Lautan Indonesia - Forum Indonesia Terbesar dan Terlengkap
Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Login with username, password and session length
February 09, 2010, 11:07:44 pm
Pages:  1 ... 4 5 6 7 [8] 9 10 11 12 ... 15   Go Down
  Print  
Author Topic: [Novel] FOREVER WICKED - Dies Irae Bab 3: Kuda Perang  (Read 7826 times)
VerserK
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 115

in the edge of insanity


« Reply #70 on: October 11, 2008, 10:23:51 pm »

GRAW
Ticked Off
tiap ada yang post di tret ini langsung gw liad sapa taw bos erwin update ch6
 Annoyed
Logged

"You are the one i cry to when im sad, the one i scream at when im mad, the one i laugh with every day, the one i need in every way, the one i want to tell my news, the one i never want to lose, the one."
kurobalap
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 585


Aku ingin menggantikan sinar bintang!!!


« Reply #71 on: October 11, 2008, 10:37:34 pm »

GRAW
Ticked Off
tiap ada yang post di tret ini langsung gw liad sapa taw bos erwin update ch6
 Annoyed


Aku juga menanti-nanti nih

@Ewing
Bank, gimana nih? Fans-fans pada nungguin lho...

@Verserk
Firasat gue ga enak nih:
1) Masa promosinya udah lewat Cry
2) Bank Ewing lagi sulit cari inspirasi Cheesy
Logged

It is the official blog of my novel entitled "Ancient: The Promise From The Past" (the first book). You can read it for free Smiley

http://ancient-1.blogspot.com/
cheppy70
Kelasi
*
Online Online

Posts: 787


« Reply #72 on: October 11, 2008, 10:51:03 pm »


Apa arti spesifik untuk "verbal analitis"? Dari kemarin gw penasaran terus ama istilah yg satu itu.

Hehe.

Cara Ewing menyajikan sudut pandang adalah seperti menggambarkan secara verbal dengan uraian atau perincian yang bersifat seperti menganalisa.

Contohnya bisa seperti ini:

Aku meraba sikuku yang berdarah, kulihat semburat noda merah ikut memerciki lengan baju. Terasa nyeri dan kaku sehingga sulit menggerakkan lengan.

Coba kita bandingkan dengan contoh ini:

Aduh, kuraba sikuku, terasa licin tersaput cairan berwarna merah. Keparat! Tanganku sakit. Tuhan, sakit sekali! Sulit kugerakkan.

Terasa kan ya bahwa ada perbedaan gaya yang sedikit banyak mencirikan perbedaan karakter di antara dua contoh di atas. Nah, Ewing kemaren-kemaren punya kecenderungan menuliskan tokoh yang berbeda dengan 'gaya berpikir' yang nyaris sama. Moga-moga sekarang menjadi lebih bagus.

FA Pur
Logged

juunishi master
Chingu
**
Offline Offline

Posts: 1579


« Reply #73 on: October 11, 2008, 10:56:16 pm »


Apa arti spesifik untuk "verbal analitis"? Dari kemarin gw penasaran terus ama istilah yg satu itu.

Hehe.

Cara Ewing menyajikan sudut pandang adalah seperti menggambarkan secara verbal dengan uraian atau perincian yang bersifat seperti menganalisa.

Contohnya bisa seperti ini:

Aku meraba sikuku yang berdarah, kulihat semburat noda merah ikut memerciki lengan baju. Terasa nyeri dan kaku sehingga sulit menggerakkan lengan.

Coba kita bandingkan dengan contoh ini:

Aduh, kuraba sikuku, terasa licin tersaput cairan berwarna merah. Keparat! Tanganku sakit. Tuhan, sakit sekali! Sulit kugerakkan.

Terasa kan ya bahwa ada perbedaan gaya yang sedikit banyak mencirikan perbedaan karakter di antara dua contoh di atas. Nah, Ewing kemaren-kemaren punya kecenderungan menuliskan tokoh yang berbeda dengan 'gaya berpikir' yang nyaris sama. Moga-moga sekarang menjadi lebih bagus.

FA Pur
Gaya berpikir yg relatif sama yah? Hoo, I see. Sekarang gw ngerti kenapa karakteristik di karakter2nya ewing tu sering kurang kerasa beda.

Hehe.
Logged

"Boku wa... koko ni iru!"
ewingerwin
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 406


WWW
« Reply #74 on: October 13, 2008, 06:46:12 am »

@ kurobalap & VerserK: Lagi belum lanjut soale kemaren-kemaren lagi suasana Idul Fitri yang penuh silaturohim, jadi rada nggak pas moodnya buat nulis iblis, darah, gorok leher, kata-kata makian nan vulgar, dll. Sekarang sudah kembali ke tempat semula yang lebih kondusif untuk menuliskan materi-materi tersebut, jadi mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa update. Btw, masa promosinya jalan terus kok bos (sampe ada pemberitahuan lebih lanjut, heuheuheuheu).

@ om Pur: Amin  Smiley

Oke, thx atas semua komen dan masukannya,  Thumbs Up.

*kembali ngetik dan menyalurkan semua uneg-uneg pikiran ke dalam cerita jagad iblis*
Logged

kurobalap
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 585


Aku ingin menggantikan sinar bintang!!!


« Reply #75 on: October 13, 2008, 09:49:11 am »

@ kurobalap & VerserK: Lagi belum lanjut soale kemaren-kemaren lagi suasana Idul Fitri yang penuh silaturohim, jadi rada nggak pas moodnya buat nulis iblis, darah, gorok leher, kata-kata makian nan vulgar, dll. Sekarang sudah kembali ke tempat semula yang lebih kondusif untuk menuliskan materi-materi tersebut, jadi mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa update. Btw, masa promosinya jalan terus kok bos (sampe ada pemberitahuan lebih lanjut, heuheuheuheu).

Gwahahaha.... Grin Ketahuan aslinya.... Waktu Idul Fitri Iblis2 kayak ente kan dikekang.... Begitu lepas, pasti seneng banget  Grin Grin Grin Grin Grin Grin
Logged

It is the official blog of my novel entitled "Ancient: The Promise From The Past" (the first book). You can read it for free Smiley

http://ancient-1.blogspot.com/
clickdian
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 944


Soaring into a light.


« Reply #76 on: October 13, 2008, 10:06:08 am »

Manaaaa lanjutannyaaa?  Annoyed
Logged

-Logic will make you go from A to B. Imagination will take you everywhere-
ewingerwin
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 406


WWW
« Reply #77 on: October 31, 2008, 11:18:44 am »

Komen lagi yaaaaa!!!!


Bab 1: Ini Wilayah Kami, B4ngs@t!

