;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1] 2   Go Down

Author Topic: H TANZIL - Lanang,dll  (Read 6171 times)

Pembaca Novel lanang

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10
H TANZIL - Lanang,dll
« on: August 13, 2008, 05:32:49 pm »

Novel yang menuai kritik dan pujian

oleh:
H Tanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com/2008/08/lanang.html

Lanang
Judul : Lanang
Penulis : Yonathan Rahardjo
Editor : A. Fathoni
Penerbit : Pustaka Alvabet
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : 414 hlm


Sebenarnya agak terlambat untuk membicarakan novel Lanang – Yonathan Rahardjo, pemenang harapan II novel DKJ 2006. Novel yang terbit sejak Mei 2008 ini telah banyak menuai komentar, ada yang memuji dan ada juga yang mengkritiknya. Ketika novel ini dibahas di TIM pada bulan Juli yang lalu, novel ini didiskusikan dengan sangat kritis oleh para pengamat dan pelaku sastra nasional.

Arpesiasi atas novel ini ternyata tak berhenti di ruang-ruang diskusi sastra, kritikan, pujian, dan beraneka tanggapan dari berbagai kalangan terus berseliweran di ruang cyber, baik di milis-milis sastra, maupun blog-blog yang membahas buku ini. Kini semua komentar, diskusi, essai, dan makalah yang membahas novel ini telah dikumpulkan oleh penulisnya dalam sebuah blog yang diberi nama http://novellanang.co.cc

Novel ini diawali dengan deskripsi suasana pedesaan ketika dokter hewan Lanang tengah menolong kelahiran seekor anak sapi perahan. Proses kelahiran anak sapi ini berlangsung dengan lancar dan disambut gembira oleh si empunya sapi. Pulangnya, saat lanang memadu kasih dengan istrinya, mucullah sosok mengerikan dari dalam tanah. Bentuknya menyerupai babi, namun memiliki sayap dan bisa terbang. Belum lagi Lanang sadar dari rasa kagetnya, burung babi hutan yang memporak porandakan rumahnya itu terbang dan lenyap entah kemana.

Kemunculan burung babi hutan itu ternyata diikuti oleh kematian mendadak sapi-sapi perah di desa tempat lanang bekerja, bagai wabah ganas, kematian itu menyebar hingga ke seantero nusantara. Para ahli ternak mulai mencari penyebab wabah kematian sapi-sapi perah itu, namun penyakit aneh yang menyertai kematian para sapi perah tak bisa diidentifikasi secara ilmiah hingga seorang dukun hewan memastikan bahwa burung babi hutan yang pernah mendatangi lananglah penyebab wabah tersebut.

Lanang terobesesi untuk mencari tahu apa sebenarnya mahluk tersebut. Berbagai usaha dilakukannya hingga akhirnya berkat kegemarannya mengumpulkan cairan tubuh dari para wanita yang dikencaninya, ia berhasil merumuskan sebuah cara ilmiah plus mistis guna menghadirkan sosok burung babi hutan. Usahanya tersebut berhasil, burung babi hutan berhasil ditembaknya hingga tewas. Bersamaan dengan tewasnya mahluk tersebut lenyap juga wabah penyakit yang melanda para sapi perahan

Lanang pun menjadi pahlawan. Namun ini bukan akhir dari kisah Lanang, tewasnya burung babi hutan belum menjawab apa dan darimana mahluk tersebut berasal. Peran Lanang sebagai pahlawan pemberantas wabah penyakit hewan tiba-tiba dipertanyakan dan digugat dalam sebuah seminar Kehewanan Nasional. Selain itu rumah tangga Lanang pun diguncang prahara. Kehidupan Lanang berada dalam titik terendahnya. Secara intelektual dan emosional ia dihancurkan oleh sebuah konspirasi tingkat tinggi yang justru dilakukan oleh kolega-koleganya sendiri.

Sanggupkah Lanang bertahan, darimana dan apakakah sebenarnya burung babi hutan itu muncul? Layaknya sebuah novel misteri, semua misteri dan berbagai kejutan tak terduga akan tersaji di lembar-lembar terakhir novel ini.

Novel dengan keragaman tema

Novel yang dibuat oleh seorang dokter hewan sekaligus pecinta dan pelaku sastra ini memiliki keragaman tema. Ada soal cinta, seks, kemunfaikan, psikologis, dan isu-isu sosial yang menyangkut lingkungan kesehatan hewan dan bioteknologi.

Secara psikologis karakter dalam tokoh-tokoh novel ini bisa dibilang menarik. Pada awalnya kita akan disuguhkan karakter Lanang sebagai dokter hewan yang berdedikasi, mencintai istrinya dan tampak taat menjalankan ritual agamanya. Namun Lanang bukanlah tokoh yang sempurna, sedikit demi sedikit kebusukan dan perilakunya yang aneh dan rapuh akan terungkap. Demikian juga dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Putri, istrinya, Dewi, teman seprofesinya, dan Rajikun di dukun hewan yang kontroversial.

Konflik kejiwaan dan karakter tokoh-tokohnya ditampilkan secara mendalam sehingga membangun novel ini menjadi sebuah novel psikologis yang mengungkap sisi malaikat dan sisi iblis pada tiap manusia.

Tema lain yang menonjol dalam novel ini adalah mengenai lingkungan dunia kesehatan hewan. Tampaknya penulis menumpahkan semua pengetahuan akademisnya dan wawasan lingkungannya sebagai seorang dokter hewan pada novel ini. Seluk beluk mengenai dunia kesehatan hewan dieksplorasi dengan baik termasuk intik-intrik didalamnya dan berbagai konspirasi dalam dunia kesehatan.

Dan yang paling menarik adalah tema rekayasa genetika. Akan terungkap bagaimana penggunaan zat-zat transgenik dalam pengolaan pakan hewan bagaikan pisau bermata dua, di satu pihak dapat memacu produktivitas hewan namun sekaligus bisa berdampak menimpulkan penyakit baru. Ironisnya, hal ini ternyata disengaja agar produsen obat penangkalnya bisa memasarkan produknya dengan maksimal.

