Legenda Negeri Manikraya
Oleh: Rima Muryantina
(Cerpen ini diikutsertakan dalam ajang Fantasy Fiesta 2011)
Pada zaman yang tidak terlalu dahulu kala, di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari sekitar kita, adalah sebuah negeri bernama Manikraya. Konon, negeri itu terkenal dengan kesejahteraan rakyatnya dan keharmonisan hidup penduduknya. Raja dan para pejabat tinggi negeri Manikraya terkenal dengan keadilan, ketegasan, dan kebijaksanaannya. Setiap kali ada kejahatan terlaksana di negeri Manikraya, selalu ditindak dengan adil. Dengan sikap kepemimpinan yang tegas, adil, dan bijaksana itulah Manikraya menjadi negeri yang makmur. Dan karena itulah, Manikraya menjadi sebuah negeri yang diidam-idamkan siapa saja, dan kadang membuat iri penduduk-penduduk di negara lain. Seolah-olah semua tentang Manikraya adalah anugerah, dan tidak ada cela, malapetaka, maupun kemalangan yang dapat menimpa negeri tersebut.
Akan tetapi, di balik kesempurnaan negeri tersebut, ada satu hal yang sangat mengkhawatirkan bagi pemerintah dan penduduk Manikraya. Kekhawatiran itu disebabkan oleh ramalan Wardhana, seorang peramal legendaris negeri Manikraya, beberapa ratus tahun yang lalu. Saat itu, Wardhana meramalkan bahwa akan lahir beberapa anak laki-laki berwajah serigala di negeri Manikraya. Anak-anak berwajah serigala awalnya mungkin akan sama saja dengan anak-anak lainnya. Akan tetapi, bila mereka disakiti dan tidak dapat menahan emosi, mereka akan menjadi pribadi yang bengis dan dapat menyakiti saja tanpa ampun. Selain itu, bila anak-anak berwajah serigala ini kelak dewasa, mereka akan mempunyai hasrat menghabisi nyawa orang lain yang akan sangat sulit dibendung dan membunuh akan menjadi kebutuhan pokok bagi mereka. Tidak hanya itu, bila emosi mereka mencapai puncaknya, anak-anak berwajah serigala ini akan memiliki kekuatan luar biasa, yang Wardhana sendiri tak sanggup menggambarkannya dengan kata-kata, yang dapat menghancurkan seantero negeri Manikraya. Anak laki-laki berwajah serigala ini disebut sebagai Ridwastian, yang berasal dari bahasa Manikraya kuno. Ridwas berarti serigala, dan Tian berarti wajah.
Untuk mengatasi para Ridwastian, para petinggi pemerintahan Manikraya sejak zaman Wardhana sudah melakukan berbagai antisipasi. Awalnya, beberapa petinggi di pemerintahan menyarankan bahwa sebaiknya setiap kali ada seorang Ridwastian lahir di tiap keluarga, kepala keluarga itu harus langsung membunuh Ridwastian selagi masih bayi. Akan tetapi, Raja Manikraya pada masa itu tidak tega bila harus memerintahkan seorang ayah untuk membunuh anaknya sendiri. Ia sendiri, juga seorang ayah. Dan bisa jadi, Ridwastian lahir di keluarga kerajaan. Bila itu terjadi, sang Raja tak sanggup untuk membunuh putranya sendiri, sekalipun putranya itu tidak berwajah manusia.
Oleh karena itu, pada masa tersebut diberlakukan peraturan bahwa semua anak yang terlahir sebagai Ridwastian tetap diizinkan hidup dan dirawat oleh orang tuanya, asalkan dipisahkan pergaulannya dengan anak-anak lain yang berwujud manusia utuh. Semua anak-anak yang terlatih sebagai Ridwastian harus dilatih khusus untuk dapat mengendalikan emosi. Hasrat mereka untuk membunuh hanya boleh dipenuhi dengan membunuh hewan-hewan yang dianggap mengganggu seperti ular, tikus, dan serangga. Apabila mereka sudah dewasa, para Ridwastian ini harus diserahkan pada negara dan mengabdi sebagai algojo di kerajaan. Tugas mereka adalah memenggal kepala narapidana-narapidana yang dihukum mati. Dengan begitu, kebutuhan pokok mereka untuk membunuh akan tetap terpenuhi, dan mereka akan berjasa dalam menegakkan hukum di Manikraya.
Ide cemerlang Raja pada masa peramal Wardhana itu disetujui oleh semua pihak, termasuk peramal Wardhana sendiri. Peraturan dibuat serapi dan sejelas mungkin agar kemudian dapat diterapkan bila para Ridwastian lahir. Tidak lama setelah peraturan tersebut dibuat, anak Ridwastian pertama mulai lahir di antara keluarga-keluarga bahagia di Manikraya. Seperti yang selalu terjadi di Manikraya, para penduduk dan pemerintah bekerja sama agar dapat menerapkan peraturan yang mereka anggap adil itu dengan baik. Dan demikianlah peraturan tersebut terus dilakukan selama beratus-ratus tahun, setelah beribu-ribu Ridwastian lahir. Tidak ada yang tersakiti dan tidak ada yang dirugikan. Manikraya tetap makmur seperti biasa, bahkan dengan para Ridwastian yang mengabdi kepadanya.
Lalu tersebutlah Egastyo, seorang Ridwastian yang lahir seperti para Ridwastian lainnya. Ia lahir berkepala serigala, bertubuh manusia. Tidak ada di antara orang tuanya maupun saudara-saudara dekatnya yang seperti dia. Mereka semua manusia seutuhnya. Tapi seperti halnya tradisi yang sudah dijalankan, Egastyo tetap dapat dibesarkan dalam keluarganya, meskipun dengan cara yang berbeda dari cara orang tua biasa membesarkan anak-anaknya yang biasa.
Egastyo memiliki seorang kakak laki-laki bernama Aksena. Tidak seperti adiknya, Aksena adalah seorang manusia seutuhnya. Meskipun demikian, ia sangat menyayangi adik semata wayangnya itu. Tentu karena Aksena sendiri yang meminta adik kepada orang tuanya. Ia ingin memiliki teman yang dapat diajak berbagi banyak hal bersama. Dan meskipun adiknya lahir sebagai seorang Ridwastian, Aksena tidak mengeluh. Meskipun Egastyo selalu berada di sudut rumah yang berbeda dengannya, dan meskipun sudut ruang tersebut ditutupi jeruji agar Egastyo tidak menyakiti siapapun, Aksena tetap menyempatkan diri menyapa adiknya setiap hari dari balik jeruji. Dari balik jeruji itu mereka bercerita banyak hal. Aksena biasanya selalu memiliki lebih banyak cerita, karena ia dapat menceritakan apa yang ia lakukan di sekolah, di pusat perbelanjaan, di pusat hiburan, di taman bermain, di taman bacaan, dan di semua tempat yang tidak dapat dikunjungi Egastyo. Meskipun demikian, Aksena juga tidak pernah bosan mendengar cerita Egastyo yang hanya menghabiskan hari-harinya di situ-situ saja. Sang kakak yang baik hati itu tidak pernah kehabisan ide untuk bertanya hewan apa yang hari ini dibunuh adiknya, apa saja yang diajarkan guru adiknya (sesama Ridwastian) yang melatihnya untuk menahan emosi, bahkan lamunan apa saja yang adiknya lamunkan hari ini.
Karena kebaikan hati kakaknya inilah, Egastyo tidak pernah merasa kesepian. Sekalipun ia kadang sangat ingin menjadi manusia seutuhnya. Bermain dan belajar bersama anak-anak lain yang seumur dengannya. Dan memiliki wajah manusia yang sempurna seperti wajah kakaknya. Egastyo kadang merasakan iri hati bercampur dengan kekaguman pada abangnya. Di mata Egastyo, Aksena adalah seorang sosok sempurna, yang memiliki fisik sempurna, kecendikiaan yang tidak biasa, dan tindakan-tindakan terpuji yang merupakan cerminan kebaikan hati dan kasih sayang kepada sesama. Beberapa kali dalam tidurnya, Egastyo sering memimpikan dirinya menjadi manusia seutuhnya yang tidak kalah sempurnanya dengan Aksena, melihat dunia bersama abangnya itu, melakukan banyak hal selayaknya manusia seutuhnya, mempelajari banyak hal, tumbuh dewasa, dan menjadi generasi penerus kemakmuran Manikraya yang disegani oleh negara-negara lainnya.
Selain karena ia sendiri ingin menjadi manusia seutuhnya, Egastyo sadar bahwa keterbatasannya sebagai manusia berwajah serigala sebenarnya menjadi beban bagi keluarganya. Ia sadar betul bahwa orang tuanya sangat peduli dan menyayanginya, tapi raut wajah kedua orang tuanya yang penuh rasa iba bercampur penyesalan setiap kali melihat putra bungsu mereka, membuat Egastyo sadar bahwa memiliki seorang anak Ridwastian bukanlah hal yang membanggakan bagi keluarga mana pun di Manikraya.
