BlogKering Coretan Gak Penting

Blog Archive: September 2008
Sep
30
2008

Penderitaan yang harus dia alami karena kebrengsekan bapaknya dan ketidakmau tahuan ibunya untuk melihat kenyataan seringkali membuatnya tidak tahan dan merasa jijik terhadap dirinya sendiri. Dia ingat dengan jelas ketika bapaknya beberapa kali kerap menggerayangi tubuhnya waktu Ibunya sudah terlelap dalam tidurnya. Bapaknya mendatangi tempat tidurnya yang terpisah dari tempat tidur kedua orang tuanya, dibukanya selimut tipis yang menyelimuti tubuhnya dan adiknya kemudian dengan kasar bapaknya membekap mulutnya agar dirinya tidak bisa berteriak. Bapaknya juga mengancam akan membunuh adiknya apabila dia berani menolak atau melawan perintahnya. Waktu itu dia begitu ketakutan, bau napas bapaknya yang bercampur alkohol menusuk hidungnya ketika bapaknya itu menjilati seluruh wajahnya dengan lidahnya yang menjijikkan itu. Pemberontakannya hanya sia – sia karena jelas kekuatan bapaknya lebih besar daripada dirinya yang waktu itu masih belum genap berumur 7 tahun. Dia ingin berteriak minta tolong ketika bapaknya mulai membuka pakaiannya dan menindih tubuhnya yang kecil, namun hanya isakan tertahan yang keluar dari mulutnya. Pikirannya yang masih polos membuatnya belum paham akan kejadian yang waktu itu menimpa dirinya. Yang bisa dia ingat hanyalah rasa jijik, rasa takut dan rasa sakit yang amat sangat ketika bapaknya berbuat seperti itu kepadanya. Jika mungkin bisa, ingin rasanya dia menikam tubuh bapaknya dengan sebilah pisau tajam berkali – kali sampai orang bejat itu mati kehabisan darah.

Pernah suatu malam ibunya yang sering sakit – sakitan itu terbangun dari tidurnya dan tidak sengaja memergoki bapaknya yang sedang berada di atas tempat tidurnya dengan kedua tangan tersembunyi di dalam selimut yang masih menggerayangi tubuhnya. Bapaknya seperti biasa dengan lihai mencari alasan untuk  menutupi kejadian itu dengan mengatakan bahwa beliau sedang memeluk dirinya dan menyelimutinya dengan selimut karena kasihan melihat dirinya kedinginan. Dia tentu saja langsung menyangkal perkataan bapaknya dan menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada ibunya. Tapi, Ibunya tidak mempercayai apa yang dia katakan. Tidak mungkin orang dewasa seperti bapaknya tertarik dengan anak di bawah umur seperti dirinya, pasti itu semua hanya cerita rekaannya saja untuk menjelek – jelekkan bapaknya karena kebencian yang terpendam dalam hatinya, cuman begitu saja kata ibunya waktu itu. Dan meskipun dia berusaha menjelaskan sekali lagi kepada ibunya bahwa dirinya benar – benar tidak berbohong, tapi yang dia dapatkan malah tempelengan keras dan makian amarah kepada dirinya yang dikatakan tidak tahu berterima kasih.  Sebenarnya, bagian mana dari semua kerja kerasnya demi keluarga ini yang dianggap tidak tahu berterima kasih oleh ibunya?? Kebutuhan makan sehari – hari pun juga dari hasil keringatnya. Jadi, bagaimana bisa ibunya mengatainya anak yang tidak tahu berterima kasih??

Padahal tadi sempat terbersit di benaknya bahwa Ibunya mungkin saja akan membelanya dan menyelamatkan dirinya dari kebrengsekan perbuatan bapaknya itu. Namun, Ibunya malah menganggap bahwa itu semua adalah kesalahpahaman belaka dan dirinya terlalu membesar – besarkan suatu masalah yang sebenarnya tidak perlu untuk dibahas lebih lanjut lagi. Dia terlalu shock mendengar perkataan Ibunya sehingga hanya bisa diam membisu tanpa sekalipun berusaha menyanggah perkataan itu lagi. Dia menahan air mata yang setiap saat sepertinya akan mengalir turun dari kedua belah matanya. Hatinya begitu sakit dan remuk redam melihat ibunya tidak mau mempercayai ucapannya dan memilih untuk membela bapaknya yang brengsek itu untuk ke sekian kalinya. Seharusnya dia tidak pernah meminta pembelaan dari ibunya, karena dia tahu bahwa ibunya tidak akan pernah memberikan perlindungan atau pembelaan terhadap siapapun apabila itu sudah menyangkut soal bapaknya.

