Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?
Login with username, password and session length
  

RiJi

Page 5



Pada umumnya, kesuksesan seorang artis diperkuat oleh sebuah tim manajemen yang handal. Artis yang tergabung dalam sebuah management company biasanya mempunyai tim manajemen yang di dalamnya terdapat manajer dan asisten pribadi.

Manajer menjadi peran penting yang menentukan keberhasilan si artis. Tanpa mengecilkan peran asisten pribadi yang terasa lebih dekat karena senantiasa mendampingi artisnya kemana-mana, seorang manajer mempunyai tanggung jawab yang lebih besar karena tugas seorang manajer lebih dari sekedar mengurusi kontrak semata.

Mereka harus mendampingi artisnya serta terkadang menjadi pelindung untuk mereka. Tak jarang, mereka menjadi pihak yang sering disalahkan oleh penyelenggara acara maupun pihak fans. Para pemerhati dunia hiburan termasuk saya, sempat terkesan dengan sepak terjang beberapa manajer artis-artis drama asia selama kurun waktu 6 tahun belakangan.

Satu nama yang sudah tidak asing lagi tentunya adalah Angie Chai Zhi Ping yang biasa dipanggil Chai-jie, sang arsitek di balik kesuksesan F4 dan Meteor Garden. Beberapa peristiwa sedikit demi sedikit mengurai cara Angie Chai meng-handle F4 yang dirasa terlalu ketat itu kurang tepat. Popularitas yang meningkat bak meteor, membawa para personil F4 kepada eksklusivitas yang berlebihan.

Walaupun begitu, manajer pribadi F4 saat itu : Jiang Yi Peng mampu mengimbanginya dengan baik. Kala itu, pria berkacamata yang akrab dipanggil Peng-peng merupakan manajer favorit saya, setidaknya sepanjang penelusuran saya, ia mampu memposisikan dirinya sebagai teman sekaligus manajer yang membuat artisnya merasa nyaman.

Sayang, seusai konser perdana F4 di Jakarta, Peng-peng digantikan oleh Zheng Mao Liang. Cerita seputar manajer F4 yang lain merangkap asisten pribadi yang notabene perempuan, konon bisa menjembatani antara fans dan idolanya sempat bergulir namun juga menimbulkan banyak opini maupun gosip asmara.

Selain F4, Angie Chai juga mengurusi beberapa adik seperguruan F4 yang lain diantaranya Comic Boyz yang kini telah bubar. Tetap saja, Angie dirasa lebih menganakemaskan sekaligus terlampau mengekang F4. Berbagai macam proyek yang terasa amat sangat kejar tayang dilakoni F4, termasuk proyek Meteor Garden 2 yang menuai kontroversi dan berkesan sangat memaksakan diri.

Sutradara Cai Yue Xun diganti, sehingga secara tak langsung juga mempengaruhi jalan cerita dan konsentrasi pemain yang berhasil diarahkan dengan baik oleh sutradara muda tersebut. Namun, keberhasilan beberapa ou xiang ju/serial idola dan album solo masih membuat Angie Chai merasa para  personil F4 masih mencetak kesuksesan walau itu secara individual.

5 tahun berlalu, kembali mencuat tentang isu kepemimpinan Angie Chai yang pada puncaknya, perseteruan dengan Jerry Yan tak bisa dihindarkan. Jerry menyatakan keluar dari manajemen. Hingga kini, nasib F4 terasa masih mengambang terlebih di beberapa kegiatan, hanya F3 hadir tanpa Jerry. Beruntung, program pariwisata Taiwan yang notabene adalah kepentingan negara bisa mempersatukan mereka kembali.

Nama JVKV yang diambil dari inisial masing-masing personil pun digunakan untuk kegiatan ini. Sungguh asing rasanya, mengingat F4 akan selalu menjadi F4 dan tak tergantikan. Para fans masih berharap F4 akan selalu menjadi satu kesatuan sebagai F4 walaupun dengan kiprah individualnya masing-masing. Kita harap demikian.

Setelah Angie Chai, kita pasti teringat pada Sun De Rong. Pendiri Jungiery Stars ini walaupun terkenal bermulut tajam namun tak bisa diingkari kerja kerasnya selama 6 tahun mampu melahirkan begitu banyak bintang berbakat dan dijamin tidak hanya bermodal tampang atau penampilan luarnya saja.

Bisa dibilang, artis-artis Jungiery telah ditempa dengan berbagai macam pelatihan. Selain diolah bakat utamanya, selalu membuka kemungkinan akan adanya bakat terpendam atau keahlian lainnya untuk dijadikan alternatif dalam berkarya. Bukan itu saja, namun pergantian personil, proyeksi peranan, penjajalan di segala aspek dan bongkar pasang personil dalam grup yang dirasa kurang cocok kerap dengan berani dilakukan Sun Zhong kepada anak2 didiknya ini.

Spekulasi yang sangat riskan namun terbukti berhasil melambungkan nama artis-artisnya. Peraturan di dalam Jungiery Stars pun teramat ketat, apabila artisnya tertangkap basah melanggar, sanksinya tak main-main.

Mungkin saja pelanggaran tersebut akan menjadi akibat dari pembekuan karir bahkan pemecatan. Dari sekian peristiwa yang terjadi dalam Jungiery Stars, keluluhan hati Sun Zhong pada pasangan Zax Wang dan Ji Qin seakan mengklarifikasi kekerasan hatinya. Namun, tentu saja tidak mengurangi ketegasannya dalam menerapkan kedisiplinan dalam perusahaannya.

