;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1]   Go Down

Author Topic: Pengembang bermasalah di Grand Depok City - Kota Kembang Depok Raya  (Read 17438 times)

indoro1ds

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 11
  • indoroids@f-mail.net

Pengembang bermasalah di Grand Depok City - Kota Kembang Depok Raya
Bagaimana pendapat Anda dan para pembaca situs ini mengenai Grand Depok City karena setelah membayar booking fee saya baru membaca mengenai opini-opini “miring” yang ada di internet tentang GDC waktu saya iseng2 googling. Saya berharap dari Anda dan para pembaca situs ini ada masukan untuk saya karena saya dan suami sudah akan menyerahkan surat2 untuk pengajuan KPR minggu depan.
Mba Ria via email

komentar:
Grand Depok City a.k.a Kota Kembang Depok Raya, saya kurang tahu mengenai komentar miringnya, tapi pengalaman survey kelihatannya GDC/KKDR ini agak bermasalah deh -kesan yang saya tangkap saat hunting di lokasi tersebut. Mungkin ada pendapat dan cerita lain.

262 Tanggapan ke “Grand Depok City - Kota Kembang Depok Raya”

1.    Andrie D Berkata:
Nopember 14, 2007 pukul 9:37 am
Saya besar di Kota Depok, jadi tahu betapa fenomenalnya Kota Kembang Depok Raya pada tahun 1990-an. Teman saya sudah ambil rumah di sana dan di akhir masa angsuran dilarang melunasi, jadi sisa Rp 500 ribu belum/tidak dilunasi. Dengar punya dengar, pengembangnya pasien BPPN (dulu), jadi sertifikatnya masih diagunkan, alias dimasa depan ada kemungkinan kita bakal dipersulit kala menagih sertifikat kita. Patut diwaspadai SUTET dan surat-surat rumahnya.
Salam.

2.    miss Berkata:
Nopember 15, 2007 pukul 11:02 am
alo, saya pernah survey dan ketemu langsung dengan marketing GDC, waktu itu saya belum tertarik pertama lokasi jauh banget dan harus melewati margonda raya yg super macet itu, kedua untuk KPR baru bisa 2 bank dan dengan bunga yg tinggi, ketiga harga lumayan mahal dibanding lokasi lain yg lebih dekat.

3.    Cahya Yustia Rio Berkata:
Nopember 15, 2007 pukul 5:13 pm
mau curhat ni tentang Kota Kembang..
dulu waktu saya masih SMP (apa SMA ya? lupa.. hehehe), mama saya pernah hampir beli rumah di Kota Kembang Depok Raya, di Sektor Melati. Tapi ga jadi.. secara, janji pembangunannya waktu itu moloooor melulu. padahal DP udah dilunasi. kami semakin kehilangan kesabaran dan kepercayaan setelah membaca suatu artikel di Kompas, memberitakan bahwa developer Kota Kembang pada saat itu sangat bermasalah. paniklah kami sekeluarga.. (secara DP udah dibayar gitu loh).
akhirnya, setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, syukurlah uang DP bisa dikembalikan, walaupun dipotong beberapa juta. Pada saat itu, developernya adalah PT. Inti Karsa Daksa. Saya masih ingat, mereka membuka stan di Mal Depok dan menawarkan janji-janji pembangunan yang sampai sekarang tidak pernah terwujud. dulu tu, katanya di deket Jalan Boulevard Kota Kembang (sekarang namanya Jl. Boulevard GDC), mau dibangun club house, waterboom, dan segudang fasilitas mewah.
sekarang, saya sudah kuliah semester akhir. beberapa bulan lalu saya sempat jalan-jalan ke ex-calon rumah mama saya tersebut. kondisinya kini sangat memprihatinkan, kosong tidak terawat. halamannya banyak ditumbuhi rumput liar. rumah di sekitarnya pun relatif sama. sepi. jauh dari hiruk pikuk kehidupan. untung kami tidak jadi beli rumah di sana. 
itulah pengalaman keluarga saya dengan PT. Inti Karsa Daksa yang tak kan terlupa. hehehe.. kalo sekarang, namanya dah berubah jadi GDC ya? udah gitu dipegang ama developer baru.. mudah-mudahan bagus.
cuma, yang perlu diwaspadai: memang daerah itu dilewati SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi). Terutama yang ada di sektor anggrek (sekarang gw kurang tau apakah nama sektor ini masih tetap sektor anggrek atau udah diganti nama). padahal, dahulu sektor anggrek ini hendak dijadikan kawasan hunian elit, dengan pilihan tipe-tipe rumah yang besar.. sayang oh sungguh sayang.. ada SUTET-nya..

4.    Di Berkata:
Nopember 16, 2007 pukul 1:17 am
Buat hunter rumah GDC,
GDC itu sebetulnya jelmaan dari kota kembang , karena kota kembang dengan pengembang daksa group dan dilanjutkan dengan group ISPI sudah mengarah pada kesan buruk, maka nama itu dirubah.
 Karena menarik maka saya coba mau beli satu rumah type 45 tapi dengan cash , sayangnya waktu itu rumah indent 12 bulan dan tidak ada satupun yang ready stock . Bahkan rumah contohpun belum bisa dilihat.
entah kenapa saya hold pembelian meskipun sang marketing tawarin saya 12 bulan cicilan tanpa bunga sebagai pengganti bayaran cash. seiring waktu berjalan , tiba tiba 97 datang , krisis hebat membuat Daksa group kelimpungan , uang yang sudah masuk banyak yang lenyap secara internal , pembangunan jembatan berhenti , bahkan kantor pemasarannya pun ikut lenyap dari lokasi itu.
Lebih lima tahun Daksa group berhadapan sama konsumennya , banyak yang dah bayar lunas dan KPR sudah dipotong tapi rumah gak kunjung jadi , rumah yang diperjuangkan pembeli akhirnya terwujud pelan pelan dengan perjuangan di sektor anggrek 2 , adik saya salah satu korbannya. Tahun 2000an Daksa group ikut lenyap diganti Group ISPI , persoalan tetap muncul hanya pengembangnya saja yang berubah.jadi 10 tahun ini kota kembang alias GDC memang terbelit masalah cash flow

5.    sayasaja Berkata:
Nopember 16, 2007 pukul 7:06 pm
Cerita Kota Kembang/GDC memang penuh lika-liku. Pada saat Daksa Group kena krisis, semua rencana berantakan.
Perusahaan pun masuk BPPN, tapi dengan susah payah bisa keluar dengan biaya finanasial yang akhirnya memberatkan cashflow. Pembangunan rumah yg sudah dijanjikan ke konsumen semuanya molor, malah batal dibangun.
Selama 3 tahun mencoba bertahan, akhirnya Daksa Group nyerah.Setelah itu kepemilikan pun beralih, dan developer baru mencoba menghidupkan kembali. Tapi biaya modal yang harus dikeluarkan mungkin terlalu berat. Sehingga proyek pun terbengkalai selama 2-3 tahun.
ISPI tidak pernah punya pengalaman membangun kawasan yang luas. Biasanya mereka hanya membangun rumah-rumah tipe kecil, seperti Mutiara Bogor dan Mutiara Cinere. Mudah-mudahan bs jd bahan pertimbangan bg yang berminat.

6.    karin Berkata:
Nopember 19, 2007 pukul 1:47 am
terus terang saya masih ragu mengingat cerita tentang “kota kembang” yang amat sangat bermasalah (teman saya harus nunggu 3 th baru rumahnya di cluster anggrek dibangun !!!)
ada yang punya advise gak ??? soalnya suamiku udah pengen banget punya rumah …..

7.    firman Berkata:
Nopember 19, 2007 pukul 4:52 am
ikutan nimbrung dengan kota kembang karena kebetulan rumah orang tua gue kebetulan berada di atas kota kembang sektor anggrek (kalimulya). Betul apa yang dikatan Di kota kembang ingin dijadikan kawasan elite, Sayang pintu gerbangnya dilalui Sutet, dibagian tengah membelah kuburan kalimlya dan cilodong yang membuat harga jatuh dan tidak ada peminatnya dan ditambah terlalu banyak yang meminta jatah dari elite pemerintah depok maupun DPRD, buktinya kantor DPRD Depok dan rumah bekas Walikota Depok Badrul Kamal juga memiliki rumah berada ditengah tengah kota kembang.
Jadinya beban pengembang menjadi berat sedangkan peminatnya sedikit, dan akhirnya pengembang mengundurkan diri mungkin juga bangkrut, dan sekarang sudah 3 pengembang yang yang bergantian menangani kota kembang, dari DAKSA GROUP, ISPI dan sekarang SMR.

8.    Nice Mommy Berkata:
Nopember 22, 2007 pukul 6:46 am
hhhmmm baca-baca kota kembang bikin gw napsu lage niy… secara Bokap dulu sub kontraktor yang ngebangun beberapa rumah di sektor anggrek, melati and puri insani.
Yap dialah PT. Inti Karsa Daksa yang g jelas dengan pembayran terminnya, yah namanya kontraktor kecil modal cabut sana cabut sini dengan harapan Daksa akan bayar sesuai termin yang terjadi setelah rumah jadi pembayaran seret dan yg lebih nyakitin terkesan kita yang ngemis2 k Daksa. Untuk info ajah sekarang GDC dikelola sama SMR jelmaan baru dari Daksa, dengan nama PT. Dinamika Alam Sejahtera.
Sampe skrg tagihan yang beratus-ratus juta itu sempat mandeg 3 tahun n ditawarin tukar guling sama kavling yg harganya harus pake harga jual, secara kondisi daerahnya masih ky gitu ya g mau lah n finally Dinamika yang meneruskan pembayaran k kontraktor2 kecil dengan cicilan sekitar 2jt-an sebulan itupun since 2006 fffiiiuucchhh!!! (g jelas mu diselesain kapan) padahal tuh kantor dah sering diserbu kontraktor2 yang udah ngemodalin bikinin rumah disana.
Untuk diketahui juga cuma nama perusahaannya aja berubah dari Daksa ke Dinamika Orangnya siy teteeuuup aja dia-dia juga! Oia Dinamika juga developer yang bangun Vila bogor asri di cibinong itu juga sama ajah lagi2 Bokap gw jadi korban.
Sayangnya g bs berbuat apa2 selain nunggu itikad baik Dinamika untuk ngebayar sisa2 pembangunan dulu. Dan perlu diketahui juga kebanyakan rumah2 yang dibangun di modali dulu sm sub kontraktor br dibayar (kl uangnya g ditilep) kemudian.
Yah untuk yg mau beli rumah disana mungkin bs jadi pertimbangan comment gw… logikanya kl udah KPR harusnya Dinamika bs bayar termin, nyatanya ngga n infonya uang KPR yg masuk untuk perluasan lahan GDC lage jd kontraktor2 kecil jd korban.

9.    Ikiyono Berkata:
Nopember 29, 2007 pukul 6:21 am
Kebetulan saya penghuni GDC, tipe RSSSSSSSSSSSSSS,
Kalo ngomongin kejelekan pengembangya, weleh…..ampun deh….., kagak ada abisnya, jangan2 emang bos2nya nyari duitnya seperti itu, cari mangsa sebanyak2nya tidak perduli, ngemplang, ngembat, ga tahu apa lagi. Ntah berapa ratus bahkan ribuan orang yang ditipu dengan janji2 manis para marketingnya.
Saya dulu DP rumah tahun 2004, serah terima tahun 2006, itu aja harus pake acara berantem ga karu2an, sampe kayak apaan aja.
Saya ngasih pandangan seperti itu aja dech, yang penting berhati2 sama pengembang n marketing2nya yang so borju, kalo kita yang kagak berduit complaint kayak apa aja di cuekin, tp kalo yang berduit langsung ditanggepin.
Demikian aja tanggapan saya, mudah2an bermanfaat. Mohon maaf kalo kurang berkenan n membantu.

10.    waskito Berkata:
Januari 25, 2008 pukul 4:11 am
Segera di bangun mall
Segera dibangun water boom
Segera dibangun club house
Segera dibangun sekolah
Segera dibangun taman kota
Segera dan segera adalah kalimat manis yang terkadang meninabobokan/membodohi calon konsumen, rasanya sudah hampir 12 di kota kembang masing terulis segera dan segera . Hal yang harus diperhatikan dalam membeli rumah di kota kembang, Jangankan fasos/fasum, sertifikat sebagai dokumen bukti kepemilikan aset kita, sampai saat ini beberapa warga ada yang belum memilikinya, meskipun sudah melunasinya. Ada juga yang sudah memiliki sertifikat, tetapi mengeluarkan biaya sendiri dan mengurusnya sendiri. Habis bertanya ke pihak developer, seperti main petak-umpet, lembar batu sembunyi tangan. Komitmennya masih sekedar komat-kamit, meski nama berkali-kali diganti , dulu kota kembang segera GDC, entah apalagi namanya.
Nama/kemasan boleh diganti sekian banyak dan sesuka, tetapi hakikat memberikan kepuasan dengan niat hati nurani tidak membohongi konsumen adalah hal lebih penting dalam berbisnis. Konsumen yang puas tentunya akan memberikan informasi baik pada konsumen lainnya. Jadi selain perubahan nama produk yang sangat mendasar adalah perubahan paradigma berpikir dan menghayati hakikat kelangsungan suatu bisnis melalui kejujuran dan empati terhadap harapan konsumen. Bicaralah sesuai kapasitas kemampuan yang ada.
Strategi efektif , bagi pengelola GDC menurut saya yang tinggal disana, Bagaiimana cukup sederhana :

1. Produk baru dibuat secara nyata, tidak sekedar jual brosur dan gambar sesuai visi dan misi pembangunan suatu kawasan.

2. Produk lama (cluster eksisting), apa itu Anggrek 1, Anggrek 2, Anggrek 3,
Puri Insani, Melati secara perlahan dibenahi pula (Proses Rework/Redisgn) . Fasum/Fasos dilengkapi, warga eksis ting diajak komunikasi/diberikan informasi, termasuk Penyelesaian Hak Kepemilikan (Sertifikat) perlu ada program nyata, apa mau nungggu konsumen pada sepuh dan uzur atau meninggal ?.
Jika hanya fokus pada langkah 1 demi pencapain target cash flow agak susah, tanpa melaksanakan langkah 2. Langkah 2 adalah marketing tool efektif dalam dunia yang tanpa batas seperti saat ini

11.    wardoyo Berkata:
Maret 2, 2008 pukul 10:08 am
Saya juga punya pengalaman pahit dengan Perum Kota Kembang Depok Raya yang sekarang di rubah (sepihak oleh developer baru) namanya menjadi Grand Depok City. Dari 2001 sampai sekarang AJB apalagi Sertifikat Belum selesai-selesai. Hati-hati waktu mau beli rumah di GDC.

12.    bek;s Berkata:
Maret 30, 2008 pukul 3:44 pm
Surat…surat …ya…nunggu sih katanya….tau sampai kapan…dari 1998 s/d sekarang…
yg jelas apapun namanya Developernya…yg penting ada niat nggak dari dev..u/ngurus kewajibannya u…keluarin HGB sesuai apa yg dijanjikan…di awal..
krn..kewajiban kita …udah dilunasin dari dulu…..
Penghuni Melati……..

13.    fariy Berkata:
April 2, 2008 pukul 9:49 am
saya tinggal di sektor melati yang dengan seenaknya mo diganti jadi edelweis……………………gak jelas maksudnya apa..padahal di KTP JELAS_JELAS TERTULIS KKDR SEKTOR MELATI……….emang mo diganti itu KTP……………..sales2 nya semuanya gak punya hati nuraniii………………
giliran warga udah swadaya bikin fasum sendiri kayak taman bermain..pos satpam… eh baru deh dipasarin dgn iming2 fasum tsb..padahal boro2 ada bantuan dari developer..semunay gotong royong sendiri…..
mungkin untuk cluster2 baru gak terlalu bermasalah tapi untuk yg udah tinggal disana ampuunn dehhhh…..dibilang deket rencana jalan tol..padahal diliat lagi deh di rencana tata kota…..diliat lagi itu tol ada dimana hi..hi….

14.    dewi Berkata:
April 14, 2008 pukul 7:15 am
Sebenarnya kita ingin pak berikan info positif, ….tetapi terkadung sudah lama menderita …hanya diberi janji belaka, betul sekali fasum/fasos kita yang buat, meski ala kadarnya dengan modal gotong royong, senasib dan sepenanggungan. Developer sudah ganti, tetapi bukan berarti masalah tetap ada.
Hal yang harus diperhatikan, bukan hanya sekedar hanya pada kondisi fisik rumah, fasilitas dan lingkungan saja , tepai kepastian/jaminan mendapatkan surat/sertifikat, setelah rumah tersebut kita beli/cicil lunas lebih penting.
Pada saat nanti, yang diwariskan kepada anak kita….kan bukti sertifikat rumah……bukan waterparknya…..he—he, keculai bapak beli saham waterpark tsb. ….Selamat berinvestasi

15.    dewanto Berkata:
April 14, 2008 pukul 7:24 am
Lucu juga, group marketing/sales, tentu ingin produknya laku bak kaya jual gorengan………group lain pada kesel, nama berubah, tidak punya sertifikat …mirip tinggal di ruli (rumah liar) aje disana . Setahuku kan disana, rumahnya keren-keren, eklusif….. , dekat pemda ,,kantor BPN, …..tetapi masa sudah pada lama tidak punya sertifikat……kasihan de lho

16.    Kiki Berkata:
April 18, 2008 pukul 6:53 am
Saya dan suami sudah membeli tanah n bangunan di Puri Insani (Zaman Kota Kembang) sejak 2005, mulai dibangun thn 2006, selesai dibangun 2007, tapi anehnya belum ada wawancara n akad kredit, dulu sempat ada wawancara oleh Pihak BTN, tapi gak pernah sampe ke akad, dgn alasan sertifikatnya/surat2nya masih diurus, sehingga belum bisa dijaminkan ke Bank. Waktu itu memang banyak masalah kota Kembang itu, kami sempat takut, Booking Fee yg 1 jt n DP 33 jt akan menghilang ditengah ketidak jelas/ketidak pastian, dari pihak Developer tentunya. Kami harap2 cemas, tapi kami mencoba bersabar dan selalu memantau.

17.    himawari Berkata:
April 22, 2008 pukul 4:24 am
Commentnya Ali M, kiki sama rini kok kayak kata2 marketingannya GDC ya??….jadi de javu ngedengerinnya..he..he..he… :))
Gini aja mas-mas end mbak mbak..
kl mmg GDC niat membersihkan nama baik dari masa lalu, kenapa calon pembeli unit di kluster GDC nggak dikasih surat jaminan aja bahwa setelah pelunasan pihak GDC akan mengeluarkan sertifikat HGB yg menjadi hak pembeli?
Aku kemaren nanya begitu, jawabannya langsung big NO NO NO… :))
Bagi pembeli yang penting itu bukan janji2 fasilitas, tapi status hukum rumah kalau udah lunas dibeli!!..
Percuma mo dibagun waterpark, rumah lengkap, dll tapi nggak ada jaminan pihak pengembang/developer akan mengeluarkan sertifikat HGB setelah pembeli lunas bayar!

18.    hamawi Berkata:
April 22, 2008 pukul 7:34 am
Tip sebelum membeli/kredit rumah,
1. Diskusikan dengan keluarga type rumah dan lokasi yang jadi idaman.
2. Cari informasi dari target-target lokasi yang telah dipilih, jika pusing bertanya pada Mr google. Pelajari juga aspek hukum dan pajak-pajak.
3. Lakukan survey lokasi untuk melihat fisik rumah, fasum/fasos, lingkungan sekitar , seperti pagar, saluran air , sungai apa aman dari banjir, listrik, air minum dsb. Tempat pembuangan sampah, penghijauan dll. Jika perlu tanya penduduk/warga yang sudah tinggal untuk mendapatkan informasi tambahan. Baca pada situs ini ini, dapat saja anda ‘tersesat’.
4. Jika sudah ok, tanyakan cara pembayaran/cicilan, masalah pajak dan mintakan jaminan secara hukum atas surat/sertifikat jika nanti rumah sudah lunas dibayar
Selamat mencari rumah idaman masa depan

19.    himawari Berkata:
April 22, 2008 pukul 9:22 am
Pak Hamawi..
yg no.4 itulah point yg saya tanyakan ke marketing GDC dan dijawab NO tadi…(curigamodeON*)
Jujur ya pak..saya ini udah bayar 1 juta buat tanda jadi, dan sekarang amat ragu2 mau nerusin niat saya beli rumah di GDC ini karena tidak adanya jaminan no.4 tadi secara tertulis bermaterai 
Kesalahan terbesar saya adalah memberi tanda jadi baru tanya ke mr.Google dan klarifikasi pada marketing GDC, dimana banyak pertanyaan2 yg menurut saya wajar aja kl saya nanya dan tidak bisa dijawab dgn pasti dan memuaskan (kepastian hukum, sertifikat setelah pelunasan dan perhitungan biaya-biaya).
GDC itu promonya diskon 20% tapi omong kosong!
hati2 ya teman, kl diserahin marketingannya surat rincian biaya2 jgn langsung ditanda tangani!..baca dulu perjanjian dibalik surat tanda jadinya dan tanya satu persatu perhitungan angka2 yg dibebankan GDC pada kita.
Saya ini udah “kena” sama mereka.
Dikatakan diskon 20% ternyata harga pokok rumah di KPR tidak ada yg berubah alias sama! 
dan dijanjikan DP0% (cuma bayar tanda jadi aja).
Tapi membaca situs ininya orang ada yg dijanjikan sama seperti saya dan kena “tepu” mentah2, so duit tanda jadinya yg 1.6juta nggak akan kembali lagi alias goodbye..

