Midori no Nikki pindahan dari yg di bloggaul

Blog Category: Keluarga
Apr
15
2011

16 April

Oleh: Rima Muryantina

Pada suatu waktu di masa depan nanti akan tiba suatu masa di mana semua makhluk hidup berkelompok-kelompok dan menutup diri dari kelompok yang berbeda dengan kelompoknya . Orang-orang kaya akan bergaul dengan orang-orang kaya saja. Orang-orang miskin hanya menyapa orang-orang miskin saja. Orang yang berpenampilan cantik dan tampan tidak akan saling tegur dengan yang berpenampilan jelek. Orang yang tergila-gila dengan ilmu pengetahuan tidak bertukar pikiran dengan yang malas menuntut ilmu. Orang yang suka olahraga tidak berkelompok dengan para seniman. Tentu saja, manusia tidak mungkin dibedakan semudah itu. Jadi tentunya masih ada kesempatan bagi kelompok yang berbeda untuk berkomunikasi dengan kelompok lain. Tapi setiap orang yang ingin menjalin keakraban dengan orang lain, harus minimal menemukan satu kesamaan antara diri mereka. Jadi, orang-orang pada masa itu tidak akan saling menyapa dengan “Apa kabar”, “Halo”, “Salam Kenal” atau “Senang Berkenalan Denganmu.” Orang-orang pada masa itu akan bertanya “Apakah kamu suka X? Apakah kamu melakukan Y? Apakah kamu tahu Z?” Mereka menyatakan itu hanya untuk memancing pihak lawan bicara tentang hal-hal apa yang akan menjadi kesamaan atau kemiripan di antara mereka. Apabila tidak ada kesamaan sama sekali setelah melontarkan 10 pertanyaan, ada norma tidak tertulis yang memaksa mereka untuk sebaiknya saling meninggalkan lawan bicara dan mengubur harapan untuk dapat berteman karena perbedaan adalah hal yang sangat tabu pada masa itu. Orang-orang pada masa itu telah mempelajari hal dari masa lalu mereka bahwa perbedaan dapat menyebabkan pertikaian, perang, konflik, dan segala macam masalah di dunia ini yang tidak perlu terjadi. Oleh karena itu, sebaiknya orang-orang yang terlalu berbeda tidak perlu saling berurusan. Dan meskipun segregasi seolah-olah tercipta dalam lingkungan masyarakat masa depan ini, setidaknya cara komunikasi mereka yang selektif membuat kehidupan mereka jadi lebih damai. Kehidupan orang-orang pada masa ini sangat damai, jarang konflik, karena tanda-tanda konflik sudah dihindari sejak awal pertemuan dengan manusia lain.

Sistem pergaulan semacam ini tentunya tidak terjadi dalam kehidupan perhewanan, karena mereka memiliki sistem hidup yang berbeda dengan manusia. Mereka tidak perlu mengkhawatirkan perbedaan dan persamaan yang ada karena bagi mereka itulah kaidah kehidupan. Bila tidak ada perbedaan, maka karnivor tidak akan memakan herbivor, dan herbivor tidak akan memakan rumput, insektavor tidak akan memakan serangga, dan rumput tidak akan tumbuh dari tanah. Hewan-hewan masih mempercayai sistem rantai kehidupan yang saling melengkapi ini dan mereka membiarkan hidup mereka terjadi secara alami tanpa  adanya manipulasi cara hidup karena itulah yang mereka lakukan sejak zaman dahulu dan tidak akan ada yang protes bila singa memakan rusa atau bila anjing tidak akur dengan kucing. Tapi tentunya hal ini tidak berlaku dalam dunia manusia karena manusia pada masa itu berpikir tidak baik bagi sesama manusia untuk saling memakan dan saling menyerang hanya karena mereka saling berbeda. Oleh karena itu, perbedaan harus dihindari dari tahap awal interaksi dengan manusia lain. Pada masa itu, manusia yang memaksakan diri untuk berinteraksi dengan manusia yang berbeda dengannya akan dianggap sama dengan binatang. Dan tentunya, ini mengandung makna negatif karena pada masa itu, manusia pun sangat berusaha untuk membedakan diri dengan binatang.

