BEBERAPA waktu lalu, Lee Seung Gi telah menyatakan niatnya untuk mundur dari acara Strong Heart yang tayang di SBS. Penggantinya tak lain adalah aktor tampan Lee Dong Wook.
Sebelumnya sudah sempat beredar isu bahwa aktor serial My Girl itulah yang akan menggantikan Lee Seung Gi.
Tapi baru kini juru bicara Lee Dong Wook mengeluarkan pernyataan resmi. Menurutnya, Lee Dong Wook bakal menyapa pemirsa SBS sebagai presenter Strong Heart mulai tanggal 11 April mendatang.
“Lee Dong Wook akhirnya telah membuat keputusan. Lee Dong Wook akan menunjukkan berbagai keahliannya yang belum pernah dia pamerkan sebelumnya,” jelas juru bicara seperti ditulis AllKPop, Kamis (15/3).
Dengan dipilihnya Lee Dong Wook, SBS berharap Strong Heart bisa menjaring penonton dari luar Korea, mengingat Lee Dong Wook punya banyak fans di luar negeri.
Lee Seung Gi dijadwalkan syuting terakhir Strong Heart pada hari ini, 15 Maret.
SETELAH
menayangkan “City Hunter” yang bergenre drama-action, Indosiar kini
menghadirkan komedi romantis “The Greatest Love” untuk mengisi slot
drama asia sore.
Berkisah tentang seorang wanita bernama Goo Ae Jung (Gong Hyo Jin), yang pernah menjadi anggota terpopuler dari band cewek The National Treasure Girls.
Sepuluh tahun lalu band itu pecah dan ia disalahkan. Akibatnya, karier Ae Jung redup dan kini ia harus berjuang mempertahankan kariernya di dunia hiburan dengan berusaha tampil dalam berbagai acara dan promo televisi.
Di sisi lain, ada Dokko Jin (Cha Seung Won), aktor yang kini kariernya sedang di puncak dan sangat disukai publik Korea. Namun di balik popularitasnya, Jin memiliki karakter yang enggak banget; sangat narsis, arogan dan egois. Suatu ketika, Ae Jung tanpa sengaja tahu rahasia Dokko Jin dan membocorkannya dalam sebuah program talk show hingga membuat aktor itu murka.
Sejak itu, Ae Jung dan Jin terlibat dalam hubungan panas dingin. Tapi hubungan itu berkembang dalam bentuk tak terduga. Rupanya Jin tanpa disangka mengenali suara Ae Jung sebagai sebagai suara penyanyi yang 10 tahun lalu membuatnya tergila-gila. Jin mulai jatuh hati kepada Ae Jung dan bahkan membantu wanita tersebut untuk mendapatkan peran dalam reality Show bertajuk Couple Making.
Ketika Ae Jung mulai menyukai Jin, pria itu malah menyangkal rasa sukanya. Belum lagi status Jin ternyata telah punya kekasih, Kang Se Ri (Yoo In Na). Rumitnya, Se Ri ini adalah mantan anggota band yang sama dengan Ae Jung. Sebenarnya kisah kasih Jin dan Se Ri telah kandas beberapa waktu lalu, namun mereka berpura-pura tetap menjadi kekasih agar tidak mendapat publikasi negatif.
Berbeda dengan Ae Jung, karier Se Ri makin cemerlang dan kini menjadi pemandu acara Couple Making. Ia tidak suka melihat kedekatan Ae Jung dengan Jin karena ingin mempertahankan statusnya sebagai kekasih aktor terpopuler walau pura-pura. Di sisi lain, Jin jadi panik ketika Ae Jung mulai membuka diri pada cinta seorang dokter tampan bernama Yoon Pil Joo (Yoon Kye), salah satu peserta Couple Making.
Bagaimana akhir kisah cinta segi empat ini?
**
Jajaran bintang utama The Greatest Love mungkin tak terlalu familiar bagi pemirsa TV sini. Kecuali pemeran Ae Jung, Gong Hyo Jin, yang dulu pernah menjadi pemeran utama serial Pasta (juga tayang di Indosiar). Sedangkan Yoo In Na, pemeran Kang Se Ri, sebelumnya pernah jadi pemeran pendukung Secret Garden, membawakan karakter Im Ah Young.
Sesuai dengan temanya yang mengambil latar dunia hiburan, banyak selebriti Korea menjadi cameo atau bintang tamu di serial MBC produksi tahun 2011 ini. Beberapa di antaranya; Lee Seung Gi (My Girlfriend is a Gumiho), Brian Joo, Park Si Yeon (pemeran pendukung My Girl), dan banyak lagi.
