;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: 1 2 [3] 4 5 6 7 ... 9   Go Down

Author Topic: Tata cara membuat novel yang benar?  (Read 46965 times)

juunishi master

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1.720
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #20 on: October 22, 2009, 08:47:09 pm »

Lumayan tp bingung mengeluarkannya di tulisan :D :D :D
terus jadi tuh cerita gw, sudt pandangnya uda bener belum ya? :'(
Kalian semua kan pengalaman, sedgkan gw masih anak bawang, masih belum ngerti, modal baca novel harlequin ja buat jd inspirasi n memperbanyak kosa kata :(
Tapi boleh ga sih gw pake sudut pandang tiga2nya? 'aku' ada, 'tokoh ke dua' jg ada sama 'sudut pandang ke tiga' jg ada. Hahaha
Pendapat pribadi dari gw yah kalo soal sudut pandang yg ada di postingan ceritamu, masih terasa kurang "pas". Mungkin karena pergantiannya yang terasa "kasar" makanya gw ngerasa gitu.

Gak ada larangan untuk berganti-ganti sudut pandang, contohnya trilogi Bartimeus, pake sudut pandang orang pertama utk Barty, dan sudut pandang orang ketiga untuk majikan Barty--lupa namanya.

Tapi sebagian besar novel yang gw baca pakai satu sudut pandang saja. Gw pribadi juga milih pake satu sudut pandang secara konsisten, dipilih berdasarkan gimana gw akan bercerita di dalam tulisan gw, apakah akan banyak berpindah fokus di banyak karakter atau memang mau dipaksakan tetap berada di satu karakter saja, yaitu karakter utama.

Begitu2. :D

Tanyalah kalo ada yg gak dimengerti.

Hehe.
Logged
"Boku wa... koko ni iru!"

Arynity

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 5.475
  • Semi Hiatus
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #21 on: October 23, 2009, 12:26:02 am »

juunishi udah jelasin lengkap tuh soal POV. Kalau yg gw liat emang POV kamu kurang rapih, gw baru baca sekilas sih belum ulang, masih rada bingung nangkepnya.

kalau mau tau lebih banyak soal sudut pandang baca TBT (The Bartimaeus Trilogy) deh, itu benar2 buku yg recomment banget, buat yg suka fantasy atau mau belajar masalah POV. Kalau emang mau multiple POV bisa kamu pisahin per bab atau per paragraf.

Saran ku sih, yang paling penting bagi penulis, itu bacalah buku sebanyak-banyaknya dan jangan batasi hanya di satu genre, gw juga suka baca harlequin, chiklit, teenlit tapi demen juga fantasy dan science fiction.

@juunishi : nama majikan Barty adalah John Mandrake a.k.a Nathaniel  ;D
Logged
COPPA, SCUDETTO, CHAMPION LEAGUE

quavi

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 97
    • dunia tulis menulis, dunia pergigian, dunia anak kos, dunia TV series
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #22 on: October 23, 2009, 09:01:55 am »

juunishi udah pas banget tuh tentang POV...

saranku..mending kamu pake salah satu. Dan kalo dari tulisanmu...mending kalo kamu pake sudut pandang orang ke tiga...soalnya seperti kata juunishi...postingan ceritamu belum terasa pas...

jangan kamu rombak dulu ceritamu...menurutku kamu baca2 lagi teenlit indonesia yang udah beredar...pelajari gaya bahasanya...awal menulis 'meniru' gaya bahasa orang ga masalah...semakin lama kamu di dunia penulisan...kamu bakal nemu gaya bahasamu sendiri...

terus untuk awal...dilihat dari cerita yang kamu tulis...kamu bakal lebih berhasil kalo pake sudut pandang orang ketiga...nggak bermaksud membuat kamu kecewa...tapi ceritamu belum ada feelnya.  [bigwink]

dulu aku awal nulis selalu pake orang pertama...sampe akhirnya aku sadar...aku masih belum bisa menempatkan diri sebagai orang pertama...meski novel sudah terbit, akhir-akhir ini, setelah dibaca ulang, aku sendiri ga sreg (dulu sih kerasa bagus-bagus aja...hahaha). MAsih banyak bolongnya dan aku sama sekali  nggak menempatkan diri sebagai tokohku.