Suatu hari pada masa depan itu, di sebuah toko yang menjual hewan peliharaan, seekor kelinci kecil sedang memakan wortel yang diberikan padanya dengan seksama. Ia tahu persis bahwa bila ia rajin memakan wortelnya dengan seksama, secara teratur, sesuai yang dijadwalkan si pemilik toko, maka ia akan segera tumbuh menjadi kelinci yang gemuk dan sehat. Dan semakin cepat ia tumbuh menjadi kelinci yang gemuk dan sehat, semakin cepat pula ia akan dipelihara oleh manusia yang mungkin akan langsung menyukainya pada pandangan pertama.  Tentu saja ia jauh lebih memilih tinggal di alam bebas seperti kelinci-kelinci dan hewan-hewan lain yang hidup secara alamiah. Tapi dibandingkan terkurung di kandang kelinci dalam toko hewan peliharaan, ia jauh lebih memilih tinggal bersama seseorang yang memeliharanya dengan kasih sayang karena menurut teman-temannya, manusia-manusia yang memelihara binatang dengan kasih sayang akan setidaknya membiarkan binatang peliharaannya berkeliaran di lingkungan halaman rumah mereka.

Di sudut yang berbeda, masih di toko hewan peliharaan yang sama, terlihat seekor landak sedang beristirahat dengan tenang. Bertolak belakang dengan sobatnya, si kelinci kecil, landak kecil ini tidak terlalu antusias tentang siapa yang akan memeliharanya kelak. Ia hanya berprinsip bahwa hidup ini harus dijalani saja karena memang seharusnya dijalani. Ia makan karena memang harus makan. Tidur karena memang harus tidur. Bangun karena memang harus bangun. Baginya hidup itu memang karena harus hidup, dan dia tidak peduli apakah dia harus terkurung dalam kandang landak atau bebas bermain-main di alam. Apa yang terjadi, terjadilah. Kira-kira begitulah pandangan hidupnya.

Si kelinci kecil, sobat si landak kecil, kadang-kadang heran melihat sikap temannya yang berada di sudut ruangan yang berbeda. Dari jauh ia selalu melihat si landak kecil yang hanya makan seadanya, tidur seadanya, dan bangun seadanya. Tidak seperti si kelinci kecil yang selalu makan sebaik-baiknya, tidur sebaik-baiknya, dan bangun sebaik-baiknya.

Hari itu, pada tanggal 16 April, si kelinci kecil bertanya pada si landak kecil, “Kenapa kamu seperti itu?”

“Seperti apa?” si landak kecil balik bertanya.

“Seperti tidak peduli dengan apa yang akan terjadi esok hari,” si kelinci kecil memperjelas maksudnya.

“Sederhana saja. Aku bukan kamu,” jawab si landak kecil. “Aku adalah landak. Kamu adalah kelinci. Fitrahmu adalah berlari dan melompat ke sana kemari. Fitrahku adalah menjalani kehidupan dengan lebih santai, meskipun kamu juga tidak bisa menyebutku pemalas.”

“Kamu tidak peduli kalau kamu tidak akan pernah dipelihara manusia?” tanya kelinci kecill lagi.

“Tidak. Dipelihara atau tidak, aku tetap hidup. Dan aku akan mati bila sudah waktunya mati,” jawab landak kecil santai.

“Kamu tidak tertarik dengan alam luar? Kamu tidak ingin punya nama? Kalau kau punya majikan, kamu akan diberi nama, loh.” kelinci kecil masih penasaran.

“Bernama atau tidak, aku tetaplah aku. Kalau aku memang ditakdirkan untuk punya nama, maka aku akan punya nama. Bila aku tidak ditakdirkan punya nama, maka selamanya kamu tetap bisa menggunakan kata “kamu” untuk merujuk pada diriku,” ujar si landak kecil mantap.

Si kelinci kecil akhirnya menyerah terhadap ketetapan hati si landak kecil. Lagipula, dia merasa perbedaan antara dirinya dan si landak kecil bukanlah masalah. Mereka tetap berteman dan mereka tidak ditakdirkan untuk saling memangsa, jadi mereka akan tetap berteman meskipun mereka berbeda. Si kelinci kecil toh bukan manusia pada zaman itu yang sangat ketakutan akan perbedaan sehingga berusaha menyeragamkan segala sesuatu, termasuk sudut pandang antara sahabat.

Beberapa jam kemudian, masih tanggal 16 April, namun kali ini hari agak siang menjelang sore, seorang laki-laki muda dan serang perempuan muda datang ke toko hewan peliharaan tersebut. Keduanya memiliki kesamaan: mereka ingin membeli seekor hewan peliharaan. Dan keduanya kembali memiliki persamaan, yakni mereka melihat si kelinci kecil yang gemuk, sehat, lucu, dan lincah secara bersamaan. Dan keduanya memiliki kesamaan lagi, yakni mereka sama-sama menginginkan kelinci kecil itu.