Dan hal yang lebih ekstrim lagi adalah akibat rekayasa genetika yang dicobakan pada hewan-hewan yang ada disekeliling kita. Misalnya bagaimana seekor monyet yang diberi gen ubur-bur akan membuat monyet tersebut berpendar dalam gelap, seekor babi yang memilik sayap setelah diberi gen seekor burung, atau pemberian gen manusia pada sapi perah agar dapat menghasilkan susu lebih banyak dan kandungan susu yang dihasilkan menjadi sama dengan ASI ! Semua itu akan terungkap dengan jelas pada novel ini.

Alur cerita

Novel yang ditulis dengan bahasa yang ‘nyastra’ ini memiliki alur kisah yang tak terlalu cepat, kalimat-kalimat yang puitik dalam mendeskripsikan sesuatu tampaknya turut membuat alur kisahnya berada dalam kecepatan yang sedang-sedang saja.

Ketika membaca novel ini, pembaca akan diajak bagaikan menaiki sebuah roler coaster. Perlahan tapi pasti pembaca dibawa menaiki puncak ketegangan dari novel ini. Klimaksnya adalah dengan tertembaknya burung babi hutan ditangan dokter lanang.

Uniknya hal ini terdapat di pertengahan novel ini. Tentunya pembaca akan bertanya-tanya, kalau begitu kisah apa lagi yang akan ditemui di sisa halaman selanjutnya? Yang pasti setelah itu situasi kembali mengendur sesaat, emosi pembaca akan diajak kembali menanjak menuju klimaks berikutnya yang berakhir di lembar-lembar terakhir novel ini.

Novel ini juga menyisipkan berbagai teka-teki dan misteri sehingga walau tak memiliki alur kisah yang cepat, hal ini dapat mengikat pembacanya untuk terus betah melahap novel ini hingga selesai guna mencari jawab semua teka-teki dan misteri yang terdapat dalam novel ini.

Novel yang menuai kritik dan pujian

Seperti telah diungkap diatas, novel ini ternyata menuai beragam tanggapan, baik yang positif maupun negatif. Yang memuji, umumnya mengacungkan jempol pada penulisnya karena keberaniannya menghadirkan tema mengenai rekayasa genetik, seluk beluk peternakan, dll yang merupakan wilayah yang jarang dibicarakan di sastra Indonesia.

Yang mengkritik, menyorot soal terlalu banyaknya deskripsi-deskripsi puitik yang mengganggu alur cerita, beberapa kejadian yang tidak masuk akal, hingga struktur kalimatnya yang dianggap berantakan.

Terlepas dari berbagai kritik atas novel ini, saya pribadi bisa menikmati novel ini hingga tuntas, bahkan banyak mendapat pencerahan melalui dialog-dialog seputar kesehatan hewan, bioteknologi, rekayasa genetik, kritik sosial, hingga intrik-intrik politik dunia kesehatan tanah air yang mungkin merupakan cermin apa yang sesungguhnya terjadi di dunia kedokteran hewan dan peternakan di tanah air.

Dibalik pencerahan yang saya dapat memang ada beberapa hal yang mengganggu seperti beberapa puisi yang menurut saya mengganggu alur kisahnya, terutama di bagian ketika Lanang menumpahkan kekesalannya pada kolega-koleganya melalui kalimat-kalimat puisi sebanyak hampir 3 halaman ! Saya terpaksa melompati bagian ini karena sama sekali tak bisa menikmati puisi tersebut.

Sedangkan untuk peristiwa yang menurut saya ganjil adalah ketika Lanang digempur oleh rekan-rekannya dalam seminar Kehewanan Nasional. Umpatan-umpatan dan tuduhan yang ditujukan pada Lanang tampak terlalu berlebihan dan emosional sehingga tidak mencerminkan suasana sebuah seminar nasional yang dihadiri oleh ahli2 dokter hewan dari luar negeri.

Kehadiran sosok burung babi hutan sendiri saya rasa terlalu mengada-ngada dan agak sulit bagi saya untuk menghadirkan sosok tersebut dalam benak saya. Saya rasa dengan tema, pesan, dan muatan yang sama tak perlulah penulis menghadirkan sosok mahluk aneh dan terkesan mistis. Jika saja burung babi hutan digantikan dengan sejenis virus, seperti virus flu burung yang hingga kini masih menjadi momok di negara kita, pasti novel ini akan lebih membumi dan bermanfaat karena ada kesempatan bagi penulisnya untuk mengemukakan hal-hal baru mengenai virus ini.

Selain itu usaha ketika lanang akhirnya memperoleh suatu rumusan yang mencampuradukkan unsur bioteknologi, mistis, dan religi untuk memanggil burung babi hutan saya rasa terlalu berlebihan dan diluar nalar saya yang awam dengan kajian bioteknologi.

Nah, dibalik semua kelebihan dan kekurangannya tersebut, novel yang telah hadir dan menyemarakkan jagad sastra kita ini setidaknya memiliki nilai-nilai baik. Seperti yang ditulis oleh koran tempo, novel ini telah mengangkat satu isu yang sangat aktual, yaitu mengenai teknologi transgenik yang masih diwarnai perdebatan sampai sekarang, Selain itu terungkap pula tarik menarik antara kedokteran modern dangan pengobatan alternatif, hubungan suami istri, serta isu lingkungan.

@h_tanzil
« Last Edit: September 16, 2009, 03:37:46 pm by Ies-tea »
Logged

Pembaca Novel lanang

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10
Re: LANANG: Novel yang menuai kritik dan pujian
« Reply #1 on: August 14, 2008, 03:49:32 pm »

http://alvabet.co.id/a/index.php?page=shop.product_details&flypage=shop.flypage&product_id=51&category_id=4&manufacturer_id=0&option=com_virtuemart&Itemid=42



L A N A N G
(Pemenang Sayembara Novel DKJ 2006)

Yonathan Rahardjo


SINOPSIS:

Doktor Dewi seorang antek korporasi asing. Berkepentingan memasok produk rekayasa genetika dari luar negeri, dia ciptakanlah hewan transgenik penyebar virus penyakit, Burung Babi Hutan. Sejak kemunculan makhluk aneh ini, area peternakan sapi perah tempat Lanang bekerja tiba-tiba terserang penyakit gaib. Ribuan sapi mati. Warga pun gempar.