20.    hamawi Berkata:
April 22, 2008 pukul 10:22 am
himawari…kadang kita suka ‘terkesima’ dengan gemerlap ‘lampu yang nampak indah…..dan wah’ ada hadiah lah, dapat diskonlah, dapat itulah………itulah yang disebut ‘kemasan’. Belajarlah tentang hakikat isi sesuatu masalah, jangan………melihat kemasan semata saat ini.
Pikirkanlah rencana anda untuk jangka lebih panjang dan tenang dalam memilih rumah, setelah anda menjelang tua,
memeras keringat, mengumpulkan uang/menabung untuk ciciclan dan setelah lunas, tentunya investasi anda harus dinikmati ? masa terus dinikamti developer dengan tetap menyimpan di bank..

21.    himawari Berkata:
April 23, 2008 pukul 2:32 am
Iya pak (dan teman2 lain)..hati hati deh kl mo beli rumah!, terutama di GDC!!
Demi mencari kebenaran dan kejelasan, saya kemaren sampai konsul sama 2 org notaris di Depok langganan saya dan berita yg saya terima sungguh tidak enak!
Beliau2 ini sudah cross check kesana kemari dan confirm menyarankan saya membatalkan niat untuk beli rumah di GDC (walau udah terlanjur rugi 1 juta!!) kecuali pihak GDC bisa menunjukkan fotokopi sertifikat umum HGB sebagai bukti bahwa tanah tsb tidak bermasalah dan mereka bisa memberi sertifikat tsb pada pembeli usai pelunasan pembelian rumah.
Kemarin siang saya udah mendatangi pihak marketing GDC dan meminta mereka menunjukkan fotokopian sertifikat HGB sbg bukti, tapi pihak marketing tidak sanggup, bahkan ketika saya tanya apakah mereka tahu dimana/pihak mana yg sekarang pegang sertifikat tsb, jawabannya adalah mereka TIDAK TAHU!! (karena mereka tugasnya hanya memasarkan rumah2 di GDC dan tidak tahu keberadaan sertifikat ini dan status legalitasnya)…weleh….
saya langsung ngacir deh dari kantor tsb dan walau nggak ikhlas, saya relakan uang 1 juta td jadi tsb “ditelan” sama GDC daripada kejerumus ke masalah yg lebih besar! 
PS> Saya bukan provokator atau orang saingan developernya GDC! saya sungguh salah satu calon konsumen GDC! saya terpanggil untuk memberitahu kenyataan ini sama teman2 sekalian biar nggak kejeblos kayak saya.

22.    Obby Berkata:
April 23, 2008 pukul 2:51 am
Klo mau beli rumah, cek surat2 yg pertama kali adalah:
IMB-nya ada gak? Bisa lihat (fotokopi-nya)?
Krn dasar pembuatan IMB adalah sertifikat. Klo gak ada IMB, patut dicurigai klo sertifikatnya gak jelas.
Klo ada IMB, cross check ke Pemda, asli atau aspal.
Setelah jelas semua, baru bayar UTJ or DP.
Klo developer yg baik, gak masalah dimintain itu semua.
Yg tidak mau, wak wak gung nasinya nasi jagung…

23.   himawari Berkata:
April 23, 2008 pukul 5:45 am
Buat pak Willy..
Moga2 bapak nasibnya baik dan selamat sampai “Tujuan”!
Uang tanda jadi yg saya berikan untuk 1 unit di kluster ALPINIA GDC sudah saya ikhlaskan (abis mo gimana lagi?)
Kalau saya sih udah nyerah begitu tahu pihak developer melalui marketingannya tidak sanggup menunjukkan kpd saya fotokopi bukti2 legalitas, sertifikat (termasuk IMB nya).
Saya bahkan memberi masukan sama marketingannya kl mmg mau menyakinkan pembeli dan membersihkan nama baik dari masa lalu, GDC harusnya berani ngasih surat jaminan kepastian pengeluaran sertifikat setelah lunas bayar atau berani menunjukan fotokopi bukti2 legalitas pembangunan dan sertifikat kepada pembeli 
(tapi tanggapannya hanya senyum dan berkata, saya tugasnya hanya menjual rumah2 di GDC dan yg lainnya saya tidak tahu…he..he..he..)
Bagi saya, membeli rumah, memeriksa kenyataan2 tidak kalah penting dibanding dengan keyakinan hati, bukti2 itu lebih penting daripada hanya mendengar janji2 manis dari satu pihak :))
Siang ini kolega saya (polisi depok) memberi saya info tambahan bahwa sampai sekarang belum satupun penghuni GDC yg punya sertifikat HGB apalagi SHM! yg dipegang dari dulu sampai detik saya nulis ini adalah AJB.
Good luck ya pak Willy! 

24.    retno Berkata:
April 23, 2008 pukul 6:32 am
Mas Himawari
Massa ah …., petugas marketing hanya menjawab ‘hanya menjual rumah…….tetapi, yang lainnya tidak tahu’. Jika begitu yang dijual rumah apa ? Permintaannya kan sederhana, minta ‘jaminan/garansi’ bahwa surat/sertifikat dapat diambil jika nanti rumah telah lunas/dibayar.
Uang 1 Jt jangan dipusingkan, jika anda ikhlas pasti ada ..dari pada stress berkepanjangan

25.    himawari Berkata:
April 23, 2008 pukul 7:41 am
Bu Retno,
mmg bener marketingannya cuma bilang gitu ke saya.
Berita ini saya bagikan tanpa embel2 “mungkin dan titip “pesan” dari saingan GDC) 
Akh..ya sudahlah bu, saya udah ikhlas. Males ngingetnya lagi.
Btw, pak Hendra.. masih AJB kan pak? di BPN udah berapa lama ngurus dan belum jadi sertifikat ya pak?…Selamat berjuang ya pak! 
sekedar penegasan.
yg saya tuturkan bukan pendapat, tapi fakta lapangan. bukan fitnah bukan titipan pesan. Mo percaya atau nggak ya terserah. Mending rekan2 yg mo beli di GDC boleh mengecek dan menguji kebenaran fakta yg saya info disini.
peace akh!.. 

26.    himawari Berkata:
April 24, 2008 pukul 1:40 am
Sekedar tambahan.
Konsul dgn notaris saya. AJB (Akta Jual Beli) itu sifatnya rentan sengketa, lain kalau punya sertifikat HGB yg kemudian bisa dialih statusnya ke SHM. Mmg prosedurnya ngurus di BPN resminya 6 bulan, tapi nggak ada jaminan karena terbukti rekan2 diatas ada yg dari tahun 1998 sampai sekarang sertifikatnya nggak keluar2, dan masih AJB terus.
Oh iya..IMB mmg bisa didapat cukup dengan AJB, tapi bukannya ini kewajibannya developer, bukan pembeli kan pak?..he..he..he…
Alam segar, pemandangan indah, asri dan janji2 fasilitas mmg indah, tapi bagi saya nggak ada gunanya kalau kelak rumah itu tidak punya status hukum yg kuat dan tidak ada jaminan seperti itu pula dari pihak developer.
Yg dibeli kan rumahnya, sedangkan pemandangan indah, segar dan asri +fasilitas2 itu adalah penunjangnya 
Ini bukan opini loh pak, kl opini mmg sifatnya subjektif dan relatif, sedangkan yg saya pertanyakan dan saya temukan dilapangan itu murni objektif.
Makanya saya memberi masukan agar rekan2 yg masih belum akad di GDC ngecek fakta2 lapangan yg saya temukan itu benar apa tidak, kira2 wajar aja, tentu ini dengan itikad baik dan jgn cuma dengerin kata si A dan kata si B, betul?.. 
Dulu juga bangun jembatan sama jalan habis bermilyar milyar, tapi toh nggak jaminan sidevelopernya lanjut pembangunannya.
GDC developernya mmg pintar kok pak, kalau nggak pintar bosnya nggak mungkin kaya dan jadi pengusaha!..he..he..he..
Peaceakh! 

27.    himawari Berkata:
April 24, 2008 pukul 4:38 am
Nggak ada yg bilang bapak ngebujuk orang dan
saya juga tidak membujuk rekan2 menjauhi GDC loh pak.
Itu semua terserah rekan-rekan disini loh! 
Namanya juga saran dan bagi2 info, diterima atau nggak, nggak ngaruh buat saya, hanya saja saya jelas salah kalau nyimpan info dan fakta2 yg saya temukan hanya untuk diri sendiri aja.
Saya baru denger kalau ngurus IMB itu bukan kewajiban developer?..kl gitu semua calon pembeli perumahan harus ngurus IMBnya sendiri ya pak? bukan urusan developer?
kalau pak Hendra sih wajar ngurus IMB nya sendiri, kan belinya sama DAKSA bukan sama GDC.
Terimakasih atas kejujurannya ya pak.
Ini semakin membuktikan kepada saya bahwa mmg GDC nggak bisa ngasih jaminan pengeluaran surat sertifikat HGB setelah lunas dan penghuni sekarang hanya pegang AJB saja (moga2 nggak lewat 6 bulan ya pak, saya tulus mendoakan)
Ini bukan “nada sumbang” loh pak, sekedar penyajian fakta lapangan yg saya temukan dan bisa diuji kebenarannya.
kalau rekan2 yg lain ya terserah mau putuskan bagaimananya 
Nggak usah marah2 sama kesel donk pak..peace ya?..
selamat membangun sendiri rumahnya ya pak! 

28.    anton Berkata:
April 24, 2008 pukul 6:56 am
inti persoalannya sederhana jika GDC mau maju:
jual rumah dengan spesisfikasi dan harga ajelas, berikan kepastian rasa aman, nyaman, fasum/fasos ada dan kejelasan dokumen kepemilikan…..petugas marketing jangan jangan jawab kami hanya jual rumah, tetapi yang lainnya tidak tahu.
Berikan AJB, sertifikat kepada konsumen lama yang sudah mungkin ada yang sudah nunggu sangat lama.
Dalam kepuasan konsumen, sebenarnya terkandung suatu do’a kebaikan , sebaliknya dalam ketidakpuasan konsumen, terkandung do’a pula, tetapi doa’nya orang teraniaya….Nah yang ini harus dihindari.

29.    Obby Berkata:
April 24, 2008 pukul 8:57 am
Yang ngaku penghuni kok pada takut nyebutin alamat rumahnya secara jelas yah… (nama jalan, no. rumah, RT/RW, dll.).

30.    himawari Berkata:
April 24, 2008 pukul 9:25 am
mas Obby….
Coba perhatikan dan baca dgn teliti sekali satu satu..keliatan kok mana yg asli dan palsu 
ciri2: emm…ngeles kl diajak membahas masalah sertifikat sama dokumen legalitas..yg ditonjolkan pasti bangunan sama fasilitasnya..he..he..he..
saya tadinya mo ambil di ALPINIA, dapetnya di blok A..nomor?..eits..ntar dulu…saya bisa nebak kok disini ada orang2 marketingannya GDC ikutan nimbrung..coba yg merasa..siapakah saya?..(tebak-tebak buah manggis…?  )

31.    anton Berkata:
April 24, 2008 pukul 10:13 am
jika kubaca ada 3 pihak, pembaca :1. marketing yang nulis seolah-olah sudah pesan rumah……, 2. calon konsumen baru yang kesel dan 3 konsumen eksisting ada yang kesel karena belum dapat AJB, ada yang ikut mantau …..ngga apa rame…..Semua punya kepentingan/harapan, tinggal bagimana dapat disimak, dipahami dan dipenuhi agar adem

32.    ilham Berkata:
April 24, 2008 pukul 10:26 am
harapan marketing :
produknya laku keras dapat komisi/fee
harapan konsumen :
rumahnya awet, aman, nyaman, bersih, asrsri, fasum/fasos memadai, AJB/sertifikat jelas setelah lunas.
harapan bank
dapat profit dari pinjaman ke konsumen dan kredit tidak macet
harapan perusahaan
kawasan berkembang dan dapat profit
harapan pemerintah
kawasan berkembang dan kehidupan masyarakat meningkat.
Marketing yang cerdas harus dapat meakomodir harapan-harapan tsb, tidak sekedar bikin opini-opini telah beli rumah, tetapi berikan penjelasan yang komprehensif dan logis. Selamat.

33.    himawari Berkata:
April 25, 2008 pukul 1:43 am
makasih pak Anton dan pak Ilham 
satu lagi…
sebaiknya rekan meluangkan waktu konsul sama notaris atau orang2 yg ngerti hukum pertanahan sebelum beli rumah agar bisa memahami mana hak2 dan kewajiban konsumen serta hak2 dan kewajiban developer.
Satu yg saya pelajari dari notaris saya, beliau menyarankan kalau lunas KPR jgn mau cuma terima AJB karena Akta Jual Beli rawan digandakan dan bisa berpotensi sengketa dgn pihak lain. Mintalah sertifikat HGB (Hak Guna Bangunan) yg bisa rekan alihkan statusnya ke Sertifikat Hak Milik karena posisi hukumnya jauh lebih baik dan lebih terjamin.
Salam sejahtera selalu 

34.    ilham Berkata:
April 25, 2008 pukul 2:57 am
Betul pendapat pak Himawari.
Kkita harus berusaha menjadi konsumen yang cerdas, , tenang dalam menentukan pilihan produk, tidak terpancing emosional iming-iming yang tidak logis, pelajari kemampuan keuangan keluarga, pelajari hak dan kewajiban (aspek hukum), seperti undang-undang konsumen, agraria, pajak, lingkungan dsb. Pelajari lingkungan dimana nanti kita akan tinggal, seperti jarak ke sekolah anak, pasar rumah sakit dll.
Informasi yang lengkap, tentunya dapat meminimasi resiko anda semua dalam menentukan pilihan.

35.    Shalahuddin Ayyubi Berkata:
April 25, 2008 pukul 9:12 am
Pak Hendra yang baik, bapak punya tanah di sektor mana dan blok berapa ? Tentang sertifikat, yang saya tahu salah satu syarat sertifikasi tanah di BPN adalah adanya Roya Parsial. Roya Parsial adalah kesediaan pemecahan satu sertifikat induk (ukuran sangat luas) untuk dipecah menjadi beberapa sertifikat (dengan ukuran lebih kecil), karena sertifikat suatu perumahan masih berupa sertifikat induk. Sementara sertifikat induk kawasan kota kembang masih dipegang Bank Artha Graha. Kenapa dipegang BAG ? Karena utang Inti Karsa Daksa masih belum dibayar. Jadi, kok sepertinya mustahil bin ajaib kalau status tanah bapak akan jadi sertifikat (HGB).
Salam Pembebasan !!!

36.    UCOK Berkata:
April 28, 2008 pukul 1:42 am
PENGUMUMAN !!!
JANGAN PERCAYA DENGAN GDC KARENA SEMUA ORANG2 DISANA TAK LAIN DAN TAK BUKAN MANTAN2 ORANG2 INTI KARSA DAKSA.
UCOK
PEMILIK RUMAH DI SEKTOR ANGGREK 3, 2 TAHUN MENUNGGU TAK KUNJUNG DIBANGUN, TAHUN 2005 MASUK DENGAN PAKSA DI BLOK YANG LAIN, SEKARANG RUMAH HANCUR TOTAL , TIDAK BISA DI HUNI, SURAT TAK PERNAH ADA.

37.    Shalahuddin Ayyubi Berkata:
April 28, 2008 pukul 1:55 am
Yth. Pimpinan GDC (PT Inti Karsa Daksa, PT Dinamika Alam Sejahtera, PT Sumbermitra Sarana Realtindo, PT Duamitra Suksessentosa dan PT Jaka Inti Realtindo)
Mohon dapat diberikan penjelasan (jawaban) atas pertanyaan dari Ibu Seti. Barangkali bisa sekalian juga dijelaskan (dijawab) bagaimana dengan proses sertifikasi kawan-kawan penghuni lama Kota Kembang, khususnya di Sektor Anggrek 3, lebih khusus lagi yang sudah menyelesaikan kewajiban pembayarannya (cash). Kami sudah menunggu 5 tahun (tanpa penjelasan). Sampai kapan lagi kami harus menunggu ?
Terima kasih sebelumnya atas penjelasan (jawaban) yang akan diberikan. Kami semua ( baik penghuni lama, pembeli rumah di GDC dan CALON PEMBELI DI GDC) menunggu penjelasannya.
Salam Pembebasan !!!

38.    himawari Berkata:
April 28, 2008 pukul 3:59 am
Kalau info yg saya bagi disitus ini, saya jamin benar!
Nggak dikurangi atau dilebihkan. Bisa dicheck langsung ke lapangan alias ke kantor GDC dan counter ke orang2 marketingannya. Silahkan tanya apa developer bisa ngasih surat jaminan bahwa setelah lunas dapat sertifikat HGB atau tidak? (normalnya perumahan kalau lunas ngasih sertifikat HGB bukan AJB)
- minta mereka menunjukan pihak mana yg pegang sertifikat induk tsb
- Minta kesediaan developer memperlihatkan fotocopy sertifikat induknya.
Coba konsul sama notaris rekan-rekan ya:
Apa IMB itu diurus sama pembeli bukan sama developer?
Apakah AJB itu rawan atau tidak digandakan sama pihak penjual dan rawan sengketa?
Apakah mungkin nggak ngurus sertifikat HGB cukup pakai AJB tanpa roya parsial?
Apakah kalau beli rumah di perumahan umum dapet AJB atau HGB?
Saya nggak takut bilang saya termasuk golongan no.2 yg dibilang pak Anton alias customer baru yg kecewa (dan kecele..he..he..he..)
To mbak Seti, coba mbak check aja langsung ke lapangan jgn kata si marketing A simarketing B, tanya sama petugas pejabat pertanahan di Depok, ada nggak penghuni GDC atau eks. Kota Kembang yg terdaftar punya HGB apalagi SHM, pasti jawabannya adalah TIDAK (ini fakta bukan opini)
Sabtu siang kemaren, istri saya ditelpon lagi sama GDC dan masih nanya kenapa cancel dan ditanya sama istri saya, siap nggak ngasih surat jaminan kl lunas dikasih sertifikatnya?..dijawab lagi sama orang marketingannya (perempuan) “Akh..itu gampang, urusannya NANTI bu…!”
Gampang buat siapa? buat marketingannya ya gampang donk wong nanti kalau susah tinggal njawab “Itu bukan urusan sayaa….,” he..he..he..he.. 
Ya dijawab lagi sama istri saya:”maaf mbak, kl nggak ada kepsatian dan jaminan gitu kami tetep batal aja mbak, nggak jadi beli.”…ee…langsung jawabnya:”ya sudah!!,” BRUUKK langsung telpon ditutup… 
Ampuun deh…minta kejelasan sama jaminan aja kok susah bener dari GDC…ck…ck…ck….

39.    Shalahuddin Ayyubi Berkata:
April 28, 2008 pukul 5:24 am
Salam juga Pak Hendra. Terima kasih atas sarannya.
Dan kalo saja para Pimpinan GDC (PT Inti Karsa Daksa, PT Dinamika Alam Sejahtera, PT Sumbermitra Sarana Realtindo, PT Duamitra Suksessentosa dan PT Jaka Inti Realtindo) juga mau membaca dan mau ndengerin saran Bapak. Sehingga kami tidak perlu membuat somasi 1, 2 dan 3 dan harus bolak-balik untuk mengikuti jalannya sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.
Dan kalo saja Pimpinan GDC (PT Inti Karsa Daksa, PT Dinamika Alam Sejahtera, PT Sumbermitra Sarana Realtindo, PT Duamitra Suksessentosa dan PT Jaka Inti Realtindo) masih mempunyai naruni, maka beliau-beliau segera turun tangan untuk menyelesaikan urusan sertifikasi tanah dan rumah kami, dan bukannya malah mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta, karena masih tidak merasa bersalah (kalo belum memberikan sertifikat kepada konsumen yang telah memenuhi kewajibannya/udah lunas).
Kalo saja, beliau-beliau sadar, bahwa developer yang benar adalah yang segera mengurus sertifikat para konsumennya. Kalo saja, ……
Tapi dengan mengucapkan Bismillah, kami akan tetap menuntut dan merebut hak kami, sekali lagi hak kami. Mohon doa dan bantuan dari temen-temen.
Salam Pembebasan !!!

