;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1] 2 3 4 5 ... 101   Go Down

Author Topic: BERITA SEPUTAR PERTELEVISIAN (AGUSTUS) 2017  (Read 55797 times)

MUBARAK22

  • Forum Machi
  • ***
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 3.119
BERITA SEPUTAR PERTELEVISIAN (AGUSTUS) 2017
« on: August 05, 2017, 10:10:13 am »

Mengenal lebih jauh tentang Rating dan share.
.
Pemirsa televisi (TV) sering mempertanya jalannya suatu program televisi. Misalnya, mengapa program berita di salah satu stasiun TV dipindahkan jam tayangnya? Mengapa penayangan program masak-memasak yang dipandu oleh salah seorang chef yang mulai memudar namanya dihentikan? Mengapa durasi dari program musik tersebut ditambah? Mengapa durasi program kuis itu dikurangi? Mengapa sinetron itu di perpanjang dan mengalami penambahan serta penggantian tokoh? Begitu banyak pertanyaan yang terngiang di benak kita, tetapi kita yang masih awam terhadap seluk beluk dunia pertelevisian tidak mengetahui secara persis apa sebenarnya yang terjadi dibalik semua itu. Lain halnya apabila pertanyaan tersebut diajukan kepada para pengelola stasiun televisi. Mereka pasti akan menjawab dengan kompak bahwa semua itu terjadi karena rating televisi.

Rating. Kata yang sering kita dengar. Tetapi kurang kita ketahui maksudnya. Sebenarnya apa sih rating itu? Secara umum, rating adalah evaluasi atau penilaian atas sesuatu. Rating merupakan data kepemirsaan televisi. Data merupakan hasil pengukuran secara kuantitatif. Jadi rating bisa dikatakan sebagai rata-rata pemirsa pada suatu program tertentu yang dinyatakan sebagai persentase dari kelompok sampel atau potensi total. Pengertian yang lebih mudah, rating adalah jumlah orang yang menonton suatu program televisi terhadap populasi televisi yang di persentasekan

Data kepemirsaan TV itu dihasilkan berdasarkan survei kepemirsaan TV (TV Audience Measuremen TAM). Di Indonesia survei kepemirsaan televisi kini diselenggara oleh AGB Nielsen Media Research (AGB NMR). Sebenarnya ada perusahaan lain yang bergerak dibidang yang sama, tetapi para stakeholders dari data kepemirsaan TV itu, seperti pengelola stasiun televisi, pengiklan, media, dan lainnya yang berlangganan rating tersebut, lebih mempercaya terhadap hasil data kuantitatif yang dihasilkan oleh AGB NMR. AGB NMR merupakan perusahaan survei kepemirsaan TV terbesar di dunia. Dalam tugasnya, AGB NMR mengacu pada pandangan global ”Global Guidelines for TV Audience Measuremen (GGTAM)” yang dibuat oleh Audience Research Method (ARM) Group.

Pengoperasian dan prosedur standar survei kepemirsaan TV yang mengacu pada GGTAM harus melalui tujuh proses pokok. Ke tujuh proses tersebut adalah:
1. TV Establishmen Survey,
2. Pemilihan Panel,
3. Metering Equipment (TVM-5): pemasangan di rumah tangga panel,
4. Pengumpula Data (On-line Polling),
5. The Production (Pollux System),
6. TV Monitoring,
7. Pengiriman Data (via Arianna).

Pra-survei dilakukan untuk menjaring calon panel. Survei awal ini disebut TV Establishmen Survey. TV Establishmen Survey dilakukan di kota-kota yang menjadi cakupan survei kepemirsaan TV AGB NMR. Di Indonesia dilakukan di 10/11 kota besar. Yaitu, Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, & Banjarmasin . Tahap ini dilakukan untuk menentukan besaran populasi individu yang mempunyai televisi di rumah tangganya sebagai jumlah pemirsa potensial suatu kota. Selain itu, TV Establishmen Survey juga memberikan informasi karakteristik demografi individu di rumah tangga tersebut (seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, dsb), serta karakteristik rumah tangga (seperti informasi pengeluaran rumah tangga, kepemilikan barang, kondisi rumah, dsb; yang akan menentukan kategori kelas sosial ekonomi rumah tangga tersebut).

