;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1] 2 3   Go Down

Author Topic: Membuat novel dengan beratus-ratus halaman, koreksi fiksiku, dan lain sebagainya  (Read 7427 times)

thelord

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 35
  • NARUTOOOO LOVERS juga HARPOT, n Starbuck Adicted
    • Bantuin bikin Konflik dalam Novel Fiksi

aku udah nyusun novel
latar
tokoh
plot
bahkan konflik

yang ternyata plotnya panjang (bisa 5-novelan minimal), dan di buku 1 aja konflik udah banyak, buku 2 ntar juga konflik lain karena di setting tempat berbeda namun tetep kontras dengan titlenya:

The Watch Witch Chronicles: The Life Stone
The Watch Witch Chronicles: Magic and Science
The Watch Witch Chronicles: The Golden Buffalo (terinspirasi dari sekolah gua, GBHS=Golden Buffalo High School)
The Watch Witch Chronicles: Spears of Destiny
The Watch Witch Chronicles: The story from Father (apa ya bhs inggris yg cocok untuk 'Kisah Seorang Ayah'?)

buku itu sudah kuatur plot dari awal hingga akhir, konflik sudah terinspsirasi, dan memiliki dunia yang (mungkin) sama sekali bedah dengan Lord of D'Ring, Narnia, atau Harpot. Karena setting di tempat lainnya (tapi tetep dibumi kok).

Masalahnya:

Konflik sudah bejibun, petualangan juga panjang, tapi, gimana cara menuturkan cerita yang baik agar bisa menghipnotis, itu yang perlu. juga gimana cara buat novel yang beratus-ratus halaman, 600 mungkin? karena gua masih garap nih sampai bab 7-nya doang tapi 87 halaman doang (format A4, 1.5 lines)

Jadi, gimana membuat story-line, garis cerita, yang panjang, tapi menghipnotis, dan juga mengena. jadi cerita itu gak langsung masuk perkara, tapi di perkara akhir, meninggalkan pertanyaan yang membuat penasaran sehingga membaca bab selanjutnya.

karena perasaan, yang gua tulis sampek 87 halaman, itu cuman seperti 'Sinopsis' deh, langsung masuk kek babnya, n' langsung keluar begitu aja. contohnya yah, ni bab 1:

Quote
Bab 1: Lor?

“Lo? Apa maksudnya, apa maksud dari mahluk itu.”

Seorang pemudah terlihat pusing, kepalanya disedekapkan diatas tangannya yang tertumpu pada meja kayu mewah. Didepannya, matanya menerawang keluar jendela. Terlihat sebuah kota yang indah, dengan gedung-gedung yang besar, dan terdengar bel-bel dari mobil yang macet dijalanan, yang sudah tidak sabar menyapa keluarga mereka dirumah.

Otaknya berputar keras, berkoar-koar, memutar ingatannya kembali. Malam itu tak ada bintang, tak ada awan, bahkan tak ada bulan. Suasana langit sangat sepi, padahal kemarin suasana langit sangat ramai. Jangkrikpun hari ini tak berbunyi, tak tahu bagaimana kabarnya sekarang.

Pemudah itu sedang termenung menyandarkan dirinya pada kursi didepan jendela. Model rambutnya disisir kesebelah kanan, dan rambut belakangnya sangat panjang, tapi tidak gondrong. Kulitnya putih bersih. Mengenakan pakaian hitam kasual, tampak keren.

Baru kali ini Pemuda itu termenung, Pemuda itu tak tahu bagaimana kejadian itu bisa terjadi. Dia benar-benar tidak bersalah atas kasus itu. Dia tidak melakukan apapun terhadap gadis cina itu. Pemuda itu tak ingin mengingat itu lagi, karena memang sesungguhnya Pemuda itu tidak bersalah, gadis itu sendiri yang tiba-tiba jatuh ambruk tanpa sebab.

