Tadinya ni thread cuma untuk promo fanfic gw doang. Tapi ujung2nya jadi tempat ngobrol ngalor-ngidul para dramioniac begini, hua ha ha...

Tapi malah asik bisa sharing semua tentang Dramione.
Tapi jangan heran ya jikalau nanti banyak emoticon bergambar

atau

atau

.
Terkadang kita share link fanfic M rated. Now...now...I've been warnin ye.

***

(Credit to
Kojaplover. Thanks berat ya, bu!

)

(Credit to ME

)
Fandom:Harry Potter
Pairing: Draco-HermioneCuplikan: Mereka pikir mereka hidup di dunia yang berbeda. Pikirkan lagi... Semua yang membedakan. Dan apa yang membuatnya sama. Kebencian. Persahabatan. Harga diri. Dalih.... Hasrat?
Apocrief sez:First of all, gw tahu pairing Dr-H kurang familiar di Indonesia. But, just try! Gw suka pairing ini karena kontradiksi dari dua karakter inilah yang membuatnya menjadi hot. Full of conflicts. Gryffindor - Slytherin. Princess of the Golden Trio - Prince of Slytherin. Bookworm of Gryffindor – Badboy. Pureblood – Mudblood. Beauty – Beast (dlm arti konotasi). Mmmhh… delecious, rite?
Enjoy...___________________________________________________________________________________________
Warning: IT’S AN M!!! MATURE!!! Kalo fanfic luar, mungkin ini masih termasuk T. Tapi karena gue orangnya baek en toleran ma budaya timur (halah!), so M ajalah untuk amannya. Rencananya, sesuatu yg agak ‘di luar batas asusila’ akan gue buat seimplisit mungkin. Soalnya, kl berlebihan terasa norak jg sih.
Rating M untuk bad languange—dan nyerempet2 sesuatu yang (of course) agak ‘di luar batas asusila’, he he...
And oh...again, gue jelas ngga ikutin plot HP yang Halfblood Prince. 
______________________________________________________________________________
BAB 1
Hermione Granger melihatnya ketika gadis itu memasuki Aula Besar. Keberadaannya tak mungkin tak disadari. Apalagi dengan rambut itu, pirang-brengsek-platinum itu. Dan kebencian itu telah jauh meresap ke dalam setiap sel darah, menyalakan alarm dari kehadirannya. Mata biru-kelabu itu bak mata pemangsa yang seakan sanggup menembus, membaca pikirannya seperti buku yang terbuka. Darah Hermione mendidih dan rasa panas yang familiar mengalir melalui setiap pembuluh darah. Ya, hanya dengan menatap sosok itu, kebencian itu sekan menyeruak dan tak sanggup dia sembunyikan dari wajahnya.
Cowok itu tersenyum sinis. Tak heran. Mungkin hanya itu yang bisa dilakukannya selama dia hidup.
Draco Malfoy.
Si Slytherin menatapnya dengan pandangan benci yang sama, pandangan benci yang tak dapat dibandingkan kuantitasnya antara kebencian Hermione pada keparat itu atau sebaliknya. Seakan tak ingin menyimpan kebencian itu untuk dirinya sendiri, cowok itu berbisik dengan kedua sahabatnya, Crabbe dan Goyle. Mereka menyeringai. Tentu saja. Mereka tak beda dan sama brengseknya dengan pemimpinnya.
Hermione memalingkan wajahnya berharap rasa panas itu segera hilang. Dia duduk di antara Harry dan Ron, berusaha menghiraukan si rambut pirang brengsek itu seperti yang dilakukan kedua sahabatnya.
Merlin, kebencian ini takkan pernah berakhir, Hermione sering berkata dalam hati. Benarkah seperti itu, dia bertanya-tanya. Hermione merupakan salah satu dari mereka yang percaya, manusia adalah abu-abu; tak ada yang hitam dan tak ada yang benar-benar putih. Bahwa yang terjahat pun dalam dunia ini mempunyai
sisi putih walaupun sedikit kuantitasnya. Namun, Draco Malfoy adalah pengecualian. Dia seperti iblis.
Badboy. Tak ada yang baik dalam dirinya. Pangeran Slytherin. Indah. Tapi arogan.
Batas antara dirinya dengan Malfoy sungguh jelas. Semua orang dapat melihatnya sejelas refleksi diri dalam cermin. Kedua sisi itu begitu nyata. Begitu berbeda. Begitu berlawanan. Begitu—
Terpisah.
“Apa tujuan Draco Malfoy diciptakan ke dunia ini?” geram Ron setiap kali dia, Hermione, dan Harry, selesai terlibat keributan dengannya. Ron hampir selalu meributkan keeksistensian makhluk itu. Ron dan Hermione harus lebih sering bertemu dengan Malfoy yang menghadiri rapat-rapat prefek rutin tiap minggu. Hermione selalu menenangkan Ron, mengatakan untuk mengacuhkan cowok keparat itu. Tapi, Hermione tahu, dia sendiri tak mungkin mengacuhkan keberadaannya. Karena dia memang nyata. Dia eksis di dunia yang sama dan di masa yang sama.
Dan bagaimanapun juga Ron benar. Demi Merlin,
apa tujuan Draco Malfoy diciptakan ke dunia ini?Mungkin sebagian anak perempuan di Hogwarts lebih tahu dibanding mereka. Koreksi: semua anak perempuan. Rambut pirang dengan mata biru-kelabunya seakan menyerap segala keindahan yang Malfoy lewati. Ya, Hermione mengakui ketampanan Draco Malfoy si Pangeran Slytherin, kapten tim quiditch untuk asramanya, dan prefek. Tetapi—f**k—dia sangat membencinya. Dan Dia tak pernah keberatan terus mengulangnya dalam hati.