40.    naruto Berkata:
April 28, 2008 pukul 6:21 am
demi kejujuran…
ketika beli di kota kembang ternyata memang penuh masalah dan harus punya kesabaran yang tiada taranya.
- imb tidak ada, kalo mo urus sendiri bayar sendiri
- sertifikat tidak ada, kalo mo urus sendiri bayar sendiri
- jalan rusak, kalo mo bagus ya perbaiki sendiri bersama temen2 se-cluster dan patungan bersama temen se-cluster.
- keamanan baik, kalo mo manajemen sendiri bersama temen2 se-cluster dan iuran bersama temen2 se-cluster.
- kebersihan, kalo mo manajemen sendiri bersama temen2 se-cluster dan iuran bersama temen2 se-cluster.
dan hal ini masih terjadi sampai dengan saat ini.
kalaupun ada yang dibuat developer, just and only one ya water park itu… itupun untuk kepentingan pemasaran…
so mo beli rumah or waterpark ???

41.    jarot Berkata:
April 28, 2008 pukul 7:13 am
Seru juga juga bahasan mengenai GDC,
Kalo sebelumnya sudah ada saran cek ke BPN, Notaris
saya ada saran khusus untuk CALON KONSUMEN GDC ;
1. Tanyakan kepada customer lama / penghuni di sektor ; Anggrek (1,2,3), Puri Insani, Melati berapa lama mereka bisa memperoleh Sertipikat, atau berapa lama mereka menunggu ? berapa orang mesti pake gebrak2 meja segala ? (This TRUE STORY / FACT not Fiction)
Saya juga gak habis pikir sama pengembang GDC, khan sudah ada sektor Melati kenapa pula dibuat sektor Jasmine yang artinya sami mawon.
Juga ada sektor “Vila Mutiara Cinere 2″ Cinere ? ini khan lokasi di kec. Sukmajaya Depok, apa gak nyasar tuh nyari alamat ke Cinere sana!.
kaya’ gak ada konsep bikin master plan pengembangan wilayah.
Saran saya teliti sebelum membeli.
Peace!

42.    warman Berkata:
April 28, 2008 pukul 7:28 am
memang betul ada yang sudah sertifikat, pada umumnya kavling-kavling tsb dimiliki pegawai/penjabat eks Daksa, agar secara pribadi mereka aman, baik untuk digunakan/dijual ulang………Nah sebagai masih menjadi sertifikat induk (dijaminkan di bank) belum dipecah jadi roya parsial.
Rumah yang bersertifikat, dahulu sertifikatnya tidak masuk ke sertifikat induk, tetapi milik perorangan ….jadi pembuatan roya parsial, AJB, sertifikat HGB, dan SHM, relatif lebih cepat, dengan mengeluarkan biaya ’swadana’…..Nah pak Hendra, kebetulan membeli tanah/rumah dari kelompok yang ini, jadi dia tidak menghadapi masalah.
Kesimpulan akhirnya, tinggal ada pada niatan saja, apakah mau diselesaikan atau tetap dibiarkanbegitu saja .

43.    rita Berkata:
April 28, 2008 pukul 7:48 am
simple aja, jika aku jadi bos/marketing GDC
Waterpark diselesaikan dengan baik, terus disediakan panggung yang besar dan luas…….warga lama diundang untuk diberikan AJB/ sertifikatnya……..dan developer lama juga jangan ngumpet, tapi tampil dan minta maaf…….atas kesalahannya……Kasihan kan tuh temannya, investor baru….nila settik jadi rusak susu sebelanga…..Developer lama ntah kemana ?….Developer baru bersabar aja yah dan buktikan dong, bahwa anda beda…Cantik, elegant, handsome….percaya diri,, dan jangan berbohong……Kata lagu jangan ada lagi dusta diantara kita. Cape deh ah ?…. ..

44.    koko Berkata:
April 28, 2008 pukul 10:42 am
Shalahuddin Ayyubi yang baik, keliatannya memang susah membukakan pintu hati orang2 yang sudah terlena dengan uang yang bukan HAKnya.
Pak Hendra, saya tidak tahu ..apakah pak hendra itu dari pihak DAKSA/DAS ato konsumen. andai bapak dari pihak daksa ..tolong di telaah dari komentar pak Shalahuddin bahwa beliau sudah menempuh jalur hukum. artinya di jalur hukum itu banyak tahapan2 yang harus di lalui yaitu somasi 1/2/3 , pembuktian 1/2/3, menghadirkan saksi2 dan sebagainya. dalam tahapan tersebut terbuka lebar bagi developer untuk menunjukan itikad baik melalui pengacara untuk bicara secara bersama2 tetang penyelesaian sertifikat yang sudah di tunggu sangat lama. dari pihak pak Shalahuddin samapai sekarang masih membuka jalan diskusi untuk maslah itu. sampai sekarang tidak ada itikad baik dari DAKSA.
Pak Shalahuddin bisa saja melakukan demo ke kantor pemasaran agar GDC terganggu pemasarannya, tetapi beliau tidak melakukannya karena beliau hanya mau HAKnya untuk mendapatkan Sertifikat di dapatnya.
saya merasa wajib menyampaikan berita ini..kalo tidak di sampaikan berdosa…
Salam..

45.    farah Berkata:
April 29, 2008 pukul 1:45 am
saya membeli kavling di anggrek 2 oktober 2004 secara cash. beaya retensi dan ajb dibayar belakang, dijanjikan 1 tahun sertifikat keluar. wah bikin capek, nodongin pengembang n marketingnya. baru pada awal 2007 saya dihubungi untuk melunasi retensi dan Ajb. dan pertengahan 2007 ajb dilakukan di depan notaris ibu yani suryani, gobloknya lagi saat itu saya mau tanda tangan diatas berkas berkas-berkas kosong, saya lakukan diatara frustasi dan harapan. september 2007 saya hub. ibu yani dan saya dapat kopian ajb saya, tapi AJB asli tidak gak bisa diambil, karena katanya ia belum dibayar GDC, lho saya jadi heran padahal saya bayarkan uang itu ke rekening beliau…..
sekarang saya masih berharap tanah saya jelas statusnya… saya udah bosan nelp bagian hukum di GDC,notaris, marketing…mesk marketing yang menjual masih tetap ramah… tapi kalau ama bagian hukumnya saya pasti dilempar kesana kemari……
salam

46.    himawari Berkata:
April 29, 2008 pukul 2:18 am
Setuju sama pak Koko! 
saya juga turut mendoakan pak Shalahuddin Ayyubi..
Jangan nyerah sama orang2 seperti mereka pak!..
Ingat selalu bahwa TUHAN TIDAK PERNAH TIDUR dan KEBENARAN ITU PASTI MENANG!!
Jujur saya kaget ada fakta lain dibalik HGB dari postingannya pak Warman…ternyata ada praktek yg begitu ya pak…ck..ck..ck…pantas aja….
pak Jarot…biarpun kota kembang sudah ganti owner tapi ternyata managemen dan marketingannya sami mawon alias sama aja!..
Seperti yg saya ceritakan diatas tadi, toh minta kejelasan sama jaminan aja nggak bisa alias jawabannya “ah gampang, urusannya nanti.”…CJKD…Cape Juga Kita Deeeh…. (ya nggak mbak Rita?…  )

47.    Ikiyono Berkata:
April 29, 2008 pukul 3:46 am
Buat Bapak Ibu semua yang terhormat, membaca argument masing2 sangat seru sekali, sehingga apabila pihak GDC membaca situs ini ini saya yakin, mereka akan mentertawakan kita terkekeh kekeh, karena diantara sesama korban justru saling berantem meskipun hanya melalui kata2. Menurut saya perbedaan itu adalah anugerah, jadikan perbedaan pendapat utk mencari solusi. Saya pernah menyampaikan di situs ini ini sebelumnya, entah berapa ratus bahkan ribuan mungkin yg jadi korban GDC (kota kembang), alangkah bagusya bila kita sesama korban maupun penghuni menyatukan pendapat untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi bersama. Saya yakin apabila kita bisa bersatu untuk memberikan tekanan kepada pengembang akan lebih efektif dibandingkan apabila masing - masing korban dateng sendiri ke pemasaran ngomel2 sama marketing, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Kebetulan di sektor kami ada situs ini yg bisa utk kominukasi sementara http://www.sektorgardenia.situs inispot.com.
Demikian tanggapan saya, mohon maaf kalo kurang berkenan dan terkesan menggurui.
Wassalam.

48.    himawari Berkata:
April 29, 2008 pukul 5:42 am
sayang sungguh sayang..terkadang sudah memberi solusi pun masuk telinga kanan keluar telinga kiri dan betul seperti yg dikatakan pak Ikiyono, kalau sendirian mmg cenderung nggak dianggap + tidak ditanggapi oleh pihak GDC. Wong saya sama istri udah kasih solusi dan masukan positif sbg konsumen ya dapetnya respon yg saya ceritakan sebelumnya itu..
Buat yg punya kepentingan kalau tambah banyak orang yg tinggal disana ya tambah untung (walau tanpa dokumen kepemilikan yg jelas dan kuat dan bikin rugi calon konsumen baru),
Sudah pasti apapun fakta2 yg negatif dan yg ketemu dilapangan pasti dibilangnya kontrapoduktif atau dibilang sekedar nada sumbang, belum lagi dibilang pula itu cuma opini pribadi… Memang sih calon konsumen rugi nggak ada apa2nya dibandingkan sama yg sudah terlanjur. Duit 1 juta x 100 orang yg “kena” udah 100 juta tuh….haduh..CLDK nih…Cape Lagi Deeh Kita…… 
(pak priyadi yg kena kasus kemaren harusnya baca situs ini ini nih, biar bisa klarifikasi tuh diapain aja sama marketingan dan bagian legalnya GDC…)

49.    iwan Berkata:
April 29, 2008 pukul 7:33 am
Oleh-oleh dari situs ini lainnya?:
Hari ini saya kesal dan benar2 marah!!!! sabtu 26 april 2008 kemaren saya dapat telpon gembira dari bank artha graha cabang jatinegara, “besok selasa bapak bisa AJB di Kantor Pemasaran Grand Depok City, silakan lakukan pembayaran sejumlah Rp 8.257.726,-” Hari ini senin 28 April saya melakukan pembayaran dengan semangat ‘45! Namun… ketika saya kembali ke kantor dan baru berjalan kira2 25 menit dari Bank, telpon saya berdering, “maaf pak, untuk AJBnya tunggu konfirmasi lagi…” kenapa? tanya saya menahan emosi, “iyah, pihak developer harus membereskan ini itu bla bla bla…! ooooh shit!!! pengen meledak rasanya isi kepala… saya tidak bisa komentar apa-apa…SILAKAN PARA PEMBACA MEMAKNAI tulisan saya ini sendiri

50.    himawari Berkata:
April 29, 2008 pukul 8:07 am
sabar pak…sabaarrrr……ada yg bilang:
apalagi bagi calon konsumen yang belum begitu besar kerugiannya dibandingkan dengan konsumen yang sudah jadi dan keluar uang serta berharap dapat nilai investasi baik di GDC ke depan.
(padahal pada prinsipnya sama2 rugi juga, nggak cuma rugi duit, rugi waktu rugi tenaga, rugi ngomel, rugi stress, mumet akh..!)
Udah deh pak Iwan..saya cuma bisa bilang: Welcome to GDC!.. selamat berjuang!!..
Buat rekans yg belum kena:, ada kata2 bijak dari Bang Napi di acara BUSER:
Kejahatan terjadi karena ada niat sipelaku dan kesempatan!! Waspdalah!!..Waspadalah!!…. 

51.    Kiki Berkata:
April 29, 2008 pukul 8:53 am
Wuih…….!! Seru, seru deh GDC ini, sepertinya GDC berhak mendapatkan Award ” Juara di Complain”, “Sensasional”. Begitu banyak nada sumbang, begitu banyak korban

52.    jarot Berkata:
April 29, 2008 pukul 9:33 am
Alooo semuanya…
sudah baca surat pembaca harian Republika tanggal 28 April 2008 belum?
judulnya “JANJI PALSU PENGEMBANG GRAND DEPOK CITY ”
WASPADALAH…
WASPADALAH…
Peace !

53.    Kiki Berkata:
April 30, 2008 pukul 3:14 am
Saya sudah baca korannya, itu dr P Eddy, pembeli Cluster Gardenia Blok R2 Kota Kembang. Beliau membeli rumah secara tunai, dan dijanjikan pd tgl 26 Feb 07, 8 bln kedepan pihak pengembang akan menaikan status IMB Rmbug menjadi HGB Induk, AJB akan ditandatangani setelah HGB Induk itu selesai, jg balik nama pd pecahan Sertifikat tersebut setelah 8 bln penandatanganan AJB. Maret 08 diberitahukan lagi proses peningkatan menjadi HGB Induk baru akan terjadi Juli 08 nanti. P Eddy merasa ditipu, hanya diberikan janji2 saja. Begitu.

54.    Kiki Berkata:
April 30, 2008 pukul 3:18 am
Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, saya mo kirim surat neh ke GDC, mohon masukannya ya..
Kepada Yth,
Developer Grand Depok City (GDC)
Depok
Up. Bagian Legal.
Perihal : Penyelesaian Masalah Sertifikat.
Dengan Hormat,
Sehubungan dengan banyaknya berita dan opini-opini miring, sekaligus complain para pembeli dan calon pembeli mengenai perumahan GDC, baik itu di forum terbuka di Internet ataupun di Media Cetak (Harian Republika , Kolom Opini hari Senin tgl 28 April 2008), terutama masalah Penerbitan Sertifikat .
Maka dengan ini, Saya pribadi selaku pembeli Rumah di GDC Puri Insani , juga mewakili teman-teman yang lain , sangat mengharapkan adanya Respon dari Pihak Developer GDC, khususnya bagian Legal untuk memberikan Pernyataan / Penjelasan / Jaminan yang dapat kami terima mengenai masalah tersebut. Hal ini sangat kami harapkan agar kami merasa lebih aman dan tidak merasa dipermainkan oleh pihak Developer GDC. Kami telah mempercayai GDC untuk mengelola Investasi kami, mewujudkan rumah idaman, dan kami mohon agar Pihak GDC tidak menyia-nyiakan kepercayaan kami itu.
Kami yakin, Pihak GDC berniat baik untuk menyelesaikan masalah yang ada, dan kami juga memaklumi bahwa memang itu tidaklah mudah, telah begitu banyak pihak-pihak yang telah dikecewakan. Dengan ini kami sekali lagi mengharapkan Respon dari Pihak GDC untuk mewujudkan niat baiknya itu. Hal ini sangat penting bagi kami, juga bagi calon pembeli lainnya, yang tentunya akan berdampak pula pada perkembangan/kemajuan GDC itu sendiri, karena sebenarnya banyak yang tertarik untuk membeli rumah di GDC, tetapi mereka mundur karena Penyelesaian sertifikatnya tidak jelas.
Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasama yang baik, kami ucapkan terima kasih,
Salam

55.    naruto Berkata:
April 30, 2008 pukul 4:52 am
kalo boleh saya berkomentar tuk bu / pak kiki mengenai rencana surat tersebut. mudah2an ini bukan sebuah apriori tapi untuk memberikan masukan yang tepat dan mungkin teman2 yang lain juga dapat membantu.
- hal yang mungkin akan dijawab oleh pihak pengembang adalah bahwa pengembang yang sekarang tidak ada keterkaitannya dengan pengembang sebelumnya.
(padahal jelas2 lahan dan manusianya itu2 aza, ganti topeng boleh aza tapi untuk perbaikan)
- info aza nich, masalah ini bukan hanya ada di internet dan surat kabar tapi juga sudah di pengadilan… insya allah kebenaran akan terkuak dan menjadi pemenangnya, amin…

56.    gondok Berkata:
April 30, 2008 pukul 6:16 am
Bagi-bagi pengalaman nih ttg perumahan di GDC, sy beli di Sektor Gardenia, pada awalnya sich, pada gambar pada waktu saya beli rumah th 2004, perumahan akan dikelilingi tembok, nyatanya boro-boro ada temboknya, rumah saya sudah 2 x dimasukin maling, karena banyak akses jalan masuk, disamping itu jalanan yang menuju kerumah saya longsor, kita sudah laporkan ke Developer, hanya diuruk tanah saja dan sekarang sebagian longsor kembali.
Developer GDC ibarat orang cacat, sudah buta, budek dan lumpuh, buta (dia tidak pernah mau melihat apa ya dijanjikan pd waktu menjual, dengan kenyataan yang ada)
Budek (melihat aja tidak mau, apalagi mendengar)
Lumpuh (Tidak/lambat dlm menanggapi keluhan)
Sebenarnya saya menyesal membeli rumah di GDC, tp sudah terlanjur. Makanya ini sekedar informasi/ pertimbangan diluar masalah surat-surat, bagi yang akan membeli rumah di GDC

57.    martin Berkata:
April 30, 2008 pukul 4:01 pm
wah…saya salah pilih developer kalo begini, saya sudah booking fee 1.8JT dan DP 40JT. saya akan melakukan survei ke warga di sektor anggrek mengenai surat2nya. hanya utk pembuktian buat diri sendiri. kalau memang benar surat2 bermasalah, saya mau tarik aja tuh 40JT. ilaaang deh 1.8Jtnya
;-(.

58.    himawari Berkata:
Mei 1, 2008 pukul 8:40 am
mas Ferdy..
saya belum bayar DP dan nggak jadi tapi udah masukin uang tanda jadi, itu kan juga duit mas?..betul? walaupun ada yg bilang itu ngga besar, tapi nyarinya pakai cara halal dan penuh perjuangan loh mas? kl ikhlas diberikan sih nggak apa2 tapi kalau kena bo’ongin kan pasti nggak ikhlas? Jaman sekarang uang segitu juga cukup berarti bagi pekerja seperti saya (tapi kl yg merasa cukup kaya and pikir 1 juta is nothing yaaa…..itu saya no comment deh  )
Yakin deh mas juga sama gondoknya kalau dibohongi seperti itu.
Mas Ferdy jgn salah paham, saya nggak ngeflame loh mas. Yg saya tulis disini nggak cuma sekedar ungkapan kekecewaan saja dan opini karena kecewa tapi banyak juga fakta2 yg saya bagi buat rekan-rekan yg saat ini mungkin lagi mikir2 mo ambil unit disana dan belum nyetor uang apapun.
Saya nggak niat nyari untung apapun mas kalau mas bilang saya ngeflame-in rekan-rekan disini 
tapi saya jelas berdosa dan bersalah kalau saya tahu ada yg nggak beres di GDC ini tapi hal tsb saya simpen sendiri dan tidak saya beritahukan kepada rekan-rekan.
Bu kiki…saya tegaskan bahwa saya tidak mendramatisir keadaan! yg saya info hanyalah semata2 pengalaman saya dan istri dgn GDC, kalau ibu bilang mendramatisir berarti saya ngarang cerita dooonk?..saya nggak jago ngarang kok bu..swear! 
Saya dan istri bersyukur nggak jadi beli.
Sekedar ibu tahu, waktu masih kota kembang saya udah “kejeblos” 5 juta dan ganti jadi GDC “kejeblos” lagi 1 juta jadi total 6 juta pada orang yg sama??…Yes!!…
bodoh memang! 
Rekan2 boleh kok ngetawain saya..he..he..he..(saya masih simpan kuitansinya sampai sekarang 2-2 nya!) semua itu karena pemikiran saya bahwa GDC berbeda dengan Kota Kembang! ..tapi ternyata saya salah total!
Apapun dan bagaimanapun, saya turut mendukung perjuangan para rekan yg sudah terlanjur berurusan sama GDC. Semoga perjuangannya berhasil!  kalau sudah sukses dan semua rumah disitu ada sertifikat HGB atau SHMnya, moga2 saya dimasa depan nanti mau beli..he..he..he..
Saran saya buat bang Martin.
Coba bang Martin minta surat jaminan dari pihak legal developer bahwa setelah anda lunas KPR nya, anda akan dapat tidak hanya AJB tapi sertifikat HGB yang menjadi hak anda!..pastikan, semua janji2 manis itu tertuang diatas kertas bersegel dan berstempel GDC serta bertanda tangan pejabat GDC yg berwenang!
demikian tips saya untuk bang Martin. Selamat mencoba ya bang! 

