kan kalo si Nietzche, the overrated philosopher itu ngomongnya gini ya:
"What doesn't kill you makes you stronger."
Nah temen gue nih, ada yg pinter bgt nih... pagi2 dia ngetweet:
"What doesn't kill you will try to kill you next time in a more miserable way. Life is like the final destination movie."
gue mah lebih percaya sm temen gue ini dah daripada sama Nietzche. LOL.
Well, some people say that my friends and I are too pessimistic and negative toward life. We're just being realistic.
Agak muak melihat beberapa komentar di dunia maya yang seolah-olah mewajari contek massal. Ya, saya tahu itu sudah dari dulu terjadi. Tapi sejak dulu saya selalu ingin hal itu terbongkar dan ada yang menangani dengan serius. Bukan pura2 seolah2 tidak terjadi apa2. Kemudian banyak yg mewajari hal itu karena katanya para pendidik hanya ingin anak didiknya lulus. Bila begitu, sebenarnya apa tujuan dari "mendidik?" Sekedar meluluskan anak tanpa menanamkan nilai-nilai pendidikan justru menunjukkan sikap tidak mendidik. Itu malah akan membawa keburukan bagi anak didiknya sendiri. Efek jangka panjangnyalah yang harus dipertanyakan. Suatu hari anak yang "dididik" itu akan merasa tindakan tidak jujur dan tidak bertanggung jawab adalah benar. Dan sikap tidak jujur dan tidak bertanggung jawab ini akan terus menular. Dan bangsa Indonesia akan terus saling menyalahkan akibat hal2 buruk yang terjadi akibat tindakan2 tidak jujur dan tidak bertanggung jawab ini. Dan semuanya akan berputar kembali seperti lingkaran setan. Tidak akan ada solusi karena kita tidak menyadari bahwa masalahnya ada pada diri kita sendiri dan hal yang sudah mendarah daging dalam diri kita.
Dan entah kenapa saya tetap tidak habis pikir. Kalau dalam agama yang saya yakini, semua perbuatan itu ada pertanggungjawabannya di akhirat. Dan manusia wajib untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Tapi mengapa orang-orang yang memberitahu pada hal yang benar malah dimusuhi, dianggap merusak kehidupan orang lain (padahal niatnya justru untuk menolong orang lain dari merusak hidupnya sendiri), dianggap munafik, dianggap sok suci, dsb, dst.
Ya sudahlah. Mungkin memang Allah tidak akan menolong suatu kaum bila kaum itu tidak mau menolong diri mereka sendiri. Mungkin itu juga yang sudah terjadi sekarang. Kita tidak tahu dan tidak sadar lagi di mana letak kesalahan kita. Dan terbuai dalam kesalahan itu hingga kita mewajarinya. Dan yang benar jadi salah. Yang salah jadi benar.
Seperti kata Alex Turner di lagu Plastic Tramp:
"My lack of proof is your disguise...This world is full of most unkind. And now horrible's redefined. I can't imagine that you mind at all."
NB: Nggak cuma masalah nyontek yang jadi hal2 tak wajar yg diwaari. Tawuran di SMA gue dulu jg udh dianggap wajar. Senioritas dan ospek yang keterlaluan juga dianggap wajar. Korupsi uang kantor di kantor2 juga dianggap wajar. Meluluskan mahasiswa yang belum pantas lulus hanya karena dia anak pejabat X atau Y dianggap wajar. Tidak membayar gaji pada pegawai dianggap wajar karena dianggap dia pegawai non-tetap yang merupakan anak orang kaya. Saya benar2 udah nggak ngerti lagi. Saya PUTUS ASA dengan bangsa kita yang terlalu banyak mewajari hal-hal yang tidak wajar.