“Krosak”

Pemuda itu teringat suara itu, sudah beberapa hari lamanya suara itu terus menerus pamer. Dulu dikiranya sebagai suara tikus, namun aneh, suara itu hanya muncul saat malam hari. Memang sih tikus biasanya berkeliaran pada malam hari, namun yang lebih aneh, suara itu selalu muncul, selalu muncul tak bisa berhenti, hanya diatas atap kamarnya.

“Tikus bodoh, akan kubunuh kau”  katanya kesal

Pemuda itu langsung menaiki tangga menuju lotengnya, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, pemuda itu  mundur beberapa langkah kebelakang. Raut ketakutan sedikit tercermin dimukanya.
Sesosok aneh sedang mengobrak-abrik kardus tua berdebu didepannya. Pemuda itu  mengawasinya dari belakang. Ukuran tubuhnya tidak tinggi, cebol malah, kulitnya berwarna kuning langsat, dengan kuping yang panjang. Ia tak memiliki rambut, juga tak mengenakan pakaian. Hanya kain seadanya yang menutupi bagian bawahnya agar kemaluannya tidak terlihat.

Pemuda itu mengambil kayu yang sudah rapu disebelahnya. Berniat untuk menggepuknya dari belakang. Tapi, mahluk itu tiba-tiba berbalik menghadap dirinya ketika pemudah itu hampir saja menghantam dirinya dengan kayu yang tidak begitu solid lagi.

Pemuda itu langsung mundur selangkah, ketakutan melihat muka tua mahluk itu.
Tapi beberapa saat, rasa takut itu sudah hilang. Mahluk aneh itu terlihat sangat lembut, seperti tidak berbahaya baginya. Pemuda itu kembali maju selangkah dan berjongkok agar bisa menyamai tingginya, mata mahluk itu bulat besar, dan membuka menutup ketika pemuda itu mengamatinya dengan jeli. Bau nafasnya aneh, seperti telah memakan pete dan telur bebek busuk.

Ketika sekian lama pemuda itu mengamatinya, Ia mencoba membelainya, dan mahluk asing itu menikmati belaian tangannya. Pemuda itu mengurungkan niatnya untuk membunuhnya dan menangkapnya agar diselidiki kepada The Discover Channel sehingga bisa membersihkan namanya, serta memiliki banyak teman seperti dulu, juga agar kembali dihormati. Mahluk itu membuka genggaman tangannya yang hanya memiliki tiga jari besar-besar.
Didalamnya terdapat benda aneh, bentuknya seperti batu, tetapi ada ukiran-ukiran dipinggirnya, jika digambarkan, bentuknya hampir mirip belah ketupat, dan berwarna biru mudah yang sangat cerah, seperti warna air, seperti batu itu menahan air didalamnya, warna cerahnya mengalahkan berbagai berlian, intan, dan emas yang pernah disentuh oleh tangannya.

"Rwen thou me ero lor" kata mahluk itu, suaranya aneh, sedikit mendesah, seperti ingin mati, Ia memberikan batu itu kepada pemuda itu, menyodor-nyodorkan batu itu kepadanya, seperti berharap memohon agar Ia mengambil batu yang ukurannya tidak lebih besar dari pada sebuah berlian.

Untunglah, pemuda itu mengerti apa yang dimaksudnya, ia segera mengambil batu itu, dan memasukkannya dalam sakunya. Mahluk aneh itu seperti tersenyum dan bahagia, entah apa yang dirasakannya ketika pemuda itu memegang batu itu, seperti terdampar disuatu tempat yang letaknya sejengkal kaki dari surga saja.
“Thou me ero lor, rha smheah” ucapnya aneh.

Pemudah itu mundur dan berdiri, ketakutan, karena tidak mengerti apa yang dikatakannya. Batu itu masih tersimpan dalam sakunya.

“To-tomi, er-rro lo? Ra semeh?”

Mahluk asing itu mengangguk-angguk manja.

“Tomi ero lo, ra smeh? Tomi ero lo? Kau pikir aku mahluk gila? Kau pikir aku murid luar biasa?”