Dan ajaibnya, mereka memiliki kesamaan lagi, yaitu mereka sama-sama memegang kandang si kelinci kecil pada saat yang bersamaan. Pada detik itu juga, mereka memegangnya bersamaan, tidak ada yang mendahului.

Dan kemudian mereka menatap secara bersamaan dengan tatapan yang sama-sama mengancam satu sama lain. Lalu mereka pun berucap secara bersamaan, “Kelinci ini punyaku.”

Terkejut dengan kebersamaan mereka yang terlalu sama, mereka pun berusaha mengucapkan kata-kata lain secara tidak bersamaan. Hasilnya, mereka malah kembali mengatakan hal yang sama secara bersamaan, “Aku duluan yang lihat dia.”

Lalu kemudian kedua anak muda itu saling berargumen dengan argumen yang sama dan saling menghardik dengan hardikan yang sama dan saling menghasilkan keributan yang sama.

Si kelinci kecil yang energik itu hanya memandang keduanya dengan kebingungan. Dari jauh, dari sudut ruangan yang berbeda, si landak kecil memandang dengan pandangan datarnya. Sebenarnya dalam hatinya ia merasa iri pada si kelinci kecil yang sangat diinginkan keberadaannya. Tapi kemudian si landak kecil kembali pada prinsip awalnya bahwa apa yang terjadi memang harus terjadi. Lalu ia menerima kenyataan bahwa si kelinci kecil lebih diinginkan daripada dirinya dan melupakan semua rasa iri hati yang baginya tidak perlu. Jadi ia mengalihkan pandangannya dari pertengkaran dua anak muda yang memperebutkan si kelinci kecil itu dan mulai kembai makan seadanya seperti seharusnya ia makan.

Ajaibnya, tidak lama setelah ia melaksanakan aktivitas seadanya itu, sang pemuda yang sudah muak bertengkar dengan sang gadis, akhirnya mengalihkan pandangannya ke sudut lain ruangan. Ia melihat seekor landak kecil sedang meringkuk di dalam sebuah kandang. Sekejap, semua kesamaannya dengan si gadis berubah menjadi perbedaan. Ia tidak lagi menginginkan si kelinci kecil. Ia lebih tertarik dengan si landak kecil di sudut ruangan. Meskipun tentunya sebagai penyayang kelinci ia jauh lebih menyukai si kelinci kecil, tapi si landak kecil ini tidaklah buruk untuk dijadikan hewan peliharaan. Si pemuda pun bisa belajar sekali-kali untuk merawat hewan yang berbeda dengan jenis hewan yang ia sukai, setidaknya itu yang ia pikirkan saat itu. Selain itu si pemuda berpikir bahwa ia jauh tidak menyukai harus terus menerus bertengkar dengan si gadis yang terlalu memiliki banyak persamaan dengan dirinya. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengenyahkan keinginannya untuk memiliki si kelinci kecil, dan memutuskan untuk membeli si landak kecil.

“Ambil kelinci itu. Mungkin sebaiknya aku ambil landak ini,” ujar si pemuda pada akhirnya.

“Terima kasih,” ujar si gadis yang tadinya sempat heran mengapa si pemuda akhirnya berubah pikiran. Namun setelah kata “terima kasih” itu terlontarkan dari mulutnya, senyum pun teruntai di wajahnya dan ia merasa lebih merasa nyaman dan menghargai keberadaan pemuda yang tadinya terlalu sama dengan dirinya tersebut.

“Maaf tadi sudah ngotot,” perempuan muda itu bahkan meminta maaf dengan tulus.

“Tidak apa-apa. Tadi aku juga ngotot,” ujar lelaki muda itu sambil tersenyum.

Baru pertama kali sejak dilahirkan, si kelinci kecil dan si landak kecil melihat akomodasi antar manusia terjadi di hadapan mata mereka. Akomodasi itu terjadi bukan karena persamaan, melainkan karena perbedaan.

Hari itu, pada tanggal 16 April, si kelinci kecil menatap tersenyum pada si landak kecil sobatnya, yang ternyata juga tersenyum dari kejauhan. Mereka tahu itu mungkin kali terakhir mereka bertemu, atau mungkin  hanya hari terakhir mereka bersama-sama di dalam toko hewan peliharaan itu karena siapa tahu mereka masih bisa bertemu di lain kesempatan. Tapi mereka tidak bersedih. Karena mereka tahu pada hari itu, mereka memiliki kesamaan, yakni mereka sama-sama dipelihara dan mereka sama-sama diberi nama.

Canberra, 16 April 2011

Views: 396
Posting: 15-Apr-2011 21:48:14 WIB
Comments: 0 comments
Category: Cerpen, Keluarga, Kehidupan Sehari2