Bab 2: Jakarta Pagi Ini

Bab 3: Titik Nyala

Bab 4: Gadis-Gadis Perambah Malam

Bab 5: Euforia Konflik


Bab 6: Roda Gila

Sunyi, menit demi menit berlalu dengan aku, Anjas, dan Edward saling pandang satu sama lain. Tubuh kami mulai menyembuhkan luka-luka yang ada. Kemampuan regenerasi dan daya tahan Nada Regalia jauh di atas iblis-iblis lain. Beberapa dari kami bahkan sanggup memulihkan diri meski kepalanya dipenggal atau hancur.

Semua itu dalam kapasitas kami yang belum menyatu dengan mahkota. Hanya Tuhan yang tahu batas kekuatanku dan saudara-saudaraku jika telah bergabung dengan mahkota. Itu pun jika Tuhan benar-benar ada.

“Gue mau tanya,” Anjaslah yang pertama kali angkat bicara, “sudah berapa banyak manusia yang lu bunuh?”

“Delapan, semuanya di Pondok Indah tadi pagi,” sahut Edward sambil bersedekap.

Aku tak tahu ke mana arah pembicaraan ini, tapi tetap aku menjawab, “Tujuh, tempat dan waktunya sama kayak Ed.”

“Gue bunuh enam,” si rambut wavy memberikan jumlah korbannya. “Gue nggak mau munafik, tangan kita sudah kotor sejak kasus Tennis Indoor Stadium, tapi kita ngelakuin semua itu untuk tujuan kita. Ngapain juga kita nganter nyawa ke sini kalo bukan untuk tujuan kita?”

Menerka-nerka apa yang ada di benak Anjas sekarang bukan hal yang menyenangkan. Saudaraku itu tak pernah bicara seserius ini sejak kami kabur dari Salem. Walau begitu, aku sama sekali tak ragu yang ingin disampaikannya berkaitan dengan yang baru saja terjadi pada Dien.

Anjas menatap kami secara bergantian, “Sekarang gue mau tanya lagi. Di benak lu berdua, apa, sih, tujuan kita?”

“Ngabisin iblis sampe ke akar-akarnya,” kata si cebol keling mantap.

Kedua kakakku itu kemudian menatapku, menantikan jawaban. Jika boleh jujur, sebetulnya aku tak terlalu peduli dengan segala urusan ‘melindungi manusia dari iblis’. Yang benar-benar kuinginkan hanyalah dua: Azusa dan bertarung di sisi saudara-saudaraku.

“Gue cuma mau jagain Azu sama lu semua,” kubeberkan pada mereka apa adanya.

“Kalo Dien pengen makan Azu, siapa yang lu bela?” tatapan tajam Anjas mengiringi pertanyaan tersebut.

Dilema yang sulit, tapi jika memang harus memilih, pilihanku sudah jelas, “Azu.”

Kakak ketigaku mengangguk, “Gue rasa lu ngerti maksud gue. Dien udah jadi iblis yang bakalan rakus banget. Karena itu gue mau ngejar dan ngabisin dia.”

Benar dugaanku, tapi mendengarnya secara langsung tetap saja membuatku tak enak hati.

“Dulu gue bersumpah untuk ngabisin siapa aja dari kita yang nyatu sama mahkota.” Anjas menghela napas, “Lu berdua nggak bersumpah apa pun, karena itu gue nggak bakal sewot kalo lu nggak mau ikut campur urusan Dien. Lagian dia memang adik kesayangan kita.”

Edward memiringkan kepala ke samping dan terdengarlah bunyi tulang ditekuk, “Gue ikut.”

Anjas berpaling padanya, “Yakin?”

Yang ditanya menyeringai, “Lu sodara gue dan gue gak bakal ninggalin lu sendirian dalam masalah kayak gini.”

Thanks, Bro,” kata Anjas sambil diiringi salam tinju di antara keduanya.

“Tapi kekuatan Dien sudah jauh di atas kita semua,” latihan seni peran yang kujalani saat SMA dulu menghasilkan ucapan berintonasi sempurna tanpa emosi tersirat sedikit pun.

Ed langsung menimpaliku, “Xanth udah nunjukin gimana saktinya kita-kita kalo udah nyatu sama mahkota, tapi gue yakin Dien belum nyampe kekuatan maksimal. She’s still f*ckable and we posssess the correct know-how.”

Maksud si keriting mie itu sebenarnya sudah jelas, tapi aku harus memastikannya, “Maksud lu pake wujud iblis?”

Pembenaran itu datang dari Anjas, “Gue juga mikirnya gitu.”

Wujud iblis merupakan jati diri kami yang sesungguhnya. Selama ini aku dan saudara-saudaraku tak pernah menggunakannya karena kekuatan kami lebih dari cukup terlepas dari limitasi yang diakibatkan kamuflase anatomi manusia. Bagiku itu memang yang terbaik karena dulu sempat ada ‘insiden kecil’ saat aku berubah kembali ke tubuh asliku.

“Kita udah janji untuk ngelupain diri kita yang sebenarnya iblis,” si penulis kembali berpidato, “janji untuk mulai lagi dari awal sebagai manusia dan gue tau kita semua nggak ingkar. Buktinya tadi kita digebukin Zasthet, tapi apa gue lantas berubah? Nggak, kan? Lu berdua juga nggak berubah, kan? Bahkan Mel yang udah mau mampus aja nggak berubah.”

Ed menganggut-anggut dan dalam hati aku membenarkannya. Aku nyaris lupa kami memiliki tubuh asli yang lebih kuat dan dapat diandalkan. Bahkan saat pasukan elite tersebut membabi buta, tak sedikit pun niat untuk berubah terbersit di benakku.

“Tapi Dien udah ngelewatin batas, dia malah nyatu dengan mahkotanya,” marah dan sesal menghiasi wajah Anjas, “karena itu kita nggak punya pilihan selain berubah dan mastiin dia nggak bakalan sempat bikin korban berjatuhan.”

Amen, Boss, amen.” Ed lantas melepaskan sarung tangan besinya dan melemparkannya ke lantai di hadapanku, “Terserah lu ikut atau nggak, gue titip.”

Dengan itu struktur wajahnya berubah seiring fisiknya yang membesar, membuat pakaiannya robek. Rambut keritingnya rontok dan digantikan bulu-bulu kecokelatan tebal yang juga mulai menutupi sekujur tubuhnya. Kedua bola matanya menghitam, menyerupai pandangan hewan. Jemari tangan dan kakinya pun mengeras, membentuk taji-taji yang tajam serta kokoh.

Edward kini berwujud kera setinggi tiga meter. Dia menatap kami sejenak seolah pamit lalu meraung dan meloncat tinggi mendobrak langit-langit.

Beberapa saat setelah kepergian makhluk itu, Anjas mendekat dan membelai pipiku, “Lu pulang aja, nggak usah ikut.” Rambutnya yang bergelombang sedikit demi sedikit memanjang dan sepasang tanduk pipih tajam yang melengkung ke belakang mencuat dari sela-selanya. “Gue tau lu trauma soal berubah.”

“Tapi lu berdua bisa mati,” kali ini kecemasan dan keraguanku mengambil alih.

