;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1]   Go Down

Author Topic: AllAboutAtjeh  (Read 2234 times)

Keizo_aditya

  • Penjaga Pantai
  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 15.564
  • 🇰🇷
AllAboutAtjeh
« on: April 01, 2012, 01:50:02 pm »

Menikmati Sunset di Pantai Syiah Kuala



Aceh.Info - Banda Aceh memang
menyimpan pesona yang patut diancungi
jempol. Begitu banyak obyek wisata alam
yang indah dan sangat menawan hati para
wisatawan, baik lokal maupun
mancanegara.
Salah satunya adalah pantai Syiah Kuala,
yang terletak di Gampong Deah Raya,
Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh
Panorama pantai yang indah dan juga
pasir dan ombaknya yang tenang,
merupakan daya tarik tersendiri.
Dan yang lebih menarik dan meyenangkan
adalah saat kita menikmati detik-detik
berpulannya mentari keperaduan.
Jarak bukan merupakan penghalang bagi
para wisatawan untuk datang ke pantai
Syiah Kuala, demi menikmati indahnya
sunset di Pantai sambil menunggu waktu
berbuka Puasa
Jarak Pantai Syiah Kuala tidak terlalu jauh
dari Pusat Kota Banda Aceh, hanya sekitar
20 menit perjalanan saja. Jadi, jika Anda
ingin berkunjung ke Pulau Banda Aceh,
jangan lewatkan nikmatin indahnya sunset
di Pantai Syiah Kuala.
Ditepi Pantai terdapat Makam ulama besar
Aceh, Syiah Kuala, yang bernama asli
Syiekh Abdurrauf bin Ali Al-Fansuri,kini
menjadi obyek wisata spiritual. Syiah Kuala
merupakan salah seorang ulama Aceh
yang berjasa dalam penyebaran agama
Islam di Aceh pada 1001 Hijriah atau 1591
Masehi. Ia meninggal malam Senin, 23
Syawal 1106 H atau 1696 M dalam usia
105 tahun.
Pada saat tsunami Desember 2004,
makam Syiah kuala dengan izin Allah SWT
selamat dari bencana
tersebut.Pascatsunami semakin banyak
peziarah yang datang ke makam tersebut,
mereka tidak hanya berasal dari Banda
Aceh, namun juga dari kota-kota lain di
Aceh, bahkan sampai dari Mancanegara.
Syiah Kuala juga diabadikan menjadi nama
perguruan tinggi negeri di Banda Aceh,
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).
Dari berbagai sumber.
« Last Edit: April 01, 2012, 01:56:55 pm by Keizo_aditya »
Logged

Keizo_aditya

  • Penjaga Pantai
  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 15.564
  • 🇰🇷
Re: AllAboutAtjeh
« Reply #1 on: April 01, 2012, 02:13:49 pm »

Kapal di Atas Rumah, Objek Wisata di Lampulo



BANDA ACEH, KOMPAS.com – Gampong
Lampulo di Kecamatan Kuta Alam, Kota
Banda Aceh, menjadi desa wisata.
Masyarakat setempat menyatakan
kesiapan mereka untuk menjadikan
kawasan tersebut desa wisata.
"Selain kesiapan masyarakatnya, Gampong
Lampulo juga memiliki sejumlah objek
wisata layak jual," kata Geuchik (kepala
desa) Lampulo Alta Zaini di Banda Aceh,Salah satu objek wisata yang paling
terkenal di Lampulo adalah kapal di atas
rumah. Objek wisata itu merupakan saksi
bisu sejarah bencana alam gempa dan
tsunami 26 Desember 2004.
"Kapal kayu nelayan itu terdampar di atas
rumah warga usai tsunami menerjang.
Lebih 100 wisatawan dalam dan luar
negeri berkunjung ke kapal di atas rumah
tersebut setiap harinya," katanya.
Selain itu, katanya, ada juga objek lainnya,
seperti wisata pancing, kampung nelayan,
dan sejumlah industri rumah tangga yang
mendukung sektor pariwisata.
Ia mengatakan, wisatawan yang
berkunjung ke Lampulo bisa mendapatkan
beragam produk khas Aceh hasil industri
rumah tangga para korban tsunami.
"Ikan kayu khas Aceh maupun produk
perikanan lainnya hingga bordir Aceh bisa
menjadi suvenir wisatawan. Semuanya
produksi masyarakat Lampulo," katanya.
Sementara, Kepala Biro Humas Asosiasi
Profesional Pariwisata Indonesia (ASPPI)
Aceh Akmal A menyatakan, Gampong
Lampulo memiliki potensi pariwisata
menjanjikan.
Menurutnya, di Lampulo ada objek wisata
laut dan sungai yang bisa dikembangkan.
Apalagi letak geografisnya berdekatan
dengan muara Krueng Aceh, sungai yang
membelah Kota Banda Aceh.
"Industri kerajinan masyarakatnya bisa
dikemas agar mampu mendukung sektor
pariwisata. Apalagi di Lampulo didukung
adanya hotel yang cukup representatif,"
demikian Akmal.
Logged

