Udah 2 hari ini, aku lagi suka ngeliat iklan Mie Sedaap.
Bukan cuma kerana aku lagi pengen makan mie instan (udah 2 bulan gk makan mie instan TT__TT), tapi karena makna iklannya dalem banget menurutku.
Awalnya, aku cuma liat entu iklan pas bagian akhir aja, yaitu pas adegan di meja makan yang penuh dengan aneka makanan dari mie instan, mulai dari yang direbus, dikari ayam sampe yang di goreng.
Tiba-tiba kamera menyorot salah seorang anak kecil (lelaki) yang berujar :
"Coba ramadhan dan lebarannya sepanjang tahun ya... Pasti kita jadi bisa makan enak terus tiap hari", sambil nyengir ketawa lebar gitu.
Trus teman di sebelahnya berujar : "iya.. ya..", sembari senyum dengan lebar.
Ketika melihat cuplikan adegan itu yang langsung terlintas di benakku dan otomatis langsung nyeletuk ke suami :
"Jah, mosok mie instan dibilang makanan enak dan mewah"
Trus suami bilang : "padahal cuma makanan pengungsi ya?"
Tiba-tiba aku ingat, dulu waktu aku masih kecil (sekitar 6 atau 7 tahun), aku pernah datang ke kampung emakku.
Di sana, mie instan & telor itu termasuk makanan mewah dan gk boleh dimakan tiap hari. Bahkan, waktu ada yang ulang tahun, hidangan specialnya adalah mie instan rebus pake telor. Itu termasuk cukup mewah tuh untuk ukuran entu kampung.
Waktu itu aku cuma bisa bengong aja, datang ke acara ultah disuguhi mie instan? :o
Back to iklan mie instan tadi.
Kemarin, aku liat entu iklan dari awal. Dan Masya Allah... ternyata, anak-anak itu adalah anak-anak panti asuhan.
Pantas saja, bagi mereka mie instan saja sudah cukup merupakan makanan mewah untuk mereka.
Sungguh, ngeliat iklan ini, hatiku teriris-iris.
Harapan mereka tidak muluk-muluk, mereka berharap ramadhan & lebaran bisa berlangsung sepanjang tahun, hingga mereka bisa merasakan makanan enak setiap hari.
Ya Allah... inilah mungkin indikasi bahwa umat muslim mulai berbondong-bondong berbuat baik hanya pada saat ramadhan & lebaran tiba saja. Ketika ramadhan berlalu, mereka lupa untuk berbuat amal kebajikan.
Ya memang sih, gk salah, memang sudah seharusnya kita memperbanyak amal & ibadah saat ramadhan.
Tapi, yang perlu kita ingat juga bahwa, Ramadhan adalah bulan pendidikan, jadi sudah seharusnya apa yang kita lakukan di bulan Ramadhan bisa terus kita lanjutkan setelah Ramadhan berakhir.
Tidak perlu terlalu muluk-muluk deh, cukup dengan mulai membudayakan zakat penghasilan.
Bayangkan hampir 90% masyarakat Indonesia adalah muslim (hampir 207juta jiwa), dikurang jumlah penduduk miskin sekitar 30juta jiwa, setengahnya saja, kalau mau konsisten membayar zakat (88juta jiwa) jika kita anggaplah penghasilan mereka 2jt (2,5% nya Rp50.000), maka zakat yang dapat disalurkan ke kaum dhuafa tak kurang dari 4 triliun setiap bulannya. Kalau pakai hitungan kasar, dengan uang segini berarti kita bisa membantu kaum duafa setidaknya untuk pangan yang layak.
Bayangkan, kalau seluruh umat muslim yang mau membayar zakat? dengan penghasilan minimal 2jt, bisa dapat 8 triliun.
Kalau pejabat & pengusaha yang penghasilannya minimal 50jt? weh.. weh... puyeng ngitungnya. :D
Gk usah deh ngarep entu para pejabat & pengusaha yang mungkin hampir 70% tukang korup, suap & makan duit rakyat.
Tapi coba kita liat diri kita sendiri aja dulu. Sudahkah kita menyisihkan 2,5% setiap bulannya?
Mungkin kita cuma bisa memberi 50ribu setiap bulan, tapi... bagi mereka yang membutuhkan, contohnya seperti anak-anak panti asuhan di iklan tadi, uang segitu, bisa buat beli mie instan 1 box, yang bagi mereka makanan yang sangat mewah.
Ya Allah ampunilah hambaMu ini yang masih sering lalai.
Nb : Bahan renungan untukku sendiri, karena kadang aku masih suka telat bayar zakatnya. T__T