Kedua mata Ibunya mungkin sudah dibutakan oleh cintanya yang sedemikian besar terhadap suaminya itu sehingga membuat mata hatinya juga ikut buta dan tidak bisa melihat kebenaran yang telah ditunjukkan Yang Maha Kuasa kepadanya. Ibunya yang begitu takut kehilangan bapaknya tentu tidak akan pernah bisa mencintai anak - anaknya lebih besar dari cintanya kepada suaminya yang tidak bermoral itu. Tidak sengaja dia pernah mendengar cerita bahwa bapaknya dulu berasal dari keluarga baik – baik yang berkecukupan, namun hobi bapaknya yang sering gonta – ganti pacar dan keluar masuk diskotek, membuat kedua orang tua bapaknya harus selalu mengeluarkan uang untuk menebus bapaknya di penjara karena tawuran dengan orang lain hanya gara – gara memperebutkan seorang gadis pramusaji di bar/diskotek. Salah satu gadis yang diperebutkan bapaknya waktu itu adalah Ibunya. Ibunya yang sudah tidak memiliki orang tua dan sanak keluarga membuat bapaknya bisa bebas membawanya pergi kemana saja untuk bersenang – senang. Sayangnya mereka mendapatkan kesialan ketika tanpa direncanakan, Ibunya tiba – tiba saja hamil dan meminta pertanggung jawaban dari bapaknya agar mau menikahi dirinya. Kedua orang tua bapaknya waktu itu menolak memberi uang untuk aborsi dan mengusir bapaknya dari rumah karena dianggap telah berbuat zina dengan gadis yang tidak jelas asal usulnya sehingga membuat bapaknya yang tidak punya rumah dan tempat tujuan akhirnya terpaksa memilih untuk menikahi ibunya yang waktu itu sudah memiliki tempat tinggal dan pekerjaan tetap sebagai pramusaji di sebuah bar. 

Lamunannya terhenti ketika dia diminta membayar barang yang dia beli oleh penjual di toko itu, dikeluarkannya uang dari balik saku celananya yang lusuh dan diberikannya kepada sang penjual. Kemudian dia minta kepada bapak penjual itu untuk memberikan kedua buah plastik kepadanya agar barang yang dia beli tidak basah terkena air hujan. Penjual toko itu tampak mencarikan plastik di keranjang bawah kotak tempat jualannya dan memberikan plastik itu kepadanya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada bapak penjual di toko tersebut, dia langsung bergegas pulang menerobos hujan.

Karena hujan yang semakin deras dan angin kencang yang ikut berhembus ke arahnya, membuat dia jadi kesulitan untuk berlari. Seringkali ia jatuh karena berusaha menerobos angin yang berlawanan arah dengan dirinya. Namun dia segera bangkit lagi dan menahan rasa sakit dan perih di sekujur tubuhnya. Dia harus segera sampai ke rumah untuk membawa adiknya ke puskesmas atau ke dokter terdekat. Dia tidak mau adiknya bertambah parah sakitnya.

Selang beberapa menit kemudian, akhirnya dia berhasil sampai di jalan depan rumahnya. Begitu terkejutnya dirinya ketika melihat adik laki – lakinya yang masih kecil terbaring lemas tak berdaya di halaman depan rumahnya. Wajahnya sudah pucat dan bibirnya mulai membiru. Dia menjerit tertahan dan segera memeluk tubuh adiknya yang sudah sangat dingin lalu mengendongnya masuk ke rumah.