Hal ini semakin dipahami oleh Egastyo ketika ia melihat abangnya dimarahi oleh orang tuanya akibat berkelahi dengan anak tetangga. Hanya sekali itu saja Egastyo melihat Aksena bermasalah dengan orang lain. Dan hal itu disebabkan karena Aksena tidak terima perlakuan anak tetangga yang terus mengatainya, “Kakak dari seekor serigala.” Pelayan di rumah mereka mengatakan bahwa Aksena meninju muka anak itu dengan keras sambil berteriak, “Adikku bukan serigala!” berkali-kali. Sejak mengetahui hal itu, sering kali Egastyo menangisi wajah serigalanya dan berharap keajaiban dapat membuat air matanya tidak tertahan bulu di pipinya dan suara tangisnya tidak terdengar seperti lolongan serigala.
Namun, seperti halnya Ridwastian lainnya, Egastyo selalu sadar bahwa semua keinginannya itu hanya akan menjadi mimpinya belaka. Oleh karena itu, ia tidak mau membiarkan dirinya terbuai dengan angan-angan yang tidak akan pernah kesampaian. Pelatihan menahan emosi yang ia tempa sejak kecil telah mendewasakannya dengan cepat dan membuat dirinya mudah menerima kenyataan bahwa ia dapat mengabdi pada negaranya dengan cara yang berbeda. Dan itulah yang membuat ia giat berlatih agar kelak dapat menjadi algojo di istana.
Dan pada akhirnya, waktu untuk menjadi dewasa itu tidak terlalu lama bagi Egastyo. Begitu usianya menginjak 17 tahun, ia langsung diserahkan oleh orang tuanya kepada negara. Ia lantas bekerja dengan sungguh-sungguh sebagai algojo istana. Mungkin terdengar mengerikan karena di usia semuda itu ia harus memenggal kepala narapidana, atau dengan kata lain, mencabut nyawa manusia. Di satu sisi, hasrat tak terkendalinya sebagai Ridwastian terpenuhi. Akan tetapi, di sisi lain, ia pun masih manusia yang tidak tega mengambil hidup manusia lain sekalipun manusia itu melakukan kesalahan yang secara hukum Manikraya pantas dijatuhi hukuman mati.
Oleh karena itu, Egastyo, seperti halnya para algojo Ridwastian yang baik, selalu berusaha bersikap baik pada para narapidana hukuman mati di penjara. Ia memasakkan makanan yang enak untuk mereka, berbagi cerita dengan mereka, melakukan pertandingan olah raga yang adil antara petugas penjara dan narapidana di kala senggang, dan apapun yang dapat membuat para narapidana tersebut merasakan kehangatan keluarga selama melewati hari-hari terakhir mereka di dunia. Tentunya, tidak selamanya para narapidana akan menurut dan langsung menerima kebaikan para penjaga penjara dengan ikhlas. Bagaimanapun juga, mereka narapidana. Mereka pernah melakukan hal-hal terburuk yang pernah dilakukan di Manikraya. Akan tetapi, keteguhan hati para penjaga penjara yang sebagian besar adalah Ridwastian, dan kepercayaan mereka bahwa setiap manusia memiliki sisi baik, berhasil melunakkan sikap para narapidana tersebut.
Egastyo senang melakukan kebaikan-kebaikan ini pada para narapidana. Tidak hanya pada para narapidana yang dijatuhi hukuman mati, tapi juga pada para narapidana lain. Tidak hanya Egastyo, semua penghuni penjara itu pun selalu menerapkan sifat-sifat kekeluargaan khas Manikraya. Oleh karena itu, sekalipun Egastyo sudah jarang bertemu dengan keluarganya karena tugas-tugasnya di penjara istana, ia sama sekali tidak merasa kesepian.
Begitu bahagia dan damainya Manikraya beserta sikap kekeluargaan penduduknya, sampai-sampai Egastyo berpikir ia akan berada dalam masa-masa aman selamanya meskipun harus bekerja sebagai algojo. Ia bahkan sudah lupa bagaimana rasanya untuk marah dan meluapkan emosi, seperti yang sering ia lakukan waktu kecil, sebelum latihan pengendalian emosinya sempurna. Semua terasa begitu sempurna saat itu, sebelum suatu hal paling mengejutkan dalam hidupnya tiba-tiba datang menghampiri.
Hari itu, pada tahun kesepuluh setelah Egastyo bekerja menjadi algojo istana, ia seperti biasa diizinkan untuk menemui narapidana terdakwa hukuman mati yang akan dia eksekusi dalam waktu dekat. Seperti halnyya algojo lain, ia bertugas untuk menjadi teman baik sang narapidana agar ia dapat dengan ikhlas menjalani hukuman matinya. Tentunya, apabila yang ia hadapi hanyalah narapidana biasa, Egastyo akan dengan mudah menghadapinya. Pada awalnya narapidana itu mungkin akan ketakutan atau malah memberontak, tapi dengan kemampuannya dalam mengendalikan emosi dan menunjukkan ketulusan pada orang lain, pasti Egastyo akan dengan cepat mengambil hatinya. Sayangnya, hal itu tidak terjadi saat Egastyo menghadapi narapidana yang satu ini.
Ketika pertama kali mengunjungi narapidana ini di sel, Egastyo sudah langsung terkejut bukan kepalang. Meskipun sudah lama tak bertemu, ia tahu betul bahwa narapidana yang ada di sel itu, yang akan segera ia eksekusi dalam waktu dekat, adalah kakaknya sendiri, Aksena.
“Kenapa kamu ada di sini, Kak?” hal itulah yang pertama kali ditanyakan oleh Egastyo.
“Untuk menjalani hukuman,” Aksena hanya tersenyum tipis dengan tatapan sedih dan menjawab, “Setidaknya aku lega karena kamulah yang akan menghukumku.”
Mendengar jawaban kakaknya itu, Egastyo tak kuasa menahan tangis. Ia menghampiri dan memeluk kakaknya yang terlihat lusuh dibalut baju tahanan. Tak habis pikir, ia langsung bertanya mengapa kakaknya yang ia kenal sebagai pribadi yang sangat baik harus menerima dakwaan hukuman mati. Dan ia pun tak bisa membayangkan kalau dalam waktu dekat, kakaknya akan dihabisi oleh tangannya sendiri.
“Ada orang penting di tempat aku bekerja. Dia melakukan pembunuhan terhadap orang lain. Kamu tahu, di Manikraya, nyawa harus dibalas dengan nyawa. Dan orang penting ini tidak mungkin mati, demi kestabilan Manikraya. Jadi aku harus menggantikannya,” Aksena menjelaskan dengan nada yang lirih, masih sambil berusaha tersenyum. Senyuman ramahnya yang dikenal Egastyo sejak kecil tidak akan pernah pudar dari ingatan adiknya itu.
“Tapi itu tidak adil. Ketidakadilan seperti ini tidak boleh terjadi di Manikraya. Itu sama saja merusak kestabilan Manikraya,” ujar Egastyo yang sudah sangat mengerti seluk beluk hukum dan peraturan di kerajaan Manikraya.
“Sudahlah, kita lakukan saja apa yang semestinya kita lakukan. Dan untuk menghabiskan hari-hari terakhirku bersama adik kesayanganku, bagiku itu sudah lebih dari cukup,” tutur Aksena, masih dengan ekspresi wajah yang mencerminkan ketegaran hatinya.
“Tapi ini tetap tidak benar, Kak. Ini tidak adil. Aku harus berbuat sesuatu,” Egastyo bersikeras. “Siapa orang penting itu? Akan kuadukan pada Raja. Raja kita begitu adil. Tidak mungkin dia membiarkan rakyatnya mati karena ketidakadilan.”
“Sudahlah,” Aksena menunduk tak mau membahasnya.
“Katakan, Kak? Siapa orang penting itu? Siapa? Akan kuadukan pada Raja!”
Karena Egastyo terus memaksa, akhirnya Aksena menghela nafas dan menjawab, “Orang itu adalah Putra Mahkota. Putra pertama sang Raja.”
*******
Egastyo menunggu di ruang tunggu Raja Manikraya. Tidak semua orang dapat menunggu di ruang tunggu itu. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat diberi kesempatan berbicara langsung dengan Raja Manikraya. Dan karena Egastyo sudah dikenal sebagai algojo istana yang paling setia dan memiliki reputasi yang bagus, maka Egastyo termasuk dari sedikit orang-orang tertentu itu.
Sambil menunggu dengan penuh banyak pikiran berkecamuk di benaknya, Egastyo hanya memandangi minuman yang disuguhkan padanya yang ternaung dalam gelas kerajaan yang dihias dengan indah dan terlihat sangat mahal. Beberapa kali dayang istana menawarkannya untuk meminum dulu minuman itu, tapi Egastyo menolak dengan halus dan kembali memikirkan baik-baik hal-hal apa yang harus ia katakan pada Raja agar abangnya dibebaskan dari tuduhan. Atau setidaknya, tidak diberi hukuman mati.
