;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1]   Go Down

Author Topic: Hoi mau yoba buat novel  (Read 773 times)

Juharizzz

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 37
  • Juharizzz
    • asaljadah.blogspot.com
Hoi mau yoba buat novel
« on: January 19, 2012, 10:01:37 AM »

Black sword
   Bab 1 : Perang dan Bidadari

   Sebuah desa dia berada. Melihat hamparan bunga. Cinta yang datang bersama dengan mentari menyebak mendung dilangit. Disana anak itu merangkai mimpi menjadi angan yang terlupakan.
   Perang besar masih berkecamuk. Pertahanan semakin menipis. Awan hitam datang dengan pedang terhunus satu demi satu dari kami gugur sebagai pecundang. Tak ada kehormatan dalam perang ini. Beberapa lari dari perang. Pedang yang beradu, awan hitam terlihat memudar.
   Penyerangan serasa telah dimenangkan semuanya bergembira. Pedang kembali ke sarungnya. Kami tidak menyangka banyak mata buasa mengintai. Dan di balik gunung awan hitam bergerak. Prajurit semua tertidur menikmati kemengangan semu. Penyerangan tanpa tanda telah membuat kami terjaga. Sampai seorang prajurit mati sebelum menghunus pedangnya. Dia terpana, tapi berapa lama aku dapat terpana? Dia hunus kan pedang dan berlari ketengah musuh.
   Dua hari berlalu. Para monster dan hewan buas itu berlari menerobos pekatnya malam. Dia lihat para prajurit bersorak. Tanpa tahu keadaan. Baju besi masih terpasang di tubuhnya. Penyerangan tidak bisa di tebak. Tak disangka datang seorang utusan mengabarkan bahwa musuh ingin menurun kan senjata. Kejadian yang janggal. Akhirnya dia mengangkat pedang untuk mencari kebenaran.
   Sampai lah di tepi bukit. Bukit yang memisahkan mereka dengan neraka. Sejauh mata memandang hanya hitam. Dengan hiasan kilauan baja. Inikah janji itu? Dia sadar keadaan tidak mungkin untuk manusia damai. Terdengar suara kaki dibelakang satu anak panah merobek baju besinya. Dia roboh.
   Entah berapa lama ketidak sadarannya. Ketika dia membuka mata yang terlihat hanya suram. Tiba-tiba masuk seseorang yang memakai jubah. Dia melepaskan jubahnya, maka tampak lah seorang gadis jelita. Dia bukakan ikatan lalu memberi isyarat agar mengikutinya. Dia serahkan pedang dan baju besi. Mereka  ambil kuda dan pergi sejauh mungkin.
   Rasa penasaran membuat mayor menanyakan siapa gadis, dia menjawab
   “ Namaku Amelia dari mora, penyihir yang mengerahkan para monster”
Pedang langsung terayun ke leher gadis itu. Dan mungkin akan mengakhiri hidupnya.    Akan tetapi badan pemuda itu terasa dirantai. Tidak bergerak, dia terjatuh dari atas kuda. Amelia mendekatinya. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana tidak,  kalau dengan satu serangan saja ending dah.
   “ Maaf kan aku, aku hanya ingin menolong “ Ucap Amelia lirih. Pemuda itu membuka matanya. Menatap tajam kearah Amelia yang sudah ada di hadapanya.
   “[cluebat], apa kau pikir aku akan tertipu?” Teriak prajurit.
   “Sst” ucapnya sambil meletakkan jarinya di bibir prajurit itu.
   “Dengar, aku bukan keturunan asli. Aku adalah anak dari marco. Marco adalah jendral kalian bukan?” Lanjut Amelia.
   “ Bohong, tak mungkin”
   “ Tapi itu kenyataan dan aku ingin bertemu dengannya, ku mohon” pintanya. Lama prajurit terdiam.
   “Kumohon” wajahnya membuat iba.
   “Baik” jawaban itu akhirnya prajurit itu dapat menggerakkan tangannya.
   “Tapi ingat kau jangan macam-macam”
   “Baik komandan”
   “Jangan sok kenal denganku, ayo kita harus cepat” kata prajurit menaiki kudanya.

