lagi sukaaaakkk banget lagu ini..
lagu kebangsaaan setiap musim moto GP digelar ^^
ada yang mau nyanyiin n maen gitarnya sekalian ??
INTRO:
Play these Chords one time Each:
G#m, E, B, F#
The Pick Grind
VERSE:
G#m
Hey girl, you know you drive me crazy.
E
One look puts the rhythm in my head.
B
Still I’ll never understand why you hang around.
F# Harmonic
I see what’s going down.
G#m
Cover up with makeup in the mirror,
E
Tell yourself it’s never gonna happen again.
B F#
You cry alone and then he swears he loves you
CHORUS:
G#m E
Do you feel like a man when you push her around?
B F#
Do you feel better now–she falls to the ground.
G#m E
Well, I’ll tell you my friend, one day this world’s going to end
B F# G#m
As your lies crumble down, a new life she has found.
VERSE:
G#m
A pebble in the water makes a ripple effect;
E
Every action in this world will bear a consequence.
B
If you wait around forever you will surely drown.
F#
I see what’s going down.
G#m E
I see the way you go and say you’re right again,
B
Say your right again
F#
Heed my lecture
CHORUS:
G#m E
Do you feel like a man when you push her around?
B F#
Do you feel better now? She falls to the ground.
G#m E
Well, I’ll tell you my friend, one day this world’s going to end
B F#
As your lies crumble down, a new life she has
|
The best poem of
2006
This poem was nominated by UN as the best poem of 2006, Written by an African Kid When I born, I black When I grow up, I black When I go in Sun, I black When I scared, I black When I sick, I black And when I die, I still black And you white fellow When you born, you pink When you grow up, you white When you go in sun, you red When you cold, you blue When you scared, you yellow When you sick, you green And when! You die , you gray And you calling me colored? |
Jumat, 26 September 2008 | 04:34 WIB
Di sebuah shopping arcade di pusat
kota Kyoto , saat sedang menikmati segelas cappucino sambil mengamati orang
berbelanja, tiba-tiba saya dikejutkan suara keras tangisan anak kecil. Rupanya
ada gadis kecil berumur 4 tahunan tersandung dan jatuh. Lututnya berdarah. Kami
heran ketika melihat respons ibunya yang hanya berdiri sambil mengulurkan tangan
ke arah gadis kecilnya tanpa ada kemauan untuk segera meraih anaknya. Cukup
lama. Beberapa menit adegan ini berlangsung. Si ibu tetap sabar dan keras hati
untuk menunggu anaknya menyelesaikan sendiri rasa shock dan sakitnya. Setelah
beberapa menit berlalu, akhirnya si gadis kecil mulai berusaha berdiri lagi, dan
dengan bantuan kecil tangan ibunya dia kembali berdiri. Masih sambil
terisak-isak ia pun berjalan lagi.
Dalam benak saya waktu itu, kok tak punya hati
ibu si gadis kecil ini? Tega membiarkan anaknya dalam kondisi kesakitan. Ingatan
langsung terbang ke Indonesia . Jika kejadian yang sama terjadi di Kota Jakarta
ataupun Yogyakarta , saya yakin si ibu pasti akan langsung meraih dan
menggendong untuk menenangkan anaknya.
Dari adegan itu, bisa kita
bayangkan perbedaan cara pengasuhan anak Jepang dan anak Indonesia . Dari
pengamatan saya selama hampir setahun tinggal di Jepang, anak Jepang cenderung
dibiasakan dari kecil untuk mengatasi berbagai kesulitan sendiri, sementara anak
Indonesia selalu disediakan asisten untuk mengatasi kesulitannya. Babysitter
atau pembantu rumah tangga pun tidak ada dalam kebiasaan keluarga-keluarga di
Jepang. Sebaliknya di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta ,
Bandung , Yogyakarta dan lain-lain kehadiran mereka wajib ada sebagai asisten
keluarga maupun sebagai asisten anak-anaknya.
Dalam sebuah studi
perbandingan yang dilakukan oleh Heine, Takata dan Lehman pada tahun 2000 yang
melibatkan responden dari mahasiswa Jepang dan mahasiswa Kanada dinyatakan bahwa
mahasiswa Jepang lebih tidak peduli dengan inteligensi dibandingkan orang
Kanada. Hal ini disebabkan orang Jepang lebih menghargai prestasi didasarkan
pada usaha keras daripada berdasarkan kemampuan inteligensi. Artinya, bagi orang
Jepang kemauan untuk menderita dan berusaha keras menjadi nilai yang lebih
penting daripada kemampuan dasar manusia seperti inteligensi.
