-Apr-2011 18:15:17 WIB
Comments: 0 comments
Category: Kucing, Kehidupan Sehari2, Cerpen, Rudyard Kipling
Apr
15
2011

16 April

Oleh: Rima Muryantina

Pada suatu waktu di masa depan nanti akan tiba suatu masa di mana semua makhluk hidup berkelompok-kelompok dan menutup diri dari kelompok yang berbeda dengan kelompoknya . Orang-orang kaya akan bergaul dengan orang-orang kaya saja. Orang-orang miskin hanya menyapa orang-orang miskin saja. Orang yang berpenampilan cantik dan tampan tidak akan saling tegur dengan yang berpenampilan jelek. Orang yang tergila-gila dengan ilmu pengetahuan tidak bertukar pikiran dengan yang malas menuntut ilmu. Orang yang suka olahraga tidak berkelompok dengan para seniman. Tentu saja, manusia tidak mungkin dibedakan semudah itu. Jadi tentunya masih ada kesempatan bagi kelompok yang berbeda untuk berkomunikasi dengan kelompok lain. Tapi setiap orang yang ingin menjalin keakraban dengan orang lain, harus minimal menemukan satu kesamaan antara diri mereka. Jadi, orang-orang pada masa itu tidak akan saling menyapa dengan “Apa kabar”, “Halo”, “Salam Kenal” atau “Senang Berkenalan Denganmu.” Orang-orang pada masa itu akan bertanya “Apakah kamu suka X? Apakah kamu melakukan Y? Apakah kamu tahu Z?” Mereka menyatakan itu hanya untuk memancing pihak lawan bicara tentang hal-hal apa yang akan menjadi kesamaan atau kemiripan di antara mereka. Apabila tidak ada kesamaan sama sekali setelah melontarkan 10 pertanyaan, ada norma tidak tertulis yang memaksa mereka untuk sebaiknya saling meninggalkan lawan bicara dan mengubur harapan untuk dapat berteman karena perbedaan adalah hal yang sangat tabu pada masa itu. Orang-orang pada masa itu telah mempelajari hal dari masa lalu mereka bahwa perbedaan dapat menyebabkan pertikaian, perang, konflik, dan segala macam masalah di dunia ini yang tidak perlu terjadi. Oleh karena itu, sebaiknya orang-orang yang terlalu berbeda tidak perlu saling berurusan. Dan meskipun segregasi seolah-olah tercipta dalam lingkungan masyarakat masa depan ini, setidaknya cara komunikasi mereka yang selektif membuat kehidupan mereka jadi lebih damai. Kehidupan orang-orang pada masa ini sangat damai, jarang konflik, karena tanda-tanda konflik sudah dihindari sejak awal pertemuan dengan manusia lain.

Sistem pergaulan semacam ini tentunya tidak terjadi dalam kehidupan perhewanan, karena mereka memiliki sistem hidup yang berbeda dengan manusia. Mereka tidak perlu mengkhawatirkan perbedaan dan persamaan yang ada karena bagi mereka itulah kaidah kehidupan. Bila tidak ada perbedaan, maka karnivor tidak akan memakan herbivor, dan herbivor tidak akan memakan rumput, insektavor tidak akan memakan serangga, dan rumput tidak akan tumbuh dari tanah. Hewan-hewan masih mempercayai sistem rantai kehidupan yang saling melengkapi ini dan mereka membiarkan hidup mereka terjadi secara alami tanpa  adanya manipulasi cara hidup karena itulah yang mereka lakukan sejak zaman dahulu dan tidak akan ada yang protes bila singa memakan rusa atau bila anjing tidak akur dengan kucing. Tapi tentunya hal ini tidak berlaku dalam dunia manusia karena manusia pada masa itu berpikir tidak baik bagi sesama manusia untuk saling memakan dan saling menyerang hanya karena mereka saling berbeda. Oleh karena itu, perbedaan harus dihindari dari tahap awal interaksi dengan manusia lain. Pada masa itu, manusia yang memaksakan diri untuk berinteraksi dengan manusia yang berbeda dengannya akan dianggap sama dengan binatang. Dan tentunya, ini mengandung makna negatif karena pada masa itu, manusia pun sangat berusaha untuk membedakan diri dengan binatang.