Keizo_aditya

  • Penjaga Pantai
  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 15.564
  • 🇰🇷
Re: AllAboutAtjeh
« Reply #2 on: April 01, 2012, 02:21:23 pm »

Rasakan Sensasi Tsunami di Museum Ini



INGIN mengetahui atau merasakan
bagaimana dahsyatnya gempa dan
tsunami melanda pesisir Samudera Hindia
26 Desember 2004 lalu? Datang saja ke
museum tsunami Aceh. Museum terletak
di Banda Aceh ini menyajikan sensasi
gempa dan tsunami bagi pengunjung.
Museum yang dirancang dengan judul
‘Rumoh Aceh’ as Escape Hill ini terdiri dari
tiga, merupakan satu-satunya meseum
tsunami di dunia. Museum ini dibangun
tak hanya untuk mengenang bencana
tsunami yang menewaskan lebih 200 ribu
jiwa di Aceh, tetapi juga sebagai media
pembelajaran.
Jika Anda berkunjung pastikan bisa
menjelajahi semua lantainya, karena tiap
lantai itu memiliki keunikan tersendiri.
Lantai dasar merupakan lokasi untuk
mengenang peristiwa tsunami Aceh. Jalan
masuk ke sini namanya “lorong tsunami”,
lebarnya hanya sekira 2 meter, dindingnya
hitam menjulang tinggi dan berair. Lorong
ini gelap, hanya diterangi remang lampu di
bawah lantai serta diringi sayup suara
lantunan ayat suci Al quran.
Lorong tsunami tembus ke ruang
Memorial Hall. Di sini Anda bisa melihat
langsung rangkaian peristiwa tsunami Aceh
melalui gambar-gambar digital. Suasana di
dalam ruang ini hanya diterangi cahaya
remang yang sengaja didesain untuk
menggugah hati pengunjung.
Selepas Memorial Hall ada Sumur Doa,
tempat untuk mengirimkan doa kepada
para korban tsunami. Lebih 100 ribu nama
korban meninggal dalam tsunami Aceh
bisa Anda lihat di dinding sumur berwarna
gelap ini. Anda bisa memperhatikan satu
per satu nama korban dalam sayup
lantunan ayat suci Al quran dalam sumur
yang atasnya mengerucut dan terdapat
tulisan Allah yang berpadu cahaya indah.
Berada di dasar sumur ini seolah kita
terasa kecil dalam kekuasaan Tuhan.
Dari lantai dasar, Anda bisa langsung
menuju lantai 2 melalui Lorong
Kebingungan yang berkelok dan naik ke
jembatan. Di atas jembatan ini Anda bisa
melihat hamparan kolam cantik di lantai
satu yang dihiasi prasasti berupa batu
bulat yang bertuliskan Negara-negara yang
membantu Aceh saat tsunami menerjang.
Di atap meseum nama Negara-negara
tersebut juga terpampang lengkap dengan
benderanya.
Pada lantai dua ini, terdapat beberapa
ruangan yang berisi rekaman peristiwa
tsunami 2004. Disamping gambar-gambar,
lantai ini juga di isi berbagai ornament dan
artefak-artefak jejak tsunami. Lantai ini
juga terdapat ruang audiovisual untuk
pemutaran film gempa dan tsunami Aceh.
Inilah lantai terakhir meseum tsunami.
Ruang di lantai atas ini khusus untuk media
pembelajaran bagi pengunjung tentang
gempa dan tsunami. Di sini terdapat
perpustakaan serta panel dan alat peraga.
Anda bisa melihat langsung miniatur
bangunan-bangunan tahan gempa. Jika
Anda ingin merasakan bagaimana
goncangan gempa 8,9 skala richter seperti
yang pernah melanda Aceh akhir 2004
silam, tinggal masuk saja ke ruang simulasi
gempa. Yang unik, di sini juga terdapat
ruang media 4 dimensi. Anda bisa
menikmati pembalajaran menarik dengan
media 4 D ini di ruang tersebut.
Museum tsunami tak hanya di desain
sebagai tempat pembelajaran sekaligus
menyimpan sejarah tsunami Aceh.
Bangunan yang di desain dengan
perpaduan konsep bukit menyelamatkan
diri, analogi amuk tsunami, tari saman,
cahaya Allah serta taman terbuka
berkonsep masyarakat urban ini juga bisa
digunakan sebagai tempat menyelamatkan
diri saat tsunami, karena atapnya
merupakan ruang terbuka yang luas
memang di rancang khusus.
(uky)
Logged