Bersama pemerintah dan masyarakat, Lanang, dokter hewan yang cerdas, obsesif, dan melankolis, sibuk mencari tahu sebab kematian sapi perah. Seminar dan penelitian dilakukan, tapi penyakit misterius tak kunjung ketemu. Usaha ilmiah pun menemui jalan buntu. Lalu, mengemukalah isu dari seorang dukun hewan bahwa biang keladi kematian sapi adalah Burung Babi Hutan, makhluk jadi-jadian. Polemik mistikisme tradisional versus bioteknologi modern pun menambah ruwet persoalan. Akankah proyek Doktor Dewi berjalan mulus?

Ditulis dalam gaya thriller, plot cerita novel ini sungguh menegangkan. Karakter tokoh-tokohnya pun rumit dan penuh intrik. Dengan pendekatan konspirasi, karya ini menjadi bacaan kritis bagi yang tertarik pada isu-isu sosial, psikologi, bioteknologi, dan politik kesehatan.


KUTIPAN PUJIAN:

”Membaca novel ini, saya segera merasakan kemiripannya dengan kesusastraan Eropa abad ke-20, misalnya novel Prancis Plague (Penyakit Pes) karya Albert Camus atau karya-karya Géza Csáth dalam kesusastraan Hungaria: kita harus menghadapi kehadiran simbolik, mistik, rasional, dan irasional secara bersamaan. Sebagai ”pemula” dalam kesusastraan Indonesia, saya membandingkannya dengan Harimau–Harimau karya Mochtar Lubis. Musikalitas dan plastisitas deskripsi dalam novel ini luar biasa, seperti skenario film!”
—Mihaly Illes, Duta Besar Hungaria untuk Indonesia

“Yonathan seperti Taufiq Ismail yang juga dokter hewan, sama dengan Asrul Sani idem ditto dokter hewan. Ditarik lebih jauh ke masa lampau, Marah Rusli, pengarang roman Siti Nurbaya, pun dokter hewan. Saya pikir, tentu ada sesuatu yang “spesial” dengan dokter hewan. Bisa bersajak, bisa mengarang.
... Saya pikir, Yonathan ini wong edan, gendheng, gilo-gilo baso, sifat yang melahirkan kreativitas, orisinalitas. Kukirim sajakku padamu Yonathan. Bunyinya: Katakan beta/manatah batas/antara gila/dengan waras.”
—Rosihan Anwar, Tabloid Cek & Ricek

“Kekuatan utama novel ini terletak pada wawasan baru yang mewarnainya. Rumit tapi…. Sangat menarik.”
—Ahmad Tohari, novelis

“Novel yang kaya dan dalam, menampilkan berbagai wajah dan genre yang beberapa di antaranya belum dirambah pengarang Indonesia lain: sains, thriller, sosial, psikologi.”
—Prof. Dr. Apsanti Djokosujatno, Guru Besar Sastra Universitas Indonesia

”Ada beberapa dokter hewan yang terjun dan bergelut di dunia sastra. Tetapi, agaknya, hanya (Dokter Hewan) Yonathan Rahardjo yang coba memperkaya sastra Indonesia dengan rekayasa genetika sebagai bagian dari pengucapan literernya melalui novel Lanang."
—Martin Aleida, wartawan Tempo 1971-1984

“Penyair yang dokter hewan ini dikenal dengan puisi-puisi kontekstual dan sosialnya. Kritik-kritiknya tajam, kendati dibalut dengan bahasa yang telanjang.”
—Kompas

"Lanang adalah perpaduan mengejutkan antara eksperimen biologi mutakhir dengan alam spiritual tradisional. Kerumitan alur cerita, keterampilan bahasa, dan kompleksitas psikologi yang ditampilkannya adalah tawaran gelagat baru yang menakjubkan dalam denyut sastra Indonesia mutakhir."
—Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan

“Jalinan cerita dan tokohnya memang buah imajinasi, tapi latar belakang teknologi dan konspirasi global (yang jadi setting ceritanya) boleh jadi mendekati kenyataan. Gabungan fiksi dan kenyataan yang membuat masyarakat perlu berpikir ulang ihwal teknologi!”
—Hira Jhamtani, pengamat kehidupan, Gianyar, Bali

“Cara bercerita dalam novel Lanang memperkaya khazanah susastra Indonesia, sebuah cara penceritaan yang baru, rinci, telaten, merayap, namun arahnya pasti dan penuh kejutan.
Penceritaan hal-hal sensitif, yang menjadi kontroversi berbagai pihak dalam konteks sastra dan moralitas sastra Indonesia, mampu disampaikan secara terbuka dan terus terang namun tidak blak-blakan dan vulgar, dikemas dalam kata dan kalimat indah khas susastra, dengan tetap menjaga dan mempertahankan greget suasana dan makna.
Konflik kejiwaan dan karakter tokoh utama ditampilkan secara mendalam, menghadirkan konflik itu terasa nyata, dan memang sebetulnya mewakili kondisi kejiwaan dan spiritualitas manusia Indonesia pada umumnya dalam menghadapi masalah yang menyangkut kepentingan bangsa.”
—Ahmadun Yosi Herfanda, Redaktur Budaya Harian Republika

"Novel ini menggarap satu tema yang sangat menantang: rekayasa genetika. Sebuah tema yang memerlukan pengetahuan khusus dan kecakapan menulis yang lebih dari cukup. Dalam beberapa hal, sang pengarang telah memenuhinya. Selebihnya, biar sidang pembaca yang menilai."
—Zen Hae, penulis sastra, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta

“Yonathan Rahardjo, seorang dokter hewan lulusan Universitas Airlangga Surabaya, memilih berkecimpung di dunia tulis-menulis ketimbang berpraktek sebagai dokter hewan....
Dari semua tulisan yang dibuatnya, Yonathan menyadari dirinya cenderung menyukai tulisan-tulisan yang mengungkap rasa, yaitu tulisan sastra, bukan berita ilmiah ataupun laporan, tapi bahasa indah yang di dalamnya ada prosa dan puisi, yang punya benang merah dengan apa yang ia lakukan waktu kecil.”
—Bisnis Indonesia

”Novel (Dokter Hewan) Lanang mengangkat kisah kemanusiaan dokter hewan dan seluk-beluknya secara rinci, gamblang dan imajinatif dalam menyelidiki misteri kematian hewan dalam jumlah besar, yang memengaruhi hajat hidup masyarakat dan bangsa.
Jatuh bangunnya Drh. Lanang dalam menyelidiki kasus penyakit penyebab kematian hewan itu merupakan cermin apa yang sesungguhnya terjadi di bidang kedokteran hewan dan peternakan di tanah air, dengan menggunakan dasar ilmiah dan dikembangkan sebagai fiksi dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.
Novel yang patut menjadi bacaan “wajib” bagi kalangan kedokteran hewan dan peternakan serta peminat seni sastra pada umumnya. Penyajiannya sangat inspiratif dan menjadi jembatan emas antara dunia ilmiah kedokteran hewan dan dunia kemanusiaan (humaniora).”
—Prof. Drh. Charles Ranggatabbu, MSc, PhD, pakar Kedokteran Hewan, Guru Besar dan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada Jogjakarta

“’Kita kembali pada karya sastra saja,’ ujar Yonathan Rahardjo, salah satu pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta. Karyanya adalah salah satu di antara pilihan juri yang mencengangkan publik sastra karena realisme hampir nampak dalam karya para pemenang ini.”
—Sihar Ramses Simatupang, Sinar Harapan

“Yonathan Rahardjo selama ini mencermati berbagai tema kehidupan, seperti kehidupan politik yang bobrok, porak porandanya lingkungan, dan berbagai kenyataan sosial lainnya. Semua itu dicurahkannya….”
—Warta Kota

“Sebuah roman yang akan membawa kita meruntuhkan blokade terhadap orang lain sebagai impersonalitas menuju sesuatu yang personal dengan menciptakan ruang intim. Orang lain hadir dengan berbagai “cara memahami” sebagai warisan budaya dalam menetapkan berbagai definisi berikut batas-batas kategori dan klasifikasi yang kaku. Roman ini mendobrak batas-batas itu dan menjadikan semua tokoh ceritanya sebagai cermin yang dalam untuk menjenguk diri kita sebagai manusia dengan kecemasan, harapan, rasa sakit, dan cinta.”
—Wicaksono Adi, kritikus seni, Juara I Lomba Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2004



DATA BUKU:

Judul : LANANG
Penulis : Yonathan Rahardjo
Kategori serial : AlvabetSastra
Editor : A. Fathoni
Cetakan : I, Mei 2008
Ukuran : 12,5 x 20 cm
Tebal : 440 halaman
ISBN : 978-979-3064-59-8
Harga : Rp. 55.000,-



==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id

   



« Last Edit: August 21, 2008, 12:16:53 pm by Pembaca Novel lanang »
Logged

jibril

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 9.080
Re: LANANG: Novel yang menuai kritik dan pujian
« Reply #2 on: August 20, 2008, 12:32:22 am »

 :D
Logged

Pembaca Novel lanang

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10
Re: LANANG: Novel yang menuai kritik dan pujian
« Reply #3 on: August 21, 2008, 12:13:26 pm »

http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/08/20/00472916/resensi.rindu.dendam.cinta.transgenik


Resensi: Rindu Dendam Cinta Transgenik
istimewa
Rabu, 20/8/2008 | 00:47 WIB

Oleh : ilenk rembulan

Judul Buku  : LANANG
Penulis  : YONATHAN RAHARDJO
Editor  : A. Fathoni
Cetakan : I, Mei 2008
Penerbit : PUSTAKA ALVABET
Harga  : Rp. 55.000,-
Tebal  : 440 halamanan

Novel Lanang pemenang harapan II Sayembara Novel DKJ tahun 2006 ini, menceritakan salah satunya adalah penelitian dan pembuatan pakan ternak yang dihasilkan dengan rekayasa genetika atau yang disebut transgenik. Tema yang menarik yang digarap pengarangnya yang seorang dokter hewan, dengan beragam istilah ilmiah pada bidangnya ini, menambah wawasan tentang apa sebenarnya hasil penemuan transgenik itu sebenarnya, yang sekarang sebagian telah menjadikan buah bibir masyarakat tidak saja peternak maupun petani namun juga orang awam.

Dimulai pada suatu malam, seorang dokter hewan bernama Lanang menolong persalinan induk sapi perah yang melahirkan di lembah pegunungan jauh dari keramaian kota, tempat bermukim puluhan peternak sapi perah.

Lahirnya anak sapi yang ternyata jantan tersebut disambut gembira peternak bernama Sukarya dengan harapan anak sapi tersebut menjadi besar dan bisa meneruskan membantu menopang kehidupan Sukarya sekeluarga.

Namun sayangnya kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama, karena kemudian anak sapi perah yang baru lahir tersebut kemudian terserang penyakit yang misterius dengan perut berbintik-bintik merah di depannya, giginya kotor, lidah biru, gusi busuk berbuih putih keruh, perutnya membesar dengan cepat kemudian pecah dengan isi yang terburai dengan dinding-dinding organ dalam terbelah kemudin muncul bisul merah, biru, hijau, hitam keruh.

Dokter hewan Lanang yang berkerja di koperasi susu di daerah pegunungan tersebut tempat para peternak menggantungkan kepercayaan bila sapi-sapi perahnya bermasalah menjadi kalut, bingung, geram dan hampir putus asa tidak dapat menjawab gerangan penyakit apa yang kemudian secara luas menyerang sapi-sapi perah milih peternak sapi perah. Anehnya hanya sapi perah yang diserang tidak dengan sapi potong, walaupun sama-sama jenisnya sapi tetapi antara sapi perah dan sapi potong berbeda variannya.