Otot-ototnya membesar dan kulitnya tampak mengeras kehitaman, membentuk sosok yang lebih maskulin dan perkasa, “Kalo emang gitu kejadiannya, gue harap lu mau berhenti berburu iblis.”

Kata-katanya yang seolah salam perpisahan terakhir sontak membuatku gelagapan, “Tapi... tapi....”

Dia tersenyum dengan paras yang tetap lembut meski matanya merah mencorong dan dari punggungnya menyeruak tiga organ serupa tulang sayap berujung runcing, “Gue sama Ed nggak punya siapa-siapa, tapi lu punya Azu. Dia pasti sedih kalo lu luka atau apa.”

Sebal, untuk kesekian kalinya kakak kesayanganku membuatku dongkol, “Selalu gitu, kan? Selalu sok tanggung jawab! Lu mikir nggak, sih, apa yang gue rasain dulu pas ngebawa lu abis duel lawan Xanth? Mikir, dong!”

Kata-kata yang keras, dinodai dengan air mata. Pastilah aku tampak banci sekali di hadapannya, tapi aku tak peduli. Aku hampir kehilangan dirinya dulu di Salem dan aku tak mau hal yang sama terulang lagi. Itu terlalu berat bagiku, apalagi sekarang bisa jadi aku akan kehilangan semua saudaraku karena mereka hendak saling bunuh.

Di luar dugaanku, Anjas hanya tercenung seolah kaget. Selanjutnya dia merengkuhku tanpa berkata-kata dan mencium keningku. Entah dengan cara apa aku harus merespons tindakannya.

Lagi, senyum hangat tersungging di bibirnya seolah dia mengerti apa yang kurasakan dan semuanya akan baik-baik saja, “Gue cabut dulu.”

Dia melangkah mundur. Pakaian hitam yang telah robek di sana sini tak mampu mengurangi aura kedigdayaan yang memancar dari raga perkasa tersebut. Dengan pedang di tangan kanan, sang iblis hitam perlahan melayang sebelum akhirnya terbang dengan kecepatan tinggi melalui lubang yang dibuat Edward.

Kini hanya tinggal aku sendirian di sini, di tengah-tengah onggokan daging dan genangan darah. Kelab malam ini benar-benar telah mati. Tidak ada musik atau apa pun selain sinar laser dan lampu sorot yang masih menyala. Kondisinya mengingatkanku akan Tennis Indoor Stadium; yang berbeda adalah saudara-saudaraku tak di sini.

Dengan lesu, aku memungut sarung tangan besi Ed dan mengenakannya. Tinggi badanku 175 cm, cukup menjulang bila dibandingkan dengan kakakku itu, tapi senjatanya tetap saja agak kebesaran bagiku. Di sisi lain, aku dapat merasakan kekuatan pemiliknya seolah mengalir ke tubuhku. Kekuatan yang memberiku keberanian untuk melakukan apa yang ingin atau mungkin harus kulakukan.

Karena itulah aku makin memperbesar ukurannya dengan mengatur ulang kancing-kancing di permukaan lengan bagian dalam. Sekarang gauntlet ini benar-benar longgar, tapi hanya itu yang bisa kulakukan untuk memastikan benda kesayangan Ed tidak rusak.

Kuangkat katana di tanganku dan di bilahnya aku dapat melihat pantulan wajahku di keremangan cahaya, Azusa....

Mungkin aku takkan pernah kembali pada wanita yang sangat kucintai. Atau yang lebih parah lagi, mungkin aku akan kembali sebagai monster seperti saat pertama kali kami berjumpa dulu. Lebih dari itu, mungkin ada baiknya sekarang aku tak memikirkan hal tersebut, ada urusan yang lebih mendesak.

Kuteguhkan pendirian dan tubuhku bereaksi dengan peningkatan metabolisme yang sangat terasa. Jantungku berdetak makin cepat seolah hendak meledak. Tiap tarikan dan embusan napasku kini mengalirkan udara segar ke paru-paru tanpa henti sama sekali. Indra-indraku menajam hingga bahkan mampu mendeteksi perubahan arah angin nun jauh di luar sana. Pikiranku mendadak jernih.

Aku mendongak ke arah lubang di plafon. Langit malam yang cerah tampak di ujung sana. Dua detik setelah memasang kuda-kuda, aku meluncur seperti anak panah terlepas dari busurnya. Entah berapa tinggi lompatanku kali ini, yang jelas wajahku langsung disambut oleh angin malam yang sejuk. Dengan bermandikan cahaya sang dewi malam, aku kembangkan sepasang sayapku dan mengangkasa.


********


Mustang GT C/S hitam yang kami kendarai melaju dengan kecepatan di atas 100 km/jam di jalan tol Jagorawi menuju Bogor. Sekarang sudah tengah malam dan tak terlalu banyak mobil di jalur yang luas ini. Aku tahu jika kemungkinan terburuk terjadi, jumlah korban takkan terlalu besar. Setidaknya, itulah yang kuharapkan.

Aku melirik ke arah gadis yang duduk di sebelahku. Inikah Nada Regalia yang telah menyatu dengan mahkotanya? aku bertanya-tanya.
Selain rambut lurus kepirangan dan mata yang berpendar kehijauan, tak ada yang berubah darinya. Dia sama sekali tak tampak seperti iblis perkasa yang diagung-agungkan semua orang di Salem. Lalu dengan tidak nyamannya aku teringat bahwa Dien baru saja ditembaki habis-habisan kemudian membantai Zasthet dalam hitungan detik.

Kini kekasihku hanya diam dan menatap lurus ke depan. Sepanjang perjalanan dia termangu seperti orang linglung. Meski sadar tubuh dan jiwa Dien saat ini sedang mengakomodasi keberadaan mahkota yang baru saja menyatu dengan inangnya, aku tetap merasa cemas.

Kecemasanku itu makin menjadi saat terdengar raungan dari belakang. Dari kaca spion aku dapat melihat sesosok makhluk menyerupai kera mendarat di aspal di kejauhan. Dia berhenti dan memandang tepat ke arah mobil kami lalu meloncat tinggi.

Secepat itu pula aku banting setir ke kanan. Sesaat kemudian cakar sang iblis menghantam permukaan jalan tepat di tempat kami berada tadi. Aku pun menginjak pedal gas dalam-dalam. Jika sang panglima ada di sini, sudah pasti rajanya takkan jauh. Melawan mereka berdua dalam kondisi kami sekarang sama saja cari mati.

Kera besar itu berlari mengejar dengan keempat tungkainya sambil menghindari mobil-mobil di hadapannya. Aku mendesah, bahkan dalam wujudnya yang sekarang saudaraku itu masih memperhatikan keselamatan manusia.

Dien menatapnya dari balik kaca jendela, “Itu Edward,” bisiknya lirih.

“Ya,” sergahku, “kau bisa melumpuhkannya?”

Dien menengok ke arahku dengan wajah bingung, “Tapi dia saudara kita,” keluguan kata-katanya membuat hatiku miris.