Serial berjumlah 16 episode ini tayang di Indosiar mulai hari ini, Selasa 13 Maret, setiap Senin-Jumat pukul 16.30 WIB.
Olivia dan Ananta memamerkn piala masing-masing. (dok.ist.)
SEBUAH prestasi kembali ditorehkan seniman Indonesia di ajang Internasional.
Dua kontestan Indonesia, Olivia dan Ananta Kusuma menjadi juara pertama untuk katagori Pop dan Folk Song dalam ajang ASEAN Television Golden Voice Festival di HMC City, Vietnem pada 9 Maret lalu.
“Saya membawakan lagu dangdut berjudul 'Dangdut Rel Kereta Api Tenabang' yang diciptakan oleh Anton Issudibyo,” kata Ananta Kusuma, saat ditemui Minggu (11/3) malam di Jakarta.
Kemenangan ini sekaligus membuktikan kalau lagu dangdut mampu menggoyang festival berskala Internasional. Sedangkan Olivia berhasil meraih kemenangan lewat lagu milik Jennifer Hudson, “I’m Telling You”.
Vietnam sendiri yang diwakili penyanyi Thanh Ngoc menyabet juara kedua untuk katagori Folk Song bersama dengan Kat Arrogado dari Filipina. Sementara untuk juara kedua kategori Pop diraih oleh penyanyi asal Malaysia, Shazroul.
Van Sotheary dari Kamboja dan Phoungeune Bouathong dari Laos juga memenangkan hadiah sebagai The Most Friendly Contestants. Penyanyi Vietnam lainnya, Duc Tuan juga memenangkan hadiah sebagai The Most Popular and Stylish Contestants.
Festival ini diikuti oleh 18 peserta dari Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, Brunei, Kamboja, Myanmar, Laos, Singapura dan Vietnam. Indonesia diwakili oleh Geronimo, kelompok di bawah bimbingan Anton Issudibyo.
ANDA sedang stres atau susah tidur? Ada satu obat paling ampuh untuk menangkal keduanya.
Sebuah studi dari Jepang menyebutkan, mendengarkan lagu-lagu favorit atau musik yang menenangkan ampuh memangkas tekanan darah, sama seperti mengurangi asupan garam dalam makanan.
Teori ini dibuktikan Eri Eguchi, seorang ilmuwan dari Jepang yang melakukan riset terhadap sejumlah orang berusia 40-74 tahun. Para responden dibagi ke dalam tiga kelompok dan menjalani sesi eksperimen selama dua kali dalam sebulan.
Kelompok pertama diminta untuk mendengarkan musik favorit mereka, kelompok kedua mendengarkan cerita-cerita humor dan kelompok terakhir tidak diberikan terapi apapun.
Setelah tiga bulan, para responden yang mendengarkan musik atau humor tercatat mengalami penurunan tekanan darah sistolik sebanyak 5-6 poin. Berbeda dengan responden yang tidak mendengarkan musik atau humor, tekanan darah mereka tidak mengalami perubahan.
Hasil riset ini didukung oleh riset sebelumnya yang dilakukan Dr Michael Miller dari University of Maryland.
Seperti dicatat Huffington Post, hasil riset ini menemukan adanya perubahan pada sistem aliran darah setelah mendengarkan musik-musik bertempo cepat, seperti R&B atau house music. Musik-musik semacam ini dapat memperlebar pembuluh darah hingga 26% dan membuat aliran darah menjadi lebih lancar.
Musik juga berpengaruh pada hewan. Musik klasik seperti Mozart dapat mengubah kadar kalsium dan dopamine dalam otak hewan. Musik-musik yang menenangkan juga dapat menurunkan level kortisol, hormon penyebab timbulnya stress.
Nah, sudah tahu kan, bagaimana ampuhnya musik dalam memerangi stres? Ayo putar lagu kesukaan Anda agar stress cepat hilang.
Indonesian Idol (dok.RCTI)
DI tengah popularitas sinetron, acara lawak, dan sport yang merajai rating, program talent search Indonesian Idol mampu unjuk gigi.
Talent search yang tahun ini memasuki musim ke-7 ini berhasil meraup rating tinggi. Berdasarkan data Nielsen (ALL), Audisi Indonesian Idol 2012 (RCTI) tayangan Jumat (9/3) lalu berhasil menduduki peringkat 6 dengan TVR 4,3 dan share 31,3. Angka ini terbilang istimewa mengingat baru mulai pukul 22.11 WIB dan berakhir pukul 00.50 WIB.
Tayangan Audisi 2012 pada Minggu (11/3) pun masih mencuri perhatian. Meski ratingnya sedikit turun (TVR 4,1 dan share 31), acara ini menjadi acara nomor 2 yang paling banyak ditonton. Ini lebih luar biasa, mengingat tayangan ulang dan non primetime (tayang pukul 13.00 WIB), tapi bisa menempati posisi runner-up.