Mahluk itu tak menjawab apa-apa, tak mengangguk-angguk. Sesuatu aneh datang dan melingkari mahluk itu secara tiba-tiba. Sesuatu itu tebal dan berkobar-kobar seperti api, hanya saja warnanya biru dan ada ungunya, dan—mungkin juga tidak panas.

“eahr, zare lor rhe me, eahr, zare lor rhe me” mahluk asing itu mengatakannya berulang-ulang, sebelum Ia lenyap dari pandangan.

Pemudah itu kembali bangkit, mundur sedikit dari tempat asalnya, tidak tahu apa yang baru saja terjadi, perasaan takut, bercampur ketidak percayaan berkecamuk dalam dirinya.

Kayu yang tadi dipegangnya terjatuh dari tangannya. Membiat cicitan tikus terdiam, dan membuat tikus-tikus itu keluar dari sarang untuk manyaksikan apa yang sedang terjadi diluar sana.

Pemudah itu menggeleng-gelengkan kepalanya, kembali menatap hilir mudik kendaraan dalam jalan raya besar yang dia saksikan dari sebuah kaca jendela. Barang aneh itu tadi dikeluarkan dari sakunya, batu itu menyala-nyala, seperti sebelumnya, warnanya biru cerah, menyinari wajahnya.

“Lo? Lo?”

Ucapnya, senyum tersungging muncul dalam bibir tipisnya.

Dia berdiri bangkit. Berbelok menuruni tangga untuk mengambil gelas dari dalam dapur, dan membawanya menuju kamarnya kembali. Dibelah kursi dimana dia duduk tadi, dia membuka lemari esnya, mengambil Coke yang ada disana, menuangnya.

Sedetik lamanya, dia memperhatikan cairan hitam berbusa itu. Senyum tersungging itu mengumbar kesunyian untuk kedua kalinya. Raut mukanya aneh. Dia mengira dirinya seperti orang gila.

Dia serasa pernah mendengar dan tidak asing dengan ucapan itu, tapi kenapa dia merasa tidak asing. Sebenarnya dimana dia pernah mendengarnya, atau setidaknya membacanya. Tapi bukankah dia tidak gemar membaca, atau juga jarang menonton film atau apapun. Lantas dari mana, dari siapa dia pernah mendengar kalimat-kalimat aneh itu?

Yang jelas, dia pernah mengetahui tentang kalimat itu.

[Itu sekitar 4 halaman doang di komputer gua]

lha, gimana mempertajam cerita,memperpanjang, agar bisa gitu ya, gak terlalu langsung memasuki bab awal. karena kalau gua riset, misal di Harpot, itu cerita gak langsung masuk, tapi gua gak punya rumus cara gitu tuh gimana caranya. mungkin ada yang bisa membantu? atau sekedar berkomen tentang calon bab satu itu?
« Last Edit: October 03, 2008, 06:07:16 pm by thelord »
Logged
The Lord punya fs-lho, the Naruto Lovers, The Starbucks adicted, and the Harry Potter fans, ngumpul dan add aku dumz dee:

http://www.friendster.com/hakikvb

thelord

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 35
  • NARUTOOOO LOVERS juga HARPOT, n Starbuck Adicted
    • Bantuin bikin Konflik dalam Novel Fiksi
Re: Membuat novel dengan beratus-ratus halaman
« Reply #1 on: October 03, 2008, 06:03:29 pm »

gimana, langsung in-dan-out kan? tanpa basa-basi, lha, rumus basa-basi, rumus deskriptif, gitu-gitu agar mengenang di pembaca, dan agar imajinasi pembaca sama dengan imajinasi kita, geemana niee caranya???

