
Film Indonesia yang dirilis
menjelang libur Lebaran rata-rata memiliki kualitas yang apik dan dapat
dipertanggungjawabkan. Tahun ini pun tidak berbeda jauh. Tendangan Dari Langit, film kedua dari Hanung Bramantyo di tahun 2011 ini, langsung mencuri hati saya. Sebagai sebuah film olahraga, Tendangan Dari Langit
masih menerapkan plot yang klise. Seorang remaja miskin dari desa yang
ingin menjadi pemain sepak bola, sang ayah yang tidak memberi restu,
kisah cinta dengan gadis tercantik di sekolah yang tidak berjalan mulus,
hingga sahabat yang setia mendukung dan difungsikan sebagai pelawak.
Struktur semacam ini sering kita temui dalam film olahraga manapun,
termasuk King dan Garuda di Dadaku
dari Indonesia. Apa lagi yang bisa ditawarkan? Rasanya kebanyakan
penonton pun tertarik untuk menyaksikan film ini karena faktor Irfan
Bachdim dan Kim Kurniawan. Skenario racikan Fajar Nugroho memang
bertutur sangat sederhana dan klise, namun secara mengejutkan tetap
efektif. Hanung Bramantyo mengemasnya dengan menarik, sekaligus sebagai
sebuah pembuktian kepada khalayak luas bahwa dia adalah sutradara yang
serba bisa. Film olahraga pun bukan menjadi masalah besar baginya.
Jangan tertipu dengan tampilan posternya yang seolah mengisyaratkan
bahwa Bachdim-lah yang menjadi pemain utama disini. Bachdim tampil tak
lebih dari 30 menit dan itupun hanya baru muncul di paruh akhir. Pemain
baru, Yosie Kristanto, yang berperan sebagai Wahyu adalah sentral dari
film ini. Dia adalah sebuah karakter stereotip dari film olahraga.
Berasal dari sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Bromo, Langitan,
dan memiliki bakat yang besar terhadap sepak bola. Mungkin saja bakat
besar dari Wahyu hanya akan tertutupi oleh debu pasir Bromo jikalau Pak
Lek Hasan (Agus Kuncoro), seorang manajer sepak bola amatiran, tidak
memintanya untuk bermain bagi klub kecamatan Karang Sari. Sang ayah, Pak
Darto (Sudjiwo Tejo), diposisikan sebagai sebuah karakter antagonis
bagi impian Wahyu karena beliau tidak mengizinkan putra kesayangannya
itu bermain bola. Tapi tentu saja larangan itu bukan tanpa suatu alasan.
Masa lalu yang kelam membuatnya terpaksa untuk menghalangi Wahyu meraih
mimpinya. Sekeras apapun Pak Darto melarang, Wahyu tak gentar.
Pertemuan secara tak sengaja dengan Timo Scheunemann di Malang kala
hendak mendukung gadis yang disukainya di lomba debat menjadi titik
terang.


Segalanya tidak lantas menjadi mudah sekalipun Pak Darto kemudian
berbalik mendukung Wahyu sepenuhnya. Kisah cinta monyet Wahyu dengan
Indah (Maudy Ayunda) turut merumit. Saat semua permasalahan ini
menemukan jalan pemecahannya sendiri-sendiri, Hanung mengakhiri Tendangan Dari Langit
dengan sebuah adegan pertandingan sepak bola yang gegap gempita. Bukan
sebuah pertandingan palsu yang hanya menyorot para pemain utama dan
sebagian penonton saja, Faozan Rizal memindahkan apa yang biasa kita
saksikan secara live di stadion dan televisi ke dalam bentuk tayangan
untuk layar lebar. Sekalipun hanya sebuah fiksi, efek dramatis nan
menegangkan yang biasa kita alami saat menyaksikan pertandingan sepak
bola bisa ditemukan disini. Secara tidak sadar Anda akan turut berteriak
'Gol!!!' dan bertepuk tangan dengan meriah saat pahlawan kita berhasil
mencetak angka. Dengan durasi yang hampir mencapai dua jam, film
berjalan dengan menghibur. Tak sekalipun ditemukan momen yang
membosankan. Drama, komedi dan adegan pertandingannya yang seru ditakar
dengan pas sehingga menghasilkan sebuah film yang gurih.
