Mulai kemarin sampe kira-kira 2 minggu ke depan gue bakal di Indonesia buat liburan. Pulang kampung lah istilahnya. Belom apa2 gue udah kangen banget sama Canberra (itu kota paling gue suka di dunia ini. huuuu...huuuu...)
Baru sampe di Jakarta, gue udah merasakan shock culture bgt pulang ke negara sendiri. Padahal baru 5 bulan nggak ketemu.
1. Pas gue berangkat, Canberra -4 derajat. Sydney ga sedingin itu, tapi masih lumayan dingin lah karena Australia emang lg winter. Pas berangkat gue pake jaket dan varsity ANU yg tebel (ditambah di dalemnya gue pake baju lapis dua). Pas nyampe Soekarno-Hatta gue langsung gerah banget. Untung nyampenya malem. Nggak kebayang kalo siang2 gue pake baju tebel gitu di Jakarta. LOL.
2. Kiri-kanan gue mendadak banyak sampah. Di Canberra sampah tu bisa dihitung sama jari.
3. Banyak banget orang. Di Canberra masih lebih banyak burung sama kelincinya daripada orangnya mungkin.
4. Antrian di Soetta agak berantakan. Bahkan mobil2 banyak yg ngelanggar aturan. Yah... ini tentu berbeda.
5. Pulang dari Soetta ke rumah makan waktu 3 jam lebih karena macet parah. Padahal rumah gue ga terlalu jauh, di Jakarta Selatan. 3 jam lebih itu kalo naik bus (dan biasanya lancar) sama kyk dari Sydney ke Canberra T_T
6. Sampe di rumah, internet lemotnya bikin istighfar. *di Australi jarang bgt kyk gini*
7. Orang2 yg mukanya macam Gaspard Ulliel dan Zhang Ziyi kagak ada lg di sekeliling gue *gilaaaa... gue langsung kangen temen2 gue di ANU. hahaha.
8. Positifnya, gue akhirnya ketemu keluarga gue setelah sekian lama dan di sini bisa makan lebih banyak tanpa menghabiskan biaya yg terlalu mahal.
9. Positifnya lagi, pagi ini akhirnya gue bangun Subuh karena suara adzan. Udah lama banget nggak denger suara adzan di Australia. 
Agak muak melihat beberapa komentar di dunia maya yang seolah-olah mewajari contek massal. Ya, saya tahu itu sudah dari dulu terjadi. Tapi sejak dulu saya selalu ingin hal itu terbongkar dan ada yang menangani dengan serius. Bukan pura2 seolah2 tidak terjadi apa2. Kemudian banyak yg mewajari hal itu karena katanya para pendidik hanya ingin anak didiknya lulus. Bila begitu, sebenarnya apa tujuan dari "mendidik?" Sekedar meluluskan anak tanpa menanamkan nilai-nilai pendidikan justru menunjukkan sikap tidak mendidik. Itu malah akan membawa keburukan bagi anak didiknya sendiri. Efek jangka panjangnyalah yang harus dipertanyakan. Suatu hari anak yang "dididik" itu akan merasa tindakan tidak jujur dan tidak bertanggung jawab adalah benar. Dan sikap tidak jujur dan tidak bertanggung jawab ini akan terus menular. Dan bangsa Indonesia akan terus saling menyalahkan akibat hal2 buruk yang terjadi akibat tindakan2 tidak jujur dan tidak bertanggung jawab ini. Dan semuanya akan berputar kembali seperti lingkaran setan. Tidak akan ada solusi karena kita tidak menyadari bahwa masalahnya ada pada diri kita sendiri dan hal yang sudah mendarah daging dalam diri kita.
Dan entah kenapa saya tetap tidak habis pikir. Kalau dalam agama yang saya yakini, semua perbuatan itu ada pertanggungjawabannya di akhirat. Dan manusia wajib untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Tapi mengapa orang-orang yang memberitahu pada hal yang benar malah dimusuhi, dianggap merusak kehidupan orang lain (padahal niatnya justru untuk menolong orang lain dari merusak hidupnya sendiri), dianggap munafik, dianggap sok suci, dsb, dst.
Ya sudahlah. Mungkin memang Allah tidak akan menolong suatu kaum bila kaum itu tidak mau menolong diri mereka sendiri. Mungkin itu juga yang sudah terjadi sekarang. Kita tidak tahu dan tidak sadar lagi di mana letak kesalahan kita. Dan terbuai dalam kesalahan itu hingga kita mewajarinya. Dan yang benar jadi salah. Yang salah jadi benar.
Seperti kata Alex Turner di lagu Plastic Tramp:
"My lack of proof is your disguise...This world is full of most unkind. And now horrible's redefined. I can't imagine that you mind at all."
NB: Nggak cuma masalah nyontek yang jadi hal2 tak wajar yg diwaari. Tawuran di SMA gue dulu jg udh dianggap wajar. Senioritas dan ospek yang keterlaluan juga dianggap wajar. Korupsi uang kantor di kantor2 juga dianggap wajar. Meluluskan mahasiswa yang belum pantas lulus hanya karena dia anak pejabat X atau Y dianggap wajar. Tidak membayar gaji pada pegawai dianggap wajar karena dianggap dia pegawai non-tetap yang merupakan anak orang kaya. Saya benar2 udah nggak ngerti lagi. Saya PUTUS ASA dengan bangsa kita yang terlalu banyak mewajari hal-hal yang tidak wajar.