59.    Iya Berkata:
Mei 2, 2008 pukul 2:27 am
Rekan-rekan sekalian,
Saya tinggal di sektor melati, dulu beli dari Daksa tapi sampai sekarang belum dapat sertipikat, saya dapat undangan dari GDC untuk tanda tangan AJB, katanya pihak GDC akan membantu penyelesaian masalah sertipikat konsumen-konsumen Daksa, untuk itu saya diminta untuk bayar BPHTB yang boleh dibayarkan via Notaris Yani Suryani untuk syarat AJB.
Saya sebenarnya nggak keberatan, senang malah, klo ingat udah nunggu sekian lama, dan capeknya marah-marah terus sama orang-orang Daksa tp nggak ditanggapi.
Gimana ya? kira-kira GDC bisa dipercaya nggak? mohon sumbang saran dari rekan-rekan.

60.    lis Berkata:
Mei 2, 2008 pukul 2:43 am
Memang betul apa yang dialami bu/pa Iya, namun sebaiknya sebelum melakukan transfer, pastikan bahwa pembayaran yang kita lakukan untuk proses transaksi apa ?. Saya juga diminta transfer dahulu ke rekening tertentu, tetapi tidak dilakukan karena tidak ada bukti untuk transaksi ?. Sebaiknya prosedurnya, tanda tangan dahulu AJB antara pembeli dan developernya. Setelah ok yakin, baru bayar……..Kadang saya juga masih trauma…dan tidak begitu yakin

61.    Shalahuddin Ayyubi Berkata:
Mei 2, 2008 pukul 3:40 am
Yth. Para Pimpinan Kota Kembang Depok Raya/GDC (PT Inti Karsa Daksa, PT Dinamika Alam Sejahtera, PT Sumbermitra Sarana Realtindo, PT Duamitra Suksessentosa dan PT Jaka Inti Realtindo), apa kabarnya ? Lagi sibuk nyiapin roya parsial dan proses sertifikasi kami ? Alhamdulillah, semoga lancar dan cepet selesai.
Tapi sambil ngerjain itu, kayaknya sekali-kali anda-anda perlu kasih opini atau pendapat atau komentar atau tanggapan YANG BAIK dong.
Atau apa kita-kita semua harus ber SILATURAHMI dulu bareng-bareng ke tempat Bapak-Bapak. Kalo memang harus begitu, tolong dong undangannya dapat disampaikan ke alamat kami masing-masing. Sehingga waktunya bisa cocok dengan waktu luang Bapak-Bapak.
Buat Ibu/Mbak Kiki, mungkin suratnya jangan cuman ke situs ini saja, mungkin perlu ke situs/situs ini lain. Barangkali rekan-rekan ada yang bisa membantu menginformasikan alamat-alamat yang bagus dan punya massa pembaca yang luas.
Buat kang Ferdy, punya proyek perumahan dimana ? Siapa tahu kita atau saudara kita cocok tinggal di situ. Tapi gak pake perjuangan kayak di kota kembang khan ?
Salam Pembebasan !!!

62.    Eddy Berkata:
Mei 2, 2008 pukul 4:00 am
Hati-hati penipuan Grand Depok City…
Para pembeli harap berhati-hati untuk membeli rumah di lokasi Grand Depok City, khusus nya sektor-sektor yang sedang ditawarkan (Cluster Baru).
Saya Adalah pemilik rumah Blok R2/28 VMC 2 Grand Depok City Cluster Gardenia dimana melakukan pembelian secara tunai dari tahun 2005, dan sampai saat ini tahun 2008 belum memiliki AJB atau surat serta berkas apapun dari pihak pengembang yang sampai saat ini berkali-kali menghindar jika di tanyakan masalah tersebut.
Untuk pembeli yang akan akad kredit harap berhati-hati karena secara fisik bangunan untuk sektor-sektor tersebut belum selesai 80%.
Informasi untuk anda keluhan saya sudah dimuat di surat pembaca Bulan April di IndoPos, SINDO, Kontan, Warta Kota, dan 8 Koran Besar lainnya.
terima kasih

63.    Budi Berkata:
Mei 2, 2008 pukul 7:25 am
Hebat buat pak eddy, hati-hati salah complaint pak ……. GDC barui mulai 2007.
Cape dech…. kalau baca situs ini ini gak ada bagusnya kayanya tuch GDC, lebih baik bagi calon konsumen atau yang sudah jadi konsumen datangi aja rame-rame GDC, biar lebih yakin dengan kepastian hukumnya, kalaupun Sertipikat HGB belum dipecah jadi sertipikat HGB masing-masing itu semua ada prosesnya. Minta dech prosedurnya supaya jelas.
Perkiraan saya, untuk konsumen lama yang masuk Daksa sepertinya GDC tidak ambil alih kewajiban Daksa lama, yang sebenarnya akan merugikan GDC sendiri bila tidak dikemukakan kepada publik mengenai kewajiban Daksa tersebut.
Untuk Anggrek 2 setelah dilihat di lokasi, kayanya sudah ada perkembangan pembangunan rumah di sana seperti rencana perbaikan unit-unit bangunan yang 2 lantai bekas Daksa Blok M1, sekarang sedang dibangun/dilanjutkan pembangunannya, termasuk di bangunan belakangnya sedang di bangun lagi 1 (satu) unit rumah baru.
Untuk yang sudah punya kavling di Anggrek 2, bisa cek ke lokasi Anggrek 2, segera diurus saja IMBnya bila telah minimal ada AJB dan rencananya pada bulan Juni ini sudah ada pembangunan lagi 12 unit model minimalis di Anggrek 2 dari developer GDC di Blok S, karena untuk akses jalan sudah ada pembuatan jalan-jalan baru dengan menggunakan batu kapur putih, sebelum di hot Mix.
Hidup konsumen…….., jangan kalah dengan developer, mari kita bersama berjuang untuk kebaikan bersama……..

64.    himawari Berkata:
Mei 2, 2008 pukul 8:00 am
Setuju sama pak Budi! terutama kalimat terakhir di postingannya 
Buat rekan yang mau beli atau indent disana tips umumnya adalah:
Teliti sebelum membeli! Jgn terkecoh sama “kemasan” dan kecebur dua kali kayak saya..he..he..he.. 

65.    oji Berkata:
Mei 2, 2008 pukul 8:53 am
Pak gusa termasuk dalam kelompok yang beruntung, jika semua dokumen ok ada, tidak masalah untuk membelinya. Beli rumah, bukan sekedar fisik tetapi perlu diperhatikan aspek legal.
Hanya yang masih jadi persoalan kota kembang, masih ada juga yang belum memiliki sertifikat, tetapi telah menempati rumah, seperti pak Eddy, pak Shalahuddin. yang sudah lama menanti
GDC berada pada lokasi yang strategis, tinggal pengembang baru punya komitmen saja yang baik untuk membersihkan ‘masa lalu yang berdebu dan kelabu’. Bagimana ‘konsumen baru diburu dengan janji yang pasti’ dan ‘konsumen lama yang sudah membantu berinvestasi, tidak dibiarkan merana, ngedumel, kesel,….bahkan berdemo’.
Good luck , pasti dalam kesulitan ada kemudahan

66.    Eddy Berkata:
Mei 3, 2008 pukul 8:23 am
Pak Budi dan kawan-kawan,
Memang ada benarnya GDC belum ada thn 2007, namun waktu itu developer adalah peralihan Daksa, kemudian menjadi DAS (Dinamika Alam Sejahtera) anda bisa lihat surat keterangan yang telah diberikan pihak pengembang kepada kami sebanyak 3 kali ( 2006,2007,2008 ) yang hanya janji2 manis, namun kompensasi dalam masa tunggu adalah harapan kosong.
Semua komplaint saya tidak salah tujuan karena berikut mereka adalah JAKA group dan yang dimana DAS adalah salah satu segmentasi investasi mereka.
Jika ingin lebih jelas lagi ada bisa lihat index detik.com pada tgl 25 April 2008 pada suara pembaca.
Untuk masyarakat yang ingin membeli atau akad kredit bukan jangan salah kaprah, namun mending pikir2 5x ataupun tidak sama sekali.
Memang dahulu sempat ragu, namun kepalang basah apalagi kami membayar tunai bertahap, dengan iming2 dari mereka seabreg2 ( mana kulkas, mana TV, dan jaman nya VCD ) dan lebih parah lagi Voucher Pompa yang tak kunjung tiba.
Pemda Depok .. entah mereka sudah terbuai dengan iming2 pihak developer. Moga2 era baru pembenahan korupsi pada jajaran nya masing2 pemerintah depok sadar akan hal tersebut dan menindaklanjuti developer nakal tersebut.
Memang ada prosedur untuk segala hal, namun pikir kan kembali saya harus menunggu untuk prosedur tersebut selesai tahun ini semenjak pembelian tahun 2005… pikir baik2 saudara2 .. saya ikuti prosedur saya penuhi kewajiba sebagai konsumen .. namun apa yang didapat.. hanya janji belaka! Jika benar pihak developer mengikuti prosedur dan tidak “Fit a Complie” seharusnya saya sudah pegang AJB rumah dari tahun 2006 lalu.
Pikirkan kembali saudara2 kita, bagaimana mereka memeras keringat mereka untuk mendapatkan impian mereka .. “RUMAH”, notabene adalah tempat tujuan paling akhir ” HOme Sweet Home “, pikirkan bagaimana anda mendapatkan rumah anda, baik itu mencicil, tunai, atau pun pemberian alih.
Setidak nya mohon koordinasi dari rekan-rekan sekalian untuk memberi informasi kepada publik bahwa kebenaran adalah Grand Depok City a.k.a janji2 belaka.
Tidak percaya boleh cek di BPN, lebih tidak percaya Boleh tanya langsung sama saya!

67.    Eddy Berkata:
Mei 3, 2008 pukul 8:39 am
Bagi saudara-saudara marketing GDC yang ikut nimbrung,
tolong pikirkan kembali bagaimana nasib dan perasaan kalian jika posisi kalian sebagaimana manusia biasa yang punya hati nurani, tidak hanya memikirkan duniawi semata akan bonus.. bonus dan bonus dari penjualan yang kalian peroleh.
Kalian kerja buat cari uang, sama saya juga kerja buat cari uang. Kerja itu ibadah namun jangan disalah kaprah dengan memandang sebelah mata dengan halnya duniawi semata yang bisa menyenangkan kalian sesaat.
Jika kalian tahu bahwa yang kalian dapat itu tidak akan di bawa sampai ke liang lahat.
SABAR.. satu kata yang saya pegang semenjak tahun 2005 mendiami lahan Kota Kembang. Saya diplomasi, mediasi, tidak menggunakan kekerasan fisik seperti yang anda-anda mungkin pernah hadapi.
Saya hanya ingin mengetuk pintu hati nurani saudara-saudara sekalian, dan sampaikan amanah ini ke pimpinan kalian yang telah diberkahi posisi dan kedudukan yang seharusnya menjadi lebih bijaksana dan tahu apa artinya memimpin dalam membawa tugas dan jabatan yang telah diberikan sesuai dengan junjungan dari agama masing-masing.
Demikian adanya, Ass. Wr. Wbb.

68.    oji Berkata:
Mei 5, 2008 pukul 4:23 am
GDC dapat maju, jika paling awal melakukan tobat atas dosa-dosa yang telah diperbuat saudaranya Daksa Group

69.    Ikiyono Berkata:
Mei 5, 2008 pukul 6:06 am
Assalammualaikum wr.wb.
Salam buat Pak Edy, ternyata kita tetanggaan, hehehe. Kalo komplain jgn sendirian pak, cepek deh, ga bakal di tanggapin, wong marketing udah muka tembok semua, udah kebal. Paling banter jawabannya “Baru diusahakan” hehehe. Saya dah apal dengan jawaban marketing. Saya punya ide “Kita blokir aja kantor pemasarannya hari Sabtu, Minggu” kita selamatkan teman2 yang akan jadi korban kebiadaban GDC. Dengan catatan kita korban daksa (Perkosa = Persatuan korban Daksa) bisa kumpul. Biar Direksi pada melek terhadap masalah GDC, jgn2 selama ini ABS aja, sehingga para Direksinya tidak tahu permasalahannya. Karena saya pernah punya pengalaman, waktu saya komplain sama marketing bilangnya ini itu, pas saya cross cek langsung ke pimpinannya (Pak Bob) dia tidak tahu menahu. Jangan2 ada permainan kotor ditingkat pelaksana. Allahualam.
Mohon maaf kalo kurang berkenan.
Wassalam

70.    Eddy Berkata:
Mei 5, 2008 pukul 10:23 am
Pak Yono jangan lupa baca situs ini
petisi nya dikumpulkan
Saya mau PTUN DAS - GDC group ini
udah jalan proses BAP nya, tinggal pemanggilan orang-orang yang tidak bertanggung jawab ini untuk pertanggungan jawabnya. Untuk masalah ke YLKI sudah beres, mereka bisa proses detil-detil pasal-pasal berapa saja yang bisa dijerat ke Pihak GDC.
Pasti maju untuk warga, developer.. kelaut aja low.. 
Gw bakal bikin bangkrut lu punya Perusahaan.
Bapak - bapak yg lain bisa ikutan petisi tersebut kunjungi http://gardenia.tk
Kita selamatkan apa yang semestinya hak-hak konsumen (kata YLKI)
Mohon doa dan restunya.
Wassalam

71.    Eddy Berkata:
Mei 6, 2008 pukul 7:21 am
Untuk yang ikutan petisi,
kirim status rumah anda, pembelian, pembayaran, lokasi, model, no rumah, yang bisa mengidentifikasikan bahwa surat-surat anda belum beres bukan karena masalah administratif anda sendiri namun karena kesalahan developer.
ke email : eddy@msii-asia.com
Thanks

72.    Eddy Berkata:
Mei 6, 2008 pukul 7:25 am
Thanks Guys,
sudah terkumpul 23 Petisi, to be continue…
100 Orang .. Dijamin GDC dah pasti KALAH di PTN
Thanks bwt mas-mas yang sudah bwt web site ini … bener2 membantu
keep the spirit …

73.    ida Berkata:
Mei 6, 2008 pukul 8:05 am
Saran aje :
Biar banyak, tiap cluster dikumpulkan petisinya…dan terus dibuat aliansi aksi antar cluster…..

74.    farah Berkata:
Mei 7, 2008 pukul 2:34 am
makasih untuk masukan
Logged

indoro1ds

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 11
  • indoroids@f-mail.net
Re: Pengembang bermasalah di Grand Depok City - Kota Kembang Depok Raya
« Reply #1 on: September 02, 2008, 04:34:54 PM »


78.    Obby Berkata:
Mei 7, 2008 pukul 7:35 am
Pernah ada kasus (maaf lupa medianya).
Pembeli sdh melunasi cicilan kpr-nya yg terakhir setelah mencicil sekian tahun.
Dgn. senang hati menuju bank pemberi kpr utk. ambil surat2 rumahnya.
Ternyata… pihak bank berkata : surat2 yg dimaksud belum diserahterimakan dari developer. Dokumen yg dipegang hanya akad kredit.
Gak tau lagi gimana kelanjutannya.
Mulai sekarang, kita sebagai konsumen apapun, beli baru or seken (terutama rumah, krn mahalll boo…) mesti & kudu & wajib ngecek surat2 terlebih dahulu.
Jangan udah kejeblos ke dlm lobang, baru ngeh…
Yg. sdh akad kredit, trus dipantau ke bank/developer keberadaan surat2 tsb.
Yang mau cash, minta tunai per termin (maksudnya pembayaran mengikuti perkembangan pembangunan rumah + perkembangan surat2). Dimasukkan ke dlm klausul AJB.
Inilah yg saya lakukan, karena kita yg punya dana, seharusnya mereka mengikuti kita. Kalau mereka tidak mau, ya sudah, cari yg lain.
Klo developer yg ok punya, tidak masalah.
Jangan terpaku kepada rule of the game-nya developer.

79.    ilham Berkata:
Mei 7, 2008 pukul 9:02 am
Jika saya jadi pengembang GDC, sebelum membangun saya akan sowan ke tiap cluster dan menjelaskan rencana ke depan, terus minta maaf atas dosa ‘teman’ di masa lalu. Warga yang sudah lama menanti sertifikatnya dipanggil, jika perlu saya beri kado TV, motor sebagai permintaan maaf, terus sertifikatnya saya urus dan diberikan penjelasan statusnya.
Bagi konsumen baru, saya buktikan bahwa saya membuat rumah yang benar, benar secara fisik, benar secara persyaratan dan secara hukum. Konsumen yang berikan garansi kepastian.
Selanjutnya saya berdoa, semoga Alloh memberikan rizki yang baik dan kebaikan di dunia dan juga akhirat. saya tidak mau mati, penuh janji dan kebohongan kepada sesama. Saya ingin jadi developer yang kaya dan juga didukung dengan aliran do’a-do’a yang penuh keikhlasan.

80.    Aryo W Berkata:
Mei 7, 2008 pukul 9:16 am
Bu/Pak Kiki,
Apakah pihak Bank BTN menyatakan tertulis bahwa mereka menjamin surat2 tidak bermasalah?
Bagaimana masalah pembangunan-nya?
Apakah pihak bank akan ikut me-monitor juga & mendorong pihak developer menepati janji?
Saya belum akad dan saya lumayan ragu dengan pembelian ini, mohon di share pengalamannya dengan Bank.

81.    nurul Berkata:
Mei 8, 2008 pukul 2:07 am
Pak Unggulo, saran saja dari ‘medan perjuangan’
Sebelum DP, pastikan bahwa developer memberikan jaminan tertulis bahwa sertifikat dapt diberikan setelah cicilan/pembayaran lunas. Jangan sampai pada saat sudah lunas dan kita butuh sertifikat nantinya sebagai hak milik, malah oleh developer terus asset/sertifikat kita diputar untuk dijaminkan ke bank guna mendapatkan kredit investasi.

82.    Eddy Berkata:
Mei 8, 2008 pukul 3:51 am
Buat temen-temen,
Yang baru akan akad kredit, atau turun plafon atau apapun yang berhubungan jual - beli dengan pihak GDC, silahkan saja monggo-monggo, namun harap lebih diperhatikan dan mohon di buat tertulis dengan pihak Penjual didepan NOTARIS. Karena yang sudah2 saya mengalami walaupun ada hitam diatas putih namun percuma.. kuping mereka lebih tebal dari Gajah Lampung… heuhuehue..
Jangan lupa dengan Perjanjian Kompensasi keterlambatan dari pihak pengembang, sehingga mereka juga lebih serius dalam beraktifitas. Udah ada yang jadi jutawan gara2 itu.. nambah rumah lagi gara2 keterlambatan Pengembang, bonus rumah 3… hehehe asik ga tuh..
siapa sih orangnya… ada deh… yang pasti kerjanya di BIMANTARA tuh, yang udah tau.. ya gt deh…
Untuk KIKI,… hahaha anda pasti tidak baca link majalah trust dari saya…
Mana ada suntikan dana 999 mil… saya cuma ngetes kow, kalu anda baca pasti koreksi pernyataan saya. Lagi pula saya ga marah-marah low.. saya dah cek data anda memang ada beberapa di Puri Insani yang sedang proses akad Kredit.. cuma nama tidak ditampilkan… hanya lokasi.. (GILE.. BELINYA 2005 BARU AKAD KREDIT… YA SAAALAAAM)
Ya selamat dee buat yang sudah akad kredit, cuma lebih diperhatikan jangan sampai kayak roma.. akad kredit BTN namun status tanah Wakaf..
hiiiiiii ngeri.. dosa ah …!!
Yang Udah AJB… selamat juga.. moga2 cepet proses pengurusannya!
TIPS BELI RUMAH DI GDC :
1. Kalau ada pembeli baru, jangan sungkan datang ke lokasi rumah, tanya-tanya sekalian kenalan ama tetangga.. tinggal turun dari mobil kan gampang.. gt ajaaa koq reepot!!
2. Yang udah DP, dari pada hangus… buat perjanjian baru dengan kompensasi keterlambatan… pake notaris Boss…!!
3. Yang baru akad kredit Lahan baru… coba di cek dulu… rumahnya ada gaa….. ( LOH MASIH LAHAN KOSONG KOK BISA AKAD KREDIT ????? )
4. Yang Beli CASH.. wuaduh.. ini harus pelakuan Khusus… PERJANJIAN YANG PASTI BOSS…!! Jangan kayak saya… kecemplung…
Kalo ada saran dan pertanyaan bisa dilayangkan ke eddy@msii-asia.com saya bantu kow…
*. Hidup hanya sementara, bantu sesama agar hidup anda lebih bermakna.

83.    Aryo W Berkata:
Mei 8, 2008 pukul 7:58 am
Pak Eddy,
Apakah prosedur akad kredit itu hunian minimal harus 80%?
Baru tahu saya, dapat di mana info2 seperti ini?
Kemaren pihak developer bicara dengan saya, akad kredit dulu hingga dana turun dari bank baru rumahnya di bangun.

