Lautan Indonesia - Forum Indonesia Terbesar dan Terlengkap
Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Login with username, password and session length
March 15, 2010, 05:18:58 am
Pages:  [1] 2 3 4 5 ... 237   Go Down
  Print  
Author Topic: [BFF - Fanon] Dramione fanfic: "PROLOG" (PUBLISHED)  (Read 32433 times)
apocrief
Forum Machi
***
Offline Offline

Posts: 2495


Apocrief is a female! DOH!


« on: December 09, 2007, 06:54:04 pm »


Come now, Dramioneshipper!

Di sinilah tempatnya pecinta fanfic dan shipper Draco en Hermione. Tempat ngobrol ngalor-ngidul semua tentang Dramione.
Share the fanfics, share the fanarts, share the fanvids, and LET'S SHARE THE DRAMIONIAN RHAPSODY.

JOIN, then TAKE YOUR OWN RISK!



Links :
Hot recommended Dramione stories — PAGE 70
Fanfic Terjemahan di Dramionian Rhapsody
Missing Scene bab 14


***

Kita juga mengundang kalian ke dalam Dramionian Rhapsody Community.
Komunitas bagi mereka yang ingin berbagi kebahagiaan ber-Dramione.

Taste the Forbidden. Adore the Contradiction.

Kami berbagi. Kami berimajinasi. Kami ber-Dramione.
Ketika fakta akhirnya dihiraukan. Saatnya imajinasi digunakan.

All hail Dramione!


Klik link yang ngalor-ngidul di bawah ini:
The Dramionian Rhapsody
[/move]
« Last Edit: August 06, 2009, 06:40:50 pm by apocrief » Logged

apocrief
Forum Machi
***
Offline Offline

Posts: 2495


Apocrief is a female! DOH!


« Reply #1 on: December 09, 2007, 06:58:04 pm »

Tadinya ni thread cuma untuk promo fanfic gw doang. Tapi ujung2nya jadi tempat ngobrol ngalor-ngidul para dramioniac begini, hua ha ha...

Cool 1 Tapi malah asik bisa sharing semua tentang Dramione.
Tapi jangan heran ya jikalau nanti banyak emoticon bergambar
Drool atau On atau Hmpfh.
Terkadang kita share link fanfic M rated. Now...now...I've been warnin ye.  Thumbs Up








***


(Credit to Kojaplover. Thanks berat ya, bu!  Thumbs Up)

(Credit to ME  Cool 1)

Fandom:Harry Potter
Pairing: Draco-Hermione
Cuplikan: Mereka pikir mereka hidup di dunia yang berbeda. Pikirkan lagi... Semua yang membedakan. Dan apa yang membuatnya sama. Kebencian. Persahabatan. Harga diri. Dalih.... Hasrat?

Apocrief sez:
First of all, gw tahu pairing Dr-H kurang familiar di Indonesia. But, just try! Gw suka pairing ini karena kontradiksi dari dua karakter inilah yang membuatnya menjadi hot. Full of conflicts. Gryffindor - Slytherin. Princess of the Golden Trio - Prince of Slytherin. Bookworm of Gryffindor – Badboy. Pureblood – Mudblood. Beauty – Beast (dlm arti konotasi). Mmmhh… delecious, rite?
Enjoy...

___________________________________________________________________________________________

Warning: IT’S AN M!!! MATURE!!! Kalo fanfic luar, mungkin ini masih termasuk T. Tapi karena gue orangnya baek en toleran ma budaya timur (halah!), so M ajalah untuk amannya. Rencananya, sesuatu yg agak ‘di luar batas asusila’ akan gue buat seimplisit mungkin. Soalnya, kl berlebihan terasa norak jg sih.
Rating M untuk bad languange—dan nyerempet2 sesuatu yang (of course) agak ‘di luar batas asusila’, he he...

And oh...again, gue jelas ngga ikutin plot HP yang Halfblood Prince.  Wink
______________________________________________________________________________

BAB 1
Hermione Granger melihatnya ketika gadis itu memasuki Aula Besar. Keberadaannya tak mungkin tak disadari. Apalagi dengan rambut itu, pirang-brengsek-platinum itu. Dan kebencian itu telah jauh meresap ke dalam setiap sel darah, menyalakan alarm dari kehadirannya. Mata biru-kelabu itu bak mata pemangsa yang seakan sanggup menembus, membaca pikirannya seperti buku yang terbuka. Darah Hermione mendidih dan rasa panas yang familiar mengalir melalui setiap pembuluh darah. Ya, hanya dengan menatap sosok itu, kebencian itu sekan menyeruak dan tak sanggup dia sembunyikan dari wajahnya.

Cowok itu tersenyum sinis. Tak heran. Mungkin hanya itu yang bisa dilakukannya selama dia hidup.

Draco Malfoy.

Si Slytherin menatapnya dengan pandangan benci yang sama, pandangan benci yang tak dapat dibandingkan kuantitasnya antara kebencian Hermione pada keparat itu atau sebaliknya. Seakan tak ingin menyimpan kebencian itu untuk dirinya sendiri, cowok itu berbisik dengan kedua sahabatnya, Crabbe dan Goyle. Mereka menyeringai. Tentu saja. Mereka tak beda dan sama brengseknya dengan pemimpinnya.

Hermione memalingkan wajahnya berharap rasa panas itu segera hilang. Dia duduk di antara Harry dan Ron, berusaha menghiraukan si rambut pirang brengsek itu seperti yang dilakukan kedua sahabatnya.

Merlin, kebencian ini takkan pernah berakhir, Hermione sering berkata dalam hati. Benarkah seperti itu, dia bertanya-tanya. Hermione merupakan salah satu dari mereka yang percaya, manusia adalah abu-abu; tak ada yang hitam dan tak ada yang benar-benar putih. Bahwa yang terjahat pun dalam dunia ini mempunyai sisi putih walaupun sedikit kuantitasnya. Namun, Draco Malfoy adalah pengecualian. Dia seperti iblis. Badboy. Tak ada yang baik dalam dirinya. Pangeran Slytherin. Indah. Tapi arogan.

Batas antara dirinya dengan Malfoy sungguh jelas. Semua orang dapat melihatnya sejelas refleksi diri dalam cermin. Kedua sisi itu begitu nyata. Begitu berbeda. Begitu berlawanan. Begitu—

Terpisah.

“Apa tujuan Draco Malfoy diciptakan ke dunia ini?” geram Ron setiap kali dia, Hermione, dan Harry, selesai terlibat keributan dengannya. Ron hampir selalu meributkan keeksistensian makhluk itu. Ron dan Hermione harus lebih sering bertemu dengan Malfoy yang menghadiri rapat-rapat prefek rutin tiap minggu. Hermione selalu menenangkan Ron, mengatakan untuk mengacuhkan cowok keparat itu. Tapi, Hermione tahu, dia sendiri tak mungkin mengacuhkan keberadaannya. Karena dia memang nyata. Dia eksis di dunia yang sama dan di masa yang sama.

Dan bagaimanapun juga Ron benar. Demi Merlin, apa tujuan Draco Malfoy diciptakan ke dunia ini?

Mungkin sebagian anak perempuan di Hogwarts lebih tahu dibanding mereka. Koreksi: semua anak perempuan. Rambut pirang dengan mata biru-kelabunya seakan menyerap segala keindahan yang Malfoy lewati. Ya, Hermione mengakui ketampanan Draco Malfoy si Pangeran Slytherin, kapten tim quiditch untuk asramanya, dan prefek. Tetapi—f**k—dia sangat membencinya. Dan Dia tak pernah keberatan terus mengulangnya dalam hati.

Aku benci dia.

Hermione juga menginginkan Malfoy mengakui keberadaannya. Malfoy harus menyadarinya. Well, Hermione tahu, dirinya berhasil terhadap cowok-cowok yang lain. Mereka menyadari Hermione sebagai wanita setelah penampilan perdananya pada pesta dansa tahun ke empat. Sejak saat itu, secara konsisten mereka mulai meliriknya. Dan kadang dia menikmatinya. Semua anak cowok itu diam-diam meliriknya—walaupun sering kali tidak terang-terangan. Namun Malfoy yang paling berbeda dari semuanya. Cowok itu tidak pernah menatapnya seperti yang dilakukan cowok lain. Tatapan itu tak pernah lebih dari tatapan penuh keangkuhan dan merendahkan. Sungguh memuakkan.

Malfoy tak perlu mengatakan apapun untuk membuat Hermione muak. Dia hanya perlu menatapnya saja, seakan Malfoy tahu hanya dengan menatap, dia sanggup membuat gadis itu frustasi. Frustasi akan kebencian yang mendidihkan darahnya. Dan kemudian dia memperlihatkan senyum mengejeknya yang terkenal seakan-akan berkata—

“Aku memandangmu rendah.”

Aku benci padamu.

Lagi. Begitu mudah mengatakan kata-kata itu padamu. Dan yang paling menyedihkan, aku tak tahu kapan aku harus berhenti mengatakan hal itu. Sangat buruk membenci seseorang seperti itu.

Tetapi kecuali untukmu, Malfoy.

Karena aku tak keberatan untuk mengulang kata-kata itu untukmu.


***


“Kita sudah membicarakannya. Dan karena kita sudah mempunyai tanggung jawab pada tugasnya masing-masing, ada baiknya—” kata Ketua Murid Putri, Hermione Granger, pada pertemuan para prefek pada sore harinya.

“Granger, tidakkah kau harus mengatakan sesuatu?” Malfoy bergumam dengan sinisme yang tidak berusaha dia tutupi. Dia selalu senang memperlihatkannya.

Hermione mengerling singkat, berusaha untuk sabar. “Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu, Malfoy.“

“Katakanlah sesuatu, Blaise,” sahut Malfoy pada rekannya untuk membela.

Blaise Zabini si Ketua Murid Putra menarik napas. “Grang—”

“Tidakkah kalian sadar kita mempunyai sesuatu yang lebih penting untuk diurus saat ini?” potong Hermione sambil mengetuk-etukkan jemarinya tak sabar di atas meja. “Ini terlalu kekanak-kanakan.”

Malfoy berdiri dan menghadap prefek-prefek lain. “Maafkan aku atas interupsinya, ladies and gentlemen. Dan maafkan atas keterlambatan tadi. Tetapi percayalah kesalahan ini jelas tak hanya disebabkan dari pihak kami saja. Pengumuman jelas tidak sampai pada telinga yang tepat.” Malfoy mengerling ke arah Hermione dengan pandangan menyalahkan. Lalu dia berdeham sejenak mengumpulkan wibawa. Wibawa—my arse!

“Malfoy―” geramnya.

