Karena sekarang saya lagi mendalami yang namanya teater, jadi di blog ini saya mo posting artikel tentang teater tulisan dari pimpinan sanggar seni saya.
Seni Peran
“Dasar-Dasar
Akting”
Moh. Nurdiansyah, S,sn
TAHAPAN PERTAMA
Pengantar Seni “Akting”
Akting adalah wujud yang kasat mata dari suatu seni peragaan tubuh, yang
menirukan prilaku-prilaku manusia mencakup segala segi, lahir dan batin, yang
sebelumnya digagas terlebih dahulu, direka, dirancang, kemudian diselenggarakan
di panggung untuk disaksikan penonton peminatnya sebagai bentuk seni efemeral,
maksud dari seni efemeral, yakni seni yang berlangsung melalui akting. (Yapi
Tambayong, hal. 9:2000). Acting diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan
kata peran (pemain sandiwara) yang dalam kamus berarti proses, cara, perbuatan
memahami prilaku yang diharapkan dan dikaitkan dengan seseorang. Tentunya tidak
hanya memahami tetapi juga melakukan prilaku orang tersebut. Asal kata Acting
adalah to act atau dalam bahasa Indonesia berarti “beraksi”. Itu sebabnya kita
sering mendengar sutradara meneriakkan kata action dibelakang kamera ketika
aktor akan memulai aktingnya. Akting dengan demikian lebih berarti mengaksikan
peran yang dimainkan. (Eka D. Sitorus, hal. 37:2003). Aktor memanfaatkan Tubuh
pikir dan rasa sebagai alat peragaannya yang terlatih baik, sifat keperagaan
ini pulalah yang membedakan akting atau nilai seni drama dan karya seni teater,
berbeda dengan seni-seni kreatif lainnya. Akting menurut Richard Boleslavsky
keagungan penciptaan, kemurnian suatu keindahan, sesuatu yang lebih besar dari
kehidupan. (RMA. Harymawan, 27:1988) dengan demikian akting harus ditumbuhkan
dari kesadaran-kesadaran insani yang mengikat, kesadaran yang dimaksud itu
adalah kesadaran estetis dan kesadaran etis. Kesadaran estetis; Lahirnya
kesenian ditentukan oleh dorongan keindahan alami itu menjadi bentuk yang
mewujud sebagai keindahan seni. Kesadaran etis berarti ia telah menerima
pikiran yang hakiki, bahwa sumber segala keindahan itu adalah sang Ilahi,
pencipta alam dan segala isinya.
Asal Mula Gestur
Ketika aktor tertarik untuk menyelidiki tingkah-laku unik seseorang, dia juga
perlu memperhatikan aspek-aspek tingkah-laku yang ada dalam masyarakat orang
itu. Dia masih dapat melihat bahwa gestur-gestur nonverbal dari aksi-aksi di
masa silam adalah tindakan yang dibutuhkan, penting, dan di pakai untuk hal-hal
praktis. Perkembangan manusia saat ini mengubah kebutuhan-kebutuhannya dan
dengan demikian mengubah banyak tingkah-laku fisiknya. Satu situasi pada masa
silam yang harus dipenuhi dengan aksi fisik, sekarang ini dapat diatasi dengan
teknologi canggih. Tetapi impuls atau rangsangan dari tingkah laku praktis
tersebut masih ada, hanya sekarang menjadi satu bentuk ekspresif yang tidak
fungsional. Perasaan dan pikiran dapat disebut gestur. secara sistematis gestur
terbagi menjadi dua bagian, yaitu fisik dan vokal, yang dapat dilihat dan yang
dapat didengar. Gestur vokal dibagi lagi menjadi verbal (mengucapkan kata-kata)
dan nonverbal (bunyi-bunyi yang kita gunakan, termasuk infleksi (ling) atau
jaringan dan penekanan yang mempengaruhi arti emosional dari kata-kata yang
kita ucapkan). Karena penulis naskah akan memberikan gestur-gestur verbal dalam
bentuk kata-kata di naskah, tugas si aktor adalah menyelidiki aspek-aspek nonverbal
dari gestur karakter yang dimainkannya, gestur-gestur fisik, postur, infleksi,
dan sebagainnya.