Suatu hari pada masa depan itu, di sebuah toko yang menjual hewan peliharaan, seekor kelinci kecil sedang memakan wortel yang diberikan padanya dengan seksama. Ia tahu persis bahwa bila ia rajin memakan wortelnya dengan seksama, secara teratur, sesuai yang dijadwalkan si pemilik toko, maka ia akan segera tumbuh menjadi kelinci yang gemuk dan sehat. Dan semakin cepat ia tumbuh menjadi kelinci yang gemuk dan sehat, semakin cepat pula ia akan dipelihara oleh manusia yang mungkin akan langsung menyukainya pada pandangan pertama.  Tentu saja ia jauh lebih memilih tinggal di alam bebas seperti kelinci-kelinci dan hewan-hewan lain yang hidup secara alamiah. Tapi dibandingkan terkurung di kandang kelinci dalam toko hewan peliharaan, ia jauh lebih memilih tinggal bersama seseorang yang memeliharanya dengan kasih sayang karena menurut teman-temannya, manusia-manusia yang memelihara binatang dengan kasih sayang akan setidaknya membiarkan binatang peliharaannya berkeliaran di lingkungan halaman rumah mereka.

Di sudut yang berbeda, masih di toko hewan peliharaan yang sama, terlihat seekor landak sedang beristirahat dengan tenang. Bertolak belakang dengan sobatnya, si kelinci kecil, landak kecil ini tidak terlalu antusias tentang siapa yang akan memeliharanya kelak. Ia hanya berprinsip bahwa hidup ini harus dijalani saja karena memang seharusnya dijalani. Ia makan karena memang harus makan. Tidur karena memang harus tidur. Bangun karena memang harus bangun. Baginya hidup itu memang karena harus hidup, dan dia tidak peduli apakah dia harus terkurung dalam kandang landak atau bebas bermain-main di alam. Apa yang terjadi, terjadilah. Kira-kira begitulah pandangan hidupnya.

Si kelinci kecil, sobat si landak kecil, kadang-kadang heran melihat sikap temannya yang berada di sudut ruangan yang berbeda. Dari jauh ia selalu melihat si landak kecil yang hanya makan seadanya, tidur seadanya, dan bangun seadanya. Tidak seperti si kelinci kecil yang selalu makan sebaik-baiknya, tidur sebaik-baiknya, dan bangun sebaik-baiknya.

Hari itu, pada tanggal 16 April, si kelinci kecil bertanya pada si landak kecil, “Kenapa kamu seperti itu?”

“Seperti apa?” si landak kecil balik bertanya.

“Seperti tidak peduli dengan apa yang akan terjadi esok hari,” si kelinci kecil memperjelas maksudnya.

“Sederhana saja. Aku bukan kamu,” jawab si landak kecil. “Aku adalah landak. Kamu adalah kelinci. Fitrahmu adalah berlari dan melompat ke sana kemari. Fitrahku adalah menjalani kehidupan dengan lebih santai, meskipun kamu juga tidak bisa menyebutku pemalas.”

“Kamu tidak peduli kalau kamu tidak akan pernah dipelihara manusia?” tanya kelinci kecill lagi.

“Tidak. Dipelihara atau tidak, aku tetap hidup. Dan aku akan mati bila sudah waktunya mati,” jawab landak kecil santai.

“Kamu tidak tertarik dengan alam luar? Kamu tidak ingin punya nama? Kalau kau punya majikan, kamu akan diberi nama, loh.” kelinci kecil masih penasaran.

“Bernama atau tidak, aku tetaplah aku. Kalau aku memang ditakdirkan untuk punya nama, maka aku akan punya nama. Bila aku tidak ditakdirkan punya nama, maka selamanya kamu tetap bisa menggunakan kata “kamu” untuk merujuk pada diriku,” ujar si landak kecil mantap.