Tapi seperti biasa Malfoy tak peduli. Dan Hermione tak heran ketika Malfoy terus bicara. “Sebagai Ketua Murid Putri yang terhormat, dia harus bisa mengintegrasikan perbedaan di antara kita. Dengan mengesampingkan rasa benci, misalnya. Serta,” Dia terhenti lagi untuk memberikan efek dramatis. Demi Merlin! Bagaimana dia bisa mengatakan hal-hal seperti itu? Mengesampingkan rasa benci?!?! “Dia harus bertindak secara profesional dan bertanggung-jawab agar tidak mencampuradukkan perasaan pribadi dengan tugas.”

Hermione merasa wajahnya merah padam, hampir tak dapat menahan kekesalan. “Kurasa, tadi kita sudah membahas masalah itu sejelas-jelasnya, Malfoy,” katanya sesopan mungkin, namun dengan segala kemarahan yang tertahan tersembunyi secara implisit dalam setiap kata-katanya.

Ron mengangkat tangannya. Wajahnya menyiratkan perasaan muak. “Hermione benar-benar sudah memberitahumu. Di koridor itu. Mungkin kau terlalu sibuk dengan rapatmu sendiri yang penuh cekakak-cikikik dengan gadis Ravenclaw itu. Kau ingat?”

“Oh, benarkah, Weasley?” tanya Malfoy, berpura-pura terkejut.

“Ya, Malfoy. Tidakkah kau menerima pesanku?”

Malfoy kembali menatap Hermione. “Maaf, pesan apa?”

“Tugasmu untuk membawa bokongmu ke sini. Pesan itu cukup jelas.”

Malfoy mengangkat bahunya. “Aku tak mengerti, pesan yang mana?”

“Pesan tentang rapat prefek yang diadakan di kelas transfigurasi pukul lima sore,” Hermione berkata tak sabar. “Kurasa itu sudah sangat jel—“

“Ooooh. Itu,“ Malfoy mengangguk-angguk. “Maksudmu ketika kau menabrak bahuku, lalu wajahmu merah karena semua buku-bukumu berjatuhan, lalu kau menyemburkan omong kosong yang abstrak di sela-sela napasmu?”

Beberapa murid tertawa cekikikan. Ketua Murid Putra tertawa. Sedangkan Hermione melemparkan pandangan menegur ke arah semuanya.

“Kau sudah di sini sekarang, Malfoy. Jangan buang waktuku,” tukas Ron.

“Ron, sudahlah,” tegur Hermione. Dia tahu jika diteruskan, pembicaraan mereka akan sampai tahap yang benar-benar dia ingin hindari.

Namun sepertinya Malfoy berpikiran lain. “Jangan apa,Weasley?” Dia menatap Ron, memulai kofrontasinya. “Tahukah kau bahwa kau mengganggu pandanganku semenjak rambut merahmu—”

Hermione mulai merasakan pertanda. “Hentikan―”

“Ada apa dengan rambutku, pirang?” sela Ron.

“Membuat mataku iritasi, kantung sampah,” balas Malfoy.

“Congkel saja matamu keluar, kecoak bus—”

“HEENTIKAAAN!” serunya dengan volume suara yang lebih keras dari yang diharapkan. Wajahnya memerah―entah lebih karena malu atau karena marah. Dia menyilangkan kedua tangannya untuk membentuk huruf X. “Tutup mulut kalian berdua.”

Zabini tertawa kecil, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Hermione merasa pening di kepalanya. Tidakkah ada yang bersikap dewasa di sini? Seharusnya dia harus mulai terbiasa dengan hal ini. Demi Merlin, dua tahun adalah seharusnya waktu yang cukup lama untuk mencoba membiasakan diri. Tapi, dia menyadari sepenuhnya bahwa dia takkan pernah terbiasa dengan keparat itu.

Ketua Murid Putri. Itulah ambisi Hermione selama tahun ke enam kemarin. Dan dia berhasil. Tak anak perempuan lain yang dapat menandingi popularitasnya. Hermione Granger yang sedang mengalami masa keemasannya. Gadis terpintar di Hogwart. Murid terpintar di Hogwart. Jadi, dia memperoleh jabatan itu.

Dan dia kira segalanya akan beres dengan kepemimpinannya—bersama Blaise Zabini sebagai Ketua Murid Putra. Zabini cukup baik dengan jabatannya. Tapi tetap saja—dia seorang Slytherin. Seperti murid-murid Slytherin lain, dia takkan senang berada di dekat Hermione Granger. Slytherin tetap Slytherin. Tempatnya segala kejahatan. Dan celakanya, Zabini tetap mendapat pengaruh yang sangat besar dari Malfoy pada posisinya.

Malfoy awalnya banyak dijagokan untuk menjadi Ketua Murid Putra. Popularitasnya sangat mendukung. Dia adalah cowok yang paling populer saat ini setelah Harry. Dia dengan nama belakang keluarga Malfoy yang tersohor. Dan dengan wajah itu—

Oh, brengsek. Aku tak percaya, aku mengakui dia tampan.

Sebagai Kapten Quidditch, sepertinya dia terlalu sibuk menjalankan tugasnya sebagai Pangeran Slytherin yang setia. Mungkin dia memang masih berminat, namun jelas para guru tidak akan setuju. Dia memiliki catatan buruk sebagai anak nakal. Dia terlalu suka mengintimidasi orang. Dia hampir tidak pernah dihukum karena Slytherin memang jago mengakali peraturan. Jadi walaupun dia gagal menjadi Ketua Murid, melalui Zabini cowok itu tetap dapat memperlihatkan—mempertahankan bahwa dia masih memiliki kekuasaan dan pengaruh.

Hermione—Ketua Murid. Draco Malfoy—prefek.

Hermione unggul karena posisinya lebih tinggi dari keparat itu. Jadi dia bisa sebebas mungkin memotong poin asramanya jika suatu kali cowok keparat itu mulai melontarkan kata-kata yang tidak koheren dari mulutnya. Atau dia bisa memberikan selusin detensi kapan saja. Benar begitu, kan?

Salah.

Tentu saja Malfoy takkan diam saja di bawah kendali seorang Gryffindor. Cowok itu takkan pernah secara sukarela menjadi bawahan seseorang yang mungkin seumur hidup dia panggil darah lumpur. Takkan ada dalam kamusnya. Maka di sinilah mereka. Hermione, Ron, Zabini, dan Malfoy memperlihatkan pertahanan terbaik mereka di depan para prefek lain sebagai penonton dan penilai pertunjukkan reguler itu.

Oh, Malfoy. Mengapa kau tak diam saja. Diam dan dengar. Jangan buang tenagamu. Carilah gadis yang dapat membantumu menghabiskan tenagamu di atas ranjang. Oh, aku benci padamu. Aku benci padamu.

Hermione berdeham untuk mengembalikan kewibawaanya. “Okee…” Hermione menghela napas.

Malfoy mengalihkan pandangan sambil mendengus.

“Baiklah,” kata Hermione lagi.

Zabini menghela napas tak sabar. “Well, rapat sudah berjalan baik,” katanya dengan nada mengejek menimpali oke-baiklah singkat dari Hermione. “Lakukan saja tugas kalian dengan baik.”

Hermione berdeham lagi. “Adakah yang—”

“Rapat bubar,” Zabini memotong.

A-apa? Whoa, tunggu dulu!

“Hei! Kita belum selesai,” sahut Hermione berusaha mengumpulkan perhatian setiap orang. Dia menatap Zabini dengan kesal, lalu kembali menatap para prefek. “Sebelum kalian pergi, aku ingin bertanya apa kalian mempunyai pertanyaan?”

Malfoy duduk dengan malas, mencemooh. “Jika ada pertanyaan, kami akan bartanya dari tadi, idiot.”

Hermione mengacuhkannya. Tapi, pipinya terasa panas lagi. Dia merasakan pandangan permusuhan dari bangku Ron. Wajah sahabatnya itu merah seakan dapat keluar asap setiap saat. Hermione bersumpah dia dapat melihat urat di kepalanya berkedut-kedut.

Oh, Merlin. Seandainya aku dapat menjahit bibirnya sehingga dia tak dapat melontarkan senyuman sinis brengseknya itu.

Para prefek menunggu dalam diam, menatap rekan-rekannya yang lain.

Hermione berdeham. “Oke,” sahutnya. “Rapat bubar.”

Malfoy segera keluar dari ruangan setelah dia memberikan tatapan permusuhan pada gadis itu. Zabini segera bergabung dengannya. Berangsur-angsur semua prefek meninggalkan ruang kelas itu. Kemudian perasaan lelah menyelimuti Hermione seperti biasa. Rasa lelah itu hampir sama dengan mengelilingi kastil Hogwarts sebanyak lima putaran. Kelelahan yang selalu terjadi sehabis rapat prefek.

Ron bergabung dengan Hermione, hendak membuka mulut.

“Tutup mulutmu,” sahut Hermione. Dia membereskan tasnya lalu memakainya di pundak.

“Aku belum mengatakan—”

“Apapun yang hendak kau katakan, lebih baik telan lagi.”

Ron berjalan di samping Hermione. “Memangnya aku–”

“Oh, aku benci dia,” kata Hermione parau. Tangannya di atas kepala, frustasi.

“Siapa?”

“Well, siapa lagi menurutmu?”

Ron terkekeh. “Bukan berita baru. Itu juga yang akan aku katakan.”

“Aku tahu,” gerutunya. Dia menggeleng-geleng sedih. “Tapi aku sendiri yang harus mengatakannya.”

“Jika ini mengenai siapa yang berhak mengatakannya, well, aku sangat berhak,” gumam Ron dengan nada meninggi. “Keparat itu dengan sengaja menambahkan bisa Scarpyon di ramuanku pada pelajaran Snape tadi pagi. Perlu dua jam untuk menghilangkan bintil-bintil pada punggungku.”

“Tapi sekarang sudah tak ada lagi kelihatannya,” kata Hermione sambil memperhatikan kulit di tangan Ron.

“Astaga! Ini bukan tentang sudah hilang atau belum. Masalahnya, Slytherin kurang ajar itu… dia―,” Ron sulit mengatakannya seakan hal tersebut sama parahnya dengan Voldemort berhasil menguasai dunia.

“Aku mengerti.”

Koridor mulai agak lengang ketika mereka melewati belokan terakhir ke arah menara Gryffindor. Di sana mereka menjumpai Peeves membuat onar lagi. Filch berteriak uring-uringan kepada hantu jahil itu. Dia menghentikan Peeves mengganggu anak-anak kelas satu. Snape kebetulan lewat. Dia mengucapkan Mantra Jungkir balik. Dan tak lama kemudian, Peeves meninggalkan koridor itu dengan kepala di bawah sambil mengumpat-umpat.

“Genolus busuk.” Hermone mengucapkan kata kuncinya ketika mereka sampai di depan lukisan Nyonya Gemuk.

Nyonya Gemuk menatap mereka antusias. “Oh, bagus, bagus. Aku baru menemukan sebuah lagu yang hebat. Kalian beruntung menjadi yang pertama mendengarnya.” Dia berdeham, mempersiapkan tenggorokannya.

“Lebih bagus lagi jika kau tutup mu—“ Ron menyela.