Aku benci dia.
Hermione juga menginginkan Malfoy mengakui keberadaannya. Malfoy harus menyadari
nya. Well, Hermione tahu, dirinya berhasil terhadap cowok-cowok yang lain. Mereka menyadari Hermione sebagai
wanita setelah penampilan perdananya pada pesta dansa tahun ke empat. Sejak saat itu, secara konsisten mereka mulai meliriknya. Dan kadang dia menikmatinya. Semua anak cowok itu diam-diam meliriknya—walaupun sering kali tidak terang-terangan. Namun Malfoy yang paling berbeda dari semuanya. Cowok itu tidak pernah menatapnya seperti yang dilakukan cowok lain. Tatapan itu tak pernah lebih dari tatapan penuh keangkuhan dan merendahkan. Sungguh memuakkan.
Malfoy tak perlu mengatakan apapun untuk membuat Hermione muak. Dia hanya perlu menatapnya saja, seakan Malfoy tahu hanya dengan menatap, dia sanggup membuat gadis itu frustasi. Frustasi akan kebencian yang mendidihkan darahnya. Dan kemudian dia memperlihatkan senyum mengejeknya yang terkenal seakan-akan berkata—
“Aku memandangmu rendah.”
Aku benci padamu.
Lagi. Begitu mudah mengatakan kata-kata itu padamu. Dan yang paling menyedihkan, aku tak tahu kapan aku harus berhenti mengatakan hal itu. Sangat buruk membenci seseorang seperti itu.
Tetapi kecuali untukmu, Malfoy.
Karena aku tak keberatan untuk mengulang kata-kata itu untukmu.
***
“Kita sudah membicarakannya. Dan karena kita sudah mempunyai tanggung jawab pada tugasnya masing-masing, ada baiknya—” kata Ketua Murid Putri, Hermione Granger, pada pertemuan para prefek pada sore harinya.
“Granger, tidakkah kau harus mengatakan sesuatu?” Malfoy bergumam dengan sinisme yang tidak berusaha dia tutupi. Dia selalu senang memperlihatkannya.
Hermione mengerling singkat, berusaha untuk sabar. “Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu, Malfoy.“
“Katakanlah sesuatu, Blaise,” sahut Malfoy pada rekannya untuk membela.
Blaise Zabini si Ketua Murid Putra menarik napas. “Grang—”
“Tidakkah kalian sadar kita mempunyai sesuatu yang lebih penting untuk diurus saat ini?” potong Hermione sambil mengetuk-etukkan jemarinya tak sabar di atas meja. “Ini terlalu kekanak-kanakan.”
Malfoy berdiri dan menghadap prefek-prefek lain. “Maafkan aku atas interupsinya,
ladies and gentlemen. Dan maafkan atas keterlambatan tadi. Tetapi percayalah kesalahan ini jelas tak hanya disebabkan dari pihak kami saja. Pengumuman jelas tidak sampai pada telinga yang tepat.” Malfoy mengerling ke arah Hermione dengan pandangan menyalahkan. Lalu dia berdeham sejenak mengumpulkan wibawa. Wibawa—
my arse!
“Malfoy―” geramnya.
Tapi seperti biasa Malfoy tak peduli. Dan Hermione tak heran ketika Malfoy terus bicara. “Sebagai Ketua Murid Putri yang terhormat, dia harus bisa mengintegrasikan perbedaan di antara kita. Dengan mengesampingkan rasa benci, misalnya. Serta,” Dia terhenti lagi untuk memberikan efek dramatis. Demi Merlin! Bagaimana dia bisa mengatakan hal-hal seperti itu? Mengesampingkan rasa benci?!?! “Dia harus bertindak secara profesional dan bertanggung-jawab agar tidak mencampuradukkan perasaan pribadi dengan tugas.”
Hermione merasa wajahnya merah padam, hampir tak dapat menahan kekesalan. “Kurasa, tadi kita sudah membahas masalah itu sejelas-jelasnya, Malfoy,” katanya sesopan mungkin, namun dengan segala kemarahan yang tertahan tersembunyi secara implisit dalam setiap kata-katanya.
Ron mengangkat tangannya. Wajahnya menyiratkan perasaan muak. “Hermione benar-benar sudah memberitahumu. Di koridor itu. Mungkin kau terlalu sibuk dengan
rapatmu sendiri yang penuh cekakak-cikikik dengan gadis Ravenclaw itu. Kau ingat?”
“Oh, benarkah, Weasley?” tanya Malfoy, berpura-pura terkejut.
“Ya, Malfoy. Tidakkah kau menerima pesanku?”
Malfoy kembali menatap Hermione. “Maaf, pesan apa?”
“Tugasmu untuk membawa bokongmu ke sini. Pesan itu cukup jelas.”
Malfoy mengangkat bahunya. “Aku tak mengerti, pesan yang mana?”
“Pesan tentang rapat prefek yang diadakan di kelas transfigurasi pukul lima sore,” Hermione berkata tak sabar. “Kurasa itu sudah sangat jel—“
“Ooooh.
Itu,“ Malfoy mengangguk-angguk. “Maksudmu ketika kau menabrak bahuku, lalu wajahmu merah karena semua buku-bukumu berjatuhan, lalu kau menyemburkan omong kosong yang abstrak di sela-sela napasmu?”
Beberapa murid tertawa cekikikan. Ketua Murid Putra tertawa. Sedangkan Hermione melemparkan pandangan menegur ke arah semuanya.