Terlepas kritik beberapa netizen yang menyayangkan bahwa Indonesian Idol tahun ini lebih fokus pada juri ketimbang kontestan, terbukti acara ini masih dinantikan penonton. Entah apakah pada babak eliminasi nanti ratingnya masih bisa setinggi ini.
Hari Minggu (11/3), RCTI dan SCTV menayangkan 2 sinetron baru di jam yang sama. Karunia (RCTI) lebih unggul, menempati posisi 4 dengan TVR 3,8 dan share 17,1. Namun angka ini masih kalah dibandingkan Yusra dan Yumna yang episode perdananya menempati posisi 2; TVR 4,5; dan share 16,9.
Sinetron Cinta Salsabilla (SCTV) menempati posisi 10 dengan TVR 2,7 dan share 12,4. Meski kalah dari Karunia, tapi episode perdana sinetron milik Screenplay Productions ini menjadi acara SCTV dengan penonton terbanyak pada Minggu (11/3). Dibandingkan debut Cahaya Gemilang dan Anissa & Anissa (keduanya tayang tak sampai sebulan), rating Cinta Salsabilla jauh lebih tinggi.
Tendangan Si Madun (MNCTV) selama Sabtu-Minggu (10-11/3) masih memimpin di peringkat 1. Sabtu meraih TVR 4,4 dan share 17; sementara Minggu meraup TVR 4,8 dan share 18.
KANGEN serial Full House? antv menayangkan kembali serial yang dulu pernah tayang di Indosiar.
Full House boleh dibilang salah satu serial penting dalam industri hiburan Korea. Sebelum Full House, serial Korea lebih banyak didominasi kisah drama mengharukan penuh airmata. Sebut saja; Endless Love, Winter Sonata, Stairway to Heaven, dan Memories of Bali.
Pemunculan Full House di pertengahan 2004 memberi warna baru. Drama Korea tak lagi identik dengan banjir airmata.
**
Han Ji Eun (Song Hye Kyo), adalah penulis bercita-cita tinggi yang tinggal di rumah yang disebut “Full House”. Rumah ini dibangun oleh almarhum ayahnya. Suatu hari, 2 temannya menjebak Ji Eun dengan mengatakan bahwa Ji Eun menang undian berlibur gratis. Ji Eun tidak tahu, ketika pergi berlibur ini 2 temannya menjual rumahnya.
Di pesawat, Ji Eun bertemu Lee Young Jae (Rain), seorang aktor terkenal. Keduanya sempat melalui kejadian-kejadian lucu sebelum akhirnya berkenalan. Alangkah terkejutnya Ji Eun sepulang berlibur mendapati rumah kesayangannya sudah jadi milik Young Jae.
Tak mau kehilangan rumah, Ji Eun awalnya bekerja sebagai pembantu Young Jae. Kemudian, Ji Eun menyetujui kontrak nikah setahun yang diajukan Young Jae. Tujuan Young Jae, ingin membuat cemburu Kang Hye Won, gadis pujaannya, cemburu.
Banyak kehebohan saat keduanya tinggal bersama. Ji Eun tipe gadis yang berantakan, sementara Young Jae temperamen dan cinta kebersihan.
Lama-lama, benci berubah jadi cinta. Ji Eun merasa memiliki ikatan yang kuat dengan keluarga Young Jae.
Di tengah kebahagiaan mereka, muncul Yoo Min Hyuk, teman Ji Eun yang ganteng yang membuat Young Jae cemburu. Kang Hye Won kembali datang memicu konflik di antara Ji Eun dan Young Jae.
Bagaimana akhir cerita ini?
**
Mungkin sebagian besar dari pembaca sudah tahu atau masih ingat endingnya. Tapi tentu tak ada salahnya menyaksikan lagi serial berjumlah 16 episode ini. Hitung-hitung mengenang chemistry pasangan Song Hye Kyo dan Rain, yang meraih Best Couple Awards versi KBS Drama Awards tahun 2004.
Full House tayang di antv mulai malam ini, 12 Maret 2012, setiap Senin-Jumat pukul 20.00 WIB.
SATU dekade silam nama Jang Na Ra cukup dikenal di sini setelah Indosiar memutar serial Korea My Love Patzzi. Lagu soundtrack-nya yang berjudul Sweet Dream juga kerap diputar di MTV Indonesia yang kala itu masih siaran 24 jam.
Waktu berlalu, wajah imut Jang Na Ra (kini 31 tahun) tak banyak berubah. Tak salah jika peran di serial Baby-Faced Beauty ini dipercayakan pada aktris yang juga berkarier di China ini.