Namun karena raja begitu lama tak kunjung datang, dan karena bosan ditawari terus-menerus oleh para dayang, maka Egastyo pun meminum seteguk dari minuman tersebut. Sambil meminum minuman itu, Egastyo masih memikirkan bagaimana caranya agar dapat berkompromi dengan Raja Manikraya terkait dengan masalah hukuman yang harus dijalani kakak satu-satunya itu.
Akhirnya setelah menunggu agak lama, Raja pun muncul di hadapan Egastyo. Egastyo segera berdiri dan memberikan penghormatan khas Manikraya. Tapi layaknya raja-raja di negeri lain, sang Raja Manikraya pun tidak mau membiarkan penghormatan itu berlangsung terlalu lama. Jadi ia segera menyuruh Egastyo menghentikan posisi penghormatan itu dan mempersilakannya duduk.
Ketika mereka berdua sudah sama-sama duduk dengan tenang, sang Raja pun bertanya, “Apa gerangan yang ingin kau bicarakan denganku, wahai Egastyo, algojo istana yang setia?”
“Perihal hukuman mati untuk Aksena, Yang Mulia. Saya yakin dia tidak pernah membunuh orang,” ujar Egastyo terus terang tanpa mengurangi rasa hormatnya pada Sang Raja.
Raut muka Sang Raja mendadak berubah menjadi masam. Nampakn ya ia tidak mau membahas hal tersebut lebih jauh lagi.
“Bukti-bukti sudah menunjukkan kalau dia pelakunya. Nyawa harus dibayar nyawa di Manikraya,” ujar Sang Raja dengan tegas, tanpa mengurangi penghargaannya pada kesetiaan Egastyo.
“Saya tahu dia bukan pelakunya, Yang Mulia. Dia adalah kakak saya. Dan saya tahu kalau kasus ini juga melibatkan Putra Mahkota,” Egastyo sudah tidak mau berbelat-belit lagi, meski ia masih berusaha mempertahankan rasa hormatnya terhadap Sang Raja.
Sang Raja menghela nafas panjang. Menyadari bahwa Egastyo terlalu cerdas untuk dibohongi, ia pun berkata, “Bila Putraku yang harus melaksanakan tanggung jawab atas hal yang tidak sengaja ia perbuat, maka tidak akan ada penerus Manikraya. Oleh karena itu, aku meminta kebaikan Aksena, kakakmu, untuk menggantikannya. Dan dia bersedia. Demi Manikraya.”
Egastyo tidak percaya apa yang ia dengar. Ia tidak percaya seorang raja Manikraya dapat dengan sadar menyatakan bahwa ia tidak mau menegakkan keadilan. Ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai Manikraya yang ditanamkan padanya sejak kecil. Tentu saja tidak benar bahwa bila tanpa Putra Mahkota, maka tidak ada penerus Manikraya. Raja masih memiliki satu lagi anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Tidak ada aturan bahwa Raja Manikraya harus anak laki-laki pertama dari raja sebelumnya. Tentunya Egastyo sangat mengerti bahwa ini hanyalah alasan yang dibuat-buat oleh Sang Raja untuk melindungi putranya. Dan tentunya ia mengerti bahwa alasan Aksena untuk “berbuat baik” pada keluarga Raja dengan mengorbankan dirinya semata-mata hanyalah karena ia tidak dapat menolak permintaan seorang raja. Selain karena ia adalah orang yang terlalu baik, tentu saja.
“Kalau kau tidak tega melaksanakan tugas itu, aku akan memerintahkan algojo lain untuk melakukannya. Aku tahu ini terlalu berat bagimu. Aku tidak akan menyiksamu terlalu jauh,” ujar Sang Raja.
“Bukan itu yang kuinginkan, Baginda. Yang kuinginkan keadilan, seperti yang selalu Baginda ajarkan pada seluruh rakyat Manikraya. Seperti apa yang selalu dilakukan leluhur Baginda secara turun-temurun!” Egastyo mulai kehilangan kontrol terhadap nada bicaranya yang mulai melantang.
“Aku akan suruh algojo lain untuk melakukannya,” Sang raja hanya menegaskan pernyataan sebelumnya tanpa mengindahkan permohonan Egastyo.
Egastyo sekejap ingin sekali mengatakan kata-kata yang lebih keras. Tapi sekejap pandangannya berputar-putar dan kesadarannya memudar. Ia segera menyadari bahwa Sang Raja telah memerintahakan seseorang untuk memasukkan minuman yang disuguhkan padanya sebelumnya. Menyadari trik ini, sebenarnya Egastyo sudah sangat ingin mengutuk rajanya sendiri. Tapi ia tak kuasa menahan pengaruh obat dalam minuman tersebut dan akhirnya jatuh pingsan.
*******
Setelah sadar, Egastyo yang terbangun di kamar tidurnya segera menyadari bahwa ia sudah lama ia tidak sadarkan diri. Ia segera berlari terhuyung-huyung menuju sel Aksena, khawatir jika hukuman mati untuk kakaknya telah dilaksanakan selagi ia tidak sadarkan diri. Hal yang ditakutkan Egastyo pun terjadi. Sel Aksena kosong. Ia berlari menuju tempat eksekusi hukuman mati. Tidak ada siapa-siapa. Hanya tersisa tempat pemenggalan yang bersimbah darah dengan papan pengumuman bertuliskan “Eksekusi Hari Ini: Aksena, Terlaksana.” Dengan hanya melihat pemandangan di depan matanya itu, Egastyo pun sadar bahwa kakaknya telah tiada, dan jasad kakaknya mungkin tengah dikuburkan di pemakaman para narapidana hukuman mati.
Egastyo tidak kuasa menerima kenyataan yang ada di depan matanya. Ia perlahan memegang tempat pemenggalan yang berlumuran darah Aksena. Lantas ia pun mencium tangannya yang terkena lumuran darah kakak yang sangat ia sayangi itu. Air matanya bercucuran, meskipun seperti halnya dulu saat ia menangis waktu kecil, air mata itu selalu tertahan bulu-bulu yang ada di wajahnya. Ia menangis dan melolong. Lebih lantang dan lebih pilu daripada lolongannya sewaktu kecil. Emosi yang berlebihan akhirnya pun ia tumpahkan, setelah selama bertahun-tahun ia telah berhasil melatih untuk tidak menumpahkan emosi.
Dan sekejap, kekuatan maha dahsyat yang ratusan tahun sebelumnya diramalkan Wardhana pun terjadi. Suara lolongan Egastyo yang begitu keras menghembus angin begitu kencang. Seketika negeri Manikraya dilanda topan dan badai. Tanah di negeri itu pun retak seolah gempa bumi sedang mengguncangnya. Egastyo sendiri menjadi tak terkendali dan membunuh semua manusia yang ada di depan matanya. Mendengar lolongan Egastyo yang pilu, semua Ridwastian lain pun membalas lolongannya dan mengeluarkan kekuatan dahsyat yang sama hebatnya. Negeri itu porak poranda. Semua Ridwastian di istana menjadi liar dan tak terkendali. Menghabisi semua manusia yang ada di istana dan juga luar istana.
Dalam waktu yang begitu cepat, Manikraya luluh lantah oleh badai dan gempa bumi serta pembunuhan massal yang dilakukan para Ridwastian. Semua penduduk tewas tak bersisa, tak terkecuali. Termasuk Raja dan Putra Mahkota. Termasuk Ridwastian yang pada akhirnya tertimpa bangunan, terhempas badai, maupun terjatuh ke dasar bumi yang sudah terbelah.
Dalam waktu sehari, Manikraya pun tinggal kenangan. Rakyat negeri-negeri tetangga memandangi dengan ketakutan. Melihat akhir yang mengerikan dari sebuah negeri yang pernah membuat iri hati penduduk negara-negara lain.
Canberra, 19 Juni 2011
Slrrrrppp….!!!