Belum sempat aku menjawabnya, Edward telah berada tepat di samping kami dan membenturkan bahunya ke sisi mobil. Hal tersebut membuat mobil kami melintir lepas kendali diiringi suara decitan ban yang nyaring sebelum akhirnya melintang di tengah jalan. Iblis itu sendiri tersungkur.

Beberapa mobil segera menghindari kami dan Edward. Melihat monster itu mulai bangkit, aku segera memacu kendaraan kami untuk meninggalkan tempat ini. Di luar dugaan, makhluk tersebut hanya diam di tempat menatap kami yang makin menjauhinya.

Aku menyeringai saat melihatnya melalui kaca spion, “Apa dia menyerah?”

Regalis Supremus,” respons Dien sama sekali tak menjawab pertanyaanku, tapi membuatku makin waspada.

Regalis Supremus, Raja Terkuat, adalah julukan bagi Syachrue, pemimpin Nada Regalia. Ucapan kekasihku itu adalah peringatan yang tak perlu diragukan lagi karena dari arah berlawanan aku dapat melihat seekor iblis hitam melesat dan mengayunkan pedangnya secara horizontal.

Dalam waktu sepersekian detik, aku kembali banting kemudi ke kanan sekaligus memaksa Dien untuk merunduk dengan tangan kiriku. Bilah senjata tajam tersebut membelah kaca depan bagaikan kertas, kemudian memotong sabuk pengaman dan sandaran kepala jok yang diduduki Dien. Tak hanya itu, punggung lenganku ikut teriris. Aku cuma bisa meringis menahan perih.

Gadis itu bangkit dan menatapku, “Sebaiknya kita menghindar.”

Tanpa bertanya, aku pun langsung pindah jalur ke kiri. Dien benar, terlambat satu detik saja mobil ini pasti sudah hancur ditimpa tubuh Edward yang melesat dari atas. Meski demikian, Anjas dalam wujud iblisnya terbang dengan kecepatan tinggi dan mulai menyusul dari belakang. Si kera pun tak buang waktu dan langsung mengejar kami dari sebelah kanan.

“Periksa laci dasbor!” aku berseru pada Dien.

Kekasihku melakukannya dan selagi aku sibuk menyalip beberapa mobil di depan kami, Dien menyodorkan sepucuk pistol besar yang hitam pekat dari dalam laci tersebut, “Ini,” ujarnya datar.

Cunt Filler,” aku menyeringai saat mengenalinya sebagai senjata api milik Edward yang tak pernah digunakan.

Yang ada di tangan Dien adalah revolver Pfeifer-Zeliska .600 Nitro Express Magnum. Ukurannya mengagumkan: beratnya 6 kg dan panjang larasnya 33 cm. Beberapa bagiannya telah dimodifikasi seperti gagang yang diganti dengan popor untuk menstabilkan pegangan saat menembak. Silindernya pun diperbesar dua kali lipat hingga mampu menampung sepuluh peluru kaliber .600 Nitro Express berkekuatan kurang lebih setara dengan atau bahkan setingkat di atas amunisi unit Zasthet.

Senjata ini memiliki sejarah sendiri. Dulu, Edward dan Anjas pernah tergabung dalam regu yang sukses menjalankan sebuah misi khusus. Tiap anggotanya diberi tanda jasa sesuai dengan permintaan mereka. Anjas minta dibuatkan sebuah pedang berkualitas terbaik yang selanjutnya dinamai Sri Sultan XIII. Di luar dugaan dan entah apa sebabnya, Edward yang murni petarung jarak dekat malah minta dibuatkan sepucuk pistol yang kemudian disebut-sebutnya sebagai Cunt Filler yang kini dipegang kekasihku.

Meski tahu senjata ini takkan bisa membunuh Anjas atau Edward, dia tetap bisa bermanfaat jika digunakan dengan tepat dalam kebut-kebutan berkecepatan tinggi seperti yang kami jalani sekarang, “Sini!” kataku sambil mengambilnya dengan tangan kiri.

Anjas makin mendekat. Begitu jarak di antara kami tinggal beberapa meter saja, aku segera menjulurkan tubuh dan mengarahkan revolver itu ke belakang. Cunt Filler menyalak kencang sekaligus terang-benderang dan kaca belakang langsung hancur berkeping-keping. Tangan kiriku seketika kesemutan merasakan sentakannya yang luar biasa.

Entah apa Anjas melihatku membidik, yang jelas dia langsung menyilangkan kedua tangan untuk melindungi wajahnya. Meski demikian, sang iblis hitam tak ayal terdorong jauh ke belakang.

Aku langsung memindahkan pistol itu ke tangan kanan dan menyetir dengan tangan kiri. Target berikutnya adalah Edward. Begitu matanya menangkap keberadaan senjata api yang kupegang, dia salto ke samping dan mendarat tepat di belakang kami. Aku segera menambah kecepatan sementara kera itu meloncat tinggi jauh ke depan.

Tanpa buang waktu, aku segera pindah jalur dan menembaki Edward yang sedang mengudara. Badannya yang besar adalah target mudah bagiku. Terbukti, dia pun kandas dan terpaksa mendarat dengan wajahnya. Pada saat melewati tubuhnya yang terbujur di atas aspal, aku pastikan beberapa peluru Cunt Filler kembali melukainya.

This is getting nowhere, pikirku saat melihat Anjas kembali membuntuti kami.

Lalu hal terburuk pun terjadi. Seiring dengan lengkingan nyaring dari ujung langit, aku dapat melihat sesosok makhluk di tengah temaram cahaya Bulan. Dia adalah iblis berwujud burung raksasa dengan ekor tunggal yang memanjang. Bulu-bulu unggas berwarna merah bercampur biru menutupi sekujur tubuhnya. Lehernya agak menjulur dan bagian kepalanya lebih menyerupai kepala raptor. Kepakan sayap yang lebar memperkuat kesan angkuh yang muncul dari aksinya menyilangkan kedua lengan di depan dada seperti orang bersedekap.

Lee... sialan! aku mengutuki adikku yang satu itu saat melihat makhluk tersebut menukik tepat ke depan kami.

Burung itu terbang rendah dan kedua cakarnya yang besar siap merobek mobil ini dengan mudah, tapi aku takkan menyerah begitu saja. Aku muntahkan peluru yang ada di pistolku sampai habis. Lee menjerit dan menyingkir dari lintasan mobil kami.

Sebelum aku sempat menarik napas lega, sesuatu menembus batok kepala dan menusuk otakku. Seketika itu pula tubuhku dipenuhi dengan berbagai sensasi aneh dan juga rasa sakit yang teramat sangat.

Dari kaca spion aku dapat melihat Anjas telah bertengger dengan menancapkan pedangnya ke kap bagasi. Dua tulang sayapnya menyeruak masuk dari jendela belakang. Satu menembus sandaran kepala dan menghunjam bagian belakang tengkorakku, sedangkan yang lain ditangkap oleh tangan kanan Dien.