Nah, sekarang masalah kelogisan cerita ya...saranku...taruh di awal semua...apalagi kalo kamu tetep pake sudut pandang orang pertama...

sejak topik 'kulit palsu' itu keluar, kamu harus bisa langsung jelasin...
Logged
Novel ke 11: SeoulMate


www.theseoulmate.com

quavi

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 97
    • dunia tulis menulis, dunia pergigian, dunia anak kos, dunia TV series
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #23 on: October 23, 2009, 09:17:09 am »

aku copyin contoh penjelasan kelogisan cerita ya...eini dari novel ke dua yang nyeritain cewek yang bisa lihat jodoh seseorang dari sebuah benang kasat mata berwarna merah dan cuma dia yang bisa lihat...



cover yang bagian tengah *sekalian promosi...siapa tahu ada yang minat beli  ;D



Oke, kali ini kuakui kekuatanku nggak sekeren yang aku katakan.
Tapi yang kukatakan ini benar. Aku bisa melihat pasangan hidup seseorang.
Tapi bukan berarti setiap aku melihat seseorang, aku bisa langsung tahu siapa pasangan hidupnya seakan orang tersebut menuliskan nama kekasih hatinya di dahinya dengan spidol hitam besar. Bukan itu caraku mengetahui pasangan hidup seseorang.
Kekuatanku lebih...apa ya namanya? Pokoknya begini, aku bisa melihat benang merah yang terlilit di jari kelingking kiri seseorang. Ingat, hanya di kelingking, kalau di lain tempat sih aku nggak tahu benang apa itu. Benang merah ini—yang ada di kelingking kiri, sebagai tanda bahwa seseorang punya pasangan hidup.
Ada pertanyaan? Gimana kalau seseorang sampai akhir hayatnya bakalan terus membujang? Well, great question! Si hebat Cevy akan menjawabnya (Hehehe...pura-puranya ini lagi press conference: Tanya Jawab Seputar Benang Jodoh Bersama si Legendaris Cevy—Satu-Satunya Orang di Indonesia yang Bisa Melihat Soulmate Seseorang). So, begini jawabannya: kalau Tuhan telah menetapkan seseorang tidak akan memiliki pasangan hidup, di jari kelingkingnya tidak akan ada seutas benang merah. Cukup simple kan?
Benang merah itu hanya akan terlihat jika sepasang kekasih itu berdekatan. Jika pasangan hidup seseorang tidak ada didekatnya, benang merah tersebut hanya akan terjuntai ke bawah sepanjang kira-kira satu meter. Kalau memang sudah berjodoh, benang merah pada jari kelingking sepasang kekasih akan menyatu dan menegang, serta berwarna sangat merah. Merah darah dan berkilau. Sangat indah.
Benang merah pertama yang kulihat adalah benang merah yang terlilit pada jari kelingking mamaku. Aku pertama kali melihatnya sekitar 4 tahun lalu saat aku baru menginjakkan kakiku di bangku SMP.
Ya, kekuatan ini tidak aku miliki sejak lahir. Aku baru bisa melihatnya 4 tahun yang lalu. Aku tidak tahu dari mana datangnya kekuatan ini. Berkali-kali aku menanyakan pertanyaan ini pada diriku sendiri tapi yang kudapati hanya jawaban yang nihil, aku nggak bisa menjawabnya. Aku nggak berani bertanya pada orang lain karena...well aku nggak mau disangka gila, maka untuk mengantisipasinya aku memilih diam. Seiring dengan berlalunya waktu, jawaban pertanyaan itu menjadi nggak penting lagi, walau kuakui aku masih penasaran dari mana datangnya kekuatan ini. Tapi yang pasti aku memang bisa melihatnya.
Saat itu Minggu pagi. Aku melihat mamaku duduk di sofa ruang tamu dan berdendang kecil. Papa duduk di sebelah mama sambil melihat acara di TV, aku lupa program apa yang ditonton Papaku saat itu (yang pasti acara yang ditonton Papa adalah jenis acara yang membosankan, biasalah...selera bapak-bapak).
Setelah bosan mengamati acara TV yang dipilih Papa, mataku beralih ke wajah papa, berharap siapa tahu papa merasakan tatapan memohonku dan mau berbaik hati mengganti mengganti saluran TV ke acara film kartun kesukaanku. Sayangnya, ekspresi wajah papa membuaku mengkerut kecut. Papa asyik sekali menonton acara itu. Langsung saja kuurungkan niatku untuk meminta papa mengganti saluran TV atau membelikanku TV pribadi yang bisa kutaruh dikamarku (alternatif lain kalau Papa nggak mau mengganti saluran TVnya).
So, dengan berat hati kutolehkan wajahku  dari wajah papa dan menuju ke mama. Siapa tahu jurus tatapan mata memohonku bisa berhasil pada mama. Tapi...kayaknya nggak mungkin deh, mama sudah berhenti berdendang dan juga asyik menonton acara itu.
Lalu, beberapa saat kemudian, tanpa sengaja pandanganku tertuju pada jari mereka. Aku melihat seutas benang yang terlilit pada kelingking mereka. Aku diterpa perasaan heran. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Warna benang itu merah dan berkilau—indah sekali.
Saat itu aku nggak tahu apa arti benang itu. Aku malah heran mengapa mereka menyatukan kelingking mereka dengan benang itu. Untuk menghilangkan rasa penasaranku, akupun bertanya pada mereka berdua.
Logged
Novel ke 11: SeoulMate