Dalam
keseharian dengan mudah kita dapat menyaksikan mereka selalu berjalan dalam
ketergesaan karena takut kehilangan banyak waktu, disiplin dan selalu bekerja
keras. Suasana kompetitif dan kemauan untuk menjadi yang lebih baik (yang
terbaik) sangat menonjol. Studi ini juga menemukan bahwa orang Jepang memiliki
budaya kritik diri yang tinggi, mereka selalu mencari apa yang masih kurang di
dalam dirinya. Untuk kemudian mereka akan segera memperbaiki diri.
Lain
lagi Indonesia , yang saat ini terjebak dalam kesalahan umum di mana hasil akhir
menjadi segala-galanya. Hasil akhir lebih dihargai dibandingkan usaha keras.
Tengok saja kompetisi yang terjadi dari anak usia sekolah tingkat SD hingga
perguruan tinggi untuk mendapatkan nilai kelulusan yang tinggi. Guru, orang tua
maupun masyarakat umum selalu menekan anak untuk mendapatkan nilai kelulusan
yang tinggi, sehingga mereka pun menghalalkan segala cara. Kita baca di koran
polisi menangkap para guru karena berlaku curang dalam ujian nasional, sementara
di tempat lain orang tua membeli soal ujian, siswa menyontek dan lain
sebagainya.
Pola pengasuhan ini, pada gilirannya pasti berperan besar
dalam pembentukan karakter anak dalam perkembangan berikutnya. Oleh karenanya,
memberi kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk mengembangkan semua potensinya
adalah satu prinsip dasar dari satu pola pengasuhan yang sangat baik bagi
pembentukan karakter anak. Orang tua, asisten, atau pun orang yang lebih dewasa
jangan mengambil alih tanggung jawab anak.
Sebagai contoh, beri
kesempatan pada anak untuk belajar makan secara benar dengan tangannya sendiri
sejak dia mampu memegang sendok. Jangan diambil alih hanya karena alasan akan
membuat kotor. Atau beri kesempatan pada anak untuk menghadapi dunia sekolah
pertama kali tanpa banyak intervensi dari pengasuh maupun orang tua. Memberi
rasa aman pada anak memang penting jika diberikan pada saat yang tepat. Tetapi
menunggui anak selama dia belajar di sekolah adalah pemberian rasa aman yang
tidak perlu. Momen ini adalah momen penting bagi anak untuk belajar menghadapi
dunia di luar rumah tanpa bantuan langsung orang-orang di sekitarnya.
Pengalaman anak merasa mampu menghadapi persoalan dengan kemampuannya
sendiri akan menumbuhkan kepercayaan diri. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya
membatasi diri hanya menjadi partner diskusi yang membantu anak menemukan
berbagai kemungkinan solusi. Orang tua kadang harus berteguh hati membiarkan
anak mengalami rasa sakit, menderita, dan rasa tertekan dalam isi dan porsi yang
tepat, karena hal itu akan sangat baik untuk perkembangan mental anak.
Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan hidup
dan tidak mudah menyerah. Hargai anak bukan dari hasil akhirnya melainkan dari
proses perjuangannya. Anak perlu diberi pembelajaran (dan juga orang tua perlu
belajar) untuk bisa menikmati dan menghargai proses, meskipun proses seringkali
tidak nyaman.
Dr. Christina Siwi Handayani, Staf
Pengajar Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta

I. PENDAHULUAN
Seperti halnya semua penyihir hebat, mereka mencapai kemahsyuran dan kepandaian sihirnya melalui sekolah pada masa remajanya. Sekolah Sihir adalah sekolah dimana para penyihir cilik dapat belajar menggunakan sihir dengan benar dan memaksimalkan kemampuan yang dimiliki. Hogwarts adalah salah satu sekolah sihir terbaik dunia yang berada di Inggris, tepatnya di Skotlandia yang berfungsi melatih anak-anak yang berumur mulai 11 hingga 18 tahun yang memiliki kemampuan sihir untuk menjadi para penyihir yang berkualitas. Hogwarts didirikan sekitar abad millenium yaitu sekitar tahun 1000M oleh empat penyihir hebat bernama Godric Griffindor, Salazar Slytherin, Rowena Ravenclaw, dan Helga Hufflepuff. Nama-nama mereka kemudian dijadikan sebagai nama asrama murid-murid Hogwarts yang memiliki kepribadian yang sesuai dengan keempat pendiri tersebut. Hogwarts memiliki semboyan "draco dormiens nunquam titillandus" yang berarti "jangan membangunkan naga tidur".