Oleh: Rima Muryantina & Nany Ariany
Hari ini, sepulang sekolah, seperti biasa, aku akan mampir di toko kue Virgo yang dimiliki oleh Bu Pigo. Aku senang pergi ke sana . Meskipun aku tak pernah akur dengan sang pemilik toko dan kerap kali berperang mulut dengannya (hubungan kami mungkin adalah hubungan penjual-pelanggan paling aneh sedunia), tapi harus kuakui kue racikan “si ibu gendut” itu selalu berhasil menciptakan cita rasa yang menghilangkan rasa stress-ku atas segala macam kesibukan di sekolah. Tidak hanya itu saja, harganya juga sangat terjangkau oleh kantong anak SMA semacam aku. Toko ini sudah berdiri sejak 10 tahun yang lalu, sejak aku masih SD. Aku pertama kali mengetahui keberadaan toko kue ini saat pertama kali belajar puasa “penuh” (sebelumnya aku hanya sanggup puasa setengah hari saja). Waktu itu usiaku masih 6 tahun dan toko kue Virgo baru saja buka. Aku yang telah berhasil menahan kelemasan, kelaparan, dan kehausanku hingga bedug Maghrib akhirnya bisa menikmati buka puasa pertamaku. Dan buka puasa pertamaku adalah beberapa potong kue dan makanan manis lainnya yang dibeli ibu dari toko kue Virgo. Perjuangan puasa pertamaku terbayar. Kue-kue itu terasa sangat enak di lidah. Belum sampai lidah saja, rasanya liurku ingin berbunyi, “Slrrrrppp….!!!” Setelah dicicipi, rasa “Slrrrrppp….!!!” itu pun bertambah. Aku ketagihan. Dan sejak saat itulah aku menjadi pelanggan setia toko kue Virgo. Yang unik dari toko kue yang terletak tak terlalu jauh dari SMA-ku ini tidak cuma kue-kuenya yang lezat dan harganya yang tidak bikin sesak nafas. Pemiliknya juga sangat unik. Nama asli “si ibu pemilik” ini sebenarnya adalah Virgo, sama seperti nama tokonya. Tapi ia lebih memilih dipanggil “Pigo”. Mengapa demikian? Jadi begini, dulu (menurut cerita Bu Pigo), saat ibunya Bu Pigo mengandung Bu Pigo, ia memprediksi anaknya lahir di awal September. Bila anak itu lahir sebagai perempuan, ibunya Bu Pigo berkehendak menamainya “Virgo”, sesuai prediksi bintang yang seharusnya dinaungi Bu Pigo. Maksudnya, supaya si anak tumbuh menjadi seorang “wanita” sesungguhnya. Ternyata Bu Pigo ini bandel. Ia betah nongkrong di perut ibunya sebulan lebih lama dari bayi-bayi biasa. Akhirnya ia pun dilahirkan di bulan Oktober dan berbintang Libra. Karena ibunya Bu Pigo sudah terlanjur kerasan dengan nama Virgo, dan karena nama “Libra” terdengar aneh di telinga, maka suka tak suka, nama Virgo pun tetap disandang oleh Bu Pigo. Lalu dari mana nama Virgo bisa berubah menjadi “Pigo”? Itu mudah saja. Bu Pigo ternyata sangat menyukai hewan “babi”. Anehnya ia merasa nama “Pigo” lebih mencerminkan dirinya daripada Virgo yang sebenarnya bukanlah zodiaknya. Tapi aku sih tak protes, karena menurutku dia memang gendut dan kadang-kadang suka bersuara seperti (maaf) babi. Ini serius, aku nggak bohong. Dia memang kadang-kadang terdengar seperti itu. Sejak kecil, anehnya, Bu Pigo ini selalu mengatai aku “gendut”. Bahkan setelah 10 tahun aku menjadi pelanggannya, ia kerap memanggilku dengan sebutan yang tak kusukai itu. Aku tahu sih, dari dulu sampai sekarang aku memang agak gendut. Tapi kan nggak gendut-gendut amat! Bu Pigo sendiri bahkan lebih gendut dari aku. Seharusnya ia berkaca. Tapi di luar kebiasaan buruknya memanggilku gendut, Bu Pigo adalah penjual yang sangat mengagumkan. Seorang cerminan business woman yang memang tak begitu tenar dan tak terlalu kaya, tapi cukup sukses. Ia sebenarnya bisa membuat perusahaan yang memproduksi makanan-makanan atau restoran ternama. Ia bisa saja tinggal berleha-leha di kursi direktur perusahaan. Tapi ia memilih membuka toko kue sederhana dengan kue yang ia buat sendiri. Kata ibu gendut yang selalu tersenyum (bahkan saat meledekku pun ia tersenyum) itu, ia ingin mempertahankan cita rasa kue-kuenya. Yah, begitulah Bu Pigo yang hidup bahagia dengan usaha toko kuenya yang membahagiakan semua orang yang memakan kue-kuenya. Tapi hari ini, aku merasakan kejanggalan di depan toko kue Virgo. Ada beberapa polisi dan beberapa mobil dinas dari Departemen Kesehatan yang parkir di depan toko tersebut. Aku ingin bertanya pada orang-orang, tapi orang-orang itu malah sibuk mengerumuni. Dasar orang Indonesia . Aku melihat seorang dokter dari Departemen Kesehatan memasang sebuah pengumuman: TOKO INI DITUTUP
berdasarkan
Keputusan Menteri Kesehatan No.1510/KMK.06/2006
berlaku sejak 2 Januari 2006
Dari kaca jendela kulihat Bu Pigo sedang duduk termangu sambil menahan tangis. Seorang polisi berdiri di sampingnya, berusaha menenangkannya tapi juga mengharapkan pengertian dari Bu Pigo. Tapi pengertian macam apa? Sebenarnya ini ada apa? Aku segera berlari ke arah ibu gendut yang sudah seperti bibiku sendiri (aku tidak punya bibi kandung yang masih hidup). Aku bersimpuh di sebelahnya dan terus bertanya, “ Ada apa?” Kabar buruk ini masih belum bisa kupercaya. Aku tak percaya Departemen Kesehatan telah memvonis bahwa kue-kue yang dijual Bu Pigo mengandung zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan setiap orang yang mengonsumsinya. Aku mengonsumsi kue-kue itu hampir setiap hari, selama 10 tahun, tapi aku merasa baik-baik saja. Lagi pula Bu Pigo tak pernah mencampurkan bahan kimia di dalam setiap makanan yang ia buat. Aku tahu betul itu. Ia sangat mementingkan cita rasa. Semua kue dan makanan manis lain yang ia buat berasal dari bahan alami. Lagi pula janda gendut yang telah lama ditinggal suaminya itu juga hanya lulusan SMA. Ia tak pandai, ia mengakuinya. Ia pernah bercerita bahwa selama SMA dulu nilai kimianya selalu di bawah 5. Aku percaya karena begitu aku menantangnya membaca buku pelajaran kimiaku, Bu Pigo langsung geleng-geleng kepala. Tapi anehnya, di seluruh Indonesia , hanya aku saja yang berpendapat demikian. Orang-orang lain, bahkan yang telah menjadi pelanggan toko kue Virgo selama bertahun-tahun, percaya pada vonis Departemen Kesehatan tersebut. Kemudian, berbondong-bondong mereka menyalahkan Bu Pigo atas segala macam penyakit dan kesialan yang mereka alami. Bahkan terkesan dilebih-lebihkan. Mereka bahkan berdemo, membentuk “Persatuan Anti Virgo” (PAV), bahkan mereka kini sudah mengajukan tuntutan ke pengadilan dan menuduh Bu Pigo bertanggung jawab atas berbagai masalah. “Gara-gara Bu Pigo, anak saya mengidap kanker,” kata seorang ibu. “Gara-gara makan kue buatan Nyonya Virgo, saya jadi kurang konsentrasi kalau bekerja, akibatnya saya dipecat dan jadi pengangguran,” ujar seorang bapak. “Jangan-jangan karena kuenya Ibu Pigo, saya jadi bego. Nggak naik-naik kelas,” tuding seorang siswa SMP (yang menurutku sebenarnya betul-betul bego). “Gara-gara suka pesan kue dari toko ini, saya jadi impotensi. Akhirnya saya dicerai oleh istri saya,” tuduh seorang duda muda di sebuah infotainment dengan gaya perlente sambil merokok (mungkin ini sebabnya dia impotensi, bukan karena kuenya Bu Pigo). Begitulah, Bu Pigo tiba-tiba saja tersudutkan oleh berbagai macam aksi unjuk rasa. Ia pun akhirnya diseret ke pengadilan. Semua orang di pengadilan melemparkan caci maki padanya. Hakim cenderung memihak PAV. Jaksa penuntut umum mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan cara yang mengerikan. Hanya aku (sebagai saksi) dan pengacara Bu Pigo saja yang membela ibu malang itu. Bahkan Pak Pengacara pun hampir menyerah karena semakin lama semakin banyak masyarakat yang menuntut agar Bu Pigo dijebloskan ke penjara. Pengadilan ini berlangsung sangat tidak adil. Semua saksi (kecuali aku) terkesan disuap dan semua bukti terlihat sangat “diada-adakan”. Hakim pun akhirnya menyatakan Bu Pigo bersalah dan memvonisnya 10 tahun penjara. Bu Pigo langsung histeris. Janda gendut itustress. Saking stress-nya, sebelum dikembalikan ke dalam sel, ia merampas kue-kuenya yang dijadikan sebagai barang bukti, kemudian memakannya bulat-bulat. Kue yang ia lahap banyak sekali. Ia pun memakannya seperti (maaf) babi. Aku terkejut. Semua orang terkejut. Sungguh pemandangan yang spektakuler sekaligus menakutkan. “KALAU MEMANG MEREKA BERACUN LEBIH BAIK AKU MATI BERSAMA MEREKAAA!!!!” pekik Bu Pigo berulang kali, sambil terus memakan kue-kuenya itu. Orang-orang panik. Hakim terus mengetok palu agar hadirin tenang. Petugas keamanan berusaha mengamankan ibu gendut yang nampak sudah hilang akal itu. Akhirnya sebelum berhasil menghabiskan semua kue yang ia buat dengan cita rasa, Bu Pigo pun kehilangan kesadaran. Bu Pigo dibawa ke rumah sakit. Aku dan pengacaranya menunggui ibu malang itu dengan setia. Aku takut ia meninggal. Untungnya, dalam beberapa jam, Bu Pigo sudah sadar. “Jadi benar, ya, Dwi… Kue Ibu beracun, ya?” tanya Bu Pigo setelah sadar, sambil menangis terisak-isak. “Nggak, Bu. Kue Ibu baik-baik aja, kok,” jawabku sambil menenangkannya. “Kalau emang nggak beracun, kenapa Ibu sampai masuk rumah sakit,” rengek Bu Pigo. “Ya, kan , Dok? Kue saya emang beracun, ya?” ia bertanya pada dokter sambil terisak. Suara isakannya menimbulkan suara yang mirip suara babi. Tidak bercanda. “Tidak, kok, Bu. Ibu Tidak ada masalah dengan kue-kue itu. Ibu hanya kebanyakan makan makanan manis dan Ibu sekarang sedang stress. Jadi gula darah ibu naik,” jelas dokter yang ternyata memang telah menjadi dokter pribadi Bu Pigo selama hampir 7 tahun. “Jadi?” aku yang pertama kali melontarkan pertanyaan. Aku agak bingung. “Iya,” lanjur si dokter, “saya justru bingung dengan keputusan Depkes itu. Sebenarnya kue Bu Pigo ini memang baik-baik saja.” Aku dan Bu Pigo berpandangan. Dalam hati, kami mempertanyakan hal yang sama. Apa semua ini hanya tipuan? Tak ada jawaban. Tak ada pula yang bisa menjawab. Aku hanya menjawab kegamangan yang terpancar di wajah Bu Pigo dengan berdecak, “SLRRRRPPP….!!!” Jakarta, 23 Juni 2006

by: Rima Muryantina
(Berikut ini adalah cerpen yg saya buat dalam rangka mengaplikasikan kemampuan saya dalam membangun setting seperti apa yang saya pelajari di mata kuliah pengkajian prosa. kritik dan saran akan sangat membantu. terima kasih).