www.theseoulmate.com

fanny_21

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 405
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #24 on: October 23, 2009, 10:32:36 am »

HOhoho, gt y, waduh rombak ulang dari awal donk :'(. Bis dari awal kan sudut pandangnya ada 3. gmn ne?? huhu.
uda kehabisan ide dan kata2 ne gw. hahaha. masalahnya tuh gw kdg suka anget2 t*i ayam. hehehe. ga gt suka bc novel gt, plg kalo lg mood ja. [yawn]terus g jg suka bingung dengan kata yg ada pun2 nya itu loh. di mana pun, kapan pun, kdg nyatu kdg nggak. bingung jadinya :-\
 berikut prolog yg uda g rombak. kayaknya makin parah [crying] [crying] [crying]

Prolog

Tradisi aneh dalam keluargaku...

Ketika anak gadis yang lahir di dalam keluarga ini mendapatkan haid pertamanya, anak gadis itu tidak boleh dilihat oleh lelaki mana pun yang tidak punya hubungan darah sampai anak gadis itu menikah nanti. Kalau sampai terlihat dan bertatap muka, mereka harus dinikahkan. Dan pasti akan menikah.

Kuno! Kita hidup di zaman modern. Bukan zamannya siluman dan kerajaan lagi. Aku menolak, memperjuangkan kebebasanku yang dirampas oleh tradisi konyol itu.. Dan alhasil aku ditendang dari rumah kakekku beserta kedua orangtuaku, tapi tidak dengan ketiga kakak laki-lakiku. Mereka semua sedang sibuk bekerja di luar negeri sampai-sampai tidak punya kesempatan pulang ke tanah air kalau kakekku tidak memberikan izin istimewa. Dan kakekku sengaja tidak mengumpulkan seluruh keluarga kami saat dia mengusirku karena dia tahu, saudara-saudaraku pasti akan mendukungku.

Walau begitu, beliau tetap mengajukan persyaratan tergila yang pernah kudengar seumur hidupku. Nama kami tidak akan dicoret dari daftar ahli waris, tetapi, aku harus menyamar. Tak jauh berbeda dari aturan tradisi gila itu, tapi aku masih bisa bertemu dengan orang-orang di sekitarku. Tidak harus bersembunyi di dalam rumah. Aku masih bisa keluar, masih bisa sekolah, masih bisa bertemu dengan banyak orang.

Aku tidak mengubris ancaman itu. Apakah kakekku berpikir aku mempan diancam? Dia kira aku sebegitu gilanya dengan harta yang walau tujuh turunan pun tidak akan habis dipakai itu? Dia seperti tidak mengenal diriku saja. Aku malahan hendak menentangnya. Tapi mengingat pengorbanan kedua orangtuaku juga umur kakekku yang jauh melebihi usia kemerdekaan tanah air ini, aku mengalah.

