;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1] 2   Go Down

Author Topic: Hoi mau yoba buat novel  (Read 1987 times)

Juharizzz

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 40
  • Juharizzz
    • asaljadah.blogspot.com
Hoi mau yoba buat novel
« on: January 19, 2012, 10:01:37 am »

Black sword
   Bab 1 : Perang dan Bidadari

   Sebuah desa dia berada. Melihat hamparan bunga. Cinta yang datang bersama dengan mentari menyebak mendung dilangit. Disana anak itu merangkai mimpi menjadi angan yang terlupakan.
   Perang besar masih berkecamuk. Pertahanan semakin menipis. Awan hitam datang dengan pedang terhunus satu demi satu dari kami gugur sebagai pecundang. Tak ada kehormatan dalam perang ini. Beberapa lari dari perang. Pedang yang beradu, awan hitam terlihat memudar.
   Penyerangan serasa telah dimenangkan semuanya bergembira. Pedang kembali ke sarungnya. Kami tidak menyangka banyak mata buasa mengintai. Dan di balik gunung awan hitam bergerak. Prajurit semua tertidur menikmati kemengangan semu. Penyerangan tanpa tanda telah membuat kami terjaga. Sampai seorang prajurit mati sebelum menghunus pedangnya. Dia terpana, tapi berapa lama aku dapat terpana? Dia hunus kan pedang dan berlari ketengah musuh.
   Dua hari berlalu. Para monster dan hewan buas itu berlari menerobos pekatnya malam. Dia lihat para prajurit bersorak. Tanpa tahu keadaan. Baju besi masih terpasang di tubuhnya. Penyerangan tidak bisa di tebak. Tak disangka datang seorang utusan mengabarkan bahwa musuh ingin menurun kan senjata. Kejadian yang janggal. Akhirnya dia mengangkat pedang untuk mencari kebenaran.
   Sampai lah di tepi bukit. Bukit yang memisahkan mereka dengan neraka. Sejauh mata memandang hanya hitam. Dengan hiasan kilauan baja. Inikah janji itu? Dia sadar keadaan tidak mungkin untuk manusia damai. Terdengar suara kaki dibelakang satu anak panah merobek baju besinya. Dia roboh.
   Entah berapa lama ketidak sadarannya. Ketika dia membuka mata yang terlihat hanya suram. Tiba-tiba masuk seseorang yang memakai jubah. Dia melepaskan jubahnya, maka tampak lah seorang gadis jelita. Dia bukakan ikatan lalu memberi isyarat agar mengikutinya. Dia serahkan pedang dan baju besi. Mereka  ambil kuda dan pergi sejauh mungkin.
   Rasa penasaran membuat mayor menanyakan siapa gadis, dia menjawab
   “ Namaku Amelia dari mora, penyihir yang mengerahkan para monster”
Pedang langsung terayun ke leher gadis itu. Dan mungkin akan mengakhiri hidupnya.    Akan tetapi badan pemuda itu terasa dirantai. Tidak bergerak, dia terjatuh dari atas kuda. Amelia mendekatinya. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana tidak,  kalau dengan satu serangan saja ending dah.
   “ Maaf kan aku, aku hanya ingin menolong “ Ucap Amelia lirih. Pemuda itu membuka matanya. Menatap tajam kearah Amelia yang sudah ada di hadapanya.
   “[cluebat], apa kau pikir aku akan tertipu?” Teriak prajurit.
   “Sst” ucapnya sambil meletakkan jarinya di bibir prajurit itu.
   “Dengar, aku bukan keturunan asli. Aku adalah anak dari marco. Marco adalah jendral kalian bukan?” Lanjut Amelia.
   “ Bohong, tak mungkin”
   “ Tapi itu kenyataan dan aku ingin bertemu dengannya, ku mohon” pintanya. Lama prajurit terdiam.
   “Kumohon” wajahnya membuat iba.
   “Baik” jawaban itu akhirnya prajurit itu dapat menggerakkan tangannya.
   “Tapi ingat kau jangan macam-macam”
   “Baik komandan”
   “Jangan sok kenal denganku, ayo kita harus cepat” kata prajurit menaiki kudanya.

   Mata sang prajurit terbelalak. Ketika meliahat puing-puing yang hangus.
   “Dimana bentengmu?”Tanya Amelia, yang membuat dia marah.
   “Diam” Bentaknya. “ Ayo pergi”
Ketika mereka akan pergi dua monster menyerang. Sehingga mereka terjatuh dari kuda. Dua monster itu bias dilkalahkan. Tapi di kejauahan terlihat pemanah membidikkan panahnya kearah Amelia. Panah itu terlepas dari busurnya dan menimbulkan bunyi mendesis yang nyaring.
   Anak panah pertama telah bersarang. Di susul dengan dua lagi. Darah membasahi tanah. Amelia masih tergeletak di tanah. Tetapi darah itu bukan lah darahnya. Sang prajurit jatuh. Pandanganya mulai kabur. Disaat itu juga dia melihat tubuh gadis itu bercahaya. Sangat terang.
   Prajurit itu membuka matanya. Entah kenapa sudah dua kali panah bersarang di tubuhnya. Dia bangun dan melihat Amelia sedang duduk di dekat danau. Dia berdiri dan duduk didekatnya, kemudian menatap langit yang bertabur bintang.
   “Malam yang indah” Kata Amelia
   “Air danau ini berkilauan, dan apa itu?” Lanjutnya lagi. Lama sang prajurit diam. Amelia hanya menghela nafas.
   “Itu kunang-kunang”
   Gadis itu tersenyum dan merebahkan diri ke hamparan rumput. Prajurit hanya menatapnya.
   “Nama Kamu siapa?” Tanya Amelia
   “Alex” Jawab prajurit itu. Dan disambut senyuman dari Amelia.
   “Andai peperangan ini tidak terjadi” Perkataan Amelia sedikit membuat sang prajurit terkejut.
   “Karena itu aku disini berusaha untuk sebuah impian yang hilang ditelan kekejaman perang” Kata si prajurit dengan tersenyum. Amelia ikut tersenyum.
   Amelia mengalihkan pandangannya kelangit.
   “ Kalau impian itu tercapai apa yang kau lakukan?” Tanyanya
   “ Aku akan hidup damai, punya pekerjaan dan mendapatkan pendamping hidup” Jawab sang prajurit agak berlebihan.
   “Kamu?”
   “Rahasia” Jawab Amelia
   “Rahasia ya? Tapi aku juga gak peduli”
   “Marah nih?” katanya dengan nada bercanda
   Alex tidak memperdulikan kata-kata itu dia terus memandang danau. Tak berapa lama prajurit itu menyadari bahwa gadis disampingnya itu sudah tertidur. Lama dia memandangi wajah Amelia. Dia menyingkirkan rambut yang tadi menutupi wajah cantiknya.
=====================================================================
Ketika ufuk timur terlihat terang. Alex membasahi wajahnya dengan air. Terdengar suara dari tengah danau yang diselimuti dengan kabut tipis. Sesuatu mendekat, dia langsung menghunuskan pisaunya. Keluar lah seekor monster yang membawa kapak. Monster itu menyerang dengan ganasnya. Prajurit itu pun kewalahan dengan bersenjatakan pisau dia hanya bisa menghindar. Dalam satu serangan dia kapak onster tersebut menghentak tanah. Alex terjatuh. Ketika itu juga dia merasakan sebuah kekuatan. Dan hantaman monster telah datang.
   BUM. Dia membuka mata, monster itu telah hilang.
   “ Kau tidak apa-apa? Hei kau tidak apa-apa” Tanya Amelia meggoncang tubuh Alex.
   “ kau yang melakukanya?” Tanya Alex
   “ Emmm mungkin “
   “ Kenapa tidak dari tadi” Kata prajurit itu agak geram.
   “ Aku mengujimu” Kata Amelia.
   “ Lalu apa hasilnya? “
   Dia berjalan meninggal kan Alex dan berkata “ Tak terlalu bagus, kau lemah “
   “ He apa kau bilang? “ Tanya Alex sambil mengejar Amelia.
   “ Ah tidak, ayo makan bersama sarapanya sudah siap “
   Alex sangat kagum dengan Amelia, dia tidak menyangka gadis itu pintar memasak.
   “Bagaimana menurutmu?”
   “Lumayan, tapi cita rasanya kurang”
   “ Sok tau, tapi tetep saja kau makan dengan lahapnya?” Sindir Amelia
   “ Lapar, kepaksa lah” Kata Alex bekilah. Tapi Amelia terus tersenyum. Alex ikut tersenyum agak malu.
   “ Baik aku selesai, kita berangkat sebelum siang”
   “ya” jawabnya
   Mereka pun siap-siap untuk berangkat.    Tapi Alex menghadpi dilema. Ada persoalan yang meresahkannya. Apakah dia harus membawanya kebenteng. Sementara, hatinya masih menimpan amarah terhadap bangsa Amelia. Dan apa yang akan dia katakana kepada semuanya. Tidak, dia tidak bisa. Ada perasaan lain yang menghalanginya untuk melepaskanya, mungkin kah itu cinta?
   “Aku sudah siap” kata Amelia menepuk bahu Alex
   “ Kau melamun, ada yang di pikirkan? “ Tanyanya
   “ Tidak “ Aku hanya memikirkan jalur yang aman.
   Ingin prajurit itu mengatakan isi hatinya tapi dia takut menimbulkan rasa enggan di hatinya. Ya, dia menetapkan untuk membawa gadis itu walau ke ujung dunia. Dan melawan semua manusia. Cinta memang gila bung.
   “ Oi berdiri aja” Teriak Amelia melambaikan tangan.
   