Keizo_aditya

  • Penjaga Pantai
  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 15.564
  • 🇰🇷
Re: AllAboutAtjeh
« Reply #3 on: April 01, 2012, 02:25:13 pm »

Pulau Rubiah, Surga Bawah Laut di Aceh



PERMATAN Nusantara yang berharga,
salah satunya terdapat di wilayah kota
Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu
Pulau Rubiah yang bersebelahan dengan
Pulau Weh. Keindahan alam bawah laut
dan wisata bahari yang masih terjaga
kealamiannya menjadi daya pikat pulau ini.
Bentuknya yang menyerupai akuarium
raksasa membuat Pulau Rubiah dikenal
sebagai surganya taman laut. Beragam
jenis ikan tropis yang ada dalam bawah
lautnya antara lain gigantic clams, angel
fish, school of parrot fish, lion fish, sea
fish, dan masih banyak yang lainnya.
Sekumpulan terumbu karang dan kerang
raksasa juga melengkapi keindahan taman
laut pulau Rubiah. Terumbu karangnya
sendiri terbagi menjadi beraneka jenis,
bentuk serta warna hingga membentuk
gugusan karang yang cantik.
Pulau Rubiah bisa ditempuh melalui jalur
darat atau perairan menggunakan perahu
nelayan yang bisa anda sewa dari warga
setempat. Bisa juga dengan speedboat atau
kapal yang dilengkapi dengan kaca
sehingga anda bisa melihat keindahan isi
laut kawasan Pulau Rubiah.
Harga sewa perahu berkisar antara Rp
250.000 – Rp 300.000. Ongkos sewa
akan menjadi lebih ringan bila pergi
berkelompok. Masing-masing perahu
mampu mengangkut 10 orang
penumpang.
Tak hanya menjadi tujuan wisata, pulau
Rubiah juga dimanfaatkan sebagai tempat
penelitian Biota laut seperti terumbu
karang dan ikan karang. Jika anda
melakukan snorkeling maka tempat-
tempat penelitian tersebut bisa anda
jumpai. Misalnya daerah Transpalantasi
Karang yang telah dilakukan oleh beberapa
lembaga. (acehpedia.org/*/X-13)
Logged

Keizo_aditya

  • Penjaga Pantai
  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 15.564
  • 🇰🇷
Re: AllAboutAtjeh
« Reply #4 on: April 03, 2012, 08:58:25 am »