Hari itu aku naik kereta lagi. Entah sudah yang keberapa ratus kalinya sejak aku memutuskan untuk mengambil kesempatan untuk kuliah di universitas yang letaknya terlalu jauh dari rumahku. Keputusan yang kuambil karena keputusan apapun yang kuambil akan sama saja.
Kereta pagi itu penuh. Sesak. Pengap. Manusia mana pun yang terjun ke dalamnya niscaya akan berubah wujud menjadi pepes ikan setelah keluar dari kereta itu. Ratusan orang memasuki kereta itu. Semua terlihat sama. Penuh. Padat. Sesak. Sulit bernafas. Sulit mengenali orang lain. Berkeringat. Bau keringat. Hal-hal yang sama. Tidak menarik.
Aku pun tidak mengerti mengapa setiap hari aku melakukan kegiatan yang sama. Naik kereta yang sama. Turun di stasiun yang sama. Kuliah di tempat yang sama. Pulang dari stasiun yang sama. Kadang bayar, kadang tidak. Tergantung situasi di saku celana. Kehidupan yang sama. Kehidupan yang itu-itu saja. Di satu sisi aku menikmatinya, di sisi lain aku merasa hampa.
Kadang kala, untuk mengusir kejenuhanku dalam kereta itu, aku mulai berimajinasi. Mengubah dunia kereta yang terekam dalam memoriku seperti film zaman sekarang yang penuh warna tapi membosankan. “Ganti warna,” pikirku. Itulah yang pertama kali terlintas di imajinasiku.
Aku ubah warna rekaman keadaan dalam kereta menjadi hitam putih. Ya, hitam putih. Seperti film Charlie Chaplin. Bisu. Seperti film Charlie Chaplin. Menurutku, film-film seperti itu lebih elegan. Lagipula, untuk apa mewarnai orang-orang yang pada dasarnya terlihat sama?
Berlanjut dari pengubahan warna, aku kemudian mengubah karakter-karakter yang ada dalam kereta yang kunaiki.
Ada
pasangan yang sedang berbuat tidak senonoh dalam kereta. Mereka menikmati percintaan mereka sendiri, sementara orang lain disuguhi pemandangan yang terlalu efektif untuk mengeluarkan isi perut. “Orang-orang macam ini, lebih pantas berubah menjadi sepasang kera yang sedang bermesraan,” pikirku. Lalu kuubah mereka dalam imajinasiku menjadi sepasang kera yang sedang bermesraan. Setidaknya perutku tidak mual saat melihat sepasang kera yang sedang bermesraan.
Aku melihat seorang mahasiswa laki-laki memeluk tas punggungnya di dadanya. Ia terlihat sangat hati-hati. Sangat serius. Sepertinya orang ini satu universitas denganku, karena aku sering melihatnya. “Tapi mukanya membosankan,” pikirku. Aku bertanya-tanya apakah tidak sebaiknya dia menjadi seseorang yang lebih ekspresionis, seperti Charlie Chaplin, misalnya. Dalam imajinasiku, akhirnya aku menyematkan kumis Charlie Chaplin di wajah mahasiswa itu. Bukannya terlihat lucu, wajahnya malah terlihat mirip Adolf Hitler. Tapi setidaknya, kali ini aku tertawa melihat perubahan wajahnya. Malah, aku tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa. Membayangkan Hitler mendekap tas punggung di dada sungguh menggelikan bagiku. Entah bagi orang lain. Aku pun tertawa keras. Aku tahu, di dunia nyata, orang-orang pasti sudah menganggapku gila. Aku tidak peduli. Tanggapan orang-orang berwarna yang terlihat sama tidak terlalu penting bagiku. Aku sedang berada di dunia imajinasi.
Lalu, korban selanjutnya dari imajinasiku adalah seorang ibu-ibu tua yang memegang tas selempang. Ia tidak terlihat begitu hati-hati dengan tas selempangnya. Di sebelahnya, seseorang berwajah orang rata-rata sedang mengorek-ngorek tas sang ibu tua dengan silet. Dia mengoreknya seolah ia tidak mengoreknya. Orang-orang macam ini profesional. Mereka memang memanfaatkan sempit dan sesaknya kereta di pagi hari. Dalam imajinasiku, si pengambil kesempatan profesional terlihat seperti kancil yang banyak akal. Binatang imajiner yang tertanamkan di memoriku sejak ibuku pertama kali menceritakannya padaku 15 tahun yang lalu. Tas si ibu tua berubah menjadi timun yang dihiasi perangkap. Si ibu tua sendiri, dalam imajinasiku, berubah menjadi ibu petani.
“Kenaaa!!” tiba-tiba si ibu tua berteriak memegangi tangan si pengambil kesempatan profesional. Cengkramannya begitu kencang sampai-sampai tak bisa dilepaskan oleh laki-laki calon pencopet handal itu. Lalu ia menahan pria biasa-biasa saja itu dengan sebuah borgol yang entah dari mana datangnya. Ini kejadian di dunia nyata.
Di dunia imajinasi, aku menyaksikan si ibu petani menangkap si kancil dengan timun berperangkapnya. Ia melompat-lompat kegirangan, mengikat kancil yang sudah tak berdaya, memanggulnya pulang, lalu menyate si kancil.
Di dunia nyata, semuanya lebih membosankan. Si ibu hanya menyeret orang yang berniat merampoknya itu saat keluar kereta. Orang-orang mengerumuninya.
Ada
yang mengambil kesempatan memukulnya. Lalu, orang-orang pun membantu si nenek menyeretnya ke pos polisi terdekat.
Aku keluar dari kereta. Terpaksa. Sudah sampai di stasiun. Kudapati semua adegan hitam putih telah hilang. Berganti aneka warna. Kembali membosankan. Kembali sama. Tapi setidaknya, aku bisa melihat film-film menarik di dalam kereta tadi. Kereta yang sama, yang setiap hari kunaiki.
Jakarta, 18 Maret 2008
Kalo yang ini dimuat di blog Nyanyian Bahasa tahun 2009
Sang Pendongeng
oleh Rima Muryantina
“Neng tahu? Saya ini veteran perang kemerdekaan.”
Supir bajaj itu mulai bercerita lagi. Cerita yang berbeda dengan kemarin, seperti biasa. Kemarin ia bercerita bahwa ia adalah mantan atlet yang pernah berjasa di beberapa kejuaraan bertaraf daerah, nasional, dan internasional. Sekarang ia bernostalgia bak mantan prajurit yang pernah mendapatkan titah langsung dari Jendral Sudirman. Aku mendengarkan Si Pak Supir itu bercerita.
Alur cerita yang ia tuturkan itu sangatlah mulus. Aku rasa dia memiliki kemampuan bercerita lisan yang sangat fasih. Mulutnya itu berbicara bagaikan jemari penulis yang telah lihai menulis sehingga dapat terus menulis saat menutup mata. Lihai seperti jemari seorang pianis –ah aku lupa siapa namanya? Bethoveen-kah? – yang melompati tuts satu ke tuts lain tanpa terputus, meskipun mungkin pendengarannya tidak terlalu sempurna. Tidak terhenti seperti reli panjang dua pemain bulutangkis yang sama kuat dan sengitnya, meskipun mungkin lutut salah satu pemain harus tersakiti ketika tersungkur menahan serangan dari pihak lawan.