Cara yang dilakukan adalah AGB NMR yang telah mempunyai referensi setiap Rukun Tetangga (RT). RT tersebut dipilih secara random untuk di survei. Misalnya di suatu RT kurang dari 50 rumah, maka perhitungan dilanjutkan ke RT berikutnya. Tetapi, apabila RT tersebut memiliki lebih dari 50 rumah, maka survei dihentikan di rumah ke-50. 50 rumah dalam satu RT itu disebut Primary Sampling Unit (PSU). Selanjutnya, pada masing-masing PSU didata demografinya Hasil pendataan tersebut dikompilasi, dan dipilih secara acak rumah tangga untuk dijadikan panel dengan mempertimb proporsi umur, jenis kelamin, serta kelas sosial ekonomi dalam sebuah populasi televisi (People Using Television/ PUT). Lalu diperolehlah rumah tangga yang cocok dijadikan panel (responden).

Setelah calon panel terpilih, petugas lapangan AGB NMR kemudian mengajukan permohonan untuk menjadikan sebuah rumah tangga sebagai panel. Apabila rumah tangga tersebut menyetujui, maka petugas AGB NMR akan memasang peoplemeter (metering equipment) TVM-5. Peoplemeter TVM-5 yang dipasang di setiap TV dilengkapi dengan handset remote control, base unit, display unit, dan transmission unit. Handset remote control mirip dengan remote control biasa, bedanya di handset ini tertera angka yang disesuaikan dengan anggota keluarga. Misalnya, angka 1 = ayah, angka 2 = ibu, angka 3 = anak pertama, angka 4 = anak kedua. Khusus untuk pembantu ada tombol tersendiri, supaya mereka tidak memencet tombol anggota rumah tangga. Tetapi data kepemirsaan pembantu tidak akan diproses karena mereka bukan anggota tetap rumah tangga tersebut. Semua anggota rumah tangga harus menekan tombol, jika mereka akan menonton TV, begitu juga kalau mereka sudah selesai menonton TV. Di Indonesia, sebuah keluarga hanya bisa menjadi panel selama 2 tahun saja. Walaupun terkadang dalam prakteknya ada juga yang sudah lebih dari 2 tahun.

Data yang terekam oleh peoplemeter TVM-5 ini kemudian diambil. Pengambilan data di Indonesia dilakukan melalui dua sistem, yaitu on-line dan off-line. Pada system on-line, data diambil setiap hari antara jam 2 pagi sampai jam 6 pagi melalui sistem transmisi data dengan menggunaka jaringan telepon seluler (GSM) yang diset secara otomatis dan dihubungkan dengan system pengolahan data AGB NMR di Jakarta. Sedangkan untuk system off-line, data direkam ke dalam sebuah modul, dan dilakukan pengambilan setiap seminggu sekali oleh petugas lapangan AGB NMR. Modul ini kemudian dihubungkan dengan pembaca modul di kantor AGB NMR. Proses ini dilakukan setiap hari minggu.

Data yang telah dikumpulkan, kemudian diproses dan diproduksi oleh system Pollux yang berada di server AGB NMR di Jakarta dan juga terkoneksi ke kantor pusat di Switzerland dengan back-up support di Kuala Lumpur. Pollux adalah sistem produksi dan penerimaan data kepemirsaan televisi yang lengkap dan terintegrasi yang mengkombin standar internasional dengan transparansi, dalam arti pelaporan yang luas dan fleksibel pada semua fase produksi datanya. Kemudian data kepemirsaan yang telah diproduksi oleh Pollux menjadi sebuah database yang berisi konsumsi televisi menit per menit yang mewakili populasi. Database ini kemudian digabung dengan data monitoring program dan iklan televisi yang diproduksi oleh sistem monitoring TV Events untuk database di dalam perangkat lunak analisis TV Arianna.

Software Arianna menampilkan data kepemirsaan TV dalam beberapa bentuk modul. Modul Daily Grid, memetakan program, penjadwalan program, atau kompetisis antar stasiun TV yang dilengkapi dengan data rating dan share pada masing-masing program dan paruh waktu. Modul Telegrid, menampilkan jadwal siaran dari stasiun TV tertentu pada periode waktu tertentu. Modul loyalty, merupakan analisis perilaku pemirsa yang memperlihatk kesetiaannya terhadap program dan stasiun TV tertentu berdasarkan durasi menontonnya Modul Foresting, Planning, dan Optimizing (FPO), modul ini digunakan untuk pengiklan.