“Apa – apaan ini, Pak. Kenapa adik dibiarkan berada di luar rumah? Padahal hujan lagi deras – derasnya dan kondisi kesehatan adik juga sedang tidak baik”, Dia langsung marah – marah kepada ayahnya yang malah enak – enakan duduk di atas kursi di samping tempat tidur ibunya.

“Salah sendiri, adikmu dari tadi menangis terus. Ayah tidak tahan mendengar tangisannya, makanya ayah usir saja dia keluar”, Ayahnya menjawab dengan wajah tidak perduli sementara ibunya hanya diam saja tak berkata sepatah katapun.

Dia begitu marah kepada ayahnya namun tak ingin menyia – nyiakan waktu untuk bertengkar dengannya. Dia hanya meletakkan bungkusan nasi dan sekerat bir yang ayahnya pesan di atas meja dan tanpa berkata apa – apa langsung membungkus tubuh adiknya dengan selimut yang tersisa di keranjang pakaian lalu dia tutup lagi dengan plastik besar yang dia temukan di dapur. Dia juga membuka almari pakaiannya dan menambil bungkusan kain yang berisi uang hasil tabungannya selama ini.

“Mau kemana kau?”, Ayahnya berjalan mengambil bir yang ada di atas meja dan segera membuka tutup botolnya lalu menghabiskan satu botol bir itu dalam sekali teguk.

Dia memandang ayahnya sekilas dan  berkata, “Aku mau pergi ke dokter agar bisa memeriksa keadaan adik”

“Apa katamu?”, Ayahnya tampak tidak senang mendengar jawaban dari anaknya itu. Jika si anak punya uang lebih untuk membawa adiknya ke dokter, lebih baik ia berikan kepadanya agar bisa dipakai buat main judi atau membeli bir lagi untuk bersenang – senang. “Aku tidak mengijinkan kalian untuk pergi”

Dia terkejut mendengar perkataan ayahnya, tapi dia juga tidak mau mengalah karena kali ini bapaknya sudah keterlaluan dan batas kesabarannya juga sudah mulai habis. “Terserah bapak setuju atau tidak, tapi yang jelas aku tetap mau pergi ke dokter”, Dia mengendong adiknya dalam pelukan dan membuka pintu rumahnya.

Bapaknya langsung menghampirinya dan menempelengnya hingga dia terjatuh bersama adiknya ke lantai. “Berani benar ya kamu membantahku, memangnya siapa pikir dirimu ini”

Dia meringis menahan sakit di wajahnya dan tampak darah menetes dari mulutnya yang kecil. “Aku sudah tidak tahan dengan perlakuan bapak yang makin semena – mena ini. Padahal hampir semua uang hasil kerjaku sudah bapak ambil semuanya tapi bapak tidak pernah puas juga dan masih menyakiti kami berdua. Sebenarnya apa yang bapak inginkan? Bapak ingin kami berdua mati dulu baru merasa puas?”

Si Bapak tampak makin marah mendengar perkataan anaknya. Berani benar anak kecil ini berulah di depannya, pikirnya dalam hati. “Kematian kalian tidak akan pernah membuatku puas karena kelahiran kalian adalah hari dimana semua bencana di dalam hidup kami berawal. Gara – gara kelahiranmu, bapak jadi diusir dari rumah. Orang tua bapak tidak mau mengakui bapak sebagai anak lagi dan bahkan dicoret dari daftar warisan. Bapak begitu senang ketika mendengar bahwa mereka meninggal karena bis yang mereka tumpangi masuk ke jurang, itu balasan yang setimpal karena telah mengusir bapak dari rumah. Dasar mereka tua bangka tidak tahu diri”