84.    Unggulo Berkata:
Mei 8, 2008 pukul 8:37 am
Teman2, terimakasih atas sarannya, terutama pak/bu nurul dan pak eddy yang warga disana.
Insya Allah, sabtu ini saya akan ke GDC meminta kejelasan, termasuk membawa kabar2 dari internet ini (mungkin malah saya print sekalian biar puas) dan hari minggu saya akan ke JCC sebab ada PAMERAN PERUMAHAN DI SELATAN JAKARTA. Itung2 cari perumahan lain sesuai bujet dan ga stress hehe..
Mudah2an Allah memberikan petunjuk, sehingga Senin ini saya sudah bisa bilang NO atau YES.

85.    Eddy Berkata:
Mei 8, 2008 pukul 8:58 am
yah … sudomo yang pro dengan alam ghaib…
ya sudah .. kalo sudah maghrib.. situ yang ngomong loh..
lah pak aryo bukannya dah e-mail saya.. oo
lah kalu dana baru turun baru bangun rumah … kasian jg ya.. developernya nungguin duit konsumen baru bangun .. nanti kalu dah punya duit lagi (abis nipu) baru urus surat2

86.    Unggulo Berkata:
Mei 8, 2008 pukul 9:04 am
sekedar info, waktu saya lum turun plafon, kan ambil ALAMANDA. Cek2 lokasi sama marketing, ternyata di tengah2 itu banyak kuburan yang digusur. dari peta yang dibawa memang berada ditenga2 perumahan. Ini saya sudah perasaan gak enak.. cuman waktu itu saya hanya berpikir yang penting rumah saya tidak diatas kuburan.
Jadi bagi yang ambil Alamanda.. cek ricek deh. ngerinya tu tanah warga/tanah wakaf yang bakalan ribet bet bet… kebetulan saya kan turun plafon en pindah cluster ke melati/edelweis.. dan ternyata masih ragu2 juga spt yang saya post diatas.
Salam, semoga kita tidak dirugikan..

87.    Yuniar Berkata:
Mei 8, 2008 pukul 9:07 am
beeehh ..
ntu tanah uwak anee… apalagi sutet… masi adee kuburannye.. hiiiii
duuh … amit… amit…. kaga daaa
lu mw ambil .. kasiiiii daaaah

88.    Unggulo Berkata:
Mei 9, 2008 pukul 6:32 am
bukan masalah takhayul bos.. nggak ada yang bilang tahayul. Masalahnya kalo tanah kuburan itu BIASANYA TANAH WARGA. Udah diperuntukkan utk Tempat Pemakaman kok bisa diobrak-abrik. Gitu aja bleh..
Makanya definisi “bersih” ente apaan? bersih dari hama? bersih dari nyang mampus alias sudah dipindahin or apa neh? kalo gw sih bersih sertifikatnya! walo gw tetep ga mau dibawah rumah gw ada tulang belulang.
mikir dua kali baru komen bos..

89.    Eddy Berkata:
Mei 9, 2008 pukul 11:11 am
Anda-anda yang dirugikan,
jangan takut dengan material hukum yang telah dibuat untuk melindungi konsumen, untuk masalah GDC ini telah di ajukan melalui badan-badan terkait, dan YLKI salah satu nya pihak Pengembang GDC telah melanggar pasal UU no. 8 tahun 1999, tentang perlindungan konsumen.
UU PK yang mengatur tentang :
1. Barang tidak sesuai dengan standar
2. Info Yang mengelabui konsumen
3. Cara menjual yang merugikan
4. Klausa baku dari sebuah perjanjian.
Kompensasi yang bisa didapatkan untuk anda-anda semua adalah penggantian sesuai dengan barang yang dibeli.
Lah kalo orang beli rumah.. semua orang yang komplain dapet bonus rumah 1-1 dong.. heebat..
Kasusnya masih berlanjut, doakan saja semoga sukses!

90.    Eddy Berkata:
Mei 12, 2008 pukul 4:02 am
pak widodo
terima kasih Pak Wid,
Masalah yang dihadapi adalah termasuk Fasos Fasum serta bentuk bangunan pada saat serah terima dan Surat-surat yang sulit didapat, termasuk etika cara menjual pada saat awal-awal pembelian.
Tersebut diatas hanya salah satu pasal-pasal yang dikenakan namun, ada lagi pasal-pasal yang lain mengenai penipuan, pembohongan publik, dll.

91.    Eddy Berkata:
Mei 12, 2008 pukul 4:18 am
Bapak-Bapak serta ibu-ibu Yth,
Saya melakukan hal-hal pembeberan publik demi kepentingan kita bersama bukan untuk keperluan pribadi semata.
Saya tidak mengkompori, membohongi, ataupun melakukan perusakan atas nama baik seseorang ataupun institusi.
Bila anda mengunjungi situs http://gardenia.tk , anda bisa baca sendiri bahwa Pihak RT/RW sudah gerah dengan kelakukan Pengembang GDC.
Silahkan anda baca, anda telaah dan putuskan sendiri apakah pihak pengembang sudah berusaha untuk lebih mementingkan warga dari pada pemikiran penguntungan profit perusahaan semata tanpa memikirkan warga.

92.    Eddy Berkata:
Mei 12, 2008 pukul 8:53 am
Yudi Hartono… Yth,
Anda orang kalu anda sungguh hebat seperti dikatakan dalam pesan-pesan anda, coba jelaskan mengapa Blok R2/No. 28 Cluster gardenia tidak bisa AJB dari tahun 2005,2006,2007,2008 .. sampai sekarang
Jawab tuh .. mana uang saya ..

93.    Eddy Berkata:
Mei 12, 2008 pukul 9:50 am
Eh .. pak Yudi,
menjelaskan bagaimana capek nya warga menunggu janji-jani manis developer… susaaaaaah … tp ya Syukur deh .. akhirnya pak Yudi mengerti … dan membenarkan bahwa apa adanya ya seperti itu ..
Gimana hasil pembicaraan kita.. ditelpon panjang lebar.. wueh .. 1 jam pulsa saya ampe habis…
Mangkanya saran saya cuma
1. Selesaikan surat-surat semua warga .. terutama yang beli tunai.
2. Berikan kompensasi… jangan saenae udele dhewe (GDC)
3. Berikan apa yang sudah menjadi hak hak konsumen
tolong disampaikan ke atasan…
Yo pa’e .. ngomong panjang lebar sampe panas kuping ku …
Moga-moga ga di pecat ya pak…

94.    Shalahuddin Ayyubi Berkata:
Mei 13, 2008 pukul 2:31 am
Pak Eddy Yang Baik,
Boleh nggak Bapak sharing ke kami-kami tentang pembicaraan via telepon dengan Pak Yudi. Agar kami-kami mendapat pencerahan tambahan/baru mengenai permasalahan kawasan Kota Kembang (GDC).
Buat Pak Yudi, mohon maaf anda kerja di Kota Kembang (GDC) udah berapa lama ? Kalo anda masih baru di Kota Kembang (GDC), sangat mungkin anda tidak diberikan informasi yang benar tentang Kota Kembang (GDC). Jangankan anda, pengacara yang mewakili mereka di sidang pengadilan saja tidak diberikan informasi yang benar tentang permasalahan Kota Kembang (GDC).
Salam Pembebasan !!!

95.    budi hartono Berkata:
Mei 13, 2008 pukul 6:58 am
baru baca nih situs ini, ternyata banyak yg senasib dg saya di sini, jadi korban daksa/GDC. dari dulu saya pengennya langsung aja dibawa ke pengadilan, karena udah capek berurusan dg daksa ini. Dulu sudah pernah ke YLKI dan terakhir ke LAKPI untuk diproses ke pengadilan perdata…tapi akhirnya ngga jadi, karena LAKPI sendiri serius ngga serius ngurusinnya, dan pertimbangan dana yang harus dikeluarkan. Nah, sekarang ketemu pak Shalahuddin dan pak Eddy yang akan membawa kembali masalah ini ke pengadilan. Kira-kira prosesnya gimana ya, ribet dan perlu biaya besar ngga? Saya tinggal di puri insani, blok G3 no 3. KPR sudah lunas, tapi sampai sekarang AJB saja belum….sudah bolak-balik ngurusin ke daksa dan terakhir ke GDC, hanya dapat jawaban sabar pak…..masih diproses. Sudah gitu bangunan rumah sudah pada hancur, retak dan bocor…..kwalitasnya jelek sekali, mo direnovasi masih ragu karena ngga ada sertifikat dan IMB.
Buat pak Yudi Hartono dan mungkin ada juga marketing GDC lainnya yang baca situs ini ini, kalo ingin jualan GDC nya sukses, bilang ke manajemen GDC, beresin dulu kewajiban2 ke konsumen lama. Paling tidak berikan kepastian hitam di atas putih, kapan akan diselesaikan. Insya Allah kalo ada kepastian, kami para korban ini juga bisa bersabar menunggu dan tidak berusaha melakukan kontra marketing. Kenyataan yang saya alami, komunikasi dari pihak GDC sangat-sangat buruk. Bahkan surat resmi saya mengenai tuntutuan penyelesaian legalitas, tidak ada tanggapan sama sekali baik telpon maupun surat balasan.

96.    Eddy Berkata:
Mei 13, 2008 pukul 7:53 am
Buat Pak Jack,
Saya bisa membuat tuntutan dikarenakan, semua kwitansi yang ada menggunakan Kop Dinamika Alam Sejahtera (DAS) berikut pula dengan surat-surat keterangan yang diberikan mereka dari awal semua menggunakan kop Surat dan no keterangan DAS.
So pasti saya ga ada urusan dengan DAKSA, yang pasti jelas-jelas sekarang ini ada yang pegang DAS. Ya.. gw tuntutlaaah
Pak Ayubi,
Secara garis besar memang latar belakang DAS baru ada 2007 seperti yang dijelaskan oleh pak YUDI Hartono, namun duduk permasalahan nya yang seperti saya jelaskan bahwa saya membeli bukan dari DAKSA, namun dari DAS. Toh mereka-mereka orang jg hidup dengan ketidak pastian dalam perusahaan mereka saat ini, namun jika mereka masih bertahan itu salah mereka sendiri, knapa mau perusahaan bobrok.. tp masih mau kerja disitu….
Garis besar bahwa mereka mengerti apa yang di masalahkan saat ini oleh para warga dan saya jelaskan jika Direktur mereka Ir. Hartono Padmosoedarso mendengar dari dahulu dan disampaikan dari dahulu juga maka tidak akan terjadi hal-hal seperti ini..
Mereka secara terang-terangan takut untuk menyampaikan masalah-masalah yang terjadi di lapangan karena adanya tekanan keras dari pihak top level… ya takut dipecat gt lah ..
Mereka bisa mengerti bagaimana mediasi ini berlanjut jika mereka tidak bisa menyampaikan toh kita-kita semua yang harus menyampaikan melalui sarana informasi yang ada secara BENAR.

97.    Unggulo Berkata:
Mei 13, 2008 pukul 8:26 am
Halo para pembaca situs ini, saya ndak usah nyebutin nama asli, namun dengan berat hati saya cancel pembelian di GDC. Karena ndak mau ketar ketir 15 taun nyicil rumah tapi belum jelas tetek bengeknya yang harus saya urusin. Apalagi kalo nyangkut masalah sertifikat (marketing waktu ditanya sudah pasrah aja.. ngga ada pembelaan diri masalah sertifikat. Hanya menonjolkan.. you knowlah, fasilitas dst, jadinya saya makin yakin buat cancel).
Saya mau nanya, bagi yang sudah terlanjur DP, bagaimana proses pengembaliannya? Berapa biasanya dipotong? kalau tidak salah 1 juta, namun dari pihak marketing katanya nggak tau, mungkin angus semua karena sudah terlanjur ini itu dst.
ada yang punya pengalaman? berapa lama kembali ke rekening kita?
salam.

98.    Unggulo Berkata:
Mei 13, 2008 pukul 8:37 am
saya juga sempat nanya masalah DAS dan DAKSA. Mereka bilang ini perusahan baru, punya sih anu saya lupa. tapi saya bilang dengan yakin kalau orang-orangnya sama saja pak, saya tau. (dengan sok yakin). mereka ngga bilang apa2 lagi.
Saya mohon maaf sebesarnya dengan marketing GDC yang sudah sangat baik, saya tinggal satu step saja utk memiliki rumah idaman, namun apa daya, keraguan saya lebih besar. Kalau memang rejeki, Insya Allah anda marketing akan mendapatkan orang yang mau –dan memang nggak peduli masalah sertifikat harus cepet jadi dan percaya dengan GDC. Hal yang saya belum bisa sampai saat ini.
Pekerjaan marketing property masih banyak terbuka, kalau memang pengembang DAS bubar lagi, marketing staf saya yakin bisa menggunakan bakat dan talentanya di tempat lain. Jangan khawatir ya teman-teman.. maaf sekali setelah dispute selama tiga mingguan, keputusan final saya adalah NO.

99.    Norman Berkata:
Mei 14, 2008 pukul 5:44 am
Tambah memanas aja nih thread, sepertinya kasus Sentul City yang kena class action ama penghuni nya karena ingkar janji, trulang lagi disini. skala masalahnya sama sama dahsyat kayaknya nih. trnyata situs ini ini bermanfaat banget yah? sehingga sy dan orang lain yg minat disitu, gak perlu kecebur 2 kali di lubang yg sama, thanks semuanya

100.    sonny Berkata:
Mei 14, 2008 pukul 6:09 am
wah…kalau denger hystorynya dari awal sih,memang GDC bermasalah nih.pagi ini saya baca di suara pembaca harian seputar indonesia juga ada yg mengeluh karena beli dr tahun 2005 tapi surat suratnya gak jelas.
saya sangat terbantu dengan adanya situs ini ini.sehingga rencana saya dan istri untuk ambil di GDC,dengan penuh keyakinan dan bulat hati saya CANCEL,alias gak jadi.tksh

101.    Rudy Berkata:
Mei 14, 2008 pukul 7:07 am
Yaitulah, makanya seluruh masalahnya sudah dijelaskan sama Pak Yudi (Merketing GDC) dan pendapat pak Jack.
Kalau gak jadi beli ya sudah ora opo-opo….. toh masih banyak yang lain mau beli…
KPR Bank untuk GDC bisa pake Bank BTN atau BANK Century.

102.    sonny Berkata:
Mei 14, 2008 pukul 7:14 am
pak rudy,
mendengar statement anda ,saya dan istri tambah yakin dan gembira,bahwa kami tidak terperosok kedalam urusan yang super rumit.
“Kalau gak jadi beli ya sudah ora opo-opo….. toh masih banyak yang lain mau beli…”,
buat kami ungkapan diatas biasa di sebutkan oleh marketing yang tidak profesional,dan bukan pendekatan ke calon konsumen yang “win-win solution”.tksh

103.    budi hartono Berkata:
Mei 14, 2008 pukul 9:21 am
bagus deh orang2 marketingnya GDC pada nimbrung di sini (atau mungkin hanya satu orang, tapi gonta-ganti nama??), kalo bisa diajakin juga tuh bos2nya supaya ikutan baca situs ini ini, supaya tahu keluhan konsumen2nya yg pada ditelantarin. Kalo memang benar kata Yudi, Jack, Rudy, SMR adalah dewa penolong untuk GDC, ya buktikan donk….jangan ngomong doank. Kalo memang permasalahannya hanya butuh waktu untuk menyelesesaikan surat2…..ya jelasin ke konsumen, undang kami ke pertemuan resmi, atau kalo repot, surati satu-persatu ke konsumen. Tapi kenyataannya kan nggak begitu, saya yang udah datang ke kantor GDC, kasih surat resmi, dijawab aja nggak. Jelas sekali ngga ada itikat baik dari GDC, sama seperti daksa dulu, hanya ingin cari untung sebanyak-banyaknya. Makanya yg diurusin hanya calon konsumen baru, tapi begitu dapet duitnya………Saya sih masih berharap manajemen GDC yg sekarang tdk spt daksa, tapi kalo orang2nya sama saja???

104.    Aryo W Berkata:
Mei 14, 2008 pukul 1:35 pm
Buat Marketing GDC, cobalah di print website yang berisi komentar, umpatan, teriakan konsumen anda ini.
Bawa ke top management. Kalo gini trus banyak calon pemberi baru yang bakal membatalkan. Memang seh anda bakal untung 1 juta akibat cancellation, tapi apa ini lebih besar dari fee yang anda dapat kalo satu rumah laku terjual? Belum dosanya????? hayo… anak istri makan uang haram…
Seperti kata Pak Budi Hartono
Kalo memang ada itikad baik, undang semua warga yang masalahnya belum tuntas ke sebuah pertemuan jelaskan pada warga mengenai status tanah/rumah mereka. Disertai bukti kalo memang sedang di proses. Kalo perlu undang kepala BPN sekalian biar yakin.
Beri komitment paling lambat kapan bisa selesai.
Berapa lama? 1/2 tahunkah? 1 tahun kah?
Apa kompensasinya bila anda melanggar komitment tersebut?
Saya kira hal ini tidak akan sulit.
Kalo permasalahan tiap orang beda undang satu persatu lah. Berapa banyak seh rumah yang sudah dibangun?
sampai gitu 10,000 rumah?
Daripada anda keluar biaya banyak bikin baliho gede2, pasang spanduk sana sini buat promosi, tapi setiap hari di depan kantor pemasaran ada yang demo nuntut surat, malah jadi ga ada yang beli nantinya
Semua penghuni akan jadi tim marketing bila anda melakukan pelayanan yang bagus. gak mungkin lah kalo mereka ga mempromosikan lingkungan tinggal mereka. So selesaikan masalah ini dulu. Semakin larut semakin banyak yang dirugikan
Saya sebagai calon penghuni baru juga was2 akan hal ini.
Kalo besok surat saya sudah jadi duluan daripada penghuni lama, bisa timbul gap diantara penghuni satu dan lainnya.
Iklim lingkunganya jadi tidak kondusif.
Yang pasti kalo ketemu di arisan isinya cuman komplan-komplen ke developer.
Itu kalo surat saya jadi, sepertinya bakal senasib nech ama penghuni lama.

105.    Wahyu Jatmiko Berkata:
Mei 15, 2008 pukul 7:24 am
WAH GDC YA….? GAK BISA COMMENT. SAYA PUNYA 2 KAVLING GANDENE SATU LUAR 120 YANG SATUNYA LUAS 75. UNTUK YANG 120 SAYA DAPAT SHGB SETELAH 4 TAHUN KPR JALAN. UNTUK YANG LUAS 75, SAYA BAYAR LUNAS TAHUN 2002 SAMPAI HARI INI BELUM AJB. PERNAH AJB DENGAN NOTARSI YANI SURYANI TAPI GAK TAHU TUCH NOTARIS…BODONG JUGA KALI SAMPAI HARI INI BELUM ADA KABAR. KALAU ADA YANG MAU AMAN BELI AJA RUMAH SAYA DI SEKTOR ANGGREK3 BLOK A1-23/24. LT195/LB120.
SAYA MAU JUAL 600JT. MASALAH KAV no 24 SELUAS 75M2 YANG MASIH BELUM ADA SERTIFIKATNYA NANTI BISA KITA BICARAKAN SCHEME PEMBAYARANYA. DARIPADA PUSING DAN SEPERTINYA JUGA DEPOK AKAN SEMAKIN MACET KALAU SEMUA CLUSTER GDC BERPENGHUNI, SAYA INSYA ALLAH MAU PINDAH KE PREMIER ESTATE- BAMBU APUS.

106.    Eddy Berkata:
Mei 15, 2008 pukul 8:42 am
Untuk anda-anda yang PRO GDC,
Menyimak dari pembicaraan anda semua, bahwa menekankan SMR baru mengambil alih GDC 2007 memang benar, namun seperti yang diucapkan oleh komunitas disini bahwa “HANYA MEMBERITAHUKAN BAHWA SEDANG DI PROSES”,..
Pertanyaan :
1. Jika memang GDC sedang memproses apakah semua warga yang dirugikan tahu masalah ini?
2. Apa yang bisa menjamin bahwa waktu proses tersebut benar-benar terlaksana?
3. Apa ada surat keterangan yang menyatakan Bapak A atau Bapak B bahwa surat-surat rumahnya sedang diproses, sehingga memakan waktu harap menunggu, dan sebagai penggantian waktu tunggu kami berikan kompensasi .
4. Apakah SMR - GDC bersedia memberikan kompensasi bagi warga-warga yang sudah punya “waktu tunggu” lebih dari 2 tahun untuk menunggu kembali sampai proses AJB terlaksana?
5. Apakah anda bisa menjelaskan bagaimana dan kemana uang orang-orang tersebut yang membeli dengan TUNAI?
6. Mana pedulinya Pihak GDC dengan Warga Lama, termasuk mereka yang sampai saat ini masih bermasalah, apakah solusi yang diberikan termasuk win-win solution? Selama ini hanya harapan kosong dan janji-janji bukan..
Mungkin anda-anda yang PRO bisa menjawab pertanyaan tersebut!
Menurut saya pribadi anda-anda semua hanya bisa menjelaskan dengan arti lain tanpa win-win solution, apakah Pihak GDC berani memberikan kompensasi kepada warganya untuk menunggu sehingga surat-surat tersebut selesai?
Kompensasi apa yang diminta? tidak muluk2 mungkin rata-rata dari e-mail saya yang masuk adalah
“Meminta kepastian per-orangan tertulis bahwa Pihak GDC memberikan surat-surat yang menerangkan bahwa sedang dalam pemrosesan dan DENGAN TENGGAT WAKTU ! Lewat dari masa tersebut akan di kenakan denda (tentative)
Kemudian memberikan penggantian masa tunggu tersebut paling minim adalah “Pembayaran AJB sepenuhnya ditanggung pihak Developer serta perbaikan FASOS FASUM, dan mungkin beberapa pihak warga sudah membangun secara swakarsa oleh karena itu mohon di SPONSORI agar terlaksana lebih baik”.
Cuma itu aja, ga susah kan … Ga perlu minta rumah baru atau neko-neko nuntut 1 Milyar tho…?
Jadi saudara-saudara PRO GDC, menurut saya jangan cuma bisa Omong bahwa sedang proses sana.. proses sini…
BUKTIKAN.. seperti diatas…
Kalau Pihak GDC meminta waktu untuk membuktikan semua itu, mulai dari yang paling mudah dulu seperti yang saya paparkan diatas! itu paling mudah ketimbang janji-janji!
toh .. kita semua ingin masalah ini selesai bukan berlarut-larut, coba dengarkan kata-kata saya!
ITU KALAU MEMANG INGIN MEMBUKTIKAN BAHWA GDC (SMR) BUKAN GDC YANG DULU!!

