Purple's Diary It's all about my purple life

Blog Category: Oase hati
Sep
08
2011

Tadi malem mendengar berita yang sangat bikin miris. Kelaparan, 7 Ekor Anjing ini Memakan Majikannya

Duh, nyeri banget liatnya. Bukannya mau ngata-ngatain orang yang sudah meninggal ya.

Bagaimanapun aku cuma bisa mendoakan, semoga Allah menerima amal baiknya selama dia hidup.

Tapi, kejadian ini bisa jadi bahan renungan & instropeksi untuk kita bersama.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Mengambil intisari dari link berita di atas, diketahui bahwa si pemilik pulang kampung dan meninggalkan anjing-anjingnya yang berjumlah 9 ekor dari tanggal 14 Agustus-30 Agustus 2011 (yang berarti adalah kurang lebih 14 hari). Tanpa diberi makan, atau dititipkan kepada oranglain.

Satu hal yang langsung terlintas dibenakku saat melihat berita ini adalah ZOLIM.

Saat kita memutuskan untuk memelihara binatang, apapun itu, berarti langsung jatuhlah pula tanggungjawab kita terhadap binatang tersebut.

Tugas kitalah untuk memenuhi segala kebutuhannya, mulai dari makan, tidur sampai kebutuhan bereproduksi.

Nabi Muhammad adalah salah seorang manusia yang terkenal paling menyayangi binatang.

Banyak hadist yang mengisahkan, bagaimana kasih sayangnya terhadap binatang, diantaranya adalah Hadist Riwayat Bukhari, kitab Masafah, hadits nomor 2192 :

“Seorang wanita disiksa karena menahan seekor kucing sehingga membuatnya mati kelaparan, wanita itupun masuk neraka.” Kemudian Allah berfirman –Allah Mahatahu—kepadanya, “Kamu tidak memberinya makan, tidak juga memberinya minum saat ia kamu pelihara; juga engkau tidak membiarkannya pergi agar ia dapat mencari makanan sendiri dari bumi ini.”

Kalau memang kita tak mampu untuk memenuhi hak-hak binatang itu, maka biarlah ia hidup di alam bebas dan memenuhi kebutuhannya sendiri.

Kalau pada binatang saja kita sudah tega berbuat zolim, bagaimana dengan manusia?

Na'udzubillah Min Dzalik.

Views: 235
Posting: 8-Sep-2011 10:37:31 WIB
Comments: 0 comments
Category: Oase Hati
Aug
26
2011

Udah 2 hari ini, aku lagi suka ngeliat iklan Mie Sedaap.

Bukan cuma kerana aku lagi pengen makan mie instan (udah 2 bulan gk makan mie instan TT__TT), tapi karena makna iklannya dalem banget menurutku.

Awalnya, aku cuma liat entu iklan pas bagian akhir aja, yaitu pas adegan di meja makan yang penuh dengan aneka makanan dari mie instan, mulai dari yang direbus, dikari ayam sampe yang di goreng.

Tiba-tiba kamera menyorot salah seorang anak kecil (lelaki) yang berujar :

"Coba ramadhan dan lebarannya sepanjang tahun ya... Pasti kita jadi bisa makan enak terus tiap hari", sambil nyengir ketawa lebar gitu.

Trus teman di sebelahnya berujar : "iya.. ya..", sembari senyum dengan lebar.

Ketika melihat cuplikan adegan itu yang langsung terlintas di benakku dan otomatis langsung nyeletuk ke suami :

"Jah, mosok mie instan dibilang makanan enak dan mewah"

Trus suami bilang : "padahal cuma makanan pengungsi ya?"

Tiba-tiba aku ingat, dulu waktu aku masih kecil (sekitar 6 atau 7 tahun), aku pernah datang ke kampung emakku.

Di sana, mie instan & telor itu termasuk makanan mewah dan gk boleh dimakan tiap hari. Bahkan, waktu ada yang ulang tahun, hidangan specialnya adalah mie instan rebus pake telor. Itu termasuk cukup mewah tuh untuk ukuran entu kampung.

Waktu itu aku cuma bisa bengong aja, datang ke acara ultah disuguhi mie instan? :o

Back to iklan mie instan tadi.

Kemarin, aku liat entu iklan dari awal. Dan Masya Allah... ternyata, anak-anak itu adalah anak-anak panti asuhan.

Pantas saja, bagi mereka mie instan saja sudah cukup merupakan makanan mewah untuk mereka.

Sungguh, ngeliat iklan ini, hatiku teriris-iris.

Harapan mereka tidak muluk-muluk, mereka berharap ramadhan & lebaran bisa berlangsung sepanjang tahun, hingga mereka bisa merasakan makanan enak setiap hari.

Ya Allah... inilah mungkin indikasi bahwa umat muslim mulai berbondong-bondong berbuat baik hanya pada saat ramadhan & lebaran tiba saja. Ketika ramadhan berlalu, mereka lupa untuk berbuat amal kebajikan.

Ya memang sih, gk salah, memang sudah seharusnya kita memperbanyak amal & ibadah saat ramadhan.

Tapi, yang perlu kita ingat juga bahwa, Ramadhan adalah bulan pendidikan, jadi sudah seharusnya apa yang kita lakukan di bulan Ramadhan bisa terus kita lanjutkan setelah Ramadhan berakhir.

Tidak perlu terlalu muluk-muluk deh, cukup dengan mulai membudayakan zakat penghasilan.

