;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: 1 [2] 3 4 5 6 ... 9   Go Down

Author Topic: Tata cara membuat novel yang benar?  (Read 51283 times)

fanny_21

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 405
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #10 on: October 20, 2009, 11:08:31 am »

@juunishi: proofreader itu apa c? hahaha. maklum kagak ngerti. pernah c ngasih temen2 baca dan mereka semua bilang bagus. makanya heran kok editor gramed bisa ga ngerti maksud ceritanya. hahaha.
berikut yang dikomentarin sama GPu...

Tradisi aneh dalam keluargaku…
   Anak gadis yang belum menikah, tidak boleh dilihat oleh lelaki mana pun yang tidak punya hubungan darah. Kalau sampai terlihat dan bertatap muka, mereka harus dinikahkan. Dan pasti akan menikah. (Kalau gitu ga boleh kerja, sekolah dan nggak ngapa2in donk, di rumah aja? (itu komennya GPU))
   Kuno! Kita hidup di jaman modern, bukannya jamannya siluman dan kerajaan. Aku menolak, dan alhasil aku ditendang dari rumah kakekku. Beserta ayah dan ibuku, tapi tidak dengan ketiga kakakku. Mereka semua sedang sibuk belajar dan bekerja di luar negeri. (kok kakaknya boleh, tp 'aku' tdk boleh? (Itu komen GPU, my mistake, ga tulis kakaknya itu cowok))
Walau begitu, beliau tetap mengajukan persyaratan tergila yang pernah kudengar. Nama kami tidak akan dicoret dari daftar ahli waris, tetapi, aku harus menyamar. Tak jauh berbeda dari aturan tradisi gila itu, tapi aku masih bisa bertemu dengan orang-orang di sekitarku. Tidak harus bersembunyi di dalam rumah, aku masih bisa keluar, masih bisa sekolah.
   Kakekku memberikan sekantung berisi kulit palsu kepadaku. Aku menatapnya bingung, saat itu aku masih kecil, masih belum tahu apa-apa.
   “Pakai itu. Dan jangan sampai ada orang lain yang tahu sosok aslimu yang sebenarnya.” Itulah titah kakekku tujuh tahun yang lalu.
   Pagi begitu cerah, burung-burung berkicau menyambut sinar mentari yang membangunkanku dari tidur yang panjang dan mimpiku yang pendek.
   “Hh…” Aku membuka mataku perlahan dan terduduk di tengah ranjang. Aku termangu sebentar. “Hmm, mimpi itu lagi!” umpatku pelan. Lalu aku bangkit dari tempat tidur dan bergerak menuju kamar mandi.
   Saat bercermin, kulihat diriku… bukannya sombong, tapi inilah diriku yang sebenarnya. Kulitku putih bersih tak ada cacat sedikit pun, hidungku mancung, mataku besar dan bulu mataku panjang, bibirku pun tipis dan cenderung selalu berwarna pink. Kakiku jenjang dan putih.
   Saat kuperhatikan, baru aku sadar, ternyata inilah maksud tradisi keluargaku. Bukannya sombong, tapi gadis-gadis yang terlahir dalam keluargaku biasanya luar biasa cantik. Dan itu bisa mengundang berbagai macam kejahatan baik dari anak gadis itu sendiri maupun dari pihak lain. Apalagi anak gadis yang terlahir dalam keluargaku termasuk minoritas. Mayoritas lelaki. Jadi tiap kali ada anak gadis yang lahir, pasti dirawat dan dimanja habis-habisan.
   Oh iya, by the way, aku belum memperkenalkan diri, ya? Namaku Natasha Fredicky, tujuh belas tahun. Sudah jadi anak SMA, haha… Masa-masanya anak muda menikmati hidup, ya?  Selesai mandi, aku membuka kantung yang dulu diberikan oleh kakekku, kupakai setiap hari loh… Tak ada yang tahu wajahku yang sebenarnya, selain keluargaku. Yah, awalnya ayah dan ibuku kaget juga sih, kenapa aku mau berubah 180 derajat seperti ini. Tapi dengan cepat mereka menyetujuinya dengan berbagai macam alasan yang kubuat. Jadi sampai detik ini, tak ada seorang pun yang tahu kecuali aku dan keluargaku.
   Kupakai kulit itu di bagian wajahku sehingga kelopak mataku tertutup. Wajahku jadi…, ehem…, jadi tak enak dilihat. Mukaku berubah drastis, namun yang membuatku bingung, aku terlihat normal. Maksudku, tidak terlihat seperti memakai topeng. Aku tidak tahu bagaimana kakekku membuatnya, tapi sepertinya bisa membuat seseorang menyamar dengan sempurna.
Kupakai juga di betis, perut, leher dan tanganku, biar kelihatan gemuk, hehe… Entah kenapa aku tidak membenci keadaanku yang seperti sekarang ini. Bahkan cenderung senang. Yah, walaupun aku melewatinya dengan hinaan dan cibiran orang-orang di sekitarku. Tapi aku juga tidak mau membenci topeng ini dan kakekku. Kenapa? Karena berkat kakek, setidaknya aku bisa jauh lebih memahami perasaan orang lain. Topeng ini membuatku menjadi bisa memahami perasaan mereka yang ‘kurang’…
Aku memakainya dengan sangat hati-hati. Karena sewaktu-waktu bisa saja topeng itu copot atau lepas dengan sendirinya. Buktinya, waktu olahraga dua tahun yang lalu, tiba-tiba saja topeng di wajahku hampir lepas karena keringat! Dan kulit yang menempel di tubuhku pun ikut lepas saat pengambilan nilai! Untung saja celana olahraganya panjang sampai ke sepatu, kalau tidak? Hmm, kebongkar deh penyamaranku. Dan kalau sampai penyamaranku terbongkar? Mungkin aku akan diseret kembali ke rumah kakekku.(Kok sekolah ngasih anak muridnya pakai topeng?( itu komennya, padahal jelas2 di atas sudah aku kasih tahu kalau tokoh 'aku' di sini menyamar dengan sangat sempurna)

