NEED BETA READEEEEEEEER!! HEEELPMohon bantuannya mengkoreksi fictionkudah nyaris 2 thn aku ga nulis fiction sama sekali. jadi berasa ancur.
Sebelum aku masukkan ke
Account FF.net ku aku butuh masukan. Pleaseee
Aku tau ini bukan film tenar. Tapi aku minta bantuan kalian sebagai org yg ga pernah nonton filmnya jg gpp. Malah lebih objectif.
Yg ingin dikoreksiCaraku menyampaikan cerita dan tata bahasaku
Latar belakang ceritaAda 2 skul namanya Hakuo dan Sheishikan. Pooknya mereka berdua sll bertanding. Namun dibalik itu sebenernya terjadi pertarungan antar Clan. Fuuma Clan (Hakuo) dan Yasha Clan (Sheishikan). Intinya bunuh-bunuhan antar Shinobi.
Musashi adalah Leader yasha Clan
Kojiro adalah Leader Fuuma Clan
Sedangkan Reira yg jadi tokoh utama disini adalah salah satu Shinobinya Fuuma Clan yg menguasai jurus api
SourceDisarankan untuk membaca sambil mendengarkan lagu Ending Songnya Fuuma. hix menyentuh
Layartancap version-Server LokalFilmnya Eps 11 bisa dilihat di http://www.indowebster.com/Fuma_no_Kojiro_ep_11_reupload.htmlSekali lagi mohon bantuannyaaaaaaaaaa
Nanti kredit Beta reader akan diberikan ^^
Sekali lagi terimakasih
**********************************


JIWA YANG TERBAKAR APIBase : Fuuma no Kojiro Live Action Karya Kurumada Masami
Central Character : Reira from Fuuma Clan
Time Line : Eps 11
BGM : Eien no Setsuna - Fuuma no Kojiro Ending Song (Kusarankan bacanya sambil mendengar ini)
Hari ini adalah tugasku sebagai salah satu Shinobi dari klan Fuuma untuk menjaga agar pertandingan memasak
patissier Creme brulee antara sekolah Hakuo dan sekolah Sheishikan bisa berjalan tanpa ada kecurangan. Di ruangan sebesar ruang kelas ini ada 2 buah meja lengkap dengan alat-alat memasak dari mulai kompor, oven sampai juga rak piring. Sheishikan kerap kali menghalalkan berbagai cara agar mereka bisa memenangkan pertandingan. Namun kali ini aku akan mencegah mereka melakukan kecurangan-kecurangan seperti yang dilakukan pada pertandingan klub sebelumnya. Waktu yang diberikan hanya 60 menit dan sudah 40 menit berlalu tanpa ada gerak-gerik yang mencurigakan. Namun aku harus tetap waspada.
Aku merasakan sesuatu yang tidak beres. Benar saja... suara ledakan keras terdengar ketika peserta dari SMU Hakuo memasukkan kue yang hendak dipanggangnya ke dalam oven. Aku menghela nafas pendek. "Aku permisi.... Tolong bereskan yang di luar." Bisikku pada Kabutomaru-
san yang mengangguk mengiyakan.
Dengan jurus bayangan, aku mendekati wanita bercelemek putih yang tampak panik itu. Tak seorangpun menyadari keberadaanku kecuali gadis itu akibat jurus yang kukenakan.
"Tenang, masih ada waktu. Buatlah sekali lagi." Aku tersenyum padanya. Sejak dulu aku selalu tersenyum untuk membuat orang lain tenang. Karena aku paling bahagia saat melihat orang yang kusayangi tersenyum. Bagiku, senyum sebuah hal sederhana yang dapat kulakukan untuk membuat orang lain tidak mencemaskanku.
Cara sederhana ini kembali menuai hasil. Dia kembali mengulang kue buatannya. Namun kala ia hendak menyalakan api, alat pembakar itu tak kunjung menyala.
"Tidak... tidak mungkin... Aku pasti gagal... Sudah gagal!" Gumamnya dalam nada tak beraturan dengan wajah pias karena panik.
"Keterlaluan... Tak kusangka mereka berbuat sejauh ini." Ucapku dalam hati.
Aku mengangkat alat pembakar itu dan mengangsurkannya kepadanya lembut. "Cobalah sekali lagi. Kali ini pasti menyala." Bujukku sembari tetap tersenyum berusaha menenangkannya yang semakin kehilangan kontrol. Setelah beberapa kali menolak, akhirnya dia menuruti kata-kataku. Saat dia menekan pelatuknya, aku mengeluarkan api dengan menggunakan tenaga dalamku ke arah moncong tempat gas terpancar.