Kakekku memberikan kantong berisi kulit palsu kepadaku. Aku menatapnya bingung. Saat itu aku baru berumur 10 tahun, masih belum tahu apa-apa.

”Pakai itu. Dan jangan sampai ada orang lain yang tahu sosok aslimu yang sebenarnya atau aku akan langsung menyeretmu kembali ke rumah ini.”

Habis itu lsg nyambung ke bab 1 yg soal Natasha mulai menjadi sudut pandang org pertama... [worried]

Logged

fanny_21

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 405
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #25 on: October 23, 2009, 10:53:14 am »

aku copyin contoh penjelasan kelogisan cerita ya...eini dari novel ke dua yang nyeritain cewek yang bisa lihat jodoh seseorang dari sebuah benang kasat mata berwarna merah dan cuma dia yang bisa lihat...



cover yang bagian tengah *sekalian promosi...siapa tahu ada yang minat beli  ;D



Oke, kali ini kuakui kekuatanku nggak sekeren yang aku katakan.
Tapi yang kukatakan ini benar. Aku bisa melihat pasangan hidup seseorang.
Tapi bukan berarti setiap aku melihat seseorang, aku bisa langsung tahu siapa pasangan hidupnya seakan orang tersebut menuliskan nama kekasih hatinya di dahinya dengan spidol hitam besar. Bukan itu caraku mengetahui pasangan hidup seseorang.
Kekuatanku lebih...apa ya namanya? Pokoknya begini, aku bisa melihat benang merah yang terlilit di jari kelingking kiri seseorang. Ingat, hanya di kelingking, kalau di lain tempat sih aku nggak tahu benang apa itu. Benang merah ini—yang ada di kelingking kiri, sebagai tanda bahwa seseorang punya pasangan hidup.
Ada pertanyaan? Gimana kalau seseorang sampai akhir hayatnya bakalan terus membujang? Well, great question! Si hebat Cevy akan menjawabnya (Hehehe...pura-puranya ini lagi press conference: Tanya Jawab Seputar Benang Jodoh Bersama si Legendaris Cevy—Satu-Satunya Orang di Indonesia yang Bisa Melihat Soulmate Seseorang). So, begini jawabannya: kalau Tuhan telah menetapkan seseorang tidak akan memiliki pasangan hidup, di jari kelingkingnya tidak akan ada seutas benang merah. Cukup simple kan?
Benang merah itu hanya akan terlihat jika sepasang kekasih itu berdekatan. Jika pasangan hidup seseorang tidak ada didekatnya, benang merah tersebut hanya akan terjuntai ke bawah sepanjang kira-kira satu meter. Kalau memang sudah berjodoh, benang merah pada jari kelingking sepasang kekasih akan menyatu dan menegang, serta berwarna sangat merah. Merah darah dan berkilau. Sangat indah.
Benang merah pertama yang kulihat adalah benang merah yang terlilit pada jari kelingking mamaku. Aku pertama kali melihatnya sekitar 4 tahun lalu saat aku baru menginjakkan kakiku di bangku SMP.
Ya, kekuatan ini tidak aku miliki sejak lahir. Aku baru bisa melihatnya 4 tahun yang lalu. Aku tidak tahu dari mana datangnya kekuatan ini. Berkali-kali aku menanyakan pertanyaan ini pada diriku sendiri tapi yang kudapati hanya jawaban yang nihil, aku nggak bisa menjawabnya. Aku nggak berani bertanya pada orang lain karena...well aku nggak mau disangka gila, maka untuk mengantisipasinya aku memilih diam. Seiring dengan berlalunya waktu, jawaban pertanyaan itu menjadi nggak penting lagi, walau kuakui aku masih penasaran dari mana datangnya kekuatan ini. Tapi yang pasti aku memang bisa melihatnya.
Saat itu Minggu pagi. Aku melihat mamaku duduk di sofa ruang tamu dan berdendang kecil. Papa duduk di sebelah mama sambil melihat acara di TV, aku lupa program apa yang ditonton Papaku saat itu (yang pasti acara yang ditonton Papa adalah jenis acara yang membosankan, biasalah...selera bapak-bapak).
Setelah bosan mengamati acara TV yang dipilih Papa, mataku beralih ke wajah papa, berharap siapa tahu papa merasakan tatapan memohonku dan mau berbaik hati mengganti mengganti saluran TV ke acara film kartun kesukaanku. Sayangnya, ekspresi wajah papa membuaku mengkerut kecut. Papa asyik sekali menonton acara itu. Langsung saja kuurungkan niatku untuk meminta papa mengganti saluran TV atau membelikanku TV pribadi yang bisa kutaruh dikamarku (alternatif lain kalau Papa nggak mau mengganti saluran TVnya).
So, dengan berat hati kutolehkan wajahku  dari wajah papa dan menuju ke mama. Siapa tahu jurus tatapan mata memohonku bisa berhasil pada mama. Tapi...kayaknya nggak mungkin deh, mama sudah berhenti berdendang dan juga asyik menonton acara itu.
Lalu, beberapa saat kemudian, tanpa sengaja pandanganku tertuju pada jari mereka. Aku melihat seutas benang yang terlilit pada kelingking mereka. Aku diterpa perasaan heran. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Warna benang itu merah dan berkilau—indah sekali.
Saat itu aku nggak tahu apa arti benang itu. Aku malah heran mengapa mereka menyatukan kelingking mereka dengan benang itu. Untuk menghilangkan rasa penasaranku, akupun bertanya pada mereka berdua.