“Kau sudah di sini sekarang, Malfoy. Jangan buang waktuku,” tukas Ron.
“Ron, sudahlah,” tegur Hermione. Dia tahu jika diteruskan, pembicaraan mereka akan sampai tahap yang benar-benar dia ingin hindari.
Namun sepertinya Malfoy berpikiran lain. “Jangan
apa,Weasley?” Dia menatap Ron, memulai kofrontasinya. “Tahukah kau bahwa kau mengganggu pandanganku semenjak rambut merahmu—”
Hermione mulai merasakan pertanda. “Hentikan―”
“Ada apa dengan rambutku, pirang?” sela Ron.
“Membuat mataku iritasi, kantung sampah,” balas Malfoy.
“Congkel saja matamu keluar, kecoak bus—”
“HEENTIKAAAN!” serunya dengan volume suara yang lebih keras dari yang diharapkan. Wajahnya memerah―entah lebih karena malu atau karena marah. Dia menyilangkan kedua tangannya untuk membentuk huruf X. “Tutup mulut kalian berdua.”
Zabini tertawa kecil, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hermione merasa pening di kepalanya. Tidakkah ada yang bersikap dewasa di sini? Seharusnya dia harus mulai terbiasa dengan hal ini. Demi Merlin, dua tahun adalah seharusnya waktu yang cukup lama untuk mencoba membiasakan diri. Tapi, dia menyadari sepenuhnya bahwa dia takkan pernah terbiasa dengan keparat itu.
Ketua Murid Putri. Itulah ambisi Hermione selama tahun ke enam kemarin. Dan dia berhasil. Tak anak perempuan lain yang dapat menandingi popularitasnya. Hermione Granger yang sedang mengalami masa keemasannya. Gadis terpintar di Hogwart. Murid terpintar di Hogwart. Jadi, dia memperoleh jabatan itu.
Dan dia kira segalanya akan beres dengan kepemimpinannya—bersama Blaise Zabini sebagai Ketua Murid Putra. Zabini cukup baik dengan jabatannya. Tapi tetap saja—dia seorang Slytherin. Seperti murid-murid Slytherin lain, dia takkan senang berada di dekat Hermione Granger. Slytherin tetap Slytherin. Tempatnya segala kejahatan. Dan celakanya, Zabini tetap mendapat pengaruh yang sangat besar dari Malfoy pada posisinya.
Malfoy awalnya banyak dijagokan untuk menjadi Ketua Murid Putra. Popularitasnya sangat mendukung. Dia adalah cowok yang paling populer saat ini setelah Harry. Dia dengan nama belakang keluarga Malfoy yang tersohor. Dan dengan wajah itu—
Oh, brengsek. Aku tak percaya, aku mengakui dia tampan.
Sebagai Kapten Quidditch, sepertinya dia terlalu sibuk menjalankan tugasnya sebagai Pangeran Slytherin yang setia. Mungkin dia memang masih berminat, namun jelas para guru tidak akan setuju. Dia memiliki catatan buruk sebagai anak nakal. Dia terlalu suka mengintimidasi orang. Dia hampir tidak pernah dihukum karena Slytherin memang jago mengakali peraturan. Jadi walaupun dia gagal menjadi Ketua Murid, melalui Zabini cowok itu tetap dapat memperlihatkan—
mempertahankan bahwa dia masih memiliki kekuasaan dan pengaruh.
Hermione—Ketua Murid. Draco Malfoy—prefek.
Hermione unggul karena posisinya lebih tinggi dari keparat itu. Jadi dia bisa sebebas mungkin memotong poin asramanya jika suatu kali cowok keparat itu mulai melontarkan kata-kata yang tidak koheren dari mulutnya. Atau dia bisa memberikan selusin detensi kapan saja. Benar begitu, kan?
Salah.
Tentu saja Malfoy takkan diam saja di bawah kendali seorang Gryffindor. Cowok itu takkan pernah secara sukarela menjadi bawahan seseorang yang mungkin seumur hidup dia panggil darah lumpur. Takkan ada dalam kamusnya. Maka di sinilah mereka. Hermione, Ron, Zabini, dan Malfoy memperlihatkan pertahanan terbaik mereka di depan para prefek lain sebagai penonton dan penilai pertunjukkan reguler itu.
Oh, Malfoy. Mengapa kau tak diam saja. Diam dan dengar. Jangan buang tenagamu. Carilah gadis yang dapat membantumu menghabiskan tenagamu di atas ranjang. Oh, aku benci padamu. Aku benci padamu.
Hermione berdeham untuk mengembalikan kewibawaanya. “Okee…” Hermione menghela napas.
Malfoy mengalihkan pandangan sambil mendengus.
“Baiklah,” kata Hermione lagi.
Zabini menghela napas tak sabar. “Well, rapat sudah berjalan baik,” katanya dengan nada mengejek menimpali oke-baiklah singkat dari Hermione. “Lakukan saja tugas kalian dengan baik.”
Hermione berdeham lagi. “Adakah yang—”
“Rapat bubar,” Zabini memotong.
A-apa? Whoa, tunggu dulu!
“Hei! Kita belum selesai,” sahut Hermione berusaha mengumpulkan perhatian setiap orang. Dia menatap Zabini dengan kesal, lalu kembali menatap para prefek. “Sebelum kalian pergi, aku ingin bertanya apa kalian mempunyai pertanyaan?”
Malfoy duduk dengan malas, mencemooh. “Jika ada pertanyaan, kami akan bartanya dari tadi, idiot.”