"Ah menyala!!" Dia tampak sangat gembira melihat alat itu mengeluarkan api lembut kemerahan dan iapun mulai memanggang pudingnya.
Deg....
Kurasakan hawa membunuh yang luar biasa datang dari hutan di belakang sekolah. "Musashi...." gumamku.
"Eh? Ada apa?" Gadis itu terkejut tatkala melihat perubahan ekspresi di wajahku.
"Ah... tidak apa-apa." Aku kembali tersenyum. "Aku permisi dulu. Kau pasti bisa menciptakan
Creme brulee terlezat di dunia, karena api itu berisi perasaanku."
Kuabaikan wajahnya yang tampak kebingungan dengan kalimatku. Aku bergegas menuju tempat Musashi berada.
Ah... hawa membunuh itu semakin kuat. Aku berlari dan semakin khawatir. Betapa terperanjatnya aku saat kulihat tubuh Kabutomaru-
san sudah tergeletak tak bernyawa di tanah, diantara tumpukan dedaunan kemerahan di musim gugur ini.
Saat itu hatiku terasa tercabik-cabik... hawa dingin yang merambati tubuh tak usirkan getar emosi yang meletup dari dalam kalbu. "Tidak mungkin!"
"Tak ada waktu untuk terkejut! Berikutnya giliranmu!" Suara dingin di belakangku yang membuat darahku tersirap.
Sesosok laki-laki berambut ombak sebahu dengan jas panjang berwarna hitam keunguan membawa sebilah pedang kayu berukuran sangat panjang berdiri menantang di sana. Hawa membunuh yang dikeluarkannya betul-betul menekanku. Angin yang mendesau menambah suasana tegang di hari yang beranjak petang ini.
Aku benar-benar membenci sosoknya, membenci dirinya, membenci orang yang telah menghilangkan nyawa rekan seperjuanganku... "Aku tak akan memaafkanmu! HYAAAAAAAAAAAAH!!!" Aku melompat menyerangnya cepat.
Kuayunkan pedang berputar ke arah lehernya. Tapi dia berhasil menghindar dengan gesit.
"Kau pasti memikirkan bagaimana aku membunuh temanmu tadi kan?" Ujarnya meremehkanku. Atau mungkin tepatnya dia menantangku terang-terangan.
"Kau akan menyesal jika meremehkan aku, Asuka Musashi!" Aku menggeram marah. Kupusatkan tenaga dalamku ke arah tangan kananku.
"
FUUMA SHUREIEN!!" Bola api menyala terang muncul di telapak tangan kananku. Diikuti pusaran api yang mengelilingi tubuhku sebelum akhirnya semua terpusat ke satu titik. Kuhantamkan pusaran api itu ke arah Musashi dengan kekuatan penuh. Amarah begitu merasuki hatiku.
Betapa terkejutnya kekuatan
Fuuma Shureien yang sebelumnya mampu membunuh Yosui, satu dari delapan jenderal Yasha tak berarti apa-apa di hadapannya.
Tiba-tiba...
"
HAOKEN!" Musashi menusukkan pedangnya tepat ke arah jantungku. Serangannya begitu cepat sehingga aku tak sempat menghindar.
CROOOT
Darah segar memancar keluar dengan deras dari tempat pedangnya ditusukkan dan langsung ditarik dengan keras. Aku terengah-engah. Sakit yang teramat menjalari sekujur tubuh. Namun itu tak berlangsung lama. Tubuhku tiba-tiba mengalami mati rasa. Tak ada rasa sakit sama sekali. Yang kurasa hanya perasaan lemah dan tak berdaya.
Musashi pergi meninggalkanku yang tersandar pada sebatang pohon besar dengan darah mengalir disudut bibir. Pedang itu meleset beberapa milimeter dari jantung sehingga aku tak langsung pergi ke alam lain. Namun dengan luka separah ini toh aku akan tetap mati. Jas kehijauan yang kukenakan mungkin warnanya sudah berubah merah. Aku bahkan tak memiliki daya untuk melihatnya. Ah... untuk apa aku melihatnya? Aku terengah-engah sendirian.
Langit senja kemerahan menandakan mentari sudah turun ke kaki langit. Kegelapan akan segera datang. Menyelimuti dalam sepi... mungkin selamanya....
"Kabutomaru! Kabutomaru!" Terdengar derap langkah kaki mendekat. Ah... Kojiro-
kun kah?