Rasa Khas Ie Bu Peudah



TEMPO Interaktif, Banda Aceh - Azan
salat asar belum berkumandang saat lima
pemuda sibuk mengolah bahan dan
memasak di dapur khusus meunasah
(surau) di Desa Bueng Bak Jok, Kecamatan
Kutabaro, Aceh Besar, pekan lalu. Api terus
menyala pada tungku dengan belanga
besar berdiameter sekitar 1 meter dan
kedalaman setengahnya.
Masakan mulai mendidih. Safrizal, 32
tahun, mengaduk tanpa henti bergantian
dengan dua rekannya. Ada Rahmat, 28
tahun, yang menjaga api senantiasa
menyala dengan kayu bakar. Satu rekan
lainnya memasukkan air ke belanga agar
bubur tak kekurangan air karena
menguap. "Mengaduk harus terus
dilakukan agar tidak berkerak," kata
Safrizal.
Mereka sedang menyiapkan menu khusus
berbuka puasa, yakni ie bu peudah (air
nasi yang pedas), sejenis bubur mirip kanji
rumbi dan berwarna cokelat muda. Bubur
yang memerlukan waktu memasak sekitar
tiga jam itu adalah masakan khas berbuka
yang telah ada sejak lama selama bulan
Ramadan.
"Sejak saya masih kecil, ini sudah ada dan
telah menjadi tradisi," ujar Utoh Hasan, 78
tahun, seorang warga. Menurut Hasan,
masakan ini telah ada sejak masa awal
Islam masuk ke Aceh, sekitar abad XII
Masehi. Kala itu, banyak orang India
bermukim di Aceh. Saat itulah mereka
meramu ie bu peudah untuk berbuka
puasa bersama.
Bahan utama masakan bubur peudah itu
beras. Sebagian kecil berasnya ditumbuk
bersama kunyit dan lada. Sebagian lagi
dimasukkan begitu saja ke masakan. Saban
hari, kata Safrizal, pihaknya memasak
delapan sampai 10 kilogram beras untuk
persiapan berbuka puasa warga kampung
itu.
Bahan lainnya adalah kelapa parut yang
dimasukkan ke campuran masakan.
Kemudian ada ragam dedaunan yang
dipercaya menambah nikmat bubur
peudah itu. "Dulunya, kata orang tua, ada
44 macam dedaunan yang dimasukkan ke
masakan, sekarang agak sulit mencarinya,
jadi beberapa saja," ujar Safrizal.
Dia tak mengingat persis nama dedaunan
itu, hanya disebutkan beberapa seperti
daun thaher, daun saga merah, dan daun
salam. Dedaunan yang sebagian
didapatkan dari hutan itu digiling dan telah
dipersiapkan sebelumnya menjelang
ramadhan tiba.
Rasa ie bu peudah hampir sama seperti
bubur kanji rumbi atau bubur ayam. Tapi
ada yang khas, rasa pedasnya. Ramuan
dedauanan yang bercampur jahe, kunyit,
dan lada dapat membuat orang yang
mencicipinya segar dan bertenaga. Jika
masuk angin, bubur peudah juga dapat
menjadi obat.
Dua jam menjelang buka puasa, tempat
masak itu mulai diserbu oleh anak-anak
dan orang dewasa. Mereka membawa
wadah untuk mengambil bubur peudah
untuk menu berbuka di rumah.
Sebagiannya untuk menu berbuka di
meunasah.
Logged

Keizo_aditya

  • Penjaga Pantai
  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 15.564
  • 🇰🇷
Re: AllAboutAtjeh
« Reply #5 on: April 03, 2012, 09:13:26 am »

Kesejukan Batin di Pantai Gapang



MENYAMBANGI kota paling barat
Indonesia belum nikmat rasa tanpa
menyambangi pantai yang satu ini yang
bernama Pantai gapang. Pantai tersebut
merupakan salah satu pantai yang terdapat
di Pulau Weh atau Pulau Sabang. Kawasan
pantai gapang merupakan salah satu
pilihan para penjelajah dunia.
Apabila setelah anda merapat di Pelabuhan
Balohan, saatnya anda berjalan ke bagian
barat pulau sekitar 1 jam perjalanan.
disana merupakan destinasi yang wajib
Anda kunjungi saat bertandang ke Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam.
Ingin merasakan pesona pantai gapang
harus bermodal waktu liburan yang cukup
lama, karena Pantai Gapang adalah tujuan
sempurna merasakan kenikmatan berlibur
di tepi paling barat Indonesia.
Menurut cerita masyarakat sekitar
mengapa pantai yang indah ini dinamakan
Gapang, ternyata terkait dengan
menjulangnya pohon-pohon yang berdiri
tepat di tepi pantai yang bersih yang nama
pohon Gapang.
Disana anda mempunyai dua Pilihan,
menyinari diri dengan kehangatan
matahari setelah berjam-jam
mencemplung di air laut bersuhu nyaman.
Sedangkan pilihan kedua adalah tidur
santai di bawah teduhnya Pohon Gapang
sambil mengenyahkan pikiran tentang
pekerjaan sehari-hari. Bagi para
backpackers, di sinilah waktu seakan telah
berhenti berputar untuk mereka.
Di sepanjang pantai, puluhan resort
penyelaman dan rumah tumpangan
berdiri membentuk perkampungan yang
tidak pernah dilupakan pengunjungnya.
Tidak hanya itu, para backpacker dan
penyelam dunia mengguratkannya dalam
jurnal perjalanannya mereka di dunia
maya.
Ketika itu pula, ratusan bahkan ribuan
backpacker lainnya yang belum sempat
menapakkan kaki telanjangnya di pasir
Pantai Gapang membaca jurnal tersebut
dan menyimpannya di agenda perjalanan
mereka berikutnya.
Memandang jauh ke lepas pantai yang
biru, kopi aceh serasa menjadi penenang
kerisauan yang biasanya muncul di siang
hari saat bekerja. Pemandangannya
sungguh menyejukkan batin.
Tak dapat dibandingkan dengan kawasan
backpackers lainnya yang berada di sekitar
segitiga backpacker rendez vous, Pantai
Gapang menjanjikan keheningan tak
berbanding yang tidak didapatkan di
Phuket, Langkawi, atau Penang.
Backpackers terus memuja Pantai Gapang
dan selalu menjadikannya destinasi favorit
Logged