Naskah apik dari Fajar Nugroho yang banyak disisipi dengan dialog
cerdas nan menggelitik yang khas Jawa Timuran serta kritik sosial yang
acapkali menyinggung bobroknya manajemen sepak bola di negeri kita
tercinta ini ditingkahi dengan akting apik dari para pemainnya. Agus
Kuncoro, Sudjiwo Tejo, Toro Margens dan Yati Surachman menunjukkan
kapasitasnya sebagai aktor papan atas dengan permainan yang layak
mendapat acungan dua jempol. Yosie Kristanto pun tak membuat malu Hanung
Bramantyo. Kehadiran Joshua Suherman dan Jordi Onsu yang ditempatkan di
gardu penghibur masih dalam batasan yang wajar, justru tanpa kehadiran
mereka film mungkin akan terasa sepi. Selain menawarkan adegan
pertandingan yang terbilang epik untuk ukuran film Indonesia, Faozan
Rizal tentu tak lupa mengeksplor keindahan alam Bromo. Tampilan visual Tendangan Dari Langit lebih cantik dan memesona ketimbang King.
Rasa kekecewaan saya terhadap film-film terakhir buatan Hanung
Bramantyo pun terbayarkan. Nyatanya sebuah film dengan ide sederhana
malah justru lebih bermakna ketimbang film besar yang ambisius. Pesan
untuk tidak pernah menyerah terhadap mimpi kita walaupun berbagai cobaan
mendera tersalurkan dengan baik melalui sebuah film keluarga yang
dibungkus sederhana namun cantik. Tendangan Dari Langit adalah sebuah pengalaman sinematik yang menyenangkan.
Exceeds Expectations
Baru nonton Rumah Dara dua hari yang lalu, gue coba ripiu film ini. Yang pasti, Rumah Dara adalah salah satu film horor terbaik yang pernah dibuat oleh sineas Indonesia. Meski kualitasnya masih dibawah Pintu Terlarang, Rumah Dara adalah sebuah film yang harus kalian tonton! sangat sayang untuk dilewatkan. Sekalian buat uji nyali 
Europe On Screen kembali digelar tahun ini. Dengan tema "Faces of Europe", EOS menghadirkan 42 film dari negara-negara Eropa. Acaranya sendiri sudah digelar sejak 30 Oktober hingga 29 November 2009 di 9 kota besar Indonesia. Beruntung banget Semarang kembali disinggahi roadshow EOS sehingga gue bisa menikmati film-film Eropa yang berkualitas tinggi dengan gaya penuturan yang cenderung unik. Di Semarang sendiri EOS digelar di Magister Manajemen Universitas Diponegoro selama 2 hari, 24 - 25 November 2009. Kebetulan gue menjadi salah satu panitia acara sehingga bisa menikmati semua film yang diputer dalam 2 hari itu 

Judul Film : KING
Sutradara : Ari Sihasale
Penulis : Dirmawan Hatta
Pemain : Rangga Raditya, Lucky Martin, Surya Saputra, Mamiek Prakoso
Produksi : Alenia Pictures
Sinopsis :
Kisah perjuangan dan perjalanan panjang seorang anak bernama Guntur dalam meraih cita-citanya menjadi seorang juara bulutangkis sejati, seperti idola dia dan ayahnya: Liem Swie King…
Ayah Guntur adalah seorang komentator pertandingan bulutangkis antar kampung yang juga bekerja sebagai pengumpul bulu angsa, bahan untuk pembuatan shuttlecock. Dia sangat mencintai bulutangkis dan dia menularkan semangat dan kecintaannya itu pada Guntur, walaupun dia sendiri tidak bisa menjadi seorang juara bulutangkis
Mendengar cerita ayahnya tentang ”KING” sang idola, Guntur bertekad untuk dapat menjadi juara dunia. Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada dihadapannya, sebagai sahabat setianya Raden pun selalu berusaha membantu Guntur, walaupun kadang bantuan Raden tersebut justru seringkali menyusahkannya. Namun dengan semangat yang tinggi tanpa mengenal lelah, dan pengorbanan berat yang harus dilakukan, Guntur tak henti-hentinya berjuang untuk mendapatkan beasiswa bulutangkis dan meraih cita-citanya menjadi juara dunia bulutangkis kebanggaan INDONESIA dan kebanggaan keluarga seperti … LIEM SWIE KING..SANG IDOLA!