II. PENDIRI HOGWARTS
1. Godric Gryffindor

Godric Gryffindor adalah pendiri asrama Gryffindor dimana ia bersama 3 rekannya yang lain mendirikan sekolah sihir Hogwarts Peninggalan Gryffindor adalah pedang berhiaskan rubi yang dibuat oleh goblin dan topi seleksi Kedua benda ini memiliki keunikan tersendiri, dimana bila seseorang yang bersifat seperti Gryffindor memerlukannya, pedang akan keluar dari topi. Godric Gryffindor lahir di suatu desa yang sepi di pedalaman Inggris yang penuh dengan komunitas penyihir bernama ”Godric’s Hollow” (nama desa yang diabadikan dengan namanya). Gryffindor dikatakan memiliki keberanian yang terpuji, kebulatan tekad dan kekuatan hati di atas semua kualitas. Oleh karena itu, ia memilih siswa untuk asramanya berdasarkan dari keberaniannya. Ia juga mendukung agar Hogwarts menerima penyihir kelahiran Muggle. Nama Godric merupakan bentuk dari Anglo-Saxon, dan memiliki beberapa arti, seperti, "Ia yang berkuasa dengan Tuhan" atau "Ia yang berkuasa dengan baik. Gryffindor dan asramanya ditandakan dengan seekor Singa Emas dengan latar belakang merah. Pada awalnya ia merupakan sahabat baik Salazar Slytherin, tetapi persahabatan itu terputus, walaupun belum pernah dinyatakan, tetapi bisa jadi perbedaan pandangan terhadap penyihir kelahiran Muggle yang menjadi alasan mereka berpisah. Saat ini Kepala Asrama Gryffindor adalah Profesor Mac.Gonagall yang mengajar Transfigurasi.
2. Helga Hufflepuff
Helga Hufflepuff adalah pendiri asrama Hufflepuff. Harta peninggalannya adalah gelas piala dari emas yang memiliki kekuatan. Helga Hufflepuff, menilai kerja keras, kesetiaan, toleransi dan keadilan di atas semuanya. Binatang identitas asrama adalah badger dan kenari dengan kuning dan hitam sebagai warna kebanggannya. The Fat Friar adalah hantu penjaga asrama. Hufflepuff berkesuaian dengan elemen tanah, dimana asrama tempat tinggal mereka berlokasi di suatu tempat di ruangan bawah tanah, pintu masuknya dapat ditemukan melalui lukisan yang berada di sekitar dapur. Sandi harus diberikan ketika akan masuk. Ruang bersama Hufflepuff dipenuhi warna kuning dan kursi malas dan memiliki terowongan bawah tanah yang tembus ke asrama, dimana semuanya memiliki pintu lingkarang sempurna, seperti ujung tong. Kepala asrama saat ini adalah Professor Pomona Sprout yang mengajar Herbologi.
3. Rowena Ravenclaw

Rowena Ravenclaw menilai kecerdasan, kreativitas, akal dan kebijaksanaan. "Wit beyond measure is man's greatest treasure" adalah kutipan yang sering diulang oleh Ravenclaw. Harta peninggalannya adalah mahkota. Diyakini dengan mahkota itu kebijaksanaan dan kepintaran digunakan secara maksimal. Binatang identitasnya adalah elang, dan menggunakan warna biru dan perunggu. Hantu asrama adalah Grey lady, yang dicurigai sebagai Helena Ravenclaw, putri dari pendiri Hogwarts, Rowena Ravenclaw. Ravenclaw berhubungan dengan elemen udara. Ruang bersama dan asrama Ravenclaw berada di Menara Ravenclaw di bagian barat sekolah. Ruang bersama berbentuk lingkaran, seperti halnya Gryffindor, dan memiliki langit-langit kubah yang dilukiskan bintang-bintang. Juga terdapat terdapat patung dada dari Rowena Ravenclaw memakai mahkotanya. Untuk masuk ke dalam ruang bersama Ravenclaw, teka-teki logis harus diselesaikan. Hal ini sangat kontras dengan Ruang bersama Gryffindor, Hufflepuff dan Slytherin, yang menggunakan sandi untuk masuk. Kepala asrama saat ini adalah Filius Flitwick yang mengajar Mantra.