107.    Eddy Berkata:
Mei 15, 2008 pukul 8:44 am
Mohon maaf karena waktu saya terbatas untuk mengisi situs ini ini tidak seperti waktu kemarin-kemarin, karena saya sedang serius melaksanakan proses gugatan terhadap GDC yang sudah masuk tahap-tahap ajuan FINAL.
Penggodokan pasal-pasal tuntutan, serta ganti rugi oleh Pihak Pengacara.
Terima kasih atas dukunganya
Ass. Wr. Wbb

108.    Eddy Berkata:
Mei 15, 2008 pukul 8:56 am
Bapak - Ibu yang Budiman,
Selama ini sepengetahuan anda bahwa saya pribadi dan kawan-kawan ingin menuntut Grand Depok City adalah benar adanya.
Dikarenakan hal-hal yang Pihak (DAS) sendiri keluarkan dengan surat keterangan mereka yang menjanjikan. Jadi bukan karena kita memang berbuat sengaja atau menjatuhkan Perusahaan tersebut.
Agar lebih jelas kami paparkan berita yang kami belum posting agar lebih jelas kepada saudara-saudara :
Jakarta, 28 Maret 2008
Kepada Yth,
Bagian Perijininan (Legal)
Bp. Djoko Pujianto
di tempat.
Perihal : SURAT PERMINTAAN PENGAJUAN AKTA JUAL BELI
Dengan hormat,
Sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwa surat keterangan dari Pihak Dinamika Alam Sejahtera, PT ( Yang selanjutnya disebut Developer ) dengan No. 010/DAS/GDC/PERIJINAN/03.08 sudah diterima oleh Saya, namun isi dalam surat keterangan tersebut tidak sesuai dengan pembicaraan per – telepon sebelumnya.
Dalam butir ke 4 (empat) surat keterangan dengan No. 010/DAS/GDC/PERIJINAN/03.08 tertanggal 26 Maret 2008, bahwa pada bulan Juli 2008 baru akan terjadi proses peningkatan status Tanah/Kavling tersebut baru akan menjadi HGB Induk, bukan menjadi pecahan NIB yang siap akan ditanda tangani AJB dihadapan Notaris/PPAT. (Bertanda Tangan Djoko Pudjianto)
Dalam hal ini telah terjadi penyimpangan hak konsumen yang dimana Pihak Developer telah Mengabaikan kewajibannya dan selama ini hanya menuntut kewajiban sisi konsumen saja.
Sehubungan dengan keterangan tersebut yang mengacu pada surat keterangan sebelumnya No. 19/DAS/KKDR/02-2007 tertanggal 26 Pebruari 2007, dalam Paragraf ke-3 (Tiga) dikutip bahwa ;
- Sertifikat HGB Induk kami masih memerlukan waktu kurang lebih 8 (delapan) bulan sejak ditanda tanganinya surat ini, sedangkan penandatanganan Akte jual Beli (AJB) akan dilakukan setelah sertifikat HGB Induk Tersebut selesai.
- Balik Nama terhadap pecahan sertifikat ke atas nama Bapak tersebut akan kami selesaikan kurang lebih 8 (Delapan) bulan setelah AJB tersebut selesai. (Bertanda Tangan Ir. Hartono Padmosoedarso)
Dan Kemudian acuan mendasar dengan surat keterangan No. 004/DAS/Kaw – KKDR/Tan – Jin/ 07.06 tertanggal 31 Juli 2006, dalam butir ke-2 (dua) dikutip bahwa ;
- Bahwa penandatangan Akta Jual beli (AJB) dihadapkan Notaris/PPAT akan dilaksanakan dalam waktu secepatnya.(Bertanda Tangan Ir. Bob Sidharta)
Sesuai dengan keterangan tersebut diatas maka Pihak Developer memang secara sengaja mengabaikan hak-hak konsumen dan kewajibannya.
Dimana Kewajiban saya selaku pembeli sudah terpenuhi hanya saja sampai saat ini saya tidak memperoleh keterangan mengenai status Rumah dan Tanah yang saya tempati tersebut sampai saat ini.
Untuk hal tersebut sudah sekiranya pantas untuk saya perkarakan dan saya umumkan ke khalayak ramai agar masyarakat tahu tentang dan bagaimana dengan penyikapan administratif dan manajemen Developer saat ini.
Sekiranya surat-surat dan berkas pendukung sudah kami siapkan dan pihak Developer sampai Awal bulan April 2008 belum memberikan kepastian maka akan kami masukan berkas perkara tersebut ke Pengadilan.
Hormat saya,
Eddy Setyowibowo
Tembusan :
1. Bp. Slamet [Ketua RT. 04]
2. Bp. Toteng [Ketua Rw. 07]
3. Arsip.
Harap Dibaca dengan baik, dan anda-anda yang PRO dengan GDC mungkin tidak tahu menahu bahwa dengan adanya dasar dari surat surat keterangan ini kami meminta hak-hak kami yang dijanjikan sesuai tertulis dalam surat keterangan Perusahaan tersebut.

109.    Temennya-Wahyu Berkata:
Mei 16, 2008 pukul 3:53 am
Pak.. eddy… dari informasi yang saya denger… teman2 di Anggrek3 juga telah menggugat developer.. di pengadilan… dan MENANG.. sekarang pihak developer sedang mengajukan naik banding…. tx.

110.    Unggulo Berkata:
Mei 16, 2008 pukul 9:39 am
halooo.. pertanyaan saya lum ada yang jawab yach.. apa memang ternyata TIDAK ADA yang berpengalaman seperti saya?
tolong yang ngaku marketing GDC jawab! Jangan cuman nimbrung buat ngomong kalo GDC bagus ini itu dst. Kalau perlu setiap statement saya Anda counter. baru saya puas.
Thx.

111.    Eddy Berkata:
Mei 19, 2008 pukul 2:34 am
mari - mari .. GDC .. GDC.. siapa mau beli.. hayu.. hayu.. [kayak kacang goreng] .. promo nya si bagus…
tp belum ada yang menjawab semua permasalahan saya tuh.. dari kemarin cuma tunggu.. sabar.. [nanti sabar tahun 2010 aja] ..
masak c sibuk tanda tanga AJB, lah wong .. kemarin saya mampir sepi banget…! yaa ada 1-5 orang tanya2

112.    Mang Iya Berkata:
Mei 20, 2008 pukul 1:13 pm
Selamat Kenal, Bapak dan Ibu,
Kepada yang senasib dengan saya, saya ucapkan mudah2an kita semua diberi kekuatan dan kesabaran yang cukup dalam memperjuangkan hak menghadapi kezaliman dan kesemena-menaan Developer, dan saya sampaikan : “Kewajiban Developer membayar denda keterlambatan penyerahan fisik dan dokumen-dokumen rumah, sebesar +/- Rp 5 jt, apabila tidak dibayar, DEMI ALLAH saya anggap semuanya adalah Hutang Dunia dan Akhirat dari Pengurus Perusahaan / Developer”.
Kepada yang baru berniat / hampir / telah, membeli di KKDR / GDC, saya ucapkan mudah-mudahan hal yang menimpa kami tidak menimpa Bapak dan Ibu, walaupun saya sama sekali tidak yakin.
Kepada yang membela Developer, ucapkan terima kasih telah mendinginkan hati kami, TAPI, jika anda adalah orangnya DEVELOPER, YANG PURA-PURA BERKATA BIJAKSANA maka saya sampaikan : MONTONG LOBA OMONG SIAH BEBEL

113.    Rudi Berkata:
Mei 21, 2008 pukul 4:41 am
Saya kutip pengakuan tulus dan jujur dari pa dhe Sugeng dari Cluster melati atas progres GDC:
“Kekesalan saya telah terbayar, tanda tangan AJB sudah di lakukan di kantor pemasaran GDC lama dihadiri notaris dan pihak Bank pemberi kredit. Ada sekitar 5 konsumen yang pada hari itu mendapat kesempatan tanda tangan AJB… saya tinggal menunggu khabar selanjutnya ujud dr AJB tsb dari bank (secarik kertas mungkin yg bisa buat pegangan saya :-&#119
Lega??? tidak fair kalau saya merasa lega smentara banyak teman-teman belum mendapat kesempatan yang sama… saya cuma berharap kesempatan yang saya dapat ini segera diikuti oleh para konsumen yang lain.
Ketika ada tetangga menanyakan ‘ Loh..mas kok udah bisa AJB saya aja yg “lunas” belum juga sampai sekarang, gimana caranya?’ saya cuma bisa jawab, “Saya udah kehabisan cara, ngglinding aja mas…ketika harus marah saya akan mengumpat mereka, ketika harus sakit hati…saya harus nrimo aja dulu…kesian anak istri nanti jadi korban sakit hati..”.
Teman-teman, perkembangan nasib rumah saya harus saya sampaikan apa adanya, paling tidak bisa buat pertimbangan ketika harus membeli/KPR rumah dimanapun.
pa’dhe Sugeng
tetep prihatin…”
Mudah-mudah selalu ada progres, juga buat para konsumen yang masih belum Sertipikat atau AJB supaya dapat terselesaikan.
Thx.

114.    Wahyu Jatmiko Berkata:
Mei 26, 2008 pukul 10:41 am
UNTUK PAK RUDY, Maaf memang Rumah Di anggrek3 harganya mahal. Perjuangannya darah, Airmata, Opportunity cost, dan sebagainya…dan satu hal yang gak ada di harganya….Anggrek3 itu komplek yang penuh persahabatan dan sangat Mandiri dan tidak tergantung dengan Developer. Kami bereskan masalah lingkungan dari Kebersihan, PJU, Pagar Cluster, Legalitas, Security, Kependudukan dan lain sebaginya SENDIRI… Maaf untuk barang dan harta istimewa harganya mahal. Mahal bukan karena ini ada Lingkungan GDC tapi karena cara mendapatkannya yang sangat istimewa. Saya sangat kehilangan kehangatan dan nilai persahabatan di Anggrek3 kalau seandainya saya pindah ke Premiere Estate Bambu Apus awal tahun depan. ANGGREK3 ITU NANTINYA AKAN SEPERTI NARNIA ( CHRONICLE OF NARNIA )BUAT SAYA. NEGERI YANG PENUH KEPEDIHAN TAPI MEMBAHAGIAKAN UNTUK DIKENANG KARENA DISANA KAMI SAMA SAMA BERJUANG UNTUK MENDAPATKAN HAK HAK KAMI. SAKIT HATI DAN MIMPI BURUK KAMI, GUNDAH HATI KAMI TEROBATI KARENA KEHANGATAN, PERSAHABATAN DAN KEKELUARGAAN ANNGREK3. Tapi maaf kami harus juga pindah, sebelum semua Cluster di GDC penuh dan sebelum Margonda tambah macet. Rencana Walikota….Bullshit!! Emang kita masih punya pemerintah yang memikirkan kita..??? Lihat Anggrek3 di jajah DAKSA, apa yang telah diperbuat Pemerintah buat kami. Kami semua bisa mandiri, kami bisa bangun dan berdiri lebih baik tanpa mereka.

115.    temennya wahyu Berkata:
Mei 27, 2008 pukul 5:21 am
mbak delia… saya rasa mas wahyu tidak akan mau ikutan gunting pita tuh…. nanti lagi gunting pita water park…. ada yang demo lagi… kaya waktu yang lalu…. lagi ngadain lomba lari depok 10km dengan hadiah rumah di kota kembang… eh… di demo… jadi bubar tuh acaranya…. kasihan.. deh…

116.    delia Berkata:
Mei 27, 2008 pukul 9:29 am
Saya mau usul aja, bagaimana jika salah satu hadiah motor/mobil yang mau diberikan…..kita usulkan diberikan developer ke mas wahyu sebagai kenang-kenagan atas kesediannya tinggal bersama kita juga untuk peringatan kebangkrutan ….e kebangkitan nasional…..100 tahun maksudnya, kapan dong kebangkitan cluster-cluster di kota kembang

117.    Wahyu Berkata:
Mei 27, 2008 pukul 5:23 pm
Wah boleh juga tuch….Ntar mobil/motornya aku kasih temen temenku yang lagi berjuang untuk mendapatkan keputusan tetap di Mahkamah Agung atas gugatanya ke Daksa qq DAS. Lumayan buat trasnport atau bayar pengacaranya

118.    adi Berkata:
Mei 29, 2008 pukul 7:26 am
Mas Rudi, anda sudah tahu masalahnya dan sebenarnya sederhana asal ada niat atau komitmen saja, masalah lama segera diselesaikan , terutama hak-hak konsumen yang sudah ternistakan developer lama. Pelanggan baru diyakinkan dengan fakta yang nyata (untuk hal ini kasus lama dapat jadi guru). Pelanggan lama adalah marketing efektif bagi untuk juga meyakinkan pelanggan baru.

119.    Wahyu Jatmiko Berkata:
Mei 29, 2008 pukul 9:24 am
Betul tuch ….Kata temen saya ( Pak adi ) Selama persoalan lama belum diselesaikan, Nasib SMR kurang lebih akan sama dengan DAKSA. Apalagi kalau temen temen anggrek3 atau yang temen temen cluster yang lain mulai bergerak dan mengeliat atau saling sinergi apalagi mereka mengulangi apa yang pernah kita kerjakan ke Daksa. Pengalaman adalah Guru yang paling baik. Pak Rudi dan pak Esaf mungkin sebagai sesama Team di GDC bisa belajar dari Pak Gandi, Tito, Nugroho, atau Pak Zabidin. Jangan sampai hal hal ketidak nyamanan juga terjadi dengan para petinggi GDC. Konflik dan ketegangan juga jangan sampai terjadi lagi. Bagaimanapun Customer akan lebih concern ke Hak hak dasar seorang pembeli. Water park dan segala fasilitas yang lain itu adalah nomor sekian setelah AJB, Sertifikat, dan fisik Rumah itu sendiri. Berani Beli Kota Kembang harus berani ambil resikonya. Ibarat Beli mobil bobrok, harus siap perbaiki sana sini supaya jalanya lebih nyaman walaupun tak akan senyaman mobil baru. Saya masih ingat bagaimana ekpetasi saya sesuai janji Daksa tidak bisa terpenuhi dan itu sangat tidak nyaman apalagi teman teman yang lebih kurang beruntung dari saya. Secara hati nyaman tinggal di anggrek3 karena kita punya tetangga dan sahabat sahabat yang sangat saya cintai. Tapi secara lahir dan apa yang kita lihat sangat tidak nyaman untuk tinggal di GDC. Kami di anggrek3 banyak yang telah menjadi korban Daksa dan sakit hatinya hampir mati karenanya bahkan sampai dibawa mati.
Apapun profesi kita dan usaha kita, itu adalah amanah dan sebaik baiknya Muslim/Manusia adalah yang bisa menjaga amanahnya sehingga bermanfaat bagi orang lain bukan malah sebaliknya menyusahkan orang banyak. Seperti Daksa yang yang telah membuat sengsara ribuan warga kota kembang dan customer lainya belum termasuk Sub kontraktornya bahkan karyawanya. Bagaimana mungkin perusahaan itu akan jadi besar dan Barokah sementara ribuan orang menyumpahinya dengan hal hal yang jelek bukan malah sebaliknya mendoakan hal hal yang baik.
Kalau GDC mau maju, hilangkan sakit hati para customer Kota kembang lama maka insya allah bukan cuman ribuan customer ex Daksa mungkin para malaikatpun mendoakan dan membantu usaha SMR di GDC menjadi lebih maju.

120.    joko Berkata:
Mei 29, 2008 pukul 10:23 am
Saya yakin, situs ini ini akan menjadi sejuk bahkan mungkin cenderung sepi , jika memang betul kepuasan pelanggan menajdi fokus kita tunggu saja..Semoga tim di Melati, Puri Insani, Anggrek 1, 2 dan 3, Roma sabar menanti

121.    iwan Berkata:
Juni 2, 2008 pukul 3:05 am
Kami dari Anggrek 1 juga berharap ada perubahan, apalagi lokasi berada pada ‘etalase’nya GDC. Kepada mas Ipung dan Pa Yudi mohon juga kendaraan angkotnya diatur sedemikian rupa, tidak diparkir depan pintu gerbang agar komplek kami berkesan asri, tidak nampak seperti terminal

122.    malakanist Berkata:
Juni 4, 2008 pukul 5:23 pm
JANGAN PERNAH PERCAYA DENGAN DEVELOPER GDC/ PT.DINAMIKA ALAM SEJAHTERA/DAKSA, MEREKA ADALAH JELMAAN MAKHLUK2 YANG TIDAK PUNYA HATI.
SELAMA PERMASALAHAN SERTIFIKAT KONSUMEN LAMA TIDAK PERNAH DIBERESKAN, SELAMA ITU PULA KAWASAN INI AKAN MENJADI HANTU YANG MENAKUTKAN.
DAS TINGGAL MENUNGGU BOM WAKTU DARI KONSUMEN LAMA PLUS KONSUMEN BARU
YANG BUSUK TETAP BUSUK, KALAU DISIMPAN TETAP KETAHUAN.
GDC/DAS LAGI BUKA BOOT DI MARGO CITY, WHEREEVER THEY OPEN THEIR BOOT, NEVER TRUST GDC/DAS, BEFORE THEY WANT TO BE FINISH ALL THEIR PROBLEM THAT THEY MADE BY THEM SELF. HOW CRAZY OUR COUNTRY. WHERE IS WALI KOTA, WHERE IS OUR REPRESENTATIVE. ALL THIS GUYS KNOW OUR PROBLEM, BUT THEY ARE SILENT. WHY THEY DONT WANT TO SUPPORT US ?, DO YOU KNOW WHY, WE ARE THE POOR GUYS.
BRAVO ALL VICTIM OF GDC/DAS/DAKSA
KEEP SPIRIT, KEEP FIGHTING, KEEP STRUGLE.

123.    malakanist Berkata:
Juni 5, 2008 pukul 3:08 pm
Untuk jati & widodo, gua yakin lu hanya tau kulit2nya mengenai GDC, Gua jauh lebih tau dari lu pada. Lu tidak akan pernah bisa garansi untuk konsumen baru bahwa mereka bisa dapat sertifikat dengan tepat waktu saat mereka sudah akad dengan GDC.
Masak ada konsumen lama yang sudah AJB dan menunggu sertifikat selama 2 tahun ini belum juga kunjung selesai, malah yang apesnya, konsumen lama disuruh ajb ulang, dengan alasan ajb transisi kata morist, kalau sudah ajb ya ajb aja, mana ada ajb transisi. ajb transisi cuma ada di gdc, di t4 lain yang orang2 lebih jujur tidak ada yang namanya transisi. Otomatis konsumen lama yang disuruh ajb ulang harus menunggu berapa lama lagi baru selesai. sampai sekarang pun top manajementnya gdc tidak bisa garansi, gimana mau garansi, sertifikat induknya masih di BAG.
bersiap2 lah dengan timing boom yang sudah komulatif.
gua bicara fakta, bukan bull shit.
BRAVO ALL VICTIM OF GDC/DAS/DAKSA
KEEP SPIRIT, KEEP FIGHTING, KEEP STRUGLE.