Bayangkan hampir 90% masyarakat Indonesia adalah muslim (hampir 207juta jiwa), dikurang jumlah penduduk miskin sekitar 30juta jiwa, setengahnya saja, kalau mau konsisten membayar zakat (88juta jiwa) jika kita anggaplah penghasilan mereka 2jt (2,5% nya Rp50.000), maka zakat yang dapat disalurkan ke kaum dhuafa tak kurang dari 4 triliun setiap bulannya. Kalau pakai hitungan kasar, dengan uang segini berarti kita bisa membantu kaum duafa setidaknya untuk pangan yang layak.

Bayangkan, kalau seluruh umat muslim yang mau membayar zakat? dengan penghasilan minimal 2jt, bisa dapat 8 triliun.

Kalau pejabat & pengusaha yang penghasilannya minimal 50jt? weh.. weh... puyeng ngitungnya. :D

Gk usah deh ngarep entu para pejabat & pengusaha yang mungkin hampir 70% tukang korup, suap & makan duit rakyat.

Tapi coba kita liat diri kita sendiri aja dulu. Sudahkah kita menyisihkan 2,5% setiap bulannya?

Mungkin kita cuma bisa memberi 50ribu setiap bulan, tapi... bagi mereka yang membutuhkan, contohnya seperti anak-anak panti asuhan di iklan tadi, uang segitu, bisa buat beli mie instan 1 box, yang bagi mereka makanan yang sangat mewah.

Ya Allah ampunilah hambaMu ini yang masih sering lalai.

 

Nb : Bahan renungan untukku sendiri, karena kadang aku masih suka telat bayar zakatnya. T__T

Views: 419
Posting: 26-Aug-2011 12:15:15 WIB
Comments: 0 comments
Category: Oase Hati
Oct
26
2010
by Yohan Lie on Thursday, October 21, 2010 at 11:41am

Kalimat pada judul adalah sebuah teori dari Butterfly Effect.

Rerlepas dari itu teori sains atau yang lainnya, saya lebih senang membahas secara efeknya dalam kehidupan.

 

Saya ada kisah tentang nenek saya:

Dahulu waktu masih kecil nenek saya adalah buddhis.

Suatu hari ia mendengar kata Tuhan dan tergerak untuk mencari Tuhan.

Ia datang ke masjid awalnya untuk mengetahui dimana Tuhan, ada seorang penjaga masjid bertanya "ngapain loe disini ?"

Lalu nenek saya menjawab "Ingin ketemu Tuhan"

 

Tidak mengindahkan kalimat nenek saya, penjaga masjid itu mengusir nenek saya.

Hal tersebut dapat dimaklumi karena nenek saya masih bocah dan tidak dianggap serius. Dan bocah biasanya berisik dan bandel. (wakakaka)

Apalagi waktu itu perempuan jarang diperbolehkan masuk masjid.

 

Akhirnya sampailah nenek saya ke gereja dan melihat acara kebaktian, hampir tiap ada acara nenek saya datang, akhirnya pendeta disitu menghampirinya dan bertanya "Ada apa dek?"

Nenek saya mengatakan hal serupa dan akhirnya sang pendeta menerima nenek saya sebagai salah satu jemaatnya.

Nenek saya menjadi umat Protestan begitu juga semua keturunannya. Bahkan termasuk saya dulu.

Bayangkan jika dahulu nenek saya tidak diusir penjaga masjid, mungkin sekarang keluarga saya Islam semua, hahaha.

 

Hal diatas adalah contoh kecil bahwa apa yang kita perbuat walau itu kecil, bisa saja akan berakibat besar bagi kehidupan banyak orang.

 

(Sekarang saya muslim dan tebak, hal-hal kecil apakah yang telah membuat saya menjadi seorang mualaf seperti ini? Sedikit banyak adalah dari apa yang terjadi dalam kemelut keluarga :)  )

 

Karena itu saya lebih memilih untuk hati-hati dalam bertindak, karena apa yang kita lakukan walau kecil bisa besar akibatnya.

Besar baiknya, besar buruknya.

Padahal kita anggap sepele hal tersebut.

 

Semoga tulisan ini bisa menyadarkan kita agar menjaga tiap tindakan, perkataan, dan pikiran kita kepada orang lain.

Views: 358
Posting: 26-Oct-2010 08:28:31 WIB
Comments: 0 comments
Category: Oase Hati
Oct
13
2010

 

Ada pertanyaan yang muncul di benak kita semua kenapa doa-doa yang kita lantunkan sering kali tidak Allah kabulkan? Kenapa doa-doa yang kita ajukan seakan tidak mendapatkan respon cepat dari Allah?

Mengapa??

Sebab kita sering berdoa hanya sekedar basa-basi. Doa yang hampa makna, doa yang kering kerontang dari kekhusyuan, doa yang sepi dari kerendahan jiwa, doa yang kosong dari nilai ibadah.

Doa yang tiada kesungguhan di dalamnya, yang hanya terucap di mulut dan bukan terlontar dari hati yang luruh. Doa yang hanya terucap dari getar bibir kita bukan dari lubuk hati yang bertabur harap dan cinta

Berdoalah kepada Allah dan hendaknya kalian yakin sepenuhnya bahwa ia akan dikabulkan. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai (HR. Tirmidzi dan Hakim).

Sumber

Views: 359
Posting: 13-Oct-2010 13:08:56 WIB
Comments: 0 comments
Category: Oase Hati
Saringan
Kicauan