Everybody Loves Tariz Silahkan baca dan jangan lupa kasih komen

Blog Category: Review
Sep
08
2011

"Indonesia itu jagonya main di kandang sendiri. Kalo di kandang lawan? Mandul!! " - Mitro


Film Indonesia yang dirilis menjelang libur Lebaran rata-rata memiliki kualitas yang apik dan dapat dipertanggungjawabkan. Tahun ini pun tidak berbeda jauh. Tendangan Dari Langit, film kedua dari Hanung Bramantyo di tahun 2011 ini, langsung mencuri hati saya. Sebagai sebuah film olahraga, Tendangan Dari Langit masih menerapkan plot yang klise. Seorang remaja miskin dari desa yang ingin menjadi pemain sepak bola, sang ayah yang tidak memberi restu, kisah cinta dengan gadis tercantik di sekolah yang tidak berjalan mulus, hingga sahabat yang setia mendukung dan difungsikan sebagai pelawak. Struktur semacam ini sering kita temui dalam film olahraga manapun, termasuk King dan Garuda di Dadaku dari Indonesia. Apa lagi yang bisa ditawarkan? Rasanya kebanyakan penonton pun tertarik untuk menyaksikan film ini karena faktor Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan. Skenario racikan Fajar Nugroho memang bertutur sangat sederhana dan klise, namun secara mengejutkan tetap efektif. Hanung Bramantyo mengemasnya dengan menarik, sekaligus sebagai sebuah pembuktian kepada khalayak luas bahwa dia adalah sutradara yang serba bisa. Film olahraga pun bukan menjadi masalah besar baginya.

Jangan tertipu dengan tampilan posternya yang seolah mengisyaratkan bahwa Bachdim-lah yang menjadi pemain utama disini. Bachdim tampil tak lebih dari 30 menit dan itupun hanya baru muncul di paruh akhir. Pemain baru, Yosie Kristanto, yang berperan sebagai Wahyu adalah sentral dari film ini. Dia adalah sebuah karakter stereotip dari film olahraga. Berasal dari sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Bromo, Langitan, dan memiliki bakat yang besar terhadap sepak bola. Mungkin saja bakat besar dari Wahyu hanya akan tertutupi oleh debu pasir Bromo jikalau Pak Lek Hasan (Agus Kuncoro), seorang manajer sepak bola amatiran, tidak memintanya untuk bermain bagi klub kecamatan Karang Sari. Sang ayah, Pak Darto (Sudjiwo Tejo), diposisikan sebagai sebuah karakter antagonis bagi impian Wahyu karena beliau tidak mengizinkan putra kesayangannya itu bermain bola. Tapi tentu saja larangan itu bukan tanpa suatu alasan. Masa lalu yang kelam membuatnya terpaksa untuk menghalangi Wahyu meraih mimpinya. Sekeras apapun Pak Darto melarang, Wahyu tak gentar. Pertemuan secara tak sengaja dengan Timo Scheunemann di Malang kala hendak mendukung gadis yang disukainya di lomba debat menjadi titik terang.



Segalanya tidak lantas menjadi mudah sekalipun Pak Darto kemudian berbalik mendukung Wahyu sepenuhnya. Kisah cinta monyet Wahyu dengan Indah (Maudy Ayunda) turut merumit. Saat semua permasalahan ini menemukan jalan pemecahannya sendiri-sendiri, Hanung mengakhiri Tendangan Dari Langit dengan sebuah adegan pertandingan sepak bola yang gegap gempita. Bukan sebuah pertandingan palsu yang hanya menyorot para pemain utama dan sebagian penonton saja, Faozan Rizal memindahkan apa yang biasa kita saksikan secara live di stadion dan televisi ke dalam bentuk tayangan untuk layar lebar. Sekalipun hanya sebuah fiksi, efek dramatis nan menegangkan yang biasa kita alami saat menyaksikan pertandingan sepak bola bisa ditemukan disini. Secara tidak sadar Anda akan turut berteriak 'Gol!!!' dan bertepuk tangan dengan meriah saat pahlawan kita berhasil mencetak angka. Dengan durasi yang hampir mencapai dua jam, film berjalan dengan menghibur. Tak sekalipun ditemukan momen yang membosankan. Drama, komedi dan adegan pertandingannya yang seru ditakar dengan pas sehingga menghasilkan sebuah film yang gurih.