124.    Wihelmine Berkata:
Juni 6, 2008 pukul 8:23 am
Kepada Pak Eddy, dan teman2 semuanya..
Saya mohon masukan2 dari semua teman2..
barusan aja pihak Artha Graha minta saya utk transfer uang pembayaran untuk urus penandatanganan AJB dengan GDC
Saya bingung knapa rumah saya dan mama saya di anggrek3/C1 beli dgn hrg sama, luas sama,dll tapi knapa harga biaya AJB beda? mama saya diminta sekitar 1,9jt dan saya diminta sekitar3,3jt, setelah pihak bank bantu tanya ke GDC bagian legal , katanya ternyata dulu pihak Daksa menjual rumah ini pada kami dgn status tanah yg sebagian SHGB sebagian SPH, jd istilahnya blom beres dibebaskan tanahnya, dan tanah/rumah saya beli bagian yg belum bebasnya lebih byk, maka biayanya lebih besar.. gila bgt yah? masa urusan pembebasan tanah belum kelar tanah udah bisa dijual ke kita? itu kan sama aja penipuan yah?kita nggak pernah diinformasikan soal ini oleh Daksa pada saat pembelian.
Kata Artha Graha, GDC janji akan menyelesaikan semua akte2 & serah terima akte paling lambat Sept 2008 ini, saya mohon informasi apakah temen2 yg lain juga mengalami hal yg sama? apa memang harus begitu? atau ada hal2 yg saya pertanyakan lebih lanjut ke pihak GDC agar saya tidak tertipu?
Terima kasih atas perhatiannya & bantuan info nya.
Salam,
Wihelmine Agrrek3 C1

125.    malakanist Berkata:
Juni 6, 2008 pukul 12:52 pm
Untuk jadi,kita bukan dendam, tapi bukti yang bicara. Janji gampang diucapkan untuk mendapat konsumen baru, tapi pembuktian yang perlu, bukan nanti2.
teman saya kakaknya mau beli rumah di gdc, pas ditanya ke marketingnya mengenai sertifikatnya, mereka tidak bisa garansi kapan selesai, mana ada seperti itu.
teman saya yang lain juga datang ke kantor pemasaran, marketingnya juga tidak bisa jawab, yang mereka bisa jawab cuma kulitnya. sekarang teman saya beli rumah di permata depok, this is real, not bull shit.
Untuk ibu wihelmine, saya cuma saran, jangan pernah ttd ajb sebelum mereka selesaikan sertifikat mereka yang bermasalah, seharusnya mereka satukan dulu shgb+sph menjadi satu surat, baru mereka jual lagi.
bu, selama gdc tidak bisa menunjukkan adanya surat pemecahan sertifikat induk (roya) untuk kavling ibu, jangan pernah ttd ajb. Saya sudah konsultasi kebeberapa notaris, surat roya yang dikeluarkan bank penjamin adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum ajb.
sekali lagi saya katakan, saya tidak demdan dengan gdc, tapi ketidaktahuan konsumen mengenai legalitas, jangan malah diboongi. konsumen itu tidak pernah minta macam2, yang penting penuhi hak dengan cara benar setelah mereka melunasi kewajibannya.
Bagaimana dengan kasus bapak irwan siregar yang tinggal di puri insani 1, masak gdc tidak mau mengakui bahwa gdc tidak ada hubungannya dengan rumah bapak tsb, dengan alasan rumahnya dibeli dengan daksa. yang anehnya lagi, bapak tersebut bayar uangnya ke marketing, eh…..duitnya ditilep sama marketing. Apes banget tuh pak irwan.
bagaimana dengan melati yang 70% warga belum punya sertifikat.
orang akan percaya penuh dengan gdc, kalau sertifikat warga diselesaikan. saya akan bantu promosikan gdc kalau ini terjadi.
BRAVO ALL VICTIM OF GDC/DAS/DAKSA
KEEP SPIRIT, KEEP FIGHTING, KEEP STRUGLE.

126.    malakanist Berkata:
Juni 9, 2008 pukul 2:28 pm
Ibu wihelmine, jangan pernah mendengar saran yang tidak masuk akal, jangan ibu terjebak dengan pemainan yang tidak lazim dilakukan kalau orang membeli properti. Ini sudah saya buktikan sendiri bahwa gdc tidak bisa menunjukkan roya yang saya minta. Kalau pihak gdc bisa menunjukkan roya dari bank penjamin ibu boleh bergerak sedikit dan tetap berhati hati.
Kalau cuma ingin mendapat informasi rincian ibu, oke2 aja, itu bagus, tapi kalau untuk menulasi, ibu harus banyak diskusi dengan tetangga, itu jauh lebih baik untuk kondisi sekarang. Uang yang sudah masuk tidak akan pernah kembali lagi secara utuh, bahkan perang urat syaraf.
Jangan pernah lagi memberikan uang secara langsung ke gdc, ibu akan kecebur seperti bapak irwan siregar, ini fakta, ibu bisa datang ke rumah pak irwan di puri insani 1.
Bagaimana sengan kasus bapak tommy yang sudah setor uang puluhan juta, tapi rumahnya tidak dibangun, akhirnya dia minta uangnya dikembalikan, dev mau kembalikan dengan cara dicicil, aneh bukan……..,setor utuh keluarnya nyicil.
Tidak ada tanda2 dev lama atau baru untuk benar2 menunjukkan niat baiknya, mereka tidak akan pernah terbuka. Masak kalau konsumen lama ada kekurangan pembayaran dulu, harus bayar ke das, tapi kalau mereka punya ganti rugi dengan konsumen lama minta nya ke daksa, kata pak morist dan pah hary. Aneh ya…,giliran uang masuk ke das, giliran uang keluar minta ke daksa.
Jangan ibu tertarik dengan iming2 ajb yang tidak sesuai prosedur, ini terbukti dengan konsumen lama yang sudah ajb 2 tahun lalu, terus diminta ulang ajb sekarang, is it true…..?,kasihan tuh konsumen tsb, tadinya mereka berharap dalam jangka 2 thn itu sertifat bisa didapat, tapi sekarang mereka kembali ke nol lagi, syukur2 1 thn or 2 thn kedepan sertifikat bisa keluar, kalau tidak jika dijumlahkan menjadi 4thn atau lebih mereka menunggu sertifikat, ditambah tahun2 sebelum mereka ajb pertama mereka sudah menunggu rata-rata 4 tahun, total semua kira-kira 7/8 tahun. Kalau orang sehat yang berpikir,sertifikat seperti apa 8 tahun tidak selesai…?
Notaris yang benar, akan mengikuti prosedur yang benar, seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, roya adalah syarat MUTLAK SEBELUM AJB
Ibu lebih baik percaya konsumen yang korban juga, biar hak2 ibu sebagai konsumen terlindungi, kalau bukan kita sesama konsumen yang melindungi, siapa lagi…….?. Kita boleh percaya dengan dev, kalau mereka menunjukkan bukti2 dan prosedur yang benar, dan saya pasti mendukung abis gdc.
APA YANG SAYA SAMPAIKAN DISINI ADALAH FAKTA
BRAVO ALL VICTIM OF GDC/DAS/DAKSA
KEEP SPIRIT, KEEP FIGHTING, KEEP STRUGLE.

127.    Wihelmine Berkata:
Juni 10, 2008 pukul 2:07 am
Terima kasih kpd Bp. Malakanist & Bp. Rudi atas jawabannya.
Kalo soal uang sudah bayar rumah nggak jadi2 saya juga ngalamin tuh, pas di pameran bilangnya 6 bulan setelah DP, rumah pasti udah jadi, salahnya kita nggak survey2 atau tanya2 org yg pernah beli, jd deh kena perangkap, sudah 2thn’an lebih setelah nge-push bolak balik ke dev baru deh rumah kita jd..
semua janji2nya itu gombal, serah terima kunci proses lama di undur-undur, kuncinya kurang lah apalah.. terus katanya ada jaminan 1 thn kalo ada kerusakan akan di ganti, MANA?? eternit saya ada yg rembes air hujan, saya sudah lapor berkali-kali nggak ada hasil sampe sekarang (udah lewat 3thn).

128.    Unggulo Berkata:
Juni 10, 2008 pukul 7:33 am
Gila bener.. kasus saya yang tidak jadi ambil rumah di GDC masih inget? katanya 1 bulan akan dikembalikan 4 juta dan HANGUS 1 juta.. oke ga masalah, salah gw sendiri.
Tapi kok, kita TRANSFER ke Bank 5 juta namun kita harus AMBIL LANGSUNG dalam bentuk GIRO ke SUNTER pada JAM KERJA!!!!
Gila apa? Kok gw yang repot? Sialan banget GDC gw sumpahin loe semua! Ini ampir sama kayak kasus yang gw baca di atas, kok KITA YANG REPOT.. kalo yang komplan di atas saya , pertama KITA BAYAR CASH trus dia BALIKIN NYICIL..
Kalo saya, bayar transfer BANK, kok HARUS AMBIL SENDIRI DI SUNTER PADA JAM KERJA !!!
Gila apa? Gw kerja di Depok, Rumah di Bogor, Harus JAUH KE JAKARTA UTARA DEMI UANG HAK GUE 4 JUTA. BACA : HAK GUE! YANG SUDAH KALIAN POTONG 1 JUTA. PAKE AJA SATU JUTA ITU BUAT MAKAN GW GA RELAIN LOE GDC!!! BALIKIN KE REKENING KENAPA GA BISA???
POKOKNYA JANGAN AMBIL RUMAH DI GDC.. Jaminan GDC SATU :
KALIAN YANG REPOT SENDIRI!!!!!!!!!!!! TENAGA, WAKTU, UANG ABISSS PERCUMA

129.   Jerat Grand Depok City alias GDC, alias Kota Kembang Depok « The Unggul Center Berkata:
Juni 10, 2008 pukul 7:59 am
[...] 10, 2008 by Pompey Tidak perlu banyak menulis, saya hanya bisa komplain melalui situs diskusi di sini dimana saya sepertinya menanggalkan nilai-nilai intelektual karena kekecewaan yang sangat [...]

130.    Soedomo (SUdah DOngo kayak MOnyet Berkata:
Juni 10, 2008 pukul 8:08 am
Weladalah…masih seru juga toh?….hm…ckckckck…
Jadi begini semuanya…sebage salah seorang wong sugih di bumi pertiwi endonesa ini….saya mau bagi2 tips…(bukan bagi2 duit…emang aku iniiiii….mbah mu opo?)
Semua perkara di endonesa ini sudah lumrah ada mafianya…(tribute for Holland yg ngalahin Italy tadi malam…he…he). Kalo gak pake mafia, aksi tipu2, bandit dan upeti mana bisa saya jadi mulyo begini????
Yang kesian itu lah ya kamu2 orang….kerja siang malem…ngumpulin duit buat beli rumah..eh udah kebeli sertipikatnya susah….Tega?….wah harus dan perlu itu…
Akhir kata :
Lah kamu liat dong bank penjaminnya?….AG wuuihhhh….sereeeemmmm….

131.    lary Berkata:
Juni 10, 2008 pukul 9:14 am
GDC mirip lampu neon–dibuat meriah, gembyar agar banyak ‘laron-laron’ tertarik mendekati terangnya sinar. Sebelum masuk, bujuk dan senyum manis ditebar penuh pesona. Setelah masuk ‘gelap-gulita’, hopeless, cape, main petak umpet.

132.    malakanist Berkata:
Juni 10, 2008 pukul 12:53 pm
Ibu wihelmine, mudah2an ibu percaya sama saya. Kalau ibu punya teman/saudara notaris, bawa notaris saat ibu berurusan dengan gdc. Biar notaris sama notaris yang berurusan, masak aturannya bisa beda, sekolah mereka kan sama, diktat yang dipakai juga sama.
Cukup daksa yang sepeti itu, sama das/gdc jangan terjebak 2x.
Saya tidak punya tendensi apa2 dengan gdc, tapi gdc belum menunjukkan niat yang benar terhadap kita yang jadi korban. selama ini gdc cuma bisa membual doang, careful with them.
buat marketing or staff gdc, berhentilah anda membela gdc dengan buta, apa yang anda omongkan berlawanan dengan hati,mudah2an saudara/teman anda tidak terjebak seperti kami. level atas (manajemen) anda sendiri tidak bisa menjamin sertifikat bisa keluar, apalagi anda yang di level bawah, hanya demi fee yang tidak seberapa, anda menjual hati nurani anda.RENUNGKAN….,tapi jangan BENGONG…
Saya tunggu komentar yang pro gdc, kalau perlu manajemennya, saya siap berargumen dengan mereka secara sehat,biar publik lebih banyak tau. copy darat lebih bagus, biar publik banyak yang datang.Ini untuk kebaikkan gdc juga.
BRAVO ALL VICTIM OF GDC/DAS/DAKSA
KEEP SPIRIT, KEEP FIGHTING, KEEP STRUGLE.

133.    bangkit Berkata:
Juni 11, 2008 pukul 2:56 am
gila ya,rupanya gdc masih bermasalah juga.tapi iklannya tetap gencar tuh.harusnya pihak bank dan DPP REI ikut peduli masalah ini.biar gdc gak seenaknya nipu calon pembeli untuk jadi korban berikutnya.
untung kemaren pameran gak jadi ngambil rumah disana.gua cuma bisa saranin temen temen gue untuk gak ngambik rumah disana,biar iklannya gencar juga.
@ buat seluruh warga yg sdh terlanjur,saya cuma bantu doa semoga masalahnya bisa cepet selesai dengan baik sesuai harapan semua.amien
@buat marketing gdc,
semoga bisa merasakan kesulitan calon pembeli dan warga yang sudah di rugikan.berempatylah sehingga anda bisa ikut memberikan solusi terbaik,bukan hanya argument semu yang hanya berorientasi penjualan.
thks all.

134.    Anggrek-3 Berkata:
Juni 11, 2008 pukul 6:40 am
yang saya bingung… ternyata rumah kita kaga ada IMB - nya loh…. suer…. kalau kaga ada IJIN MENDIRIKAN BANGUNAN.. berarti… kapan saja bisa di rubuhin dong sama TranTib… Wuihh Serrreeeeem deeeh…


135.    Eddy Berkata:
Juni 12, 2008 pukul 4:30 am
Salam Hangat para warga GDC terhormat,
Mohon maaf bukaanya saya tidak bersuara karena di sumpal oleh Pihak GDC, namun perisiapan semua berkas2 yang ada sudah beres dan rampung untuk tuntutan2 ke Pihak pengembang.
Tambahan : Jangan menggunakan jalur Arbitrase, karena semua aspek hukum hanya mengedepankan hak konsumen yang dimana hukum tersebut masih lemah di indonesia bahkan bisa di putarbalikan oleh pihak GDC.
Gunakan jalur hukum meja Hijau langsung.
Ada benarnya sebelum AJB Siap pihak notaris harus menyediakan ROYA terlebih dahulu sesuai dengan apa yang di diskusikan oleh pengacara dan notaris saya. Ada baiknya jangan membayar AJB tersebut walau dengan iming2 akan selesai secepatnya dari pihak developer. Ikuti permainan mereka dan temukan sisi “akal-akalan” dari permainan mereka tersebut.
Cek pembuktian kebenaran surat-surat tersebut.. ya kalau anda sibuk ambil cuti lah 2-3 hari .. untuk bolak balik kantor BPN, ga mw repot.. pasti banyak yang bantu kok terlebih untuk proses sertifikasi para pejabat2 tersebut sudah disumpah.. katanya…  namun jangan kecewa .. toh anda keluar uang 100-200rb untuk cek ricek .. dari pada kecewa jutaan + makan ati.. termakan buaian GDC semata
Selamat berjuang untuk semua yang ada di forum ini, katakan kepada publik bahwa kebenaran dan fakta yang ada di sini adalah SEBENAR-BENARNYA!!



136.    Marketing GDC of the year Berkata:
Juni 12, 2008 pukul 8:40 am
Kalau saya jadi marketing GDC , saya akan tulis begini:
Bapak ibu sekalian , saya marketing GDC dari pengembang PT DAS. Kami sepenuhnya memahami apa yang bapak ibu rasakan dan telah jalani selama bapak ibu berhubungan dengan grand depok city ,dh : Kota Kembang. Sebagai marketing , kami memiliki tugas untuk memberikan layanan yang baik pada bapak ibu sekalian sebelum , saat akan dan setelah bapak ibu membeli produk properti kami . Tentunya dengan kemampuan maksimal yang kami miliki serta juga keterbatasan kami sebagai pegawai , kami akan menjembatani permasalahan bapak dan ibu sekalian .
Kami tidak menutupi bahwa permasalahan bapak ibu telah berlarut larut baik saat dengan Kota kembang maupun GDC yang mungkin adalah akibat kesalahan dari pihak perusahaan kami dan pengembang sebelumnya , namun ijinkan kami membantu ibu bapak dengan sepenuh daya kami serta ijinkan kami bertemu bapak dan ibu untuk membicarakan apa yang belum kami ketahui dan menjelaskan apa yang sudah kami ketahui.
Kami menyadari , kami mencari rizky atas ridho ilahi , dan tidak ingin menafkahi keluarga kami dengan niat buruk membohongi bapak ibu sekalian . .
Untuk itu mari kita bersama bertemu pada tanggal XXX jam YYY di ZZZ.
Permasalahan bapak dan ibu di GDC adalah permasalahan kami juga sebagai pengembang , semoga dalam pertemuan nanti kami dan bapak ibu dapat menemukan solusi atas permasalahan kita semua sehingga bapak ibu dapat mendapatkan hak bapak ibu sebagai konsumen dan kami dapat mengembangkan bisnis kami atas ridho Tuhan .
Apabila selama ini kami berjanji dan berkata berlebihan mohon maafkan kami dan bila ada kurangnya pelyanan kami mohon segera beritahu kami.
Terima kasih
Mr Ngakusalahsulit
Marketing GDC ,

137.    iwan Berkata:
Juni 13, 2008 pukul 2:52 am
Untuk cluster Anggrek 1, saya selaku warga merasa tidak nyaman karena tiap hari angkot-angkot GDC diparkir di depan mata (gerbang), terus jika hujan besar jadi banjir .
Tim Marketing silahkan teliti apa penyebab banjir tsb

138.    malakanist Berkata:
Juni 13, 2008 pukul 4:09 am
Untuk pak joe, persoalan di gdc gak banyak, cuma proses ajb dan sertifikat yang tidak sesuai prosedur.
Untuk pak eddy, saya mengutip sedikit tulisan bapak “Ada benarnya sebelum AJB Siap pihak notaris harus menyediakan ROYA terlebih dahulu sesuai dengan apa yang di diskusikan oleh pengacara dan notaris saya”.
Kalau bapak bilang ada benarnya, berarti masih mengandung 2 opsi, bisa benar harus ada roya, bisa tidak pakai roya.
Seperti yang saya bilang sebelumnya, ROYA JAMINAN/ PARISIAL adalah MUTLAK.
Saya dukung aksi pak eddy CS ke meja hijau, jangan pernah padam.
Saya informasikan sekali lagi, omongan marketing gdc itu no thing, mereka tau cuma sekulit ari permasalahan ini.
BRAVO ALL VICTIM OF GDC/DAS/DAKSA
KEEP SPIRIT, KEEP FIGHTING, KEEP STRUGGLE.

139.    Mang Iya Berkata:
Juni 16, 2008 pukul 5:17 pm
Oom dan Tante, jangan lupa lhoo, selain surat-surat rumah, dev juga punya kewajiban membayar ganti rugi / biaya keterlambatan penyerahan surat-surat tersebut. Hal ini kalau di SPPJB saya tertulis jelas buanget. Sewaktu saya tanya sama orang dev GDC, mereka bilang itu tanggung jawab Daksa. Ha ha ha ha, jumlahnya untuk tipe rumah saya ini lumayan lho +/- Rp 5 juta, sama dengan jumlah BPHTB . Woiii pembela GDC ada komen ?? daripada ditagih di akherat mendingan bayar atuh Jang, he he he.

140.    dewieq Berkata:
Juni 17, 2008 pukul 6:47 am
Membaca semua berita tentang GDC dari awal sampe akhir tiba-tiba membuat saya pusing karena sepertinya saya sudah membuat kesalahan dengen tidak melakukan cek and recek atas kasus2 yang menimpa pembeli rumah di Kota Kembang sebelum melakukan pembelian. Hal ini ditambah dengan melihat secara langsung kualitas bangunan GDC yang saat ini sedang ramai2nya di bangun. Rangka-rangka atapnya meliuk-liuk bak penari profesional, kusen kayunya layu dan banyak bangunan saya liat penataan batu batanya ga karuan, bolong disana sini. Saya sudah terlanjur mengambil type Almanda 45/120 dari November 2007 namun sampai sekarang bangunannya juga belom ada 50% berdiri, padahal tenggat waktu sampai November 2008 akan segera habis. Saya merasa harga yang hampir 300juta tidak sepadan dengan kualitas bangunan yang ditawarkan. Belum lagi jalan-jalan masih kering, belom ada penataan taman yang seharusnya dilakukan jauh sebelumnya, water park yang dijanjikan bulan Juni 2008 openingnya mundur jadi July 2008 yang setelah saya cek ke lokasi sampai saat ini pun tahapan pembangunanya masih jauh dari kata sempurna…

141.    chepee Berkata:
Juni 18, 2008 pukul 1:36 am
kota kembang itu developer [cluebat]..#@#
marketing and orang2 developernya anjing kalian semua!! gak perlu diajak nego karena pada pura-pura bego.
hati-hati ganti nama padahal dalamnya serigala-serigala juga.

