"Oh My Enemy, and Wife of My Enemy, and Mother of My Enemy. It is I: for you have spoken three words in my praise, and now I can drink the warm white milk three times a day for always and always and always. But still, I'm the cat who walks by himself, and all places are alike to me."
The Cat That Walked by Himself
(From "Just So Stories" by Rudyard Kipling)
Aku punya beberapa teman pecinta anjing dan mereka selalu mempertanyakan kenapa aku lebih suka kucing daripada anjing. Mereka terus berkutat pada alasan anjing adalah teman sejati manusia, tidak seperti kucing yang hanya peduli pada manusia kalau mereka ingin makan. Salah satu temanku di Australia ada yang sangat suka dengan anjing. Dia terkejut waktu kubilang aku punya 6 ekor kucing di rumah dan 2 ekor mati. Dia bilang, "You only need one dog, and he'll be your friend forever. But cats.... Six cats? They don't really care about you." Tapi meskipun aku tahu perkatan temanku itu ada benarnya, aku tetap lebih suka kucing daripada anjing.
Bukan berarti aku tidak suka anjing. Aku bersikap "netral" pada para anjing dan menganggap mereka sama dengan burung, ikan, atau binatang-binatang lain. Justru anjing yang tidak terlalu suka padaku. Di Canberra banyak sekali anjing dan mereka selalu menggonggongiku entah kenapa. Tapi sekali lagi, aku bukan pembenci anjing. Hanya saja kalau disuruh memelihara binatang, rasanya aku hanya akan memilih kucing dan kucing saja. Aku juga suka binatang peliharaan lain. Banyak yang jauh lebih lucu daripada kucing (misal: kelinci, landak, hamster). Tapi tetap saja kalau aku bisa memelihara binatang, aku hanya ingin memelihara kucing saja. Alasan yang jelas pastinya karena praktis (gampang kasih makan dan merawatnya dibanding beberapa binatang lain) dan tidak ada rintangan dalam agama dalam memeliharanya (dalam Islam, boleh memelihara anjing, tapi ludahnya itu najis. Jadi kalo kena ludahnya, harus cuci pake air tanah 7 kali dulu bisa solat). Tapi selain itu, aku merasa ada konektivitas tersendiri dengan makhluk yang namanya kucing.
Dan hari ini, aku membaca cerpen karya Rudyard Kipling yang judulnya "The Cat That Walked by Himself." Dan aku semakin paham mengapa aku suka kucing berkat cerita ini. Jadi ceritanya begini (buat yang nggak suka spoiler mending ga usah lanjut baca): Zaman dahulu semua binatang itu liar, tidak ada yang jinak. Suatu hari seorang manusia (perempuan) ingin menjinakkan beberapa binatang untuk membantunya dan keluarganya menjalani kehidupan sehari2. Hewan yg datang pertama padanya adalah anjing. Karena diberikan makanan, anjing menjadi jinak. Anjing yang semula memanggil manusia sebagai "My Enemy" (seperti semua binatang lain memanggil manusia saat itu) akhirnya memanggil manusia "My Friend." Sejak saat itu anjing setia menemani majikan manusianya berburu. Hewan kedua yang datang adalah kuda. Iya diberi makan rumput dan akhirnya jinak juga. Tadinya ia memanggil manusia dengan "My Enemy" akhirnya ia memanggil manusia dengan "My Master." Sejak saat itu kuda digunakan sebagai alat transportasi manusia. Kemudian hewan ketiga adalah sapi. Nasibnya sama seperti anjing dan kuda. Sejak saat itu ia membantu memberikan susu untuk manusia.
Tapi kucing berbeda. Dia juga ingin mendapat makanan dan tempat tinggal seperti ketiga hewan itu. Tapi dia tidak mau menjanjikan apa-apa pada manusia. Dia tidak mau terikat menjadi teman, pelayan, atau pemberi kehidupan bagi manusia. Ia ingin tetap hidup bebas seperti dirinya sebelumnya. Bagi si kucing, ia adalah hewan yang berjalan di atas kakinya sendiri, dan melewati semua tempat seorang diri. Baginya semua tempat sama saja, jadi dia tidak pernah menetap untuk setia di suatu tempat. Termasuk untuk tinggal bersama manusia. Awalnya manusia pun tidak berniat memelihara hewan seperti itu. Tapi karena kecerdikan si kucing, akhirnya ia dapat menawarkan jasa yang tidak bisa ditolak manusia tersebut: "menawarkan kelembutan dan teman bermain untuk anak dari manusia itu dan menangkap tikus yang berkeliaran di rumah dengan gesit." Sejak saat itu kucing pun dipelihara manusia, tapi ia tetap tidak menjanjikan "kesetiaan" apa-apa.
Rudyard Kipling benar-benar berhasil menggambarkan sifat kucing dengan baik dalam cerita ini. Dan dari cerita ini saya sadar mengapa saya suka kucing:
1. Karena meskipun individualis dan tidak setia, kucing ini sangat mandiri. Ia tidak mau terikat dan berjanji pada apapun. Ia punya integritas atas dirinya sendiri.
2. Kucing ini tidak mudah berubah pendirian seperti binatang lain yang mudah dijinakkan. Meskipun ia tidak bisa memungkiri bahwa ia butuh bantuan manusia untuk hidup, ia tidak lantas mengubah kata "My Enemy" menjadi "My Friend" atau "My Master." Ia tahu seberapa butuhnya ia pada manusia, ia tidak dapat percaya seratus persen terhadap manusia begitu pula sebaliknya. Karena pada dasarnya, sesuai hukum alam, kadang dan entah kapan saja, suatu makhluk bisa menjadi musuh bagi makhluk lain.
3. Alasan yang paling masuk akal dari semua alasan adalah... karena sifatku itu mirip kucing (pantesan sering digongongin anjing. LOL).