Flu Babi atau Swine Flu/Influenza adalah penyakit saluran
pernafasan pada babi, yang disebabkan virus influenza jenis A. Virus
flu ini menyebabkan kesakitan yang berat pada babi tetapi angka
kematiannya rendah. Virus ini (type A H1N1 virus) pertama kali di
isolasi dari babi pada tahun 1930.
Seperti
semua virus influenza, virus flu babi berubah secara konstan. Babi bisa
terinfeksi virus avian influenza (virus flu burung) dan virus flu
manusia. Jika berbagai virus ini menyerang babi, maka virus ini akan
mampu membentuk spesien2 virus baru, yang merupakan gabungan virus
avian, manusia dan swine. Sampai saat ini sudah berhasil diisolasi
sebanyak 4 sub-type A: H1N1, H1N2, H3N2, and H3N1. H1N1 merupakan virus
jebis baru yang baru saja ditemukan pada babi.
Virus Swine flu
sebetulnya secara normal tidak menginfeksi manusia. Namun secara
sporadis dilaporkan adanya infeksi virus ini pada manusia seperti yang
terjadi di US dan mexico. Seringnya orang yang terkena adalah orang2
yang bekerja pada peternakan/industri yang berhubungan dengan babi.
Juga dilaporkan adanya penyebaran antar manusia.
Gejala swine flu pada manusia mirip dengan
gejala virus influenza manusia berupa: demam, pegel2, lemes, hilang
nafsu makan, dan batuk. Beberapa pasien yang terkena swine flu
mengeluhkan pilek, sakit tenggorokan, mual, muntah dan diare.
Virus
swine influenza tidak ditularkan melalui makanan. Memasak makanan
sampai suhu 160°F akan mematikan virus ini. Virus influenza bisa
menular dari babi ke manusia atau sebaliknya. Infeksi pada manusia
terjadi terutama jika berada dekat2 babi yang terinfeksi seperti berada
dalam kandang babi dll. Infeksi dari manusia ke manusia lain juga bisa
terjad, mirip sperti flu manusia, yaitu melalui bersin atau batuk. Bisa
juga lewat sentuhan tangan, kemudian tangan tersebut menyentuh mulut
atau hidung.
Untk mendiagnosis infeksi swine influenza,
dibutuhkan koleksi spesimen dari saluran nafas dalam 4-5 hari pertama.
Spesimen ini8 kemudian diperiksakan di Laboratorium.
Ada 4 macam
obat antivirus yang beredar di USuntuk mengobati influenza: amantadine,
rimantadine, oseltamivir san zanamivir. Pada umunya virus swine
influenza masih mempan dengan obat2 ini. Tetapi hasil isolasi virus
swine terbaru dari manusia didapatkan resisten terhadap amantadine dan
rimantadine. Sehingga saat ini obat yang dianjurkan untuk mengobati
serta mencegah swine influenza adalah oseltamivir atau zanamivir.
Pada 5 Februari 1976, tentara di Fort Dix, Amerika Serikat menyatakan dirinya kelelahan dan lemah, kemudian meninggal dunia keesokannya. Dokter menyatakan kematiannya itu disebabkan oleh virus ini sebagaimana yang terjadi pada tahun 1918. Presiden kala itu, Gerald Ford, diminta untuk mengarahkan rakyatnya disuntik dengan vaksin, namun rencana itu dibatalkan.
Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, gejalan influensa ini mirip dengan influensa. Gejalanya seperti demam, batuk, sakit pada kerongkongan, sakit pada tubuh, kepala, panas dingin, dan lemah lesu. Beberapa penderita juga melaporkan buang air besar dan muntah-muntah.
Dalam mendiagnosa penyakit ini tidak hanya perlu melihat pada tanda atau gejala khusus, tetapi juga catatan terbaru mengenai pasien. Sebagai contoh, selama wabah flu babi 2009 di AS, CDC menganjurkan para dokter untuk melihat "apakah jangkitan flu babi pada pasien yang di diagnosa memiliki penyakit pernapasan akut memiliki hubungan dengan orang yang di tetapkan menderita flu babi, atau berada di lima negara bagian AS yang melaporkan kasus flu babi atau berada di Meksiko dalam jangka waktu tujuh hari sebelum bermulanya penyakit mereka." Diagnosa bagi penetapan virus ini memerlukan adanya uji makmal bagi contoh pernapasan.[10]
Penamaan jenis penyakit ini dianggap salah oleh berbagai kalangan, karena telah membuat salah tafsir masyarakat - bahwa babi dapat menularkan penyakit ini kepada manusia. Untuk itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengganti nama penyakit ini dengan Influensa A (H1N1) mulai 30 April 2009 lalu.
source from http://www.drdidispog.com/2009/04/flu-babi.html dan wikipedia