Terlambat. Nyonya Gemuk sudah memulai nyanyiannya. Suaranya lumayan untuk drama opera. Tapi, tak satu pun dari mereka menyukai opera. Bagi mereka, suara itu hanya berupa lengkingan menyakitkan dengan nada alto. Lengkingan yang seakan ingin mengalahkan empat oktaf nada teriakan Peeves.

Ronlah yang mengambil inisiatif. “Bagus, Nyonya Gemuk!” teriaknya keras untuk mengambil perhatian wanita itu. “Tetapi kurasa kami tak berhak atas kehormatan menjadi pendengar lagu barumu yang pertama kali. Mungkin Pangeran berbaju jirahlah di lukisan lain ingin mendengarnya.”

Yeah, dengan kata lain, carilah korban lain.

“Kalian akan menyesal jika tidak men—”

Genolus busuk,” Ron mengulang paswordnya dengan tak sabar.

Nyonya Gemuk menggerutu. Lukisan itu berayun. Lubang menuju ruang rekreasi Gryffindor terbuka. Dengan sinis ia memperbolehkan mereka masuk. (“Anak muda jaman sekarang tak mengerti bakat seni yang mengagumkan.” Mereka mendengar Nyonya Gemuk berkata sebelum lukisan itu menutup lagi).

“Aku sedang tidak mood untuk menimpali wanita aneh itu,” gumam Ron ketika mencapai ruang rekreasi.

Ruangan itu selalu nyaman dan hangat. Warna merah mendominasi ruangan. Cahaya yang hanya berasal dari perapian dan obor sihir, sudah cukup menyelimuti ruangan itu dengan baik. Biasanya sofa-sofa yang terjejer di sana di depan perapian, diduduki beberapa anak kelas lima. Seamus dan Dean tampak duduk di bangku dekat jendela sambil bermain catur. Ruang rekreasi sedang tidak terlalu ramai. Banyak dari mereka yang sudah mulai turun ke Aula Besar untuk makan malam. Hanya ada beberapa anak yang tingkat tiga yang sibuk mengerjakan PR mereka di sudut ruangan.

Hermione melihat Harry duduk di depan perapian sambil menggosok Fireboltnya dengan kain. Harry tak menyadari kedatangan kedua sahabatnya. Matanya fokus ke sapunya. Sapu itu tampaknya sudah bersih mengkilap. Bahkan Hermione dapat melihatnya bersih mengkilat sebelum dia dan Ron mendekati Harry. Tapi Hermione tak mengatakan apapun.

“Harry,” sapa Ron. Dia menghentakkan dagunya ke arah Harry.

Harry hanya menoleh singkat. “Ya.”

Hermione dan Ron melambaikan salam singkat kepada Seamus dan Dean, kemudian kembali lagi ke Harry.

“Bantai dia, Harry,” kata Ron kemudian.

Hermione langsung tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana. Awalnya Harry hanya melongo mencerna kata-kata Ron yang absurd itu. “Apa?” tanyanya bingung.

“Bantai dia.”

Pengulangan itu tak membantu apapun. “Siapa?”

“Kurasa dia berbicara tentang Malfoy,” sahut Hermione datar.

Harry mulai paham. “Tak perlu kau perintahkan lagi.”

“Kalahkan Slytherin telak.“

Harry menghiraukannya. Hermione menaruh tasnya di atas meja lalu duduk di sebelahnya. Harry tak bertanya apa-apa lagi pada Hermione karena dia tahu beginilah yang terjadi sehabis rapat Prefek. Hampir setiap kali.

“Ambil Snitch itu sebelum dia dapat berkedip,“ kata Ron membandel. “Dia Chaser sekarang. Dia takut padamu, Harry, karena dia tahu bahwa dia takkan pernah bisa merebut Snitch itu darimu.”

“Yeah,” sahut Harry.

“Jangan biarkan—”

Pasti―Ron,” sahut Harry tak sabar.

“Bagus,” sahut Ron.

Harry menatap Hermione lalu memutar bola matanya.

Hermione mengangkat bahu, tak berminat menjelaskan penyebab kelakuan sahabat mereka. “Jadi,” kini giliran Hermione bersuara dan mengganti topik. Dia menatap Harry sambil menghela napas seakan seperti habis dari perjalanan yang jauh. “Kau masih sibuk akhir-akhir ini? Menjadi Kapten Quidditch pasti sulit sekali.”

“Aku hanya mengepalai enam kepala dalam satu tim. Ketua Murid sepertimu mengepalai ratusan anak. Kurasa tugasmu lebih ribet.”

“Tapi jika kau membuat timmu kalah, kepalamu sendiri bisa dicincang ratusan anak, Harry.” Hermione menatap tangan Harry menggosok-gosok sapunya. Dia ingin berkata bahwa sapunya sudah mengkilat seperti batu mulia. Namun dia mengurungkannya. “Tapi tentu saja aku tahu kau pasti bisa menang. Kau Harry Potter. The boy-who-lived. Seeker termuda abad ini. Pemenang Turnamen Triwizard.”

Harry mengerling singkat. “Kau belum menyebutkan bahwa aku anak-yang-hidup-dan-diuber-uber-terus-Kau-Tahu-Siapa-dan-mungkin-besok-mati,” gumamnya datar.

“Ah,” hanya itu yang Ron katakan sambil mengangguk.

“Harry,” tegur Hermione. “Kau tidak boleh berpikiran seperti itu.”

“Entahlah,” ujar Harry. Dia mengemas peralatan untuk membersihkan sapu miliknya. “Kurasa situasi ini makin runyam. Voldemort entah dimana. Tanda kegelapan semakin nyata. Beberapa anak sudah mengundurkan diri. Mungkin aku hanya paranoid. Tiap tahun aku terpaksa berurusan dengannya. Cedric…Sirius…entah siapa lagi…Ya ampun! Aku paranoid sekali!”

“Kita akan baik-baik saja. Ada Dumbledore,” kata Ron. “Aku lebih kuatir dengan Malfoy. Dia baru dapat sapu baru.”

“Ya ampun, Ron,” tegur Hermione. “Sampai kapan kau mau membicarakan dia? Kau mulai bosan mendengarnya.”

“Aku pernah lihat sapunya di Diagon Alley,” kata Harry. “Windflash memang bagus. Tapi kata si Otto Weiz si pemilik toko Peralatan Quidditch Berkualitas, sapu itu tidak lebih bagus dari Firebolt. Aku masih optimis.”

“Kalahkan dia, Harry.”

“Harry pasti mengalahkan Malfoy, Ron,” geram Hermione.

“Jangan biarkan dia—”

“DIIAAAAMMMM!!!”


***


“—Lebih cepat lagi!”

Draco berseru dari atas sapu terbangnya. Dia menatap semua anggota timnya bermanufer di udara. Draco percaya, inilah tim terbaik mereka sejauh ini. Mungkin selama enam tahun terakhir yang pernah dimiliki Slytherin. Semua diletakkan di posisi yang tepat dengan keahliannya masing-masing. Mereka sudah terlalu lama dikalahkan oleh Gryffindor—tapi tidak tahun ini.

Kini aku kapten mereka. Takkan ada yang sama lagi.

Takkan ada yang sama.

“Hey, Gibb!” Seru Draco pada pemain Chaser bertubuh besar itu. “Sudah aku katakan untuk mengumpan singkat. Umpan singkat! Kita akan bermain seperti yang telah direncanakan. Jangan biarkan Quaffle berada di tanganmu berlama-lama. Itu juga berlaku untukmu, Combs!”

Stuart Combs si Chaser mengumpat, merasa dipermalukan.

F**k you. Kau pikir kau lebih hebat?” Draco menyipitkan matanya, menatap Combs tajam. Cowok berambut pirang kusam itu langsung terdiam.

Draco harus bertindak super tegas untuk mengatur semua anggota timnya. Dia ingin menang. Dia harus menang. Melalui kepemimpinannya, Slytherin harus menang.

Draco sudah tahu semua gosip itu. Bahwa berkat nama besar keluarga Malfoylah, Draco terpaksa dimasukkan ke dalam tim. Dan dengan tambahan enam buah sapu hebat Nimbus Dua Ribu Satu, nama sang pewaris tunggal kekayaan Malfoy dirasa sudah bisa dipastikan tercatat dalam deretan nama anggota pemain reguler. Dalam posisi Seeker yang katanya posisi paling hebat.

Orang-orang bodoh. Hanya gosip yang mereka tahu. Mereka tak tahu kehebatanku. Mereka belum tahu. Tapi akan tiba saatnya nanti ketika mereka akan mengetahuinya. Tahun ini mereka akan mengetahuinya.

Gryffindor selalu mengandalkan strategi klasik Quidditch. Draco dapat menebaknya dengan mudah. Mereka lebih menitikberatkan ke posisi Seeker. Posisi yang dimiliki oleh Harry-kepala-codet-Potter. Semua Gryffindor berharap Harry dapat segera menangkap Snitch begitu bola itu dilepas. Dengan begitu mereka dapat memenangkan pertandingan dengan tambahan 150 angka dengan tertangkapnya Snitch.

Demi Merlin. Betapa rendahnya pertandingan Quidditch jika bisa menang hanya dengan tertangkapnya satu bola saja? Yang benar saja! Jika begitu saja sudah menarik, kenapa harus ada pemain-pemain lain seperti Chaser atau Keeper yang mati-matian mencetak dan mempertahankan skor? Ini artinya pertandingan Seeker lawan Seeker saja sudah cukup?

Draco berusaha merubah konsep itu. Mulai tahun ke enam, Draco mengganti posisinya menjadi Chaser. Dia menyadari tubuhnya tidak cukup kecil untuk menjadi Seeker. Tapi dia juga tidak cukup besar dan kekar untuk untuk menjadi Beater. Sebagai Chaser dan kapten, dia menjadi si playmaker. Posisinya bukan menjadi pencetak skor, tapi sebisa mungkin menciptakan peluang bagi teman-temannya untuk membuat gol. Dia harus membaca situasi kapan harus bergerak, siapa mengoper ke siapa, atau kemana harus bergerak.

Tentu saja perubahan ini bukan berarti dia bukan takut pada Potter. Dia tak pernah takut dengannya. Menurutnya, tugas Seeker hanya menunggu sampai matanya dapat menemukan kilauan emas terbang itu, lalu membawa bokongnya menguber-uber kesana-kemari. Menunggu adalah pekerjaan yang menyebalkan. Chaserlah yang lebih menarik. Karena Chaser lebih produktif.

Draco terbang dengan melewati pemain-pemain cadangan yang ikut dipasang sebagai lawan latihan mereka. Deretan bangku-bangku di stadion itu mendadak hanya berupa bayangan warna-warni yang terlihat kabur dan tidak jelas ketika Draco melewatinya dengan sapu terbang yang berkecepatan penuh.

Sapu yang hebat. Windflash.

