Yuli Susanti Sekedar catatan online saja

Blog Archive: March 2010
Mar
27
2010

Rapat tim kecil, Sejumlah anggota Panitia Khusus Hak Angket Bank Century yang tergabung dalam tim kecil menggelar rapat internal, di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Lobi-lobi politik antarfraksi semakin gencar dilakukan menjelang kesimpulan akhir Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Kasus Bank Century yang akan dibacakan pada sidang paripurna DPR,2 Maret 2010.

Lobi bukan hanya terjadi di antara partai politik (parpol) koalisi pendukung pemerintah, melainkan juga oposisi. Ketua DPP Partai Golkar Kanghari, maksudnya Priyo Budi Santoso mengungkapkan, beberapa hari terakhir, dirinya mewakili Golkar sering mengadakan pertemuan demi mendiskusikan perbedaan persepsi dalam memandang kasus Bank Century.

“Saya akui hari-hari ini telah terjadi lobilobi yang intensif, saya berpendapat wajar. Lobi adalah tindakan yang sah dalam politik,”kata Priyo di Gedung DPR,Jakarta,kemarin. Seperti diberitakan,dalam pandangan awal, sebagian besar fraksi dalam Pansus Hak Angket Kasus Bank Century menilai ada indikasi tindak pidana korupsi pada proses pengucuran data talangan (bailout) Rp6,7 triliun kepada Bank Century.

Dari sembilan fraksi, hanya Fraksi Partai Demokrat dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa yang menyatakan kebijakan bailout Century tidak melanggar hukum. Menjelang kesimpulan akhir Pansus, sejumlah elite parpol sering menggelar pertemuan. Lobi antara lain dilakukan pada Minggu (14/2) malam.

Ketika itu sejumlah pimpinan partai pendukung koalisi bertemu di rumah Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga Menko Perekonomian Hatta Rajasa di kompleks menteri Widya Chandra, Jakarta Selatan. Pertemuan juga digelar di kediaman Menkop dan UKM Syarifuddin Hasan.

Selasa lalu (16/2), Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Bidang Sosial dan Penanganan Bencana Andi Arif menemui Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang juga Wakil Ketua DPR Pramono Anung. Pertemuan itu mengindikasikan ada pembicaraan politik lantaran Pramono didampingi putri Megawati Soekarnoputri yang juga Ketua DPP PDIP Puan Maharani.

Yang terbaru adalah pertemuan beberapa anggota Pansus serta para petinggi partai di pusat perbelanjaan Senayan City, Jakarta. Bahkan, pertemuan tersebut juga diselingi dengan berkaraoke. Mereka yang disebut-sebut ikut dalam pertemuan itu antara lain anggota Pansus dari FPDIP Gayus Lumbuun,Agun Gunandjar Sudarsa (Fraksi Partai Golkar), Fachri Hamzah (Fraksi Partai Keadilan Sejahtera), Akbar Faizal (Fraksi Partai Hanura), serta Anas Urbaningrum (Fraksi Partai Demokrat).

Adapun dari petinggi partai antara lain Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Priyo mengatakan, lobi yang dilakukan terhadap Golkar terkait kasus Century merupakan hal wajar. Namun, menurut dia, Golkar tidak akan mungkin mengubah sikapnya dari pandangan awal.

“Partai Demokrat menganggap benar (bailout), sedangkan Golkar menemukan banyak indikasi yang bersifat pelanggaran.Golkar akan tetap menjaga martabatnya,” ungkap Priyo. Gayus Lumbuun mengakui adanya pertemuandiSenayanCity. Namun dia membantah bahwa ada lobi dalam pertemuan yang acara sebenarnya adalah ulang tahun salah satu televisi swasta itu.

Jikapun ada yang melobi PDIP, lanjut Gayus,hal itu akan siasia lantaran PDIP sebagai inisiator Angket Century tidak akan terpengaruh. “Ini kejahatan sistemik di bidang keuangan negara dan perbankan nasional yang perlu dibongkar. Kami tidak akan bisa diintervensi. Sebagai inisiator, sikap kami tak akan pernah abuabu,” ungkapnya. Adanya lobi terkait Pansus juga diakui Fachri Hamzah.