gua penulis awal, tapi ntah kenapa, ide-ide itu langsung muncul, ada yang dari temen-temen gua di skul (tank Johannes, Ivan, Lafio) mereka kadang-kadang cerita aneh n gak jelas gitu, lumayan jadi inspirasi dan di kembang biakin. tapi ya gitoo, kalau ku nulis, kok langsung To-The-Point sih?????
Logged
The Lord punya fs-lho, the Naruto Lovers, The Starbucks adicted, and the Harry Potter fans, ngumpul dan add aku dumz dee:

http://www.friendster.com/hakikvb

thelord

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 35
  • NARUTOOOO LOVERS juga HARPOT, n Starbuck Adicted
    • Bantuin bikin Konflik dalam Novel Fiksi
Re: Membuat novel dengan beratus-ratus halaman
« Reply #2 on: October 03, 2008, 06:05:55 pm »

Quote
The Watch Witch Chronicles: The Life Stone
The Watch Witch Chronicles: Magic and Science
The Watch Witch Chronicles: The Golden Buffalo (terinspirasi dari sekolah gua, GBHS=Golden Buffalo High School)
The Watch Witch Chronicles: Spears of Destiny
The Watch Witch Chronicles: The story from Father (apa ya bhs inggris yg cocok untuk 'Kisah Seorang Ayah'?)

maksudnya:

The Watch Witch Chronicles: Batu kehidupan
The Watch Witch Chronicles: Magic dan Science
The Watch Witch Chronicles: Si Kebo Emas (terinspirasi dari sekolah gua, GBHS=Golden Buffalo High School)
The Watch Witch Chronicles: Tombak Takdir
The Watch Witch Chronicles: Kisah Seorang Ayah

mau nambahin/ngeubah judul/atau ada ide/atau mau genti judul/saran gitooo? sembarang deh!
Logged
The Lord punya fs-lho, the Naruto Lovers, The Starbucks adicted, and the Harry Potter fans, ngumpul dan add aku dumz dee:

http://www.friendster.com/hakikvb

juunishi master

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1.720

Buat yg judul kedua, harusnya jadi Sihir dan Sains.

Yg keempat, bukannya hrsnya jd Kisah dari Ayah? Ato Kisah Sang Ayah aja.

Hehe.
Logged
"Boku wa... koko ni iru!"

thelord

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 35
  • NARUTOOOO LOVERS juga HARPOT, n Starbuck Adicted
    • Bantuin bikin Konflik dalam Novel Fiksi

Buat yg judul kedua, harusnya jadi Sihir dan Sains.

Yg keempat, bukannya hrsnya jd Kisah dari Ayah? Ato Kisah Sang Ayah aja.

Hehe.

yaya. Sihir dan Sains, yang keempat? yang kelima tah? ya, yang kelima tuh kalau gak Kisah dari Ayah, Kisah Sang Ayah, atau pokoknya Kisah seorang ayah, gitoo deh

gimana nee jadi nya, ada tips, oya, gimana menurut lu tentang 4 halaman bab pertama itu? bisa ngegugah luh untuk baca bab selanjutnya ga? trims
Logged
The Lord punya fs-lho, the Naruto Lovers, The Starbucks adicted, and the Harry Potter fans, ngumpul dan add aku dumz dee:

http://www.friendster.com/hakikvb

juunishi master

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1.720

Sejujurnya sih, ada kelewat banyak gap di dlm cerita. Ada kesan melompat gitu. Terutama gw plg kerasa tu pas dia ke loteng. Gak diceritain.

Dan kadang ada kontradiksi. Yg gw temuin sih ttg penjabaran keadaan di sekitar si karakter. Dia bilang sepi ato gimana gitu di paragraf kedua tapi di paragraf sebelumnya ada tulisan mengenai kemacetan beserta kebisingan jalan raya.

Mgkn intinya sih kamu kurang banyak ngasih deskripsi. :D Yeah, yeah, gw tahu kok kamu orgnya simpel dan to the point, tapi dlm menulis, to the point kan bisa dikembangkan sedemikian rupa menjadi rentetan penjabaran.