Berkatilah perusahaan Think & Fly yang mengeluarkan sapu terbang yang hebat hampir setara dengan Fireboltnya Potter. Think & Fly adalah perusahaan yang berbeda lisensinya dengan perusahaan yang membuat Firebolt. Begitu sapu itu lepas ke pasaran, Lucius Malfoy langsung membelikan seperti membeli permen. Draco sudah lama menunggu sapu seperti itu karena dia takkan sudi membeli sapu yang sama dengan Potter hanya karena Potter mengganggapnya Firebolt sapu yang hebat. Firebolt memang hebat. Tapi Windflash jelas dapat menyaingi.

“Malfoy, hari sudah gelap. Sudahi saja untuk hari ini,” kata Keeper mereka, Joe Cole, sambil terengah-engah. “Kurasa latihannya sudah cukup untuk hari ini. Kita sudah latihan habis-habisan.”

Draco mengelap keringat dari pelipisnya. “Sebentar lagi. Beater kita masih payah.”

Tapi dia melihat Joe benar. Semua anggota timnya sudah kepayahan. Tak ada energi lagi. Namun, ini belum cukup, brengsek. Belum cukup. Kekalahannya tahun lalu sungguh menyakitkan. Dan Draco ingin sekali tahun ini mereka menang.

“Setengah jam lagi, Joe,” sahutnya kepayahan. Nafasnya pun sudah terengah-engah. Kemudian dia terbang ke arah Beater mereka, Hayden Grant, sedang latih pukul Bludger di sisi lapangan. Serta merta Draco berteriak, “Berikan pemukul itu padaku!”

Cowok itu menoleh bego, melempar pemukul pada Draco. Sang kapten mengambil ancang-ancang ketika Bludger dengan kecepatan penuh menghampirinya. Dengan satu pukulan telak dengan bunyi dug keras, Bludger itu berhembus nyaris mengenai pelipis kepala salah satu Chaser dan membuatnya hilang keseimbangan sehingga nyaris jatuh dari sapunya.

Dia melempar pemukul itu lagi kepada Griffin. “Seperti itu, Grant.”

Sejumlah penonton melihat latihan mereka. Umumnya para gadis tentunya. Draco tahu mereka menonton dirinya. Dia dalam baju Quiditch hijaunya. Rambutnya basah. Berkeringat. Memar-memar kecil. Noda-noda tanah. Terengah-engah. Menatap tajam. Dia tahu hal-hal itu membuat mereka gila. Dia tahu, karena setiap Malfoy menatap mereka, mereka itu cekikikan tak karuan.

Menggelikan.

Setengah jam akhirnya berlalu. Energi mereka benar-benar terkuras habis. Draco tidak berganti di ruang ganti Quidditch. Dia ingin mandi di asramanya dan berendam air panas, tak ada orang yang mengganggu. Kalau dia masih sanggup turun untuk makan malam, dia akan makan. Tapi sepertinya ranjang terasa lebih menggoda. Tubuhnya sudah lelah sekali memprotes untuk istirahat.

Draco memasuki kastil sambil menenteng sapunya. Noda-noda tanah yang basah menapak meninggalkan jejak di atas lantai di belakang ketika Draco melangkah. Dia tahu jika dia bertemu Filch, tentunya dia akan mendapat masalah. Noda-noda itu sudah cukup membuatnya mendapatkan detensi satu malam penuh. Namun Draco tak peduli untuk malam itu.

Dia melirik Aula Besar. Langit-langit aula menggambarkan awan mendung. Obor-obor menyala menerangi ruangan. Deretan meja sudah dipenuhi dengan berbagai makanan. Denting sendok, garpu, dan pisau terdengar di tiap sudut. Anak-anak hampir memenuhi bangku-bangku aula itu untuk makan malam. Bau makanan yang mengundang selera, menghentikan langkahnya untuk pergi ke ruang bawah tanah Slytherin. Draco tergoda untuk masuk ke sana dan mengambil apa saja yang bisa dia ambil untuk dibawa ke kamarnya. Dia melintasi deretan meja-meja panjang dan bergabung dengan teman-temannya.

“Malfoy,” sapa Greg sebagai pengganti sapaan hai. “Berlatih mati-matian?”

“Untuk yang terbaik,” sahut Draco sekenanya.

Draco melihat tumpukan makanan di atas meja. Ikan bakar, ayam panggang, kentang tumbuk, dan lain-lain menggugah selera. Mereka tampaknya seakan enak sekali dan mendadak dia merasa lapar. Perutnya berbunyi. Draco menelan ludahnya. Satu piala penuh sari jeruk dia habiskan tanpa jeda. Dia mengambil sebuah garpu lalu menusuk satu ekor ikan bakar berbumbu oriental dengan garpu yang kemudian dia daratkan ke piringnya—tak peduli dengan tangannya yang kotor.

Di ujung meja, Vincent sedang berkelakar. “…akhirnya bertanya, ‘Lihat tiang listrik dekat jalur kereta itu?’. Vampir satu dan kedua menjawab, ‘Ya, kami melihatnya.’ Vampir ketiga berkata, ‘Aku habis membenturnya!’”

Blaise tertawa terbahak-bahak sampai jus yang dia minum nyaris menyembur dari mulutnya. Kemudian dia tersedak dan terbatuk-batuk. Draco terkekeh, memberikan serbet untuk mengelap mulutnya. Vincent ikut tertawa—entah karena menertawakan leluconnya sendiri atau karena menertawakan Greg.

Tak jauh dari meja mereka, Klub Fans Potter juga sedang tertawa-tawa. Entah apa yang mereka tertawakan. Gumpalan rambut hitam, merah, dan coklat, itu mencolok di antara murid Gryffindor yang lain: Pothead, Weasel, dan darah lumpur Granger. Sangat menjengkelkan mendengar keberisikan mereka. Draco menyumpah dalam hati, mengutuk keeksistensian Potter dan pengikut-pengikutnya.

Draco mendengus.

“Aku sekelas dengan Mikaela Reuel pada pelajaran Herbologi,” kata Blaise, menunjuk sekilas seorang gadis berambut pirang madu di bangku Ravenclaw. “Man,Dia hot. Rumah kaca sedang panas dan bikin gerah kemarin. Dia melepas satu kancing kemejanya yang paling atas. Merlin…kau harus melihatnya berkeringat. Wuuuhhh, membuatmu tegang,” Dia menghembuskan napas penuh hasrat.

Draco mengikuti arah pandangan Blaise. “Dia memang cewek tercantik di Hogwart.”

“Kau tak berniat mendekatinya, mate?” kata Blaise lagi. Dia mengambil apel dan langsung menggigitnya. “Aku tahu sekali, seleramu sangat tinggi.”

“Dia darah lumpur, Zabini,” kata Draco, tersenyum sinis. “Tak akan pernah terbersit di benakku.”

Blaise tertawa. “Darah murni selalu pilihan pertama, Malfoy?” Dia menyeruput sari jeruk dari pialanya. “Tapi setahuku dia bukan darah lumpur melainkan berdarah campuran.”

“Darah lumpur atau campuran, keduanya tak ada yang mengalahkan kita,” kata Draco setelah menelan sepotong bagian besar ikan itu dimulutnya. “Kau tahu darah murni selalu yang terbaik. Darah murni memang yang paling pantas menduduki posisi teratas dimana pun.”

“Benar. Tapi itu tidak menghentikan kita untuk menikmati yang indah-indah yang bukan darah murni, kan?” gumam Blaise. Dia terdiam sejenak lalu menambahkan, “Lihat…Hermione Granger juga cantik.”

Draco menatapnya. “Huh?”

“Dia,” sahut Blaise seraya menghentakkan dagunya singkat ke arah Granger duduk.

Draco mencibir, “Dia?” Dia menatap gadis berambut coklat keriting itu di dalam kelompokPotter fansclub itu.

“Ya,dia.”

Draco tidak heran mengapa laki-laki berpikiran seperti itu.

Ya, tak ada yang dapat dipungkiri lagi. Darah lumpur Granger itu entah bagaimana dapat memutar takdirnya menjadi angsa. Crabbe pernah membuat lelucon mengenai dirinya-yang-tegang ketika melihat Granger keparat itu roknya tersingkap karena angin pada pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib. Atau ketika cewek itu membungkuk untuk mengambil bukunya yang jatuh. Grabbe menjelaskan bagaimana bentuk tubuhnya, halus kulitnya, dan semua yang membuatnya bergidik. Granger menjadi begitu menarik. Tapi tentu tidak untuk seorang Malfoy. Tak ada hal-hal di dunia ini yang dapat merubahdarahnya Darah kotor itu. Tidak pula dengan roknya yang pendek, kulitnya, kakinya, bibirnya—

Tak ada yang dapat merubah asalnya. Dari sisi mana dia berasal.

Si buku-berjalan kebanggaan Gryffindor. Keparat yang berteman dengan Weasel dan Pothead. Sang putri dari si Trio Emas. Dan dia tetaplah seorang darah lumpur.

“Aku, Crabbe, dan Goyle bertanya-tanya, apakah dia masih mempertahankan keperawanannya atau tidak,” ujar Blaise tersenyum lebar. “Lihat bagaimana si itik buruk rupa dapat tumbuh seperti sekarang. Menurutmu, Potter atau Weasley yang mendapat kehormatan itu? Atau krum? Mereka kan sempat mempunyai hubungan pada tahun ke empat. Menurutmu, Malfoy?”

“Orang konservatif, kutu buku, kebanggaan-seluruh-Hogwart, seperti dirinya?” gumam Draco mengejek. “Kau bercanda.”

Blaise mengangkat bahu. “Kenapa tidak? Dia sudah dewasa. Semua orang dewasa ingin merasakannya. Aku yakin dia menyadari bahwa banyak laki-laki yang putus asa, menatap penuh hasrat ke arahnya. Bahkan banyak Slytherin juga mengakuinya. Well, kau tahu pasti bahwa Slytherin pandai menilai barang mana yang bagus dan barang mana yang patut disingkirkan.”

“Tapi tak ada yang merubah apa yang menjadi takdirnya, Zabini. Darah lumpur,” gumam Draco tak sabar.

Blaise mengangguk kecewa. Dia menghela napas berat. “Sayang sekali. Kita bukan di sisi yang sama, Granger,” katanya seraya mengangkat pialanya untuk bersulang seakan-akan Granger duduk di depan hidungnya. “Mengapa semua yang hebat-hebat harus darah lumpur,“ gerutunya.

“Mereka tak sehebat itu.”

Tak lama kemudian, Pansy datang bersama Millicent untuk bergabung dengan Draco dan kawan-kawan. Pansy melambai pada teman-temannya di meja Slytherin sebelum akhirnya duduk di sebelah Draco. Dia memamerkan tentang busana yang yang baru di belinya ketika dia dan Millie diam-diam berdisapparate dari Hogmaede ke Paris akhir pekan kemarin. Dia memang selalu memperhatikan penampilan. Dia cukup cantik, tapi terlalu sibuk dengan make up. Peralatan konsmetiknya lebih berat dibandingkan dengan buku-buku pelajaran dalam tasnya.