   Mata sang prajurit terbelalak. Ketika meliahat puing-puing yang hangus.
   “Dimana bentengmu?”Tanya Amelia, yang membuat dia marah.
   “Diam” Bentaknya. “ Ayo pergi”
Ketika mereka akan pergi dua monster menyerang. Sehingga mereka terjatuh dari kuda. Dua monster itu bias dilkalahkan. Tapi di kejauahan terlihat pemanah membidikkan panahnya kearah Amelia. Panah itu terlepas dari busurnya dan menimbulkan bunyi mendesis yang nyaring.
   Anak panah pertama telah bersarang. Di susul dengan dua lagi. Darah membasahi tanah. Amelia masih tergeletak di tanah. Tetapi darah itu bukan lah darahnya. Sang prajurit jatuh. Pandanganya mulai kabur. Disaat itu juga dia melihat tubuh gadis itu bercahaya. Sangat terang.
   Prajurit itu membuka matanya. Entah kenapa sudah dua kali panah bersarang di tubuhnya. Dia bangun dan melihat Amelia sedang duduk di dekat danau. Dia berdiri dan duduk didekatnya, kemudian menatap langit yang bertabur bintang.
   “Malam yang indah” Kata Amelia
   “Air danau ini berkilauan, dan apa itu?” Lanjutnya lagi. Lama sang prajurit diam. Amelia hanya menghela nafas.
   “Itu kunang-kunang”
   Gadis itu tersenyum dan merebahkan diri ke hamparan rumput. Prajurit hanya menatapnya.
   “Nama Kamu siapa?” Tanya Amelia
   “Alex” Jawab prajurit itu. Dan disambut senyuman dari Amelia.
   “Andai peperangan ini tidak terjadi” Perkataan Amelia sedikit membuat sang prajurit terkejut.
   “Karena itu aku disini berusaha untuk sebuah impian yang hilang ditelan kekejaman perang” Kata si prajurit dengan tersenyum. Amelia ikut tersenyum.
   Amelia mengalihkan pandangannya kelangit.
   “ Kalau impian itu tercapai apa yang kau lakukan?” Tanyanya
   “ Aku akan hidup damai, punya pekerjaan dan mendapatkan pendamping hidup” Jawab sang prajurit agak berlebihan.
   “Kamu?”
   “Rahasia” Jawab Amelia
   “Rahasia ya? Tapi aku juga gak peduli”
   “Marah nih?” katanya dengan nada bercanda
   Alex tidak memperdulikan kata-kata itu dia terus memandang danau. Tak berapa lama prajurit itu menyadari bahwa gadis disampingnya itu sudah tertidur. Lama dia memandangi wajah Amelia. Dia menyingkirkan rambut yang tadi menutupi wajah cantiknya.
=====================================================================
Ketika ufuk timur terlihat terang. Alex membasahi wajahnya dengan air. Terdengar suara dari tengah danau yang diselimuti dengan kabut tipis. Sesuatu mendekat, dia langsung menghunuskan pisaunya. Keluar lah seekor monster yang membawa kapak. Monster itu menyerang dengan ganasnya. Prajurit itu pun kewalahan dengan bersenjatakan pisau dia hanya bisa menghindar. Dalam satu serangan dia kapak onster tersebut menghentak tanah. Alex terjatuh. Ketika itu juga dia merasakan sebuah kekuatan. Dan hantaman monster telah datang.
   BUM. Dia membuka mata, monster itu telah hilang.
   “ Kau tidak apa-apa? Hei kau tidak apa-apa” Tanya Amelia meggoncang tubuh Alex.
   “ kau yang melakukanya?” Tanya Alex
   “ Emmm mungkin “
   “ Kenapa tidak dari tadi” Kata prajurit itu agak geram.
   “ Aku mengujimu” Kata Amelia.
   “ Lalu apa hasilnya? “
   Dia berjalan meninggal kan Alex dan berkata “ Tak terlalu bagus, kau lemah “
   “ He apa kau bilang? “ Tanya Alex sambil mengejar Amelia.
   “ Ah tidak, ayo makan bersama sarapanya sudah siap “
   Alex sangat kagum dengan Amelia, dia tidak menyangka gadis itu pintar memasak.
   “Bagaimana menurutmu?”
   “Lumayan, tapi cita rasanya kurang”
   “ Sok tau, tapi tetep saja kau makan dengan lahapnya?” Sindir Amelia
   “ Lapar, kepaksa lah” Kata Alex bekilah. Tapi Amelia terus tersenyum. Alex ikut tersenyum agak malu.
   “ Baik aku selesai, kita berangkat sebelum siang”
   “ya” jawabnya
   Mereka pun siap-siap untuk berangkat.    Tapi Alex menghadpi dilema. Ada persoalan yang meresahkannya. Apakah dia harus membawanya kebenteng. Sementara, hatinya masih menimpan amarah terhadap bangsa Amelia. Dan apa yang akan dia katakana kepada semuanya. Tidak, dia tidak bisa. Ada perasaan lain yang menghalanginya untuk melepaskanya, mungkin kah itu cinta?
   “Aku sudah siap” kata Amelia menepuk bahu Alex
   “ Kau melamun, ada yang di pikirkan? “ Tanyanya
   “ Tidak “ Aku hanya memikirkan jalur yang aman.
   Ingin prajurit itu mengatakan isi hatinya tapi dia takut menimbulkan rasa enggan di hatinya. Ya, dia menetapkan untuk membawa gadis itu walau ke ujung dunia. Dan melawan semua manusia. Cinta memang gila bung.
   “ Oi berdiri aja” Teriak Amelia melambaikan tangan.
   