Saran dari gw, perdalam deh karakteristiknya. Jadi tulisin juga perasaan si karakter utama dan tindak tanduknya diperkaya. :D

Hehe.
Logged
"Boku wa... koko ni iru!"

ellious grinsant

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1.644
  • Sudah pernah main ke Blog ku?
    • .Ellious Grinsant

Gila ya, 600 halaman siapa yang mao baca...
Kamu emang gampang bilang ide udah sampe buku kesekian... tapi pikir aja dh. 600 halaman tuh banyak banget, bisa2. satu buku udah abis ide lu.
Logged
Blog Saya... Ayo-ayo pada berkunjung. Dijamin suka deh... hehehe :D

ellious grinsant

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1.644
  • Sudah pernah main ke Blog ku?
    • .Ellious Grinsant

Mendingan Kaya gw aja. Konsen dulu disatu buku...
Buku satu selesai baru lanjut ke buku dua dan 3. fungsinya untuk memperkuat buku satu.
Dan saran gw buku satu maksimal halamannya 200 halaman. Supaya calon pembaca gak takut dan calon penerbit gak kena sport jantung.
Logged
Blog Saya... Ayo-ayo pada berkunjung. Dijamin suka deh... hehehe :D

cheppy70

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 930

Hi Lord,

Menurut gue sih, so far ide dasarnya udah cukup bagus, dan cara elo mengatur runtutan adegan juga udah cukup baik. Mengingat elo sebagai penulis awal (maksud loe penulis pemula, kan), maka gue bilang sih udah cukup mengagumkan, lah  [thumbsup]

Tapi bukannya ga ada persoalan.

kalo menurut gue sih, jalan lo masih panjang, mungkin sudah ada di track yg bener, tapi yang masih harus elo pelajari sangat banyak banget, beberapa yang gue sebutkan di sini adalah langkah-langkah awal, yg gue pikir sebaiknya elo mulai dari situ. Selanjutnya elo akan berkembang sesuai takdir dan kemana nasib membawa elo,... hehehe,...

Yg pertama banget, perbaiki dulu bahasa indonesia lo, man! Bedakan antara bahasa dalam menulis karya literasi (karya novel, cerpen, sastra dll) dengan bahasa gaul lo sehari-hari. Nulis di forum gini, lo bisa pakai bahasa gaul lo sesuka hati. Tapi begitu lo nulis untuk novel (yg nota bene akan dibaca oleh masyarakat umum), maka lo WAJIB menguasai bahasa indonesia baku. Bukannya elo gak boleh masukin 'slang' atau bahasa gaul dalam novel lo, tapi setidaknya bahasa utama di novel lo adalah bahasa indonesia baku.

Artinya apa, elo harus memahami tata bahasa, semantik, aturan penulisan EYD dan lain sebagainya. Gue lihat, elo nulis 'pemudah' padahal seharusnya 'pemuda'. 'bedah' padahal seharusnya 'beda'. Ini kesalahan fatal banget (untuk seorang pengarang), apalagi kedua kata yg 'salah' itu punya makna tersendiri: 'pemudah' bisa diartikan sebagai seseorang yang memudahkan sesuatu, 'bedah' merupakan kata kerja dasar dari 'membedah' atau 'Dokter Bedah'. Gitu deh, you got the picture, right?

Seperti elo mengistilahkan diri sebagai penulis awal, sementara ada istilah lain yang lebih umum yaitu penulis pemula. Ini menunjukkan bahwa elo belum bisa memilih kata-kata sesuai dengan kelaziman dalam bahasa indonesia. Artinya apa, kelak elo akan mendapatkan kesulitan dalam berkomunikasi dengan pembaca. Ide lo gak akan nyampe secara 'sama' di benak pembaca, karena lo salah milih kata.  Kira-kira gitu lah.

So, kembali ke kelas bahasa indonesia lagi, ye? Moga-moga masih ada kelas bahasa indonesia di Golden Buffalo High School (Ada hubungan sodaraan apa sama Red Bull alias Krating Daeng? Hehehe becanda). Baek-baekin deh guru bahasa indonesia elo. Kalo guru bahasa indonesianya cantik dan masih single, pacarin aja sekalian (Ups, saran dari om buaya yg satu ini tolong jangan diikutin [saliva]).

