;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1] 2 3 4   Go Down

Author Topic: AGNEZ MO ( Agnes Monica )  (Read 4932 times)

GoodPeople_LI

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 5.742
AGNEZ MO ( Agnes Monica )
« on: February 08, 2016, 06:09:07 pm »






BEST VOCAL



BEST DANCE




Awards




Agnes Monica lahir di Jakarta, 1 Juli 1986 dari pasangan Ricky Suprapto dan Jenny Siswono. Agnes memiliki satu kakak laki-laki bernama Steve Muljoto. Semenjak Agnes menjadi artis dengan kesibukan yang begitu padat, sang kakak terus mendampingi dengan menjadi manajernya.




Agnes menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Tarakanita Jakarta. Agnes Dia mengikuti berbagai kursus semenjak masih duduk di sekolah dasar, seperti kursus menyanyi, piano dan bahasa Inggris. Seusai menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar, Agnes melanjutkan studinya di SMP Pelita Harapan Jakarta. Agnes merupakan murid yang memiliki prestasi menonjol di bidang akademik. Hal ini sering membuatnya menerima banyak beasiswa. Lulus dari SMP Pelita Harapan, Agnes menyelesaikan pendidikannya di sekolah yang masih satu yayasan dengan sekolah menengah pertamanya, yaitu SMA Pelita Harapan. Agnes merupakan seseorang yang peduli dengan pendidikan. Terbukti, setelah lulus dari SMA Pelita Harapan, di tengah kesibukannya yang kian padat Agnes masih ingin merasakan bangku kuliah dengan mengambil pendidikan Hukum di Universitas pelita Harapan (UPH).




Agnes memutuskan untuk mundur dalam perkuliahannya di UPH dengan IPK terakhir 3,67. Meski mundur, bukan berarti Agnes tak ingin berurusan dengan dunia pendidikan lagi. Tak lama setelahnya, Agnes mengambil program Distance Education di Oregon States University (USO) jurusan Political Science.




Di awal karirnya, Agnes dikenal sebagai artis cilik. Sebagai penyanyi cilik, dia memiliki tiga album, yaitu "Si Meong" (1992), "Yess!" (1995) dan "Bala Bala" (1996). Album kedua "Yess!" meraih penghargaan sebagai "Album Anak-Anak Terbaik" pada tahun 1999.




Agnes pun memanfaatkan ketenarannya sebagai penyanyi cilik dengan merangkap profesi sebagai presenter acara anak-anak. Sebut saja "Tralala-Trilili", "VAN (Video Anak Anteve)" dan "Diva Romeo". Ketiga acara tersebut merupakan acara anak-anak yang dipandu oleh Agnes. Berkat itu, Agnes mendapat penghargaan sebagai Pembawa Acara Anak-Anak Terfavorit di ajang "Panasonic Awards" selama dua tahun berturut-turut (1999-2000).




Sinetron "Lupus Millenia" yang dibintangi Agnes Monica di tahun 1999 menandai terjunnya Agnes ke dunia seni peran. Agnes mulai melepaskan bayang-bayangnya sebagai penyanyi cilik ketika menjadi pemeran utama sinetron "Pernikahan Dini" (2000) bersama Syahrul Gunawan. Perannya di sinetron itu membuatnya menang sebagai Aktris Terfavorit di "Panasonic Awards 2001" dan "Panasonic Awards 2002" serta penghargaan Aktris Ngetop di "SCTV Awards 2002". Agnes juga menyabet beberapa penghargaan "Panasonic Awards" dan "SCTV Awards" sebagai buah dari kerja kerasnya berakting di sinetron "Cewekku Jutek" bersama Roger Danuarta, "Bunga Perawan" dan "Cantik" yang dilakoninya sepanjang tahun 2003.




Tahun 2005, Agnes membintangi sejumlah judul sinetron seperti "Ku Tlah Jatuh Cinta", "Pink" dan "Kawin Muda". Dia juga sempat berakting di serial Taiwan, "The Hospital" (bersama Jerry Yan) dan "Romance In The White House" (bersama Peter Ho).