Bersambung di Black sword bag 2 n tlong komennya pleaseeee????

   
      





   
« Last Edit: January 26, 2012, 09:14:26 am by Juharizzz »
Logged
From// (Juharizz) "Pejuang Bellato"

Kunjungi http://asaljadah.blogspot.com/

Gnuga

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 7
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #1 on: September 27, 2012, 06:21:41 pm »

Ane bingung bacanya... Ane mumed... BRB mumed dulu ya... mudah2an ada yang bisa menjelaskan kemumedan ane ini kenapa.
Logged

Luna_TR

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1.154
    • http://novelku.com
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #2 on: September 30, 2012, 06:46:35 am »

JELEEKK!!!
Kalo gak bisa nulis jangan dipaksain deh...
Logged

Juharizzz

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 40
  • Juharizzz
    • asaljadah.blogspot.com
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #3 on: October 02, 2012, 08:32:25 pm »

tq komenya entar saya coba nulis lg.. ehehe [gunsmilie]
Logged
From// (Juharizz) "Pejuang Bellato"

Kunjungi http://asaljadah.blogspot.com/

akire

  • Forum Machi
  • ***
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 2.606
  • bweee.....
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #4 on: December 22, 2012, 07:53:51 am »

Paragraf pertama, nggak ngerti :D baru ngeh pas baca paragraf 2.

Kalimat ini:  Bagaimana tidak,  kalau dengan satu serangan saja ending dah >>> ini bentuk kalimatnya bikin 'rusak' suasana :D antara tulisan serius dan tulisan konyol, if you know what i mean :D
Logged

eglyan

  • Tomodachi
  • ****
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 4.597
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #5 on: February 14, 2013, 03:01:16 pm »

semangat nulis, toh gak semua berhasil dan bagus dalam menulis,

banyak kok orang yg awalnya di tolak karyanya, tapi akhirnya di terima juga

semangat [thumbsup] [thumbsup]
Logged

Juharizzz

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 40
  • Juharizzz
    • asaljadah.blogspot.com
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #6 on: February 25, 2013, 10:05:06 pm »