Baby-Faced Beaty berkisah tentang Lee So Young (Jang Na Ra), wanita 34 tahun yang memiliki wajah sangat imut sampai membuat orang-orang sekitarnya mengira ia masih sangat muda, termasuk bos di tempat kerjanya.
So Young telah bekerja selama 14 tahun di perusahaan tekstil. Malang, setelah bosnya mengetahui umur sebenarnya, So Young malah dipecat dan posisinya digantikan wanita yang lebih muda.
So Young hanya memiliki ijazah SMA dan keluarganya memiliki banyak utang yang harus dilunasi. Utang inilah yang membuat So Young dulu tidak bisa melanjutkan pendidikan ke universitas jurusan desain busana. Padahal impian So Young menjadi perancang busana. Kini ia telah kepala tiga dan tidak punya prospek masa depan.
Nasib baik ternyata masih berpihak kepada So Young. Ia akhirnya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya. Kini ia menjadi salah satu perancang busana junior di perusahaan fesyen The Style.
Tapi ada satu masalah. So Young berbohong tentang nama aslinya, dan meminjam nama adik perempuannya, So Jin (Oh Yeon Seo) yang masih berusia 25 tahun. So Young tidak berterus terang tentang jati dirinya karena takut dipecat lagi.
Di tempat barunya itu, ia harus menghadapi banyak orang yang beragam, mulai dari direktur pemasaran Choi Jin Wook (Daniel Choi), pria usia 27 tahun yang diam-diam disukainya.
Ada juga manajer tim saingan So Young, Kang Yoon Seo (Kim Min Seo). yang ternyata disukai Jin Wook. Tetapi Yeon Seo mengincar presiden direktur The Style, Ji Seung Il (Ryu Jin) sehingga Jin-wook menjadikan So Young sebagai tempat curhatnya.
Akankah Jin Wook akhirnya tahu perasaan So Young kepadanya? Apa yang akan terjadi jika kebohongan So Young tentang nama dan usianya sebenarnya terbongkar?
**
Baby-Faced Beauty adalah drama produksi tahun 2011 yang tayang di KBS2. Serial berjumlah 20 episode ini meraih 2 penghargaan KBS Drama Awards 2011: Excellence Award for Mini Series, untuk aktor (Daniel Choi) dan aktris (Jang Na Ra).
Baby-Faced Beauty tayang di Indosiar menggantikan The Thorn Birds. Mulai hari ini, 12 Maret, setiap Senin-Jumat pukul 13.30 WIB.

NAMA Olivia Dewi mungkin masih asing bagi sebagian orang.
Banyak masyarakat yang baru mengetahuinya justru setelah gadis berusia 17 tahun itu meninggal dalam sebuah kecelakaan maut.
Olivia Dewi Soerijo, atau juga dikenal sebagai Olivia Wu, adalah runner up Gadis Sampul tahun 2010. Olivia adalah anak tiri dari Natalie Margaretha, artis yang cukup populer di era 2000-an. Natalie pernah mendukung sinetron Metropolis bersama Jihan Fahira dan Vira Yuniar, serta bintang iklan sebuah sabun mandi.
Olivia meninggal dunia setelah mobil Nissan Juke yang dikendarainya menabrak papan reklame dan terbakar, Sabtu (10/3).
Olivia Dewi dan Mikha Tambayong (dok.Twitter)
Beberapa selebriti langsung mengucapkan bela sungkawa melalui akun jejaring sosial. Pesinetron Sheila Marcia bahkan menyebut Olivia sebagai keponakannya.
“RIP keponakanku Olivia Dewi Soerijo,gk nyangka kamu cepet pergi dek :( .. Semoga kmu bahagia diatas sana ya..I Love You :* Jesus be with you sayang. Untuk kak etha and Ko lie Ming, iLa turut berduka cita.yg sabar ya,” tulis Sheila di akun Twitternya.
Artis muda Mikha Tambayong bahkan belasan kali mengungkapkan kesedihannya di Twitter. Salah satunya berbunyi: “Rest in peace my best friend, my cuzzy, Olivia. I love you so much&your cheerful spirit will always be remembered :'(“.
Persahabatan Mikha dan Olivia terjalin cukup lama. Dua tahun lalu, Mikha yang finalis Gadis Sampul 2008 itu terlihat memberi semangat Olivia yang mengikuti pemilihan Gadis Sampul 2010. Kala itu, Mikha menyebut Olivia memiliki kepribadian tomboy. Olivia memiliki akun Twitter @ivythefat. Namun akun ini di-protect.
Hari Senin (12/3) ini jenazah Olivia disemayamkan di San Diego Hills, Karawang.