nah dari sini aku bingung neh mana yang ga logis? emang c ceritanya ga logis. tapi apa harry potter juga logis? hahaha
Logged

magicplayer

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 499
  • ZX Kick!!!!
    • My novel project; Project Izarut
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #11 on: October 20, 2009, 06:04:29 pm »

Hmm.... my 2 cents.
Kalo misalnya aku nemu novel kaya gini di toko buku dan baru baca sampe yang kamu post disini, aku juga ga bakal nerusin baca.
Pertama, aku setuju sama komen pertama GPU. Kalo emang anak cewek ga boleh keluar rumah sama sekali trus gimana cara dia bisa belajar, sekolah, bersosialisasi, dll? Bagaimana cara keluarga memnuhi kebutuhan "aku"? Dan yang terakhir KENAPA keluarga ini sampai punya tradisi aneh yang bisa berlangsung sampai jaman modern kaya gini? Tradisi perjodohan, yang jaman dulu rame banget, udah hampir ga kedenger lagi sekarang, tapi kenapa tradisi ini masih bisa bertahan lama seolah ga pernah berubah walaupun sudah lewat entah berapa ratus tahun? (aku asumsiin gitu soalnya tradisi kan emang biasanya lama banget)
Dialog di bawahnya juga aku ga ngerti. Kenapa si kakek ngasih topeng muka itu ke dia dan kenapa si "aku nerima gitu aja berubah jadi orang lain. Padahal, buat anak umur 10 tahun, yang paling penting di dunia itu dirinya sendiri. Kenapa dia mau2nya berubah jadi orang lain padahal sama sekali ga dijelasin alasannya?

Pergantian paragraf berikutnya mending kamu kasih petunjuk jelas kalau itu habis dari mimpi ato lewat beberapa tahun, supaya pembaca langsung nangkep kalo ada "time skip". Dan setelah itu, deskirpsi karakter. Aku udah sering ketemu ini dan mungkin saran ini bakal aku ulangi lagi.:
Kalo kamu pake sudut pandang orang pertama, jangan pake cermin buat ngedekripsiin karakter utama! Itu cara yang udah lama n terlalu sering dipake. Coba pake cara2 baru buat ngedekripsiin karakter.