Menginjak remaja, Agnes aktif merilis album. Mulai dari "And the Story Goes" (2003), "Whaddup A'..?!" (2005), Nez (2008), "Sacredly Agnezious" (2009) dan "Agnes Is My Name" (2011). Tanggal 21 November 2010, Agnes mendapat kehormatan sebagai salah satu pembawa acara "American Music Awards 2010" yang diselenggarakan di Nokia Theatre, Los Angeles, Amerika Serikat. Di acara tersebut Agnes Monica juga berkesempatan menampilkan suaranya emasnya dengan berduet bersama Christian Chavez.




Memasuki tahun 2011, Agnes semakin fokus dengan karir internasionalnya. Ia dikontrak produser berkualitas asal Amerika, Greg Ogan. Tak hanya itu, Agnes juga didaulat menjadi teman duet penyanyi Amerika, Timbaland. Pelantun lagu "Paralyze" ini menjadi salah satu nominator di ajang bergengsi MTV Europe Awards 2011 dalam kategori World Wide Act Asia Pacific Nominees. September 2011, Agnes diundang Michael Bolton sebagai pasangan duetnya dalam lagu "Said I Loved You... But I Lied". Lagu tersebut direkam dalam album Bolton berjudul "Gems: The Duets Album" dan dirilis di seluruh kawasan Asia. Ia juga merilis video klip untuk lagunya yang berjudul "Rindu" di bulan yang sama.

Pencapaian cemerlang Agnes berlanjut di tahun 2012. Akhir Februari 2012, namanya tercatat memenangkan dua kategori dalam ajang Shorty Awards 2012 yaitu The Shorty Vox Populi Award dan Best Actress. Ia juga menjadi nominator kategori Favorite Asian Act pada ajang Nickelodeon Kids Choice Awards 2012. Saat itu Agnes harus kalah dari saingannya Charice, penyanyi asal Filipina. Namun kekalahan tersebut tak berlangsung lama. 30 November Agnes didapuk sebagai Best Asian Artist pada ajang penghargaan musik terbesar di Asia yaitu Mnet Asian Music Awards (MAMA) 2012. Ia juga merilis singlenya "Muda" (Le O Le O) di bulan yang sama.

2013 dibuka Agnes dengan kegiatan di luar negeri. Ia menghadiri Shorty Awards sebagai finalis pada 8 April. Agnes juga hadir di premiere "Oblivion" bersama para tamu undangan termasuk Tom Cruise, Morgan Freeman dan Olga Kurylenko. Sekembalinya ke Tanah Air, Agnes meluncurkan merk parfumnya Agnes REVE EDP pada 1 Juni 2013. Tak hanya itu, ia juga mengumumkan perilisan album "Agnez Mo" versi digital di saat yang sama. Selang dua bulan, 1 Agustus, album yang terdiri dari 10 lagu berbahasa Inggris tersebut dirilis dalam bentuk CD.

September 2013 Agnes meluncurkan album internasionalnya kembali. Album yang diberi judul "Coke Bottle" tersebut berhasil menarik perhatian fans Agnes di seluruh dunia. Hal itu terbukti dari antusiasme fans di Twitter, #AgnezMoCokeBottle jadi trending topic dunia. Album ini berhasil menempati posisi puncak di Top 50 Trending Jams of the Month di situs Daily New Jams. Ia berhasil mengalahkan penyanyi kelas dunia lainnya seperti Shakira, Chris Brown dan Eminem.

« Last Edit: February 08, 2016, 06:21:07 pm by GoodPeople_LI »
Logged

GoodPeople_LI

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 5.742
Re: AGNEZ MO ( Agnes Monica )
« Reply #1 on: February 20, 2016, 09:36:48 am »

@agnezmo masuk nominasi International Artist Of The Year 2015 mewakili indonesia, namun belum berhasil menang.