Jadi data kepemirsaan TV yang mengukur persentase pemirsa televisi mempunyai kekuatan yang sangat besar. Jika pemirsa suatu program banyak, maka rating TV akan naik, pengiklan yang akan mengiklanka produknya juga akan tertarik memasang iklan di program tersebut. Sehingga mempengaru pendapatan finansial stasiun TV tersebut. Oleh karena itu, data kepemirsaan TV atau rating TV berpengaruh terhadap penayangan suatu program TV. Bisa diistilahkan bahwa rating TV adalah ”Tuhan” bagi para pengelola stasiun TV.

Sejak 1991, Nielsen Indonesia telah menyediakan laporan rating mingguan bagi stasiun TV dan pengiklan mengunakan Layanan Rating Harian—penonton sampel mencatat acara yang ditonton serta di kanal mana, di dalam buku harian yang disediakan. Hasilnya dikirimkan pada NMR yang kemudian mentransfern ke komputer.

Tahun 1997 NMR beralih menggunaka Peoplemeter System untuk mengembang pengukuran yang lebih akurat menit per menit.. Metode Peoplemeter untuk memperoleh gambaran lebih akurat mencakup 5 kota besar (Jabodetabek Surabaya, Medan, Semarang, dan Bandung). Pada 2002 di tambah Makassar. Pada 2003 ditambah Yogyakarta (termasuk Bantul dan Sleman) serta Palembang, 2004 (Denpasar), dan 2006 (Banjarmasin Survey Nielsen mencakup populasi 49,5 juta penonton TV.

Sejak Maret 2007, Nielsen memberikan layanan laporan rating harian. Informasi detil sebuah program acara bisa langsung diketahui sehari setelah acaranya tayang. Rating harian juga mencakup 10 kota besar Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Banjarmasin. Tingkat penyebaran panel didasarkan pada survei awal atau Establishmen Survey (ES) di 10 kota tersebut. Dari ES, akan didapatkan jumlah rumah tangga (berusia 5 tahun ke atas) yang memiliki TV yang berfungsi dengan baik atau disebut populasi TV. Dari populasi TV, akan diperoleh proporsi populasi TV untuk masing-masing area. Berdasarkan ES, proporsi populasi TV di 10/11 kota secara berturut-turut adalah:
Jakarta-55%,
Surabaya-20
Bandung-5%,
Yogyakarta-5
Medan-4%,
Semarang-3
Palembang-3
Makassar-2%
Denpasar-2%,
Banjarmasin-1%

Dengan demikian, jumlah panel yang direkrut adalah berdasarkan pada proporsi populasi TV di masing-masing kota tersebut. Dengan kepemilikan TV di Jakarta adalah 55% dari total kepemilikan TV di 10 kota, maka 55% panel yang direkrut ada di Jakarta, dst.
Panel TAM di Indonesia saat ini mengukur 2.423 rumahtangga yang memiliki TV di 10 kota besar yaitu: Jakarta dan sekitarnya (Jabotabek), Surabaya dan sekitarnya (Gerbangkert Bandung, Semarang, Medan, Makassar, Yogyakarta dan sekitarnya (DIY Yogya + Sleman & Bantul), Palembang, Denpasar dan Banjarmasin. Panel utama ini hanya mengukur kepemirsaan TV terrestrial.

Terpisah dari panel utama ini di Jakarta, terdapat 300 panel rumahtangga yang berlangganan TV Kabel. (Pay TV panel).
Sekilas TAM
Populasi: 233 juta Populasi TV (dalam cakupan area survey): 52 juta
Populasi TV: 52.213.275 individu (Umur 5+ untuk 10 Kota)
Jumlah Panel: 2.123 (terrestrial) + 150 (TV berbayar) = 2.273 rumah tangga
Data yang Dimonitor: Terrestrial, TV Berbayar
Metode Pengumpula Data: 100% Online
Produk dan Layanan
Database: Viewing, Demographic Programs, Breaks and Ad Spots
Paket Software : Arianna
Jenis Layanan: TAM
Metode Pengiriman Data: Magnetic Media (CD), FTP
Angka rating dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, misalnya saja durasi suatu program, program tandingan, kualitas gambar yang diterima di rumah, penonton yang ada (available audience), jadwal tayang, waktu-waktu insidentil, juga pola kebiasaan penonton di daerah-daerah tertentu.