Dia tampak sudah tidak begitu terkejut dengan ucapan bapaknya, karena sudah tidak terhitung berapa kali bapaknya itu menyalahkan dirinya atas penderitaan yang mereka alami. Kedua orang tuanya sepertinya tidak pernah mengharapkan kelahirannya ataupun kelahiran adiknya. Katanya kelahirannya adalah sebuah kecelakaan dan tidak pernah direncanakan. Bahkan bapaknya tega mengatakan bahwa waktu kelahirannya, ibunya sudah meminum berbagai macam jamu untuk menggugurkan kandungan itu tapi tetap tidak berhasil. Saat itu keadaan ekonomi mereka sedang sulit – sulitnya jadi tidak ada uang yang tersedia meskipun mereka berniat untuk aborsi. Sebenarnya orang tuanya pernah mencoba membuangnya ke sungai yang tak jauh dari tempat tinggalmya, tapi naas bagi mereka, karena ternyata ada saksi yang memergoki ketika bapaknya mengendap – endap di tengah malam dan sedang berusaha melemparkannya ke sungai. Dan akhirnya, dirinya dikembalikan lagi kepada kedua orang tuanya setelah ayahnya dikenai hukuman penjara 6 bulan lamanya karena mencoba membunuh bayinya sendiri dan akhirnya karena permohonan dari ibunya, dengan sejumlah uang jaminan dan persayaratan yang harus dipenuhi, bapaknya dibebaskan dari penjara.

Ketika kasus ke dua waktu ibunya mengandung adiknya, bapak sudah berniat akan membuang adiknya ke jalanan atau menjualnya kepada agen penyaluran bayi setelah ibunya selesai melahirkan. Dia yang waktu itu masih berumur 7 tahun tentu saja tidak setuju dengan tindakan bapaknya. Dia menginginkan adiknya lahir dengan selamat ke dunia dan melihatnya tumbuh besar. Berkali – kali dia memohon agar bapaknya tidak membuang adiknya ketika kehamilan ibunya sudah makin membesar dan mencapai usia 9 bulan. Tapi hanya pukulan dan tendanganlah yang dia terima dari bapaknya selain jawaban tidak.Bapaknya begitu bernapsu ingin segera melenyapkan adiknya dengan cara apapun. Karena bapaknya berpikir bahwa kehadiran adiknya hanya akan menambah pengeluaran dari biaya hidup mereka sekeluarga yang sudah sangat sulit.

Tepat begitu adiknya lahir ke dunia, bapaknya langsung membawa adiknya pergi menuju ke kenalannya yang katanya punya pekerjaan menjual bayi – bayi yang tidak diinginkan ke dalam ataupun luar negeri. Tapi, dia cegah kepergian bapaknya dengan membawa para polisi yang dulu pernah menangkap bapaknya ketika dia mencoba membuang dirinya yang masih bayi . Dia melaporkan bahwa bapaknya berniat menjual adik bayinya yang baru saja lahir. Waktu itu bapaknya sempat dipenjara lagi selama kurang lebih 1 tahun oleh pihak kepolisian. Ibunya yang sudah tidak bekerja lagi karena sering sakit – sakitan waktu itu langsung marah – marah kepadanya dan mengatainya anak bodoh karena berani melaporkan bapaknya kepada polisi. Padahal sebelumnya Ibu hanya bisa diam saja melihat tingkah laku suaminya yang brengsek itu, tapi wanita itu langsung marah begitu tahu suaminya ditangkap polisi karena itu berarti tidak ada orang yang mencari uang di keluarga itu. Penghasilan dirinya sebagai pedagang asongan dan penjual koran tentu saja tidak cukup untuk menghidupi mereka semua, apalagi dengan kehadiran adik bayi yang masih kecil. Biaya hidup mereka semakin bertambah banyak.

 

Views: 482
Posting: 30-Sep-2008 22:43:48 WIB
Comments: 0 comments
Category: Story
Sep
30
2008

Satu

 Hujan makin deras mengguyur bumi. Gelegar suara petir dan kilat saling bersahut – sahutan di atas langit. Di tengah hujan yang deras, tampak seorang anak perempuan berumur 8 tahun sedang berlari – lari dengan tergesa – gesa sambil membawa kantong plastik di tangannya. Berkali – kali ia mengeletukkan giginya menahan udara dingin yang menerpa tubuhnya. Jas hujan tipis dari plastik murah yang dia pakai sudah tampak lusuh dan berlubang dimana – mana. Anak itu memeluk dirinya sendiri untuk mengurangi rasa dingin dari curahan air hujan yang masuk melewati celah – celah lubang dari jas hujannya. Ia menuju sebuah rumah kecil terbuat dari bambu yang terletak di pelosok jalan – jalan kecil di pinggir sungai. Aliran air sungai makin besar seiring dengan hujan yang turun makin deras dan tanpa henti.