Bersamaan dengan kematian anak sapi pada waktu kelahirannya tersebut, pada malam setelah Lanang membantu persalinan, dia dikejutkan dengan datangnya makhluk aneh yang mirip burung tetapi bentuk tubuhnya seperti babi hutan yang masuk menyeruduk ke dalam rumahnya. Istri yang baru dinikahinya sempat shock dan menjerit ketakutan, setelah diusir sepertinya mahluk terebut cepat hilang dan tak berbekas.

Antara percaya dan tidak Dokter Lanang mencari tahu tentang penyakit tersebut dan apa hubungannya dengan kemunculan hewan yang dirasakan aneh. Antara ilusi dan kenyataan sepertinya tidak bisa terlepas di alam pikiran Lanang.

Penelusurannya tentang penyakit yang telah membuat heboh pemerintah dan para ahli dibuat pusing tentang penyebabnya, munculah seorang dukun hewan yang bernama Rajikun yang mengatakan bahwa penyakir tersebut disebabkan oleh burung babi hutan. Pada awalnya Lanang masih tidak berani untuk bercerita bahwa dia dengan mata kepala sendiri telah bertemu dengan makhluk tersebut yang dikiranya mahkluk jadi-jadian, namun dengan penjelasan dari Dukun Rajikun maka makin kuatnya tuduhan bahwa penyakit yang menyerah seluruh sapi perah sehingga mati tersebut adalah burung babi hutan yang menjadi hewan perantara penyebaran kuman.

Para ahli yang ditugasi untuk meneliti penyebab dari penyakit tersebut merasa terkalahkan hanya oleh seorang dukun hewan yang memaparkan penyebab kematian yang sebagian menyisakan tanda-tanya, seperti apakah bentuk burung babi hutan tersebut. Mereka mentertawakan cerita dukun tersebut karena cerita yang berbau klenik tidak dilandasi ilmiah sama sekali, namun tidak dengan Dokter Lanang yang pernah bertemu dengan makhluk. Apa yang dipaparkan oleh Rajikun tersebut membuat pencarian Lanang tidak terus berhenti, bahkan dia ingin menghabisi binatang tersebut apabila bertemu lagi, senapan dan pisau belati telah menjadi kawan akrabnya selama perjalanan pencarian  tersebut.

Dalam pencarian binatang tersebut dia mendapatkan telepon dari seorang dokter hewan juga bernama Doktor Dewi seorang ahli bioteknologi lulusan universitas luar negeri yang ternyata adalah bekas pacarnya dahulu semasa kuliah. Doktor Dewi ini bekerja pada sebuah Lembaga Penelitian milik asing yang memperoduksi hasil penemuan untuk meningkatkan produksi ternak dalam pakan ternak melalui pemakaian produksi transgenik.

Lanang tidak mengetahui apa yang telah dibuat oleh Dewi mantan pacarnya itu yang ternyata masih menyimpan cinta yang membara terhadap Lanang, begitu juga dengan Lanang walau sudah beristrikan Putri, ternyata cinta lama kembali bersemi ketika bertemu dengan Dewi.

Di lain pihak Rajikun ternyata bersengkokol dengan Doktor Dewi dan mempengaruhi Sukirno kepala koperasi tempat Dokter Lanang bernaung untuk kerjasama dalam penjualan pakan ternak yang dihasilkan oleh lembaga milik Dewi.

Dokter Lanang pada akhirnya dapat membunuh burung babi hutan tersebut, dan sampel darah dari binatang tersebut telah dikirim pada Pusat Penelitian di ibukota untuk bahan penelitian lebih lanjut. Kebehasilan Dokter Lanang membasmi binatang perantara penyebab kematian sapi-sapi perah tersebut telah melambungkan namanya menjadi orang terkenal. Namun di dalam alam pikirannya hewan aneh tersebut selalu membayangi baik di antara istirahat sejenak ataupun datang dalam mimpi-mimpi tidur malamnya.

Di lain pihak keberhasilan Dokter Lanang membasmi hewan tersebut harus ditebus dengan kehilangan istrinya yang ternyata berselingkuh dengan dukun Rajikun yang sebelumnya dukun tersebut telah menuduh Lanang menjadi pencipta binatang tersebut pada suatu seminar yang dihadiri para pakar dokter hewan, juga pengkhianatan pimpinan Koperasi Sukirno,  yang kemudian ternyata mereka itu bagian dari konspirasi Doktor Dewi.

Doktor Dewi dengan lembaganya tersebut berhasil menguasai produk pakan ternak secara monopoli dengan adanya penunjukan dari pemerintah. Dia berhasil menguasai pimpinan tertinggi di Kementrian Kehewanan dan laboratorium miliknya semakin berkembang dan dengan leluasa dengan kepandaiannya dia menghasilkan makhluk-makhluk aneh hasil rekayasa transgenic tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya.

Lanang dengan kesendirian tersebut masih menyimpan pikiran positif terhadap Dewi dan cintanya yang telah tumbuh kembali terus mencarinya, sampai pada akhirnya dia bertemu dengan Dewi namun tidak di ruang waktu seperti biasanya, tetapi Lanang telah dijadikan obyek rekayasa genetika berikutnya oleh kegilaan dan kebengisan Doktor Dewi.

Penuh Bahasa Ilmiah

"Harap segera dikirim hormon transgenik untuk meningkatkan produksi susu, sejumlah Bovine Somatotropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi susu dua puluh persen serta memperpanjang masa menyusui".

"Harap segera kirim Porcine Somatoropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi babi sebesar dua puluh persen dan mengurangi kadar lemak, dan kadar protein bisa meningkat."

"Selain bermanfaat, produk transgenik untuk meningkatkan produksi susu dan daging merangsang terjadinya penyakit. Hormon Recombinan Bovine Somatotropine pada sapi memang dapat merangsang sel penghasil susu, sehingga meningkatkan produksi. Namun penyakit mastitis atau radang kelenjar susu meningkat sangat tinggi. Imbasnya, pemakaian antibiotika sebagai obat penyakit ini menjadi meningkat, residu antibiotika juga sangat tinggi. Residu di atas ambang batas menyebabkan bakeri kebal terhadap antibiotika."