Kedua: ikut sanggar penulis, latihan nulis. Lo bisa cari di your neighborhood, ada atau nggak. Seinget gue di dewan pers (di jalan kebon sirih) juga sering diadakan kursus penulisan berita etc. Kursus semacam itu akan sangat membantu elo mendapatkan feel mengenai cara bikin kalimat yg benar itu seperti apa. Kalo kursus ga sempet, lo bisa belajar dengan cara membaca buku-buku sastra yang bagus sebagai referensi. Jangan ambil terjemahan melulu macam harpot, ga ada sastranya itu (Untuk harpot, bagus buat elo pelajarin cara menyusun plot dan ngelola konflik etc). Mengingat sebagai anak SMA tentu waktu elo untuk baca buku berbobot sangat sedikit  :P, gue lebih saranin elo ikut kursus.

Ketiga: Saran Ellious bener, fokus aja dulu di satu buku. Kalo perlu, materi yg udah elo bikin ini di selesaikan aja secepatnya, biarpun hasilnya akan terlalu 'pendek' menurut lo. Ga papa. Yg terpenting adalah mencapai garis finish. Begitu elo selesai dengan draft pertama lo, baru sambil jalan elo kembangin lagi. Simpen ide buku 2,3 dsb sebagai suatu garis besar, di sebuah buku khusus, yg elo sentuh lagi kelak setelah buku 1 rampung banget.

Nah, bagaimana cara ngembangin teks pendek? Liat contoh di bawah ini:

Misalnya ada teks seperti ini:

Sarah belanja ke pasar naik angkot merah 63. Di pasar ia membeli seikat bayam dan dua kilo telur. setengah jam kemudian dia sudah kembali di rumah untuk memasak sayur buat bu Broto. Gara-gara itu dia tidak sempat mengobrol dengan Mien mengenai gosip pertengkaran antara Tien dan Abi.


Mau dimelarin? Caranya adalah dengan mengejawantahkan kalimat di atas menjadi suatu serial aksi:


Pukul sembilan pagi, Sarah alias Maisaroh sudah siap di tepian jalan raya, menanti di bawah keteduhan pohon sawo Pak RT. Di tangannya tas belanja besar bergambar iklan Remason tahun 70-an bergayut-gayut mengikuti gerakan tangannya yang asyik memenceti handphone Nokia. Entah dengan siapa perempuan itu sedang mengadu SMS. Kalau bukan pembantu Bu Anggi, mungkin dengan Sari, bebi sister di rumah Bu Kinar.

Tak lama angkot merah dengan nomor 63 muncul dari pengkolan. Sarah segera bersiap, menekan tombol hijau 'send' dengan mantap, dan segera memasukkan handphone tersebut ke saku depan celana jeans-nya. Sambil menaiki pijakan angkot, tangannya langsung mengulurkan duit seribuan kepada sang kenek, "Pasar, bang," ujarnya singkat.

Lima belas menit kemudian bau sampah khas pasar sudah tercium di hidung Sarah. Melangkah tergesa memasuki lorong yang ramai, ia langsung saja mengarah ke kios sembako langganan, sebuah kios di sudut timur dengan plank bertuliskan "AROMA JAYA, Sedia Sembako dan Sayur-Mayuran".