Hermione mengacuhkannya. Tapi, pipinya terasa panas lagi. Dia merasakan pandangan permusuhan dari bangku Ron. Wajah sahabatnya itu merah seakan dapat keluar asap setiap saat. Hermione bersumpah dia dapat melihat urat di kepalanya berkedut-kedut.
Oh, Merlin. Seandainya aku dapat menjahit bibirnya sehingga dia tak dapat melontarkan senyuman sinis brengseknya itu.
Para prefek menunggu dalam diam, menatap rekan-rekannya yang lain.
Hermione berdeham. “Oke,” sahutnya. “Rapat bubar.”
Malfoy segera keluar dari ruangan setelah dia memberikan tatapan permusuhan pada gadis itu. Zabini segera bergabung dengannya. Berangsur-angsur semua prefek meninggalkan ruang kelas itu. Kemudian perasaan lelah menyelimuti Hermione seperti biasa. Rasa lelah itu hampir sama dengan mengelilingi kastil Hogwarts sebanyak lima putaran. Kelelahan yang selalu terjadi sehabis rapat prefek.
Ron bergabung dengan Hermione, hendak membuka mulut.
“Tutup mulutmu,” sahut Hermione. Dia membereskan tasnya lalu memakainya di pundak.
“Aku belum mengatakan—”
“Apapun yang hendak kau katakan, lebih baik telan lagi.”
Ron berjalan di samping Hermione. “Memangnya aku–”
“Oh, aku benci dia,” kata Hermione parau. Tangannya di atas kepala, frustasi.
“Siapa?”
“Well, siapa lagi menurutmu?”
Ron terkekeh. “Bukan berita baru. Itu juga yang akan aku katakan.”
“Aku
tahu,” gerutunya. Dia menggeleng-geleng sedih. “Tapi aku sendiri yang harus mengatakannya.”
“Jika ini mengenai siapa yang berhak mengatakannya, well, aku sangat berhak,” gumam Ron dengan nada meninggi. “Keparat itu dengan sengaja menambahkan bisa Scarpyon di ramuanku pada pelajaran Snape tadi pagi. Perlu dua jam untuk menghilangkan bintil-bintil pada punggungku.”
“Tapi sekarang sudah tak ada lagi kelihatannya,” kata Hermione sambil memperhatikan kulit di tangan Ron.
“Astaga! Ini bukan tentang sudah hilang atau belum. Masalahnya, Slytherin kurang ajar itu… dia―,” Ron sulit mengatakannya seakan hal tersebut sama parahnya dengan Voldemort berhasil menguasai dunia.
“Aku mengerti.”
Koridor mulai agak lengang ketika mereka melewati belokan terakhir ke arah menara Gryffindor. Di sana mereka menjumpai Peeves membuat onar lagi. Filch berteriak uring-uringan kepada hantu jahil itu. Dia menghentikan Peeves mengganggu anak-anak kelas satu. Snape kebetulan lewat. Dia mengucapkan Mantra Jungkir balik. Dan tak lama kemudian, Peeves meninggalkan koridor itu dengan kepala di bawah sambil mengumpat-umpat.
“Genolus busuk.” Hermone mengucapkan kata kuncinya ketika mereka sampai di depan lukisan Nyonya Gemuk.
Nyonya Gemuk menatap mereka antusias. “Oh, bagus, bagus. Aku baru menemukan sebuah lagu yang hebat. Kalian beruntung menjadi yang pertama mendengarnya.” Dia berdeham, mempersiapkan tenggorokannya.
“Lebih bagus lagi jika kau tutup mu—“ Ron menyela.
Terlambat. Nyonya Gemuk sudah memulai nyanyiannya. Suaranya lumayan untuk drama opera. Tapi, tak satu pun dari mereka menyukai opera. Bagi mereka, suara itu hanya berupa lengkingan menyakitkan dengan nada alto. Lengkingan yang seakan ingin mengalahkan empat oktaf nada teriakan Peeves.
Ronlah yang mengambil inisiatif. “Bagus, Nyonya Gemuk!” teriaknya keras untuk mengambil perhatian wanita itu. “Tetapi kurasa kami tak berhak atas kehormatan menjadi pendengar lagu barumu yang pertama kali. Mungkin Pangeran berbaju jirahlah di lukisan lain ingin mendengarnya.”
Yeah, dengan kata lain, carilah korban lain.
“Kalian akan menyesal jika tidak men—”
“
Genolus busuk,” Ron mengulang paswordnya dengan tak sabar.
Nyonya Gemuk menggerutu. Lukisan itu berayun. Lubang menuju ruang rekreasi Gryffindor terbuka. Dengan sinis ia memperbolehkan mereka masuk. (“Anak muda jaman sekarang tak mengerti bakat seni yang mengagumkan.” Mereka mendengar Nyonya Gemuk berkata sebelum lukisan itu menutup lagi).
“Aku sedang tidak
mood untuk menimpali wanita aneh itu,” gumam Ron ketika mencapai ruang rekreasi.
Ruangan itu selalu nyaman dan hangat. Warna merah mendominasi ruangan. Cahaya yang hanya berasal dari perapian dan obor sihir, sudah cukup menyelimuti ruangan itu dengan baik. Biasanya sofa-sofa yang terjejer di sana di depan perapian, diduduki beberapa anak kelas lima. Seamus dan Dean tampak duduk di bangku dekat jendela sambil bermain catur. Ruang rekreasi sedang tidak terlalu ramai. Banyak dari mereka yang sudah mulai turun ke Aula Besar untuk makan malam. Hanya ada beberapa anak yang tingkat tiga yang sibuk mengerjakan PR mereka di sudut ruangan.