Fasih. Fasih sekali cerita yang ia kisahkan padaku setiap kali aku pulang dengan bajajnya. Seolah-olah apa yang ia nyatakan itu benar-benar terjadi. Benar-benar nyata. Aku pun hampir mempercayainya. Seandainya aku tidak hampir tiap hari sengaja menghampiri bajaj yang sama di jam yang sama untuk pulang ke rumah, seandainya ini kali pertamanya aku bertemu dengannya, aku mungkin akan percaya. Dulu saat pertama kali bertemu dengannya, aku sempat percaya pada ceritanya.
Ah, mungkin sebaiknya kuceritakan dulu sedikit bagaimana pertemuanku dengan supir bajaj yang pandai mendongeng ini. Aku mahasiswa, kurang suka untuk menerangkan sesuatu berlompat-lompat dan tidak sistematis. Sayangnya, aku hanya ahli dalam menyusun sistematika penelitian. Untuk menceritakan apa yang kualami sehari-hari, seperti halnya pertemuanku dengan supir bajaj itu, aku sama sekali tidak sistematis.
Bisa dibilang, supir bajaj itulah yang justru jauh lebih fasih, lebih sistematis, lebih kreatif, lebih logis, dan lebih segala-galanya dariku dalam kemampuan bercerita. Meskipun mungkin cerita yang ia kisahkan hanyalah fiksi yang sudah terlalu lama berputar-putar dalam alam imajinasinya yang sudah sangat frustrasi berharap untuk dikeluarkan.
*******
Saat itu hari pertamaku pulang kuliah dari kampus yang jaraknya cukup jauh dari rumahku. Aku biasanya naik bus. Turun di terminal. Tapi setelah itu aku harus menggunakan suatu kendaraan untuk mencapai rumahku. Taksi terlalu mewah. Ojek? Ah, aku tak pernah suka kendaraan itu.
Oleh karena itulah aku menjatuhkan pilihanku pada bajaj. Ada beberapa bajaj di sekitar terminal saat itu. Tapi bajaj yang paling dekat jaraknya dariku adalah bajaj yang dimiliki Pak Supir yang suka mendongeng itu.
Awalnya ia seperti supir bajaj pada umumnya. Membukakan pintu untuk pelangannya, menanyakan arah tujuan, dan menawarkan harga, “Tujuh ribu, ya, Neng.” Perawakannya sama saja dengan supir bajaj lain, hanya saja ia jauh lebih tua dari supir bajaj pada umumnya. Rambutnya itu sudah terlalu putih. Nampaknya lebih mudah mencari ubannya daripada rambut hitam yang masih bertahan di kepalanya.
Kemudian Si Pak Tua itu mulai bercerita. Saat pertemuan kami yang pertama, ia bercerita bahwa ia adalah mantan musisi keroncong. Ia ceritakan seluk-beluk dunia keroncong Indonesia dengan detail. Aku takjub, dan karenanya aku percaya. Aku sama sekali tidak memotong ceritanya. Aku ini memang orangnya begini. Tidak suka berbicara dengan orang asing. Jadi aku dengarkan apa saja yang dibicarakan oleh orang asing yang mengajakku bicara. Biasanya dengan menjadi pendengar yang setia, orang-orang asing itu akan bosan sendiri dan berhenti bicara dengan sendirinya. Tapi Pak Supir ini agak berbeda, ia terus melanjutkan ceritanya dengan berapi-api. Tidak peduli aku hanya menanggapinya dengan mengangguk disertai dengan kata “ya” atau beberapa kali gumaman “mmm” tanda setuju.
Aku suka mendengarnya bercerita. Sangat fasih dan lancar. Sangat menarik. Sangat nyata. Sangat akrab dengan pendengarnya. Tidak membuatku bosan seperti beberapa pembicaraan dengan beberapa orang yang tak kukenal yang membuatku frustrasi menunggu kapan mereka berhenti bicara.
Begitulah ia selesai bercerita ketika sampai di depan rumahku. Entah kenapa ia juga memiliki timing yang sangat cermat dalam bercerita. Aku turun, memberikan uang, dan ia mengucapkan terima kasih lalu ia pergi. Seperti halnya dengan supir-supir bajaj lain. Aku bahkan tidak menanyakan namanya. Aku tidak berpikir akan menemuinya lagi. “Supir bajaj yang pandai mendongeng,” begitu saja pikirku saat itu.
Sekitar dua atau tiga hari kemudian, aku pulang kampus pada jam yang sama dengan hari pada saat aku pertama kali menemukan supir bajaj pendongeng itu. Saat itulah aku menemukannya lagi. Dan karena sekali lagi, ia yang berada terdekat denganku, maka aku memilihnya. Tapi nampaknya, ia sama sekali tidak mengingatku. Seperti halnya aku yang tidak pernah memandangi orang asing yang mengajakku berbicara, nampaknya Pak Supir ini pun tidak pernah memandangi penumpangnya yang ia ajak bicara. Ia hanya melihat ke depan. Sambil bercerita.
Kali ini bukan tentang musisi keroncong, melainkan tentang masa lalunya sebagai guru SD. Lalu ia bercerita layaknya guru IPS sejati. Bagaimana cara ia menerangkan pahlawan-pahlawan nasional dan cara mereka meninggal, bagaimana cara ia menjelaskan lokasi negara-negara beserta ibukotanya. Cerdas sekali untuk seorang supir bajaj yang membuat cerita fiksi.
Di pertemuan kedua aku sudah tahu, tahu betul bahwa ceritanya itu tidak nyata. Tentu saja, sebab profesi yang ia ceritakan sangatlah berbeda. Sebab di cerita pertama ia menyatakan bahwa ia dan istrinya tidak memiliki anak, namun sekarang ia bercerita bahwa ia beranak tiga dan ketiga anaknya sudah sukses dan tidak peduli lagi padanya dan istrinya. Tapi entah kenapa, aku menyukainya ceritanya. Jadi aku tidak mengeluh apapun. Aku terus mendengarkan ceritanya. Mendengar saja tanpa berkomentar apa-apa.
Sejak saat itu setiap kali pulang pada jam yang sama, aku selalu mencari bajaj yang sama. Mendengarkan cerita Pak Supir Pendongeng seolah-olah aku tak pernah mendengarnya bercerita sebelumnya. Cerita yang berbeda-beda namun sama kreatif dan meyakinkannya.
Oh ya, ada satu benang merah yang kutemukan dalam tiap ceritanya. Apapun profesinya, ia selalu berperan menjadi orang yang dilupakan. Ia selalu menambahkan komentar di akhir ceritanya, “Tapi yah… kalau sudah seperti sekarang ini, apa mau dikata. Saya hanya menjadi supir bajaj dan sudah dilupakan.”
Aku tidak berkata apa-apa. Hanya mendengarkan. Aku menikmati peranku sebagai pendengar ceritanya. Berbulan-bulan hal itu berlangsung. Aku tetap tidak mengenalnya dan dia tidak mengenalku. Kami hanya menjadi pencerita dan pendengar yang setia. Tidak lebih. Dan itu membuatku lebih dari senang.
Suatu hari, di bulan Ramadhan, aku pulang sore sekali. Saat Maghrib aku masih di dalam bus. Untungnya ada penjual minuman yang menjual air mineral. Kemudian, baru sempat kuhabiskan beberapa teguk air mineralku, supir bus sudah mengetuk pintu bus berkali-kali sambil berkata, “Habis, habis, habis, habis, habis!”
Habislah perjalananku. Aku turun di terminal.
Aku buru-buru mencari bajaj terdekat karena harus mengejar waktu Maghrib. Sempat terpikir dalam benakku mencari supir pendongeng itu, tapi rasanya tidak mungkin. Saat itu bukan jam mangkalnya. Namun saat aku sedang berjalan cepat menuju bajaj terdekat, aku mendengar suara orang berteriak,
“Tidaaakkk…!!”
Suara si kakek pendongeng. Aku tahu betul.
Lalu setelahnya, terdengar suara seorang pria yang lebih muda yang nampaknya terdengar sedang menyudutkan si kakek.
“Saya sudah muak mendengar cerita bohong Bapak! Setiap kali saya naik bajaj ini, saya selalu diceritakan cerita yang berbeda-beda! Semuanya bohong, kan? Saya naik bajaj saja kan seharusnya? Tidak perlu mendengarkan cerita bohong Bapak! Bapak ini cuma supir bajaj! Tidak lebih! Bukan veteran perang, bukan mantan atlet, bukan mantan guru, maupun mantan musisi! Kali ini pun, Bapak bukan mantan pengusaha yang jatuh miskin!”
Pria muda berkemeja rapi itu berdiri dengan pongah di sebelah si kakek dan terus membentak-bentak bapak pendongengku. Pak Supir yang suka mendongeng itu tertunduk gemetaran di samping bajajnya.
“Tidak… tidak… saya dulu memang pengusaha… memang pengusaha…” ujarnya sambil menangis-nangis.