Bersambung di Black sword bag 2 n tlong komennya pleaseeee????

   
      





   
« Last Edit: January 26, 2012, 09:14:26 AM by Juharizzz »
Logged
From// (Juharizz) "Pejuang Bellato"

Kunjungi http://asaljadah.blogspot.com/

Gnuga

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 7
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #1 on: September 27, 2012, 06:21:41 PM »

Ane bingung bacanya... Ane mumed... BRB mumed dulu ya... mudah2an ada yang bisa menjelaskan kemumedan ane ini kenapa.
Logged

Luna_TR

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1144
    • http://novelku.com
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #2 on: September 30, 2012, 06:46:35 AM »

JELEEKK!!!
Kalo gak bisa nulis jangan dipaksain deh...
Logged

Juharizzz

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 37
  • Juharizzz
    • asaljadah.blogspot.com
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #3 on: October 02, 2012, 08:32:25 PM »

tq komenya entar saya coba nulis lg.. ehehe [gunsmilie]
Logged
From// (Juharizz) "Pejuang Bellato"

Kunjungi http://asaljadah.blogspot.com/

akire

  • Forum Machi
  • ***
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 2606
  • bweee.....
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #4 on: December 22, 2012, 07:53:51 AM »

Paragraf pertama, nggak ngerti :D baru ngeh pas baca paragraf 2.

Kalimat ini:  Bagaimana tidak,  kalau dengan satu serangan saja ending dah >>> ini bentuk kalimatnya bikin 'rusak' suasana :D antara tulisan serius dan tulisan konyol, if you know what i mean :D
Logged

eglyan

  • Tomodachi
  • ****
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 4596
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #5 on: February 14, 2013, 03:01:16 PM »

semangat nulis, toh gak semua berhasil dan bagus dalam menulis,

banyak kok orang yg awalnya di tolak karyanya, tapi akhirnya di terima juga

semangat [thumbsup] [thumbsup]
Logged

Juharizzz

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 37
  • Juharizzz
    • asaljadah.blogspot.com
Re: Hoi mau yoba buat novel
« Reply #6 on: February 25, 2013, 10:05:06 PM »

