It's me and all person beside me Blog yang apa adanya, gak neko-neko, dan gak bikin runyam :D Welcome ...

Blog Category: Film
Mar
16
2012

Sudah Lulus Sensor, "Mata Tertutup" Bisa Tayang Lagi

mata-tertutupFILM terbaru garapan Garin Nugroho dipastikan bisa tayang kembali di jarngan bioskop Kelompok 21 Cineplex.

Pihak SET Film, rumah produksi yang membuat film tersebut, lewat publisisnya, Lia mengabarkan pada tabloidbintang.com, Kamis sore filmnya sudah bisa tayang lagi. "Mata Tertutup hanya miskomunikasi di birokrasinya saja. Insya Allah sekarang sudah bisa tayang," ujar Lia lewat pesan singkat pada kami.

Miskomunikasi terjadi antara Lembaga Sensor Film (LSF) dan pihak 21 Cineplex.  Seperti diberitakan sebelumnya, terdapat surat tanda lulus sensor (SLTS) yang berbeda dengan copy/print film yang diterima pihak 21 Cineplex untuk film Mata Tertutup.

Pihak 21 Cineplex kemudian menghentikan pemutaran Mata Tertutup dan di banyak bioskop film dihentikan di tengah jalan. Pihak SET Film lalu berkomunikasi dengan LSF untuk mendapat SLTS yang tepat.

Akhirnya, Kamis sore, seperti dimuat situs LSF, termuat keputusan baru meloloskan Mata Tertutup. Film tersebut dinyatakan lulus sensor pada Kamis, 15 Maret 2012 Jam 17:49:33 dengan nomor keputusan 23/35/NAS/R/03.2017/2012.     

Penasaran dengan kisah Mata Tertutup? Ini sinopsisnya:

Cerita pertama
Ada Rima (Eka Nusa Pertiwi), seorang gadis yang sedang gundah dalam pencarian identitas. Dalam kegamangannya, ia terlibat dalam NII. Ada
Cerita kedua
Jabir (M. Dinu Imansyah), seorang remaja yang menjadi pengebom bunuh diri karena terdorong oleh kondisi keluarga dan kesulitan ekonomi.
Cerita ketiga
Ada juga Asimah (Jajang C. Noer), seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya: Aini. Anaknya menjadi menjadi korbn penculikan orang-orang dari kelompok Islam Fundamentalis. Penculikan itu berlangsung ketika Asimah tengah berada pada proses perceraian. Asimah kian frustasi jadinya.

Views: 3914
Posting: 16-Mar-2012 01:12:51 WIB
Comments: 5 comments
Category: Film
Mar
11
2012

Sebuah film yang tengah edar, Hugo menceritakan momen itu. Pada 1895, salah satu film pertama yang pernah diputar berjudul Kereta Tiba di Stasiun, yang ceritanya sama persis dengan judulnya, sebuah kereta yang tiba di stasiun. Namun, ketika kereta melaju ke arah layar, penonton berteriak dan menghindar. Mereka mengira akan tertabrak. Tak ada yang pernah melihat adegan seperti itu sebelumnya.

Dari sejarah film kita tahu, adalah Lumiere bersaudara yang mempertontonkan film itu di Paris, Perancis. Judul persisnya bukan Kereta Tiba di Stasiun tapi L’Arrivee d’un train a’ la Ciotat (Kereta Tiba di La Ciotat).

Hugo adalah sebentuk surat cinta pada sinema, terutama sinema awal.  Sebelum Hugo, ada The Artist yang bila ditelisik sejatinya adalah juga sebuah surat cinta pada sinema, terutama pada era film bisu.

Maka, menarik membincangkan dua surat cinta ini.

***

Akhirnya kesempatan itu datang. Undangan preview Hugo, sebuah film yang indah, mampir sekitar dua pekan lalu.

Undangan itu sudah saya tunggu-tunggu. Pertama, karena saya bisa nonton lebih dulu dari kebanyakan orang. Kedua, walau DVD bajakannya tersedia di mana-mana, saya menahan diri tak menontonnya dengan alasan ingin menikmati film ini semurni mungkin, sebagaimana niatan awal sineasnya: di bioskop, dengan kacamata 3D.

Usai nonton saya berkicau di akun Twitter, “Hugo in 3D in some ways even better than The Artist. Sungguh! #shortreview.”

Ah, saya mungkin terlalu bersemangat dan terpukau oleh film yang barusan saya tonton. Apa yang saya tulis di Twitter bisa jadi emosi sesaat. Konon, seorang pengulas film biasanya sejak awal punya penilaian dasar atas film yang barusan ditontonnya. Konon, ini langkah pertama menulis ulasan film. Di artikel “How to Write a Movie Review yang saya temukan di internet mengatakan, langkah awal menulis ulasan film adalah menemukan opini spesifik yang menjadi pondasi dasar. Pada Hugo, saya punya kalimat di atas: “... dalam beberapa hal bahkan lebih bagus dari The Artist. Sungguh!”   