Penggalan dialog di atas ini terdapat dalam novel tersebut, bagaimana penemuan ilmiah telah membuat pikiran kita menjadi tahu, bahwa hasil rekayasa genetika ternyata sangat berbahaya. Dikatakan dalam buku tersebut bahwa Hormon Recombinan Bovine Somatotropine pada sapi akan memberikan risiko tinggi mempercepat masa berkembangnya penyakit sapi gila yang disebabkan oleh prion yaitu protein yang terdapat dalam inti sel setiap makhluk hidup, yang menyimpang dari keadaan normal, tidak punya asam nukleat, serta berkembang biak tanpa menyusun kehidupan dasar makhluk hidup berupa DNA dan RNA. Prion ini akan membahayakan kesehatan manusia yang memakan daging sapi, karena sapi yang disuntik hormon ini, akan meningkatkan kadar prion.

Kemudian dijelaskan juga adanya penggunaan transgenik susu sapi yang dihasilkan dengan penyuntikan hormon itu kepada kambing, pada sapi akan meningkatkan serangan penyakit Caparine Althritis Encephalitis karena virus retro yang biasa menyerang kambing. Jenis virus ini indentik dengan virus HIV1 dan HIV2 atau Human Immunodeficiency virus, yang menyebabkan penyakit hancurnya ketahanan tubuh bermanifestasi berbagai penyakit pada manusia, yang juga termasuk golongan retrovirus.

Di sini diceritakan bahwa perusahaan pakan ternak mempergunakan produk transgenik untuk menghasilkan pakan ternak yang mudah dicerna dan harganyapun relatif lebih murah. Bahwa sebenarnya perusahaan tersebut juga sudah tahu dampak negatif penggunaan hasil transgenik tersebut pada pakan ternak bila dibandingkan dengan penggunaan transgenik dalam pengobatan bidang kedokteran hewan. Karena pakan ternak diberikan pada hewan tidak mempunyai nilai ambang batas penggunaan.

Dijelaskan juga bahwa kebiasaan hewan yang merumput secara alamiah berpeluang memakan produk tanaman transgenik juga, mengingat kebiasaan peternak suka memberikan makan ternaknya dari sisa hasil pertanian.

Menyelusuri bait-bait kata pada susunan kalimat dalam novel tersebut yang walaupun hanya sebuah novel fiksi namun tentunya pengarang tidak gegabah memasukan istilah ilmiah yang sudah familiar terdengar pada khalayak ramai bahwa produk transgenik semakin berkembang dan sudah tersebar di bumi ini. Di negara maju banyak telah dihasilkan produk tersebut, yang pada akhirnya malah sekarang sudah mulai menimbulkan keresahan dengan mulai banyaknya masyarakat yang sudah melek pengetahuan bahwa dampak negatif bagi kesehatan lebih banyak daripada positifnya, namun pemberitahuan itu tenggelam dengan iklan besar-besaran produk pertanian maupun peternakan yang sudah mengglobal.

Apabila di negara maju di mana masyarakatnya sudah melek pengetahuan, maka produsen ternak ataupun pertanian tidak langsung berkecil hati, mereka dapat juga melempar hasil produksinya pada negara berkembang, apakah kemungkinan Indonesia telah menjadi pasar bagi produk rekayasa transgenik tersebut? Tidak muskil hal ini bisa terjadi, lihat saja membanjirnya produk pertanian maupun daging impor, ayam impor yang relatif terjangkau harganya itu merupakan hasil rekayasa transgenik?
Dampak negatif yang berkepanjang dari penggunaannya, sudah terbayang di depan mata. Apakah tak ada ruang lagi untuk menikmati benar produk yang terbebas dari hasil rekayasa demi kesehatan? Ataukah kita-kita ini sudah terbelenggu dengan perangkap hormon yang menguasai tubuh dengan serapan yang semakin melilit karena pola makan kita yang sudah teracuni hormon itu semakin jauh, sehingga kita sendiripun sudah tercemari sifat-sifat trasgenik, sehingga menjadi acuh tak acuh?

Dengan membaca novel ini, jadi selama ini apakah kita semua telah memakan hasil sebuah rekayasa transgenik? Bagaimana kita akan tahu? Apakah menunggu penyakit dari dampak produk tersebut muncul? Terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk mengetahuinya. Novel ini membuat penyadaran pembaca untuk mulai berhati-hati terhadap makanan yang akan dikonsumsi.

Moral, Religi dan Klenik

Sisi lain dari novel ini adalah bagaimana kita diperlihatkan pada moral sang pelaku dalam keseharian. Di satu sisi Dokter Lanang sebagai seorang lelaki dengan leluasa mengumbar nafsu sexnya begitu gampang diumbar, dia begitu gampangnya meniduri seorang pelacur yang dia sayangi tapi di satu sisi dia sudah beristri. Di lain pihak, dia pun menjadi begitu religius digambarkan ketika belum dapat memecahkan teka-teki penyebab penyakit yang menyerang sapi-sapi perah tersebut.

Dengan meninggalkan istrinya tanpa perasaan ketakutan terjadi apa-apa, dia mencari jawaban dengan berdoa di tempat ibadah dilakukan sendiri. Di sini pengarang seperti membiarkan tokoh Lanang ini berjalan sendiri tanpa diceritakan mengapa itu bisa terjadi. Apakah tidak bisa menjalani beribadah dengan mengajak istrinya? Tentunya akan lebih bijak bila dalam pencarian penyebab itu, dia lebih membagi untuk istrinya dan bersama-sama pergi, daripada membiarkan istrinya di rumah sendiri yang pada akhirnya didatangi binatang tersebut yang kemudian menjelma sebagai dukun Rajikun.

Sepertinya sifat keliaran Dokter Hewan Lanang ini identik dengan hewan yang begitu gampang berganti-ganti pasangan tanpa adanya rasa bersalah.