 
KONSPIRASI
Kisah ini terjadi sebelum penyerangan tiga bangsa terhadap kita, jauh sebelum jatuhnya beberapa planet yang kita rebut dari herodian ketangan tiga bangsa ini. Setelah keluarnya bangsa bertopeng dari perhimpunan, mereka dengan angkuhnya menolak untuk berkerja sama dalam memelihara kedamaian alam semesta. Setelah itu angkatan tempur kita berhasil menemukan planet yang bisa di tempati, dengan keadaan alam yang sangat keras.
Planet yang dinamakan dengan bumi kedua ini mempunyai besar tiga kali planet bumi. Akhirnya militer menjadikan planet itu sebagai camp latihan, beberapa orang sipil juga mencoba bermukim disana. Beribu-ribu tentara di berangkatkan dengan membawa peralatan-peralatan mekanik yang nanti akan digunakan membuat senjata. Mari kita tinggalkan cerita planet ini, planet yang akan menjadi saksi perjuangan sebuah bangsa yang berusaha untuk bertahan dari gempuran tiga bangsa yang kuat.
Ini adalah cerita pertemuan pemimpin tiga bangsa, dibawah sebuah pohon yang rindang di suatu dataran yang penuh dengan runput. Pohon yang rindang dengan suara desiran daun-daunya. Mereka duduk bersandar di pohon, terlihat ketiga pemimpin ini duduk dengan pemikiranya masing-masing. Terlihat mata kedua pemimpin kosong, menatap langit kemudian menatap pengawal-pengawal mereka.
   Seakan mereka akan terpisah untuk selamanya, si pemimpin kurcaci menatap pengawalnya yang lagi membenarkan senjatanya. Dia beberapa kali memberi pengarahan yang dibalas dengan senyum lucu dari sang pengawal. Yah dapat ditebak hubungan mereka, dia juga melihat tangan yang dibalut oleh perban. Si pengawal semakin senang, pemimpin kurcaci hanya tersenyum getir, dia hanya mengisyaratkan untuk diam.
Sementara pemimpin elf, yang ehm, sexy itu terlihat menikmati hembusan angin dengan lamunanya. Wajahnya yang cantik dan badannya yang wow itu, menjadi pusat perhatian waktu ketiganya berkunjung ketentaraan kita. Siapa yang tidak tertarik coba? Waktu ditanya sudah punya kekasih dia menjawab belum, ditanya lagi sama yang lain mau gak punya kekasih, dia jawab hidupnya hanya buat Decem. Beruntung sekali tuh si Decem. Dia tidak sendiri datang ke pertemuan, dia bersama dengan penjaganya. Penjaganya terlihat santai padahal beberapa kali melihat kearah pemimpin robot dan beberapa prajuriitnya.
Pemimpin robot menatap kedepan dengan tatapan yang tajam, dia menatap prajuritnya yang terlihat aneh.
“Ada apa kamu?” tanyanya.
“Si siap tidak apa-apa” si prajurit terdengar terbata.
“Kamu harusnya memeriksakan dirimu secara rutin prajurit” Kata sang pemimpin.
Selang berapa lama mereka terdiam, pemimpin robot memulai pembicaraan. Dia masih dengan angkuhnya memulai pembicaraan. Dengan nada yang meremehkan dan sok memimpin.
“Ayo kita mulai pembicaraan ini, hai cora kau yang mengundangku. Ada apa?”
Si kurcaci hanya tersenyum sambil mencoba membetulkan letak scoope senjata “pengawalnya” sambil mencoba mengarahkan senjata itu kearah atas. Terdengar dia menyuruh untuk membersihkan laras senjata itu.
“Ehm apa ya tujuan ku kumpulin kalian?” Si sexy itu memulai pembicaraan sambil masih menatap langit. Dia sengaja menaikin tensi si robot dan itu berhasil.
“Kurang ajar, kau main-main cora?” Teriaknya sambil berdiri lima prajuritnya pun mulai bersiap dengan senjatanya. Pemimpin Elf hanya duduk dan menatap langit tapi pengawalnya sudah siap dengan senjata dan tongkkatnya.
“Oi kau panasan sekali, kita sudah tidak seperti dulu lagi. Ini bukan jaman dimana kita saling hebat-hebatan, kukira itu bisa di pahami oleh bangsa kalian. Bahwa semakin lama dia hidup maka sikapnya harus semakin dewasa. Lagi pula sejak masuk ke persatuan kita sudah bahu membahu satu samalainnya dalam perang melawan herodian. Bahkan ras kami sudah saling bercampur” Kata pemimpin kurcaci dengan tenangnya.