 
KONSPIRASI
Kisah ini terjadi sebelum penyerangan tiga bangsa terhadap kita, jauh sebelum jatuhnya beberapa planet yang kita rebut dari herodian ketangan tiga bangsa ini. Setelah keluarnya bangsa bertopeng dari perhimpunan, mereka dengan angkuhnya menolak untuk berkerja sama dalam memelihara kedamaian alam semesta. Setelah itu angkatan tempur kita berhasil menemukan planet yang bisa di tempati, dengan keadaan alam yang sangat keras.
Planet yang dinamakan dengan bumi kedua ini mempunyai besar tiga kali planet bumi. Akhirnya militer menjadikan planet itu sebagai camp latihan, beberapa orang sipil juga mencoba bermukim disana. Beribu-ribu tentara di berangkatkan dengan membawa peralatan-peralatan mekanik yang nanti akan digunakan membuat senjata. Mari kita tinggalkan cerita planet ini, planet yang akan menjadi saksi perjuangan sebuah bangsa yang berusaha untuk bertahan dari gempuran tiga bangsa yang kuat.
Ini adalah cerita pertemuan pemimpin tiga bangsa, dibawah sebuah pohon yang rindang di suatu dataran yang penuh dengan runput. Pohon yang rindang dengan suara desiran daun-daunya. Mereka duduk bersandar di pohon, terlihat ketiga pemimpin ini duduk dengan pemikiranya masing-masing. Terlihat mata kedua pemimpin kosong, menatap langit kemudian menatap pengawal-pengawal mereka.
   Seakan mereka akan terpisah untuk selamanya, si pemimpin kurcaci menatap pengawalnya yang lagi membenarkan senjatanya. Dia beberapa kali memberi pengarahan yang dibalas dengan senyum lucu dari sang pengawal. Yah dapat ditebak hubungan mereka, dia juga melihat tangan yang dibalut oleh perban. Si pengawal semakin senang, pemimpin kurcaci hanya tersenyum getir, dia hanya mengisyaratkan untuk diam.
Sementara pemimpin elf, yang ehm, sexy itu terlihat menikmati hembusan angin dengan lamunanya. Wajahnya yang cantik dan badannya yang wow itu, menjadi pusat perhatian waktu ketiganya berkunjung ketentaraan kita. Siapa yang tidak tertarik coba? Waktu ditanya sudah punya kekasih dia menjawab belum, ditanya lagi sama yang lain mau gak punya kekasih, dia jawab hidupnya hanya buat Decem. Beruntung sekali tuh si Decem. Dia tidak sendiri datang ke pertemuan, dia bersama dengan penjaganya. Penjaganya terlihat santai padahal beberapa kali melihat kearah pemimpin robot dan beberapa prajuriitnya.
Pemimpin robot menatap kedepan dengan tatapan yang tajam, dia menatap prajuritnya yang terlihat aneh.
“Ada apa kamu?” tanyanya.
“Si siap tidak apa-apa” si prajurit terdengar terbata.
“Kamu harusnya memeriksakan dirimu secara rutin prajurit” Kata sang pemimpin.
Selang berapa lama mereka terdiam, pemimpin robot memulai pembicaraan. Dia masih dengan angkuhnya memulai pembicaraan. Dengan nada yang meremehkan dan sok memimpin.
“Ayo kita mulai pembicaraan ini, hai cora kau yang mengundangku. Ada apa?”
Si kurcaci hanya tersenyum sambil mencoba membetulkan letak scoope senjata “pengawalnya” sambil mencoba mengarahkan senjata itu kearah atas. Terdengar dia menyuruh untuk membersihkan laras senjata itu.
“Ehm apa ya tujuan ku kumpulin kalian?” Si sexy itu memulai pembicaraan sambil masih menatap langit. Dia sengaja menaikin tensi si robot dan itu berhasil.
“Kurang ajar, kau main-main cora?” Teriaknya sambil berdiri lima prajuritnya pun mulai bersiap dengan senjatanya. Pemimpin Elf hanya duduk dan menatap langit tapi pengawalnya sudah siap dengan senjata dan tongkkatnya.
“Oi kau panasan sekali, kita sudah tidak seperti dulu lagi. Ini bukan jaman dimana kita saling hebat-hebatan, kukira itu bisa di pahami oleh bangsa kalian. Bahwa semakin lama dia hidup maka sikapnya harus semakin dewasa. Lagi pula sejak masuk ke persatuan kita sudah bahu membahu satu samalainnya dalam perang melawan herodian. Bahkan ras kami sudah saling bercampur” Kata pemimpin kurcaci dengan tenangnya.
“Nah disitu lah masalahnya” Kata pemimpin elf, terlihat matanya menyiratkan sesuatu.
Kedua pemimpin terdiam dan menunggu kata-kata dari pemimpin elf. Tapi pemimpin elf menatap si robot dan memberi isyarat dengan anggukan yang sangat lembut. Si robot akhrinya kembali duduk dengan angkuhnya.
“Kami para elf sangat anti darah keturunan kami bercampur dengan mahkluk lain. Rakyatku yang masih menganut paham itu sangat terganggu dengan itu dan mendesak mengadakan rapat besar tentang itu.” Kata si pemimpin elf yang agak menatap langit.
“Kalian tahu apa hasil rapatnya? Jamaban mereka hampir semuanya menyatakan anti pencampuran ras dengan bangsa lain” Katanya lagi.
“Terus? Kamu setuju?” Tanya si kurcaci dengan santainya.
“Apa daya? Kami harus menuruti pendapat yang paling banyak, dan sudah di putuskan baahwa kami akan mengadakan pembatasan bangsa” Memainkan jari-jarinya sendiri.
“Jadi kalian akan meninggalkan persatuan seperti yang dilakukan oleh bangsa bertopeng itu? Haha bagus, pergi sana keplanetmu” Kata si Robot.
“Siapa bilang? Kami hanya melarang terjadinya interaksi yang berlebihan dengan bangsa lain” Kata si cantik.
“Akan susah, pertama kalau itu kamu lakukan di planetmu sendiri mungkin bisa, tapi kalau mau kamu lakukan di novus atau bumi itu tidak mungkin dilakukan dan memang benar pencampuran terjadi didua planet ini. Kalian tahu sendiri dua planet ini saat perang merupakan dua buah pusat kekuatan kita, bumi sebagai pusat pemerintahan sedangkan novus sebagaii pusat kemiliteran.” Kata pemimpin kurcaci.
“Apa bangsa bellato tidak takut hilangnya keaslian ras kalian, akibat percampuran ras?” Tanya pemimpin elf.
“Ada, tapi kami belum sempat mengadakan pertemuan.” Raut wajahnya mulai menunjukan perbedaan.
“Aku mau Tanya kepada cora, apakah pertemuan itu dilakukan di planet anda?” Tanya robot. Dan dibenarkan oleh pemimpin bangsa elf itu. “Berarti dapat disimpulkan itu adalah pendapat yang sebelah saja, menurut penelitian kami kalian memiliki keterikatan dan keterikatan yang paling kuat adalah keluarga. Seseorang dapat melakukan apa saja demi keluarganya, mungkin kah yang memiliki keluarga seorang peranakan mau setuju dengan pendapat itu?” lanjutnya.
Ucapan itu langsung disambut dengan tepuk tangan dari pemimpin elf dan acungan jempol dari si kurcaci. Mereka berdua tertawa, dan seolah mereka mengejek si robot.
“Tapi itu juga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan, mereka yang mempunyai keluarga pasti tidak setuju, dan jika dilakukan tindakan keras pasti dia akan melawan. Tidak mungkin kita melakukan itu akan terlalu mencolok dan jika itu terjadi maka semua pasti bilang tidak bertanggung jawab atas semua itu.” Kata kurcaci mulai serius setelah di todong dengan kapak oleh pemimpin robot.
“Masalah tidak sampai disana saja, seperti yang tadi dibilang dua pilar kekuatan adalah bumi dan novus, di tempat ini lah terjadi percampuran ras. Jika di novus kemungkinan kita dapat melakukan pembatasan dengan cara mengasingkan keluarga yang mempunyai percampuran ras, tapi tidak untuk bumi. Seperti yang kita tahu bumi tidak terlalu mempermasalahkan percampuran ras. Jika kita melakukan pengasingan, masyarakat yang menyetujui percampuran ras akan meninggalkan novus dan berpindah ke planet bumi atau planet colonial dari manusia” Kata si kurcaci lagi.
“Aku sudah mendengar tentang planet itu, dan kami bangsa accretia tertarik dengan beberapa planet itu da” Kata-kata si robot di potong oleh pemimpin elf.
“Hem ada apa nih di planet itu?”Kata pemimpin elf.
Mereka diam beberapa saat,dan mulai lagi pembicaraan “hangat” mereka. Pemimpin kurcaci memulai dengan pendapatnya yang sangat teoritis itu lagi.