Naskah apik dari Fajar Nugroho yang banyak disisipi dengan dialog cerdas nan menggelitik yang khas Jawa Timuran serta kritik sosial yang acapkali menyinggung bobroknya manajemen sepak bola di negeri kita tercinta ini ditingkahi dengan akting apik dari para pemainnya. Agus Kuncoro, Sudjiwo Tejo, Toro Margens dan Yati Surachman menunjukkan kapasitasnya sebagai aktor papan atas dengan permainan yang layak mendapat acungan dua jempol. Yosie Kristanto pun tak membuat malu Hanung Bramantyo. Kehadiran Joshua Suherman dan Jordi Onsu yang ditempatkan di gardu penghibur masih dalam batasan yang wajar, justru tanpa kehadiran mereka film mungkin akan terasa sepi. Selain menawarkan adegan pertandingan yang terbilang epik untuk ukuran film Indonesia, Faozan Rizal tentu tak lupa mengeksplor keindahan alam Bromo. Tampilan visual Tendangan Dari Langit lebih cantik dan memesona ketimbang King. Rasa kekecewaan saya terhadap film-film terakhir buatan Hanung Bramantyo pun terbayarkan. Nyatanya sebuah film dengan ide sederhana malah justru lebih bermakna ketimbang film besar yang ambisius. Pesan untuk tidak pernah menyerah terhadap mimpi kita walaupun berbagai cobaan mendera tersalurkan dengan baik melalui sebuah film keluarga yang dibungkus sederhana namun cantik. Tendangan Dari Langit adalah sebuah pengalaman sinematik yang menyenangkan.

Exceeds Expectations

Views: 143
Posting: 8-Sep-2011 10:42:36 WIB
Comments: 0 comments
Category: Film, Curhat, Review
Jan
28
2010

Baru nonton Rumah Dara dua hari yang lalu, gue coba ripiu film ini. Yang pasti, Rumah Dara adalah salah satu film horor terbaik yang pernah dibuat oleh sineas Indonesia. Meski kualitasnya masih dibawah Pintu Terlarang, Rumah Dara adalah sebuah film yang harus kalian tonton! sangat sayang untuk dilewatkan. Sekalian buat uji nyali Eyebrow

Views: 474
Posting: 28-Jan-2010 13:09:01 WIB
Comments: 1 comments
Category: Film, Review
Nov
28
2009

Europe On Screen kembali digelar tahun ini. Dengan tema "Faces of Europe", EOS menghadirkan 42 film dari negara-negara Eropa. Acaranya sendiri sudah digelar sejak 30 Oktober hingga 29 November 2009 di 9 kota besar Indonesia. Beruntung banget Semarang kembali disinggahi roadshow EOS sehingga gue bisa menikmati film-film Eropa yang berkualitas tinggi dengan gaya penuturan yang cenderung unik. Di Semarang sendiri EOS digelar di Magister Manajemen Universitas Diponegoro selama 2 hari, 24 - 25 November 2009. Kebetulan gue menjadi salah satu panitia acara sehingga bisa menikmati semua film yang diputer dalam 2 hari itu Hmpfh

Views: 394
Posting: 28-Nov-2009 22:41:43 WIB
Comments: 2 comments
Category: Film, Review
Jul
25
2009

Judul Film         : KING

Sutradara         : Ari Sihasale

Penulis              : Dirmawan Hatta

Pemain             : Rangga Raditya, Lucky Martin, Surya Saputra, Mamiek Prakoso

Produksi           : Alenia Pictures

Sinopsis :

Kisah perjuangan dan perjalanan panjang seorang anak bernama Guntur dalam meraih cita-citanya menjadi seorang juara bulutangkis sejati, seperti idola dia dan ayahnya: Liem Swie King…

Ayah Guntur adalah seorang komentator pertandingan bulutangkis antar kampung yang juga bekerja sebagai pengumpul bulu angsa, bahan untuk pembuatan shuttlecock. Dia sangat mencintai bulutangkis dan dia menularkan semangat dan kecintaannya itu pada Guntur, walaupun dia sendiri tidak bisa menjadi seorang juara bulutangkis

Mendengar cerita ayahnya tentang ”KING” sang idola, Guntur bertekad untuk dapat menjadi juara dunia. Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada dihadapannya, sebagai sahabat setianya Raden pun selalu berusaha membantu Guntur, walaupun kadang bantuan Raden tersebut justru seringkali menyusahkannya. Namun dengan semangat yang tinggi tanpa mengenal lelah, dan pengorbanan berat yang harus dilakukan, Guntur tak henti-hentinya berjuang untuk mendapatkan beasiswa bulutangkis dan meraih cita-citanya menjadi juara dunia bulutangkis kebanggaan INDONESIA dan kebanggaan keluarga seperti … LIEM SWIE KING..SANG IDOLA!