"Haaai, Saraaah" sebuah suara renyah menyambutnya.
"Eh Miien, pa kabar?"
"Apiiik, apiiik,..." jawab Mien, gadis berusia delapan belas tahun dengan nama asli Minah.
"Njaluk bayem-e," Sarah menunjuk.
"Pinten?"
"Sak iket, piro to?"
"sepuluh ribuu,..."
"Lho, minggu kemarin tah sembilan ribu?"
"Hare geenee, yang nggak naik rego-ne cumak suket!"
"Karo telor-e 'rong kilo," Sarah mengaduk dompet untuk mengambil lembaran uang.
"Oke! Eh, Sar, wis denger infotenmen terbaru, belom?"
"Apa to?"
"Si Tien, karo Abi,"
"Tien? Tini? Tini-nya Bidin?"
Mien mengangguk dengan tatapan penuh arti.
"Masih tengkar wae itu arek?" tanya Sarah sambil meraih kantong plastik berisi bayam dan telur dari tangan Mien, langsung dijejalkan dalam tas belanja remasonnya.
"Wah, perang dunia ketiga," Mien menarik napas panjang, siap-siap menyemburkan info terbaru yang didapatnya tadi pagi.
Sarah tergesa melirik ke jam di tangan kirinya, seraut wajah menyesal terukir begitu ia menyadari sudah pukul berapa, "Aduh, jangan sekarang. Gak sempet nih, mau buru-buru!"
"Kenapa, toh?" tanya Mien rada kecewa.
"Bu Broto minta sayur bayemnya udah siap sebelum jam sebelas."
"Yo wis, kapan-kapan aku 'apdet', deh"
"Iya, aku duluan, ya," balas Sarah, buru-buru keluar pasar untuk mencapai pangkalan angkot 63.


Nah kira-kira elo bisa liat sendiri, dengan pengembangan itu, teks yang tadinya cuma tiga baris bisa menjadi sekian banyak baris. Dan berkat perluasan itu pula, kita bisa masukin beberapa informasi yang menambah excitement dari karya tulis kita, seperti informasi bahwa sang tokoh adalah PRT, kemudian gambaran mengenai dunia gaul-nya PRT, gimana mereka bikin nama-nama gaul buat diri mereka sendiri dan seterusnya.

Kurasa, itu salah satu teknik pengembangan teks. Memang ada saatnya elo harus memilih kapan kita menggunakan pendekatan aksi detail kayak gini, dan kapan kita tulis secara deskriptif singkat. Masing-masing ada perannya dalam bangunan novel. Dan penerapannya juga harus pas, gak kedikitan sehingga pembaca merasa seperti naik roller coaster (tahu-tahu selesai, aja), gak juga kebanyakan sehingga pembaca merasa diseret-seret kayak nonton telenovela  [annoyed].

Jangan kuatir, pengalaman dan jam terbang lo akan semakin mengasah elo dalam hal-hal beginian. Maka dengan elo menyelesaikan draft pertama elo, itu bisa menjadi ajang latihan bagi elo dalam mengembangkan format-format semacam ini.

OK, semoga sukses dah.


FA Pur
Logged

thelord

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 35
  • NARUTOOOO LOVERS juga HARPOT, n Starbuck Adicted
    • Bantuin bikin Konflik dalam Novel Fiksi

Mendingan Kaya gw aja. Konsen dulu disatu buku...
Buku satu selesai baru lanjut ke buku dua dan 3. fungsinya untuk memperkuat buku satu.
Dan saran gw buku satu maksimal halamannya 200 halaman. Supaya calon pembaca gak takut dan calon penerbit gak kena sport jantung.

mas elius saya panggilnya?
yaw daw, aslinya sih udah runtut itu cerita. sampek--sebentar, buka word--17 babpun udah gua ketik. namun belum gua kembangin ide ceritanya. karena, gua kan dapet masukan dari situs kepenulisan luar sono (lupa gua alematnye), katanya, buat plot runtut, lha, plot gua udah runtut, and banyak banget.

sedangkan satu buku sama buku lainnya gak bisa digabungin, makanya, minimal ada 5-bukuan lah, itu insya Allah sudah pasti.

jadi apakah ceritanya runtut? kalo runtut sudah,
apakah buku satunya aja udah runtut? kalo buku satu mah udah dijamin runtut, orang udah diketik and sekarang bab terakhir.

hanya, gua ngembanginnya yang gak bisa.
Logged
The Lord punya fs-lho, the Naruto Lovers, The Starbucks adicted, and the Harry Potter fans, ngumpul dan add aku dumz dee:

http://www.friendster.com/hakikvb
Pages: [1] 2 3   Go Up