“Ah.. ah….” entah apa yang ingin kuucapkan, aku pun tak tahu. Yang pasti aku berusaha setengah mati untuk tetap mengendalikan tangan kiriku di setir dan kaki kananku di pedal gas.

Sesaat kemudian Lee menghantam dari samping kanan, memaksa mengubah arah laju kendaraan kami hingga keluar jalur menuju lapangan di sisi jalan tol. Salah satu cakarnya menembus pintu mobil, mengimpit lengan kananku dan merobek perutku. Tak cukup sampai di situ, katana miliknya pun menembus atap dan menusuk bahu kananku, mematikan ruang gerakku sama sekali. Yang bisa kulakukan hanyalah merintih.

Setelah tersaruk-saruk di atas permukaan tanah yang tak rata, mobil akhirnya berhenti. Dari sudut mataku tampak jelas bahwa tangan kiri Dien mencengkeram tulang sayap Anjas yang menyerbu dari jendela pintu kiri.

“Jangan melawan,” Lee mendesis sembari mengelus wajahku dengan jari-jarinya yang terbungkus lempengan logam runcing.

Melihat Edward meluncur ke depan kami, aku sekuat tenaga berupaya menggapai Lena yang terkulai di kursi belakang. Sayang, tangan kiriku seolah melekat ke kemudi. Jangankan menggerakkan tangan, menoleh pun aku tak bisa.

Saat kera itu melangkah mendekat, aku dapat mendengar bisikan lirih Dien, “Apa kelemahan mereka?”

Itu sungguh pertanyaan bodoh. Meski sudah menyatu dengan mahkotanya, aku yakin Dien belum dapat mengoptimalkan kekuatannya. Belum lagi fakta bahwa Anjas, Edward dan Lee masing-masing memiliki kekuatan setara dengan iblis bermahkota.

“Au... eh….” kembali mulutku mengucapkan hal tak jelas saat tulang sayap Anjas menusuk makin dalam ke otakku.

“Kelemahan mereka?” ada kecemasan tertahan dalam suara Dien saat Edward sudah berada tepat di depan mobil kami.

U… man,” akhirnya mulutku meluncurkan jawaban yang pada akhirnya memisahkan aku dan Dien dari saudara laki-laki kami untuk selama-lamanya.

Dien mengangguk, “Understood,” lalu muncullah bulu-bulu keemasan halus dan panjang dari sekujur tubuhnya, menembus pakaiannya yang sudah compang-camping.

Bulu-bulu halus tersebut dan rambut Dien menyala seperti kunang-kunang serta menggeliat-geliut sebelum akhirnya terbang dan menyebar ke segala penjuru. Mereka melintasi wajahku kemudian meliuk menghindari Edward dan Lee yang terpana menyaksikan peristiwa itu.

Aku dapat merasakan Anjas menarik tulang sayapnya dari kepalaku. Pelan-pelan aku kembali dapat mengendalikan saraf dan otot tubuh seperti semula. Dia pun menarik senjata alaminya yang ditangkap kedua tangan Dien. Pada saat itulah aku mendengar suara letupan ban yang bersahut-sahutan dengan benturan keras dari arah jalan tol.

Yang kusaksikan sungguh membuat hatiku miris. Ada belasan mobil melintang di tengah jalan. Beberapa di antaranya saling bertabrakan dan remuk. Di sekitar kendaraan-kendaraan itu terdapat beberapa sulur-sulur cahaya yang melayang berputar-putar dengan gemulai. Aku menengok ke arah Dien dan dapat melihat kelap-kelip cahaya yang sama di sekitar perumahan nun jauh di sana.

Sembari kembali menumbuhkan rambut di kepalanya, gadis itu tersenyum menatapku seolah kami akan selamat, lalu menoleh ke arah Anjas, “Mereka belum mati, tapi aku bisa bunuh semua orang dalam radius 10 kilometer dari sini.”

Anjas turun dari kap bagasi dan bersungut-sungut, “Lu liat sendiri, kan? Dien sudah beda dari yang dulu.” Pandangannya pada kekasihku dipenuhi kebencian, “Dien yang dulu ngak bakalan ngelakuin yang kayak gini.”

Dia benar, tapi keputusanku sudah bulat, “Let us go, please.”

Entah apa karena orang-orang yang disandera Dien atau air mata yang kini mengalir membasahi wajahku, Lee mencabut kedua cakar dan katana-nya dari badan mobil dan perlahan mundur. Edward hanya termangu dan terdiam. Satu hal sudah pasti, babak pertama kejar-kejaran ini adalah milik kami berdua.

Aku pun membuang pistol di tangan kananku dan mengendalikan mobil kembali ke jalan tol. Untuk terakhir kalinya aku menengok ke arah mereka. Dengan ini tali persaudaraan kami telah putus sepenuhnya.

“Sekarang kita mau ke mana?” tanyaku setelah kami cukup jauh dan ketiga iblis itu menghilang dari pandangan.

Dien menatap ke pemandangan di luar jendela, “Ke mana saja, yang penting tidak jauh-jauh dari pemukiman penduduk.”

Tak perlu kutanyakan apa maksudnya karena sudah jelas dia akan menggunakan metode yang sama jika kelompok Anjas kembali menyerang. Aku tak menyukai taktik pengecut seperti itu, tapi saat ini pilihan apa yang kupunya?

“Mel….”

“Ya?”

Pandangan Dien menerawang ke luar jendela, “Anjas benar.”

Aku hanya bisa membisu.

Dia menoleh ke arahku, mata hijaunya memancarkan binar misterius, “Aku mulai berubah.”

“Maksudmu?” mulutku meluncurkan pertanyaan bodoh kedua yang kudengar pada malam ini.

Sebenarnya itu tak perlu dipertanyakan lagi. Sudah pasti Dien akan berubah. Kami telah melihat hal serupa terjadi pada Xanth. Meski demikian, aku tetap ingin mendengarnya. Entahlah, mungkin untuk mempersiapkan diriku terhadap perubahannya menuju iblis sejati.

“Aku bisa mendengar keberadaan jutaan diriku yang lain, dan aku tak bisa mengendalikan mereka semua,” jawabnya pelan.

Aku sama sekali tak mengerti. Yang bisa kulakukan hanya mengulurkan tangan kiriku untuk membelai rambut pirangnya.

Dia lalu menyandarkan kepalanya di bahuku, “Kak,” panggilan yang sudah bertahun-tahun tak digunakannya itu cukup membuatku kaget, “apa Kakak akan meninggalkanku?”

“Dasar bodoh, kaukira hal sekecil ini akan membuatku meninggalkanmu?” tanyaku.

“Syukurlah,” ujarnya lega diikuti dengan tarikan napas yang lambat dan teratur.