Review :

Sebagai film bulutangkis pertama di dunia, King tidak mengecewakan. Sinematografi film ini begitu menawan terutama saat menampilkan pemandangan wilayah pedesaan di Jawa Timur. Akting para pemainnya bagus dan terkesan natural terutama Mamiek yang tampil sangat luar biasa. Calon kuat penerima FFI !!! Namun diriku sangat sakit hati dengan Valerie Thomas yang sama sekali nggak bisa akting dan sangat annoying. Dialek Jawa Timuran juga tidak terasa di film ini terutama dari tokoh Guntur dan Raden yang masih terlalu metropolitan untuk ukuran seorang anak desa. Di tengah ketidaksempurnaannya, King layak untuk dipuji karena mampu menawarkan sebuah hiburan yang berkualitas dan mendidik di tengah gempuran film horor dan komedi seks lokal yang sangat "mengerikan".

Views: 282
Posting: 25-Jul-2009 22:31:13 WIB
Comments: 0 comments
Category: Film, Review
Jul
25
2009

 

Judul Film         : Pintu Terlarang

Sutradara         : Joko Anwar

Penulis              : Joko Anwar   

Pemain             : Fachri Albar, Marsha Timothy, Ariyo Bayu, Tio Pakusadewo, Henidar Amroe.

Produksi           : Lifelike Pictures

Sinopsis :

Hidup seorang pematung yang sukses bernama Gambir (Fachri Albar) mulai berantakan setelah dia mulai menerima pesan-pesan misterius dari seseorang yang meminta pertolongannya. Dari sebuah tayangan TV illegal yang menempatkan kamera tersembunyi di rumah-rumah orang, dia mengetahui bahwa yang mencoba menghubunginya adalah seorang anak laki-laki berusia 7 tahun yang disekap dan disiksa oleh dua orang misterius. Saat Gambir berusaha untuk mencari tahu di mana anak itu, dia curiga kalau istrinya yang bernama Talyda (Marsha Timothy) mungkin ada hubungannya dengan misteri yang sedang dia coba pecahkan. Tak lama kemudian, Gambir harus memilih, apakah menyelamatkan anak kecil itu atau kehilangan semua milik dan hidupnya.

Review :

Salah satu film terbaik tahun ini. Setelah Kala yang terpuji dan unggul dari segala segi, Joko Anwar kembali menghasilkan sebuah film yang berkualitas di awal tahun ini, Pintu Terlarang. Film ini sukses hampir di semua segi, baik naskah, akting, penokohan, editing dan sinematografi. Fachri Albar dan Marsha Timothy bermain gemilang disini, begitu juga dengan barisan cast pendukungnya. Sinematografi dan tata artistik, yang bergaya ala film noir, patut dipuji karena mampu menghidupkan setting di sebuah kota antah berantah yang  misterius nan suram. Misteri yang ditawarkan juga lumayan mengundang penasaran meskipun tidak semenarik Kala. Kekuarangan dari film ini mungkin terletak pada alurnya yang lumayan lambat dan cenderung memusingkan. Bagi yang tidak terbiasa dengan hal ini pasti akan dibuatnya bingung (seperti mbak" yang keluar di tengah film saat gue sedang nonton ni film). Namun semua kekurangan ini mampu ditutupi dengan baik oleh Joko Anwar. Mengingat ini film adaptasi, ada baiknya untuk tidak baca novelnya terlebih dahulu karena twist film ini akan tidak lagi mengejutkan.

Oia, Christmas Dinner di film ini bener" sangat memorable !!! Bahkan mungkin ini adalah scene terbaik dari film lokal untuk tahun ini...

Views: 407
Posting: 25-Jul-2009 18:22:44 WIB
Comments: 0 comments
Category: Film, Review
Shoutbox

ShoutMix chat widget
Kategori