Orang-orang di sekitarnya, bahkan sesama supir bajaj hanya terpana melihat Pak Supir Pendongeng dibentak-bentak seperti itu. Pria berkemeja rapi itu terus memaki-makinya dengan kata-kata yang tidak ingin kudengar. Pak Supir menangis-nangis sambil berkata, “Tidak…” Entah kenapa, aku merasa tidak boleh membiarkan ini semua. Aku yang biasanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa tidak ingin membiarkan pemandangan tidak menyenangkan ini terus berlangsung.
Badanku bergerak tiba-tiba. Menghampiri pria berkemeja rapi itu. Membuka tutup botol air mineral yang kupegang dengan diam-diam dan bergaya seolah tak sengaja mengayunkan tanganku hingga botol itu terlempar ke arah pria berkemeja rapi sehingga isinya pun menumpahi kemeja rapinya.
Pria itu berteriak. Memaki-makiku. Mengataiku gila. Namun semua makian itu tidak kucerna dalam pikiranku. Aku memang selalu begitu. Tidak mau mencerna kata-kata kasar yang dilontarkan padaku. Begitu lebih baik dan mudah bagiku. Sehingga aku tidak perlu sakit hati.
Oh, tapi setidaknya ada beberapa kalimat yang kumengerti dari ocehan pria berkemeja rapi itu. Bagian inilah yang kuingat.
“Apa-apaan kamu? Mau membela kakek-kakek pendusta ini? Saya hanya ingin menyadarkannya bahwa dia tidak lebih dari supir bajaj yang suka berdusta!”
Saat itu pandangan mataku menajam. Aku yang biasanya terlihat seperti orang bengong yang susah konsentrasi kini menatap pria berkemaja itu dengan tatapan tajam. Rasanya ia benar-benar telah membuatku membencinya.
“Saya tidak sengaja, Mas. Tangan saya bergerak sendiri. Mungkin tangan saya ingin menyadarkan bahwa mungkin sebaiknya Mas pulang untuk ganti baju. Sudah jam segini soalnya,” ujarku dengan tenang.
Hanya Tuhan Yang Tahu kenapa aku mengucapkan hal itu.
Pria berkemeja rapi itu memaki-makiku dengan semangat. Ia terus memakiku, tapi ia juga berjalan mundur menjauhiku. Makin lama suaranya semakin sayup. Aku hanya mendengar, “Kalau kamu bukan perempuan….” Yaaahh aku tidak peduli dia bicara apa. Memang kenapa kalau aku perempuan? Kenapa pula bila aku bukan perempuan?
Ah, aku tak terlalu peduli. Aku sibuk memberdirikan kakek pendongeng dan menenangkannya. Mengajak kakek itu masuk ke dalam bajajnya. Kembali menjadi Pak Supir yang tidak mempedulikan apapun selain mengantar penumpangnya dan bercerita pada penumpangnya.
Akulah penumpangnya itu. Penumpang yang selalu setia mendengarkan setiap ceritanya. Aku pinta Pak Supir yang sibuk menahan air mata itu untuk mengantarku ke rumahku. Ia menyanggupi.
“Tapi Neng percaya kan dulu saya pengusaha? Saya tidak bohong kan, Neng? Orang itu yang bohong?” ujar Pak Supir minta diyakinkan.
“Ya,” jawabku singkat. “Tapi kita agak cepat dikit ya, Pak. Saya ngejar Maghrib,” pintaku.
Pak Supir menyanggupi dan mulai menjalankan bajajnya.
Selama di perjalanan, ia sempat berdiam diri. Mungkin masih shock dengan kejadian tadi, pikirku.
Namun, ketika sampai di lampu merah, aku mendengarnya mulai bercerita lagi, “Saya dulu pemadam kebakaran loh, Neng.”
Aku menatap mata Pak Supir lewat spion. Air matanya sudah berhenti meskipun belum kering. Hatiku merasa lega. Aku kembali mendengarkan ia bercerita. Kami tetap tidak saling mengenal. Aku pendengar, dia pencerita. Sesampainya di rumah, aku masih sempat solat maghrib.
Jakarta, 25 Juni 2009
Kalo yang ini dimuat di majalah GADIS (21 April -1 Mei 2005) Pengaduan Panca Indera
Oleh: Rima Muryantina
“Katakanlah padaku, wahai Mata-ku. Mengapa kau terpejam?” tanya Putra terhadap matanya sendiri. “Aku letih melihat dan menangis,” jawab si Mata. “Apa yang kau lihat?” tanya Putra lagi. “Yang kulihat adalah kekerasan. Aku letih melihat orang memukul seenaknya. Aku letih melihat orang mau saja dipukul seenaknya. Aku letih melihat orang saling memukul….” “Lantas apa yang kau tangisi?” “Yang kutangisi adalah diriku yang tak bisa berbuat apa-apa untuk menghapus tontonan-tontonan kekerasan itu dari pandanganku….” “Siapa yang mempertontonkan itu padamu?” “Namanya Tradisi.” “Siapakah ia?” “Tradisi itu adalah suatu makhluk kecil. Tapi ia kuat dan bisa memimpin, mengayomi, dan merekrut banyak orang untuk melakukan hal-hal yang ia inginkan.” “Jadi kau memilih untuk terpejam?” tanya Putra lagi. Si Mata tak menjawab. Putra memegang matanya penuh pengertian dan rasa iba. “Wahai Mata-ku, terpejamlah. Sungguh hanya padaku kau menceritakan penderitaanmu. Maka kuizinkan kau terpejam.” Tiba-tiba salah satu panca indera lain di tubuh Putra, Telinga menjerit padanya. “Hai, Putra! Jika kau biarkan Si Mata terpejam, maka izinkanlah aku tertutup juga. Mata bisa memejam sendiri. Aku tak dapat menutup lubangku sendiri!” Putra bertanya pada Telinga, “Apa yang menyebabkanmu ingin sekali tertutup?” “Aku letih mendengar hingar bingar. Gendangku terasa sakit sekali. Congek yang ada di sisiku pun tak dapat menyembuhkan rasa sakit itu!” adu Telinga penuh emosi. “Hingar bingar apa itu?” Putra bertanya lagi. “Hingar bingar makian. Hingar bingar cacian. Dipenuhi dengan kata-kata kasar serta ancaman. Suara orang dipukul, suara orang meronta. Suara barang dipecahkan. Suara barang dijatuhkan. Suara robekan baju dan jaket. Semua suara itu membuatku menderita!! Jangan kau pikir Si Mata saja yang menderita! Aku juga menderita!” “Siapa yang memperdengarkan suara-suara itu padamu?” tanya Putra penasaran. “Tradisi,” jawab Telinga. Putra terdiam sejenak. Kemudian ia mengambil walkman dari tasnya. Diambilnya kaset album kompilasi Get Free Volume 2 yang baru saja ia beli. Dimasukkannya kaset itu ke dalam walkman. Ditekannya tanda play di walkman tersebut. Dan diletakannya earphone yang terhubung dengan walkman tersebut di telinganya. “Istirahatlah, wahai Telinga-ku. Aku tahu lagu-lagu ini adalah lagu-lagu kesukaanmu. Maka nikmatilah sepuasmu. Dan kau tak perlu lagi mendengar hingar bingar,” ujar Putra terhadap Si Telinga. Kemudian Putra termenung sejenak. Menemani Si Mata yang terpejam dan Si Telinga yang sedang mendengarkan nyanyi-nyanyian. Dalam hati Putra mempertanyakan hal-hal yang tak akan terjawab. Siapakah Tradisi itu sebenarnya? Mengapa ia begitu kuat? Sekuat itukah ia sehingga ia bisa menyakiti sekaligus kedua mata dan kedua telinganya? Apakah Si Mata dan Si Telinga sudah melakukan perlawanan pada Tradisi yang merusak ketenangan mereka? Diam-diam Si Lidah mencuri dengar tanda tanya yang ada di hati Putra. “Hai, Putra! Mana bisa Si Mata dan Si Telinga melawan! Itu tugasku untuk melawan!” seru Si Lidah tiba-tiba. Putra terkejut dengan ucapan Si Lidah. “Lalu? Sudahkah kau melawannya?” tanya Putra lagi. “Sudah!” jawab Si Lidah lantang. “Lalu bagaimana?” tanya Putra lagi. “Aku sudah berusaha meneriakkan semua ketidaksukaanku pada segala hal yang ditonton oleh Si Mata. Pada segala hal yang didengar oleh Si Telinga. Aku ucapkan semua hal yang menurutku dapat mengusir Si Tradisi. Tapi ia tak kunjung pergi. Ia semakin menjadi. Dan karena ia bisa mengayomi, memimpin, dan merekrut banyak lidah-lidah lain, maka aku kalah bertengkar dengan lidah-lidah tersebut….” “Akhirnya?” “Akhirnya aku letih bicara. Maka aku ingin diam,” pinta Si Lidah. Putra kemudian menutup mulutnya seraya menggigit lidahnya sejenak. “Diamlah, Lidah-ku. Sesungguhnya hanya aku yang mengerti perjuanganmu. Maka biarlah kau beristirahat. Jika kau masih