SUSU tidak hanya baik bagi kesehatan tubuh. Minuman yang satu ini telah digunakan sebagai kosmetika sejak zaman Mesir dan Yunani Kuno.
Mandi susu bahkan menjadi rahasia kecantikan Cleopatra yang rutin berendam dalam larutan air susu sebelum tidur. Sedangkan para wanita Yunani Kuno menggunakan susu yang diolah menjadi yogurt sebagai bahan dasar kosmetik.
Susu mengandung vitamin A, D, dan E yang menjadi kunci utama untuk awet muda, serta lactic acid yang ampuh menghilangkan sel-sel kulit mati.
Agar kulit tetap sehat dengan susu, berikut beberapa resep kecantikan, mulai dari lotion, face scrub, sampai mandi susu dengan bahan dasar susu yang dapat Anda coba.
1. Choco-Milk Bath
Bahan-bahan:
3 gelas susu murni (atau 2 gelas susu bubuk)
5 sendok makan daun mint, dicincang halus
3 sendok makan bubuk cocoa
½ gelas garam
1 gelas maizena
Cara membuat:
Campurkan seluruh bahan ke dalam mangkuk sampai rata. Masukkan ke dalam bathtub yang sudah diisi air sampai 75% dan biarkan adonan larut dalam air. Rendam tubuh Anda selama 20 menit dan rasakan sensasi relaksasinya.
2. Milk and Honey Mask
Bahan-bahan:
3 sendok makan susu (jika kulit Anda kering, gunakan susu murni)
3 sendok makan madu
1 sendok makan oatmeal
Cara membuat:
Campurkan semua bahan dan aduk sampai kental. Oleskan adonan pada wajah sambil dipijat perlahan selama beberapa menit, kemudian bilas wajah dengan air hangat.
3. Milk cleansing lotion
Bahan-bahan:
1 kantong teh chamomile
2 sendok makan madu
1 buah mentimun, dikupas
1 sendok makan susu
Cara membuat:
Seduh teh chamomile, diamkan sampai dingin, sisihkan. Cincang halus mentimun, tekan-tekan dengan garpu sampai keluar airnya. Tambahkan madu dan susu, kemudian aduk sampai rata. Oleskan adonan pada wajah dengan menggunakan kapas. Diamkan sebentar, lalu bilas wajah dengan teh chamomile yang sudah dingin.
dari Berbagai Sumber
Sebuah film yang tengah edar, Hugo menceritakan momen itu. Pada 1895, salah satu film pertama yang pernah diputar berjudul Kereta Tiba di Stasiun, yang ceritanya sama persis dengan judulnya, sebuah kereta yang tiba di stasiun. Namun, ketika kereta melaju ke arah layar, penonton berteriak dan menghindar. Mereka mengira akan tertabrak. Tak ada yang pernah melihat adegan seperti itu sebelumnya.
Dari sejarah film kita tahu, adalah Lumiere bersaudara yang mempertontonkan film itu di Paris, Perancis. Judul persisnya bukan Kereta Tiba di Stasiun tapi L’Arrivee d’un train a’ la Ciotat (Kereta Tiba di La Ciotat).
Hugo adalah sebentuk surat cinta pada sinema, terutama sinema awal. Sebelum Hugo, ada The Artist yang bila ditelisik sejatinya adalah juga sebuah surat cinta pada sinema, terutama pada era film bisu.
Maka, menarik membincangkan dua surat cinta ini.
***
Akhirnya kesempatan itu datang. Undangan preview Hugo, sebuah film yang indah, mampir sekitar dua pekan lalu.
Undangan itu sudah saya tunggu-tunggu. Pertama, karena saya bisa nonton lebih dulu dari kebanyakan orang. Kedua, walau DVD bajakannya tersedia di mana-mana, saya menahan diri tak menontonnya dengan alasan ingin menikmati film ini semurni mungkin, sebagaimana niatan awal sineasnya: di bioskop, dengan kacamata 3D.
Usai nonton saya berkicau di akun Twitter, “Hugo in 3D in some ways even better than The Artist. Sungguh! #shortreview.”
Ah, saya mungkin terlalu bersemangat dan terpukau oleh film yang barusan saya tonton. Apa yang saya tulis di Twitter bisa jadi emosi sesaat. Konon, seorang pengulas film biasanya sejak awal punya penilaian dasar atas film yang barusan ditontonnya. Konon, ini langkah pertama menulis ulasan film. Di artikel “How to Write a Movie Review” yang saya temukan di internet mengatakan, langkah awal menulis ulasan film adalah menemukan opini spesifik yang menjadi pondasi dasar. Pada Hugo, saya punya kalimat di atas: “... dalam beberapa hal bahkan lebih bagus dari The Artist. Sungguh!”