Beberapa adegan persetubuhan walau digambarkan dengan halus namun terjadi beberapa kali dengan tidak hanya dengan istrinya tapi dengan mantan pacarnya Dokter Hewan Dewi. Perasaan bersalah telah berselingkuh tidak digambarkan kuat, hanya datang sesaat, seperti sesuatu pekerjaan yang biasa saja.

Untuk hal ini novel ini hanya patut dibaca oleh orang dewasa, karena penggambaran tokoh-tokohnya lebih banyak bersifat amoral menurut pandangan umum masyarakat kita yang masih religius. Ada pesan yang ingin disampaikan oleh pengarangnya bahwa keadaan demikian di jaman sekarang kelihatannya sudah mulai lazim. Di satu sisi orang berteriak soal kekeringan adanya dahaga degadrasi moral dalam kehidupan masyarakat, tapi di sisi lainnya kehidupan bebas terpampang jelas di depan mata. Terjadinya kasus-kasus yang menimpa tokoh agama yang seharusnya menjadikan panutan tetapi berbelok melakukan hal-hal yang tak senonoh tergambar dalam tokoh yang bernama Rajikun. Dia ini sebenarnya dulunya bekas imam tempat ibadah Dokter Lanang ketika muda, karena melakukan perbuatan aib dengan salah satu jemaatnya yang seharusnya dia lindungi, tetapi malah “dimakannya” telah tercampakkan keluar dari tampat ibadah di mana dia bernaung. Sampai kemudian tibalah dia bertemu kembali dengan Lanang sebagai dukun hewan dan berkolaborasi dengan Dewi menciptakan hasil rekayasa transgenik.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak tokoh-tokohpun mempunyai muka dua, di satu sisi meneriakkan slogan moral dan mencontohkan kehidupan yang religi namun disisi lain dia juga melakukan perbuatan melanggar norma-norma dan apabila ketahuan merasa tidak bersalah malah menjadikan dirinya orang teraniaya, seperti memberikan pembenaran dia hanya khilaf atau menjadi umpan dari sebuah konspirasi pihak lain (mencari kambing hitam untuk menutupi aib yang telah diperbuatnya).

Yang menarik dalam novel ini adalah tidak menyebutkan gereja atau masjid tetapi dengan pengungkapan kata tempat ibadah. Pengarang bermain metafora dalam penyajian ungkapan benda sehingga menimbulkan hal hal baru dalam menikmati suasana baca,  kaya istilah seperti diungkapkan Medy Loekito seorang penyair yang menulis di pembuka novel ini, bahwa membaca Lanang serasa membaca puisi panjang.

Kemudian juga dibahas munculnya tokoh dukun hewan. Tokoh ini dimunculkan berimbang dengan munculnya para ahli yang mewakili dunia ilmiah. Namun dalam perjalanannya dunia ilmiah dikalahkan dengan tokoh dari dunia klenik, dunia dukun.

Pengarang sepertinya menyindir juga, bahwa keseharian kehidupan di masyarakat banyak yang sudah makan bangku sekolahan sampai tinggi di mana pikiran rasionalnya lebih bicara, kadang dalam urusan rejeki, jodoh bahkan sampai kenaikan pangkat, jabatan masih lari pada dukun, pada urusan dunia klenik, yang sebenarnya bertolak belakang dengan akal sehat manusia.

Cinta dan Dendam

Intrik yang dibangun pada cerita yang membuatnya menjadi pemenang harapan kedua Sayembara Novel DKJ 2006 ini juga kekuatan dalam penyajikan tentang cinta dan dendam.

Orang bilang antara cinta dan dendam terpisah oleh dinding yang sangat tipis bahkan mungkin bisa menyatu dalam dua kata itu sendiri.

Lanang yang pada awalnya menjalin percintaan dengan Dewi yang berlainan keyakinan tetapi dalam perjalanannya akhirnya memilih menikah dengan Putri yang sama-sama satu agama.

Namun cinta pada Dewi tidak serta merta menjadi padam, tetap ada dan semakin membara kala waktu mempertemukan mereka kembali, bahkan Lanang bisa begitu mudah melupakan Putri istri sahnya yang telah dipilihnya untuk mendampingi hidupnya.

Begitu juga dengan Dewi, rupanya menyimpan rasa cinta terhadap Lanang yang tidak begitu saja gampang ditundukkan dan merasa dikhianati dengan menikahi teman sekelasnya waktu kuliah. Walau pada akhirnya mereka berdua membuat konspirasi untuk menundukkan Lanang yang pada akhirnya tetap tidak dapat ditundukkan.

Yang aneh adalah bagaimana Putri bisa begitu gampang mencintai Lanang tetapi kemudian mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan dukun Rajikun, yang pada akhirnya juga disesalinya. Dan mereka berdua bisa bersama-sama membagi perasaan cinta pada Lanang tanpa cemburu di satu pihak dan malah rasa cinta yang dimiliki mereka berdua itu menimbulkan kebencian terutama Dewi dengan ingin melenyapkan sifat Lanang sebagai manusia diganti dengan rekayasa genetika hewan babi dan burung yang dipersiapkan dalam operasi dan kemudian berhasil menjadikan Lanang menjadi makhluk baru hasil ciptaan rasa cinta Dewi yang telah berkembang menjadi dendam yang membara.

Catatan akhir

Novel ini di awalnya ditulis dengan penggambaran cukup rumit,  namun kemudian mengalir cair semakin dalam, dengan penjelasan satu persatu runtutan kejadian, ditambah dengan imajinasi pengarang mengingatkan penulis pada novel Abdulah Harahap yang suka menulis tema mistik dengan hewan jadi-jadian, tetapi yang membedakan bahwa Yonathan Rahardjo berhasil menceritakan bahwa itu bukan hewan jadi-jadian tetapi adalah benar hasil rekayasa genetika dengan tidak lupa menyisipkan istilah ilmiah menjadikan tema yang diambil dapat menarik dan menjadikan satu pilihan dari banyak pilihan tema novel pada umumnya, dibumbui dengan kisah cinta dan intrik serta kepentingan di dalamnya dan dibiarkan menggantung pada akhir cerita, membuat novel ini bisa menjadikan pilihan menarik pembaca untuk menikmatinya.