Keizo_aditya

  • Penjaga Pantai
  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 15.564
  • 🇰🇷
Re: AllAboutAtjeh
« Reply #6 on: April 03, 2012, 09:31:46 am »

TARI SAMAN



Tari Saman adalah tari rakyat yang berkembang pada masyarakat suku Gayo, yakni salah satu etnis yang terdapat di propinsi Aceh. Etnis Gayo mendiami
beberapa daerah, seperti kabupaten Aceh
Tenggara, khususnya daerah Blangkejeren,
yang lazim disebut Gayo Lues, Kabupaten
Aceh Timur, khusus kecamatan Lokop,
yang lazim disebut Gayo Lut, akan tetapi
tari Saman lebih merakyat dan
berkembang di kabupaten Aceh Tenggara,
pada etnis Gayo Lues di Blang Kejeren.
Tari Saman dapat digolongkan kedalam
jenis tari hiburan, untuk merayakan suatu
upacara yang bersifat keramaian. Biasanya
tari Saman diadakan pada acara Maulid
Nabi Besar SAW, perayaan Hari Raya Idul
Fitri (Halal Bihalal), Hari Raya Idul Adha
dan perayaan pesta perkawinan, Sunatan
Rosul, atau penambalan nama anak,
menyambut tamu kenegaraan, pejabat
daerah, Menteri, bahkan Presiden.
Selain perayaan diatas, sering juga tari
Saman di pertunjukan pada saat selepas
panen padi, sebagai ungkapan
kegembiaraan pada saat hasil panen
berlimpah, sesuai dengan harapan
penduduk desa, maka desa tersebut akan
mengundang group dari desa atau
kampung lain untuk menari Saman
bersama-sama. Dalam perjalanan
kemudian tari saman terus berkembang
dan di kenang orang terbukti misalnya ada
beberapa kelompok tari saman dari aceh
tengah dan bener meriah di undang pada
event-event internasional dan ini
merupakan asset aceh khususnya dalam
bidang seni budaya untuk trus
dipertahankan dan dikembangkan tidak
hanya diwilayah di kabupaten asal tari
saman itu sendiri tapi juga wilayah aceh
lainnya untuk menunjukkan keragaman
multikultur khasanan budaya serta
memperkokoh jati diri bangsa Indonesia.
Pemerintah Aceh sendiri dalam hal ini
telah mendaftarkan Tari Saman ini ke
UNESCO dengan N0 Seri 00001 sebagai
World Heritage.
« Last Edit: April 03, 2012, 09:33:59 am by Keizo_aditya »
Logged

Keizo_aditya

  • Penjaga Pantai
  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 15.564
  • 🇰🇷
Re: AllAboutAtjeh
« Reply #7 on: April 03, 2012, 10:07:14 am »



LIMA GENERASI PEMILIH PEMULA
RAMAIKAN PEMILUKADA ACEH 2012
.
Seorang warga pelajar memasukkan kertas
suara kedalam kota suara saat pencoblosan
pada acara sosialisasi bagi pemilih pemula
di halaman kantor walikota Lhokseumawe,
Provinsi Aceh. Sabtu (31/3).
Sosialisasi tata cara pencoblosan Pemilihan
Kepala Daerah (Pemilukada) itu dilakukan
untuk memberi pengetahuan cara
pencoblosan yang benar guna mencapai
suara yang sah bagi pemilih pemula
menghadapi hari pencoblosan pada 9 April
mendatang.
Sedikitnya ada lima generasi pemilih
pemula yang akan meramaikan TPS-TPS di
Provinsi Aceh dalam Pemilukada 2012 ini,
yaitu anak muda kelahiran mulai tahun
1990 hingga 1995 yang pada Pemilukada
2006 lalu mereka belum cukup usia untuk
dapat memilih. []
Logged