Itu penilaian dasar. Penilaian final saya di ujung tulisan ini.

art2Sekarang mari membincangkan filmnya satu per satu.

The Artist mengajak kita ke masa silam, ke selewat pertengahan tahun 1920-an, saat sinema mulai menemukan bentuknya yang ajeg. Film telah menjadi industri. Sebuah wilayah di California, yang diterangi matahari sepanjang tahun, telah dipilih menjadi ibukota film. Di kota yang bernama Hollywood itu (dengan tulisan di bukit masih lengkap bertuliskan HOLLYWOODLAND sebagai maksud mengiklankan properti di daerah itu) film dibuat dan para bintang tinggal di sana.

Kita bertemu George Valentin (dimainkan dengan cemerlang oleh Jean Dujardin), aktor film bisu yang tampan dan jadi idola. Dengan posisinya di puncak karier, Valentin  sulit membayangkan bakal tergusur. Padanya, kita teringat pameo yang didengungkan tokoh Norma Desmond (dimainkan Gloria Swanson) di film karya Billy Wilder, Sunset Boulevard: “We didn’t need dialogs, we had faces--Kami tak butuh dialog, kami punya wajah” katanya mengacu ke era keemasan film bisu.

Di bagian awal The Artist ada film dalam film yang buat saya sebuah lelucon cerdas dari sineasnya.

Tokoh dalam film disiksa, disetrum, diminta bicara. “SPEAK—bicara!” seru sang penyiksa. “I won’t talk. I won’t say a word—Saya takkan bicara. Saya takkan bilang satu kata pun!” timpal si tokoh di film yang disiksa.

Momen itu, seolah mukadimah bagi keseluruhan film ini: hitam putih dan nyaris tak bicara. Momen itu bila diartikan lebih jauh juga menyelipkan pesan kalau tokoh film bisu yang penonton saksikan di teater hari itu bersumpah tetap menjadi bagian dari film bisu, yang di tahun 1927 merupakan masa keemasannya. Tak terbayangkan kala itu, ada yang bisa menggusur film bisu.

Menonton The Artist adalah sebuah pengalaman sinematik yang langka. Sebuah fiilm bisu di zaman film 3D. Dengan rasio gambar tak seperti film bioskop masa kini—The Artist tak dibuat disorot dengan format layar lebar, melainkan seperti film bisu zaman dulu.

Menonton The Artist, Anda akan heran betapa walau nyaris tak ada aktor-aktrisnya bicara, melulu musik mengalun, tapi di saat bersamaan filmnya terasa sangat “bersuara”.

The-Artist6-535x411Nyatanya, untuk memahami sebuah film ternyata kita, penonton, tak butuh para bintang bertukar dialog, tapi pada bahasa gambar. Kepada kita Dujardin tak perlu mengucapkan apa pun. Lewat wajahnya, ia sudah mengatakan segalanya. Wajah Dujardin tak sekadar tampan, tapi juga memiliki keelokan bintang film klasik. Kita tak seperti melihat aktor masa kini berakting melainkan macam melihat bintang film klasik Douglas Fairbanks atau Gene Kelly. Selain wajah yang—meminjam istilah seorang pengulas di situs IMDB—sepertinya  dibuat para dewa Hollywood, Dujardin juga mampu memancarkan emosi melalui mata, bibir, maupun hidungnya mengajak kita larut dalam setiap situasi yang dilaluinya: kegembiraan di puncak karier, keteguhan melawan era film bicara, sampai depresi nyaris bunuh diri.     

Tapi, Dujardin tak memukau sendirian di The Artist. Lawan mainnya, Berenice Bejo, pemeran Peppy Miller juga memancarkan akting memukau lewat mimik wajahnya. Bejo memainkan karakter Peppy dengan rupa wajah klasik tapi di saat bersamaan terasa sangat modern bagi penonton zaman sekarang. Sepanjang film, wajahnya memancarkan keceriaan dan rasa optimis.

Pas betul George Valentin dan Peppy Miller mewakili dua generasi berbeda bintang film.

Dan, ah, baik Dujardin maupun Bejo (atau si anjing Uggy yang menggemaskan) sejatinya adalah elemen dari sebuah surat cinta pada film bisu. Film ini terasa pas dibuat oleh Michel Hazanavicius yang orang Eropa (film ini produksi Perancis).

