Situs jejaring sosial Facebook berhasil mengalahkan Yahoo dalam hal
jumlah pengunjung situs di Amerika Serikat (AS). Facebook pun diyakini
bakal melewati situs dengan jumlah pengunjung terbesar di AS, Google.
Menurut data lembaga pemeringkat situs Compete. com yang dirilis
kemarin, pada Desember 2009 Yahoo masih mengumpulkan 133,45 juta
pengunjung, sedangkan Facebook terpaut sedikit di belakangnya dengan
jumlah pengunjung 132,13 juta. Namun, pada Januari lalu, Facebook sudah
melewati Yahoo dengan raihan 133,62 juta pengunjung.
Yahoo
terpuruk ke tempat ketiga dengan hanya dikunjungi 132 juta pengakses.
Google yang mampu menarik pengunjung sebanyak 148 juta orang tetap
kokoh di peringkat pertama. Catatan lain diungkapkan Compete.com. Pada
hari-hari besar seperti Natal dan Tahun Baru,Facebook mampu
menyingkirkan Google dalam urutan jumlah pengunjung.
Banyaknya
pengunjung internet yang ingin berkirim kabar kepada teman ataupun
kerabat jauh menjadi alasan mengapa situs Facebook menjadi primadona
saat hari libur. Compete.com juga menyebut sebanyak 11,6 % pengguna
internet di seluruh dunia menghabiskan waktunya untuk membuka Facebook.
Analis RBC Capital Market Ross Sandler meyakini dalam waktu kurang dari
dua tahun ke depan atau pada 2012, Facebook akan melampaui raihan
Google. Terlebih jumlah pengunjungnya naik sekitar 10,8% setiap
bulannya.
Salah satu faktor yang akan terus menunjang
kepopuleran Facebook adalah makin banyaknya orang yang berminat dalam
aktivitas jejaring sosial. Fasilitas Facebook yang memungkinkan
pengunjung mengetahui kabar teman atau keluarga mereka membuat situs
itu menjadi pilihan pertama pengunjung saat mereka membuka internet.
Data Capital Market memperkirakan sampai akhir tahun lalu, 45% dari
pengguna internet langsung mengakses Facebook saat membuka internet.
Jumlah
ini naik 39% dari tahun sebelumnya. Sandler mengatakan Facebook akan
dengan cepat menjadi raksasa nomor satu di internet dan menjadi mesin
pendulang uang bila mereka bisa menemukan model bisnis yang
pas.“Seiring dengan makin banyaknya pengguna dan lama waktu yang
digunakan untuk mengunjungi Facebook,situs web lain atau perusahaan
akan semakin mengakui kebutuhan mereka untuk tampil di Facebook,” ucap
Sandler.
Berbeda dengan Facebook yang semakin menggila,
Yahoojustru terus terpuruk. Setelah bertahuntahun menjadi raja dan
menjadi yang terpopuler, posisi situs yang diluncurkan pada 1995
tersebut digeser Google dua tahun lalu dengan perbedaan jumlah
pengakses yang signifikan. Keterpurukan Yahoo memang sudah diprediksi
karena situs tersebut dianggap kurang bisa mengikuti perkembangan zaman.
Facebook
diluncurkan mahasiswa Harvard bernama Mark Zuckerberg pada 4 Februari
2004. Semula, Zuckerberg menggunakan situsnya hanya untuk saling
mengenal antarmahasiswa Harvard. Namun, situs ini dengan cepat menjadi
favorit di kalangan mahasiswa kampus tertua di AS tersebut. Hanya dalam
waktu dua pekan, setengah mahasiswa Harvard yang berjumlah lebih dari
20.000 sudah menjadi anggota.
Situs ini kemudian diperkenalkan
ke publik pada September 2006. Situs ini langsung menyedot pengguna
internet sehingga mampu mendongkrak peringkatnya dari nomor 67 ke
peringkat ketujuh dalam waktu setahun, termasuk Kanghari
juga disedot situs facebook. Sejak diluncurkan, situs ini mampu
menyedot 400 juta anggota. Kepopulerannya juga membuat Zurkerberg
menjadi CEO termuda yang bergelar triliuner.
Berkat situsnya,
pria yang baru berusia 25 tahun ini diperkirakan memiliki kekayaan
senilai USD1,5 miliar atau sekitar Rp15 triliun. Pengamat internet
Wicaksono menilai, kepopuleran Facebook di dunia tidak lain karena
keunggulan yang dimiliki. Dalam situs ini orang bisa dengan mudah
menemukan teman-temannya dan berinteraksi di dalamnya.
Selain
itu, situs ini juga memberikan wadah bagi pengguna untuk eksis dengan
memperbarui status, mengunggah foto, dan sebagainya.“Karena inilah yang
memang sangat dibutuhkan sehingga wajar jika kemudian banyak pengguna
yang memanfaatkan Facebook,”ujarnya. Kepala Pusat Informasi dan Humas
Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot S Dewa Broto mengatakan,
perludilakukansosialisasi agar masyarakat tidak menggunakan
Facebookuntuk hal yang negatif.