Vincent dan Greg bergantian melontarkan lelucon. Draco tidak begitu berniat bergabung dan hanya sekedar menjadi pendengar. Kali ini gerombolan mereka semakin ramai karena Millie ikut serta. Tawa gadis itu sungguh membahana. Lusinan set mata langsung mengerutkan kening melirik ke meja Slytherin. Tapi dia tidak malu dan tampak tak berusaha menutup-nutupi.

“Hai, Draco,” bisik Pansy di telinganya ketika kawan-kawan yang lain sibuk dengan lelucon Vincent.

Draco meminum habis jus di pialanya. “Pansy,” balasnya.

“Kita semakin jarang bertemu,” ujarnya.

Draco mengangkat bahu. “Kau tahu, aku sibuk. Kau bisa melihatnya dari keadaanku sekarang, kan? Energiku habis dan tubuhku berteriak meminta istirahat di ranjangku yang nyaman lebih awal.”

“Baiklah,” sahutnya singkat. “Mungkin besok malam?”

Draco mengangkat bahunya lagi, “Mungkin bisa, mungkin tidak.”

Jawaban itu jelas tak membuat Pansy puas. Namun dia tahu menanyakannya lebih lanjut malah akan membuat kemungkinan Draco mengatakan “tidak” menjadi jauh lebih besar. Maka dia diam saja.

Sebuah ceri terlempar ke arah kepala Draco. Draco mengumpat pelan.

Blaise berkata dia bermaksud melempar ke arah Goyle, tapi cowok berbadan besar itu berhasil menghindar. Bagus, Goyle. Itu menandakan bahwa selama ini kau bisa bergerak. Well, prestasi terbesarnya, Draco menebak. Kesal karena serangannya yang gagal, Blaise mengejar Crabbe. Draco tertawa memandang mereka berlari sampai keluar aula. Lalu, matanya tak sengaja menangkap sosok itu.

Hermione Granger.

Dia tak menyadari pandangan Draco karena sibuk dengan kawan-kawannya. Draco merasa muak. Karena kehadirannya. Keberadaannya. Teman-temannya. Darahnya. Dia akan selalu seperti itu. Tak akan ada yang merubah dari apa yang membentuknya. Tak akan ada yang berubah.

Cih!
« Last Edit: May 19, 2009, 04:30:58 pm by apocrief » Logged

apocrief
Forum Machi
***
Offline Offline

Posts: 2495


Apocrief is a female! DOH!


« Reply #2 on: December 09, 2007, 07:02:23 pm »

BAB 2

“Litheas yang tumbuh baik adalah seperti ini.”

Keesokkan harinya di ruang kaca kelas herbologi. Profesor Sprout menjentikkan tongkat sihirnya dengan perlahan. Tanaman berbunga itu tercabut dari tanah dan terangkat setinggi jangkauan pandang para murid.

Hermione mengamati tanaman itu dengan seksama. Tampaknya sama seperti tanaman bunga pada umumnya. Batangnya berwarna hijau kecoklatan. Hermione pernah melihatnya di buku. Jika sudah mekar, bunganya sangat indah dan besarnya seperti bunga matahari. Namun warna kelopaknya lebih oranye. Dan bunga yang ada di rumah kaca ini masih berupa kuncup dan belum mekar.

“Tanaman ini berumur satu tahun. Adakah yang dapat menjelaskan kegunaan litheas?”

Mudah. Sangat mudah, sebenarnya.

Hermione mengacungkan tangannya ke udara. Tak ada yang heran ketika dia melakukannya untuk yang kesekian kali pada hari itu.

“Lithelas mempunyai banyak kegunaan,” Hermione memulai. “Intisari dari lithelas sering dibuat penyedap makanan dan memberikan efek kenikmatan yang tiada duanya. Orang-orang juga banyak menggunakan lithelas sebagai penghias rumah karena bunganya yang indah. Pada jaman dahulu, lithelas menjadi obat penangkal racun yang sangat mujarab. Tapi, sekarang mulai ditinggalkan karena para ahli sudah menemukan tanaman yang lebih efektif dari lithelas.”

“Bagus sekali, Miss Granger. Sepuluh angka untuk Gryffindor,” kata Profesor Sprout. Dia mengembalikan akar tanaman itu ke dalam tanah. “Lithelas tetap menjadi tanaman favorit di rumah-rumah untuk dirawat. Dan jika kalian tahu, bunga ini merupakan tempat favorit bagi peri hutan sebagai tempai tinggal.”

Seamus mengangkat jarinya ke udara. “Peri hutan?” tanyanya antusias.

Wanita itu mengangguk, “Ya, Mr Finnigan.” Dia memegang kelopak bunga lithelas yang seperti bunga matahari. “Para peri hutan yang mungil-mungil itu sering hinggap di atas bunga dan tidur di dalam kuncupnya ketika siang. Dan apabila tumbuh dengan baik, pada malam harinya mereka mekar dan berpendar. Mereka—para peri hutan—keluar untuk melakukan kegiatannya.”

“Profesor,” Ron menunjuk kuncup athelas. “Apakah di dalam situ ada…”

“Peri hutan? Tidak, Mr Weasley. Peri hutan hanya ingin hidup di hutan atau padang rumput. Mereka menyukai kesunyian dan alam. Dan mungkin jumlahnya sudah semakin jarang mengingat pemukiman penyihir makin menyebar.”

Peri hutan? Hermione pernah mendengar tentang peri hutan. Menurut salah satu buku tentang makhluk sihir yang beberapa waktu lalu dia baca, peri hutan dulunya tak semungil yang dia tahu sekarang. Dia sebesar manusia, beradab dan berbudaya seperti manusia. Salah satu legendanya menceritakan ratusan ribu tahun yang lalu, sebelum para peri harus meninggalkan dunia manusia, peri merupakan bangsa sihir terbesar dengan keagungan, keanggunan, dan keindahannya. Pada akhir kejayaannya, ada seorang wanita peri yang tercantik dari bangsanya jatuh cinta dengan seorang raja manusia. Wanita itu mengingkari takdirnya untuk pergi ke dunia para peri mengikuti kaumnya dan malah menikahi raja manusia itu. Peri-peri lain yang menjadi pelayan-pelayan setianya mengikuti wanita itu. Seiring jalannya waktu, karena kebesaran dan keabadian para peri sudah sirna, mereka tinggal bersembunyi di dalam hutan dengan dunia mereka sendiri. Tubuh mereka menyusut karena kehilangan kejayaan bangsa peri yang tersisa. Pasangan peri wanita dan raja itu memiliki keturunan. Keturunan hasil persilangan ras itu juga memiliki keturunan dan seterusnya. Konon, para veela yang ada sampai saat ini merupakan keturunan dari pasangan itu.

Legenda yang menarik.

Profesor Sprout berjalan ke arah sebuah lemari kaca di sudut rumah kaca itu. Dia mengeluarkan sebuah toples kaca penuh berisi biji-bijian berwarna coklat. Wanita itu tersenyum. “Ini bibit-bibit lithelas, anak-anak.”

Para murid berbisik-bisik sambil memandangnya penuh keingintahuan.

“Sebaiknya kalian perhatikan dengan sungguh-sungguh.” Profesor Sprout tersenyum. “Karena ini yang akan menjadi proyek kalian sampai awal musim semi,” katanya kemudian.

Bisik-bisik para murid segera saja berubah menjadi dengungan yang memenuhi ruang kaca itu.

Profesor Sprout menjentikkan tongkat sihirnya ke arah lantai kosong di belakangnya. Lantai itu segera dipenuhi dengan pot-pot tanah liat berukir aneka bentuk dan kondisi. Tingginya sekitar tiga puluh sentimeter. Ada yang kondisinya masih bagus, ada yang sudah retak di sana-sini, dan yang sudah gompel. Masing-masing sudah berisikan tanah yang sudah terisi tiga seperempat bagian.

“Silakan masing-masing ambil sebuah pot,“ profesor itu menginstruksikan.

Lalu terjadilah kehebohan. Masing-masing anak berebut meraih pot-pot yang bentuknya paling bagus. Hermione tetap berdiri sabar untuk menunggu kerumunan itu membubarkan diri. Lalu setelah mengambil sebuah pot yang retak-retak di sana-sini dan bentuknya paling jelek, Hermione kembali ke bangku untuk menunggu instruksi Profesor Sprout selanjutnya.

Profesor Sprout menjentikkan tongkatnya lagi ke arah toples. Biji-biji itu terbang ke luar toples kaca itu, menuju para murid. Hermione mengangkat telapak tangannya dan biji-biji mendarat pelan di atas telapaknya.

“Kalian masing-masing mendapatkan 20 bibit lithelas,” kata Profesor Sprout. “Waktu tanam yang baik adalah awal musim gugur. Jadi pada awal musim semi nanti, lithelas kalian dapat mekar sempurna. Dengan kata lain, kalian memiliki waktu seminggu ini untuk menanamnya sebelum musim panas benar-benar berakhir. Proyek ini akan menjadi nilai tengah semester. Kalian hanya perlu memperlihatkan satu tanaman hasil kerja kalian yang paling baik tumbuhnya.”

“Profesor,” kata Dean Thomas seraya mengerutkan keningnya. “Kami hanya tinggal menanamnya begitu saja?” tanyanya.

“Tentu saja tidak, Mr Thomas,” sahut Profesor Sprout sabar. “Mereka tentu saja perlu dirawat.” Profesor Sprout kembali menatap murid-murid. “Adakah yang mengerti bagaimana cara merawat lithelas?”

Hermione mengangkat tangannya. Dia mendapati lagi bahwa hanya dia seorang yang mengacungkan jarinya.

Demi Merlin. Apa tak ada yang pernah baca buku?

“Cara merawat lithelas sebenarnya mudah-mudah sulit,” katanya. “Apabila kita mengerti ciri-cirinya dengan mudah kita tahu apa yang sedang dibutuhkan tanaman itu. Misalnya, jika tanaman itu bernapas lebih cepat berarti dia memerlukan pupuk kotoran kelelawar lebih banyak.”

“Bagus. Sepuluh angka lagi untuk Gryffindor atas jawaban Miss Granger.”

Bernapas, Profesor?” tanya Dean lagi.

“Persis. Perhatikan, anak-anak.” Dia menunjuk ke arah tanaman itu.

Bisik-bisik menjalar lagi di antara para murid. Awalnya tak ada yang melihat suatu pergerakan apapun pada tanaman itu. Hermione juga tidak. Namun, perlahan dia dapat melihatnya. Tumbuhan itu bergerak pelan melambai seperti dihembuskan oleh angin. Tumbuhan itu bernapas.

“Cara menanam lithelas secara lengkap dapat kalian pelajari di buku Tanam dan Tuai halaman dua ratus dua belas.”