Saran lagi, mungkin supaya saran dari GPU lebih bisa diterima, imajinasi setiap orang itu berbeda2. Topeng kulit yang dipake karakter bisa beda dalam imajinasi orang lain daripada imajinasimu sendiri. Buat kamu mungkin bedanya topeng sama kulit asli ga keliatan, tapi siapa tahu GPU mbayangin topengnya itu tebel/ kusam/ berkerut dan lain sebagainya.

saran terakhir, aku mau coba jelasin soal kelogisan cerita. Emang sebuah cerita tidak harus, dan lebih baik jangan, mengikuti logika baku dunia nyata. Dan cuman karena kita melihat sebuah karya sebagai tidak logis tidak berarti kita juga harus memaksa orang lain menerima ketidaklogisan cerita kita. Ada satu unsur penting dalam penulisan fiksi yang disebut "willing suspension of disbelief" yang berarti kesadaran pembaca untuk menekan rasa tidak percayanya sendiri. Dan ini tidak bisa kita paksa. Contohnya, walau kita tahu sihir tidak nyata, tapi kita trima aja cerita Harry Potter karena kita menahan rasa tidak percaya itu. Kalo ada orang yang tidak mau menahan rasa tidak percayanya dan tidak suka Harry Potter ya itu terserah dia.

GPU tidak percaya ceritamu logis, ya sudah. Kamu tidak bisa memaksa. Kalo kamu masih mau kirim cerita ke GPU kamu harus bisa menjelaskan logika ceritamu di awal buku untuk membuat pembaca menekan rasa tidak percayanya. Kalo semuanya kamu simpen dengan alasan kejutan atau semacamnya ya jangan salahkan pembaca kalau tidak mau percaya.
Logged
"A good writer is not, per se, a good book critic. No more so than a good drunk is automatically a good bartender." Jim Bishop

juunishi master

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1.720
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #12 on: October 20, 2009, 06:31:17 pm »

Proofreader itu semacam tester lah. Dia baca naskahmu dan mengomentari panjang lebar apa aja kekurangan dan kelebihan yg dia rasakan sesudah baca draftmu. Tidak disarankan teman sekolah, btw, krn ada kalanya ada urusan "gak enak kalo gw ngomong jujur" kalo ke sesama yg udah kenal deket. Gw sendiri kalo proofreader ke org yg emang gw kenal baik dan tipe jujur kalo dia ngerasa ada kesalahan (hrs siap mental ini ... kadang komentarnya terlalu jujur sampe kalo mau proofread lg gw pake acara sakit perut nunggu komentarnya dia).

Setuju ama magicplayer soal jarak paragraf untuk menunjukkan adanya jeda waktu yg cukup lama antara si "aku" menerima pemberian kakeknya dan cerita saat ini yg kira2 dia SMA.

Nah, gw gak akan membahas soal logis nggaknya cerita. Gw akan menyederhanakan persoalan logis nggak ini jadi: terlalu banyak pertanyaan yang dilempar ke pembaca di awal cerita.

Ada tiga kemungkinan respons pembaca utk hal tersebut:
1. mereka masih bertahan, lanjut baca
2. mereka masih bertahan baca, tapi dlm hati udah memvonis itu terasa janggal dan aneh, dan kalo udah terbentuk pikiran kayak gini, dia jadi sensitif terhadap kesalahan kecil
3. mereka berhenti baca, merasa bete seketika itu juga krn merasa apa yg mereka baca "nggak banget dan bikin males"

buat gw pribadi, memang terlalu byk hal tak terjelaskan yg dijejalkan di awal cerita (anggaplah gw tipe 2). Memang, soal pingitan udah dijelaskan di agak akhir, membuat gw jd bisa menerima alasan pingitan. Soal topeng, sejujurnya gw bertanya2 kenapa si kakek ngasihnya cuma ke dia, rasa2nya gak disebutin kalo pernah dikasih ke cewek kelahiran keluarga itu. Bayangan topeng jg, seperti kata magic, tiap orang beda2. Gw kira jd abnormal gimana gitu penampilannya, gak tahunya malah jadi normal tho? :D :D