Rating program tidak mencerminka kualitas program. Rating adalah presentase dari penonton suatu acara dibandingkan dengan total atau spesifik populasi pada waktu tertentu. Yang diukur melalui rating ini kuantitas dan bukan kualitas suatu acara.
Rating = Jumlah penonton program A x 100 % Populasi TV

Dengan perhitungan rating yang menit per menit, panjangnya program mempengaru rating dari satu program. Misalnya program yang tadinya berdurasi 30 menit mempunyai rating 10. Ketika diperpanjang menjadi 60 menit, ratingnya turun menjadi 8 persen, dikarenakan angka pembagi yang semakin besar.

Lantas, apakah share? Apa bedanya dengan rating? Share adalah persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu pada suatu channel tertentu terhadap total pemirsa di semua channel.
Share = Program Rating x 100 % Total Rating

Ada pula istilah Channel Share yakni persentase pemirsa TV di satu periode tertentu pada saluran TV. Rumus perhitungann sebagai berikut:
CS = Channel Share x 100 %     Total Pemirsa

Pada Channel Share yang dibandingkan bukan lagi acaranya, melainkan stasiun TV-nya.

Singkat kata, beda rating dan share yakni, angka rating menghitung jumlah penonton TV pada sebuah acara, sedang share menghitung persentase penonton TV di antara stasiun TV lain. Misal, jika ada 3 stasiun TV dengan populasi 10 ribu dan TV1 mempunyai angka penonton 2 ribu, TV2 seribu, dan TV3 seribu, maka rating TV1 20% dan share-nya 50%; TV2 rating 10%, share 25%; TV3 rating 10% dan share 25%.
Dalam penentuan responden, NMR menggunaka metode Stratified Random atau acak bertingkat dan dikontrol berdasarkan kelas sosial ekonomi (SES) juga berdasarkan rumah tangga yang memiliki televisi. Klasifikasi SES AGB Nielsen Media Reserch Indonesia didasarkan pengeluaran pokok rutin bulanan rumah tangga seperti listrik, air, bahan bakar, makanan, ongkos sekolah, dll. Dan TIDAK termasuk pengeluaran tambahan seperti rokok maupun tagihan bulanan seperti tagihan rumah, mobil, kartu kredit, dll.

Dalam klasifikasi SES Nielsen terdapat kategorisasi berikut:
A1 ( > Rp 3.5000.000)
A2 (Rp 2.500.001-3.
B (Rp 1.750.001-2.
C1 (1.250.001-1
C2 (Rp 900.001-1.25
D (Rp 600.001-900. dan
E (< Rp 600.000)

Kriteria dari responden adalah pria dan wanita berusia 5 tahun ke atas, di rumah tangga yang memiliki televisi dalam keadaan baik. Metodologi survey kepemirsaan TV ini harus dilaksanakan sesuai dengan Global Guidelines for Television Audience Measuremen (GG TAM) dan Nielsen TAM Gold Standard Worldwide yang diterapkan di negara-negara lain di seluruh dunia.

Sistem survei yang digunakan dengan alat Peoplemeter. Setiap responden yang terpilih akan dipasang alat itu di televisi mereka, yang dapat mendeteksi frekuensi TV. Alat ini terdiri dari handset yang berbentuk seperti remote control yang sudah diprogram untuk mencatat setiap anggota rumah tangga yang ada. Jika salah satu anggota keluarga akan menonton suatu acara, mereka cukup menekan tombol khususdi handset yang sudah ditentukan. Setiap selesai menonton penonton harus memencet lagi tombol pertama. Dengan menggunaka metode Peoplemeter ini, margin of error dalam penghitungan data Nielsen berada di bawah 5 persen.