Hermione melihat Harry duduk di depan perapian sambil menggosok Fireboltnya dengan kain. Harry tak menyadari kedatangan kedua sahabatnya. Matanya fokus ke sapunya. Sapu itu tampaknya sudah bersih mengkilap. Bahkan Hermione dapat melihatnya bersih mengkilat sebelum dia dan Ron mendekati Harry. Tapi Hermione tak mengatakan apapun.
“Harry,” sapa Ron. Dia menghentakkan dagunya ke arah Harry.
Harry hanya menoleh singkat. “Ya.”
Hermione dan Ron melambaikan salam singkat kepada Seamus dan Dean, kemudian kembali lagi ke Harry.
“Bantai dia, Harry,” kata Ron kemudian.
Hermione langsung tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana. Awalnya Harry hanya melongo mencerna kata-kata Ron yang absurd itu. “Apa?” tanyanya bingung.
“Bantai
dia.”
Pengulangan itu tak membantu apapun. “Siapa?”
“Kurasa dia berbicara tentang Malfoy,” sahut Hermione datar.
Harry mulai paham. “Tak perlu kau perintahkan lagi.”
“Kalahkan Slytherin telak.“
Harry menghiraukannya. Hermione menaruh tasnya di atas meja lalu duduk di sebelahnya. Harry tak bertanya apa-apa lagi pada Hermione karena dia tahu beginilah yang terjadi sehabis rapat Prefek. Hampir setiap kali.
“Ambil Snitch itu sebelum dia dapat berkedip,“ kata Ron membandel. “Dia Chaser sekarang. Dia takut padamu, Harry, karena dia tahu bahwa dia takkan pernah bisa merebut Snitch itu darimu.”
“Yeah,” sahut Harry.
“Jangan biarkan—”
“
Pasti―Ron,” sahut Harry tak sabar.
“Bagus,” sahut Ron.
Harry menatap Hermione lalu memutar bola matanya.
Hermione mengangkat bahu, tak berminat menjelaskan penyebab kelakuan sahabat mereka. “Jadi,” kini giliran Hermione bersuara dan mengganti topik. Dia menatap Harry sambil menghela napas seakan seperti habis dari perjalanan yang jauh. “Kau masih sibuk akhir-akhir ini? Menjadi Kapten Quidditch pasti sulit sekali.”
“Aku hanya mengepalai enam kepala dalam satu tim. Ketua Murid sepertimu mengepalai ratusan anak. Kurasa tugasmu lebih ribet.”
“Tapi jika kau membuat timmu kalah,
kepalamu sendiri bisa dicincang ratusan anak, Harry.” Hermione menatap tangan Harry menggosok-gosok sapunya. Dia ingin berkata bahwa sapunya sudah mengkilat seperti batu mulia. Namun dia mengurungkannya. “Tapi tentu saja aku tahu kau pasti bisa menang. Kau Harry Potter.
The boy-who-lived. Seeker termuda abad ini. Pemenang Turnamen Triwizard.”
Harry mengerling singkat. “Kau belum menyebutkan bahwa aku anak-yang-hidup-dan-diuber-uber-terus-Kau-Tahu-Siapa-dan-mungkin-besok-mati,” gumamnya datar.
“Ah,” hanya itu yang Ron katakan sambil mengangguk.
“Harry,” tegur Hermione. “Kau tidak boleh berpikiran seperti itu.”
“Entahlah,” ujar Harry. Dia mengemas peralatan untuk membersihkan sapu miliknya. “Kurasa situasi ini makin runyam. Voldemort entah dimana. Tanda kegelapan semakin nyata. Beberapa anak sudah mengundurkan diri. Mungkin aku hanya paranoid. Tiap tahun aku terpaksa berurusan dengannya. Cedric…Sirius…entah siapa lagi…Ya ampun! Aku paranoid sekali!”
“Kita akan baik-baik saja. Ada Dumbledore,” kata Ron. “Aku lebih kuatir dengan Malfoy. Dia baru dapat sapu baru.”
“Ya ampun, Ron,” tegur Hermione. “Sampai kapan kau mau membicarakan dia? Kau mulai bosan mendengarnya.”
“Aku pernah lihat sapunya di Diagon Alley,” kata Harry. “Windflash memang bagus. Tapi kata si Otto Weiz si pemilik toko
Peralatan Quidditch Berkualitas, sapu itu tidak lebih bagus dari Firebolt. Aku masih optimis.”
“Kalahkan dia, Harry.”
“Harry pasti mengalahkan Malfoy, Ron,” geram Hermione.
“Jangan biarkan dia—”
“DIIAAAAMMMM!!!”
***
“—Lebih cepat lagi!”
Draco berseru dari atas sapu terbangnya. Dia menatap semua anggota timnya bermanufer di udara. Draco percaya, inilah tim terbaik mereka sejauh ini. Mungkin selama enam tahun terakhir yang pernah dimiliki Slytherin. Semua diletakkan di posisi yang tepat dengan keahliannya masing-masing. Mereka sudah terlalu lama dikalahkan oleh Gryffindor—tapi tidak tahun ini.
Kini aku kapten mereka. Takkan ada yang sama lagi.
Takkan ada yang sama.
“Hey, Gibb!” Seru Draco pada pemain Chaser bertubuh besar itu. “Sudah aku katakan untuk mengumpan singkat. Umpan singkat! Kita akan bermain seperti yang telah direncanakan. Jangan biarkan Quaffle berada di tanganmu berlama-lama. Itu juga berlaku untukmu, Combs!”
Stuart Combs si Chaser mengumpat, merasa dipermalukan.