Penurunan harga kebutuhan pokok yang mulai terjadi bulan ini
diperkirakan akan menekan laju inflasi Maret, bahkan diproyeksikan akan
terjadi deflasi. Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan,
Maret ini harga beras sudah turun 1,6% dibandingkan pekan lalu.
Penurunan ini masih karena puncak panen belum terjadi. ”Harga berbagai
komoditas pangan mulai mengalami penurunan,mungkin bulan ini bisa
terjadi deflasi,” kata dia seusai rapat Koordinasi Ketahanan Pangan di
Kantor Menko Perekonomian di Jakarta kemarin.
Menurut dia,di
samping panen raya padi, komoditas tebu juga segera memasuki musim
giling atau produksi. ”Minggu ketiga Maret sudah masuk musim giling.
Sekitar pertengahan April gula lokal sudah akan masuk pasar,”kata Bayu.
Selain beras dan gula, harga berbagai komoditas pangan lain seperti
terigu, daging sapi, bawang, dan cabai juga mengalami penurunan.”
Hanya
harga daging ayam yang naik hampir 20%, tapi tidak masalah karena harga
sebelumnya sangat rendah,”ujarnya. Penurunan harga inilah, menurut
Bayu, mungkin bisa menyebabkan deflasi. ”Kalau deflasi benar-benar
terjadi, ini bisa mengurangi angka inflasi secara keseluruhan tahun
ini,”tutur Bayu. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan
menyatakan hal senada.
Seiring masa panen di sejumlah daerah,
harga kebutuhan pokok bisa turun. Deflasi bisa terjadi sebelum awal
Maret. ”Kalau penurunan harga ini terus terjadi, ada potensi terjadi
deflasi Maret,”ujarnya kemarin. Rusman mengatakan, BPS tetap akan
memantau dan memperhatikan harga-harga komoditas yang diperkirakan
mulai turun pekan kedua hingga keempat Maret.
Untuk perkembangan
minggu ini kita laporkan dalam rapat koordinasi karena harga beras
mulai turun drastis. Dan ada beberapa bahan pokok yang punya peran
dalam inflasi mengalami penurunan, menurut informasi yang Type Approval Indonesia dapatkan. Inflasi Februari tahun ini mencapai 0,30% angka ini menurun jika dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,84%.
Hingga
saat ini inflasi kumulatif Januari–Februari mencapai 1,14%,dan secara
tahunan (year on year) 3,81%. Februari masih terjadi inflasi karena
belum ada panen yang berarti sehingga memengaruhi psikologis pasar. BPS
mencatat, komponen inti mengalami inflasi 0,15% sehingga laju inflasi
komponen inti tahun kalender (Januari–Februari) sebesar 0,74%, dan
secara tahunan 3,88%.
Pengamat ekonomi dari Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latief Adam menilai deflasi sulit terjadi
pada Maret ini.”Kalau saya lihat sekarang, tidak ada faktor penunjang
dan pendukung bagi kita untuk bisa deflasi. Karena faktor supply dan
demand tidak memadai kita untuk deflasi bulan Maret ini,”katanya.
Ketidakyakinan ini, menurut Latief, bisa dilihat dari tingkat inflasi
selama Februari dan Januari.
”Kalau inflasi Februari 0,30% tidak
akan mungkin terjadi deflasi, paling-paling inflasi menjadi 0,4% masih
masuk akal,”tambahnya. Menurutnya, tren 10 tahun terakhir sekitar 42%
inflasi disumbang oleh bahan pangan khususnya beras. ”Februari kemarin
harga beras masih tinggi walaupun turun dibandingkan bulan sebelumnya,
tapi tidak akan sampai membuat deflasi,”tambahnya.
Operasi Pasar
Di
sisi lain, pemerintah akan mengurangi kegiatan operasi pasar (OP) beras
di beberapa daerah seiring harganya yang relatif stabil.”OP sangat
selektif walau di Maluku masih diadakan OP. Namun, hari-hari terakhir
tidak ada OP karena mulai memasuki masa panen,” kata Direktur Utama
Perum Bulog Sutarto Alimoeso.
Menurut dia, saat ini harga
tertinggi beras masih terjadi di daerah Medan dan sekitarnya yang
mencapai Rp6.000 per kg. Namun, harga beras sudah mulai turun di
beberapa daerah karena mulai memasuki masa panen. Menteri Perdagangan
Mari Elka Pangestu mengatakan, harga beras mulai pertengahan Februari
hingga awal Maret 2010 sudah menunjukkan penurunan.
”Pada minggu
pertama sudah mulai turun, minus 2%. Pada Januari naik sampai
pertengahan Februari, lalu mulai turun, sedangkan Februari– Maret sudah
turun beberapa persen karena kita sudah mulai masuk masa panen,”ujarnya.
Menurut
Mari, stabilnya harga beras juga disebabkan oleh distribusi pasokan
beras operasi pasar dan beras miskin dari Bulog yang berjalan lancar.
Bulog mulai melakukan operasi pasar beras pada pertengahan Januari di
10 daerah yang sebelumnya mengalami krisis harga beras seperti DKI
Jakarta, Yogyakarta, NTB, Maluku, dan Sumatera Selatan.