Dengan cover menarik, dan font yang tidak melelahkan mata, ditambah garis cetakan di atas dan bawah setiap halaman, menjadikan nilai tambah novel ini, walaupun penyajian beberapa catatan dari juri dan kolega pengarang cukup menyita halaman dan sempat mengganggu pemandangan.

JY
Logged

Pembaca Novel lanang

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10
Re: LANANG: Novel yang menuai kritik dan pujian
« Reply #4 on: September 08, 2008, 09:27:09 am »

Gaya Bahasanya Naif, Punya Warna Khas

Awal membaca Novel Lanang ogah-ogahan tapi ingin terus penasaran tidak mau berhenti. Adengan Lanang dengan Dewi kedua "anak lanang"ku mak "dhet". Gaya bahasanya naif tapi punya warna khas.

Dharmadi
Penyair
Logged

Univ Pakuan Bedah Lanang

  • Kelasi
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1
Re: LANANG: Novel yang menuai kritik dan pujian
« Reply #5 on: September 10, 2008, 05:05:08 pm »

http://lenimulyanasari.blogspot.com/2008/07/yonathan-rahardjo2008lanangalvabet.html

Yonathan, Rahardjo.(2008).Lanang.Alvabet sastra (Reflection)

Name : Leni Mulyana Sari

NPM : 031104067

Class : VIII/C

Subject : Extensive Reading

REFLECTION

Yonathan, Rahardjo.(2008).Lanang.Alvabet sastra

Lanang is story where this novel tells about a veterinarian life, named Lanang. He has wife. her name is Putri. They lived in the village. One day, a doctor named Dewi is a veterinarian too. She create transgenic animals which it can virus disease birds and pigs forest. Since coming this strange animal, livestock area cow place Lanang worked. suddenly, cows attacked a strange disease by the strange animal. Many cows dead. with government and society, Lanang which clever doctor, obsessive, and melancholic is busy to look for cause death cows. The experiment was done. But mysterious disease didn’t find caused. Lanang was frustrations and alone. Then animals indigenous made issue that caused of cows are bird and pig forest. One day , he met Dewi in laboratory. Dewi and her friends would become him as their experiment. They chose him because they want to change his organ with babi hutan’s and bird’s organ. Dewi and her friends wanted to show to the world that they are ruler of sciences, knowledge, and economics. They succeeded to create some kinds of the strange animals to the various purposes. Lanang's life had become perfect. He had been brain and heart that could not be match with the other human.

Reading this book is interesting. Remind me to literature Eropa as Prances novel Plague (pes disease) where we must across to came symbolic, mystic, rational and irrational together.

Logged

UnvIbnuKhaldunBedahLanang

  • Kelasi
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1
Re: LANANG: Novel yang menuai kritik dan pujian
« Reply #6 on: September 17, 2008, 03:41:17 pm »

posts
Like watching a movie

By:
Shinta Suciati
FKIP
Universitas Ibn Khaldun Bogor
06211210498
Semester IV Afternoon

Novel Lanang tell about a man the name is Dr. Lanang, he is veterinarian and he lived in the village and his wife was named Putri. The night he halp born Cow property Sukarya bat in the morning the little cow that he halp died. He was very shocked, then he had made some investigation.
All Doctor make a seminar for this cause, in the Seminar he meet Dr. Dewi she was a holder of doctorate who worked as a follower of foreign corporation, and than she was created transgenic animal that was able to spread the virus of diseae named " Burung Babi Hutan "
Actually Dr Dewi be an accessrt with Rajikun for distant Dr. Lanang. Dr. Lanang was a combination that surprised between the latest experiment of biology with the nature of traditional spiritual.
Reading Novel is like watching a movie, there is a psychological conflik among the A character that is appeared deeply and presented like real.
\ This story can be a reflection of wahat is being happened in the field of animal medical Wnd animal husbandry in this country.
Logged

Pembaca Novel lanang

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10
Re: LANANG: Novel yang menuai kritik dan pujian
« Reply #7 on: October 20, 2008, 01:00:39 pm »

saya suka sekali membaca novel tapi barukali ini saya membaca novel yang menakjubkan

http://www.sma2bojonegoro.com/?p=360#comment-3460

alhamdulillah saya sudah membaca novel Lanang ini,novel ini sangat mengesankan. saya suka sekali membaca novel tapi barukali ini saya membaca novel yang menakjubkan. jujur saya sulit mengerti akan isinya namun karena saya tertarik saya berusaha untuk membaca lagi hingga saya mngerti,maklum isinya memang bukan standart anak SMa. karena dalam novel ini ada unsur kedokteran,sex,ilmiah sehingga novel ini menarik. saya acungkan jempol buat kakak alumni Yonatan Raharjo.Suksess terusss yach!!!

Erlin Septiana Rahmawati
SMAN2 Bojonegoro 2006 (XI-Is2)
Logged

Hako_ndablek

  • Tomodachi
  • ****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 3.657
  • Inspiring, amazing, darting.
    • Hakodate's Fortress
Re: LANANG: Novel yang menuai kritik dan pujian
« Reply #8 on: October 20, 2008, 04:34:54 pm »

Gw gak pengen baca gara2 dibilang adegan sex-nya hot. malesss (melindungi hati, cieeeehhh)
Gw kapok baca novel2-nya Ayu Utami  :( :(
Logged

topi SD

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10.887
  • it's me and you
Re: LANANG: Novel yang menuai kritik dan pujian
« Reply #9 on: October 23, 2008, 07:27:21 am »

Gw gak pengen baca gara2 dibilang adegan sex-nya hot. malesss (melindungi hati, cieeeehhh)
Gw kapok baca novel2-nya Ayu Utami  :( :(

ngg sama neh..
aku kok rada gak tertarik ama fiksi fantasi dalam negeri yak..
aneh gt bacanya..
terusnya lagi rata2 novel indo ada adegan sex hotnya..malessssssssssssssssssss  [hammer]
Logged

"Aww DRAGGY!!!"
Pages: [1] 2   Go Up