Dan baru gw sadari pas baca ulang. Nama keluarga si karakter utama. Kalo settingnya di Indonesia apalagi keluarga kuno yg sampe pny rumah keluarga utama, terasa janggal misalnya nama keluarganya sangat barat begitu. Akan jadi lain kasusnya kalo settingnya di dunia antah berantah, dimensi entah mana. :D :D

Oh, rite, sedikit info kecil, sekarang ini editor udah bosen ama adegan awal baru bangun tidur. Sebaiknya kamu hindari sebisa mungkin. Mau bangun dari tidur, pingsan, mati suri, etc, gw pernah denger bocoran dari blog seorang editor dan diomongin ama seorang pengarang yg udah nerbitin buku untuk menghindari situasi "bangun" itu.

Hehe.
Logged
"Boku wa... koko ni iru!"

quavi

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 96
    • dunia tulis menulis, dunia pergigian, dunia anak kos, dunia TV series
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #13 on: October 20, 2009, 10:09:21 pm »

hai..ikut komen ya?

Itu bab awal dari ceritamu ya?

Sori ya...aku setuju ama komen GPU dan yang lain.

Gini...kalo dibaca sekilas...ceritamu nggak terstruktur. dari segi tulisan, banyak bolong di sana sini. Kamu seakan fast forward ceritamu...dari bicarain A, tiba2 loncat ke B. Menurutku itu nggak 'rapi'. Terlebih, kamu pake sudut pandang orang pertama. Dalam ceritamu ini, kamu belum bisa menempatkan diri sebagai orang pertama. Kalo ini pake sudut pandang orang ketiga, masih bisa masuk soalnya kamu nggak mengexplore perasaan tokohmu.
Perasaannya tentang tradisi keluarga...nggak bisa kalo cuma bilang 'aneh'. Perasaannya saat memakai topeng. Terbuat dari apa topeng itu dll. Hal-hal kecil macam  gini yang harus kamu obok-obok lagi.

Terus, tentang kelogisan...kamu memang belum bisa bikin cerita ini kelihatan logis. Ide ceritamu udah oke...mirip-mirip film korea malah  :D. Tapi kekurangannya, seperti GPu bilang, kamu ga bisa berargumen tentang logika ceritamu. Perbanyak riset...cari2 kek di internet tentang apa aja yang bisa mendukung kelogisan ceritamu.

Aku jenis pembaca yang suka model cerita kayak gini, meski kayaknya alurnya udah bisa ketebak  ^-^. Tapi sekali lagi, pembaca itu nggak bodoh...mereka suka jenis cerita yang logis. Perkuat bagian ini! Pikirkan lagi alur kisahmu.

Terus...tentang harry potter...jangan salah lho...HP itu justru logis banget. Kelogisan cerita dia masuk banget di dunia sihir. semua atribut yang muncul di HP ada sejarahnya dan fungsi masing2. Kelogisan bukan berarti sesuai dengan dunia nyata. Ceritamu bisa jadi logis asalkan...kembali lagi...kamu bisa memberikan argumen yang tepat dan membuktikan kalo ceritamu emang eksis di dunia ini (bukan berari harus ada beneran  ;D).
Logged
Novel ke 11: SeoulMate


www.theseoulmate.com

fanny_21

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 405
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #14 on: October 22, 2009, 09:01:27 am »

@Quavi,Juunishi,magicplayer.
wah makaci banyak y sarannya, ngebantu banget ;D
emang c g jg ngerasa ada yg janggal. n jujur aja g ga tau cara ngebenerinnya :-[
BTw, sudut pandang itu kyk apa ya? G kyknya pake sudut pandang banyak banget mulai dari tokoh 'aku', si 'cowok', sama sudut pandang gw sendiri. :P

Kalo kamu pake sudut pandang orang pertama, jangan pake cermin buat ngedekripsiin karakter utama! Itu cara yang udah lama n terlalu sering dipake. Coba pake cara2 baru buat ngedekripsiin karakter. (Maaf aku ga ngerti :-[, jelasin lebih rinci y, thx)

Soal nama keluarga, g ga kepikiran yang lain. Hahaha.