Kita tahu, film Eropa punya gaya tutur berbeda dengan Hollywood. Mudahnya, tradisi film Eropa senang mengeksploitasi kedalaman—dan kegelapan hidup—hingga film-film Eropa lebih sering dibilang film berat. Hazanavicius, yang lahir dari tradisi sinema “gelap” dan “berat” kemudian membuat sesuatu yang tak biasa. Mengutip Seno Gumira Ajidarma saat mengulas The Artist di Kompas (19/2/2012), Hazanavicius “mengambil kesempatan untuk bernostalgia dengan kebahagiaan dalam keterhiburan serba ringan, yang secara monumental telah ditancapkan film-film klasik pada masanya.”   

Ia menanggalkan yang “gelap” dan “berat” dan meminjam idiom-idiom klasik Hollywood. Idiom ini dipinjam langsung ke sumbernya, di masa kejayaan film bisu.

Pada titik ini, walau tak bersuara, The Artist terasa dekat dan mudah dinikmati. Sebab, secara sadar, sineasnya telah menggunakan bahasa film Hollywood yang telah kita akrabi. The Artist, walau dibuat sineas Eropa, menggunakan bahasa sinema Hollywood sebetul-betulnya.

Bahasa film Hollywood sudah begitu canggih dalam hal memanipulasi reaksi psikologis penonton. Menikmati bahasa film Hollywood tak memerlukan kerja otak terlalu keras, karena hampir seluruh sistem resepsi kita sebagai penonton film, pada dasarnya sejak lahir sudah dibentuk film Hollywood. Kita sudah kenal betul bahasa film Hollywood: cepat, mudah dimengerti, menyenangkan, dan memberi penyelesaian tuntas. Istilah yang akrab: menghibur.

***

chloe moretz as isabelle anKemudian kita tengok surat cinta yang lain pada sinema lewat Hugo. Martin Scorsese, sutradaranya, melayangkan surat cinta bagi sinema klasik di masa awal perkembangannya yang memang dalam sejarahnya berlangsung di Perancis. (Kenyataan ini: surat cinta Scorsese pada sinema awal di Perancis, sedang Hazanavicius pada sinema bisu Hollywood terasa seperti dua sineas ini saling bertukar surat cinta.)          

Bagi yang akrab dengan karya Scorsese tentu mengenal sineas ini langganan membuat film bertema gangster (Taxi Driver, Goodfellas, Casino, The Departed). Tapi, itu hanya bagi yang mengenal satu sisi Scorsese. Di luar sebagai sineas kelas wahid, Scorsese adalah pecinta sejati kelestarian sinema. Ia pendiri World Cinema Foundation yang kegiatannya merestorasi film-film lawas warisan dunia, menyelematkannya dari waktu agar bisa ditonton setiap generasi.

Maka, sebetulnya, pesan utama Hugo sejatinya adalah mengajak kita melestarikan sinema dunia. Scorsese meminjam buku anak-anak karangan Brian Selznick (judul asli: The Invention of Hugo Cabret) untuk menyampaikan pesan itu.

Bagian pertama film adalah tentang seorang anak yang hidup di stasiun kereta di Paris, yang kerjanya sehari-hari merawat berbagai jam yang menggantung maupun menempel di stasiun. Bocah itu, Hugo (diperankan Asa Butterfield) memiliki boneka mesin yang disebut automaton warisan ayahnya yang sudah meninggal. Hugo mencuri suku cadang dari mainan dari sebuah toko mainan di stasiun, sambil harus menghindar dari inspektur stasiun yang pincang (Si “Borat” Sacha Baron Cohen dalam penampilannya yang “lurus”) yang bisa menggelandangnya ke panti asuhan sewaktu-waktu.  Bagian pertama film terasa nuansa kisah Dickensian macam yang kita baca (atau tonton) dalam Oliver Twist, tentang petualangan bocah tanpa orangtua di belantara beton kapitalisme modern masa awal.

Bagian kedua yang merupakan surat cinta pada sinema awal. Kita menemukan hal yang dikenang Hugo dari ayahnya adalah pengalaman pertama sang ayah saat nonton film. Hugo ingat, ketika sang ayah nonton adegan mata bulan kena roket, adalah momen yag disebut sang ayah “seperti mimpi di siang bolong.”   

Film, sang gambar bergerak, kemudian memang tak sekadar jadi benda temuan sebagai hasil karya manusia semacam mobil atau pesawat terbang. Goenawan Mohamad dalam salah satu esai Catatan Pinggir-nya saat mengulas Cinema Paradiso, sebuah film Italia tentang kecintaan pada biskop mencatat, “gambar hidup adalah keajaiban, yang tak cuma dilahirkan oleh teknologi, tapi juga kepandaian bercerita.”

Syahdan, di Hugo kita bertemu George Melies (Ben Kingsley), salah satu pelopor sinema awal. Salah satu karyanya adalah Perjalanan ke Bulan, film kesukaan ayah Hugo. Di novel (dan filmnya) kita menemukan kalimat ini:

“Pembuat film George Melies memulai kariernya sebagai pesulap dan memiliki teater sulap di Paris. Pekerjaannya sebagai pesulap membantunya memahami kemampuan media baru ini. Ia adalah salah satu orang pertama yang menunjukkan bahwa film tidak harus selalu mencerminkan kehidupan nyata. Ia segera menyadari bahwa film memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi...”        