Gw perna baca komik jepang, lupa judulnya, pengarangnya dulu oke banget, yg ngarang MIlky Magic. dia perna bikin komik tentang angel dan iblis yg slg jatuh cinta, pny anak, dan anaknya itu byk kisahnya, heheh. salah satunya dia mencari benang merahnya. sekilas c. tp punya lo bagus kok, dl jg perna g kepikiran pgn bikin, tp ga kesampaian. hahaha
Logged

quavi

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 97
    • dunia tulis menulis, dunia pergigian, dunia anak kos, dunia TV series
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #26 on: October 23, 2009, 11:16:04 am »

Fanny...ada yang janggal nih...

aku mikirnya tadi pas prolog itu si tokoh udah remaja...ternyata dia dikasih topeng pas masih 10 tahun ya...berarti kamu nyeritain dia 'sadar' keanehan tradisi keluarganya waktu umur 10 tahun? dengan kata lain, dia berontak pas umur 10 taun? bingung nih

teruuuus...kenapa itu kamu jadiin prolog? Itu bisa langsung masuk ke bab 1 lho...diceritakan di saat kamu mengisahkan dia lagi ngapain gitu...ga cocok kalo jadi prolog... :)
Logged
Novel ke 11: SeoulMate


www.theseoulmate.com

fanny_21

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 405
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #27 on: October 23, 2009, 11:28:00 am »

Iya dia berontaknya udah dr umur 10 tahun :D :D :D
soalnya aku sendiri udah miring otaknya sejak umur segitu. wkwkwkw

Masa ya? bs lsg? bis kalo dijadiin bab 1 lsg, bab 1 jd 17 lmbr, bab 2 13 lembar n seterusnya ngaco lembarannya. hahaha.
Logged

Luna_TR

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1.154
    • http://novelku.com
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #28 on: October 23, 2009, 11:40:59 am »

HOhoho, gt y, waduh rombak ulang dari awal donk :'(. Bis dari awal kan sudut pandangnya ada 3. gmn ne?? huhu.
uda kehabisan ide dan kata2 ne gw. hahaha. masalahnya tuh gw kdg suka anget2 t*i ayam. hehehe. ga gt suka bc novel gt, plg kalo lg mood ja...

Waduh..pengin jadi penulis novel kok gak suka baca novel? Jadi gimana bisa tau gimana bikin yang baik? Biasanya penulis2 novel malah tadinya mereka yang suka banget baca novel,lalu kepikiran buat coba2 nulis.

Itu sama aja dengan pengin bisa maen bola tapi gak suka nonton bola. Gimana bisa ngebandingin kemajuan kita dengan yang lain?

Trus kalo mo dapet penilaian soal karya kamu, jangan minta penilaian ke temen (apalagi temen deket), soalnya pasti jawabannya gak obyektif. Udah bisa ditebak, pasti kebanyakan bilang bagus apapun hasil yang sebenarnya (kalo misalnya bilang yang sebenarnya atau kritik takut kamu marah). Kalo mo obyektif minta penilaian dari orang yang gak kenal kamu/gak begitu kenal atau sekalian penilaian dari editor (kirim ke penerbit). Temen2 kamu boleh ikut baca tapi penilaian mereka jangan dijadiin patokan.