4. Salazar Slytherin

Salazar Slytherindijelaskan sebagai "haus kekuasaan" oleh Topi Seleksi, dan datang dari "tanah rawa". Tanah Rawa di bagian timur Inggris adalah kawasan lahan gambut di sekitar Norfolk, Lincolnshire, Cambridgeshire dan wilayah sekitarnya. Slytherin merupakan seorang Parselmouth, (ahli sihir yang mampu berbicara dengan ular) pertama yang dicatat, Legilimens yang ulung, dan terkenal karena kekuasaan darah murni. Asramanya di Hogwarts sering digambarkan dengan ular dengan warna hijau dan perak. Harta peninggalannya adalah kalung dengan liontin emas berlogo huruf “S”. Seperti Ravenclaw dan Gryffindor, Slytherin memilih dengan hati-hati pelajar yang akan memasuki asramanya. Mutu pelajar yang disukainya adalah kepintaran, kesungguhan tekad dan keberanian untuk tidak terlalu mengindahkan peraturan, termasuk kemampuan berbicara parseltongue. Dia juga memilih pelajar yang licik, bercita-cita tinggi dan berdarah murni. Slytherin menggunakan darah murni sebagai kunci pemilihan murid dari awal berdirinya Hogwarts. Dia menginginkan pengajaran sihir hanya untuk keluarga sihir saja. Dia percaya bahwa kelahiran Muggle tidak boleh dipercayai dan dia tidak mau mengajar murid dari kalangan Muggle. Kepala Asrama Slytherin saat ini adalah profesor Horace Slughorn yang mengajar Ramuan.
III. MANTRA PELINDUNG
Pada masa itu, komunitas Penyihir dan Komunitas Muggle berseteru. Banyak korban dari dua belah pihak, baik itu Penyihir atau pun Muggle. Sekolah itu didirikan jauh dari para Muggle karena ketika itu manusia biasa takut akan penyihir, dan menyiksa mereka. Bahkan banyak diantara para Muggle yang mencoba menyingkirkan penyihir dengan cara pembakaran. Hogwarts juga dilindungi dengan banyak sihir oleh setiap kepala sekolah yang sedang menjabat untuk melindungi baik dari komunitas muggle maupun komunitas penyihir. Untuk menyembunyikan keberadaan Hogwarts dari komunitas Muggle, bangunan Hogwarts diperlihatkan sebagai rumah tua yang tidak berpenghuni. Terhadap penyihir, Hogwarts dilindungi dari penyihir-yang-tidak-diundang. Bahkan penyihir terbaik pun tidak bisa mempergunakan ilmu "apparate" dan "disapparate" untuk datang ke dan pergi dari Hogwarts. Beberapa mantra yang digunakan kemungkinan besar adalah mantra Fidelius, mantra anti tak terlihat, dan mantra-mantra rumit lain yang hanya dapat dikuasai oleh Penyihir yang sudah ahli dan berpengalaman. Mantra sihir tingkat tinggi ini bukan hanya melindungi penyihir dari para Muggle dan penyihir yang tak diinginkan, namun juga melindungi Hogwarts dari kejadian-kejadian buruk, binatang nyasar, bencana alam, dan mantra-mantra tak terdeteksi dari penyihir lain.
IV. PENUTUP
Hogwarts adalah sekolah sihir hebat dengan sejarah hebat. Sekolah ini menghasilkan penyihir-penyihir besar seperti Kepala Sekolah kita sendiri, Profesor Albus Dumbledore. Ratusan anak dari seluruh penjuru dunia dengan berbagai suku bangsa, warna kulit, dan perbedaan lainnya, setiap tahun berkumpul menjadi satu di Hogwarts untuk belajar bersama. Sekolah ini dimaksudkan agara para penyihir muda dapat membaur dengan semua golongan, baik itu Muggle atau penyihir, untuk mencapai kedamaian dunia. Sihir diajarkan untuk digunakan dengan baik, tidak mencedarai dan agar timbul rasa saling menghargai dan menghormati baik itu sesama penyihir, entah itu darah murni, campuran, kelahiran Muggle atau Mugle pada umumnya.
Sumber :