sanggup, senandungkanlah lagu-lagu yang didengar oleh Telinga. Itu juga dapat membantu Mata untuk tertidur pulas….” Maka Si Lidah pun bersenandung kecil dan pelan. Menyanyikan lagu-lagu yang didengar Si Telinga. Me-ninabobo-kan Si Mata. Putra pun terhanyut tenang bersama ketiga alat inderanya. Tapi kemudian ada suara panggilan yang mengusik ketenangannya. “Putra!” suara itu memanggil. Putra terkejut. Ia bertanya-tanya. Darimana datangnya suara itu. “Putra, ini aku! Tolong aku!” “Siapa?” tanya Putra. “Aku Kulit-mu!” “Kulit? Kaukah itu? Ada apa?” Putra bertanya dengan nada khawatir. Mencemaskan permintaan tolong yang tadi diajukan Si Kulit. “Apakah kau juga dilukai oleh Tradisi?” tanyanya pada Si Kulit. “Putra. Ternyata ucapan Si Lidah pada Tradisi dan para pengikutnya membuatku terluka. Lihat! Aku berdarah!” Si Kulit menunjukkan luka-luka yang menggoresnya. Darah banyak keluar dari ujung pori-porinya. “Tradisi tak puas dengan hanya menyiksa Si Mata, Si Telinga, dan Si Lidah. Tradisi tak suka dilawan. Ia benci perlawanan. Makanya ia menyuruh para pengikutnya untuk memukulku, menusukku, menggoresku! Obati aku, Putra! Sesungguhnya di antara kelima alat inderamu, akulah yang paling menderita!” Si Mata tiba-tiba mengucurkan air mata melihat luka-luka Si Kulit. “Tolonglah ia, Putra. Aku sudah tak mau menangis lagi….” ujar Si Mata pada Putra. Tiba-tiba Si Lidah yang bersenandung pun akhirnya angkat bicara. “Maafkan aku, Kulit. Ini semua salahku. Seandainya saja aku tak bicara…. Ah, Putra! Pokoknya tolonglah Kulit. Aku kan sudah letih bicara,” ujarnya. “Ya, Putra. Tolonglah Kulit. Ia sudah terlalu menderita. Aku pun mendengar sendiri suara goresan yang melukai pori-porinya. Suara pukulan yang menghantamnya. Lagu-lagu yang menenangkan rasa ini tak akan dapat menenangkanku bila aku masih mengingat suara-suara pukulan dan goresan yang kudengar,” Telinga juga memohon kepada Putra. Putra pun berjalan ke arah ruang kesehatan. Di sana, ia mengambil beberapa obat dan perban yang bisa menahan darah yang mengalir di atas Si Kulit. Ia mengobati Si Kulit. Setelah itu direbahkannya tubuhnya ke tempat tidur. Si Kulit beristirahat terbalut perban. Si Mata terpejam. Si Telinga mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Si Lidah menyenandungkan lagu-lagu tersebut dengan tenang. Semua terasa damai. Untuk beberapa lama, Putra tak mendengarkan suara keluhan dari mana pun lagi. Setelah dipikir-pikir, hanya Si Hidung yang belum berkeluh kesah padanya. Putra kemudian iseng bertanya pada Si Hidung, “Hei, Hidung! Kau diam saja dari tadi. Apa kau baik-baik saja?” Si Hidung tertawa kecil. “Ha ha ha…. Aku Si Hidung yang paling beruntung! Yang kucium hanya bau kentut!” Putra ikut tertawa mendengar pengaduan Si Hidung. Setidaknya ia bersyukur. Masih ada satu alat inderanya yang tidak dibuat menderita oleh Tradisi. Betapa tenangnya Putra bersama panca inderanya. Si Mata terpejam. Si Telinga mendengar lagu. Si Lidah bersenandung. Si Kulit beristirahat terbalut perban. Dan Si Hidung mencium bau…. Yah meskipun bau tak sedap, tapi setidaknya tidak membuatnya terlalu tersiksa. Tiba-tiba, di tengah kedamaian itu, Si Hidung menjerit. “Aduh!” seru Si Hidung. Sekejap Si Mata terbuka. Si Telinga mendengar. Si Kulit merasa sakit lagi. Dan Si Lidah bertanya, “Ada apa Hidung?” Putra sendiri dalam hatinya juga bertanya, “Ada apa Hidung? Apa kau mencium sesuatu yang tidak kau sukai?” “Aku mencium darah! Iiiih! Aku tak suka bau darah! Jijik!” jerit Si Hidung. “Putra, tolong sumbat lubangku! Lebih baik aku disumbat dengan 1 liter virus influensa daripada harus mencium bau darah!” “Pasti ulah Tradisi!” bentak Si Lidah. “Iih…. Tradisi lagi, Tradisi lagi!!” Si Mata mulai menangis. “Aku tak mau dengar apapun soal tradisi!!” Si Telinga menjerit. “Tidak! Kalau kita melawan, aku akan terluka lagi!” seru Si Kulit dari balik balutan perban. Putra pun menjadi geram. Sudah cukup baginya semua pengaduan dari panca inderanya. Makhluk yang bernama Tradisi ini sudah tak dapat diberikan tenggang rasa lagi. Sudah tak dapat diberikan maaf lagi. “Kita harus melawan!” gertak Putra tiba-tiba. Seluruh panca indera milik Putra terkejut. Mereka memekik nyaris bersamaan, “TIDAAAK!!!!!” seru Si Mata. “JANGAAAN!!!!” seru Si Telinga. “Putra, kau tega sekali pada kami!!!” seru Si Lidah. “Putra, kami tak mau terluka lagi!!” seru Si Kulit. “Putra, jika kau melawan Tradisi, berarti kau membunuh kami! Kau membunuh dirimu sendiri!!” seru Si Hidung. “DIAAAMMM!!!” bentak Putra. “Diam kalian semua!” Semua panca indera milik Putra pun terdiam. Mereka menghentikan semua pengaduan mereka pada Putra. Putra menarik nafas. Mencoba menjelaskan pada kelima panca inderanya. “Bukan tujuanku untuk membunuh kita. Aku bukan melawan Tradisi untuk membunuh kita! Aku membunuh kita untuk melawan Tradisi!” serunya dengan lantang. “Tujuanku adalah melawan Tradisi! Bukan membunuh kita!” Sejenak hening. Kemudian Putra memberi perintah pada Si Hidung. “Hidung, tuntun aku ke arah bau darah tersebut! Pasti Tradisi ada di sana!” Si Hidung menurut. Ia pun menuntun Putra menemukan Tradisi. ******* Akhirnya Putra melihat makhluk kecil bernama Tradisi itu. Makhluk yang selama ini telah mengganggu ketenangannya dan kelima panca inderanya. Makhluk menyeramkan yang bisa mempengaruhinya kapan saja itu bergerak bersama ratusan pengikutnya yang membabi buta. Mereka saling memukul, saling menonjok, saling menggores. Menebarkan bau darah yang tercium oleh Si Hidung. Mempertontonkan adegan kekerasan pada Si Mata. Memperdengarkan suara-suara makian, cacian, pekikan, rintihan, dan rontaan pada Si Telinga. “Kumohon, Lidah. Bantulah aku, untuk terakhir kalinya. Lantanglah! Lantanglah berbicara!” perintah Putra pada Lidah-nya. Si Lidah pun menurut. Meskipun ia tahu ini adalah untuk yang terakhir kalinya ia akan lantang berbicara. “Wahai, Tradisi!” panggilnya menantang makhluk kecil yang mengerikan itu. “Kau mungkin telah sukses mengayomi, memimpin, dan merekrut banyak orang untuk melakukan apapun yang kau inginkan!” Tradisi dan para pengikutnya pun menoleh ke arah Putra dan panca inderanya. “Tapi ingatlah satu hal! Kau tak akan pernah bisa mengayomi, memimpin, dan merekrut aku untuk melakukan hal-hal yang kau inginkan!” Putra dan Lidah-nya kembali menantang Si Tradisi. Tradisi terlihat murka. Kemurkaannya itu ia salurkan kepada para pengikutnya. Ia perintahkan pada para pengikutnya untuk menyerang Putra dan kelima panca inderanya. Salah seorang pengikutnya yang membawa cutter di tangannya berusaha melukai Si Kulit. Tapi kemudian Putra memegang tangan Si Pengikut Tradisi tersebut. “Kau tak perlu sungkan untuk melukaiku!” bentak Putra padanya. Kemudian Putra mengambil cutter dari Si Pengikut Tradisi dan kemudian menggunakan cutter itu untuk menusuk Si Mata dan Si Hidung, memotong Si Telinga dan Si Lidah. Kemudian Putra mengiris seluruh bagian kulit arinya. Tradisi dan para pengikutnya sangat terkejut. Darah Putra menetes di mana-mana. Mengalir membanjiri seluruh sekolah. Membasahi kaki-kaki para pengikut Tradisi. Namun Putra hanya tersenyum. Dan dengan sedikit nafas yang masih tersisa, ia menertawakan Tradisi dan para pengikutnya. “Dengan begini, kalian tak akan bisa melukai kami lagi!” desisnya dengan lirih. Jakarta, 30 September 2004