Si kelinci kecil akhirnya menyerah terhadap ketetapan hati si landak kecil. Lagipula, dia merasa perbedaan antara dirinya dan si landak kecil bukanlah masalah. Mereka tetap berteman dan mereka tidak ditakdirkan untuk saling memangsa, jadi mereka akan tetap berteman meskipun mereka berbeda. Si kelinci kecil toh bukan manusia pada zaman itu yang sangat ketakutan akan perbedaan sehingga berusaha menyeragamkan segala sesuatu, termasuk sudut pandang antara sahabat.

Beberapa jam kemudian, masih tanggal 16 April, namun kali ini hari agak siang menjelang sore, seorang laki-laki muda dan serang perempuan muda datang ke toko hewan peliharaan tersebut. Keduanya memiliki kesamaan: mereka ingin membeli seekor hewan peliharaan. Dan keduanya kembali memiliki persamaan, yakni mereka melihat si kelinci kecil yang gemuk, sehat, lucu, dan lincah secara bersamaan. Dan keduanya memiliki kesamaan lagi, yakni mereka sama-sama menginginkan kelinci kecil itu.

Dan ajaibnya, mereka memiliki kesamaan lagi, yaitu mereka sama-sama memegang kandang si kelinci kecil pada saat yang bersamaan. Pada detik itu juga, mereka memegangnya bersamaan, tidak ada yang mendahului.

Dan kemudian mereka menatap secara bersamaan dengan tatapan yang sama-sama mengancam satu sama lain. Lalu mereka pun berucap secara bersamaan, “Kelinci ini punyaku.”

Terkejut dengan kebersamaan mereka yang terlalu sama, mereka pun berusaha mengucapkan kata-kata lain secara tidak bersamaan. Hasilnya, mereka malah kembali mengatakan hal yang sama secara bersamaan, “Aku duluan yang lihat dia.”

Lalu kemudian kedua anak muda itu saling berargumen dengan argumen yang sama dan saling menghardik dengan hardikan yang sama dan saling menghasilkan keributan yang sama.

Si kelinci kecil yang energik itu hanya memandang keduanya dengan kebingungan. Dari jauh, dari sudut ruangan yang berbeda, si landak kecil memandang dengan pandangan datarnya. Sebenarnya dalam hatinya ia merasa iri pada si kelinci kecil yang sangat diinginkan keberadaannya. Tapi kemudian si landak kecil kembali pada prinsip awalnya bahwa apa yang terjadi memang harus terjadi. Lalu ia menerima kenyataan bahwa si kelinci kecil lebih diinginkan daripada dirinya dan melupakan semua rasa iri hati yang baginya tidak perlu. Jadi ia mengalihkan pandangannya dari pertengkaran dua anak muda yang memperebutkan si kelinci kecil itu dan mulai kembai makan seadanya seperti seharusnya ia makan.

Ajaibnya, tidak lama setelah ia melaksanakan aktivitas seadanya itu, sang pemuda yang sudah muak bertengkar dengan sang gadis, akhirnya mengalihkan pandangannya ke sudut lain ruangan. Ia melihat seekor landak kecil sedang meringkuk di dalam sebuah kandang. Sekejap, semua kesamaannya dengan si gadis berubah menjadi perbedaan. Ia tidak lagi menginginkan si kelinci kecil. Ia lebih tertarik dengan si landak kecil di sudut ruangan. Meskipun tentunya sebagai penyayang kelinci ia jauh lebih menyukai si kelinci kecil, tapi si landak kecil ini tidaklah buruk untuk dijadikan hewan peliharaan. Si pemuda pun bisa belajar sekali-kali untuk merawat hewan yang berbeda dengan jenis hewan yang ia sukai, setidaknya itu yang ia pikirkan saat itu. Selain itu si pemuda berpikir bahwa ia jauh tidak menyukai harus terus menerus bertengkar dengan si gadis yang terlalu memiliki banyak persamaan dengan dirinya. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengenyahkan keinginannya untuk memiliki si kelinci kecil, dan memutuskan untuk membeli si landak kecil.