Itu penilaian dasar. Penilaian final saya di ujung tulisan ini.
Sekarang mari membincangkan filmnya satu per satu.
The Artist mengajak kita ke masa silam, ke selewat pertengahan tahun 1920-an, saat sinema mulai menemukan bentuknya yang ajeg. Film telah menjadi industri. Sebuah wilayah di California, yang diterangi matahari sepanjang tahun, telah dipilih menjadi ibukota film. Di kota yang bernama Hollywood itu (dengan tulisan di bukit masih lengkap bertuliskan HOLLYWOODLAND sebagai maksud mengiklankan properti di daerah itu) film dibuat dan para bintang tinggal di sana.
Kita bertemu George Valentin (dimainkan dengan cemerlang oleh Jean Dujardin), aktor film bisu yang tampan dan jadi idola. Dengan posisinya di puncak karier, Valentin sulit membayangkan bakal tergusur. Padanya, kita teringat pameo yang didengungkan tokoh Norma Desmond (dimainkan Gloria Swanson) di film karya Billy Wilder, Sunset Boulevard: “We didn’t need dialogs, we had faces--Kami tak butuh dialog, kami punya wajah” katanya mengacu ke era keemasan film bisu.
Di bagian awal The Artist ada film dalam film yang buat saya sebuah lelucon cerdas dari sineasnya.
Tokoh dalam film disiksa, disetrum, diminta bicara. “SPEAK—bicara!” seru sang penyiksa. “I won’t talk. I won’t say a word—Saya takkan bicara. Saya takkan bilang satu kata pun!” timpal si tokoh di film yang disiksa.
Momen itu, seolah mukadimah bagi keseluruhan film ini: hitam putih dan nyaris tak bicara. Momen itu bila diartikan lebih jauh juga menyelipkan pesan kalau tokoh film bisu yang penonton saksikan di teater hari itu bersumpah tetap menjadi bagian dari film bisu, yang di tahun 1927 merupakan masa keemasannya. Tak terbayangkan kala itu, ada yang bisa menggusur film bisu.
Menonton The Artist adalah sebuah pengalaman sinematik yang langka. Sebuah fiilm bisu di zaman film 3D. Dengan rasio gambar tak seperti film bioskop masa kini—The Artist tak dibuat disorot dengan format layar lebar, melainkan seperti film bisu zaman dulu.
Menonton The Artist, Anda akan heran betapa walau nyaris tak ada aktor-aktrisnya bicara, melulu musik mengalun, tapi di saat bersamaan filmnya terasa sangat “bersuara”.
Nyatanya,
untuk memahami sebuah film ternyata kita, penonton, tak butuh para
bintang bertukar dialog, tapi pada bahasa gambar. Kepada kita Dujardin
tak perlu mengucapkan apa pun. Lewat wajahnya, ia sudah mengatakan
segalanya. Wajah Dujardin tak sekadar tampan, tapi juga memiliki
keelokan bintang film klasik. Kita tak seperti melihat aktor masa kini
berakting melainkan macam melihat bintang film klasik Douglas Fairbanks
atau Gene Kelly. Selain wajah yang—meminjam
istilah seorang pengulas di situs IMDB—sepertinya dibuat para dewa
Hollywood, Dujardin juga mampu memancarkan emosi melalui mata, bibir,
maupun hidungnya mengajak kita larut dalam setiap situasi yang dilaluinya: kegembiraan di puncak karier, keteguhan melawan era film bicara, sampai depresi nyaris bunuh diri.
Tapi, Dujardin tak memukau sendirian di The Artist. Lawan mainnya, Berenice Bejo, pemeran Peppy Miller juga memancarkan akting memukau lewat mimik wajahnya. Bejo memainkan karakter Peppy dengan rupa wajah klasik tapi di saat bersamaan terasa sangat modern bagi penonton zaman sekarang. Sepanjang film, wajahnya memancarkan keceriaan dan rasa optimis.
Pas betul George Valentin dan Peppy Miller mewakili dua generasi berbeda bintang film.
Dan, ah, baik Dujardin maupun Bejo (atau si anjing Uggy yang menggemaskan) sejatinya adalah elemen dari sebuah surat cinta pada film bisu. Film ini terasa pas dibuat oleh Michel Hazanavicius yang orang Eropa (film ini produksi Perancis).