“Persaatuan akan pecah jika kita melakukan pembatasan, karena bukan hanya cora bellato yang terjadi percampuran ras tapi juga dengan human, sedangkan human pasti akan melakukan tindakan terhadap siapapun yang mengganggu mereka. Apa kita harus mengundang pemimpin mereka untuk merundingkan hal ini?”
“Saya rasa itu tidak perlu, berunding dengan mereka pasti tidak akan mendapatkan keputusan yang cepat, dan pasti mereka tidak semuanya akan menrima. Bangsa kami yang dipimpin berdasarkan dengan kepercayaan yang kuat terhadap dewa saja masih ada pro kontra, apa lagi mereka yang lebih bebas” Kata si sexy yang di setujui oleh kurcaci.
“Yah ketentaraan human jadi masalah lagi, seperti yang kita lihat waktu didalam perang. Ketentaraan mereka hampir bisa menandingi kita semua, tentara mereka juga mempunyai semangat tempur yang tinggi. Sementara dapat kita lihat sendiri kita tiga bangsa masih terasa perbedaan. Jika bergerak satu-satu sama saja kita mengantar nyawa.” Kata kurcaci.
“Ada beberapa hal yang salah dari ucapan kau,, pertama accretia tidak takut mati, kedua kita bisa menyatukan tiga bangsa ini. Dengan cara “musuh dari musuhku adalah temanku”.” Kata si robot yang di sambut dengan olok-olok dua pemimpin kurcaci dan elf seperti tadi.
“Tidak kusangka kau seperti itu hahahahaha” Kata si kurcaci dan di sambut dengan tertawa si elf.
“ Jadi, kalian setuju dengan bangsa kami?” Tanya si elf.
“ Yah mau bagaimana lagi?” Kata Kurcaci enteng.
“Asalkan planet yang sekarang mereka kuasai jadi milik kami. Usul bisa aku terima” Jawab robot.
“Enak aja, planet yang mereka kuasai sudah hampir tiga planet layak huni dan dua planet yang tidak layak huni dan semuanya itu mememiliki sumber daya alam yang berlimpah. Kamu mau makan gaji buta sendirian? “ Sindir si kurcaci.
“ Kalian tidak tertarik lagi dengan planet ini? “ Tanya si elf tersenyum
“ Bagaimana mengatakanya ya? Novus sudah terlalu ramai dengan kalian semua lagi pula pertambangan di novus sudah banyak berkurang. Menurut penelitian tambang itu akan habis dalam beberapa puluh tahun lagi. “ Kata si kurcaci.
“ Jadi tertarik nih pada lima planet itu.” Kata si elf dengan gaya manjanya.
“ Tidak, semua itu akan menjadi milik kekaisaran accretia, dibawah kibarab bendera accretia yang agung. Kami setuju berperang dengan kalian asalkan semuanya menjadi milik kami.” Dia dengan angkuhnya robot itu mengahantamkan tangannya ketanah.
“ Ok, ok masalah itu kita bicarakan nanti sekarang setuju tidak kaamu ikut berperang “ Tanya si kurcaci, dan dianggap dengan anggukan angkuh si robot.
“Tapi informasi tidak boleh bocor “ Kata elf melirik ke semua yang hadir disana.
Mereka saling diam, dan saling meliirik penjaga mereka. Desiran angin yang meniup dedaaunan terdengar jelas. Robot sombong itu seolah memberikan perintah dengan bahasa yang mereka miliki. Pemimpin elf  tampak tersenyum licik, sangat kontras dengan kesan pertama yang dia tunjukan.
“Serang cora!” teriak sang pemimpin robot itu.
Serempak mereka menyerang membabi buta terhadap bangsa elf,  serangan ini membuat bangsa elf seperti tersambar petir. Mereka mencoba untuk melawan tapi terlihat mereka tidak bisa mengeluarkan sihir mereka. Seolah ada yang menahan kekuatan kebanggaan bangsa elf itu keluar. Tembakan senjata pemusnah yang sering di sebut launcher itu menghantam keras dada dan mengoyak-ngoyak. Dari kepulan asap beberapa pengguna pedang bangsa elf masih bertahan dengan baju besi yang hancur berantakan dan maju merengsek kedepan. Beberapa unit robot ambruk, dan jatuh.
“ Ada apa ini? Kenapa jadi begini? “ Teriak salah seorang dari mereka.
“ Ini adalah kehendak Decem, kalian akan adalah orang yang pertama kali gugur untuk mempertahankan bangsa yang di kasihi olehnya. Kalian akan menjadi pembuka jalan untuknya melenyapkan masalah. Seperti halnya waktu dia memberi kita jalan dari kemusnahan oleh herodian. Kalian orang pertama yang gugur demi decem dalam perang menghancurkan human” Kata si pemimpin elf yang tentu sangat tajam. Dasar mak lampir.
Tanpa bisa membalas apa kata-kata dari pemimpin mereka dua pisau milik manusia sudah menembus mereka. Sementara itu pemimpin kurcaci menyuruh untuk  anak buaahnya melawannya. Terlihat wajah-wajah pengawalnya terperangah, tidak percaya dan rasa sangat marah. Mereka geram, marah tetapi mereka juga merasa berat. Terliihat sekali keloyalan mereka. Bagaimanakah dengan pengawal cantik si pemimpin tadi, dia hanya terdiam dan memnggenggam senjata yang baru saja diperbaiki oleh pemimpinya. Sang pemimpin tersenyum dan mengisi peluru snjatanya dan menembakan ke atas kemudian mengarakan kepada salah satu pengawalnya. Senjata itu meletus dan membuyarkan lamunan mereka.
Para pengawal itu langsung menyerang tanpa ampun kearah pemimpinya. Tapi si pemimpin kurcaci menghindar dengan mudahnya, peluru-peluru yang keluar dari moncong senapan terlihat seperti ketakutan untuk menyentuh tubuh si kurcaci. Sebaliknya peluru-peluru mendarat dengan mulus di kepala-kepala setiap pengawalnya. Pengawal cantik yang tersayang terlihat gugup dan mencoba melarikan diri. Tapi terlihat benda besar melayang kearahnya.
Dan pasti menyakitkan, terlihat kapak besar membelah punggungnya. Kapak itu terlihat hampir membelah tubuh kecil itu. Darah berhamburan dari tubuh yang langsung ambruk ke tanah. Wajahnya menyiratkan ketidak puasan ketidak relaan dengan semua yang terjadi. Mata yang tadi berbinar setelah di berikan senjata yang telah diperbaiki oleh pemimpin tercinta. Kini hanya menatap kosong senjata itu yang terpisah dengannya. Tangan yang mungil  mencoba untuk meraih kembali senjata itu. Kembali terdengar suara tembakan yang mengakhiri semua kajadian itu.
Ketiga pemimpin bangsa itu bergantian meninggalkan tempat itu, sisa-sisa pertempuran dibiarkan begitu saja. Mereka senjata-senjata yang dan tubuh-ttubuh masih bergelimpangan, pohon itu menjadi saksi bisu. Pemimpin kurcaci masih berdiri beberapa lama menatap tubuh yang sudah hampir terbelah dua. Dia agak tersenyum getir, dan berkata agak serak.
“ Aku sudah memperingatkan jangan ikut, cukup tunggu aku saja dan jadilah perempuan yang menurut. Kamu malah memaksa untuk ikut kesini, hhh. Pengorbananmu tidak akan ku sia-siakan. “
Ditangannya masih menggenggam pistol syalnya melambai-lambai. Dia menaiki robotnya dan menaatap mayat itu lagi dan menutup kokpit dan pergi. Tempat itu kembali tenang dan hanya desiran daun pohon yang terdengar.
“Oi Gatot mau sampaai kapan lu disitu?” Kata prajurit yang menyandang baju robot.
Aku hanya tersenyum dan berhenti memperhatikan scope ku dan membereskan SR-PB 2 ku tersayang dan menyandangnya. Kaptenku dan beberapa temanku mengumpulkan data suara yang berasal dari sabotase salah satu unit robot tadi. Aku menatap langit, terlihat indah dengan warna birunya dan beberapa planet yang terlihat dekat dengannya, berbeda dengan bumi. Yah kami bukan lah bangsa yang dapat ditaklukan dengan mudah. Pada saatnya nanti langit biru yang indah ini akan dihiasi dengan pesawat kami yang mengakhiri kolonialisme tiga bangsa di planet ini.
“ Kalau dilihat dari capatnya keputusan yang diambil ada yang aneh dah, masa secepat itu ya gak?” Kata temanku saat perjalanan pulang.
“Mungkin benar kata mereka tadi, bangsa kita memang lamban dalam mengambil keputusan, atau mungkin sudah ada perundingan seperti itu sebelumnya.” Kataku agak bercanda.
“Mungkin, eh bagaimana jika memang terjadi perang? Apa yang akan kamu lakukan?” kata temanku lagi.
“ Cepat-cepat menikah mungkin”