Kita mengenal 5566, yang merambah dunia keartisan bukan hanya dengan bermain di serial idola maupun membuat album musik seperti yang biasa dilakukan oleh artis idola kebanyakan, namun mereka pun diproyeksikan secara khusus untuk mencoba berbagai bidang dunia hiburan lainnya.

Kemampuan para personilnya dalam menjadi host berbagai jenis acara seperti games dan acara dokumenter mampu dibawakan dengan baik. Cara para personilnya mengembangkan diri terasa lebih membumi. Tony Sun dan Zax Wang mampu menjadi kakak seperguruan yang tangguh dan digemari.

Regenerasi pun kerap dilakukan dan adik-adik seperguruan 5566 selalu disandingkan dengan seniornya sehingga tidak terlalu jenuh. Strategi ini dirasa sangat berperan bagi kesuksesan Jungiery Stars, semua artisnya terpacu untuk maju dalam sebuah persaingan ketat namun sportif.

Puncak kejayaan mereka perlahan namun pasti ketika saat menghadirkan ouxiangju pesaing Meteor Garden yaitu The Prince turns Into A Frog yang didukung oleh para aktor dan aktris Jungiery Stars. Dalam seketika, Ming Dao sebagai pemeran utama dan rekan-rekan mampu merebut hati pemirsa drama Asia.

Bahkan, serial tersebut mengukuhkan 183 Club yang juga diperkuat personil 55566, Sam Wang disebut-sebut berhasil menggantikan F4 yang mulai meredup pamornya. Tahun ini, memperingati perjalanan panjang 2190 hari suka dan duka Jungiery Stars dirayakan dengan 2 album commemorate Super Music Classroom vol.1 & 2 serta Love Miracle 3 yang menghadirkan kumpulan hits artis-artis J-Stars.

Cara mengelola sistim manajemen ini seperti keluarga besar dan mungkin dirasa mirip dengan Johnny’s entertainment Jepang dalam mengelola artis-artisnya terbukti berhasil diterapkan di Taiwan.

Beberapa kali kunjungan artis, ada saja cerita berkesan terhadap manajer artis pula rupanya. Setelah kekaguman saya pada Jiang Yi Peng, pada saat dia mendampingi Vanness di konser amal 4StarsNite-Indosiar, cerita berlanjut pada saat konser 5566 dimana peran seorang road manager terasa amat penting, terutama apabila terjadi hal-hal di luar dugaan, mereka harus siap mengantisipasinya.

Kemudian pada saat konser 183Club, teman saya kesengsem pada road managernya yang santun. Apalagi ketika kami berkesempatan bertemu di luar hiruk pikuk kerubutan penggemar, kami rasa kesan rese sama sekali tidak terdapat dalam dirinya. Manajer ini terasa amat multifungsi karena ia mampu bekerja dengan baik dalam memegang peranan penting dari mulai faktor teknis sampai  penampilan, terlepas dari jumlah kru yang terbatas dalam rombongan.

Sebagai road manager, sangat memungkinkan terjadi kesalahfahaman ketika ia harus menghadapi situasi on the spot dan terkadang hanya karena berusaha melindungi artisnya dalam kunjungan2 promo ditambah lagi, komunikasi yang terjalin antara pihak penyelenggara dan manajemen kurang baik

Persiapan yang dilakukan sebelumnya, kadang tidak menjamin akan diterapkan sepenuhnya pada saat itu. Kadang seringkali terjadi kompromi dan jalan tengah yang diambil untuk menyelesaikan. Hal-hal kecil seperti kebiasaan dan apa yang boleh dilakukan dan tidak kadang terasa tersepelekan, adapun biasanya hal-hal tersebutlah yang menjadi faktor penunjang kelancaran dan kesuksesan acara.

Bagaimanapun, saya hargai pengembanan tanggung jawab ekstra yang mengharuskan mereka untuk jeli melihat situasi yang ada serta berharap pihak lokal dapat lebih mengantisipasi dan mampu menjadi tuan rumah yang baik dan dapat lebih mengakomodir.

Baru-baru ini dalam rangka kunjungan artis Korea yang berperan dalam My Girl yang baru saja habis masa tayangnya di Indosiar, Lee Dong-wook ke Indonesia pun, ada sedikit cerita terselip untuk sang manajer. Banyak sekali yang menggemari sosok berkacamata, putih dan tinggi yang (katanya) juga mirip salah satu artis Korea ternama.

Fans yang turut serta dalam kegiatan Lee Dong-wook sedari kedatangan di airport sampai Spazio terpesona akan ketampanan dan keramahan sang manajer yang sempat membaurkan diri dengan penonton di acara Rendezvouz with Lee Dong-wook di Studio 1 Indosiar.

Akhir kata, harap maklum apabila manajer-manajer yang dibahas ini umumnya berjenis kelamin laki-laki karena fans dan groupies-nya pun kebanyakan perempuan. Agaknya lama-lama manajer artis tidak akan kalah pamor dibanding artisnya sendiri, bahkan tidak mungkin mereka kelak bisa bersinar melebihi popularitas artis yang diurusinya !

adminda@indosiar.com

untuk memberi komentar, silakan login dahulu...
More RIJI:
[ more RiJi ]
© 2007 indosiar.com