;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1]   Go Down

Author Topic: Kisah Legenda Batu Menangis  (Read 262 times)

masreza01

  • Kelasi
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1
Kisah Legenda Batu Menangis
« on: September 18, 2017, 02:39:33 pm »

Di sebuah gunung yang jauh berasal dari desa, di daerah Kalimantan hiduplah seseorang janda miskin dan seorang anak gadisnya.

Seorang gadis janda itu terlalu cantik jelita. Namun sayang, beliau mempunyai tingkah laku yang sangat buruk. Gadis diapun terlampau pemalas, tak dulu menolong ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya cuma bersolek setiap hari. <a href="https://sumbercenel.com/paket-umroh/">Travel umroh</a>.

Selain pemalas, seorang gadis itu beliau sikapnya manja sekali. Segala permintaannya kudu dituruti. Setiap kali beliau menghendaki sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan kondisi ibunya yang miskin, tiap tiap hari perlu membanting tulang mencari sesuap nasi.

Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu terlampau jauh, supaya mereka mesti terjadi kaki yang memadai melelahkan. Anggota gadis itu terjadi melenggang dengan kenakan baju yang bagus dan bersolek supaya seseorang dijalan yang melihatnya nanti dapat mengagumi kecantikannya. Waktu itu ibunya terjadi dibelakang sambil membawa keranjang dengan baju sangat dekil. Karena dia hidup dibagian terkecil, tak orang memahami bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.

Apabila beliau menjadi memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu takjub menyaksikan kecantikan seorang gadis itu, lebih-lebih semua pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang muka gadis itu. Jika kala lihat seseorang yang berjalan di belakang anggota gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal ini membawa dampak orang bertanya-tanya.

Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mencapai dan bertanya kepada gadis itu, “Hai, seorang gadis cantik. Jika yang terjadi di belakang itu ibumu?”
Namun, apa jawaban anak gadis itu ?
“Bukan,” katanya dengan angkuh. “Ia adalah pembantuku !”
Kedua ibu dan anak itu lantas meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan menanyakan kepada anak gadis itu.
“Hai, manis. apabila yang berlangsung dibelakangmu itu ibumu?”
“Bukan, bukan,” jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. ” dia adalah budakk!”
Begitulah tiap tiap gadis itu bertemu dengan seseorang di sepanjang jalan yang menanyakan tentang ibunya, senantiasa jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.

Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih sanggup menghambat diri. Namun sesudah berulang kali didengarnya jawabannya serupa dan yang terlalu menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak mampu menahan diri. Si ibu berdoa.

“Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia….”
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu beralih menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah raih 1/2 badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.

” Oh, Ibu..Ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu sepanjang ini. Ibu…Ibu…ampunilah anakmu..” Anak gadis itu tetap meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, seutuhnya sudah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah jadi batu. Sekalipun jadi batu, tetapi orang mampu melihat bahwa ke-2 matanya tetap menitikkan air mata, seperti tengah menangis. Oleh dikarenakan itu, batu yang berasal berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut ” Batu Menangis “.

Demikianlah cerita bersifat legenda ini, yang oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa kisah itu terlalu dulu terjadi. Barang siapa yang mendurhakai ibu kandung yang sudah melahirkan dan membesarkannya, tentu perbuatan laknatnya itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Logged
Pages: [1]   Go Up