Lonceng berbunyi. Profesor Sprout membereskan alat-alat miliknya. Sebelum beberapa anak-anak keluar kelas, dia menambahkan, “Setiap pelajaran kalian jangan lupa meminta pupuk kotoran kelelawar padaku. Dan tanyakan saja apabila menemui kesulitan.”

Hermione, Ron, dan Harry tergogoh-gopoh membawa pot itu ke ruang rekreasi Gryffindor. (“Minggir, minggir!” seru Ron ketika melewati segerombolan orang untuk memberinya jalan lewat). Mereka tak boleh sembarangan memakai sihir di koridor sekolah seperti yang tertulis di buku peraturan Hogwart. Hal itu jelas menyulitkan mereka ketika hendak menaiki tangga. Dan Hermione nyaris tersungkur ketika anak tangga itu secara sihir tiba-tiba hilang. Dia tak melihatnya karena sibuk menjaga keseimbangan. Untung saja Harry mengingatkannya sebelum Hermione menapak di atasnya.

Mereka tiba di depan lukisan Nyonya Gemuk. Di depan lukisan itu ada beberapa murid kelas satu yang sedang menunggu. Nyonya Gemuk tak membukakannya untuk mereka. Tentu saja. Dia mencoba menyanyikan lagu ciptaannya yang terbaru setelah beberapa waktu lamanya tidak menemukan korban yang tepat—dan tidak mencoba kabur. Anak-anak itu menatap Hermione, Ron, dan Harry penuh harap bahwa mereka bertiga akan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka.

“Lebah menderu,” Hermione berkata.

Wajah nyonya Gemuk bertambah antusias ketika melihat kerumunan baru itu. “Oh, kalian juga harus mendengarnya.“

“Lebah menderu,” Ron mengulangnya.

Nyonya Gemuk menatap Ron dengan kesal. Tapi dia membuka lukisannya. Terima kasih, Merlin, karena tangan Hermione sudah kaku dan mulai terasa kesemutan membawa pot itu.

Anak-anak yang lain mendesah lega, memberikan pandangan terima kasih pada Ron. Nyonya Gemuk gusar ketika anak-anak kelas satu hendak meninggalkannya. “Tunggu, kalian belum mendengar laguku yang paling—“ katanya pada anak-anak kelas satu itu. Tapi, mereka sudah melarikan diri mengikuti Ron ke dalam menara, dan meninggalkan Nyonya Gemuk di belakang.

Hermione, Ron, dan Harry menaruh pot-pot itu di atas karpet. Harry menghempaskan dirinya ke atas sofa seraya melonggarkan dasinya karena kepanasan. Hermione melepaskan jubahnya dan melemparnya ke sofa kosong terdekat.

Ginny yang sedang berbincang-bincang dengan teman sekamarnya, terheran melihat ketiga orang itu dengan barang bawaan yang tidak biasa. Dia menghampiri mereka seraya mengangkat alis. “Apa yang kalian bawa?” katanya sambil memperhatikan pot-pot itu.

“Singkat kata, ini proyek pelajaran herbologi kami sampai awal musim semi,” kata Hermione sambil menunjuk pot-pot itu.

“Sepertinya menarik,” gumam Ginny.

Ron mengerutkan kening. “Ah, tidak juga.”

“Tapi, paling tidak yang jelas lebih menarik daripada yang ditugaskan Hagrid kemarin. Merawat cacing bersisik kelabu? Oh, Merlin. Bagaikan mimpi buruk…Dia menganggap cacing-cacing itu imut sekali, ya ampun…” Dia menggeleng-geleng kepalanya dengan sedih. “Kumohon jangan katakan pada Hagrid, ya? Aku tak ingin dia tersinggung.”

Hermione hanya tersenyum. “Hewan-hewan yang Hagrid sukai memang terlalu ajaib.”

Ron menghempaskan dirinya di atas sofa di samping Harry. Dia mengambil buku Tanam dan Tuai dari dalam tasnya. “Halaman berapa cara menanamnya, Herm?”

“Dua ratus dua belas.”

Ginny menatap pot-pot itu penuh antusias. Harry menjelaskan lebih lanjut proyek lithelas itu padanya.

“Lithelas?” tanya Ginny kemudian kepada Hermione. Tanpa menunggu jawaban hermione, dia melanjutkan, “Mum pernah menceritakan tentang peri hutan dan lithelas padaku. Di rumah kerabat kami yang berada di Irlandia banyak terdapat lithelas. Aku pernah melihat peri hutan suatu kali pada malam hari. Tapi ketika itu aku masih kecil sekali—enam…tujuh tahun? Sekitar itu kurasa.”

“Tak ada peri hutan di sana! Aku tak pernah melihatnya,” kata Ron.

Ginny tersenyum mengejek. “Kau selalu takut keluar rumah Uncle Noam, Ronnie. Apalagi malam-malam. Kau jarang keluar rumahnya karena di ruang tamunya banyak sarang laba-laba yang tergantung.”

“Ya, tapi aku tidak takut.”

Ginny memutar bola matanya.

Lalu wajah Ron bersemu merah. Dia menyerah. “Percayalah, kali itu besar sekali,” katanya meyakinkan agar percaya. “Kakinya dua belas dan—“

Harry nyengir. “Laba-laba memang berkaki banyak, Ron.“

“Mengapa ia harus mempunyai kaki banyak yang menjijikan kalau kita saja bisa hidup dengan dua kaki!“

“Kau ingin disamakan dengan laba-laba?“

Ron mengerutkan keningnya, merasa jijik. “Eeeewww… Yang benar saja.”

“Kupikir, peri hutan sudah jarang populasinya sekarang,” kata Hermione.

“Ya, Memang,” Ginny berpikir sejenak. “Makanya terakhir aku melihatnya ketika aku masih kecil itu. Aku berumur berapa sih ketika itu? Enam atau tujuh, Ron?” tanyanya masih penasaran. Tapi kakaknya yang masih sakit hati rahasianya dibongkar, hanya mengangkat bahu. “Yah, kurasa memang sekitar segitu. Sekarang memang sudah semakin jarang terlihat. Karena daerah rumah kerabat kami itu sudah mulai banyak rumah. Sepertinya peri hutan tak menyukai keramaian. Padahal indah sekali peri hutan itu. Mereka seperti manusia kecil dengan sayap kupu-kupu transparan dan pada malam hari terlihat bersinar. Sayang sekali aku melihatnya dari jauh. Kata pamanku, mereka tak suka di dekati.”

Peri hutan. Seberkas ide terlintas di benaknya.

Hermione ikut melihat buku Ron dan membacanya sejenak. Kemudian, perhatiannya kembali ke pot itu. “Tanamlah bibit lithelas sedalam lima ruas jari.” Dia berpikir sejenak. “Tak sulit. Mudah kelihatannya,” gumam Ron.

Hermione menemukan sendok di atas meja untuk menggali permukaan tanah hingga mencapai kedalaman yang cukup. Harry dan Ron bangkit dari sofa lalu mengikutinya dengan saling bergantian menggunakan sendok itu. Mereka berdua memasukkan bibit itu dengan menyebarnya sekaligus.

“Tidakkah salah satu dari kalian ada yang bisa berpikir logis?” tanya Hermione kesal pada kedua sahabatnya itu.

Harry menatap Hermione tak sabar. “Memangnya apa yang harus dipikirkan?”

“Ya, Mummy?” sahut Ron pada Hermione.

Hermione menghiraukan nada sinis mereka. “Jangan terlalu dekat jaraknya. Beri sedikit ruang pada masing-masing bibit untuk akar mereka,” katanya.

Kedua cowok itu menatap potnya. Sepertinya mereka baru sadar Hermione memang benar. Betapa bodohnya.

Harry dan Ron memperbaiki cara menanam mereka tanpa berkata apa-apa. Kali ini mereka melakukannya tanpa sendok karena tak sabar. Karpet itu menjadi kotor oleh tanah-tanah yang berceceran. Kemudian mereka kembali menimbun bibit itu dengan tanah.

Cara kerja para cowok itu jauh dari rapi. Noda-noda tanah bertebaran. Letak bibit yang tak teratur. Ginny sepertinya lebih paham. Dia membantu kakaknya. Namun Ron menyuruhnya diam saja karena dia pikir dia bisa melakukannya sendiri. Setelah menggerutu pada kakaknya itu, Ginny memutuskan untuk menolong Harry, merapikan tanah dan letak bibit di atas tanah.

Setelah selesai dengan kesibukannya sendiri, Ron mengambil bukunya lagi tanpa memperdulikan keadaan tangannya. Kini buku itu pun menjadi kotor dengan noda kecoklatan. Wajahnya serius membaca setiap instruksinya.

Hermione hanya memasukkan empat butir. Berusaha tak dilihat teman-temannya, dia masukkan sisanya ke dalam saku.

Ron membaca buku itu. Dia mengerutkan keningnya. Lalu dia mencoba membacanya lagi. “Air pertama untuk menyiramnya adalah air yang sudah disinari bulan purnama pada malam sebelumnya.” Dia berpikir sejenak lalu memandang Hermione. “Air yang sudah disinari bulan purnama?” ulang Ron.

Harry baru selesai berkutat dengan tanahnya. “Apa?” tanyanya.

“Tertulis di buku ini,” gumam Ron. Dia memberikan buku itu kepada Harry. Sekarang buku itu dua kali bertambah kotor di tangan Harry. “Harus disiram air yang sudah disinari bulan purnama.”

Ginny mengangguk. “Well, sebentar lagi memang bulan purnama.”

“Bagus kalau begitu,” sahut Hermione. “Kini hanya tinggal merawatnya saja.”

Ron membaca bukunya lagi. “Setelah disiram oleh air untuk pertama kalinya, lithelas harus disiram dengan air biasa setiap pukul empat sore selama tiga minggu awal mereka tumbuh,” gumamnya. “Mudah.”

“Mudah,” ulang Harry. Dia menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk membersihkannya dari noda. Butir-butir tanah jatuh mengotori karpet.

Mereka tergopoh-gopoh membawa pot-pot itu ke balkon kecil di sisi menara. Pot-pot itu dijejerkannya menyamping. Di sana adalah tempat yang tepat untuk merawatnya karena itu satu-satunya tempat di menara Gryffindor yang sering disinari cahaya matahari sepanjang hari. Ron bersikeras dia menginginkan tempat paling ujung agar memperoleh sinar paling banyak. Hermione dan Harry mengalah.

“Hei, aku harus pergi,” sahut Hermione kemudian.

“Ke perpustakaan lagi?” tanya Ginny.

“Ya, begitulah.”

Ginny tertawa. “Kadang kupikir, asramamu itu bukan Gryffindor, melainkan perpustakaan.”

“Tempatnya memang di sana,” ujar Ron mencibir.

Hermione menghiraukannya. Dia mengambil jubahnya yang tergeletak di atas sofa lalu memakainya lagi. “Oke, teman-teman. Kita bertemu ketika makan malam nanti.”