Kita tahu, film Eropa punya gaya tutur berbeda dengan Hollywood. Mudahnya, tradisi film Eropa senang mengeksploitasi kedalaman—dan kegelapan hidup—hingga film-film Eropa lebih sering dibilang film berat. Hazanavicius, yang lahir dari tradisi sinema “gelap” dan “berat” kemudian membuat sesuatu yang tak biasa. Mengutip Seno Gumira Ajidarma saat mengulas The Artist di Kompas (19/2/2012), Hazanavicius “mengambil kesempatan untuk bernostalgia dengan kebahagiaan dalam keterhiburan serba ringan, yang secara monumental telah ditancapkan film-film klasik pada masanya.”
Ia menanggalkan yang “gelap” dan “berat” dan meminjam idiom-idiom klasik Hollywood. Idiom ini dipinjam langsung ke sumbernya, di masa kejayaan film bisu.
Pada titik ini, walau tak bersuara, The Artist terasa dekat dan mudah dinikmati. Sebab, secara sadar, sineasnya telah menggunakan bahasa film Hollywood yang telah kita akrabi. The Artist, walau dibuat sineas Eropa, menggunakan bahasa sinema Hollywood sebetul-betulnya.
Bahasa film Hollywood sudah begitu canggih dalam hal memanipulasi reaksi psikologis penonton. Menikmati bahasa film Hollywood tak memerlukan kerja otak terlalu keras, karena hampir seluruh sistem resepsi kita sebagai penonton film, pada dasarnya sejak lahir sudah dibentuk film Hollywood. Kita sudah kenal betul bahasa film Hollywood: cepat, mudah dimengerti, menyenangkan, dan memberi penyelesaian tuntas. Istilah yang akrab: menghibur.
***
Kemudian kita tengok surat cinta yang lain pada sinema lewat Hugo. Martin Scorsese, sutradaranya, melayangkan surat cinta bagi sinema klasik di masa awal perkembangannya yang memang
dalam sejarahnya berlangsung di Perancis. (Kenyataan ini: surat cinta
Scorsese pada sinema awal di Perancis, sedang Hazanavicius pada sinema
bisu Hollywood terasa seperti dua sineas ini saling bertukar surat
cinta.)
Bagi yang akrab dengan karya Scorsese tentu mengenal sineas ini langganan membuat film bertema gangster (Taxi Driver, Goodfellas, Casino, The Departed). Tapi, itu hanya bagi yang mengenal satu sisi Scorsese. Di luar sebagai sineas kelas wahid, Scorsese adalah pecinta sejati kelestarian sinema. Ia pendiri World Cinema Foundation yang kegiatannya merestorasi film-film lawas warisan dunia, menyelematkannya dari waktu agar bisa ditonton setiap generasi.
Maka, sebetulnya, pesan utama Hugo sejatinya adalah mengajak kita melestarikan sinema dunia. Scorsese meminjam buku anak-anak karangan Brian Selznick (judul asli: The Invention of Hugo Cabret) untuk menyampaikan pesan itu.
Bagian pertama film adalah tentang seorang anak yang hidup di stasiun kereta di Paris, yang kerjanya sehari-hari merawat berbagai jam yang menggantung maupun menempel di stasiun. Bocah itu, Hugo (diperankan Asa Butterfield) memiliki boneka mesin yang disebut automaton warisan ayahnya yang sudah meninggal. Hugo mencuri suku cadang dari mainan dari sebuah toko mainan di stasiun, sambil harus menghindar dari inspektur stasiun yang pincang (Si “Borat” Sacha Baron Cohen dalam penampilannya yang “lurus”) yang bisa menggelandangnya ke panti asuhan sewaktu-waktu. Bagian pertama film terasa nuansa kisah Dickensian macam yang kita baca (atau tonton) dalam Oliver Twist, tentang petualangan bocah tanpa orangtua di belantara beton kapitalisme modern masa awal.
Bagian kedua yang merupakan surat cinta pada sinema awal. Kita menemukan hal yang dikenang Hugo dari ayahnya adalah pengalaman pertama sang ayah saat nonton film. Hugo ingat, ketika sang ayah nonton adegan mata bulan kena roket, adalah momen yag disebut sang ayah “seperti mimpi di siang bolong.”
Film, sang gambar bergerak, kemudian memang tak sekadar jadi benda temuan sebagai hasil karya manusia semacam mobil atau pesawat terbang. Goenawan Mohamad dalam salah satu esai Catatan Pinggir-nya saat mengulas Cinema Paradiso, sebuah film Italia tentang kecintaan pada biskop mencatat, “gambar hidup adalah keajaiban, yang tak cuma dilahirkan oleh teknologi, tapi juga kepandaian bercerita.”