Anak perempuan itu mengetuk sebuah pintu rumah yang berwarna coklat kusam, tak berapa lama kemudian tampak seorang laki – laki paruh baya yang terlihat mabuk membukakan pintu untuknya dan dengan kasar menarik anak perempuan itu untuk masuk. Rumah itu hanya diterangi dengan lampu minyak yang digantung di dinding rumah dekat pintu masuk. Seorang wanita berusia pertengahan 40 tampak sedang tiduran di atas kasur, sedangkan anak laki – laki kecil berumur tak lebih dari 3 tahun duduk di atas kursi dekat tempat tidur sambil menyelimuti dirinya dengan sarung yang sudah sobek – sobek dan usang dimakan usia.

“Dari mana saja kau ini, beli makanan saja sampai 1 jam lamanya”, Laki – laki itu mengambil bungkusan plastik di tangan si anak perempuan kecil itu yang ternyata berisi makanan dan membukanya dengan perasaan kesal, “Hah, apa ini?? Kenapa hanya ada 2 bungkus nasi saja di plastik ini. Tidak akan cukup kenyang bagiku, dan lagipula tadi aku kan menyuruhmu untuk membeli 1 kerat bir di warung dekat rel jembatan penyeberangan itu”, Dikeluarkannya 2 bungkus nasi yang ada di dalam plastik dan dilemparkannya dengan marah di atas meja kayu yang sudah usang.

“Uang hasil penjualan koranku hari ini hanya cukup untuk dibelikan 2 bungkus nasi, Pak”, Anak kecil itu menjelaskan kepada laki – laki setengah baya yang ternyata adalah bapaknya dengan wajah sebal.

“Bohong kamu!!”, Bapak  itu langsung menggebrak meja di depannya dengan raut wajah yang sangat marah lalu mengambil sapu ijuk di pojok rumah yang biasa digunakan untuk menyapu lantai dan berjalan lagi ke arah anaknya. Dicekalnya tangan anak perempuannya itu dan tanpa peringatan terlebih dahulu dipukulnya kaki anaknya dengan sapu berkali – kali untuk melampiaskan amarahnya. Si anak tentu saja mengaduh kesakitan ketika dipukul oleh ayahnya. Tubuhnya yang tadi kedinginan kini bertambah dengan luka – luka sabetan berwarna merah yang terasa perih terkena air yang mengucur dari rambutnya yang masih basah. Wanita yang tadi tiduran di atas kasur hanya bisa terdiam menatap kejadian itu. Dia tidak berani berbicara apapun ketika suaminya sedang marah seperti ini. Salah – salah nanti dia juga kena sabetan sapunya juga. Tapi, anaknya yang duduk di kursi dekat samping tempat tidurnya langsung berdiri dan berlari ke arah anak perempuan itu dengan langkah – langkah kakinya yang belum mantap menginjak di atas tanah.

“Pasti kamu tidak memakai semua uang hasil penjualanmu hari ini kan? Ayo ngaku!!”, Bapak itu mulai mengarahkan pukulan lagi ke tubuh anak perempuannya dengan sapu ijuk yang ada di tangannya. Bilur – bilur merah yang membekas di kedua tangan dan kaki anak perempuannya itu kini makin bertambah banyak seriring bertambahnya sabetan sapu ijuk yang dilayangkan ke tubuh anaknya itu.

“Huwee….. Huwee.. Ngan pukuy kakak”, Adik si anak perempuan yang masih belum genap berumur 2 tahun itu menarik – narik kaki ayahnya yang besar dan menangis meraung - raung  karena melihat kakaknya dipukul oleh ayahnya. Dari mulutnya keluar kata – kata yang kurang jelas artinya karena bercampur dengan tangisnya yang makin keras.

Si ayah tambah marah dan terganggu mendengar tangisan adiknya yang masih kecil itu lalu menempelengnya itu hingga adiknya yang masih kecil itu terlempar ke samping menabrak meja yang ada di depannya.. Kakak perempuannya begitu terkejut dan berlari ke arah adiknya tanpa menghiraukan rasa sakit yang mendera tubuhnya sendiri. Digendongnya adiknya yang masih kecil dan tidak berdaya dalam pelukannya. Tampak luka memar di wajah adiknya akibat pukulan ayahnya.