The End
Logged
From// (Juharizz) "Pejuang Bellato"

Kunjungi http://asaljadah.blogspot.com/

Kenzbooks

  • Kelasi
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 2
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #7 on: July 29, 2013, 12:12:24 pm »

Kalau kamu suka nulis dan ingin menerbitkan naskahnya, coba aja kirim naskah kamu ke Penerbit Kenzbooks, siapa tau naskah kamu di terima. Klu nyoba gak bayar kan?  ;) nih alamat websitenya www.kenzbooks.com

Good Luck! [thumbsup]
Logged

Juharizzz

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 40
  • Juharizzz
    • asaljadah.blogspot.com
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #8 on: September 18, 2013, 11:44:05 pm »

BAB II : Captain Divisi 9

Prajurit itu semakin masuk kedalam hutan, dia seolah-olah di pengaruhi oleh sesuatu yang membuat dia semakin tertarik kedalam hutan. Cahaya matahari enggan untuk menembus hutan itu. Kelam, dan gelap, kegelapan yang semakin pekat. Akhirnya sang prajurit sadar dia tersesat. Dia menengok kebelakang jalan yang dia lalui telah tertutup, tertutup oleh kenangan, tertutup oleh masa lalu yang kelam, tertutup oleh semua kesusahan dalam hati.
Dia menghela nafas dan tersenyum sendiri. Tiba-tiba dari rimbunya semak keluar seseorang dengan sebuah tombak ditangan. Sang prajurit menggenggam erat perisainya, siap menerima serangan yang datang. Tombak dan perisai beradu, sang prajurit maju untuk memperkecil jarak. Tak terpikir oleh sang prajurit itu adalah langkah yang buruk. Orang itu merubah serangan dari tusukan menjadi pukulan samping yang telak menghajar sisi kiri. Perisai kembali beradu. Perisai itu terlempar dan jatuh berdentang. Sementara mata tombak telah berada di ujung mata sang prajurit.
“ Kau siapa?” Tanya orang itu.
Sang prajurit diam sejenak dan berkata “ Aku mayor dua dari Brizantum “
Orang itu menaarik tombaknya dan tersenyum lega, entah kenapa dia terlihat senang. Dia membantu sang prajurit untuk berdiri.
“ Anda Alex ya? Pemimpin batalyon pertahanan benteng timur.” Tanyanya.
“Ya.” Jawab prajurit.
“Saya Sandro, kapten dari divisi 9”
“Batalion mana?”
“Divisi 9 pak” Jawaban sandro lebih formal.
“Bukanya divisi itu dibubarkan?”
“Bagaimana dengan anggotanya?” Tanya Sandro.
“Digabungkan dalam batalion-batalion yang ada”
Sandro terdiam, tanpa dia sadari dibelakangnya telah muncul monster berbaju emas dan menghunuskan pedangnya. Pedang yang mempunyai berduri tajam. Sementara sandro terpana, dengan tatapan kosong mencoba untuk mempersiapkan senjatanya. Monster itu sudah mempererat genggamanya di pedang. Sang prajurit langsung melemparkan perisainya dan ditangkis oleh pedang berduri. Kepala sang monster langsung menjadi sasaran pedangnya, tapi pukulan sasaran itu telah menghantam lebih dahulu sang prajurit, entah berapa banyak darah yang keluar jika tidak ada baju besi melindunginya.
Sang prajurit masih belum bisa berdiri dengan benar ketika terdengar suara ujung tombak dan pedang beradu. Sandro memainkan tombaknya dengan tusukan yang menghujani monster itu. Tapi monster itu tidak bergeming dengan satu serangan cepat dia menghancurkan baju besi sandro. Goresan panjang terlihat menganga di tubuhnya. Dia menahan sakit dan memegang dadanya yang mengeluarkan darah segar.
Setelah berusaha berdiri sandro mengangguk kepada prajurit, memberi isyarat bahwa dia merasa bahwa yang dihadapi tidaklah mudah dan dia mau bertaruh nyawa. Dan mungkin satu isyarat untuk berkata “ayo bertaruh”. Sang prajurit tersenyum sambil mengacungkan pedangnya kearah wajah monster sebagai balasan anggukan tadi. Terlihat wajah monster dengan mata kuningnya menyipit dan alisnya berkerut, bibirnya terlihat tersenyum sedikit.
Alex tersenyum, dan berlari kearah monster itu diikuti oleh Sandro. Mereka mengeluarkan jurus masing-masing. Senjata merekaa saling beradu dengan pedang si monster. Mereka menyerang habis-habisan, entah berapa puluh serangan yang dilancarkan oleh kedua orang itu. Entah berapa tebasan yang di lakukan oleh monster berbaju emas, tapi hasilnya dapat diperkirakan.
 Setelah itu terlihat sandro telah terbaring, ditanah yang penuh dengan bekas pertarungan mereka. Sementara perisai sang prajurit telah menjadi keping-keping besi. Dengan menggenggam pedang yang terlihat rusak, dia masih berdiri diantara sang monster dan sandro. Terlihat nafas kedua manusia itu terengah-engah, sementara darah masih mengalir di bibir keduanya.
Mata bertemu mata, sang monster masih tidak bergeming seolah serangan mereka tidak dihiraukan. Tapi terlihat goresan dan darah mengalir dari tangan si monster, menjadi saksi dahsyatnya serangan kedua manusia tadi. Sang monster sadar semua itu memancing senyuman di bibir prajurit muda, dan akan menyerang kembali.
“Tahan manusia!” Kata sang monster ketika prajurit muda itu akan memulai serangannya.
Alex berhenti menyerang dengan masih menyimpan seribu curiga. Dia menatap tajam kearah monster dengan kiasan tidak percaya.
“Aku disini untuk menolong kalian” Kata si monster meletakkan pedang kebelakang badanya. Pedang itu masih terlihat mengalir darah, darahnya dan darah kedua prajurit itu. Dia tersenyum dengan ankuhnya.
 Perkataan itu semakin tidak dipercaya oleh sang prajurit, monster itu berbeda dengan monster yang dia lawan. Cara dia bertarung seolah mempunyai seni bertarung yang tidak mungkin di miliki oleh yang lain. Dia semakin menatap tajam dengan pandangan curiga. Berbagai kecurigaan dan ketidak percayaan menyelimuti pikiran sang prajurit sampaii dia terkejut dengan suara sang monster.
“Jika aku mau kalian bisa saja ku bantai kalian disini” Kata monster berbaju emas itu dengan seringainya yang seolah mengetahui semuanya.
“Jangan percaya dia Alex, dia ingin menipu kita” Sandro berusaha bangun.
“Tapi perkataanya itu benar, jika dia mau dia bisa membunuh kita disini” Kata Alex dengan terus menatap monster itu, dengan senyuman yang tidak berwarna.
Monster itu memalingkan badan dan memberi isyarat untuk mengikutinya. Alex segera menghilangkan kebimbangannya, dia memilih daari beberapa kemungkinan dan memutuskan. Dia membantu sandro berdiri dan mengikuti pemandu baru mereka, entah mereka akan dibawa kemana. Sandro tidak henti hentinya mengoceh tentang keputusan yang dia pilih tapi tidak mengubah langkahnya.
Beberapa lama kemudian  terlihat secercah sinar matahari menembus dedaunan yang ditiup angin. Sandro tersenyum, begitu juga Alex. Dia menggenggam tombaknya dan memandang kearah monster berbaju emas yang kemudian menghilang didalam rimbunya dedaunan. Beberapa saat setelah sang penolong itu menghilang mereka langsung ambruk, tenaga mereka terkuras di pertarungan tadi tapi senyum kepuasan masih menghiasi wajah mereka. Terlihat matahari sudah bergerak kearah barat, angin semilir membuat dua prajurit ini terlena. Hingga terbesit sebuah ingatan membuat Alex sadar. Ingatan yang membawanya kepada sosok yang indah.
Dia segera berdiri dan berlari tanpa menghiraukan apa-apa lagi, ya Amelia pasti telah menunggunya. Terasa sangat lama baginya didalam hutan yang kelam itu, meskipun sebenarnya cuma dua jam sih. Hutan yang didalamnya  hampir tidak ada warna selain biru tua dan kelabu. Sampai pergantian waktu pun tidak dia ketahui.
Alex mencoba berdiri meskipun tubuhnya terasa sangatlah berat dengan luka dan kelelahanya. Dia mencoba mengumpulkan tenaga dan memulai langkah demi langkah. Beberapa langkah kemudian dia merasa waktu yang dia lalui begitu cepat. Dia mulai berlari berlari dan terus berlari. Hingga sampai ditempat dia terakhir bersama Amelia, terlihat hanya ada bekas-bekas kayu terbakar. Beberapa waktu yang lalu ada orang disekitar sini pikir sang prajurit.
Beberapa saat kemudian tubuhnya terasa sangat lelah, baju besinya terasa sangat berat. Helaan demi helaan nafasnya semakin menambah sakit luka yang ada. Dia tertunduk dan memejamkan mata. Beberapa saat kemudian sebuah tangan menggenggam tangan prajurit yang sudah lemah tak berkaku. Dia membuka mata dan menoleh kearah tangan yang halus itu, dan memandang pemiliknya. Senyum terlontar dari wajah yang manis seolah menjadi pengendali tubuh si prajurit muda.
Kini baju besi yang dipakainya seolah seringan kapas, luka yang dideritanya menghilang entah kemana. Lelah dan penatnya sirna tetapi kata-kata dari mulutnya masih tidak bisa keluar sampai orang yang ada didepanya mememulai pembicaraan.
“Ada apa kenapa kamu melihat aku seperti itu?” Tanya Amelia.
“A tidak apa-apa, dari mana aja?” Kata Alex salah tingkah.
“Mestinya saya kan yang bertanya kamu dari mana? Saya baru mengambil kayu untuk memasak” Perkataan Amelia itu menyadarkan Alex bahwa Amelia sedang menggendong setumpuk kayu bakar.
“Sini biar kubantu” Alex mengambil kayu-kayu itu dari tangan Amelia dan membawanya kearah bekas-bekas tumpukan kayu terbakar tadi. Kemudian dia menghunus pedangnya dan menebas rumput-rumput di sekitarnya.
“Kalau mau menyalakan api rumput-rumput disekitarnya di bersihkan dulu, jangan sampai kebakaran akibat api yang menjilat kerumput yang kering” Kata Alex.