Gestur dan Komunikasi
Ada gestur-gestur yang memberikan arti yang konsisten dalam situasi-situasi
yang serupa. Dengan demikian berfungsi sebagai satu sistem simbolis atau tanda.
Yang istilahnya lebih dikenal dengan nama bahasa tubuh. seni komunikatif yang
diciptakan gestur dapat beragam dari yang universal sampai yang paling aneh,
bahkan bodoh. Gestur dapat menggantikan kata-kata atau mendukung kata-kata.
Fungsi Gestur
Bahasa gestur dapat dibagi menjadi 4 kategori umum yaitu :
Ilustratif atau imitatif
Indikatif
Empatik
Austistik
Gestur yang sifatnya ilustratif adalah gestur yang disebut “Pantomimik” ketika
mencoba mengkomunikasikan informasi spesifik atau bersifat khusus (“kontak itu
besarnya setinggi ini dan selebar ini”). Gestur indikatif (berhubungan dengan
bentuk verbal yang menggambarkan keadaan nyata), dipakai untuk menunjuk (“Di
sebelah sana”). Gestur empatik memberikan informasi yang subjektif dari pada
objektif, berhubungan bagaiman orang merasakan sesuatu (ketika kita mengatakan:
“Sekarang, dengar aku!” sambil meninju kepalan tangan kita ke atas meja atau
menunjuk jari kita kemuka musuh). Gestur Autistik (arti harafiahnya “kepada
diri”) tidak dimaksud untuk komunikasi Sosial tetapi lebih diutamakan untuk
komunikasi dengan diri sendiri. Misalnya, ketika seseorang yang sedang
mendengar orang lain berbicara memiliki perasaan benci kepada lawan bicaranya
tetapi harus menutupinya, maka dia akan melipat tangannya dengan rapat sekali
dengan telapak masuk di sela-sela kedua ketiak di depan anda. Dengan tingkah
laku rahasia ini, orang itu menyatakan aksi simbolis merasa puas ketika sedang
mencekik lawan bicaranya. Walaupun gestur seperti itu sering tersembunyi,
secara tidak sadar, sering kali orang di sekitar kita dapat mengenali dan
merasakannya. Tentu saja realitanya keempat kategori ini tidak nyata terpisah
tetapi sengaja dipisah untuk memudahkan pelajaran kita tentang gestur dan
hampir semua gestur yang kita pakai adalah kombinasi dari dua atau tiga
kategori di atas. (Eka D. Sitorus, hal. 81-82:2003). Tubuh harus sehat, tidak
soal bagaimana bentuknya, apakah ia kurus, gemuk, buntet, jangkung. Sebab
dengan tubuh yang sehat, harapan berhasilnya penampilan peran sesuai tuntutan
TPR (Tubuh, Pikir, Rasa) akan bisa terpenuhi. Namun segera pula harus diingat,
bahwa keadaan tubuh yang sehat itu bertalian erat dengan kemampuan yang beralas
pada kemauan mengikuti latihan-latihan khusus, yakni terkoordinasi untuk melakukan
tugas akting yang harus menurut ikatan-ikatannya dan berkembang leluasa menurut
kemungkinan-kemungkinan tak terduga di mana ia melakukan improvisasi dengan
leluasa.
PRAKTEK:
1. Olah Tubuh
Senam
Menari
Yoga
Meditasi
2. Olah Vokal
Teknik melatih rongga mulut
a. Pengucapan lafal yang benar
b. Melatih kelenturan rahang bawah
- Membuka rahang bawah selebar 3 jari
- Gerakkan rahang bawah ke kanan dan ke kiri
- Gerakkan rahang bawah ke depan
Melatih kelincahan lidah
a. Memutar lidah ke kiri dan ke kanan
b. Menjulurkan lidah keluar
c. Menempel lidah ke langit-langit atas, kemudian tekan lidah bagian tengah
kuat-kuat sehingga otot lidah bagian bawah sedikit terasa sakit.
Melatih kelenturan otot bibir
a. Menarik kedua bibir ke dalam, kemudian tiuplah keluar kuat-kuat sehingga
menimbulkan bunyi “puuh”.
