|
Welcome, Guest. Please login or register. Did you miss your activation email? |
RiJi
Page 8
Sepulang dari Medan kemarin, banyak cerita yang dibawa. 3 hari liburan yang terasa sangat singkat itu bagaikan mimpi saja, terutama karena bertemu teman baru yang saya rasa sangat berjodoh.
Tujuan kami sama, bahkan duduk pun bersebelahan satu pesawat setelah bertemu di ruang tunggu bandara. Setelah melewatkan konser di Jakarta, saya akan berangkat menuju Medan untuk menyaksikan konser disana. 183Club~Shao Wei, Jacky, Ming Dao, Yu Rong & Johnny .. here we come !!!
Hanya saja, ada satu hal, saya dirundung (kalau boleh disebut) kemalangan kecil, namun Tuhan sangat baik. Setelah kehilangan koper saat tiba di bandara Polonia, saya tidak panik sama sekali. Somehow, ada keyakinan kalau koper tersebut akan kembali meskipun sempat kesal dengan petugas AirAsia yang terkesan menganggap kelalaian itu sebagai hal biasa. Bayangkan, koper saya tertinggal di Jakarta ! Alasannya, tag yang dikaitkan ke mulut koper terlepas.
Setelah menegaskan kalau koper saya berisi barang-barang penting dan tidak mungkin bisa diganti dengan 100 ribu per kg (koper saya 10 kg), saya menandatangani surat kehilangan dan meninggalkan bandara setelah 1 jam menunggu penyelesaian. Seorang bapak sempat mengompori agar tidak begitu saja menerima janji-janji petugas.
Namun apa daya, selain menunggu usaha pihak AirAsia serta berharap koper kembali, saya hanya bisa memasang tampang cemberut. Hari itu lucunya, 3 koper yang ber”kasus” mempunyai merk yg sama : S******* hehehe. Dari petugas hotel yang menjemput, mereka pun membenarkan kalau hal ini seringkali terjadi di bandara Polonia.
Beruntung saya ditemani teman baik saya Dee untuk sejenak menikmati kota Medan. Rencananya kami akan membeli oleh-oleh yang tidak mungkin sempat dibeli ketika esok harinya sudah harus bertolak ke Berastagi. Dee membawa kami ke tempat sate paling enak dan terkenal dengan es krim sodanya, setelah itu bertolak ke Jalan Tamiang dan outlet ASLI.
Tidak cuma itu, kami juga mampir ke TipTop yang sudah sejak tahun 1934 berdiri dan amat terkenal di Medan. Arsitektur jaman Belanda dan foto-foto kuno menghiasi dekorasi cakeshop ini. Setelah pulang ke hotel menanti satu teman saya yang lain, ternyata insiden koper terulang padanya. Koper yang juga merk S******** miliknya rusak, handle nya hilang ditambah lagi dia sempat jatuh di airport.
Pihak Soechi-Novotel Medan benar-benar kami acungi jempol. Kesigapannya menanggulangi hal teknis, seperti memperbaiki koper teman tersebut hingga pengurusan koper saya yang tiba di airport pukul 11.oo WIB malam membuat kami tidak kerepotan sama sekali.
Untuk semua yang akan berkunjung di Medan, hotel ini sangat kami rekomendasikan apalagi ketika berlibur sendirian, keramahan dan bantuannya terasa amat sangat membantu. Malam itu kami makan malam di samping hotel yang mengutip kata-kata teman saya Dee adalah nasi goring ter-enak sedunia, hahaha … tapi memang benar adanya. Koper saya tiba dan tak kurang suatu apapun setelah kami kembali ke hotel. Terima kasih TUHAN !
Keesokan paginya, kami bersiap-siap berangkat ke Berastagi. Rupanya rombongan kami akan berbaur dengan rombongan dari Jakarta dan luar negeri diantaranya Malaysia dan Hong Kong. Perjalanan ke Berastagi terasa sangat lama, apalagi setibanya kami di hotel kamar kami belum siap dan kami terpaksa menunggu. Namun, selama menunggu kami merasakan suasana yang sangat familier di sana. Kami senang bisa kembali kesini. Walau kali ini, kami hanya akan menginap satu malam saja.