“Iya” Jawab Amelia, dia tersenyum tapi senyum itu tidak untuk sang prajurit  tetapi untuk kejadian dia waktu menyalakan api unggun pada malam hari. Dia hampir saja membakar semua rumput yang ada disana. Kebakaran semakin besar dan akhirnya dia harus mengeluarkan sihir es untuk menghentikan api yang kian menyebar. Dia juga teringat dengan mimpinya di malam itu.
Amelia sangat letih pada malam itu, karena mengeluarkan sihir es yang sangat besar. Dia tertidur dengan rumput. Tidak lupa dia membaca mantra pelindung tidur yang di ajarkan gurunya. Mantra berguna untuk melindungi dari ancaman binatang buas dan orang-orang yang berniat jahat. Setidaknya itu lah yang gurunya katakan. Dia menoleh kearah hutan larangan yang baru saja dimasuki oleh Alex dan berharap prajurit itu akan datang lagi. Hutan yang bahkan bangsanya sendiri tidak berani untuk masuk.
Dia menghela nafas terasa sangat berat baginya memikirkan kebodohan si prajurit. Tak lama kemudian Amelia tertidur pulas. Sampai dia tidak sadar dia sudah berada dalam mimpi. Di dalam mimpi itu dia melihat seorang wanita, dia duduk menghadap kegelapan. Seolah membaca sebuah buku. Amelia tiada melihat wajah sang wanita itu, dan diam membatu.
“Apa kau mau mendengarkan sebuah nona? Tentang cerita kerajaan penyihir Mora?” Tanya wanita itu.Amelia tidak menjawab, tetapi kemudian perempuan itu melanjutkan ceritanya. Amelia terus melamun sampai sebuah teriakan mengejutkanya. Dia menoleh kearah suara. Terlihat seorang pria dengan baju compang-camping bertumpukan tombak berjalan gontai kearah mereka. Angin sedang bertiup kencang orang itu terlihat seperti mayat hidup. Tapi Amelia merasa bangsanya tidak pernah membolehkan membuat monster dari seorang mahkluk seperti ini. Dia memandang kearah Alex yang hanya garuk-garuk kepala.
“Sialan kau Alex, bisanya kau ninggalin aku” Kata Sandro duduk kelelahan.
“Lah emang situ siapanya aku? Minta di tungguin?” Pikir Alex sambil senyum kecut.
Sandro tiba-tiba saja batuk dan mengeluarkan darah segar. Alex baru menyadari kalau Sandro masih terluka akbat serangan dari monster berbaju emas itu dia segera bangkit menuju Sandro yang masih terbaring. Sebelum tangannya menyentuh kapten divisi 9 itu, Amelia telah merapalkan mantranya. Tangan putih itu semakin berkilau kemudian memancarkan cahaya, sebuah rajah membentuk ditanganya. Badan Sandro kemudian sembuh dengan sendirinya.
Tapi satu yang tidak dimengerti oleh sang prajurit, Sandro melihat Amelia sangat aneh. Seolah menyimpan ratusan amarah dan kebencian,berbeda sekali dengan apa yang sudah Amelia lakukan untuknya. Alex hanya menahan keherananya, dia yakin Amelia juga merasa demikian.
“Wah cantik sekali, pinter masak lagi. Mayor memang hebat cari pacar” Kata Sandro setelah memakan masakan Amelia.
Alex hampir saja tersedak mendengarnya, dan menjelaskan agak terbata-bata. Amelia hanya diam dan agak malu, memakan makananya kemudian menundukan kepala. Alex menatap Amelia yang seperti itu, dia juga ikut canggung juga. Sementara sandro tersenyum, dia puas hanya dengan mengatakan sedikit kata-kata saja dia sudah tahu hubungan mereka berdua. Tatapanya semakin tajam terhadap Amelia dan terlihat tatapan penyesalannya terhadap alex.
Makan malam mereka terus di bumbui dengan pembicaraan-pembicaraan santai. Alex merasa tidak baik membicarakan masalah perang atau sebagainya dihadapan Amelia. Dan Sandro pun merasa begitu, tetapi dengan alasan yang berbeda.
“Kamu tahu Alex? Hutan apa yang baru saja kamu masuki?” Tanya Amelia memulai pembicaraan. Mereka hanya duduk berdua di samping sungai Sandro pergi mencari kayu bakar. Mendengar pertanyaan dari Amelia, Alex hanya mengisyaratkan dia tidak tahu.
“Kamu memasuki hutan terlarang, yang bisa menyesatkan orang dengan kegelapan dan waktu. Kamu tahu sudah berapa lama kamu didalam sana?” Tanya Amelia. Alex kembali mengisyaratkan ketidak tahuannya. Amelia hanya tersenyum dan membenarkan duduknya. Dia memandang Alex, dengan harapan bisa membuatnya canggung. Terbukti dia mulai salah tingkah dan itu membuat Amelia tersenyum lagi.
Alex hanya bisa memandang kedepan sambil sekali-sekali memandang gadis cantik yang ada disampingnya. Risih dan malu menyelimuti hatinya, dia tahu bahwa dia sudah merasakan apa itu jatuh cinta. Benar-benar menyusahkan pikir Alex apalagi saat sekarang, pandangan Amelia yang sangat imut-imut itu membuatnya makin salah tingkah. Entah berapa kali dia menarik nafas panjang untuk menghilang kan rasa canggungnya. Dan ada rasa yang lain, hasrat yang sangat menggebu, seolah dia ingin menikmati tubuh yang indah itu. Sementara itu Amelia masih memandangnya dengan pandangan yang sama seperti sebelumnya.
Sementara itu Sandro masih bersembunyi, dia menatap tajam memperhatikan kearah perkemahan mereka. Dia memandang dengan pandangan permusuhan sambil terus menggenggam tombaknya. Nafasnya terdengar satu-satu, tumpukan kayu yang ada di punggungnya diletakan ditanah. Ya dia berada dalam kondisi siaga penuh, atas segala kemungkinan yang terjadi. Beberapa saat kemudian matanya menangkap kejadian yang mengejutkan. Tidak ada kata-kata lagi untuknya selain menghambur kearah depan.
Alex yang salah tingkah asyik juga untuk di lihat pikir Amelia. Dia masih saja memandang Alex, memandangi wajahnya. Eh, kok Alex menatapku, eh dia memandangku dengan nafsu seperti itu. Itulah pikiran Amelia sebelum kejadian yang mengejutkan baginya terjadi. Setelah Alex memandangnya dengan pandangn yang aneh itu, tidak beberapa lama kemudian tangan Alex menahan tubuhnya. Amelia tidak tahu apalagi yang harus dia lakukan, wajah Alex bagitu dekat wajahnya. Dan, bibir kedua insan berbeda bangsa itu saling bertaut. Amelia hanya terdiam dan melamun, apakah dia bermimpi dan apa yang harus dia lakukan sekarang dia benar-benar tidak tahu.
Alex menyadari perbuatannya sangat kurang ajar tapi nafsulah yang mengontrol pikiranya. Ciuman itu, meskipun tidak ditanggapi oleh Amelia tapi tidak ada penolakan. Maka iblis dalam pikiran Alex bertambah gila. Dia mulai mencoba membuka baju besi milik Amelia. Tapi..
BZZZZTZT
“Lghtnin bomb” Amelia menyadari itu adalah serangan yang dapat membunuh seekor waolfr. Tapi baginya apa yang dilakukan alex sudah keterlaluan. Tubuh alex terpelanting sangat jauh dengan penuh dengan luka. Sandro segera berlari menghampiri sambil membawa tombaknya. Dia berniat menyerang Amelia, tapi Alex menghalangi langkahnya.
“Sandro, than” Perintah Alex, dia mencoba berdiri badanya masih terlalu sakit untuk bergerak. Dia sangat menyesali tindakanya, tidak seharusnya dia dikendalikan oleh nafsu yang bisa mengakibatkan kejadian patal seperti sekarang. Dia melangkah gontai menuju Amelia yang terlihat lebih tenang bahkan terlalu tenang satelah kejadian tadi. Dia mencoba duduk di posisinya semula. Dia tidak memperdulikan Amelia lagi yang masih berada di tempatnya tadi hanya memandang kedepan.
Sandro kembali ketempat dia meletakan kayu-kayu tadi, dia terlihat geram sekali. Bagaimana bisa seorang mayor pasukan Brizantum jatuh cinta dengan seseorang seperti itu. Dia dengan tidak sadar meninju pohon dengan kerasnya, sial kesialan ini harus disudahi.
Amelia hanya diam, dia bersiap dengan apa yang akan dihadapinya dari sandro. Laki-laki itu terlihat sangat marah dengan yang dia lakukan kepada alex. Tapi menurutnya apa yang baru saja dia lakukan adalah hal yang benar. Alex terlihat menahan si Sandro, heh tahu diri juga dia pikir Amelia. Dia berusaha untuk bersikap seperti biasa dengan tanpa merasa bersalah. Kini Alex duduk di tempatnya tadi, dan memandang kearah depan. Meskipun iba dengan luka yang baru saja di torehnya ketubuh Alex, Amelia mencoba untuk diam. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh alex selanjutnya.
Tapi mereka hanya diam sampai matahari benar-benar menghilang dan malam sudah gelap. Saandro terlihat mengatur api yang hampir padam, dia menatap dua orang yang masih saja berduan. Padahal mereka baru saja hampir saling bunuh, Sandro hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tangan nya masih berlumuran darah akibat beradu dengan batang pohon.
“huaahhm, aku ngantuk, aku tidur duluan ya lex.” Kata sandro mencoba mencairkan suasana. Tapi lawan bicaranya tidak menggubris. Sandro berdiam sebentar dan menjauh dengan wajah agak kesal. Alex hanya memandang air yang ada disungai dan di penuhi dengan pikiran dan rasa sesalnya.
“Saya tidur dulu, ya tuan prajurit.” Kata Amelia, Alex memandang Amelia yang berdiri dan berjalan menjauhinya.
“Amelia yag tadi, aku minta maaf” Kata Alex tertunduk. Sungguh dia sangat malu dengan apa yang dia perbuat tadi.
“Ya, tidak apa-apa, saya juga minta maaf telah melukai anda seperti itu” Kata Amelia.
“Tapi berjanjilah, yang tadi tuan lakukan adalah yang pertama dan yang terakhir” Kata Amelia lagi. Alex mencoba menangkap apa yang dimaksud Amelia, kemudian dia tersenyum.
“Ya aku berjanji.” Jawabnya mantap.
Begitulah kisah dua insan yang berbeda bangsa ini bertemu, dan sama-sama merasa jatuh cinta dengan yang lain. Meskipun keduanya menyimpan perasaan dan menyisakanya di kelakuan, tetapi satu hal yang membuat mereka berdua sama satu sama lain. Yaitu menjadikan kebohongan sebagai topeng untuk menutupi kenyataan hati mereka masing-masing.