Bagi pecinta film, momen-momen terbaik Hugo terjadi di bagian kedua film. Pecinta film yang sudah menonton Hugo pasti ingat kalimat-kalimat pamungkas yan merupakan wujud kecintaan pada film: “Akhir bahagia hanya terjadi di film”; atau yang ini, ketika seorang bocah dengan wajah penuh kagum melihat “istana” studio film Melies. Pada sang bocah Melies berkata “Kalau kamu bertanya-tanya dari mana asal mimpi-mimpimu, tengok sekelilingmu... di sini mimpi-mimpi itu dibuat.”

hugo12Lewat sosok Melies kita melihat pada hakikatnya sineas adalah juga pesulap yang menyuguhkan trik sulapnya di depan layar pada kita. Melies tak ubahnya Steven Spielberg zaman dulu yang lewat trik-trik visualnya nan sederhana menyuguhkan mimpi di layar.

Di Hugo, kita tertawa, tersenyum simpul, dan pada akhirnya menangis haru melihat bagaimana film cerita dibuat di masa-masa awalnya.

Dan hebatnya, ini yang bikin saya paling kagum, semuanya disuguhkan dalam format 3D.        

Saya ingat, kritikus film kawakan Roger Ebert suatu kali menulis esai yang kemudian jadi cerita sampul majalah Newsweek edisi 9 Mei 2010. Ebert marah pada demam 3D di Hollywood yang melanda pasca sukses Avatar (2009). Ia menulis judul besar esainya: “Why I Hate 3-D (And You Should Too)—Mengapa Saya Benci 3D (Dan Sebaiknya Anda Juga).”

Katanya, film 3D tidak menambahkan apapun pada pengalaman menonton film, selain jadi kesempatan studio dan bioskop mengeruk uang penonton lebih banyak karena tiketnya lebih mahal. Ebert bilang, tak bisa membayangkan film drama serius dirilis dalam format 3D.

Ebert sudah bilang mungkin saat Scorsese pakai teknologi 3D, ia akan menyukai film 3D. Scorsese, kata Ebert, tahu film dan mencintai berbagai kemungkinan baru yang bisa dilakukan medium ini. “Saya berharap ia akan menggunakan 3D sesuai kebutuhannya.”

hugo 015Dan memang, Scorsese tidak menyalahgunakan 3D. Dalam ulasan Hugo-nya, Ebert memuji Scorsese menggunakan 3D “sebagaimana mestinya, bukan sebagai gimmick melainkan sebagai peningkatan kualitas efek pamungkas yang diidamkan.” Pendek kata, 3D pada Hugo memberi pengalaman sinematik total: sebuah film tentang masa-masa sinema awal—bahkan saat suara belum ditemukan dan warna pada pita seluloid dilukis tangan frame demi frame—diwujudkan dalam perkembangan paling mutakhir sinema kiwari.   

 ***

Pada akhirnya, setelah menyuguhkan argumen puja-puji pada The Artist dan Hugo kita sampai pada jawaban yang menjadi judul tulisan ini: The Artist dan Hugo lebih bagus mana?

Apa, setelah memendam pikiran berhari-hari, menonton lagi The Artist dan Hugo, menamatkan novelnya, sambil membaca berbagai ulasan soal dua film itu, saya masih pada penilaian dasar Hugo “dalam beberapa hal bahkan lebih bagus dari The Artist” ?

Setelah menimbang masak-masak, nyatalah apa yang saya katakan di Twitter begitu usai nonton Hugo sekadar emosi sesaat. Mungkin emosi yang timbul pada rasa kagum karena ada kecintaan yang sama pada film tertuang dengan indahnya di layar lebar.

Sekali lagi, baik The Artist maupun Hugo adalah surat cinta yang sama. Seperti kekasih yang menerima surat cinta—entah lewat Pak Pos, diselipkan ke bawah pintu kamar, ke dalam buku yang tengah dibaca, atau ke dalam inbox e-mail, Facebook, Twitter—kita terpesona. Saat menerima surat cinta, perasaan kita bungah, riang, happy, atau kadang menangis haru.            

Untuk perasaan yang timbul usai nonton 2 film itu, rasanya tak adil menyebut yang satu lebih baik dari yang satu lagi. The Artist dan Hugo sama-sama sebuah mahakarya sinema. Titik.***

Views: 1176
Posting: 11-Mar-2012 16:40:11 WIB
Comments: 106 comments
Category: Film
Kunjungan Industri
Kunjungan Industri
Blog Category