Waktu berjalan sangat cepat. 183 Club telah aman di kamarnya dan beristirahat. Mereka masih menyempatkan waktu untuk check sound. Belum sempat kami menikmati kamar kami siang itu, Meet & Greet sudah dimulai. Ballroom yang biasanya hanya dipakai untuk press conference pun penuh disesaki fans.
Meet & Greet berlangsung lancar, kami yang jumlahnya sedikit dibandingkan fans Medan masih bersemangat menarik perhatian mereka. Yang melegakan, acara Meet & Greet di sini berlangsung lumayan lama dan meriah dan tidak ada insiden yang menyebabkan kericuhan membuat para personil 183 Club terkesan menikmatinya.
Pulang dari Meet & Greet kami tidak ada waktu untuk beristirahat lagi karena harus mengantri untuk konser. Konser diawali dengan insiden tidak menyenangkan menyaksikan salah seorang teman kami dihardik fans luar negeri.
Agaknya sebuah salah paham, namun tidak membenarkan tindakan itu dilakukan terhadap sesama fans dong! Beberapa fans Medan mengatakan bahwa hal ini biasa terjadi. Paling parah sewaktu fans berantem di depan panggung, bahkan di depan mata artisnya (Fahrenheit) di konser yang lalu.
Konser berlangsung sempurna menurut saya, semua lagu dibawakan dengan baik terutama OST Angel Lover. Ming Dao mengalami banyak kemajuan dalam menyanyi maupun gerakan tarinya. Hanya saja saya merasa ada yang lain dengan para personilnya, terutama Shao Wei yang sangat pendiam sekali malam itu, tidak se-ceria biasanya.
Matanya tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang kami tidak tahu. Interaksi dengan penonton cukup meriah seperti biasa games-games mampu menghidupkan suasana dan penonton menjadi saksi keakraban 5 personil 183Club tersebut.
Kalau tahun 2006 silam Jacky sempat merayakan ulang tahunnya disini, maka harapan sewaktu dia berulang-tahun akhirnya kesampaian kali ini. Jacky berharap tiap tahun bisa datang untuk menggelar konser di Indonesia.
Ini kali ketiga Jacky datang ke Indonesia, kami nantikan perwujudan wish ulang tahun nya di masa-masa yang akan datang. Aminnnn. Malam itu Jacky kepanasan dan terus berkeringat, cuaca yang memang panas di dalam gedung namun tidak mengurangi penampilan primanya.
Usai konser, 183 Club dijamu makan malam oleh pihak penyelenggara. Kami yang telah pesan tempat berkesempatan berada dalam satu ruangan dengan mereka. Malam itu, fans club no 1 team ZHENAI183 merayakan hari jadi pertamanya. Saya berkesempatan ngobrol dengan manajer JStar.
Tidak seperti biasanya, 2 manager laki-laki yang kerap mendampingi 183club tidak nampak, kali ini 183 Club datang ditemani oleh satu orang road manager laki-laki yang asing dan perempuan. Sang manager perempuan yang baik sekali ini yang mengobrol dengan saya, dan berpesan agar kami tetap mendukung 183 Club.
Kehadiran 183 Club yang nyaris tidak sampai 24 jam membuat kami tidak begitu banyak kesempatan berinteraksi dengan mereka. Keramahan mereka terhadap fans untuk kesekian kalinya dibuktikan lewat pandangan mata.
Namun, hal ini harus berakhir ketika pagi-pagi sekali mereka bertolak menuju airport untuk kembali ke Taiwan. Fans Medan tentunya tidak puas, karena biasanya mereka memiliki waktu yang lama untuk bersama 183 Club. Hari itu kami juga harus kembali pulang, beruntung perjalanan pulang tidak menemui kendala apapun.(adminda)