lanjutan yang diatas
Logged
From// (Juharizz) "Pejuang Bellato"

Kunjungi http://asaljadah.blogspot.com/

Juharizzz

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 40
  • Juharizzz
    • asaljadah.blogspot.com
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #9 on: April 16, 2015, 12:18:39 am »

 BAB III : Shade

Malam semakin larut, padang rumput kini menjadi lautan kegelapan. Hanya cahaya bulan yang menyibak pekatnya malam. Hutan waktu yang tadinya terlihat kini seolah menghilang. Tapi dari arah sana terdengar bermacam-macam suara, kadang terdengar suara geraman, tangisan, teriakan. Sang prajurit hanya berdiam diri memandang kearah api, dia berpikir jika perang ini tidak ada apakah dunia ini akan aman.
Sandro masih saja memandang kearah hutan, dia tidak menyadari Alex sudah ada dibelakangnya. Beberapa saat kemudian dia merasakan kehadiran seseorang dia menatap kearah Alex tapi kemudian dia merasakan sesuatu. Dia bangkit dari duduknya dan menggenggam erat tombaknya.
“Sandro ada yang ingin ku tanyakan” Kata Alex dia bingung dengan kelakuan sandro yang seolah siap bertempur. Sandro masih belum memperdulikan Alex sampai dia merasa sesuatu itu telah menghilang.
“Apa yang ingin anda tenyakan pak?” tanyanya
“Tentang tatapan mu kepada Amelia” Kata Alex
“Justru itu yang mau kutanyakan, dari mana kamu mendapatkan jalang itu?” Tanya Sandro balik dengan senyum palsu.
Perkataan Sandro itu menuai amarah Alex, dia menghantam  Sandro jatuh. Sandro segera menghantam balik, tinjuan telak di perut Alex tidak mengendurkan Alex untuk memberikan tinjunya ke mulut Sandro. Mereka mundur dari lawan beberapa langkah. Sebelum mereka menyerang lagi beberapa hantaman saling mengenai mereka.
“Gara-gara seorang wanita itu kau menyerang bangsamu sendiri, kau mayor gagal Alex aku tidak tahu kenapa kau bisa jadi mayor” Kata Sandro menunjuk Alex.
“Sudah selesai mengocehnya?” Tanya alex
“[cluebat] kau” Sandro hanya menggerutu.
“Ya aku memang si [cluebat] yang jadi mayor. Ada masalah?” Sandro tidak menjawab.
“Sekarang aku mau tanya, alasanmu membenci Amelia?” Kata Alex
Sandro duduk dan menatap langit, dan mencoba untuk duduk dengan nyaman. Dia mengingat dan memikirkan harus bercerita dimulai dari mana. Sungguh rasa sakit bekas hantaman Alex masih tidak bisa dia terima.
“Kamu tahu kan divisi Sembilan itu divisi apa? Kami melakukan patrol seperti biasanya antara benteng timur dan barat. Pasukan pada waktu itu sebanyak 500 pasukan. Sampai di daerah hutan itu kami mendirikan kemah, tepat disebelah sana” Sandro menunjuk ke arah seberang sungai. Alex hanya diam, dia mendengarkan dengan seksama dan berusaha mencerna cerita Sandro.
Sandro melanjutkan lagi ceritanya “ Beberapa saat setelah kami istirahat secara tiba-tiba serangan api menghujani kami. Srangan sedahsyat itu kukira di lakukan oleh besar. Pasukan tercerai berai akibat olah penyirhir bersama beberapa pasukan monsternya. Pasukan ku semuanya habis, tinggal aku pergi dari tempat itu.”
“Ada yang aneh dari laporan kau ini, biasanya anggota pasukan patrol hanya terdiri dari beberapa puluh orang saja sampai 500 pasukan. Bukankah itu terlalu banyak?” Alex menangkap keganjilan.
“I itu adalah pasukan bantuan yang dikirim ke benteng timur, dari divisi pemanah. Kami di tunjuk sebagai pengawal” kata Sandro terbata disambut anggukan Alex.
“Lalu kenapa kamu yakin dia itu musuh”
“Siapa?”
“Amelia”
“Dilihat dari bajunya” Jawaban Sandro ini membuat Alex tersenyum geli, karena di negara itu model baju keseharian hampir semua sama meskipun dari petani sampai pedagang. Mungkin hanya baju raja yang terlihat berbeda.
“Dan telinganya”
“Eh?” Alex terperangah, apa lagi yang dimaksud orang ini pikirnya.
“Kau tidak memperhatikannya? Telinga mereka berbeda dengan kita kebanyakan. Mungkin itu telinga kutukan karena memakai sihir” Kata Sandro sotoy.
Alex menghela nafas, dia memutuskan untuk memberitahukan identitas Amelia. Dari pada urusan tambah runyam pikirnya.
“Sandro, Amelia adalah anak dari jendral kita”
Sandro tidak terkejut dia malahan menemukan satu kebenaran lagi yang membuatnya makin jijik. Dia semakin yakin atas semuanya, peperangan ini adalah konflik yang tidak berguna. Dia tersenyum geli mengingat anak buahnya yang sangat bersemangat dengan impian menjadi pembela negara sehingga dia melupakan keharusanya dahulu. Mereka termakan oleh kata-kata  seorang jendral yang menggebu-gebu bahwa setelah peperangan ini tingkatan kasta akan di hapuskan. Dan memulai sejarah baru yaitu negara yang bebas, sungguh lucu.
Kini mereka telah tiada, pasukanya yang bodoh telah binasa semuanya. Para prajurit yang cukup berani dan loyal itu telah menjadi perisai yang membuat captainya masih hidup sampai sekarang. Senyuman seorang pasukan itu dan perkataanya masih terngiang di telinganya.
“Kami ini tidak memiliki siapa-siapa lagi sebagai sebuah keluarga, tidak mempunyai lahan sebagai seorang pria dan tidak mempunyai jasa yang besar sebagai seorang prajurit. Tapi kami hanya ingin berbuat yang lebih untuk berdirinya negara ini. Dan aku ingin anda akan menceritakan kisah kami disaat anda sudah tua kepada anak-anak anda.” Katanya sambil menghisap rokok beberapa waktu sebelum mereka hilang semuanya.
Sandro menggenggam erat tombaknya, kemudian berdiri. Dia memandang Alex dengan pandangan yang membuat Alex bingung. Pandangan penuh kesedihan, dia menyerah, dia berkata “Aku benci mereka”.
“Dengarkan lah, hentakan kaki kami
  Kami sandang baju besi yang berat
  Untuk pergi ke tempat perang
Membawa musuh jauh kedalam neraka
Inilah waktu yang tepat untuk mati”
Alex melantunkan lagu yang dia ingat, menoleh ke sandro. Sandro tersenyum dia mengingat lagu itu diajarkan di divisi Sembilan. Dia ikut melantunkan lagu itu, genggamannya mengendor.
“Aku tidak akan menyerah sampai kemenangan kita yang menggenggamnya” kata Alex menggebu.
“Dengan cara membawa musuh ke dalam benteng?” Kata Sandro penuh ejek.
“Ya dan mengorek informasi tentang musuh darinya” Jawab Alex enteng.
“Hmm biisa juga sih, aku harap anda tidak lemah karena kecantikanya”
Sandro tersenyum dengan sok keren, dia menyandang tombaknya dan naik ke atas pohon dan duduk di atas dahanya dan bersandar. Sambil memeluk  tombaknya dia masih merasa menyesal dan terkhianati oleh negaranya, dan oleh apa yang dia bela. Dan dia kini makin yakin tentang jalan yang dia tempuh sekarang, jalan yang dulu dia ragukan kini menjadi semakin benderang dan memastikan dia untuk melangkah disana.
Sementara itu alex hanya memandang keatas melihat sandro yang mungkin sudah tertidur. Dia mencoba melupakan semua kesahnya, seolah masalah terus menyelimuti dirinya. Apalagi badannya sangat letih dengan semua yang terjadi dia memandang tenda, tampaknya Amelia telah tidur. Untung dia tidak bangun dan menyaksikan mengetahui perkelahian tadi. Yah Alex juga bingung kenapa dia terlalu memperhatikan gadis itu.
Sementara itu celah tenda yang dipandangi sang prajurit tadi sudah menutup. Terlihat seorang gadis meringkuk didalamnya dia hanya menatap dinding tenda dan mencoba menutup mata. Dia masih mengenang apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar, kemudian mengingat ciuman pertamanya beberapa waktu lalu. Tanpa sadar dia menyentuh bibirnya, dan mencoba untuk menutup mata berharap sang mimpi akan menolong kegelisahanya.
Alex berjalan lebih jauh lagi, matanya bukan mata orang tua. Dia masih dapat melihat meskipun bulan sudah tidak lagi penuh diatas sana. Desiran angin meniup padang rumput menambah tenangnya malam. Hembusan dan desiran angin itu semakin lama makin kencang. Tangan sang prajurit langsung meggenggam erat gagang  pedangnya. Pada hembusan angin berikutnya dia makin yakin mendengar bisikan, dia melihat sekeliling tetapi tidak ada apa-apa selain padang rumput yang luas.
Hembusan angin itu datang lagi, tapi kini alex tidak lagi kebingungan, rasa kecurigaan dan keingintahuanya sudah sirna. Dia tidak lagi merasa penasaran dari mana bisikan itu, pegangan pedangnya melemah. Semuanya sudah sirna dihapus dengan ketakutan. Sebuah mata memandang matanya, mata yang semerah darah. Mata itu semakin mendekat sampai satu depa lagi, dia sadar bahwa mata itu dimiliki oleh bayangan, bayangan seorang wanita.
Pegengan pedangnya kembali dia per erat dan satu serangan dia hunjamkan  kearah musuhnya. Tapi dia sangat terkejut, pedang itu tidak menghasilkan apa apa. Pedang itu seolah terjatuh didalam lubang yang dalam dan tidak dapat diatarik lagi. Tidak habis kebingungan alex, tangan mahluk itu menarik nya dan membuatnya menatap mata yang merah tadi, tidak beberapa lama dia sudah berada dalam kegelapan yang tidak berujung.
Seorang prajurit nak? Apa kamu suka padanya? Jangan kamu terlalu percaya denganya. Belum tentu dia baik, kamu hanya bertemu dia di alun-alun kota. Saat dia diseret oleh para prajurit dan dia kamu bebaskan. Hanya untuk menemukan ayahmu. Kenapa kau tidak mencariku nak? Oh ya, aku lupa kamu mengira perempuan itu adalah ibumu. Nak maaf kan kami.
Kegelapan mulai menyelimuti matanya, mata yang sudah terlatih dalam gelap kini sudah tidak berguna. Alex mencoba mencari pedangnya dan tidak bertemu, temannya di medan perang. Alex sesaat kemudian dia melihat seberkas cahaya, entah kenapa dia tertarik dengan cahaya itu. Di depanya kini sudah terpampang tubuh wanita bersandar disebuah pohon. Semakin dia mendekat tahu, pohon itu menahan tubuhnya. Wanita itu membuka mata, dia menatap kearah alex.
Tanpa pikir panjang alex segera maju dan mencoba membuka apa yang mengikat wanita itu tetapi ikatan itu kembali seperti semula seolah-olah ikatan itu tumbuh dan tidak mau melepaskan dekapanya. Sang wanita malah tersenyum, melihat senyuman itu alex mundur dan bersiap. Tapi langkahnya terhenti saat kakinya menginjak sebuah logam, ah itu pedangnnya. Wanita itu masih tersenyum, entah apa yang di senyumkanya. Tapi senyuman berbalas tatapan tajam orang dihadapnya. Seketika itu juga terdengar bunyi pedang mengoyak sesuatu, ayunan demi ayunan.