Jadi gw harus menjelaskan alasan si Natasha ini harus memakai topeng, kenapa bisa ada tradisi kolot itu, kenapa kakek memaksa dan apa akibatnya kalo natasha ga pake topeng? soalnya di belakang2 g baru membahas kenapa Natasha harus pake topng dsb. Tapi alasan kenapa bisa ada tradisi konyol itu...rencana pengen bikn buku ke 2 [worried]

Makaci sekali lg buat komentar kalian... ngebangun banget lho. hahahah. gmn kalo kalian aja jd editornya??? hahaha [biggrin]
novel itu uda gw perbaharuin lg, gw ketik ulang dari 178 mpe 200 lebih A4. kira2 gramed mau baca ga ya :'( Bis panjang lebar gt. kalo ada yg diilangin jd bolong rasanya...

Plis bantu donk kasi tau yg mana yg harus gw benerin. g bener2 blank ??? Bingung apa lg yg mesti g tambahin n apalagi yg mesti g kurangin. brkt sdkt intinya, biar pembaca sekalian sedikit mengerti :D
Logged

fanny_21

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 405
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #15 on: October 22, 2009, 09:06:51 am »

Saat kuperhatikan dengan cermat, barulah aku menyadari maksud tradisi konyol turun-temurun keluargaku itu. Bukannya sombong, tapi gadis-gadis yang terlahir dalam keluargaku biasanya luar biasa cantik. Dan itu bisa mengundang berbagai macam kejahatan baik dari anak gadis itu sendiri mau pun dari pihak lain. Apalagi anak gadis yang terlahir dalam keluargaku termasuk minoritas, mayoritas anak lelaki. Jadi setiap kali ada anak gadis yang lahir, pasti dirawat dan dimanja habis-habisan. Seperti aku.
Oh iya, aku belum memperkenalkan diri, ya? Namaku Natasha Fredicky, 17 tahun. Sudah jadi anak SMA! Masa-masanya anak muda menikmati hidup, ya? Selesai mandi, aku membuka kantong yang dulu diberikan kakekku. Kupakai setiap hari lho. Tidak ada seorang pun yang tahu wajahku yang sebenarnya selain keluargaku. Yah, awalnya kedua orangtuaku kaget juga sih, kenapa aku mau berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini. Tapi dengan cepat mereka menyetujuinya dengan berbagai macam alasan yang kubuat. Aku tidak mau mereka sampai tahu kalau kakek sampai harus mengancamku supaya aku mau menyamar. Jadi sampai detik ini, tak ada seorang pun yang tahu kecuali aku dan keluargaku.
 

Ini yg udah gw perbaharuin. hahaha. kalo di post byk2 ntar pd sakit mata bacanya [hmpfh]
Logged

fanny_21

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 405
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #16 on: October 22, 2009, 09:08:37 am »