“
F**k you. Kau pikir kau lebih hebat?” Draco menyipitkan matanya, menatap Combs tajam. Cowok berambut pirang kusam itu langsung terdiam.
Draco harus bertindak super tegas untuk mengatur semua anggota timnya. Dia ingin menang. Dia harus menang. Melalui kepemimpinannya, Slytherin harus menang.
Draco sudah tahu semua gosip itu. Bahwa berkat nama besar keluarga Malfoylah, Draco terpaksa dimasukkan ke dalam tim. Dan dengan tambahan enam buah sapu hebat Nimbus Dua Ribu Satu, nama sang pewaris tunggal kekayaan Malfoy dirasa sudah bisa dipastikan tercatat dalam deretan nama anggota pemain reguler. Dalam posisi Seeker yang katanya posisi paling hebat.
Orang-orang bodoh. Hanya gosip yang mereka tahu. Mereka tak tahu kehebatanku. Mereka
belum tahu. Tapi akan tiba saatnya nanti ketika mereka akan mengetahuinya. Tahun ini mereka akan mengetahuinya.
Gryffindor selalu mengandalkan strategi klasik Quidditch. Draco dapat menebaknya dengan mudah. Mereka lebih menitikberatkan ke posisi Seeker. Posisi yang dimiliki oleh Harry-kepala-codet-Potter. Semua Gryffindor berharap Harry dapat segera menangkap Snitch begitu bola itu dilepas. Dengan begitu mereka dapat memenangkan pertandingan dengan tambahan 150 angka dengan tertangkapnya Snitch.
Demi Merlin. Betapa rendahnya pertandingan Quidditch jika bisa menang hanya dengan tertangkapnya satu bola saja? Yang benar saja! Jika begitu saja sudah menarik, kenapa harus ada pemain-pemain lain seperti Chaser atau Keeper yang mati-matian mencetak dan mempertahankan skor? Ini artinya pertandingan Seeker lawan Seeker saja sudah cukup?
Draco berusaha merubah konsep itu. Mulai tahun ke enam, Draco mengganti posisinya menjadi Chaser. Dia menyadari tubuhnya tidak cukup kecil untuk menjadi Seeker. Tapi dia juga tidak cukup besar dan kekar untuk untuk menjadi Beater. Sebagai Chaser dan kapten, dia menjadi si
playmaker. Posisinya bukan menjadi pencetak skor, tapi sebisa mungkin menciptakan peluang bagi teman-temannya untuk membuat gol. Dia harus membaca situasi kapan harus bergerak, siapa mengoper ke siapa, atau kemana harus bergerak.
Tentu saja perubahan ini bukan berarti dia bukan takut pada Potter. Dia tak pernah takut dengannya. Menurutnya, tugas Seeker hanya menunggu sampai matanya dapat menemukan kilauan emas terbang itu, lalu membawa bokongnya menguber-uber kesana-kemari. Menunggu adalah pekerjaan yang menyebalkan. Chaserlah yang lebih menarik. Karena Chaser lebih produktif.
Draco terbang dengan melewati pemain-pemain cadangan yang ikut dipasang sebagai lawan latihan mereka. Deretan bangku-bangku di stadion itu mendadak hanya berupa bayangan warna-warni yang terlihat kabur dan tidak jelas ketika Draco melewatinya dengan sapu terbang yang berkecepatan penuh.
Sapu yang hebat.
Windflash.
Berkatilah perusahaan Think & Fly yang mengeluarkan sapu terbang yang hebat hampir setara dengan Fireboltnya Potter. Think & Fly adalah perusahaan yang berbeda lisensinya dengan perusahaan yang membuat Firebolt. Begitu sapu itu lepas ke pasaran, Lucius Malfoy langsung membelikan seperti membeli permen. Draco sudah lama menunggu sapu seperti itu karena dia takkan sudi membeli sapu yang sama dengan Potter hanya karena Potter mengganggapnya Firebolt sapu yang hebat. Firebolt memang hebat. Tapi Windflash jelas dapat menyaingi.
“Malfoy, hari sudah gelap. Sudahi saja untuk hari ini,” kata Keeper mereka, Joe Cole, sambil terengah-engah. “Kurasa latihannya sudah cukup untuk hari ini. Kita sudah latihan habis-habisan.”
Draco mengelap keringat dari pelipisnya. “Sebentar lagi. Beater kita masih payah.”
Tapi dia melihat Joe benar. Semua anggota timnya sudah kepayahan. Tak ada energi lagi. Namun, ini belum cukup, brengsek. Belum cukup. Kekalahannya tahun lalu sungguh menyakitkan. Dan Draco ingin sekali tahun ini mereka menang.
“Setengah jam lagi, Joe,” sahutnya kepayahan. Nafasnya pun sudah terengah-engah. Kemudian dia terbang ke arah Beater mereka, Hayden Grant, sedang latih pukul Bludger di sisi lapangan. Serta merta Draco berteriak, “Berikan pemukul itu padaku!”
Cowok itu menoleh bego, melempar pemukul pada Draco. Sang kapten mengambil ancang-ancang ketika Bludger dengan kecepatan penuh menghampirinya. Dengan satu pukulan telak dengan bunyi
dug keras, Bludger itu berhembus nyaris mengenai pelipis kepala salah satu Chaser dan membuatnya hilang keseimbangan sehingga nyaris jatuh dari sapunya.
Dia melempar pemukul itu lagi kepada Griffin. “Seperti itu, Grant.”