Kekasihku tertidur. Kuusap pipinya dan kembali memusatkan perhatianku ke jalanan. Sambil terus memacu mobil ini, aku sadar bahwa pertanyaan terakhir Dien adalah ujian terberat bagiku. Apakah aku masih bisa mendampinginya saat sifat iblis sejatinya mulai muncul? Jika momen itu tiba, apakah aku masih bisa lari seperti yang kulakukan sekarang?


*******


Pusat komando ini sama sekali tak kekurangan pesawat penerima gambar. Di tembok muka, dua layar plasma 150 inci terpampang berdampingan sebagai penampil utama. Tiap permukaan dinding sisi ruangan ini masing-masing dilengkapi empat perangkat sejenis berukuran 65 inci. Meja tempatku berada sekarang pun merangkap sebagai monitor 103 inci. Semuanya menayangkan gambar peta digital atau umpan video dari berbagai lokasi.

Sayangnya, citra yang baru saja ditampilkan layar-layar tersebut membungkam mulut semua orang di sini. Satu meja denganku: Bang Bos suamiku terpaku, Hasan yang perlente dari Divisi Komunikasi Media & Teknologi Informasi duduk bertopang dagu, sedangkan Roy Suroto, Kepala Kantor Wilayah Indonesia, tafakur. Lima belas operator dalam dua deret anjungan kerja di depan monitor utama juga tak bisa berkata-kata. Wajar, aku pun tak pernah melihat apa yang baru saja kami saksikan dalam setengah jam terakhir.

“Tak ada yang selamat,” dari pengeras suara ruangan meluncur ucapan Bimo, kepala regu yang diutus ke Demon Dance, “tempat ini ajang pembantaian.”

Tak perlu diberitahu pun kami sudah menyadarinya. Monitor besar di sebelah kanan menampilkan interior kelab malam yang banjir darah dan penuh serpihan daging, kaca, kayu, dan entah apa lagi.

Di waktu-waktu lain kami pasti senang melihatnya, mungkin bahkan sampai merayakannya, tapi sekarang tidak. Iblis pemangsa memang harus mati, tapi entah kenapa aku merasa ada yang salah dengan pemandangan tersebut. Sesuatu yang benar-benar salah, mungkin karena seharusnya tak ada yang selamat dari sergapan maut yang dirancang pihak Kekaisaran di tempat terkutuk itu.

Kamera bergerak dan kini tampak seorang pemburu mengangkat sepotong kepala kambing, “Zasthet,” dari suaranya yang gugup, tampaknya Bimo juga ngeri membayangkan kekuatan macam apa yang mampu membantai begitu banyak iblis standar sekaligus satu pasukan iblis bermahkota yang bersenjata lengkap.

Kulirik Roy, keningnya berkerut. Dia salah satu pemburu paling senior di Indonesia. Di usia lima puluh tahun, sisa-sisa kejayaannya tetap terlihat. Tubuhnya yang menjulang masih terlihat kokoh dan mengintimidasi, meski sekarang sebagian besarnya adalah lemak, bukan otot. Matanya pun setajam dulu walau rambutnya yang beruban mulai rontok serta pipinya sudah bergelambir.

“Sita semua senjata yang masih utuh, lakukan cross-check, pastikan TKP benar-benar steril,” atasan kami memberikan instruksi, “lalu jalankan prosedur pembersihan seperti biasa.”

“Siap,” kata Bimo.

“Target I kembali meluncur ke arah Bogor,” Nila, seorang operator berjilbab, mengumumkan bahwa buruan kami kami sudah bergerak lagi.

Mata Bang Bos menyusuri peta digital yang terpampang di permukaan meja,  “Target II, III, dan IV menahan posisi?”

“Positif,” lanjut Nila.

“Buntuti terus Target I,” kata Roy tegas. “Siagakan Regu XV untuk pengintaian konvensional jika Target I sudah di luar jangkauan Jatayu.”
Jatayu adalah pesawat pengintai tak berawak tipe RQ-7B Shadow. Dia merupakan salah satu aset kami yang berharga untuk memantau kantong-kantong wilayah konsentrasi iblis pemangsa. Aplikasi dalam kejar-kejaran seperti yang terjadi sekarang pun merupakan nilai lebih unit tersebut.

Akan tetapi kami sungguh tak menduga akan menyaksikan demonstrasi kekuatan luar biasa yang bertempat di sepanjang jalan tol Jagorawi. Tinggi lompatan, kecepatan lari dan terbang, serta ketahanan tubuh Anjas, Ed, dan Lee dalam wujud iblis mereka jauh melebihi hasil pemantauan kami selama ini. Itu belum termasuk hal aneh yang tertangkap kamera Jatayu.

“Tolong putar rekaman pengejaran mulai dari menit delapan,” kataku penasaran.

Rekaman video yang kuminta pun muncul di layar utama sebelah kiri, menggantikan denah geografis tiga dimensi yang sebelumnya terpampang di sana. Dalam pencitraan monokrom dari kamera inframerah aktif Jatayu, terlihat sebuah mobil sedang keluar jalur menuju tanah lapang di sisi jalan raya bebas hambatan. Si hitam dan seekor burung raksasa merubunginya, masing-masing di kap bagasi dan pintu pengemudi.

Suamiku mengamati peristiwa itu dengan khidmat, “Kerja sama tim yang bagus.”

Lalu terjadilah, garis-garis menyebar dan mobil-mobil di jalan tol bertabrakan.

“Jatayu juga punya kamera biasa, kan?” tanyaku lagi.

“Tampilkan rekaman adegan tadi dengan kamera elektro-optik,” Hasan menanggapi pertanyaanku tanpa mengubah posisi duduknya.

Dengan setelan jas necis tanpa dasi, rambut belah pinggir yang disisir rapi, dan kacamata berbingkai persegi, pria berusia tiga puluhan itu tampak seperti eksekutif muda. Di sisi lain, wajahnya malah menunjukkan ekspresi kusut seperti kalah judi.

Aksi kedua iblis itu kembali diputar, kini dengan tampilan cahaya alami. Mobil keluar dari jalanan yang terang menuju ke lapangan yang gelap. Hampir tidak terlihat apa pun sampai akhirnya terjadi ledakan cahaya dan sulur-sulur yang bersinar seperti kunang-kunang beterbangan.

Pause!” perintahku dan gambar pun berhenti. “Sekarang putar rekaman eksterior Demon Dance saat Target I.1 dan I.2 meninggalkan TKP.”

“Tampilan di layar dua,” ujar Buyung, seorang operator, tanpa menoleh ke arah kami yang berada bagian belakang ruangan.

Monitor plasma di sebelah kanan kini terbagi menjadi empat jendela. Semuanya menampilkan Mel dan Dien yang keluar dari rumah tua tersebut dari berbagai sudut berbeda. Dalam gambar monokrom tersebut, kepala Dien tampak terang.

Hal itu membuatku makin penasaran, “Pause, pindah ke kamera biasa.”