Bye,” sahut Ginny.

Hermione melambai kepada mereka berdua, lalu keluar melalui lubang lukisan.

Dia melewati koridor yang penuh murid-murid. Peeves mulai menjahili anak-anak tahun pertama, mengambil tas salah satu anak dan melayangkannya dengan membuat dirinya tak kelihatan. Hermione menyelamatkan anak-anak itu dengan mengancamnya memanggil Baron Berdarah. Celakanya dia tak lagi takut dengan ancaman itu. Sudah bertahun-tahun lamanya ia di sini, pastinya tak hanya sekali ada orang yang mengancam dengan hal itu. Namun karena kebetulan, Baron Berdarah benar-benar datang melintas. Peeves pergi meninggalkan mereka dengan kalang-kabut. Setelah itu, Hermione berbelok menuju tangga utama. Dia mengacuhkan segerombolan cowok-cowok Slytherin yang menggoda dan bersiul padanya ketika dia menuruni tangga itu.

Kadang Hermione menikmati pandangan cowok-cowok pada dirinya. Namun, apabila yang menatapnya cowok-cowok Slytherin, pandangan itu terasa memuakkan.

Dan di antara mereka, tak ada Malfoy.

Hermione ingin Malfoy menyadari kehadirannya. Menyadari kehadiran seorang gadis yang biasa dia sebut dengan darah lumpur. Hermione akan senang, apabila Malfoy ada ketika teman-teman Slytherinya memandangi gadis itu—paling tidak karena mereka menyadari Hermione ada. Dia ingin menunjukkan dirinya sebagai sosok gadis yang lebih dari sekedar darah lumpur yang Malfoy ejek setiap saat. Bahwa dia telah tumbuh menjadi seseorang yang tak pernah Malfoy bayangkan.

Hermione melangkah keluar kastil Hogwart.

Tunggu.

Keluar kastil. Bukan ke perpustakaan. Dia berbohong pada teman-temannya?

Well, ya benar. Karena dia memiliki rencana.

Hermione keluar kastil melalui jembatan ke gubuk Hagrid. Dia mengikuti jalan setapak yang menjauhi kastil. Dia memastikan tak ada orang yang melihatnya. Kemudian dia melihat pohon Dedalu Perkasa yang pernah dia lihat ketika tahun ketiga bersama Harry dan Ron. Ya, dia akan pergi ke Shrieking Shack. Dia tahu rute tercepat ke Shrieking Shack tanpa memasuki terowongan. Karena pada dasarnya terowongan itu digunakan untuk melarikan diri melalui jalan bawah tanah pada masa kegelapan sekitar tujuh belas tahun yang lalu. Jadi, terowongan itu bukan rute tercepat.

Dia melewati hutan. Para murid cenderung ketakutan dengan hutan karena imej Hutan Terlarang yang sudah melekat dalam benak mereka. Bahaya itu. Hewan-hewan berbahaya itu. Dan kegelapannya. Tapi Hermione sudah percaya pada kemampuannya sendiri. Dia jelas salah seorang penyihir muda yang hebat dan mengerti bagaimana memepertahankan diri. Makanya dia berani memasukinya.

Hutan itu sangat indah pada waktu terang. Pepohonan raksasa tumbuh rapat. Sinar matahari yang sulit menembus hutan itu, menciptakan bias-bias yang indah seperti sulur di tiap sela-sela dedaunannya.

Hermione tak merasa takut lagi memasuki hutan itu. Dia sering memasuki hutan itu bersama kedua temannya selama bertempur melawan Voldemort—dia mulai membiasakan diri untuk menyebut nama itu. Dan entah dimana Voldemort sekarang. Di suatu tempat. Menunggu saat yang tepat untuk menyerang dan menebar mimpi buruk.

Tak lama kemudian, Hermione melihat Shrieking Shack itu. Tak banyak berubah. Tetap menyeramkan seperti dulu.

Dia tak memasuki rumah bobrok itu. Dia hanya melewati halaman samping tak terawat yang dipenuhi rumput liar yang tak terpangkas hingga tumbuh tinggi. Kemudian dia memasuki pepohonan lagi dan menemukan padang rumput kecil. Seratus meter tak jauh darinya, danau terlihat terhampar luas. Tempat itu tak akan didatangi siapapun. Imej menyeramkan tentang Hutan Terlarang menyebabkan orang akan berpikir dua kali untuk ke sana. Apalagi rumor menyeramkan yang dimiliki oleh Shrieking Shack.

Tempat yang tepat, pikirnya. Ide tentang ingin melihat peri hutan terlintas di benaknya setelah mendengar cerita Ginny. Aku harus melihatnya sendiri, bukan gambar seperti di buku. Melihat keindahannya. Sisa-sisa keanggunannya.

Ya, aku harus melihatnya.

Hermione mengeluarkan bibit-bibit lithelas itu dengan tersenyum lalu masuk lagi ke dalam hutan.


***


“Draco.“

Draco tak menjawab. Cewek Ravenclaw itu hampir selesai mengancingkan kemejanya. Dan tangan Draco terhenti membuka kenop menuju pintu keluar. Dia berbalik, menatap si cewek itu dengan malas. Si Ravenclaw itu berjalan perlahan menghampiri Draco sambil tersenyum menggoda. Dia menarik ujung lengan cowok itu perlahan, menatap Draco dengan melalui bulu matanya yang lentik.

“Yang tadi itu menakjubkan. Kapan kita bisa bertemu lagi?”

Draco mengangkat bahu. “Kita lihat saja.”

“Bisakah kau meninggalkan urusanmu dulu? Kau tampak terburu-buru.” Gadis itu memberikan kecupan kilat di ujung bibirnya. Dia meluruskan keliman kemeja Draco dengan jemarinya. “Apa kita harus selesai sekarang?”

“Ya,” sahutnya singkat, melangkah lalu menutup pintu di depan wajah gadis itu.

Koridor terlihat lebih sepi daripada biasanya. Dia melewati menara jam, menuju ke lingkar batu tinggi di ujung jembatan di samping kastil. Dia bertemu si Seeker, Will Harper, ketika melewati jalan setapak dekat lapangan Quiditch. Cowok bertubuh kecil itu menyapanya basa-basi dan mengingatkannya melatih formasi baru pada latihan Quidditch esok sore.

“Yeah. Ingatkan aku lagi besok,” balas Draco, bersemangat.

Will melambai. “Pasti.”

Draco tersenyum sekadarnya.

Ketika Will berbelok untuk masuk ke kastil Hogwart dan hilang dari pandangannya, Draco meneruskan langkahnya. Tak ada lagi orang dalam perjalanan itu. Dia keluar dari jalan setapak lalu memasuki hutan. Pepohonan di hutan itu cukup lebat. Namun cukup lebat untuk menghalangi sedikit sinar matahari. Dan hutan itu tidak sunyi. Burung-burung masih berkicau walaupun matahari sudah tinggi. Seekor kelinci melompat ke arah semak-semak rimbun ketika dia datang. Tak lama kemudian, hutan itu habis berganti padang rumput kecil dengan danaunya.

Draco memandang sekelilingnya. Dia menemukan apa yang dia cari. Anjing itu tampak mencolok dengan alam di sekitarnya. Anjing itu berjenis husky dan lebih menyerupai serigala daripada anjing pada umumnya. Bulunya yang abu-abu dan putih kontras dengan rerumputan hijau menguning dan tinggi-tinggi. Matanya yang hijau menatap tajam hewan buruannya. Instingnya sebagai serigala tetap dimilikinya. Kofu–namanya- menyadari tuannya sudah datang, namun dia menghiraukan Draco. Dia tengah sibuk memakan hewan buruannya—mungkin kelinci.

Setelah mendengus kesal teracuhkan oleh anjingnya sendiri, dia duduk di bawah sebuah pohon di tepi hutan itu.

Draco berbaring di atas rerumputan dengan kedua tangan di belakang kepalanya sebagai bantalan. Lalu memejamkan matanya. Dia dapat merasakan rumput liar yang panjang itu menggelitik kulit dan wajahnya ketika angin berhembus pelan. Dedaunan yang bergantung di dahan-dahan pohon melindunginya dari sinar matahari siang di awal musim gugur itu. Udara musim gugur yang khas kini mulai tercium jelas.

Dan tempat itu sangat sempurna untuknya. Tempatnya setiap kali dia ingin menikmati waktu luang. Sangat menenangkan. Jauh dari Hogwart. Tapi jauh dari bahaya hutan terlarang. Takkan ada orang yang mendekati tempat itu. Cewek-cewek bodoh itu atau mereka yang menjilat kebesaran keluarga Malfoy. Draco memang menikmatinya, namun toh kadang dia juga bisa merasa bosan.

Lima. Jumlah itu yang dia lakukan di ranjang bersama gadis yang berbeda dalam satu minggu ini. Melelahkan. Semua hal itu membentuk imej siapa Draco Malfoy sebenarnya. Si Casanova. Semua sudah mengetahui seberapa nakalnya dia. Dan Draco menyukainya. Kemampuan seorang Malfoy terhadap lawan gendernya, mengharapkan dirinya, dan putus asa olehnya.

Namun tak ada perasaan yang terlibat. Terlarang. Dia menyukai gadis-gadis itu yang memohon padanya. Tapi dia mencintai dirinya sendiri. Pansy merupakan gadis yang paling banyak menghabiskan waktu paling banyak bersamanya. Semua juga sudah mengetahuinya. Dia senang bersama Draco. Draco bangga mengetahui Pansy kecanduan padanya. Gadis itu sering menggumamkan nama Draco. Dan Draco menikmatinya. Tapi tak ada yang lebih. Tidur dengannya—dan gadis lain—menjadikannya seperti olah raga. Dan ibarat olah raga, maka hal itu pun setara dengan bakat.

Draco menikmati kenyamannya di tempat itu. Tak ingin bertemu dengan siapapun. Dan dia merasa dia sudah tertidur karena ia mendengar suara teriakan seorang gadis yang sayup-sayup.

Mimpinya mungkin. Beberapa detik kemudian, teriakan itu hilang. Namun teriakan itu tergantikan oleh suara gonggongan. Awalnya kecil, lalu membesar ketika Draco mendapatkan kesadaran dari tidurnya.

Kofu menggonggong di dalam hutan.

Mungkin ada kelinci bodoh ingin menjajal kekuatan rahang Kofu padanya dengan melewati anjing itu. Tapi kenapa harus sekarang, Draco berpikir. Mengganggu waktu—brengsek— luangku.

“Tinggalkan makhluk keparat itu!” Draco berseru.

Matanya tetap terpejam, berusaha kempali ke alam bawah sadarnya. Tapi, hal itu tak berguna. Suara Kofu tetap terdengar dan semakin keras. Draco putus asa. Dia duduk dengan kesal. “Brengsek,” Draco mengumpat pelan. Apakah ada tempat yang jauh dari peradaban di sekitar sini?