Review :
Sebagai film bulutangkis pertama di dunia, King tidak mengecewakan. Sinematografi film ini begitu menawan terutama saat menampilkan pemandangan wilayah pedesaan di Jawa Timur. Akting para pemainnya bagus dan terkesan natural terutama Mamiek yang tampil sangat luar biasa. Calon kuat penerima FFI !!! Namun diriku sangat sakit hati dengan Valerie Thomas yang sama sekali nggak bisa akting dan sangat annoying. Dialek Jawa Timuran juga tidak terasa di film ini terutama dari tokoh Guntur dan Raden yang masih terlalu metropolitan untuk ukuran seorang anak desa. Di tengah ketidaksempurnaannya, King layak untuk dipuji karena mampu menawarkan sebuah hiburan yang berkualitas dan mendidik di tengah gempuran film horor dan komedi seks lokal yang sangat "mengerikan".

Judul Film : Pintu Terlarang
Sutradara : Joko Anwar
Penulis : Joko Anwar
Pemain : Fachri Albar, Marsha Timothy, Ariyo Bayu, Tio Pakusadewo, Henidar Amroe.
Produksi : Lifelike Pictures
Sinopsis :
Hidup seorang pematung yang sukses bernama Gambir (Fachri Albar) mulai berantakan setelah dia mulai menerima pesan-pesan misterius dari seseorang yang meminta pertolongannya. Dari sebuah tayangan TV illegal yang menempatkan kamera tersembunyi di rumah-rumah orang, dia mengetahui bahwa yang mencoba menghubunginya adalah seorang anak laki-laki berusia 7 tahun yang disekap dan disiksa oleh dua orang misterius. Saat Gambir berusaha untuk mencari tahu di mana anak itu, dia curiga kalau istrinya yang bernama Talyda (Marsha Timothy) mungkin ada hubungannya dengan misteri yang sedang dia coba pecahkan. Tak lama kemudian, Gambir harus memilih, apakah menyelamatkan anak kecil itu atau kehilangan semua milik dan hidupnya.
Review :
Salah satu film terbaik tahun ini. Setelah Kala yang terpuji dan unggul dari segala segi, Joko Anwar kembali menghasilkan sebuah film yang berkualitas di awal tahun ini, Pintu Terlarang. Film ini sukses hampir di semua segi, baik naskah, akting, penokohan, editing dan sinematografi. Fachri Albar dan Marsha Timothy bermain gemilang disini, begitu juga dengan barisan cast pendukungnya. Sinematografi dan tata artistik, yang bergaya ala film noir, patut dipuji karena mampu menghidupkan setting di sebuah kota antah berantah yang misterius nan suram. Misteri yang ditawarkan juga lumayan mengundang penasaran meskipun tidak semenarik Kala. Kekuarangan dari film ini mungkin terletak pada alurnya yang lumayan lambat dan cenderung memusingkan. Bagi yang tidak terbiasa dengan hal ini pasti akan dibuatnya bingung (seperti mbak" yang keluar di tengah film saat gue sedang nonton ni film). Namun semua kekurangan ini mampu ditutupi dengan baik oleh Joko Anwar. Mengingat ini film adaptasi, ada baiknya untuk tidak baca novelnya terlebih dahulu karena twist film ini akan tidak lagi mengejutkan.
Oia, Christmas Dinner di film ini bener" sangat memorable !!! Bahkan mungkin ini adalah scene terbaik dari film lokal untuk tahun ini...