Dukung @AGNEZMO di polling @AsianTVAwards
Logged

My_name_is_khan

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 95
Re: AGNEZ MO ( Agnes Monica )
« Reply #2 on: February 20, 2016, 09:45:05 am »

pertamaxx
Logged
If you don't try you'll never know

joni adin

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 26.000
Re: AGNEZ MO ( Agnes Monica )
« Reply #3 on: February 21, 2016, 10:36:27 am »

Premiuuuuum
Logged

GoodPeople_LI

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 5.742
Re: AGNEZ MO ( Agnes Monica )
« Reply #4 on: February 21, 2016, 11:46:16 am »

WAJIB DIBACA DITULIS ANGGUN
Histeria Go Internasional

Show Spoiler
Grammy Awards. Ajang kompetisi musik di Amerika Serikat ini merupakan yang terpenting di seluruh dunia. Boleh dibilang, inilah barometer musik dunia. Tentu saja, ini menurut orang Amerika yang cenderung berpikir bahwa negara mereka adalah pusatnya dunia.

Ketenaran Grammy Awards tidak hanya didudukung oleh industri musik Amerika, tapi juga oleh negara-negara lain yang turut ambil bagian dalam mempopulerkannya, walaupun tangga lagunya dipenuhi oleh produk Amerika, seperti Beyoncé, Taylor Swift, Justin Bieber atau Rihanna.

Terlepas Anda suka atau tidak suka dengan musik Amerika, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah pengaruh mereka dalam industri musik dunia luar biasa, yang bisa mempengaruhi banyak negara lain.

Dalam era globalisasi seperti sekarang, kenyataan ini sangat menggoda para artis yang ingin karyanya dikenal di seluruh dunia. Jika mungkin, lewat pintu Amerika.

Pada tahun 1998, album internasional pertama saya diterbitkan di Amerika Serikat di bawah label Epic, milik Sony Music Entertainment. Untuk dirilis di Amerika dan masuk dengan format mereka, album saya harus diberi “American treatment,” seperti shooting video musik baru dengan video director yang “MTV friendly” (kala itu MTV adalah channel music yang sangat penting). Begitu juga, sesi foto untuk membuat cover album harus versi Amerika dan stok foto-foto promosi juga harus dengan fotografer Amerika.

Cara berbusana dan bermake-up saya diubah agar lebih “girl next door”. Bahkan saya dianjurkan meninggalkan aksen saya yang berbau agak Inggris untuk jadi lebih Amerika. Tiba-tiba tim kerja saya orang Amerika semua, manager, product manager, business manager, PR, agent, stylist, make up artist, dll.

Mempunyai paspor Indonesia pada saat itu menjadi kendala, karena setiap bulan saya menghabiskan tiga minggu di Amerika dan seminggu harus pulang ke Perancis untuk urusan visa. Akhirnya, setelah susah payah saya diberi visa O-1 oleh Kedutaan Besar Amerika yang ternyata hanya diberikan kepada orang-orang yang mempunyai kemampuan khusus.

Semuanya, pada saat itu, saya lakukan dengan senang hati. Sampai akhirnya saya merasa keberatan.

Keberadaan Joey Alexander di Grammy Awards mengagetkan dan membanggakan orang Indonesia, juga memberi hawa segar untuk musik jazz dunia yang cenderung dianggap sebagai musik orang tua. “Indonesian Prodigy,” julukan yang diberi oleh para wartawan manca negara kepada Joey membuat daya tarik tersendiri. Nama Indonesia bergema pada malam acara Grammy Awards itu.

Orang Indonesia bangga dengan seorang Joey Alexander yang sebelumnya tidak mereka kenali. Apakah kekaguman ini murni karena talentanya ataukah karena bocah ini orang Indonesia? Apakah jika albumnya tidak dapat nominasi dari Grammy Awards, mungkinkah orang Indonesia akan tahu keberadaannya dan tetap bangga dengannya? Jawabannya pasti berbeda-beda. Tapi buat banyak orang, yang paling penting nama Indonesia bergaung.