Secanggih apa pun metode penghitungan rating dan share yang dilakukan Nielsen, tentu saja tidak selalu memuaskan bagi pelaku bisnis televisi maupun masyarakat. Karena rating dan share tidak mengukur kualitas, banyak acara yang sebetulnya baik tapi karena ratingnya jeblok harus dihentikan. Yah mau bagaimana lagi, bagi stasiun TV, angka rating sudah jadi panglima. Baiklah, sekarang ini saya akan memberikan beberapa penjelasan tentang rating, share dan target audience. Survei AC Nielsen banyak menyasar kepada golongan dengan pengeluaran (bukan pendapatan) menengah ke bawah (CDE) karena golongan inilah yang banyak nonton TV

Mengapa kelas CDE yang jumlahnya lebih banyak disurvei, karena jumlah penonton TV memang dari golongan menengah ke bawah, jauh lebih banyak dibanding kelas AB (menengah atas); kalau digambarkan adalah spt piramida, dari puncak ke dasar adalah A, B, C, D, E. Dan berdasarkan prinsip keterwakilan maka memang seharusnya kelas CDE yang harus banyak disurvei sehingga keterwakilann sebanding dengan jumlahnya. Mengapa AB sedikit nonton TV, karena mereka lebih punya banyak pilihan untuk menghibur dirinya sendiri, klopun nonton TV mungkin kabel TV, atau mereka lebih suka hang-out, atau berlibur atau nonton bioskop dan lain-lain. Sedangkan bagi kelas CDE, TV merupakan hiburan satu-satunya, murah, gratis klo perlu numpang tetangga.

Pendapat keliru jika menyimpulka bahwa program dengan rating tinggi adalah pasti sebuah program yang bagus dan berkualitas, ini salah besar. Angka rating hanya menunjukkan jumlah pemirsa yang menonton, jadi rating tidak berbanding lurus dengan kualitas. Jadi kalau sebuah program ratingnya rendah, bukan surveinya yang salah, tapi kita harus berbesar hati bahwa penonton Indonesia memang masih memilih acara-acara dengan kadar hiburan yang tinggi dibanding yang bersifat edukasi/ pengetahuan yang disampaikan secara kaku, istilah marketingnya 'hard sale'. Ini juga menjelaskan mengapa rating MetroTV atau TVOne yang sarat pengetahuan tidak begitu tinggi ratingnya, jadi ya harus kita akui baru di tingkat itulah kebanyakan penduduk Indonesia.

Berdasar survei, wanita dan anak-anak (logis krn mereka banyak waktu, terlebih budaya Indonesia, wanita masih banyak berperan di daerah domestik) adalah penonton terbesar TV; jadi wajar kalau sinetron atau (bahkan) cerita-cerita dongeng (baca: mistik) ratingnya tinggi.
Saya pribadi juga tidak 100 persen percaya, tapi survei Nielsen dapat dijadikan acuan kasar trend menonton masyarakat. Saya nonton TV juga tidak berdasarkan ratingnya, tapi yang cocok dengan minat.

Jadi jika rating program favorit jeblok, tak banyak yang bisa Anda lakukan. Tonton saja selagi tayang di TV. Karena membuat judul acara trending topic, apalagi memarahi penulis skenario dan sutradara di media sosial, tak akan membuat rating naik.

CATATAN :
(SETELAH PUAS MEMBACA PENJELASA YANG PANJANG LEBAR TENTANG TVR/TVS DIATAS, UNTUK MEMUDAHK ANDA MEMAHAMI BAGAIMANA ANGKA2 ITU MUNCUL AKAN SAYA BERIKAN CONTOH SEBAGAI BERIKUT)
Data kepemirsaan tanggal 2 Maret 2016, Anak Jalanan meraih TVR/TVS 7,5/31,8. Apa maksudnya?
Tertulis total Individu 52.864.077, yang diwakili sampel 8.076. Pada kolom variable, tertulis Anak Jalanan meraih 3.940,000 penonton. Angka 3.940.000 dibagi 52.864.077 adalah 0,075 (pembulatan) dikalikan 100% maka muncullah TVR, 7,5%. Sementara TVS tertulis 31.8%. Ini berarti, sebanyak 31,8% dari semua orang yang menyalakan TV pada jam tayang itu menyaksikan RCTI atau Anak Jalanan, sementara sisanya ‘terpecah’ menyaksikan acara di 14 stasiun TV lainnya.