Beberapa saat kemudian tubuh wanita itu jatuh ke tanah, alex dengan cepat menangkapnya dan membawanya pergi. Pohon yang tadinya bercahaya kini semakin redup, cahaya sebenarnya ada dalam tubuh wanita itu. Pikiran itu masih ada sampi dia sadar dia tidak tahu arah di kegelapan yang cukup panjang ini.
“Tante, apa anda tahu arah mana yang harus saya tuju?” Tanya Alex sesopan mungkin.
“Disana” Jawab wanita itu singkat, jawaban yang terdengar serak.
“Anda haus?” Tanya Alex. Sambil mencari-cari kantong minumnya, tapi ora ono.
Wanita itu tersenyum, dan mengisyaratkan untuk meneruskan perjalanan. Hitam dan hanya hitam yang terlihat, alex mulai kehilangan kepercayaanya tentang arah yang di tuju. Tapi jawaban tetap menunjuk kearah depan. Semakin lama warna hitam berubah menjadi kelabu. Sementara itu badan wanita itu semakin melemah.
“Hei, tante, tante namanya siapa?” Tanya Alex, tapi yang ditanya diam saja.
Alex menghela nafas, punggungnya kini mulai terasa sakit. Berjalan terus dan mencoba melupakan keletihanya, dia malas memikirkan sesuatu hal sepele seperi itu. Hatinya mulai menerawang tentang benteng timur yang sudah menjadi puing-puing, kemana para penghuninya. Apa melarikan diri tertawan atau gugur di sana. Dia memperkecil kemungkinan itu jika penghuninya tertawan tentu dipenjara itu tidak hanya dia seorang. Kalau gugur aka nada banyak mayat di benteng itu, dia memikirkan hal yang lebih menyenangkan hatinya yaitu para pasukan melarikan diri.
Beberapa kali dia membetulkan posisi badan orang yang ada dibelakangnya. Deruan nafas wanita itu membuat dia tahu bahwa orang yang berada dibelakangnya masih hidup. Jalan kini semakin terang, terlihat garis cahaya di ujung sana. Dia mulai berfikir tempat apa yang sekarang dia jalani.
“Aku ingin melihat cahaya matahari, sekali lagi” kata wanita yang suaranya kini hanya terdengar sayup-sayup.
“Hmm, nah kalau begitu semangat, pegangan tante” Kata Alex tersenyum, dia mulai berlari.
Entah kenapa semangat menjadi menyala didadanya, garis cahaya itu semakin terlihat dan tiba-tiba saja nuansanya berubah menjadi dipinggir hutan. Alex masih belum percaya dengan apa yang dia alami, di berbalik dan yang dia lihat hanyalah hutan belantara. Cahaya matahari yang menembus dan angin meniup daun-daun hutan itu, kicauan burung juga menambah fakta bahwa dia sekarang berada dipinggir hutan.
Dia mulai berfikir apa yang dia alami tadi hanyalah mimpi, tapi saat itu juga sebuah tangan menggantung disamping badanya. Tangan dari wanita yang dia tolong beberapa waktu lalu atau mungkin sebaliknya ia yang ditolong wanita itu. Alex kemudian membawa wanita itu keluar hutan. Ya dia ternyata kembali di padang rumput itu lagi, sinar jingga pagi hari terlihat di ufuk timur.
“Hei, lihat lah, sinar mentari menyambutmu.” Kata-kata itu disambung senyum sang wanita.
“Oh iya sebentar aku bawa tante ke teman-temanku”
“Tidak usah”
Wanita itu turun, dan berjalan beberapa langkah. Dia menggenggam sesuatu dan memanggil Alex dan menyerahkan dua buah cincin. Cincin satu bermata zamrud dan cincinkedua bermata intan kuning.
“Ambillah”
“Ah, gak usah tante, nolong ikhlas kok”
Wanita itu memegang tangan alex dan tangan nya seolah terbuka sendiri. Meskipun alex sudah berusaha untuk menutupnya. Cincin itu mendarat mulus di telapak tangannya yang kemudian menutup.
“Perhiasan ini akan menjadi pelindungmu disaat kamu kesusahan” Kata-kata wanita itu semakin melemah. Tiba-tiba saja darah segar keluar dari mulutnya, wajahnya kini makin memutih. Alex menangkap tubuh itu dipelukanya, tubuh itu semakin terasa dingin. Dia hanya bisa mengatakan untuk bertahan, harapan yang dia miliki hanyalah Amelia tapi apakah gadis itu dapat mengobatinya?
Tangan wanita itu menyentuh pipi alex sambil berkata “ Apa kamu masih ingin mengembalikan perhiasan itu?”. Alex hanya menggeleng, kemudian tubuh yang dia peluk memancarkan cahaya. Cahaya itu makin menelan habis tubuh sampai menelan tangan sang prajurit.
“ Jagalah permata hatiku”
Setelah mengatakan itu dia menghilang dari dekapan alex hanya menyisakan debu-debu cahaya yang ditiup angin. Tapi entah kenapa perasaan alex merasa hangat. Mungkin karena sinar pagi, atau debu2 tadi. Alex bangun dari duduknya, menatap debu-debu tadi yang makin menjauh.
Nak, dia calon yang baik. Meskipun dia tidak terlalu sempurna. Dia masih terdiam nak, mungkin dia mencari arti kata-kata dari ibu tadi. Tampangnya lucu juga.
Wajah nan cantik kini membuka matanya sudah yang sudah lelah dengan tidur. Dan mungkin juga dia terbangun dari bisikan tadi. Dia pandangi sekeliling, yang terlihat hanyalah dinding-dinding tenda sihir yang dia dirikan. Tenda itu terbuka setelah dia mengucapkan mantra. Suara yang dia dengar pertama kali adalah suara cipratan air di sungai. Terlihat sandro sedang mencoba menangkap ikan dengan tombaknya. Sandro hanya memandanginya sebentar dengan tatapan yang tidak enak. Dia tidak terlalu memperhatikannya, dia hanya mencari seorang pria. Dan itu tidak dapat dia cari.
Sandro sudah selesai degan menangkap ikannya, dan meletakkan tangkapanya di dekat pohon. Dia hanya memperhatikan yang Amelia lakukan, gadis itu sekarang membasuh wajahnya. Hmh bisa-bisanya dia tidur dengan tenangnya, padahal alex dan aku berkelahi hanya karena mempermasalahkan dia. Kurang ajar dia, bisa-bisanya dia mempengaruhi alex. Beberapa saat kemudian dia menyadari seseuatu, yang membuat gigi-giginya bergeretak.
Wah sandro sudah berhasil menangkap ikan, besar juga pikir Amelia. Hemm enaknya dibumbui pakai apa ya, kalau memasaknya pasti di panggang lah. Tapi bumbunya? Sambil berjalan kearah pohon tempat diletakkanya ikan tadi, dia terus memikirkan itu sampai  tidak sadar sandro pergi. Tidak beberapa lama kemudian terlihat api menyala di tempatnya.
Sementara alex masih berada disana, dia seolah mabuk dengan kejadian tadi. Pikiranya masih saja memikirkanya. Apa lagi pemandangan pagi yang cerah menambah keasyikanya menuai fikiran. Dia menutup mata mencoba menikmati apa yang diberikan oleh alam kepadanya. Dan mencoba memutar lagi beberapa ingatan yang sudah di laluinya. Beberapa kenangan akhirnya mulai datang dengan sendirinya, kenangan disaat-saat bertemu dengan Amelia, ketika dia bersama pasukan, pertemuan dengan sang jendral. Sampai akhirnya ingatanya bertemu dengan wajah orang tuanya yang terbunuh dalam kebakaran beberapa bulan sebelum perang terjadi.
Kenangan itu dia putar dalam satu kali tarikan nafas, setelah itu dia kembali membuka mata kemudian menyarungkan pedangnya. Sesaat dia ingin memulai langkah, badanya terasa begitu letih tangan kananya sangat sakit seolah tanganya di kuliti. Akhirnya tubuh itu roboh, tanpa dia kehendaki, dia tertidur. Entah kenapa sakit itu berangsur-angsur hilang tapi matanya masih tertutup.
Sandro diam sesaat memandangi tubuh yang roboh di hadapanya. Mulutnya terbuka tetapi tidak sepatah katapun yang keluar, pertanyaan kenapa yang ada dikepala penyebab semua itu. Tubuh yang tadi berdiri tegak kini sudah berkalang tanah. Sesaat dia merasa gamang, samapai seorang melewatinya. Rambut gadis itu melambai di depan matanya dan terlihat cemas. Gadis itu melihatnya dan menatap marah, sambil memenyentuh tubuh yang terkulai lemah tersebut.
“Sandro apa yang anda lakukan cepat tolong Alex” Kata Amelia menatapnya dengan marah.
“Apa yang harus kulakukan? Dia tiba-tiba saja ambruk” Kata Sandro.
“Dudukan dia” Kata Amelia sambil merapalkan mantranya.
Belum berakhir mantra itu dibaca mata orang yang mereka khawatirkan membuka. Dia terlihat bingung dengan keadaan sekeliling, dan menatap Amelia dan Sandro bergantian. Wajah mereka menyiratkan ketakutan sementara tangan Amelia berada tepat di depan dadanya. Entah kenapa dia jadi ingin tertawa, senyumnya tidak bisa dibendung lagi.
“Kurang ajar” kata Sandro melepaskan kepala Alex ke tanah. Alex hanya meringis dan memegangi kepalanya. Dia berdiri dan menatap Amelia yang telah kehilangan kecemasanya. Dan memandang sandro yang terlihat kesal.
Alex hanya mengulurkan tangan kearah Sandro, dan sekali lagi mereka saling tatap sama seperti di hutan itu. Sandro yang semulanya heran akhirnya tersenyum dan menangkap tangan itu. Setelah membantu Sandro berdiri, mereka masih berjabat tangan. Sementara itu Amelia hanya memandang dengan nafas lega. Ingin dia juga ikut nimbrung, tapi dia sadar dia harus membiarkan suasana ini untuk beberapa lama dahulu.
Amelia berdiri dan ingin pergi dari sana dia tidak ingin keberadaanya mengganggu kedua orang itu. Tanpa dia duga tanganya di tahan oleh seseorang, dan mempertemukanya ke kedua tangan yang lagi berjabatan itu. Dia tidak menyangka dengan apa yang terjadi. Dan akhirnya hanya bisa pasrah dengan maksud semua itu.
“Mulai sekarang kita akan memulai perjalanan sampai beberapa hari kemudian. Aku harap kita dapat bekerjasama” kata Alex
“Ok, sesuai kehendak anda” jawab Amelia sambil melirik Sandro.
“Siap” Kata Sandro.
“Ayo bersiap, saya akan memasak ikan yang di tangkap Sandro. Meskipun masih kurang sih kayunya” Kata Amelia besemangat.
“Ok aku yang ngangkat kayunya” Kata Alex mengambil kayu yang baru saja di cari Sandro.
“Hei, mau mendulang jasa sendirian ya?” kata Sandro
“Jasa bawahan kan akan menjadi jasa atasan juga”
“Weh, hukum yang seperti itulah yang menyebabkan kebobrokan system militer kita” Kata sandro yang mulai memanaskan suasana.
“Bercanda sandro” kata Alex sambil memanggul kayu.
Sandro akhirnya sadar dengan apa yang dia perbuat tadi, dia kini merasa harus membuang tingkahnya yang seperti anak-anak tersebut. Dia hanya memandangi mayornya yang terus berjalan menjauh. Langkah kakinya mulai bergerak mengikuti sang mayor.
Logged
From// (Juharizz) "Pejuang Bellato"

Kunjungi http://asaljadah.blogspot.com/
Pages: [1] 2   Go Up