Saya mengamati beberapa posting teman-teman saya di Facebook tentang Joey Alexander. Semuanya bangga, "yah, normal dong wong dia orang kita!”, “Kalo nggak bangga sama dia berarti nggak patriotis!”, “Presiden Jokowi aja mention dia lewat twitter!” “Joey Alexander berhasil mengharumkan nama Indonesia ”.

Lalu ada pula yang berbagi cerita karena kenal dengan orang tuanya. Ada juga tentang tantenya, Nafa Urbach, yang dulu sempat jadi penyanyi Rock dan sempat diperkirakan akan jadi penerus Almarhumah Nike Ardilla, karena kemiripan gaya dan wajah yang sama cantiknya.

Tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan, dalam berbagai diskusi itu, muncul nama Agnes Monica atau yang kini lebih dikenal dengan Agnez Mo. Arah percakapan yang saya tangkap amat menyudutkan keadaan karirnya, yang mereka anggap stagnan.

Saya lalu membaca beberapa artikel di portal berita yang nadanya sama, menyindir secara terbuka sang diva. Dasar alasannya pun persis, Agnez Mo dari dulu sangat vokal dengan impiannya mempunyai karir internasional dan mempunyai Grammy Awards, dan setelah bertahun-tahun apa yang diimpikan belum menjelma.

Jika saya mengikuti logika berbagai tulisan itu, kesimpulannya adalah boleh mempunyai mimpi, tetapi harus berhasil.

Saya pikir ini tidak adil sama sekali. Meraih mimpi itu hal yang sukar, banyak tahap yang harus dilewati, banyak juga faktor yang harus dimiliki, salah satunya adalah faktor keberuntungan.

Joey Alexander sangat beruntung mempunyai bakat yang luar biasa. Beruntung pula mempunyai orang tua yang percaya dan mendukung bakatnya. Amat beruntung talentanya ditangkap oleh Herbie Hancock, tokoh jazz terkemuka di dunia. Joey pun beruntung karena genre musiknya yang bisa dibilang elitis, alias tidak komersial, tidak mengharuskannya untuk masuk dalam format Amerika.

Keberuntungan yang dikombinasi oleh kerja keras dan bakat yang luar biasa itu membawanya hingga ke panggung Grammy Awards.

Kembali ke Agnez Mo dan fenomena Joey Alexander, yang menarik buat saya di sini adalah antara ambisi dan ekspektasi orang Indonesia terhadap seorang artis.

Dalam era social network ini, dunia kita otomatis dipenuhi oleh self-documentation, membiasakan kita untuk selalu berpromosi diri. Generasi selfie, generasi hashtag, generasi “dear diary” yang dulunya hanya untuk pribadi, sekarang ditujukan ke publik.

Publik yang bukan hanya fans, diterbiasakan dengan banyak tahap atau cerita. Di setiap cerita, selalu ditunggu punch line-nya. Jika belum ada, tidak ada, lambat, atau tidak yang seperti yang mereka harapkan, mereka merasa berhak untuk kecewa, menyindir, atau mengkritik.

Ambisi seorang artis untuk karirnya adalah sesuatu yang personal. Hanya milik sang artis itu sendiri, bukan milik orang lain atau juga negara. Gagal dan suksesnya seorang artis hanya bisa dirasakan oleh sang artis sendiri.

Memang sangat luar biasa rasanya jika banyak orang ikut senang atas suatu kesuksesan. Ini adalah adrenalin yang mengangkat dan memberi motivasi yang tak terbayangkan. Tetapi, mencibir seseorang yang tengah berusaha, mengejek secara hampir histeris, membandingkan prosesnya dengan kesuksesan orang lain yang tentunya mempunyai cerita, tahap, cara, dan juga faktor keberuntungan yang berbeda, sekali lagi, sangat tidak adil.