"Ko-Koji...." Panggilku lirih. Suaraku seperti tercekat dikerongkongan. Kering....
"Reira! Reira! Bertahanlah! Jangan mati!" Kojiro-
kun yang menyadari keberadaanku segera berlari ke arahku yang masih terduduk lemah. Wajahnya yang pias melihatku bersimbah darah tak berdaya, sungguh menyentuh hatiku.
"Ten-tu aku tak ingin ma-ti...." Ujarku terbata.
"Siapa yang berbuat begini? Musashi kan?! Iya kan?!" Jeritnya histeris.
"Di-a benar-benar tang-guh." Masih dengan senyum tipis yang kuusahakan tetap terukir di wajahku meski susah payah.
"Tak termaafkan..... benar-benar tak bisa kumaafkan! Aku pasti akan mengalahkannya! Pasti akan membunuhnya!" Geramnya marah. Dia bangkit dan hendak berlari.
"Perempuan itu...." Ujarku lemah.
"A-apa?" Dia menghentikan langkahnya.
"Apa pe-rempuan itu ber-hasil mem-buat
Creme brulee yang e-nak?" Aku bertanya di balik getar nada tak teratur akibat nafasku yang terengah-engah. "A-pa dia me-nang?"
"Kau ini bodoh Reira... kenapa di saat begini kau malah mengkhawatirkan orang lain?! Lihat keadaanmu!? Khawatirkan dirimu sendiri!" Kojiro-
kun berkata terbata-bata. Nada miris terpancar jelas disetiap kata yang terucap. Ia mendekat dan bersimpuh di sisiku.
Aku tertawa kecil. Kojiro-
kun... yang paling penting bagiku adalah melihat orang-orang disekitarku bahagia. Saat kulihat mereka tertawa... saat kurasa mereka gembira... maka aku juga akan bahagia. Tawa mereka akan menyelimutiku dalam kebahagiaan yang sangat, seperti pesan yang tak akan lapuk dimakan apapun bahkan oleh waktu.
Bisa kurasakan dengan jelas bagaimana wanita itu berbahagia telah memenangkan pertandingan yang terpenting dalam hidupnya.... Bisa kubayangkan betapa lezat puding yang tadi dibuatnya... puding yang di dalamnya terkandung perasaanku. Ah... seandainya aku bisa mencicipinya sekali saja.... Aku tersenyum samar.
"Ma-ti bukanlah hal yang me-nakutkan. Sa-at ini, Kojiro-
kun, se-mua teman-teman di Fuuma akan se-lalu mengingat pe-rasaanku da-lam hati kalian. Iya kan Kojiro-
kun?"
Kulihat air mata mengalir deras menyusuri kedua pipinya. Ingin kuhapus air mata yang seaakan tak ingin berhenti mengalir dari wajahnya itu. Akan tetapi aku terlalu lemah untuk bergerak.
"Ki-ta ber-tarung karena kita ber-usaha untuk me-nang bu-kan?" Aku berusaha keras untuk tetap tersenyum... untuk tetap berusaha mengatakan padanya... aku baik-baik saja meski aku meninggal. Tidak perlu mengkhawatirkan aku.
"Kojiro-
kun ju-ga sudah mengetahui hal i-tu kan?"
Kojiro-kun... kau pasti mampu menyelesaikan semuanya... Aku percaya....Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang berat menghimpit dadaku sebelum akhirnya kesadaranku lenyap.
*Epilog*Pria berhati lembut itu terbaring dalam senyum diantara dedaunan oranye dan diselimuti dinginnya malam. Bintang-bintang di langit enggan menampakan sinarnya seolah turut berduka atas kepergiannya. Kabut turun perlahan berusaha menyapu duka yang terukir.
THE END19 July 2008Bus non AC Blok M-Bekasi didampingi kakek yang tak berhenti bicara selama 2 jam.
Fixed 20 July 2008 saat Papa ulang tahun. Diperbaiki sembari menonton kembali Seriesnya dan aku kembali banjir air mata. REIRAAA.... Tanggung jawaaaab!
*Dipersembahkan untuk orang yang selalu tersenyum sepahit apapun hidup yang dia hadapi*
Saat Kojiro teriak "REIRAA" mengingatkanku saat Teppei (B'T X) Memanggil X saat Fou membunuh Quatro T__T
BGM nya... suasananya bener2 menguras air mata. Maaf kalau fanficnya ga jadi se gloomy filmnya
Reira mirip2 Hokuto dr B'T X yg selalu tersenyum meski kenyataan pahit menghimpitnya.