Pada akhirnya, meski tak mewakili selera seluruh penonton TV di Indonesia, data ini yang menjadi pegangan pengelola TV dalam menentukan nasib program-programnya. Trending topic mungkin menunjukkan program TV terkenal di media sosial. Tapi perlu diingat, tak semua penonton TV melek media sosial. Dan sebaliknya, belum tentu mereka yang aktif membuat trendingmen lewat pesawat TV. Kalau Anda menontonnya secarastream atau lewat HP, tidak dihitung oleh Nielsen-itu pun kalau Anda menjadi sampel Nielsen. Apalagi sekarang banyak penyedia jasa yang bisa menjadikan kata-kata trending topic.

Jadi jika rating program favorit jeblok, tak banyak yang bisa Anda lakukan. Tonton saja selagi tayang di TV. Karena membuat judul acara trending topic, apalagi memarahi penulis skenario dan sutradara di media sosial, tak akan membuat rating naik.
Demikian informasinya. Semoga bermanfaat
« Last Edit: August 05, 2017, 11:00:53 am by Keizo_aditya »
Logged

omjin_

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1.276
Re: BSP NEW THREAD (EDISI AGUSTUS)
« Reply #1 on: August 05, 2017, 10:11:34 am »

Pertamax
Logged

allinktand

  • Tomodachi
  • ****
  • Keong: 0
  • Online Online
  • Posts: 3.895
Re: BSP NEW THREAD (EDISI AGUSTUS)
« Reply #2 on: August 05, 2017, 10:46:46 am »

Nunggu rating
Logged
kembali optimis/center]

RATNA_LANGIT

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: -3
  • Offline Offline
  • Posts: 10.193
  • hanya untuk bercanda
Re: BSP NEW THREAD (EDISI AGUSTUS)
« Reply #3 on: August 05, 2017, 10:55:25 am »

Lolss Rating dong
Logged
mau nambah smite banyak kayak irohhhh. caranya gampang..
bully sepuasnya sinetron tergatot nembrot..

meera_AR

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Online Online
  • Posts: 7.701
Re: BSP NEW THREAD (EDISI AGUSTUS)
« Reply #4 on: August 05, 2017, 11:00:17 am »

anak langit turun ratingnya kesedot cahaya hati
cahaya hati di tonton gue naik ratingnya lol
« Last Edit: August 05, 2017, 11:00:58 am by meera_AR »
Logged

liliputkecil

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10.137
  • Ciiieeee... Ciiieee
Re: BERITA SEPUTAR PERTELEVISIAN (AGUSTUS) 2017
« Reply #5 on: August 05, 2017, 11:02:29 am »

Share tv mana? 
Apdet dong
Logged
[smitten]

nikito

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: -14
  • Offline Offline
  • Posts: 17.569
  • GET OUT
    • Yuk Intip Trit Ini :)
Re: BERITA SEPUTAR PERTELEVISIAN (AGUSTUS) 2017
« Reply #6 on: August 05, 2017, 11:08:15 am »


Yg pasti sctv dibawah ndozz
Pertanyaanya apakah mnctv naik posisi 3
Ungguli ndozz n sctv?
Logged
BREAK SEASON.. SEE YOU SOON.. :)
        SOFA MERAH NIKITO  All About Nikito's Life & Love   http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=171075.1260

kunangkunang

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Online Online
  • Posts: 8.624
Re: BERITA SEPUTAR PERTELEVISIAN (AGUSTUS) 2017
« Reply #7 on: August 05, 2017, 11:21:16 am »

pak otis blom pamer?
Logged

Incesss

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Online Online
  • Posts: 141
Re: BERITA SEPUTAR PERTELEVISIAN (AGUSTUS) 2017
« Reply #8 on: August 05, 2017, 11:25:59 am »

pak otis blom pamer?
kalo pun no 1 bakal di pamerin kali sabar
Logged

golanbator

  • Tomodachi
  • ****
  • Keong: -1
  • Offline Offline
  • Posts: 4.979
Re: BERITA SEPUTAR PERTELEVISIAN (AGUSTUS) 2017
« Reply #9 on: August 05, 2017, 11:32:25 am »

Apa Kyaaknya nyungseep amat pedih gara2 kutukan cut anandhi

tpii kok skaraang menular yaa ke Pak Erick thohir bikin posteer di IGnyaa

skarang bikin poster pemain2 mahal bola Intermilan yg baruu dibeli ama poster bawa piala juaraa stelaah ngalahin klub juara liga inggris ama jerman Chelsea-bayern munich
Logged
Pages: [1] 2 3 4 5 ... 101   Go Up