“Adik belum sembuh dari demamnya yang kemarin Pak, tolong jangan sakiti dia lagi”, Anak perempuan itu memeluk tubuh adik laki – lakinya yang masih kecil dan mengendongnya menjauh dari samping bapaknya. Dengan terisak – isak menahan tangis, si adik menggelayut di leher kakaknya yang basah terkena hujan.

Bapak itu tambah melotot ke arah mereka berdua dan mengangkat sapu ijuknya lagi untuk dipukulkan kepada kedua anaknya yang masih kecil itu. Melihat hal itu, si kakak lalu mengatakan, “Sudah cukup, jangan pukul lagi. Aku akan balik ke warung untuk membelikan apa yang bapak inginkan”

“Bagus kalau kau akhirnya mau menurut”, Bapak itu menurunkan sapu ijuk yang ada ditangannya dan tersenyum puas karena keinginannya sudah dituruti, “Ayo sana cepetan pergi, awas ya kalau kamu sampai selama tadi pas cari makan. Bakal kuhukum adikmu”, si Bapak mengambil adik laki – lakinya dengan paksa sehingga adiknya menangis lagi meraung – raung karena takut digendong sama bapaknya.

“Bisa diam tidak”, Bapak itu mencekal leher anaknya yang masih kecil itu hingga anaknya terdiam karena takut.

Si kakak tidak bisa berbuat apa – apa dan langsung pergi keluar rumah untuk membelikan pesanan bapaknya agar adiknya bisa segera ia periksakan ke puskesmas terdekat. Badan adiknya itu sudah demam tinggi sejak beberapa hari yang lalu, dan tiap kali ia ingin menyisihkan uangnya untuk membelikan obat di apotek atau memeriksakan ke puskesmas, ayahnya selalu meminta uang lebih dari hasil penjualan korannya. Dia selalu mabuk dan mabuk tiap harinya, dan ibunya juga hanya bisa terdiam ketakutan di atas tempat tidur jika ayahnya sedang memukuli kedua anaknya.

Hujan deras kembali mengguyur badannya begitu ia melangkahkan kakinya keluar rumah. Dia merapatkan jas hujannya yang sudah berlubang dimana – mana itu agar air hujan tidak banyak yang masuk ke dalam. Dengan berlari – lari kecil ia menerobos hujan itu dan menuju warung yang menjual bir terletak beberapa meter dari rumahnya. Namun, ternyata warung itu sudah tutup dan ia terpaksa berjalan lebih jauh lagi ke arah dekat jalan raya.

Jalan raya yang akan ia sebrangi tampak begitu ramai meskipun hujan bertambah deras mengguyur bumi sehingga menimbulkan genangan air yang besar di atas aspal jalan itu. Berkali – kali dia terkena cipratan mobil yang kebetulan lewat di depannya ketika dia akan menyeberang jalan, tapi dia tidak memperdulikannya. Dengan usaha keras, akhirnya dia sampai juga ke toko bir yang dia tuju. Dia meminta kepada si penjual untuk memberikan sekerat bir untuknya. Meskipun awalnya si penjual tidak mau untuk menjual bir itu karena dirinya masih di bawah umur, tapi setelah memohon – mohon bahwa bir itu adalah untuk bapaknya, akhirnya si penjual mau juga menjual bir itu kepadanya. Dia juga mengambil beberapa bungkusan nasi lagi sesuai pesanan bapaknya. Dia sembunyikan 2 bungkus nasi di dalam bajunya untuk adiknya dan dirinya sendiri karena dia tahu bapaknya tidak akan mau membagi maHanan – maHanan itu untuk mereka berdua. Padahal bapaknya kankan ibunya bisa memberi nasehat atau apalah agar bapaknya bisa merubah sikap buruknya itu. Apalagi ketika bapaknya sudah main tangan terhadap dirinya dan adiknya yang masih bayi, ibunya juga tidak membela mereka berdua dan hanya melihat dengan diam saja. Katanya beliau tidak mau diceraikan sama bapak dan menjadi janda serta tidak punya tempat tinggal, karena bapak memang pernah bilang bakal menceraikan dan mengusir ibu dari rumah kalau beliau berani membantah perintah – perintahnya. juga punya pekerjaan dan pendapatan sendiri sebagai kuli bangunan tapi semua uangnya dihabiskan untuk main judi dan minum minuman keras. Belum lagi hobi buruknya yang suka main ke tempat pelesiran. Entah berapa kali uang gajinya habis dalam sehari hanya dikarenakan bapaknya itu suka menghambur – hamburkan sesuka hatinya. Ibunya juga diam saja melihat tingkah bapaknya yang gak senonoh seperti itu. Padahal tetangga – tetangga sebelah sudah banyak yang membicarakan kelakukan buruk bapaknya yang suka berbuat mesum di tempat umum dengan para wanita dari tempat pelesiran. Dia tidak habis pikir bagaimana ibunya bisa diam saja diperlakukan seperti sampah oleh suaminya sendiri, paling tidak