Kesimpulan setelah membaca (cuplikan) novel kamu :
Kurang logis, bahasa kurang luwes/kaku, setting yang gak jelas.

Contohnya : Novel kamu settingnya di Indo atau luar negeri? Kalo di Indo kenapa harus pake nama2 luar sih? Banyak kok nama2 indo yang keren2 (apalagi anak2 sekarang, namanya kan bagus2 tanpa brbau barat).Kalo gak bisa ciptain sendiri, comot aja nama temen2 kamu yang bagus lalu gabung2in, atau beli buku nama untuk bayi yang banyak ditoko2 buku. Atau kalo nggak settingnya sekalian aja ibuat di luar negeri, tapi kamu harus tau soal bahasa,budaya,system pendidikan dan cara hidup di negara yang jadi setting kamu,atau critanya bakal jadi lebih nggak logis.

Untuk sudut pandang/POV emang lebih baik pake 1 POV aja.Lebih dari 1 POV itu malah bikin cerita jadi berantakan dan nggak fokus. Seperti cerita kamu,malah jadi ancur dan gak jelas. Lagian jarang novel pake multiple POV.

POV menurut Sitta Karina (dari workshop dia):
Quote
Sudut pandang (point of view / PoV ) adalah posisi yang digunakan penulis dalam menceritakan ceritanya.
Sudut pandang terbagi menjadi 3 jenis:

1)   Sudut pandang orang pertama
Menggunakan kata ‘aku,saya,-ku’. Pemilihan terhadap PoV ini dikarenakan penulis:
   membuat cerita lebih ‘personal’
   Menyelami pemikiran 1 karakter saja
   membuat seolah-olah penulis langsung berbicara dengan pembaca

2)   Sudut pandang orang ketiga—terbatas
Menggunakan kata ‘dia,mereka,-nya’. Pemilihan terhadap PoV ini dikarenakan penulis:
   menyediakan lebih banyak info tentang para karakter & kejadian-kejadian
   memperlihatkan kejadian melalui mata dari 1 karakter
   Encourage pembaca untuk mencari tahu tentang si karakter
Pada PoV ini, penulis tahu karakter seseorang seolah-olah atas apa yang dilakukan & dikatakan karakter lainnya, sehingga pembaca dapat menilai keseluruhan cerita dengan lebih obyektif.

3)   Sudut pandang orang ketiga—tak terbatas
Menggunakan kata ‘dia,mereka,-nya’. Pemilihan terhadap PoV ini dikarenakan penulis:
   menciptakan full view tentang semua karakter & kejadian
   memperlihatkan apa yang semua karakter rasakan dan pikirkan
   menciptakan sudut yang luas terhadap keseluruhan cerita
Perbedaannya dengan no.2 adalah: si penulis di sini menjadi orang yang ‘tahu segalanya’. Pembaca berkesempatan menilai cerita dari segala aspek, dan dapat lebih obyektif lagi daripada PoV orang ke-3 terbatas.[/i]


Semoga bisa membantu...

Masa ya? bs lsg? bis kalo dijadiin bab 1 lsg, bab 1 jd 17 lmbr, bab 2 13 lembar n seterusnya ngaco lembarannya. hahaha.

Maksudnya? Ada masalah dengan jumlah halaman dalam 1 bab?

@quavi
pa kabar? lama gak ketemu hee..hee...heee
Logged

MakMak

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1.230
  • Choooo Denji.... Yo-Yooo!!!!
Re: Tata cara membuat novel yang benar?
« Reply #29 on: October 23, 2009, 11:48:03 am »

sebaiknya ga usah mikir jumlah halaman dalam satu bab. soalnya ga ada peraturan 1 bab itu kudu berapa halaman. aku aja pernah bikin satu bab cuma setengah halaman
Logged
FF2010-ku ketrocohan. piye jal? padahal durung foto-foto
Pages: 1 2 [3] 4 5 6 7 ... 9   Go Up