Draco berdiri lalu berbalik ke arah hutan menuju gonggongan Kofu. Dia tahu, anjing itu takkan berhenti menggonggong hingga dia mendapatkan buruannya. Pernah suatu malam Draco meninggalkan Kofu yang sedang mengonggongi tupai di atas pohon. Lalu keesokan paginya, dia melihat anjing itu tetap berada di bawah pohon dengan mengibaskan ekornya. Hewan itu menunggu sehari penuh dengan menatap ke atas pohon untuk menunggu tupai bodoh itu keluar.

Suara Kofu terdengar semakin keras seiring bertambah dekatnya dia dengan anjing itu. Dia melewati semak belukar. Lalu dia melihatnya.

Kofu menyalak ke arahnya. Gadis itu berjongkok di atas pohon. Wajahnya menyiratkan ketakutan. Anjing itu menatapnya dari bawah dan terus menggonggong keras dengan riang—well, tentunya gadis itu tak menyadari Kofu sedang riang. Gadis itu menyadari kedatangan Draco. Dia berusaha menyembunyikan rasa takut dari wajahnya dan berganti melempar pandangan ini-salah-mu. Dia segera menarik roknya untuk menutupi pahanya perlahan—Draco menatap kulit itu sedetik—lalu gadis itu membenarkan posisi kakinya—berusaha untuk tidak lebih dari sedetik. Dan jelas sekali dia tak ingin Draco mengetahui ketakutannya. Dan Draco tahu, dia juga tak berniat meminta tolong padanya. Tak akan, sebenarnya. Draco tahu pasti. Karena gadis itu berambut coklat bergelombang. Matanya berwarna coklat madu keras kepala. Dan dia—

Hermione Granger.

Apa yang sedang dia lakukan di hutan ini? Tidakkah dia memiliki tempat lain yang lebih layak—dan masuk akal untuknya—daripada di sini? Well, aku di sini karena ingin jauh dari peradaban. Itu masuk akal untukku. Tapi tidak untuknya.

Setelah puas dengan pandangan ini-salah-mu-nya, Granger kembali menatap Kofu. Kelihatannya kini dia bingung siapa yang harus lebih dipersalahkan. Karenanya, dia kembali menatap Draco.

“Seharusnya dari awal aku tahu ini memang perbuatan busukmu, Malfoy!” tukasnya galak.

Apa? Awalnya kebingungan menyergap Draco. Apa maksudnya? Memangnya apa yang aku lakukan? Kalau aku tahu dia datang, dengan senang hati memang aku akan membuatnya hidup seperti di neraka.

Lalu perlahan Draco mulai menyadarinya. Granger telah menuduhnya, menyuruh Kofu untuk menggonggongi gadis itu. Draco tersenyum, memutuskan meneruskan peran sebagai orang yang baru saja membuat Granger sial. Draco bersandar pada pohon di belakangnya dan memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Dia tak berniat membela diri karena apa yang yang membuat Granger kesal, jelas takkan membuat Draco keberatan.

“Sepertinya kau tak butuh bantuan,” katanya, mengejek posisi yang tidak menguntungkan itu. Kofu mendengar suara Draco di belakangnya lalu memutuskan untuk berhenti menggonggongi Granger.

“Siapa yang kelihatannya seperti membutuhkan bantuanmu?” serunya lebih menyerupai pernyataan ketimbang pertanyaan.

“Kau?”

Granger membuka mulut, hendak membalas. Namun sepertinya dia mengurungkan niatnya—tak tahu apa yang harus dia katakan. Wajahnya merah padam. Draco tahu, dirinya tepat sasaran. Draco senang melihatnya seperti orang bodoh. Tak seperti biasanya yang selalu tangan terangkat di kelas.

Granger hendak mengeluarkan serangannya lagi. “Aku takkan menerima bantuan dari keparat yang menyebabkan orang terpaksa menerima bantuannya.”

Draco tersenyum. Granger benar-benar tampak bodoh jika sedang panik begitu. “Siapa yang bilang aku akan membantumu, Granger.”

“Aku memang tak pernah minta, brengsek!”

“Oke,” sahut Draco singkat.

“Baik.”

“Kofu, gigit dia!”

Kofu kembali menyalak dengan keras. Granger terkejut dan nyaris kehilangan keseimbangan. Namun, dia menemukan keseimbangannya dengan memegang dahan kecil yang ada di depannya.

“Keparat.”

“Terima kasih kembali.”

Granger memutar bola matanya. Lalu, dia menatap ke sekelilingnya, mencari jalan keluar. Ke tanah, pepohohan, semua arah kecuali menatap Draco.

Draco menghampiri anjing itu, membungkuk, dan menggaruk belakang telinganya. Kofu diam dalam sekejap. “Bagaimana bisa kau naik tapi tak bisa turun?”

“Dengan mudah aku turun apabila kau dan anjing bodohmu itu pergi.”

“Yeah, bagus kalau begitu,” ujar Draco sinis. “Dan dimana tongkat sihirmu?”

“Well, itu…itu—”

Granger tak mengatakan apa-apa. Wajahnya merah padam lagi. Dia menatap suatu tempat di bawah, atas rerumputan. Tongkatnya tergeletak di sana. Granger telah menjatuhkannya. Bagaimana bisa? Dia—kata mereka—gadis terpintar di Hogwart. Sangat ceroboh. Dengan begini, kini dia tak ada bedanya dengan si Neville-idiot-Longbottom.

“Enyahlah, Malfoy,” geram Granger tak sabar. “ Aku hanya butuh kau dan anjingmu pergi dari sini sehingga aku bisa turun.”

“Jangan kuatir, Granger,” Draco menyahut. “Tak ada yang lebih indah dari tidak melihat darah lumpur di muka bumi ini.” Dia berbalik meninggalkannya. “Sampai jumpa. Ciao.”

Mungkin dia sebenarnya bermasalah di balik otaknya. Idiot atau semacamnya. Darah lumpur takkan ada yang pernah beres. Tak bisa dibandingkan dengan darahnya. Bagaimanapun pintarnya, rupa wajahnya, tubuhnya―

Draco memanggil Kofu untuk mengikutinya. Mereka berbalik dan menuju balik semak-semak dari tempat dia berasal tadi, berharap dapat melanjutkan tidur siang yang terganggu oleh si darah lumpur keparat itu. Tak jauh dia melangkah, kemudian dia mendengar suara debam keras disambung suara rintihan, “Ouch!”

Granger. Tak dapat diragukan lagi, dia bersama kepala batunya sukses terjun bebas mengikuti gaya gravitasi. Tapi seperti biasa…

Siapa peduli.

_________________________________________________________________________________________

Sori cuma sampe sini aja. Sambungannya ngga akan gw posting di thread ini lagi. Tapi silakan cek langsung di fanfiction.net, nih linknya:
http://www.fanfiction.net/s/3186991/3/Dua_Sisi
« Last Edit: November 09, 2008, 01:39:16 pm by apocrief » Logged

k4gome
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 613

Merry X'Mas & Happy New Year


« Reply #3 on: December 09, 2007, 09:13:05 pm »

kereeeeeeeeeen
Logged

Merry X'Mas & Happy New Year.....
apocrief
Forum Machi
***
Offline Offline

Posts: 2495


Apocrief is a female! DOH!


« Reply #4 on: December 12, 2007, 10:45:05 am »

HUE HE HE HE...Gw agak takjub, ada yg mw posting. Secara panjang abiz, bukan begitu? Di hape gw bahkan ga mw kebuka gara2 kepanjangan (dan masih bersambung pula).

Dan lagi...SPLIT GARIS NGGA KE-PASTE. Kok bisa ya? Gw cuma copy-paste dari fanfiction.net. Jadinya bacanya kan pusing—keliatan kaya ngga ada jeda di babnya. PADAHAL DI FF.net ADA!!!

(Hingga bulan desember 2007, di fanfiction.net udah 18 review nih...)
« Last Edit: June 06, 2008, 07:18:36 pm by apocrief » Logged

k4gome
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 613

Merry X'Mas & Happy New Year


« Reply #5 on: December 12, 2007, 04:50:07 pm »

hahaha, iya panjang banget... tapi keren.. cuman mata gw jadi  Cheesy Cheesy 2 hari abis baca.. hahahahha.. kreatif... terusin ya.. wkakakkaka..

ntar klo ada yang baru kabar"in... heheheh
Logged

Merry X'Mas & Happy New Year.....
Kristi dan Sari
Special Member
Penyelam Unggul
*****
Offline Offline

Posts: 17593


Kiyoi is the best lah! Hassei Takano we Love you!


WWW
« Reply #6 on: December 14, 2007, 04:14:34 pm »

aku komen di FF.net nya aja yah ^^ thx udah sharing
Logged

apocrief
Forum Machi
***
Offline Offline

Posts: 2495


Apocrief is a female! DOH!


« Reply #7 on: December 15, 2007, 12:46:02 pm »

hahaha, iya panjang banget... tapi keren.. cuman mata gw jadi  Cheesy Cheesy 2 hari abis baca.. hahahahha.. kreatif... terusin ya.. wkakakkaka..

ntar klo ada yang baru kabar"in... heheheh
sudahlah...cek aja di fanfiction.net. Cool 1 kan ngga mungkin juga gw posting di sini...nanti lautan indonesia hang gara2 postingan (chapter2 'Dua Sisi') gw yang kepanjangan.
BIsa diamuk masa gw...
Logged

k4gome
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 613

Merry X'Mas & Happy New Year


« Reply #8 on: December 15, 2007, 09:29:40 pm »

hahaha, iya panjang banget... tapi keren.. cuman mata gw jadi  Cheesy Cheesy 2 hari abis baca.. hahahahha.. kreatif... terusin ya.. wkakakkaka..

ntar klo ada yang baru kabar"in... heheheh
sudahlah...cek aja di fanfiction.net. Cool 1 kan ngga mungkin juga gw posting di sini...nanti lautan indonesia hang gara2 postingan (chapter2 'Dua Sisi') gw yang kepanjangan.
BIsa diamuk masa gw...

iya, gw dah lanjut kesana, baru nyampe chapter 7 tapi...
Logged

Merry X'Mas & Happy New Year.....
tomoyo_asakusa
Tomodachi
****
Offline Offline

Posts: 4321


Then shut up and let me plaster ur troubled mouth


WWW
« Reply #9 on: December 16, 2007, 11:39:37 am »

Hahaha kalo hang sih enggak, cuman pasti butuh waktu yg lama buat ngebacanya =))
Bagus kog, aku suka kalimat"nya =]]
Lanjutin nulisnya!
Logged

LJ LJ LJ Livejournal~!!!
blabbering mode on: click!
Lautan Indonesia - Forum Indonesia Terbesar dan Terlengkap
   

 Logged
Pages:  [1] 2 3 4 5 ... 237   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.10 | SMF © 2006-2009, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!
Page created in 1.061 seconds with 26 queries. (Pretty URLs adds 0.143s, 3q)