Resonator (pita suara)
Membantu menguatkan getaran suara sehingga menjadi suara yang kuat. Organ tubuh
berfungsi sebagai resonator.
a. Rongga mulut
- Memproduksi suara yang jelas, dengan cara menarik ke bawah rahang bawah
b. Rongga dada (letaknya antara tulang dada dengan tulang punggung sebelah
belakang).
mampu memproduksi suara yang rendah dan berat
Ringga dada sebelah atas
Rongga dada sebelah depan
Rongga dada sebelah tengah
Rongga dada bagian belakang
c. Rongga hidung
- Penyaring udara masuk paru-paru mampu memproduksi suara sengau, antara lain:
konsonan m, n, ny, ng.
Sedangkan untuk vokal dilarang menggunakan rongga hidung sebagai resonator.
* Latihan pernafasan
- Menghirup udara melalui hidung sebanyak 4 ketukan kemudian udara ditahan 2
ketukan, setelah itu dihembuskan lewat mulut 4 ketukan. Hal ini dilakukan
secara berkesinambungan tanpa terputus-putus sampai batas maksimum kelelahan
pemain yang bersangkutan. Hal yang perlu diingat dalam latihan ini adalah
mengusahakan agar setiap ketukan, waktu menghirup dan menghembuskan udara
mengandung volume yang sama. Keculi itu waktu menahan nafas benar-benar
paru-paru dalam keadaan tenang (tidak menghirup atau menghemnbuskan
udara).setelah dikuasai, kemudian jumlah ketukan ditingkatkan dengan
perbandingan kelipatan yang sama, yaitu n=1/2 (n=jumlah menghirup dan
menghembuskan nafas, misalnya 6=3, 8=4, dan seterusnya, 1/2n= jumlah ketukan
manahan nafas).
- Menghirup udara sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat, kemudian
ditahan 4 ketukan dan dihembuskan 8 ketukan. Setelah dikuasai, jumlah ketukan
pada waktu menahan dan menghembuskan udara ditingkatkan dengan kelipatan n=2n
(n= jumlah ketukan manahan, 2n= jumlah ketukan menghembuskan udara), sedangkan
waktu untuk menarik nafas tetap dalam hitungan waktu relatif singkat,
sesingkat-singkatnya.
- Menghirup udara sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat, kemudian
ditahan sementara waktu atau tanpa dihitung dengan ketukan tetapi cukup dengan
perasaan, kemudian dihembuskan dalam waktu relatif lama sesuai dengan kekuatan
pemain yang bersangkutan. Dalam hal ini diusahakan agar volume udara yang
dikeluarkan dari awal sampai akhir mengandung intensitas yang rata/sama.
Usahakan jangan sampai terjadi adanya kesan dipaksakan sehingga mengakibatkan
adanya ketegangan yang berlebihan pada alat-alat rongga badan.
- Setelah ketiga cara tersebut benar-benar dikuasai agar dicoba lagi cara
latihan tersebut di atas, tetapi pada waktu menghembuskan udara diganti
produksi suara dengan vocal “a”, dengan urutan; saat menghirup dan menahan
udara sama dengan cara latihan di atas. Demikian seterusnya ditingkatkan untuk
vocal yang lain e, i, o, u.
- Mula-mula hirup nafas banyak-banyak melalui hidung lalu hembuskan dengan
sehabisnya. Diakhir hembusan sertai
dengan suara keras sehabisnya. Misalnya, “hah !” lakukan ini sebanyak 10 kali.
- Lakukan hal yang sama, tetapi kini dengan menghitung, yaitu ketika menghirup,
hitunglah setehap demi setahap
sampai 10 kali, lalu hembuskan pula dengan hitungan 10 kali. Jadi menghirup dan
menghembus nafas, tidak seperti
yang pertama lagi.
- Lakukan lagi pernafasan seperti yang kedua, tetapi kini dengan menaikkan
kedua belah tangan pelan-pelan secara
berangsur-angsur dengan hitungan dari 1 sampai 10, lalu turunkan juga
pelan-pelan dan berlangsung secara
berangsur dari 1 sampai 10 (jadi ketika mengambil nafas tangan dinaikan dan
ketika mengeluarkan nafas, tangan
diturunkan). Di akhir hitungan sertai kembali suara keras sehabisnya, “hah !”