“Nah disitu lah masalahnya” Kata pemimpin elf, terlihat matanya menyiratkan sesuatu.
Kedua pemimpin terdiam dan menunggu kata-kata dari pemimpin elf. Tapi pemimpin elf menatap si robot dan memberi isyarat dengan anggukan yang sangat lembut. Si robot akhrinya kembali duduk dengan angkuhnya.
“Kami para elf sangat anti darah keturunan kami bercampur dengan mahkluk lain. Rakyatku yang masih menganut paham itu sangat terganggu dengan itu dan mendesak mengadakan rapat besar tentang itu.” Kata si pemimpin elf yang agak menatap langit.
“Kalian tahu apa hasil rapatnya? Jamaban mereka hampir semuanya menyatakan anti pencampuran ras dengan bangsa lain” Katanya lagi.
“Terus? Kamu setuju?” Tanya si kurcaci dengan santainya.
“Apa daya? Kami harus menuruti pendapat yang paling banyak, dan sudah di putuskan baahwa kami akan mengadakan pembatasan bangsa” Memainkan jari-jarinya sendiri.
“Jadi kalian akan meninggalkan persatuan seperti yang dilakukan oleh bangsa bertopeng itu? Haha bagus, pergi sana keplanetmu” Kata si Robot.
“Siapa bilang? Kami hanya melarang terjadinya interaksi yang berlebihan dengan bangsa lain” Kata si cantik.
“Akan susah, pertama kalau itu kamu lakukan di planetmu sendiri mungkin bisa, tapi kalau mau kamu lakukan di novus atau bumi itu tidak mungkin dilakukan dan memang benar pencampuran terjadi didua planet ini. Kalian tahu sendiri dua planet ini saat perang merupakan dua buah pusat kekuatan kita, bumi sebagai pusat pemerintahan sedangkan novus sebagaii pusat kemiliteran.” Kata pemimpin kurcaci.
“Apa bangsa bellato tidak takut hilangnya keaslian ras kalian, akibat percampuran ras?” Tanya pemimpin elf.
“Ada, tapi kami belum sempat mengadakan pertemuan.” Raut wajahnya mulai menunjukan perbedaan.
“Aku mau Tanya kepada cora, apakah pertemuan itu dilakukan di planet anda?” Tanya robot. Dan dibenarkan oleh pemimpin bangsa elf itu. “Berarti dapat disimpulkan itu adalah pendapat yang sebelah saja, menurut penelitian kami kalian memiliki keterikatan dan keterikatan yang paling kuat adalah keluarga. Seseorang dapat melakukan apa saja demi keluarganya, mungkin kah yang memiliki keluarga seorang peranakan mau setuju dengan pendapat itu?” lanjutnya.
Ucapan itu langsung disambut dengan tepuk tangan dari pemimpin elf dan acungan jempol dari si kurcaci. Mereka berdua tertawa, dan seolah mereka mengejek si robot.
“Tapi itu juga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan, mereka yang mempunyai keluarga pasti tidak setuju, dan jika dilakukan tindakan keras pasti dia akan melawan. Tidak mungkin kita melakukan itu akan terlalu mencolok dan jika itu terjadi maka semua pasti bilang tidak bertanggung jawab atas semua itu.” Kata kurcaci mulai serius setelah di todong dengan kapak oleh pemimpin robot.
“Masalah tidak sampai disana saja, seperti yang tadi dibilang dua pilar kekuatan adalah bumi dan novus, di tempat ini lah terjadi percampuran ras. Jika di novus kemungkinan kita dapat melakukan pembatasan dengan cara mengasingkan keluarga yang mempunyai percampuran ras, tapi tidak untuk bumi. Seperti yang kita tahu bumi tidak terlalu mempermasalahkan percampuran ras. Jika kita melakukan pengasingan, masyarakat yang menyetujui percampuran ras akan meninggalkan novus dan berpindah ke planet bumi atau planet colonial dari manusia” Kata si kurcaci lagi.
“Aku sudah mendengar tentang planet itu, dan kami bangsa accretia tertarik dengan beberapa planet itu da” Kata-kata si robot di potong oleh pemimpin elf.
“Hem ada apa nih di planet itu?”Kata pemimpin elf.
Mereka diam beberapa saat,dan mulai lagi pembicaraan “hangat” mereka. Pemimpin kurcaci memulai dengan pendapatnya yang sangat teoritis itu lagi.