Layar kini gelap dan hanya menyisakan siluet samar, tapi di bagian-bagian tertentu terlihat pendar kunang-kunang. Lebih tepatnya, bagian-bagian yang sebelumnya tampak sebagai kepala Dien.

Setelah disandingkan seperti itu, kilau keemasan di kedua layar ternyata sangat mirip satu sama lain, “Setidaknya sekarang kita tahu yang tadi itu apa,” kataku datar saja.

Roy tak melepaskan pandangannya dari monitor, “Rambut?”

Aku mengangguk, “Kemungkinan besar hasil penyatuan dengan mahkota.”

“Dari mana kautahu Dien menyatu dengan mahkotanya?” tanya Hasan yang masih bertopang dagu.

Aku berdecak, “Cuma itu yang mungkin. Tadi kita lihat sendiri jumlah Zasthet yang diturunkan setidaknya lebih dari enam ekor, masing-masing iblis bermahkota dan bersenjata lengkap.” Kuacungkan tangan kanan ke penampil utama, “Tapi apa yang terjadi? Mereka selamat, tampaknya tanpa luka sedikit pun. Terlebih lagi, Anjas, Edward dan Lee kelihatan bernafsu sekali mengejar Mel dan Dien. Jika dihubungkan dengan kebencian mereka terhadap iblis, terutama iblis bermahkota, tindakan ketiga pemuda itu jadi masuk akal.”

“Itu mungkin,” suamiku nimbrung, “tapi murni spekulatif. Okelah, kita anggap pengejaran tadi karena Dien menyatu dengan mahkotanya, tapi itu sama sekali tak menjelaskan bagaimana mereka bisa selamat dari Demon Dance.” Abang kesayanganku menggeleng, “Dien bisa jadi jauh lebih kuat setelah menyatu dengan mahkotanya, tapi Zasthet juga iblis bermahkota dan jumlah mereka cukup signifikan. Biar bagaimana pun, selisih kekuatannya terlalu besar.”

Mulutku terkunci, argumen suamiku tak bisa dibantah.

Kali ini Roy angkat bicara, “Bagaimana jika memang anak-anak itu jauh lebih kuat?”

Kali ini perhatian tertuju pada sang atasan. Kami menanti apa yang hendak dikatakan pria tua itu.

Dia menyeringkai sambil menggaruk pipinya, “Harap dicatat, yang aku katakan ini murni perkiraan tanpa basis yang kuat, anggaplah sebagai intermeso saja.”

Selain Roy, semua orang yang ada di meja ini mengangguk.

“Selama ini Dewan Kehormatan telah mempertimbangkan kemungkinan bahwa kelima anak itu adalah bagian dari Nada Regalia.”

Kening suamiku sedikit berkerut dan mata Hasan agak membelalak mendengar dua kata terakhir Roy. Itu reaksi yang sangat wajar karena sekitar dua puluh tahun lalu, sempat beredar rumor bahwa Kekaisaran tengah menjalankan proyek peningkatan kekuatan militer secara agresif. Termasuk di dalamnya adalah pembiakan unit tempur yang mengungguli Zasthet berikut pengembangan teknologi persenjataan baru. Kode proyek itu disebut-sebut sebagai ‘Nada Regalia’.

Desas-desus ini padam ketika Traktat Perdamaian Cape Town ditandatangani tanggal 1 Januari dua belas tahun lalu. Setelah itu Kekaisaran Arialesta dengan gencar mempromosikan Program Rekonsiliasi untuk mewujudkan visi manusia dan iblis hidup berdampingan secara damai dan harmonis.

Semuanya terjadi ketika aku masih seorang pemburu pemula. Sejak saat itu, seiring dengan bertambahnya pengalaman, aku makin sering mengevaluasi berbagai hal. Terkait Traktat Perdamaian, kelompok Anjas dan rumor Nada Regalia, tak hanya sekali dua kali aku sampai pada kesimpulan bahwa kelima anak itu adalah bagian dari proyek misterius tersebut. Akan tetapi, karena kurangnya bukti, aku pendam teoriku rapat-rapat.

Kini, ucapan Roy makin memperkuat keyakinanku, “Memang tidak ada bukti yang kuat, tapi semua peristiwa baik dulu atau pun sekarang tampaknya merujuk ke arah sana. Dan jika mereka memang Nada Regalia, tindakan Kekaisaran menurunkan pasukan terkuatnya jadi sangat masuk akal,” kataku yakin. “Begitu pula hasil akhir peristiwa Demon Dance  karena, seandainya rumor itu benar, mereka memang dibiakkan untuk lebih tangguh daripada Zasthet.”

Hasan melepas kacamata lalu mengusapnya dengan kain pembersih, “Nada Regalia atau bukan, tak ada yang berubah. Aku tetap harus jungkir balik. Kemarin-kemarin Tennis Indoor Stadium, pagi tadi Ali dan Brata Supama, sekarang tol Jagorawi, besok apa lagi? Kalian tahu tidak aku belum tidur seharian?” hal itu memang tampak dari kantong matanya.

Kepala Divisi Komunikasi Media & Teknologi Informasi itu selalu merengek, tapi tak ada yang meragukan kemampuannya dalam menyetir pemberitaan. Pria itu takkan tidur sebelum memastikan wartawan-wartawan mengoceh seperti yang didiktekan, pantang beristirahat sebelum koran-koran naik cetak dengan materi yang diberikan. Dia merupakan tangan organisasi untuk menutupi fakta, tangan untuk bersalaman dengan rekan-rekan pers sekaligus mencekik mereka agar arus informasi tetap kondusif bagi kegiatan kami.

Itu hal yang penting karena ketidaktahuan masyarakat adalah berkah. Aku tak berani membayangkan apa yang terjadi jika orang awam tahu ada spesies yang memburu mereka tiap harinya. Jika fakta mengenai keberadaan iblis tersebar luas, kepanikan massal, tindakan main hakim sendiri dengan asal tunjuk saja, serta berbagai bentuk kekacauan lain sangat mungkin terjadi dan mencegahnya merupakan bagian dari tugas kami.

Aku melirik ke arah dinding kanan. Di salah satu monitornya tampak sebuah pertunjukan dangdut melibatkan tiga biduanita yang menggoyangkan badan secara erotis di depan ratusan penonton. Layar sebelahnya menayangkan liputan upaya pemadaman kobaran api di sebuah perumahan padat penduduk. Penampil ketiga dan keempat masing-masing menyiarkan pekerjaan perbaikan jalan dan penggalian dengan peralatan bising serta kegiatan beberapa orang yang mengotak-atik sebuah gardu listrik berbekal penerangan seadanya.

Sekarang, dalam kondisi real-time di tengah malam pun kami tengah mengalihkan perhatian masyarakat ke arah yang diinginkan organisasi. Demon Dance memang berada di ujung jalan buntu yang agak terisolasi dari pemukiman sekitarnya, tapi tetap kami harus memastikan mata dan telinga warga setempat tak mendeteksi apa yang terjadi di kelab malam bawah tanah tersebut. Pemadaman listrik, pengerjaan fasilitas publik yang berisik, pergelaran musik semalam suntuk, serta kebakaran; semuanya terjadi dalam jarak lima ratus meter hingga dua kilometer dari TKP.