Dia menganggap hal itu wajar saja, apalagi jika lobi dilakukan di lingkup internal koalisi. Meski begitu, dia berjanji tetap konsisten dalam bersikap.“Kalau lobi yaitu bagian dari pertemuan antarkoalisi.Tapi, PKS tetap pada sikapnya, kita tidak mungkin menutup-nutupi karena ini sudah dibuka ke publik,” ungkapnya. Anas Urbaningrum juga membenarkan adanya pertemuan di Senayan City.

Namun,Ketua Fraksi Partai Demokrat itu membantah pertemuan tersebut untuk melobi partai terkait pandangan akhir di pansus nanti.“Tadi malam memang ada di Senayan City,tapi bukan lobi koalisi.Hanya minum kopi sambil diskusi ringan,”ungkapnya. Anggota Fraksi PKS Mahfudz Siddiq mengaku tidak ikut dalam acara tersebut seraya menandaskan tetap fokus pada proses penyelidikan Pansus.

Ditanya apakah ada lobi-lobi ke PKS,Mahfudz mengatakan komunikasi adalah hal wajar baik dalam koalisi maupun lintas fraksi. Namun dia menegaskan sejauh ini sikap PKS tidak berubah. Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali mengatakan, fraksinya masih akan mengumpulkan datadata berdasarkan temuan akhir anggota Pansus.Temuan itu akan menjadi dasar pandangan resmi PPP.

Dia mengatakan, temuantemuan baru dalam kasus Century sampai saat ini terus berkembang. “Kalau ada lobi,itu merupakan hal yang wajar bagi kalangan partai politik,”ujarnya. Mennteri Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan mengatakan, sebagai mitra koalisi, lobi-lobi harus intens dilakukan.

Dia mengibaratkan hubungan mitra koalisi ini seperti hubungan suami istri yang kadang kala mengalami pasang surut.“Jadi all the time pasti lobi. Ya namanya suami istri aja bisa beda pandangan. Suami istri kalau lagi ribut-ribut, mesra lagi kanbagus,”ujarnya.

Indikasi Korupsi

Sementara itu, hasil kompilasi tim ahli Pansus terhadap pandangan fraksi-fraksi di DPR dalam penyelidikan kasus Bank Century memperlihatkan mayoritas fraksi, kecuali Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa, mengindikasikan ada tindak pidana korupsi terkait bailoutBank Century.

Hal itu tertuang dalam laporan Tim Ahli Pansus atas kompilasi pandangan fraksi-fraksi tentang ada/tidaknya pelanggaran hukum pada proses akuisisi/merger, fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP), penyertaan modal sementara (PMS) atau bailout, dan aliran dana. Kompilasi tim ahli menjadi bahan Tim Kecil Pansus dalam membuat kerangka hasil kesimpulan Pansus atas penyelidikan kasus Bank Century.

Tim kecil beranggotakan 15 orang perwakilan seluruh fraksi. “Berdasarkan kompilasi, tujuh fraksi mengindikasikan tindak pidana korupsi,sedangkan PKB dan Demokrat menyatakan tidak ada pelanggaran, “ ujar anggota Pansus dari Fraksi PDIP Maruarar Sirait seusai rapat Tim kecil Pansus di Gedung DPR Jakarta kemarin.

Maruarar mengungkapkan,tujuh fraksi menyatakan yang diduga terlibat dalam tindak pidana itu ialah Komite Stabilitas Sektor Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Bank Century. “Sebagian fraksi ada yang memasukan Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program dan Reformasi (UKP3R),”ujarnya.

Maruarar mengatakan, hasil kompilasi ini menjadi acuan bagi tim 15 untuk merumuskan pandangan fraksi-fraksi menjadi kesimpulan penyelidikan Bank Century.“ Apabila nanti ada fraksi yang memiliki pandangan berbeda akan kelihatan,”ujarnya. Hasil laporan tim kecil akan dibawa ke rapat pleno Pansus pada Senin (22/2) mendatang.

Kemudian, fraksi-fraksi akan memberikan pandangan akhirnya atas hasil tim kecil pada Rabu (24/2). Fraksi Partai Golkar dan Fraksi PDIP akan memasukkan pihak yang bertanggung jawab dalam kasus Bank Century pada laporan tim kecil, khususnya di bagian rekomendasi dan lampiran.“Kami akan menyebut lembaga dan pihak yang bertanggung jawab (atas dugaan pelanggaran) dalam lampiran,” ujar anggota Pansus dari Fraksi Partai Golkar Agun Gunandjar Sudarsa.