“Persaatuan akan pecah jika kita melakukan pembatasan, karena bukan hanya cora bellato yang terjadi percampuran ras tapi juga dengan human, sedangkan human pasti akan melakukan tindakan terhadap siapapun yang mengganggu mereka. Apa kita harus mengundang pemimpin mereka untuk merundingkan hal ini?”
“Saya rasa itu tidak perlu, berunding dengan mereka pasti tidak akan mendapatkan keputusan yang cepat, dan pasti mereka tidak semuanya akan menrima. Bangsa kami yang dipimpin berdasarkan dengan kepercayaan yang kuat terhadap dewa saja masih ada pro kontra, apa lagi mereka yang lebih bebas” Kata si sexy yang di setujui oleh kurcaci.
“Yah ketentaraan human jadi masalah lagi, seperti yang kita lihat waktu didalam perang. Ketentaraan mereka hampir bisa menandingi kita semua, tentara mereka juga mempunyai semangat tempur yang tinggi. Sementara dapat kita lihat sendiri kita tiga bangsa masih terasa perbedaan. Jika bergerak satu-satu sama saja kita mengantar nyawa.” Kata kurcaci.
“Ada beberapa hal yang salah dari ucapan kau,, pertama accretia tidak takut mati, kedua kita bisa menyatukan tiga bangsa ini. Dengan cara “musuh dari musuhku adalah temanku”.” Kata si robot yang di sambut dengan olok-olok dua pemimpin kurcaci dan elf seperti tadi.
“Tidak kusangka kau seperti itu hahahahaha” Kata si kurcaci dan di sambut dengan tertawa si elf.
“ Jadi, kalian setuju dengan bangsa kami?” Tanya si elf.
“ Yah mau bagaimana lagi?” Kata Kurcaci enteng.
“Asalkan planet yang sekarang mereka kuasai jadi milik kami. Usul bisa aku terima” Jawab robot.
“Enak aja, planet yang mereka kuasai sudah hampir tiga planet layak huni dan dua planet yang tidak layak huni dan semuanya itu mememiliki sumber daya alam yang berlimpah. Kamu mau makan gaji buta sendirian? “ Sindir si kurcaci.
“ Kalian tidak tertarik lagi dengan planet ini? “ Tanya si elf tersenyum
“ Bagaimana mengatakanya ya? Novus sudah terlalu ramai dengan kalian semua lagi pula pertambangan di novus sudah banyak berkurang. Menurut penelitian tambang itu akan habis dalam beberapa puluh tahun lagi. “ Kata si kurcaci.
“ Jadi tertarik nih pada lima planet itu.” Kata si elf dengan gaya manjanya.
“ Tidak, semua itu akan menjadi milik kekaisaran accretia, dibawah kibarab bendera accretia yang agung. Kami setuju berperang dengan kalian asalkan semuanya menjadi milik kami.” Dia dengan angkuhnya robot itu mengahantamkan tangannya ketanah.
“ Ok, ok masalah itu kita bicarakan nanti sekarang setuju tidak kaamu ikut berperang “ Tanya si kurcaci, dan dianggap dengan anggukan angkuh si robot.
“Tapi informasi tidak boleh bocor “ Kata elf melirik ke semua yang hadir disana.
Mereka saling diam, dan saling meliirik penjaga mereka. Desiran angin yang meniup dedaaunan terdengar jelas. Robot sombong itu seolah memberikan perintah dengan bahasa yang mereka miliki. Pemimpin elf  tampak tersenyum licik, sangat kontras dengan kesan pertama yang dia tunjukan.
“Serang cora!” teriak sang pemimpin robot itu.
Serempak mereka menyerang membabi buta terhadap bangsa elf,  serangan ini membuat bangsa elf seperti tersambar petir. Mereka mencoba untuk melawan tapi terlihat mereka tidak bisa mengeluarkan sihir mereka. Seolah ada yang menahan kekuatan kebanggaan bangsa elf itu keluar. Tembakan senjata pemusnah yang sering di sebut launcher itu menghantam keras dada dan mengoyak-ngoyak. Dari kepulan asap beberapa pengguna pedang bangsa elf masih bertahan dengan baju besi yang hancur berantakan dan maju merengsek kedepan. Beberapa unit robot ambruk, dan jatuh.
“ Ada apa ini? Kenapa jadi begini? “ Teriak salah seorang dari mereka.
“ Ini adalah kehendak Decem, kalian akan adalah orang yang pertama kali gugur untuk mempertahankan bangsa yang di kasihi olehnya. Kalian akan menjadi pembuka jalan untuknya melenyapkan masalah. Seperti halnya waktu dia memberi kita jalan dari kemusnahan oleh herodian. Kalian orang pertama yang gugur demi decem dalam perang menghancurkan human” Kata si pemimpin elf yang tentu sangat tajam. Dasar mak lampir.