“Nada Regalia atau bukan,” ujar suamiku sambil menatap Roy, “kita sama sekali tak punya persiapan untuk yang baru saja terjadi. Ada baiknya kita tangguhkan kasus ini, lihat dulu perkembangannya ke arah mana. Jangan sampai bertindak gegabah, risikonya terlalu besar.”

Atasan kami menganguk-angguk lalu menoleh ke arahku, “Menurutmu?”

Menurutku sudah jelas, kami harus mencari tahu ada apa di balik semua ini. Pertemuan dengan Anjas tadi pagi membuatku yakin pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan anak-anak itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es raksasa. Sesuatu yang besar sedang terjadi dan aku punya firasat bahwa kelompok Anjas tengah terlibat hal yang bahkan tidak mereka ketahui.

Aku mengerti Bang Bos ingin menginvestigasi apa yang sebenarnya terjadi, sama sepertiku. Akan tetapi, momentum sedang berada di pihak kami, sedapat mungkin jangan sampai terlewatkan, “Kekaisaran telah mengambil tindakan drastis, tapi gagal. Kurasa mereka takkan keberatan jika urusan Anjas kita ambil alih. Lagipula, sekarang buruan kita melemah, kelompoknya terpecah. Menurutku kita harus mengurus ketiga pemuda itu secepat mungkin. Soal Mel dan Dien, kita awasi saja dulu.” Aku terdiam sejenak, teringat betapa Zasthet jadi bulan-bulanan di Demon Dance, “Selain itu kita butuh bantuan semua unit khusus, semuanya.”

Para pria terdiam. Meminta semua kelompok pemburu iblis bermahkota yang tersebar di seluruh penjuru dunia agar datang ke sini dan menghabisi sekadar tiga ekor iblis memang agak keterlaluan, tapi mereka tahu apa yang kuucapkan masuk akal dan demi kebaikan bersama. Kekaisaran mengutus pasukan terbaiknya untuk menangani Anjas, tak ada alasan kenapa kami tidak melakukan hal serupa, apalagi setelah apa yang baru terjadi.

Roy memandang suamiku dan langsung mendapat anggukan persetujuan.

“Terserah,” ujar Hasan acuh tak acuh, “jika memang harus sampai segitunya, kita lakukan saja.”

Kepala Kantor Wilayah yang juga mentorku itu bersandar di kursinya, “Baiklah. Bos, tolong koordinasikan dengan Kantor Pusat.”

Suamiku segera mengeluarkan PDA dan menggerakkan stylus di permukaan layarnya. Hasan menguap lebar dan Roy kembali termangu. Sekarang kami hanya bisa menunggu. Menunggu perkembangan terbaru dari pengintaian Jatayu, menunggu respons Kantor Pusat.

“Aku mau lihat Andre dulu,” kataku sambil bangkit dari tempat duduk.

Baru saja aku hendak membuka pintu saat suara Nila kembali terdengar, “Umpan video terputus... sinyal dari Jatayu hilang!”

Hasan langsung berdiri, “Tampilkan lokasi dan rekaman terakhir!”

Aku kembali ke arah meja dan mendapati sebuah titik merah kini berkelap-kelip di peta digital di permukaannya. Monitor utama sekarang menampilkan pencitraan monokrom sebuah gerbang tol sebelum akhirnya layar berubah statis lalu gelap total.

Ruangan ini mendadak riuh. Ada yang mondar-mandir dari satu anjungan kerja ke anjungan kerja lain sembari melontarkan perintah, sebagian lagi mengetik sambil mengucapkan istilah-istilah teknis, beberapa langsung mengontak entah siapa.

Ditembak jatuh, itulah pemikiran yang seketika melintas di benakku, Jatayu ditembak jatuh.

Anehnya, kesimpulan tanpa bukti atau basis yang kuat itu sama sekali tak mencemaskanku. Yang kurasakan justru ironi yang melegakan. Ironi bahwa meski kami senantiasa menumpulkan indra masyarakat terhadap apa yang sebenarnya terjadi di sekitar mereka, kini kami yang justru tidak tahu apa yang terjadi baik terhadap Jatayu atau terkait kelompok Anjas dan Nada Regalia secara keseluruhan.

Tak apa, batinku sambil berbalik dan melangkah keluar dari ruangan ini, kadang kita memang lebih baik tidak tahu.
« Last Edit: October 31, 2008, 03:55:39 pm by ewingerwin » Logged

cheppy70
Kelasi
*
Online Online

Posts: 787


« Reply #78 on: October 31, 2008, 11:26:09 pm »

Boss, strategi pengalihan perhatian radius lima ratus meter,.... GOOD IDEA!  Thumbs Up

Mungkin in real life rada gak mungkin. Tapi for your setting, I think it's quite enough.

Go go go!

FA Pur

PS: C*nt Filler??? What a sorry excuse to spread the word all over, man! Tapi lucu zuga seeeh,..  Grin
« Last Edit: October 31, 2008, 11:30:22 pm by cheppy70 » Logged

clickdian
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 944


Soaring into a light.


« Reply #79 on: November 03, 2008, 10:34:52 am »

Gila!
Keren! Ewing, ini kubaca di rumah biar konsen, sori gak minta izin dulu yah  Grin

Actionnya kereeen! Dan udah bisa kutebak apa yang sebenernya terjadi di Forever Wicked, sekarang jadi penasaran dugaanku bener ato nggak heheh.

Sebenernya aq suka perpindahan POV seperti yg kamu buat di sini, karena bagusnya pembaca jadi tau apa yg dirasain dan apa yg terjadi di pihak yang lain dengan tepat. Gak ada masalah kalo untuk postingan di sini, tapi kalo kamu punya rencana nerbitin, ini bisa jadi masalah karena perpindahan POV-nya ada di waktu yg bersamaan, which means setiap pindah POV kamu harus mundur sedikit untuk menceritakan sudut pandang lain. efeknya, keseluruhan cerita jadi maju-mundur gitu. ini gak masalah buat aq, tapi untuk membuat alur yang konstan, kamu harus pilih salah satu POV yang paling tepat dan paling menggambarkan kejadian.

ditunggu lanjutannya  Thumbs Up
« Last Edit: November 03, 2008, 10:36:41 am by clickdian » Logged

-Logic will make you go from A to B. Imagination will take you everywhere-
Lautan Indonesia - Forum Indonesia Terbesar dan Terlengkap
   

 Logged
Pages:  1 ... 4 5 6 7 [8] 9 10 11 12 ... 15   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.10 | SMF © 2006-2009, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!
Page created in 6.085 seconds with 24 queries. (Pretty URLs adds 0.418s, 3q)