Sejumlah penonton melihat latihan mereka. Umumnya para gadis tentunya. Draco tahu mereka menonton dirinya. Dia dalam baju Quiditch hijaunya. Rambutnya basah. Berkeringat. Memar-memar kecil. Noda-noda tanah. Terengah-engah. Menatap tajam. Dia tahu hal-hal itu membuat mereka gila. Dia tahu, karena setiap Malfoy menatap mereka, mereka itu cekikikan tak karuan.
Menggelikan.
Setengah jam akhirnya berlalu. Energi mereka benar-benar terkuras habis. Draco tidak berganti di ruang ganti Quidditch. Dia ingin mandi di asramanya dan berendam air panas, tak ada orang yang mengganggu. Kalau dia masih sanggup turun untuk makan malam, dia akan makan. Tapi sepertinya ranjang terasa lebih menggoda. Tubuhnya sudah lelah sekali memprotes untuk istirahat.
Draco memasuki kastil sambil menenteng sapunya. Noda-noda tanah yang basah menapak meninggalkan jejak di atas lantai di belakang ketika Draco melangkah. Dia tahu jika dia bertemu Filch, tentunya dia akan mendapat masalah. Noda-noda itu sudah cukup membuatnya mendapatkan detensi satu malam penuh. Namun Draco tak peduli untuk malam itu.
Dia melirik Aula Besar. Langit-langit aula menggambarkan awan mendung. Obor-obor menyala menerangi ruangan. Deretan meja sudah dipenuhi dengan berbagai makanan. Denting sendok, garpu, dan pisau terdengar di tiap sudut. Anak-anak hampir memenuhi bangku-bangku aula itu untuk makan malam. Bau makanan yang mengundang selera, menghentikan langkahnya untuk pergi ke ruang bawah tanah Slytherin. Draco tergoda untuk masuk ke sana dan mengambil apa saja yang bisa dia ambil untuk dibawa ke kamarnya. Dia melintasi deretan meja-meja panjang dan bergabung dengan teman-temannya.
“Malfoy,” sapa Greg sebagai pengganti sapaan hai. “Berlatih mati-matian?”
“Untuk yang terbaik,” sahut Draco sekenanya.
Draco melihat tumpukan makanan di atas meja. Ikan bakar, ayam panggang, kentang tumbuk, dan lain-lain menggugah selera. Mereka tampaknya seakan enak sekali dan mendadak dia merasa lapar. Perutnya berbunyi. Draco menelan ludahnya. Satu piala penuh sari jeruk dia habiskan tanpa jeda. Dia mengambil sebuah garpu lalu menusuk satu ekor ikan bakar berbumbu oriental dengan garpu yang kemudian dia daratkan ke piringnya—tak peduli dengan tangannya yang kotor.
Di ujung meja, Vincent sedang berkelakar. “…akhirnya bertanya, ‘Lihat tiang listrik dekat jalur kereta itu?’. Vampir satu dan kedua menjawab, ‘Ya, kami melihatnya.’ Vampir ketiga berkata, ‘Aku habis membenturnya!’”
Blaise tertawa terbahak-bahak sampai jus yang dia minum nyaris menyembur dari mulutnya. Kemudian dia tersedak dan terbatuk-batuk. Draco terkekeh, memberikan serbet untuk mengelap mulutnya. Vincent ikut tertawa—entah karena menertawakan leluconnya sendiri atau karena menertawakan Greg.
Tak jauh dari meja mereka, Klub Fans Potter juga sedang tertawa-tawa. Entah apa yang mereka tertawakan. Gumpalan rambut hitam, merah, dan coklat, itu mencolok di antara murid Gryffindor yang lain: Pothead, Weasel, dan darah lumpur Granger. Sangat menjengkelkan mendengar keberisikan mereka. Draco menyumpah dalam hati, mengutuk keeksistensian Potter dan pengikut-pengikutnya.
Draco mendengus.
“Aku sekelas dengan Mikaela Reuel pada pelajaran Herbologi,” kata Blaise, menunjuk sekilas seorang gadis berambut pirang madu di bangku Ravenclaw. “
Man,Dia
hot. Rumah kaca sedang panas dan bikin gerah kemarin. Dia melepas satu kancing kemejanya yang paling atas. Merlin…kau harus melihatnya berkeringat. Wuuuhhh, membuatmu tegang,” Dia menghembuskan napas penuh hasrat.
Draco mengikuti arah pandangan Blaise. “Dia memang cewek tercantik di Hogwart.”
“Kau tak berniat mendekatinya, mate?” kata Blaise lagi. Dia mengambil apel dan langsung menggigitnya. “Aku tahu sekali, seleramu sangat tinggi.”
“Dia darah lumpur, Zabini,” kata Draco, tersenyum sinis. “Tak akan pernah terbersit di benakku.”
Blaise tertawa. “Darah murni selalu pilihan pertama, Malfoy?” Dia menyeruput sari jeruk dari pialanya. “Tapi setahuku dia bukan darah lumpur melainkan berdarah campuran.”
“Darah lumpur atau campuran, keduanya tak ada yang mengalahkan kita,” kata Draco setelah menelan sepotong bagian besar ikan itu dimulutnya. “Kau tahu darah murni selalu yang terbaik. Darah murni memang yang paling pantas menduduki posisi teratas dimana pun.”
“Benar. Tapi itu tidak menghentikan kita untuk menikmati yang indah-indah yang bukan darah murni, kan?” gumam Blaise. Dia terdiam sejenak lalu menambahkan, “Lihat…Hermione Granger juga cantik.”
Draco menatapnya. “Huh?”
“Dia,” sahut Blaise seraya menghentakkan dagunya singkat ke arah Granger duduk.
Draco mencibir, “Dia?” Dia menatap gadis berambut coklat keriting itu di dalam kelompokPotter fansclub itu.