Benar-benar panjang umur, baru juga dibicarakan, orangnya sudah muncul. Natasha masuk ke kelas. Edo, Fery dan Nenad berpandangan dan mereka tersenyum yang kalau dilihat orang lain seperti punya rencana super licik. Fery menghentakkan bahu ke arah Natasha, tanpa suara menyuruh Edo segera menyelesaikan taruhannya. Edo tersenyum simpel lalu bangkit dan bergerak melesat ke arah Natasha yang sudah hampir keluar dari kelas.
”Hai, Natasha,” sapanya sambil tersenyum berdiri menghadang jalanku. Aku hanya membisu menatapnya. Dia...? Siapa ya? Kok dia tahu namaku?
”Kamu...” Aku menunjuk wajahnya.
Dia tersenyum dan berbisik, ”Kenapa?”
”Kamu siapa? Kok tau nama saya?”
Edo tercengang menatap Natasha dengan mulut menganga membentuk sebuah goa kecil. Dia tidak salah dengar, kan? Natasha tidak tahu siapa Edo? Walaupun Edo tidak mengenal Natasha, masa gadis itu sama sekali tidak mengenalinya? Edo selalu menjadi pusat perhatian di sekolah ini! Alis Edo naik-turun, mulutnya menganga dan dia menunjuk dirinya sendiri dengan gemetar.
”Loe... loe nggak kenal gue? Lo udah masuk sini selama hampir satu semester tapi nggak kenal gue??”
Cowok ini! Diajak ngomong sopan, kok balasnya gue-elo?? Tak sopan! Aku mengangguk. ”Nggak usah lo, guru aja gue nggak ingat namanya.”
”Kenapa??”
Aku mendesah dan menaikkan sebelah alisku menatapnya. ”Penting, gitu?” tanyaku malas-malasan. Aku memutar kedua bola mataku dan aku melewatinya hendak keluar dari kelas.
Edo melongo menatap kepergian Natasha sementara kedua temannya sudah terbahak-bahak di pinggir kelas. Apa-apaan ini! Baru pertama kali Edo dipermalukan separah ini! Siapa sih gadis itu sebenarnya? Tak pernah Edo bertemu dengan gadis aneh seperti Natasha. Edo sungguh merasa tertantang. Dia tidak bisa melepaskan Natasha begitu saja. Dia mencegat gadis itu lagi sambil memaksakan wajahnya yang tegang untuk tersenyum. Gadis itu mendelik membalas tatapan Edo.

Tuh sudt pandangnya banyak bener ya?  :D
Logged

fanny_21

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 405
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #17 on: October 22, 2009, 09:16:29 am »

Aku mencopot kulit itu di dalam toilet dan membasuh keringatku dengan cepat. Nyaris, tadi hampir saja copot. Kulitku hampir sopot semua karena keringat, mungkin lain kali aku harus mengikatnya. Jadi tidak enak hati sama Edo. Aku sudah menggigit tangannya, padahal dia sudah bersedia membantuku tanpa kuminta. Semoga saja dia tidak marah.
Aduh, kulitnya tidak bisa nempel lagi. Mungkin terlalu lembap karena keringat. Untungnya saja sekolah sudah sepi, aku tinggal mengambil tasku dan pulang cepat-cepat. Paling sebentar lagi aku sudah bisa memakai topeng ini lagi. Aku melipat topeng itu dan kulit lainnya lalu memasukkannya ke dalam saku rokku yang luar biasa besar. Jadi terasa seperti membawa gentong. Bajuku jadi longgar sekali, tapi rokku mengembung, seperti orang-orangan sawah rasanya.
Aku celingak-celinguk di depan toilet sebelum memutuskan cukup aman untuk kembali ke kelas dan menutupi wajahku dengan kedua tanganku. Aku menengok ke belakang, takut tahu-tahu ada yang melihat dan menangkapku karena disangka penyusup.
”Ups!” pekikku saat aku menabrak sesuatu. Aku memutar kepalaku untuk melihat siapa yang kutabrak, dan tanganku langsung bergerak menekan dadaku saking terkejutnya.
Ya Tuhan... seseorang sudah melihat dan bertatapan muka dengan wajah asliku!

Ini detik2 ketahuannya muka asli Natasha. singkat cerita, tokoh 'Edo' itu sama sekali ga tau kalo Natasha itu cewek yg dia ketemu di depan toilet. [hmpfh]
Logged

juunishi master

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1.720
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #18 on: October 22, 2009, 10:35:51 am »


BTw, sudut pandang itu kyk apa ya? G kyknya pake sudut pandang banyak banget mulai dari tokoh 'aku', si 'cowok', sama sudut pandang gw sendiri. :P

Kalo kamu pake sudut pandang orang pertama, jangan pake cermin buat ngedekripsiin karakter utama! Itu cara yang udah lama n terlalu sering dipake. Coba pake cara2 baru buat ngedekripsiin karakter. (Maaf aku ga ngerti :-[, jelasin lebih rinci y, thx)

Soal nama keluarga, g ga kepikiran yang lain. Hahaha.