“Ambil kelinci itu. Mungkin sebaiknya aku ambil landak ini,” ujar si pemuda pada akhirnya.

“Terima kasih,” ujar si gadis yang tadinya sempat heran mengapa si pemuda akhirnya berubah pikiran. Namun setelah kata “terima kasih” itu terlontarkan dari mulutnya, senyum pun teruntai di wajahnya dan ia merasa lebih merasa nyaman dan menghargai keberadaan pemuda yang tadinya terlalu sama dengan dirinya tersebut.

“Maaf tadi sudah ngotot,” perempuan muda itu bahkan meminta maaf dengan tulus.

“Tidak apa-apa. Tadi aku juga ngotot,” ujar lelaki muda itu sambil tersenyum.

Baru pertama kali sejak dilahirkan, si kelinci kecil dan si landak kecil melihat akomodasi antar manusia terjadi di hadapan mata mereka. Akomodasi itu terjadi bukan karena persamaan, melainkan karena perbedaan.

Hari itu, pada tanggal 16 April, si kelinci kecil menatap tersenyum pada si landak kecil sobatnya, yang ternyata juga tersenyum dari kejauhan. Mereka tahu itu mungkin kali terakhir mereka bertemu, atau mungkin  hanya hari terakhir mereka bersama-sama di dalam toko hewan peliharaan itu karena siapa tahu mereka masih bisa bertemu di lain kesempatan. Tapi mereka tidak bersedih. Karena mereka tahu pada hari itu, mereka memiliki kesamaan, yakni mereka sama-sama dipelihara dan mereka sama-sama diberi nama.

Canberra, 16 April 2011

Views: 519
Posting: 15-Apr-2011 21:48:14 WIB
Comments: 0 comments
Category: Cerpen, Keluarga, Kehidupan Sehari2
Apr
15
2011

Hari ini aku ngendep di rumah nyari responden untuk penelitianku tentang alih kode di twitter. Lagi ngestalking terus menganalisis twitter orang nih ya... tahu2 lampu di kamarku mati pas jam2 hampir Maghrib. Jadi harus beli yang baru. Untungnya meskipun mall2 pada tutup jam 6 sore, tapi supermarket masih buka sampe malam. Tapi kartu busku sekarat kuotanya (udah diisi ulang pake kartu kredit sih. tp karena pake kartu kredit dan bukan cash jadi harus nunggu 5 hari baru keisi kartunya). Akhirnya jadilah daku berjalan kaki ke supermarket terdekat di Dickson.

Dan sesampainya di sana, selain beli lampu, saya malah tergiur beli lampu meja belajar yang lucu *dasar boros*

Soalnya aku naksir banget sama lampu dinosaurus yg mestinya sih utk anak2 (yup, I love dinosaurs). Ada yang T-Rex, Bronto, dan Triceratops. Aku pilih yang Triceratops dong karena dia favoritku (sebenarnya yg T-Rex dan Bronto juga bentuknya imut meskipun aslinya aku benci T-Rex). Terus aku baca di kotak bungkusnya ternyata dia ada namanya loh "Trike." terus cahayanya bisa ganti2 warna. Lucu sekaliiii. :D

Berikut ini foto2 sahabat baruku, Trike. ^^

 

[I

 

 

Utk sementara si Trike tadi jadi penerang dalam gelap supaya aku bisa mudah naik2 kursi dan ganti lampu yang rusak dengan lampu yang baru. Haha. Besok2 mungkin kalo mati lampu atau kalo butuh cahaya dikit dlm gelap aku mau pakai dia lagi. :D

 

Views: 375
Posting: 15-Apr-2011 20:32:20 WIB
Comments: 0 comments
Category: Boneka, Lampu, Dinosaurus, Kehidupan Sehari-hari
 1 2 3 4 >