Memang awal orang tuanya waktu menikah dulu, rumah adalah milik ibunya, tapi karena banyaknya hutang – hutang yang harus dilunasi akibat hobi bapaknya yang suka main judi, akhirnya rumah itu terpaksa dijual dan bapaknya mengontrak rumah yang lebih kecil dengan uang hasil kerjanya sebagai kuli bangunan. Hal itulah yang membuat perlakuan bapak makin sewenang – wenang saja. Ditambah lagi dengan kondisi ibunya yang lemah dan sering jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja sehingga pada akhirnya ibunya tidak mampu untuk bekerja lagi di luar rumah dan dia yang masih berumur 7 tahun waktu itu memutuskan untuk membantu ibunya mencari uang dengan berjualan koran atau menjadi pedagang asongan. Bagaimanapun, dia menyayangi ibunya dan kasihan melihat kondisi ibunya yang tidak berdaya seperti itu. Bapaknya jelas – jelas tidak akan mau menyisihkan sedikit uang dari penghasilannya untuk membawa ibunya pergi berobat, jadi dia berusaha keras mengumpulkan uang sedikit demi sedikit agar bisa membeli obat untuk menyembuhkan penyakit ibunya. Meskipun balasan yang dia terima atas perbuatan baik itu tidak pernah dia rasakan. Ibunya menganggap semua yang dia lakukan itu adalah memang suatu hal yang wajar karena kewajibannya sebagai seorang anak. Tak sekalipun ibunya mengucapkan terima kasih atau memeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang dan mengucapkan kata – kata manis kepadanya. Dia memang tak berani bermimpi  akan diberi pujian atau apapun dari ibunya, tapi setitik cahaya yang ada di hatinya selalu berharap mungkin suatu saat ibunya bisa berubah dan bisa menyayangi dirinya. Tapi, nampaknya itu hanyalah mimpi yang tidak akan pernah terwujud. Ibunya tidak bisa melihat arti pentingnya keberadaan dirinya ketika beliau dibutakan oleh cintanya kepada bapaknya hingga tidak sanggup melihat kebenaran yang ada di depan matanya. Pembelaan ibunya yang mati – matian terhadap semua perbuatan bejat yang dilakukan oleh bapaknya, membuat dirinya makin tidak percaya bahwa keajaiban kasih sayang yang dia impikan akan bisa terwujud.

 

 

Views: 405
Posting: 30-Sep-2008 22:42:16 WIB
Comments: 0 comments
Category: Story
Sep
29
2008

rasanya baru kemaren deh ramadhan tiba..
tapi kini dah mau masuk hari raya iedul fitri
waktu berlalu cepet banget
dan tetep aja diriku masih lum dapet kerjaan
bosen banget neh di rumah terus
pendapatan nol tapi pengeluaran mpe ratus ribuan
kalau gini caranya seh, uang tabunganku bakalan ludes sebelum tahun ini berakhir..

Views: 196
Posting: 29-Sep-2008 23:36:00 WIB
Comments: 1 comments
Category: Diari
 1 2 3 4 5 >