Jadi gw harus menjelaskan alasan si Natasha ini harus memakai topeng, kenapa bisa ada tradisi kolot itu, kenapa kakek memaksa dan apa akibatnya kalo natasha ga pake topeng? soalnya di belakang2 g baru membahas kenapa Natasha harus pake topng dsb. Tapi alasan kenapa bisa ada tradisi konyol itu...rencana pengen bikn buku ke 2 [worried]
Uwaaaa ...

Gw skip dulu postingan ceritamu buat ngejelasin ttg "sudut pandang".

Sudut pandang atau point of view (POV)--ini definisi tidak resmi menurut gw--adalah posisi yang kamu pakai di sepanjang cerita. POV ini normalnya kebagi tiga: sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang ketiga, dan sudut pandang orang ketiga serba tahu.

Sudut pandang orang pertama, ciri khasnya menggunakan banyak kata "aku" di mana "aku" ini adalah salah satu karakter (boleh utama maupun nggak) dlm ceritamu. Mau dlm kondisi apapun, yg disorot ya si aku ini. Aku begini, aku begitu, mayoritas kalimatnya gitu, meskipun kadang2 ada jg selingan kalimat yg menceritakan mengenai kondisi/keadaan karakter lain atau keadaan di sekeliling si "aku" itu. Segala sesuatu yg dilihat, dirasakan, didengar, dialami, dan "di-" lainnya, semuanya terbatas dalam batasan pengetahuan dan kelima indera si "aku" itu.

Sudut pandang orang ketiga, ciri khasnya menggunakan nama karakter--karakter utama biasanya terasa lbh sering mendapat "sorotan"--dan banyak kata "dia" ato "ia". Di sudut pandang orang ketiga ini, penulis tidak perlu terlalu membatasi diri dengan sekedar apa yang diketahui si karakter utama ato karakter tertentu yang dijadikan "fokus" cerita, tapi bisa lebih bebas bercerita mengenai apa yg dialami karakter ini, apa yg dikatakan karakter itu, kondisi di sekitar para karakter, dan sebagainya. Secara tak kasat mata, ada yang namanya "fokus karakter" yang biasanya bisa dirasakan ama pembaca sewaktu penulis menggunakan POV ini. "Fokus karakter" sendiri akan terasa seperti, ada satu karakter yg terasa menonjol--kalo di panggung, lg dapet sorotan lampu--padahal dia tidak sedang sendirian dalam lingkungan cerita tempatnya berada saat itu.

Sudut pandang orang ketiga serba-tahu agak mirip dengan sudut pandang orang ketiga, tapi jauh lebih bebas lagi karena di sini penulis bersikap sebagai "Tuhan" yang mengetahui segala sesuatu tentang karakter2 yang tengah diceritakan, mulai dari si ini berkata apa, si itu berpikir bagaimana, apa yang dirasakan si x, apa yang dilihat si y, dan seterusnya.

Lumayan ngerti?

Hehe.
Logged
"Boku wa... koko ni iru!"

fanny_21

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 405
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #19 on: October 22, 2009, 10:54:54 am »

Lumayan tp bingung mengeluarkannya di tulisan :D :D :D
terus jadi tuh cerita gw, sudt pandangnya uda bener belum ya? :'(
Kalian semua kan pengalaman, sedgkan gw masih anak bawang, masih belum ngerti, modal baca novel harlequin ja buat jd inspirasi n memperbanyak kosa kata :(
Tapi boleh ga sih gw pake sudut pandang tiga2nya? 'aku' ada, 'tokoh ke dua' jg ada sama 'sudut pandang ke tiga' jg ada. Hahaha
Logged
Pages: 1 [2] 3 4 5 6 ... 9   Go Up