Tanpa bisa membalas apa kata-kata dari pemimpin mereka dua pisau milik manusia sudah menembus mereka. Sementara itu pemimpin kurcaci menyuruh untuk  anak buaahnya melawannya. Terlihat wajah-wajah pengawalnya terperangah, tidak percaya dan rasa sangat marah. Mereka geram, marah tetapi mereka juga merasa berat. Terliihat sekali keloyalan mereka. Bagaimanakah dengan pengawal cantik si pemimpin tadi, dia hanya terdiam dan memnggenggam senjata yang baru saja diperbaiki oleh pemimpinya. Sang pemimpin tersenyum dan mengisi peluru snjatanya dan menembakan ke atas kemudian mengarakan kepada salah satu pengawalnya. Senjata itu meletus dan membuyarkan lamunan mereka.
Para pengawal itu langsung menyerang tanpa ampun kearah pemimpinya. Tapi si pemimpin kurcaci menghindar dengan mudahnya, peluru-peluru yang keluar dari moncong senapan terlihat seperti ketakutan untuk menyentuh tubuh si kurcaci. Sebaliknya peluru-peluru mendarat dengan mulus di kepala-kepala setiap pengawalnya. Pengawal cantik yang tersayang terlihat gugup dan mencoba melarikan diri. Tapi terlihat benda besar melayang kearahnya.
Dan pasti menyakitkan, terlihat kapak besar membelah punggungnya. Kapak itu terlihat hampir membelah tubuh kecil itu. Darah berhamburan dari tubuh yang langsung ambruk ke tanah. Wajahnya menyiratkan ketidak puasan ketidak relaan dengan semua yang terjadi. Mata yang tadi berbinar setelah di berikan senjata yang telah diperbaiki oleh pemimpin tercinta. Kini hanya menatap kosong senjata itu yang terpisah dengannya. Tangan yang mungil  mencoba untuk meraih kembali senjata itu. Kembali terdengar suara tembakan yang mengakhiri semua kajadian itu.
Ketiga pemimpin bangsa itu bergantian meninggalkan tempat itu, sisa-sisa pertempuran dibiarkan begitu saja. Mereka senjata-senjata yang dan tubuh-ttubuh masih bergelimpangan, pohon itu menjadi saksi bisu. Pemimpin kurcaci masih berdiri beberapa lama menatap tubuh yang sudah hampir terbelah dua. Dia agak tersenyum getir, dan berkata agak serak.
“ Aku sudah memperingatkan jangan ikut, cukup tunggu aku saja dan jadilah perempuan yang menurut. Kamu malah memaksa untuk ikut kesini, hhh. Pengorbananmu tidak akan ku sia-siakan. “
Ditangannya masih menggenggam pistol syalnya melambai-lambai. Dia menaiki robotnya dan menaatap mayat itu lagi dan menutup kokpit dan pergi. Tempat itu kembali tenang dan hanya desiran daun pohon yang terdengar.
“Oi Gatot mau sampaai kapan lu disitu?” Kata prajurit yang menyandang baju robot.
Aku hanya tersenyum dan berhenti memperhatikan scope ku dan membereskan SR-PB 2 ku tersayang dan menyandangnya. Kaptenku dan beberapa temanku mengumpulkan data suara yang berasal dari sabotase salah satu unit robot tadi. Aku menatap langit, terlihat indah dengan warna birunya dan beberapa planet yang terlihat dekat dengannya, berbeda dengan bumi. Yah kami bukan lah bangsa yang dapat ditaklukan dengan mudah. Pada saatnya nanti langit biru yang indah ini akan dihiasi dengan pesawat kami yang mengakhiri kolonialisme tiga bangsa di planet ini.
“ Kalau dilihat dari capatnya keputusan yang diambil ada yang aneh dah, masa secepat itu ya gak?” Kata temanku saat perjalanan pulang.
“Mungkin benar kata mereka tadi, bangsa kita memang lamban dalam mengambil keputusan, atau mungkin sudah ada perundingan seperti itu sebelumnya.” Kataku agak bercanda.
“Mungkin, eh bagaimana jika memang terjadi perang? Apa yang akan kamu lakukan?” kata temanku lagi.
“ Cepat-cepat menikah mungkin”

The End
Logged
From// (Juharizz) "Pejuang Bellato"

Kunjungi http://asaljadah.blogspot.com/
Pages: [1]   Go Up