Pertanyaannya: apakah kadar kesuksesan harus lewat Amerika? Apakah harus ada kata Grammy Awards dan Hollywood supaya bisa disebut sukses? Iko Uwais, Yayan Ruhian, Cecep Arif Rahman, Joe Taslim, adalah nama-nama yang dikenal dan dibanggakan di Indonesia, tetapi bagaimana dengan Tania Gunadi yang berkarir dan wajahnya sering dilihat di banyak seri TV Amerika?

Bagaimana pula dengan grup seperti Superman Is Dead yang sempat tour keliling Amerika? Bagaimana dengan Farah Angsana, designer Indonesia yang kreasinya kerap dipakai oleh Carrie Underwood? Tex Saverio yang juga menjadi salah satu designer pilihan Lady Gaga?

Bagaimana pula dengan mereka yang memilih untuk mewujudkan mimpi di benua lain? Didit Hediprasetyo yang berhasil masuk ketatnya seleksi Chambre Syndicale de la Haute Couture di Prancis?

Banyak sekali anak Indonesia yang berbakat dan mencoba bahkan yang telah berhasil mempunyai karir di negri orang, tetapi sepertinya tidak mendapat tanggapan yang besar dari orang kita karena mungkin tidak masuk kriteria sukses mereka.

Bapak saya dulu pernah bilang bahwa dalam hidup kita harus mempunyai mimpi, karena jika kita tidak punya mimpi, hidup kita akan hambar. Saya menginterpretasi ucapan beliau dengan serius, hidup harus ada tujuan dan sebisa mungkin kita mengarahkannya ke tujuan tersebut. Mewujudkan mimpi adalah sesuatu yang indah dan proses menjalaninya bisa memperkaya diri.

Mahatma Gandhi pernah berkata: “kejayaan itu berada dalam proses meraih mimpi, bukan oleh mimpi itu sendiri.”
💋❤❤👏

Sumber : http://www.qureta.com/post/histeria-...=socialnetwork
« Last Edit: February 21, 2016, 11:48:27 am by GoodPeople_LI »
Logged

bio_one

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: -1
  • Offline Offline
  • Posts: 25.905
  • maya, andra, sasya, dita, regal - colony vidgram
Re: AGNEZ MO ( Agnes Monica )
« Reply #5 on: February 21, 2016, 09:15:47 pm »

Kok gg laku
Logged
Never in your life, let them talk to you like you can not
selektif merespon postingan, skip postingan "murahan" aplg y "caper"

GoodPeople_LI

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 5.742
Re: AGNEZ MO ( Agnes Monica )
« Reply #6 on: February 23, 2016, 09:02:23 am »

Wow Agnez Mo menjadi Brand Ambassador salah satu perusahaan service provider baru US, WiFi Wireless Inc. https://t.co/Ijf9bEfYx0
Logged

GoodPeople_LI

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 5.742
Re: AGNEZ MO ( Agnes Monica )
« Reply #7 on: February 23, 2016, 09:20:57 am »

360 Club Surabaya

Logged

aurakasih

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: -4
  • Offline Offline
  • Posts: 994
  • Jenseits von Gut und Böse
Re: AGNEZ MO ( Agnes Monica )
« Reply #8 on: February 24, 2016, 08:36:39 am »

Penyanyi international manggungnya di club ya sekarang.
Logged

bruxy_brux

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: -1
  • Offline Offline
  • Posts: 10.027
Re: AGNEZ MO ( Agnes Monica )
« Reply #9 on: February 24, 2016, 12:49:07 pm »

Artis luar yg ingin berkarya atau sekedar numpang lewat di indo selalu di puja puji setinggi langit sampe berbusa tu mulutttnya....nah giliran artis kita yg punya mimpi dan ingin sukses di luaar negeri malah di caci makiiiii
Logged
"Cantik Hatinya Cantik Wajahnya"
Pages: [1] 2 3 4   Go Up