Syahdan, di Hugo kita bertemu George Melies (Ben Kingsley), salah satu pelopor sinema awal. Salah satu karyanya adalah Perjalanan ke Bulan, film kesukaan ayah Hugo. Di novel (dan filmnya) kita menemukan kalimat ini:
“Pembuat film George Melies memulai kariernya sebagai pesulap dan memiliki teater sulap di Paris. Pekerjaannya sebagai pesulap membantunya memahami kemampuan media baru ini. Ia adalah salah satu orang pertama yang menunjukkan bahwa film tidak harus selalu mencerminkan kehidupan nyata. Ia segera menyadari bahwa film memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi...”
Bagi pecinta film, momen-momen terbaik Hugo terjadi di bagian kedua film. Pecinta film yang sudah menonton Hugo pasti ingat kalimat-kalimat pamungkas yan merupakan wujud kecintaan pada film: “Akhir bahagia hanya terjadi di film”; atau yang ini, ketika seorang bocah dengan wajah penuh kagum melihat “istana” studio film Melies. Pada sang bocah Melies berkata “Kalau kamu bertanya-tanya dari mana asal mimpi-mimpimu, tengok sekelilingmu... di sini mimpi-mimpi itu dibuat.”
Lewat sosok Melies kita melihat pada hakikatnya sineas adalah juga pesulap yang menyuguhkan trik sulapnya di depan layar pada kita. Melies tak ubahnya Steven Spielberg zaman dulu yang lewat trik-trik visualnya nan sederhana menyuguhkan mimpi di layar.
Di Hugo, kita tertawa, tersenyum simpul, dan pada akhirnya menangis haru melihat bagaimana film cerita dibuat di masa-masa awalnya.
Dan hebatnya, ini yang bikin saya paling kagum, semuanya disuguhkan dalam format 3D.
Saya ingat, kritikus film kawakan Roger Ebert suatu kali menulis esai yang kemudian jadi cerita sampul majalah Newsweek edisi 9 Mei 2010. Ebert marah pada demam 3D di Hollywood yang melanda pasca sukses Avatar (2009). Ia menulis judul besar esainya: “Why I Hate 3-D (And You Should Too)—Mengapa Saya Benci 3D (Dan Sebaiknya Anda Juga).”
Katanya, film 3D tidak menambahkan apapun pada pengalaman menonton film, selain jadi kesempatan studio dan bioskop mengeruk uang penonton lebih banyak karena tiketnya lebih mahal. Ebert bilang, tak bisa membayangkan film drama serius dirilis dalam format 3D.
Ebert sudah bilang mungkin saat Scorsese pakai teknologi 3D, ia akan menyukai film 3D. Scorsese, kata Ebert, tahu film dan mencintai berbagai kemungkinan baru yang bisa dilakukan medium ini. “Saya berharap ia akan menggunakan 3D sesuai kebutuhannya.”
Dan memang, Scorsese tidak menyalahgunakan 3D. Dalam ulasan Hugo-nya, Ebert memuji Scorsese menggunakan 3D “sebagaimana mestinya, bukan sebagai gimmick melainkan sebagai peningkatan kualitas efek pamungkas yang diidamkan.” Pendek kata, 3D pada Hugo
memberi pengalaman sinematik total: sebuah film tentang masa-masa
sinema awal—bahkan saat suara belum ditemukan dan warna pada pita
seluloid dilukis tangan frame demi frame—diwujudkan dalam perkembangan paling mutakhir sinema kiwari.
***
Pada akhirnya, setelah menyuguhkan argumen puja-puji pada The Artist dan Hugo kita sampai pada jawaban yang menjadi judul tulisan ini: The Artist dan Hugo lebih bagus mana?
Apa, setelah memendam pikiran berhari-hari, menonton lagi The Artist dan Hugo, menamatkan novelnya, sambil membaca berbagai ulasan soal dua film itu, saya masih pada penilaian dasar Hugo “dalam beberapa hal bahkan lebih bagus dari The Artist” ?
Setelah menimbang masak-masak, nyatalah apa yang saya katakan di Twitter begitu usai nonton Hugo sekadar emosi sesaat. Mungkin emosi yang timbul pada rasa kagum karena ada kecintaan yang sama pada film tertuang dengan indahnya di layar lebar.
Sekali lagi, baik The Artist maupun Hugo adalah surat cinta yang sama. Seperti kekasih yang menerima surat cinta—entah lewat Pak Pos, diselipkan ke bawah pintu kamar, ke dalam buku yang tengah dibaca, atau ke dalam inbox e-mail, Facebook, Twitter—kita terpesona. Saat menerima surat cinta, perasaan kita bungah, riang, happy, atau kadang menangis haru.
Untuk perasaan yang timbul usai nonton 2 film itu, rasanya tak adil menyebut yang satu lebih baik dari yang satu lagi. The Artist dan Hugo sama-sama sebuah mahakarya sinema. Titik.***