Keizo_aditya

  • Penjaga Pantai
  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 15.564
  • 🇰🇷
Re: AllAboutAtjeh
« Reply #8 on: April 03, 2012, 10:32:29 am »

Saksi Bisu Armada Teror Dunia di Museum
Aceh




SEBUAH simbol persahabatan Aceh dan
China sejak ratusan tahun silam bisa dijumpai di pintu masuk Museum negeri Aceh di Banda
Aceh.
Lonceng Cakra Donya adalah bukti jejak
kedatangan bangsa Tionghoa di Nusantara
adalah saksi bisu kuatnya armada militer
Kerjaan Aceh Darussalam di masa jayanya.
Lonceng raksasa ini menjadi salah satu
yang menarik untuk dikunjungi wisatawan
jika bertandang ke bumi Serambi Mekkah.
Selain bentuknya yang unik, dibalik
mahkota besi ini juga menyimpan sejarah
panjang.
Lonceng Cakra Donya berbentuk stupa
dibuat pada 1409 M. Tingginya mencapai
125 cm, lebar 75 cm. Di bagian luar
terukir hiasan dan tulisan Arab juga China.
Tulisan Arab sudah kabur dimakan usia,
sedangkan aksara China tertulis Sing Fang
Niat Tong Juut Kat Yat Tjo yang diartikan
“Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam
bulan 12 dari tahun ke 5.”
Lonceng ini merupakan hadiah dari Kaisar
Yongle yang berkuasa di Tiongkok sekira
abad ke 15 kepada Kerajaan Samudera
Pasai. Lonceng dibawa ke Aceh oleh
Laksamana Cheng Ho sekira 1414 M,
sebagai symbol persahabatan kedua
negara.
Selain pusat Kerjaaan Islam di Nusantara,
Pasai kala itu dikenal sebagai kota
pelabuhan yang maju dan terbuka. Banyak
pedagang-pedagang dari Timur Tengah
dan Gujarat India berbisnis di sana serta
menyebarkan Islam. Pasai juga
mengekspor rempah-rempah ke berbagai
Negara, salah satunya China.
Kerjaan Pasai berpusat di Kecamatan
Samudera, kota Lhokseumawe sekarang.
Sayang kejayaan Pasai kini hanya bisa
didapat dalam catatan-catatan sejarah.
Pasai ditaklukkan Kerajaan Aceh
Darussalam yang dipimpin Sultan Ali
Mughayatsyah pada 1542 M, lonceng dari
Tiongkok ini pun dijadikan milik Kerajaan
Aceh.
Ketika Sultan Iskandar Muda memimpin
(1607-1636) yang merupakan puncak
kejayaan Kerajaan Aceh, lonceng ini
digantung di kapal perang induk milik
Kerjaan yang bernama Cakra Donya. Nama
itulah akhirnya ditabalkan pada lonceng.
Aceh kala itu menjadi salah satu Kerjaan
Islam terkuat di dunia dengan armada
perang yang disegani. Kekuasaannya
meliputi sebagian besar Sumatera dan
semenanjung Malaka (Malaysia).
Ketika melawan Portugis yang ingin
merebut Malaka, lonceng Cakra Donya
menjadi alat penabuh aba-aba bagi
pasukan perang di dalam kapal. Portugis
yang kagum dengan kekuatan Cakra Donya
menyebut armada tersebut dengan
Espanto del Mundo yang artinya “Teror
Dunia.”
Dari kapal perang, lonceng Cakra Donya
berpindah tempat ke depan Masjid Raya
Baiturrahman, Banda Aceh. Masjid ini
masuk dalam komplek Istana Raja Aceh
kala itu. Lonceng dibunyikan apabila
penghuni Istana harus berkumpul untuk
mendengar pengumuman Sultan.
Pada 1915, lonceng Cakra Donya dipindah
ke Meseum Negeri Aceh dan bertahan di
sana sampai sekarang. Digantung dengan
rantai di bawah kubah, lonceng Cakra
Donya kini menjadi saksi bisu
persahabatan dan perang.
Logged

Keizo_aditya

  • Penjaga Pantai
  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 15.564
  • 🇰🇷
Re: AllAboutAtjeh
« Reply #9 on: April 22, 2012, 09:54:13 am »

 [hammer]spam,,, lock ajalah [ranting]
Logged
Pages: [1]   Go Up