Dari Fraksi PDIP, Hendrawan Supratikno menyatakan fraksinya akan menyebut pihak yang bertanggung jawab atas pelanggarannya.“ Misalnya kami akan menyebut jabatannya,”tegas Hendrawan. Fraksi PPP menyatakan penyebutan nama akan rumit. Oleh karena itu Fraksi PPP akan menyebut lembaganya.

“Pansus tidak spesifik atau sedetail itu karena Pansus untuk penyelidikan, bukan penyidikan,” ujarnya. Di bagian lain,muncul gagasan agar dibentuk tim ad hoc untuk menindaklanjuti rekomendasi Pansus Angket Century DPR.Tim ad hocini untuk menghindari intervensi dalam penyelesaian kasus yang melibatkan dana Rp6,7 triliun.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan, tim ad hoc terdiri atas berbagai kalangan. “Anggotanya bisa dari kalangan kepolisian yang pandai dan jujur, dari KPK, kejaksaan, DPR, wartawan, LSM, serta para ekonom. Publik akan mengawasinya,” katanya.

Views: 62
Posting: 27-Mar-2010 03:36:40 WIB
Comments: 0 comments
Category: Bloging
Mar
04
2010

Sebuah proses penting baru saja dilewati bangsa ini. Proses yang melewati masa-masa meletihkan, ditengarai sejuta kecurigaan, dan berakhir dengan keputusan pahit bagi yang sedang berkuasa. Namun, apa pun yang terjadi, bangsa ini harus mulai menatap ke depan. Menghadapi lawan-lawan tangguh yang terkonsolidasi kuat, sementara di antara kita masih suka berhadap-hadapan. Semoga saja kemelut politik di negeri ini segera berakhir. Menghapus semua amarah dan dendam. Saya ingin mengajak Anda merenungi kisah dua negara, yang satu berhasil keluar dari kemelut dan satunya lagi terbelenggu dalam siklus dendam tiada akhir.

Zimbabwe dan Afrika Selatan

Bapak psikologi positif Seligman pernah membandingkan keduanegaraini. Afrika Selatan adalah negeri apartheid yang kental dengan tetesan darah berceceran. Mereka memenjarakan tokoh kulit hitam Nelson Mandela hampir dalam seluruh usia mudanya. Suasana berubah setelah dunia mulai menaruh perhatian pada masalah human right. Komunisme di era 1980-an bukanlah lagi musuh bagi kapitalisme.

Penindasan terhadap hak asasi manusia, itulah musuh bersama dunia.Pemerintah apartheid terus ditekan dunia dan mereka tak kuasa membendung perlawanan rakyat Afrika Selatan. Mandela pun harus dilepaskan dan apartheidberakhir. Pemerintah kulit putih yang menjalankan prinsip apartheid tentu cemas melepas Mandela.

Dunia usaha sangat khawatir, salah satunya adalah Shell, perusahaan asal Belanda yang sudah mengakar kuat di ujung selatan Afrika yang beriklim sejuk itu. Menjelang pelepasan Mandela, Shell tergopohgopoh melepas seluruh kepemilikannya pada jaringan pompa bensin di Afrika Selatan yang kelak dibeli Petronas.

Apa yang dikhawatirkan Shell dan ratusan investor riil asing lainnya di Afrika Selatan? Benar! Mereka khawatir Mandela dan rakyat kulit hitam yang meraih kemerdekaan akan membalas dendam. Begitulah jalan berpikir umum. Mandela bukan hanya membalas, melainkan juga merampas kembali hak-haknya.

Menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing. Namun, apa yang dilakukan Mandela? Mandela ternyata memilih jalur damai. Persis seperti Megawati yang memaafkan keluarga Soeharto. Ia tidak menuruti kehendak para pengikutnya dengan membalas dendam, melainkan meneruskan apa adanya. Ia mengajak bangsanya keluar dari perilaku buruk balas-membalas. Ia memaafkan lawan-lawan politik seikhlas-ikhlasnya.

Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi di Zimbabwe. Berbeda dengan Mandela yang mengambil jalan damai, Robert Mugabe mengambil jalan memaafkan ”abuabu”. Maaf oke, tapi proses hukum jalan terus. Ia mewariskan dendam, menangkap lawan-lawan politiknya, dan melakukan nasionalisasi tanpa henti. Lantas apa yang bisa kita lihat dari ekonomi kedua negara itu? Afrika Selatan telah tumbuh menjadi negeri yang stabil dan sejahtera.

Negeri ini sebentar lagi akan menjadi tuan rumah perebutan Piala Dunia sepak bola 2010. Polisi Afrika Selatan bahkan belum lama ini memberikan jaminan negerinya aman bagi semua tim sepak bola asing yang akan berlaga di sana. Saat mengunjungi Afrika Selatan beberapa waktu lalu, saya tidak menyaksikan dendam.

Semua adalah suka cita dan rakyat sibuk mengejar masa depan. Lantas, bagaimana dengan Zimbabwe? Silakan buka mesin pencari data dari komputer atau handphone Anda. Anda akan menemukan fakta-fakta yang sebaliknya. Rusuh, kumuh, konflik, rasa tidak puas,dan seterusnya.

Dendam Politik Ekonomi

Suka atau tidak suka, diakui atau tidak, krisis demi krisis politik yang dialami bangsa ini di era Reformasi erat dengan warna dendam antarpara penguasa atau antarbendera yang diwarnai berbagai kepentingan. Budaya malu yang kental di Asia ditambah unsur perasaan yang begitu dominan telah membuat kepemimpinan diwarnai dendam dan amarah.

Selain mudah tersinggung, konon, orang-orang Asia tidak mudah melupakan suatu kejadian yang mempermalukan dirinya, menurut informasi yang Type Approval Indonesia dapatkan melalui mesin pencari google. Gesekan-gesekan kecil dapat bermuara menjadi besar. Ditambah dengan tradisi kepatuhan dan ketaatan melakukan tugas demi kemenangan atasan menambah hubungan antarorang dan antarlembaga politik menjadi kompleks.

Saya jadi teringat dengan studi yang dilakukan Stanley Milgram pada 1960-an. Milgran ingin mengetahui apa yang menyebabkan prajurit dan elite Jerman yang cerdas itu begitu patuh terhadap Hitler semasa Perang Dunia II? Milgran melakukan eksperimen dengan menggunakan seseorang yang dilatih bersandiwara. Ia bertindak sebagai orang yang diinterogasi dan bila ia tidak menjawab apa yang diajukan seorang yang dibayar lainnya, ia akan disetrum.

Orang itu dilatih menjadi seorang aktor yang pandai bersandiwara. Padahal, kabel listrik tidak dipasang. Milgram merekrut sejumlah orang yang ditugaskan menjadi interogator. Ia harus menekan seseorang yang dicurigai.Bila ia tidak memberi jawaban,ia akan menaikkan voltage-nya dan orang itu akan mengerang kesakitan (berpura-pura tanpa diketahui interogator). Milgran hanya ingin tahu seberapa besar ”orang bayaran” menjalankan misi yang dibebankan kepadanya.

Dalam bukunya yang berjudul Obedience to Authority, Milgram menyimpulkan, seseorang yang diberi tugas bisa fokus pada perintah dan kehilangan hati nuraninya. Saya tidak tahu seperti apa teman-teman di dunia politik menjalankan misinya. Untuk siapa dan misiapayangdibawa tiaporang? Namun, saya ingin mengatakan, kita bisa saja fokus pada cita-cita dan nasionalisme menggebu-gebu dalam diri kita, tetapi sangat berbahaya bila kita tidak menyadari di balik itu semua ada balas-membalas yang dapat berkelanjutan tiada ujung.

Apa pun yang telah diambil, negeri ini harus mulai berbenah. Stop balas-membalas sampai di sini dan bersatulah! Kita sudah letih menyaksikan pertunjukan yang melemahkan bangsa ini. Mulailah memimpin dengan integritas dan jangan melakukan kecurangan untuk mengantar negeri ini ke hari esok.

Views: 56
Posting: 4-Mar-2010 18:55:15 WIB
Comments: 0 comments
Category: Bloging