“Ya,dia.”
Draco tidak heran mengapa laki-laki berpikiran seperti itu.
Ya, tak ada yang dapat dipungkiri lagi. Darah lumpur Granger itu entah bagaimana dapat memutar takdirnya menjadi angsa. Crabbe pernah membuat lelucon mengenai dirinya-yang-tegang ketika melihat Granger keparat itu roknya tersingkap karena angin pada pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib. Atau ketika cewek itu membungkuk untuk mengambil bukunya yang jatuh. Grabbe menjelaskan bagaimana bentuk tubuhnya, halus kulitnya, dan semua yang membuatnya bergidik. Granger menjadi begitu menarik. Tapi tentu tidak untuk seorang Malfoy. Tak ada hal-hal di dunia ini yang dapat merubahdarahnya Darah kotor itu. Tidak pula dengan roknya yang pendek, kulitnya, kakinya, bibirnya—
Tak ada yang dapat merubah asalnya. Dari sisi mana dia berasal.
Si buku-berjalan kebanggaan Gryffindor. Keparat yang berteman dengan Weasel dan Pothead. Sang putri dari si Trio Emas. Dan dia tetaplah seorang darah lumpur.
“Aku, Crabbe, dan Goyle bertanya-tanya, apakah dia masih mempertahankan keperawanannya atau tidak,” ujar Blaise tersenyum lebar. “Lihat bagaimana si itik buruk rupa dapat tumbuh seperti sekarang. Menurutmu, Potter atau Weasley yang mendapat kehormatan itu? Atau krum? Mereka kan sempat mempunyai hubungan pada tahun ke empat. Menurutmu, Malfoy?”
“Orang konservatif, kutu buku, kebanggaan-seluruh-Hogwart, seperti dirinya?” gumam Draco mengejek. “Kau bercanda.”
Blaise mengangkat bahu. “Kenapa tidak? Dia sudah dewasa. Semua orang dewasa ingin merasakannya. Aku yakin dia menyadari bahwa banyak laki-laki yang putus asa, menatap penuh hasrat ke arahnya. Bahkan banyak Slytherin juga mengakuinya. Well, kau tahu pasti bahwa Slytherin pandai menilai barang mana yang bagus dan barang mana yang patut disingkirkan.”
“Tapi tak ada yang merubah apa yang menjadi takdirnya, Zabini. Darah lumpur,” gumam Draco tak sabar.
Blaise mengangguk kecewa. Dia menghela napas berat. “Sayang sekali. Kita bukan di sisi yang sama, Granger,” katanya seraya mengangkat pialanya untuk bersulang seakan-akan Granger duduk di depan hidungnya. “Mengapa semua yang hebat-hebat harus darah lumpur,“ gerutunya.
“Mereka tak sehebat itu.”
Tak lama kemudian, Pansy datang bersama Millicent untuk bergabung dengan Draco dan kawan-kawan. Pansy melambai pada teman-temannya di meja Slytherin sebelum akhirnya duduk di sebelah Draco. Dia memamerkan tentang busana yang yang baru di belinya ketika dia dan Millie diam-diam berdisapparate dari Hogmaede ke Paris akhir pekan kemarin. Dia memang selalu memperhatikan penampilan. Dia cukup cantik, tapi terlalu sibuk dengan make up. Peralatan konsmetiknya lebih berat dibandingkan dengan buku-buku pelajaran dalam tasnya.
Vincent dan Greg bergantian melontarkan lelucon. Draco tidak begitu berniat bergabung dan hanya sekedar menjadi pendengar. Kali ini gerombolan mereka semakin ramai karena Millie ikut serta. Tawa gadis itu sungguh membahana. Lusinan set mata langsung mengerutkan kening melirik ke meja Slytherin. Tapi dia tidak malu dan tampak tak berusaha menutup-nutupi.
“Hai, Draco,” bisik Pansy di telinganya ketika kawan-kawan yang lain sibuk dengan lelucon Vincent.
Draco meminum habis jus di pialanya. “Pansy,” balasnya.
“Kita semakin jarang bertemu,” ujarnya.
Draco mengangkat bahu. “Kau tahu, aku sibuk. Kau bisa melihatnya dari keadaanku sekarang, kan? Energiku habis dan tubuhku berteriak meminta istirahat di ranjangku yang nyaman lebih awal.”
“Baiklah,” sahutnya singkat. “Mungkin besok malam?”
Draco mengangkat bahunya lagi, “Mungkin bisa, mungkin tidak.”
Jawaban itu jelas tak membuat Pansy puas. Namun dia tahu menanyakannya lebih lanjut malah akan membuat kemungkinan Draco mengatakan “tidak” menjadi jauh lebih besar. Maka dia diam saja.
Sebuah ceri terlempar ke arah kepala Draco. Draco mengumpat pelan.
Blaise berkata dia bermaksud melempar ke arah Goyle, tapi cowok berbadan besar itu berhasil menghindar. Bagus, Goyle. Itu menandakan bahwa selama ini kau bisa bergerak. Well, prestasi terbesarnya, Draco menebak. Kesal karena serangannya yang gagal, Blaise mengejar Crabbe. Draco tertawa memandang mereka berlari sampai keluar aula. Lalu, matanya tak sengaja menangkap sosok itu.
Hermione Granger.
Dia tak menyadari pandangan Draco karena sibuk dengan kawan-kawannya. Draco merasa muak. Karena kehadirannya. Keberadaannya. Teman-temannya. Darahnya. Dia akan selalu seperti itu. Tak akan ada yang merubah dari apa yang membentuknya. Tak akan ada yang berubah.
Cih!