*Latihan Menyanyi
-Belajar menempatkan suara dengan nada
*Mendeklamasi
- Coba baca dan hafalkan salah satu puisi dengan cara datar saja, tetapi juga
dengan keras-keras, tanpa emosi apa-
apa. Perhatikan perkembangan bagaimana yang terjadi dalam emosi.
- Baca dan hafalkan pula salah satu puisi dengan cara memenggal suku kata demi
suku kata sehingga terkesan puisi
itu hanya sebagai rangkaian yang putus-putus-perhatikan perkembangan bagaimana
yang terjadi dalam kehendak.
- Baca dan hafalkan pula salah satu puisi sambil meminta 4 orang menarik-narik
tubuh kearah yang berlawanan; dua
orang menarik-narik kedua tangan ke arah utara, dan dua orang lainnya
menarik-narik kedua kaki ke arah selatan-
perhatikan perkembangan kosentrasi yang terjadi dalam kemajuan.
3. Panca Indra
*Indra Lihat;
- Melihat dalam membayang orang yang sedang bunuh diri dengan jalan menggantung
lehernya di atas dapur.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang perempuan tua sedang menyeberang
jalan lalu tiba-tiba sebuah mobil
menabraknya, dan ia terpental, kepar-kepar, mati.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang telanjang bulat , ia mungkin gila,
ia mungkin pacar, ia mungkin model
yang tengah dilukis oleh pelukis.
- Membayangkan mata sedang melihat seorang anak balita lepas dari tangan ibunya
lantas berlari kejalan raya.
* Indra Dengar
- Membayangkan telinga sedang mendengar ban mobil selip di tikungan lalu
meanbrak tiang listrik.
- Membayangkan telinga sedang mendengar orang berteriak minta tolong karena
terhanyut di sungai
- Membayangkan telinga sedang mendengar lolong anjing di malam hari lantas ia
merasa terasing dan gamang.
- Membayangkan telinga sedang mendengar burung peliharaan berkicau dan hati
merasa plong.
*Indra Cium
- Membayangkan hidung sedang membau aroma sambel goreng terasi.
- Membayangkan hidung sedang membau comberan yang mampet di musim kemarau dan
ia duduk menghadapi
hidangan makan siang.
- Membayangkan hidung sedang membau keringat orang di sebuah kendaraan umum
yang sesak.
- Membayangkan hidung sedang membau parfum yang digunakan oleh seorang yang
berkesan dalam dirinya.
- Membayangkan hidung sedang membau durian, baunya dibuka di hadapannya, dan ia
tidak suka bau ini.
*Indra Kecap
- Memperagakan sedang mencicipi makanan yang pertama kali dikenal.
- Memparagakan sedang menikmati sesuatu yang tidak enak, ingin muntah, tetapi
menghormati tuan rumah yang
menghidangkannya.
- Memperagakan orang yang sedang kepedasan oleh lombok dan minum air panas.
- Memperagakan sedang mengunyah onde-onde yang gulanya masih panas.
- Memperagakan bagai mana seorang koki mengecap makanan di atas api
kompor,apakah sudah pas bumbu-
bumbunya.
*Indra Rasa
- Memperagakan bagaimana dipeluk oleh orang yang tidak disukai.
- Memperagakan bagaimana rasa tubuh di ruang AC yang sangat dingin dan ia
berpenyakit asma.
- Memperagakan bagaimana rasa dibelai kekasih, dicium di leher dan sekonyong
datang orang yang lebih berhak.
- Memperagakan bagaimana rasa menunggu terlalu lama di sebuah ruang yang sangat
panas.
- Memperagakan bagaimana rasa tubuh ditarik oleh seorang anak yang merengek
minta dibelikan es krim.
Tadi sebelum copas udah ijin...soalnya saya posting ini pas lagi disamping dia hahaha
mampir ya sob,copas asal nyantumin sumbernya sepertinya sah-sah aja
udah ijin blom sama yg punya tulisan? ;p