142.    gerakan anti developer penipu Berkata:
Juni 18, 2008 pukul 1:42 am
mau namanya kota kembang kek, grand depok city kek, apa pun lah namanya percuma…
lebih baik kasih nama “kota bohong belaka”.
ini konspirasi pemda depok, dengan developer, kenapa tidak diberikan sanksi hukum yg keras karena hanya keledai yang jatuh yang di lobang sama. kasihan warga depok atau pembeli rumah GDC ini yang lagi-lagi ditipu dengan janji-janji manis developer cari untung doang.

143.    Soedomo (SUdah DOngo kayak MOnyet Berkata:
Juni 18, 2008 pukul 4:27 am
Satu lagi…ketinggalan….buat mas @manusia yg kemaren maki2 saya…terimakasih mas…he..he…
btw koq situ tau pantat monyet “enak”?….please…jangan sampe seperti yg ada dipikiran saya ini…..;)

144.    riyan Berkata:
Juni 18, 2008 pukul 11:26 am
saya kredit rumah di grand depok city yang saya tau disana menurut saya : spitank tempat buang air sangat rendah hanya 1×1 meteran,maka kalau keluarga sering BAB maka spitank pun cepat penuh. dan kalo sumur air / jet pump juga kurang dalam yang saya khawatirkan adalah saat musim kemarau air susah didapat, juga kualitas mesin yang dibawah standar,tolong kepada pihak pengembang diperhatikan agar yang lain tidak ada keluhan lagi..

145.    Mang Iya Berkata:
Juni 18, 2008 pukul 3:46 pm
Daksa cs ? nang ning nang ning nang ning nong (bacanya sambil bergaya kayak orang dari Riau 11 Bdg / Grogol Jkt ), he he he . . . . .

146.    dewieq Berkata:
Juni 24, 2008 pukul 6:38 am
Pak Manurung,
Iya sampean tinggal di Alamanda sebelah mana? wong belom ada yg jadi rumahnya ko… idididiiiiihh sereeeeemmmmm amat..
Komen yang relevan dung, jangan mengada-ada trus kok jadi arena hujatan kebun binatang. Ga paham saya sama orang-orang gitu (siapa? sampean?chepee?). Kalo mau nimbrung pake pikiran.

147.    WINARTO Berkata:
Juni 24, 2008 pukul 7:37 am
pada bulan Oktober 2007 saya pernah ke bagian pemasaran GDC dan memberikan tanda booking type alamanda sebesar 1 jt, akan tetapi karena satu dan lain hal saya tidak jadi ambil rumah tersebut, ternyata perumahan tersebut banyak membawa masalah kepada para penghuninya, semoga masalah tersebut cepat selesai.

148.    Mat Klewer Berkata:
Juni 25, 2008 pukul 12:57 pm
Wah alhamdulillah dah nemu situs ini ini duluan sebelum bayar booking fee…jd ill feel nih…padahal kalo liat lokasinya amat menjanjikan (meski jalan masuknya di bawah SUTET)…& waktu minggu kemarin main ke GDC & kantor pemasarannya terus terang tertarik banget & setelah diskusi dengan keluarga niat nya makin bulat buat ambil cluster melati 2…tapi kayanya perlu sholat malam nih buat mutusin hal yg berhubungan dgn masa depan kaya gini (maklum karyawan bayaran dgn gaji pas2 an hehehehe) :))

149.    Aryo W Berkata:
Juni 26, 2008 pukul 6:32 am
Buat Ayah Adit & Puan,
Sorry ternyata rumah yang di janjikan oleh team marketing di blok Alamanda sudah di booking orang. Saya sampe marah2 kemaren, sudah berkali-kali survey ternyata tidak jadi. pdhl sudah di janjikan bisa pindah ke Alamanda.
Jadinya batal dech kita bertetangga.

150.    Aryo W Berkata:
Juni 26, 2008 pukul 8:57 am
Pak Willy,
Sudah akad blum? Saya sudah satu bulan ini di todong suruh akad, tapi saya minta paling tidak ada aktifitas pembangunan lah di Anggrek 2 sebelum akad jadi saya yakin kalo nanti bakal di bangun cepat.
Concern saya di anggrek 2 yang paling utama adalah masalah kavling tanah kosong. Yang sudah merupakan hak individu bukan punya GDC lagi. Mungkin dahulu Daksa menjual berupa kavling tanah bahkan ada kontraktor yang di bayar dengan kavling tanah karena Daksa tidak mampu melunasi hutang.
Kalaupun rumah nanti saya dibangun, kalau yang punya kavling tanah itu tidak segera membangun rumahnya, rumah saya bakal berdiri sendirian hehehee ga ada tetangganya.
Pertanyaannya berapa lama tinggal sendirian di sana? bahkan GDC sendiri ga bisa jamin itu bakal dibangun karena sudah bukan kewajiban mereka.
Mereka hanya bisa mengirim surat peringatan kalau yang punya tanah kosong harus segera membangun rumahnya, karena dalam perjanjian jual beli, dalam jangka waktu 2 tahun kavling tanah harus segera di bangun. Kalo tidak kena penalty.
Makanya kemaren saya komplain ke marketing-nya dan di janjikan boleh pindah ke alamanda eh pas oke koq malah tidak bisa karena sudah di booking orang lain.
Makanya kalo bisa yang tinggal di anggrek 2 baik yang lama ataupun calon, kita bikin komunitas dari sekarang jadi bisa ngompor2in yang hanya punya kavling tanah suruh mbangun rumah, biar cepet rame.
Hayo2 yang angrek 2….

151.    ayah adit & puan Berkata:
Juni 26, 2008 pukul 3:10 pm
Pak Aryo,
Sebagai informasi aza, banyak kavling tanah di anggrek 2 adalah milik perseorangan. Info dari temen istri yang tinggal di anggrek 3, dulu waktu dia bangun rumahnya di anggrek 3 adalah dengan biaya sendiri, kemudian harga bangunan rumahnya diganti oleh developer saat itu dengan kavling tanah di anggrek 2.
Jadi kayaknya memang susah mengharapkan pembangunan rumah serempak di anggrek 2, karena adanya kepemilikan kavling2 atas nama perseorangan sbg ganti rugi biaya atas bangunan yang notabene kebanyakan mereka sekarang udah tinggal di GDC.
wassalam,
ayah adit puan

152.    nina Berkata:
Juni 30, 2008 pukul 12:58 am
Gaya yudi jualan ‘bombatis’ benar hanya berorientasi bagaimana dagangan laku, tidak ‘cerdas’, pembeli atau konsumen sekarang sudah pada cerdas apalagi yang membeli rumah disana pada umumnya konsumen yang mengerti, baik dari segi kualitas, lingkungan hidup dan tentunya legalitas. Gaya anda jualan rumah, kaya jual duren aje

153.    Eddy Berkata:
Juni 30, 2008 pukul 9:27 am
Duh … yang diladenin yang baru-baru saja, yang lama ditinggal tanpa perhatian penuh… boro-boro AJB Sertifikat aja masih ga Jelas? Bulan Juli Pak.. Oit .. ini Udah Bulan Juli Coy… Menurut Mbak nina Mr. Yudi Jualan Duren.. Menurut saya Durennya dah Kena angin “Anyep” karena pecah jatuh dari bak ter bukan POHON.

154.    Anggrek3 Berkata:
Juli 1, 2008 pukul 7:10 am
Mazz yudi.. saya mau nanya.. katanya kalau kita mau tinggal di Anggrek2, akan dikenakan biaya Pemasangan Listrik serta tiang listrik sebesar 7jt-an oleh penghuni lama… karena dahulu kala sewaktu jamannya mazz yudi sebagai marketing Daksa… para warga Anggrek2 penghuni lama, memasang instalasi listrik secara patungan sesama warga, karena Developernya Tidak Mau Ngurusin… sehingga sebagai kompensasinya… para penghuni lama mengenai biaya sebasar 7jt-an kepada calon penghuni baru… ya.. kalau seandainya hal ini betul.. saya pribadi sih ndak menyalahkan warga A2 penghuni Lama, menurut saya sih Wajar jika warga penghuni lama mengenai biaya kepada penghuni baru… Abiss.. mereka beli rumah ndak dikasih listrik…. betul apa tidak sih mazz yudi..???
Thanks-Anggrek3

155.    Anggrek3 Berkata:
Juli 2, 2008 pukul 4:33 am
Mazz yudi…
Salut buat anda… memang dari sekian banyak marketing Daksa dulu, tinggal beberapa marketing yang masih bertahan termasuk anda…
Dari pengamatan kami, cuma anda yang masih tersenyum dan berjualan serta tetap berani menemui konsumen walaupun kondisi sedang tidak baik… sekali lagi salut..
Dari komentar2 di forum ini, kami tahu banyak marketing s
Logged

indoro1ds

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 11
  • indoroids@f-mail.net
Re: Pengembang bermasalah di Grand Depok City - Kota Kembang Depok Raya
« Reply #2 on: September 02, 2008, 04:36:27 PM »


173.    Stater Berkata:
Juli 8, 2008 pukul 6:34 am
Yth, SELURUH WARGA TAMAN MELATI SAWANGAN,
SELAMAT PAGI INDONESIA, NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA.
SEMOGA WARGA TAMAN MELATI SUDAH MULAI SADAR AKAN SYSTEM PEMERINTAHAN YANG BERLAKU DI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA. BAGI WARGA YANG SUDAH MULAI SADARKAN DIRI, TETAPI MASIH MALU DAN GENGSI UNTUK KEMBALI KEPANGKUAN IBU PERTIWI, SEBAIKNYA TIDAK PERLU MALU APALAGI GENGSI. ANDA WARGA YANG MASIH MBALELO TIDAK MAU MENGAKUI SYSTEM KETATA NEGARAAN YANG BERLAKU DI NKRI, SEBAIKNYA SEGERA SADARKAN DIRI. INGAT SUATU WAKTU ANDA TIDAK PERNAH BISA LEPAS DARI SYSTEM PEMERINTAHAN YANG SAH, MISALNYA DALAM HAL: PENGURUSAN SURAT KEMATIAN, SURAT KELAHIRAN, KARTU TANDA PENDUDUK DAN LIAN SEBAGAINYA MENURUT PROSEDUR YANG SAH PADA SYSTEM PEMERINTAHAN HARUS ADA SURAT PENGANTAR DARI RT, RW DAN SETERUSNYA. ANDA PARA WARGA YANG MASIH BELUM BERSEDIA BERGABUNG DENGAN SYSTEM PEMERINTAHAN YANG SAH DI NKRI INI, ANDA TIDAK AKAN PERNAH BISA MENDIRIKAN NEGARA DIDALAM NEGARA, ANDA AKAN BERHADAPAN LANGSUNG DENGAN PENEGAK HUKUM DAN PEMBELA NKRI. ANDA AKAN TAHU DAN SADAR SESADARNYA BAHWA SELAMA INI ANDA TERPROVOKASI OLEH TANGAN TANGAN KOTOR DARI PENGEMBANG ALIAS ADI REALTY, SUATU KETIKA NANTI ANDA PARA WARGA YANG MASIH BERKIBLAT KE ADI REALTY AKAN MENYESAL KARENA ANDA MENEMPUH JALUR YANG GELAP, SALAH DAN KOTOR ITU. SUATU SAAT ANDA AKAN DIBUKAKAN PETUNJUK YANG BENAR OLEH TUHAN SEMESTA ALAM. SELAMA INI PIHAK PENGEMBANG BANYAK MEMBODOHI DAN MENGURANGI ATAU MENGGELAPKAN HAK HAK KONSUMEN, SEBAGAI CONTOH JELAS SETIAP KAVLING ITU HARUS ADA BAK SAMPAH, TETAPI NYATANYA TIDAK DIADAKAN. RUMAH RUMAH YANG BELAKANGAN DIBANGUN, DIBUATKAN BAK SAMPAH SETELAH ADA SALAH SATU WARGA YANG KOMPLAIN DI FORUM DIBAWAH KETUANYA SETIADI, WAKTU ITU PERTEMUAN DIADAKAN DIRUMAH BAPAK TEGUH DI BLOK DB PADA AKHIR TAHUN 2007. SI PENANYA ATAU ORANG YANG KOMPLAIN TERSEBIT DITANYA SETIADI, BAHWA GAMBAR SITE PLAN INI DIPEROLEH DARI MANA, DAN APAKAH SIPENANYA BERSEDIA KALAU DIPANGGIL OLEH PENGEMBANG ADI REALTY ?, DIJAWAB DENGAN TEGAS SAMA SI PENANYA “BERSEDIA” . SINGKAT CERITA SAMPAI DETIK INIPUN ADI REALTY TIDAK PERNAH MEMANGGIL ORANG YANG KOMPLAIN ITU. PADAHAL YANG NAMANYA GAMBAR SITE PLAN ITU DILAMPIRKAN PADA BROSUR YANG DIBERIKAN OLEH ORANG PEMASARAN SENDIRI DAN PADA GAMBAR SITE PLAN ITU TELAH DISAHKAN OLEH WALIKOTA KOTA DEPOK, NYATANYA DIINGKARI OLEH PENGEMBANG ADI REALTY YANG PEMBOHONG ITU. MENGAPA PENGEMBANG MENGGUNAKAN ORANG ORANG UNTUK MEMPROVOKASI WARGA TAMAN MELATI ?, JAWABNYA SINGKAT KARENA PENGEMBANG TAKUT AKAN KETIDAK JUJURANNY/KECURANGANYA/KEBOHONGANNYA, KALAU SAMPAI WARGA TAMAN MELATI KOMPAK BERSATU PADU, GUYUP, RUKUN ADI REALTY AKAN BABAK BELUR. STATER YAKIN SUATU SAAT NANTI BARANG BUSUK YANG SELAMA INI DISIMPAN RAPAT RAPAT OLEH ORANG ORANG ADI REALTY DAN ANTEK ANTEKNYA AKAN TERBONGKAR DAN BAU KEMANA MANA, DAN BISA KEMUNGKINAN BISA BAU SAMPAI KE REI PUSAT, REI PROVINSI, REI DEPOK DAN APARAT PENEGAK HUKUM, KARENA BANYAK MASALAH PIDANA. HIMBAUAN STATER MARILAH WARGA TAMAN MELATI YANG SEHAT ROHANI DAN JASMANI NYA UNTUK SELALU MENDUKUNG SYSTEM PEMERINTAHAN YANG SAH DI NKRI INI, BAGI MEREKA YANG MASIH SAKIT SEBAIKNYA SEGERA BEROBAT DAN BERTOBAT AGAR DIBERIKAN PINTU MAAF DARI TUHAN SEMESTA ALAM.

174.    Judith Berkata:
Juli 8, 2008 pukul 6:51 am
Hi Pak Yudi, lama tidak ada kabar.
Terakhir saya minta info mengenai telpon notaris yang dipakai GDC, mau tanya-tanya mengenai tanah kavling saya minati, tapi Pak Yudi belum dapat-dapat juga, sampai saya juga jadi malas telpon lagi ke Pak Yudi, disamping saya hunting di tempat lain.
Saya sikh berasumsi, pasti Pak Yudi, banyak punya banyak peminat apalagi yang baru-baru dengan gencarnya iklan Dev sendiri. Eh melihat salah satu komentar di atas ternyata benar juga. Selamat ya.

175.    Eddy Berkata:
Juli 8, 2008 pukul 3:46 pm
Situs inigers,
Melihat situasi yang banyak memperjuangkan Bp. Yudi… Haloo.. ini bukan suatu pembelaan semata namun kenyataan bahwa Rumah saya belum memiliki sertifikat sesuai dengan apa yang dijanjikan, memang ada pengajuan dari beberapa rekan-rekan ke meja hijau, ternyata memang membuktikan bahwa Developer kalah dan masih ingin naik banding.
Memang suatu peninggalan buruk harus diperbaiki namun jangan sampai hukum rimba yang turun tangan, dari awal pembuat situs ini ini memang untuk membuat informasi namanya juga BICARA RUMAH (rumah itu mencakup lingkungan, kawasan, dan fasilitas pendukung)
Yang model kayak Weni gini masih belum paham juga? saran hemat baca dari atas ikuti alur berita, jangan cuma ceplas ceplos.. kalau anda memang hebat buktikan, selesaikan masalah mulai dari Rumah saya!! Saya challange anda.
Kalau saya masuk jurang apakah yang lain harus ikut masuk jurang, terkadang memang kejujuran menyakitkan namun jangan dipungkiri.
Yang bertindak cerdas ya si PEMBELI, bukan penjual kalau hanya menuruti penjual selalu bilang semua produknya bagus.
Ya mungkin agak aneh bagi anda Sdr Weni, menurut saya Anda yang aneh.. telaah, baca, lalu komentar kalau mau seimbang ya buat aja situs sendiri http://www.gdc.au.ah.elap 
ini kan forum bebas jadi tidak untuk memaparkan produk.
Masih tidak puas, silahkan melihat koran dan majalah ibukota, propinsi, bagian rubrik pembaca (rata-rata semuanya dibaca tiap hari oleh khalayak ramai) tentang keluhan saya terhadap pengembang.

176.    jatmiko76 Berkata:
Juli 9, 2008 pukul 4:47 am
Memang Balik Balik sebenarnya ya ke Pembelinya kok, Memang Terkadang Kejujuran itu kebenaran yang paling menyakitkan buat sebagian orang dan Kalau memang itu bermanfaat untuk banyak orang walaupun menyakitkan ya harus kita kabarkan. Balik balik ke masing masing individu, mau pilih saran yang yang mana dan masing masing punya efek timbal baliknya. Kalau saya pribadi berprinsip hanya sekedar memberikan narasi/gambaran mengenai apa yang telah kita alami dengan DAKSA/KOTA KEMBANG bukan mengajak orang untuk tidak membeli rumah disana tapi memperingatkan orang bahwa kita punya pengalaman buruk dan kita hanya peringatkan juga untuk calon pembeli baru disana supaya lebih hati hati jangan sampai seperti kita. LEBIH CERDASNYA CALON PEMBELI RUMAH HARUS BISA MENELAAH KIRA KIRA KALAU SAYA BELI RUMAH DARI DEVELOPER YANG OWNERNYA SAMA DENGAN KOTA KEMBANG AKAN MASALAH TIDAK. JADI BUKAN HANYA MENIMBANG KALAU MAU BELI RUMAH DITEMPAT YANG SAMA TAPI PADA OWNER YANG SAMA JUGA APAKAH AKAN ADA MASALAH. TERUS APAKAH PEMILIK BARU KOTA KEMBANG BENAR BENAR BARU ATAU GANTI NAMA AJA, DSB. Equivaletnya mungkin kalau kita beli satu barang dengan brand /jenis tertentu terus kita bermasalah, kita juga kan perlu untuk curiga dan lebih berhati hari kepada jenis barang/brand yang Manufactur atau owner brandnya sama. Ya mungkin kita gak perlu sampai sejauh penerapan dalam korporasi dimana kita perlu audit vendor/Supplier tapi kira kira clue nya sama lah pada saat kita membeli apa saja. Kepastian supply, Legalitas, Financial capabilty supplier, quality, delivery, warranty, after sales service, term payment dan sebagainya itu adalah aspek utama yang harus kita telaah dalam membeli apapun termasuk juga rumah toh.
Jadilah konsumen yang cerdas dalam memilih dan membeli apapun baik barang ataupun jasa.

177.    jatmiko76 Berkata:
Juli 9, 2008 pukul 6:26 am
Dan Balik Balik juga Ke pembelinya… wong supirnya sama aja nasib penumpangnya berbeda…Pak Eddy masuk jurang sementara aku hampir doang.
Intinya Kita pake driver/Supir gak mesti kan kita juga gak bisa ngedrive driver kita….

178.    Kerto Wijoyo Berkata:
Juli 9, 2008 pukul 7:35 am
Dulu saya sempat punya niat utk booking rumah di Kota Kembang/GDC
alasan saya waktu itu adalah lokasi yg cukup strategis baik itu ke pusat kota depok dan lokasi kerja saya, serta infrastruktur dalam komplek perumahannya, jalan utama yg lebar dan bagus 
namun alhamdulillah saya lebih dulu menemukan situs ini anda ini, sehingga saya mendapat masukan yg sangat berharga dalam menentukan keputusan apakah jadi booking atau tidak.
Buat Bp. Eddy, Bp, Jatmiko dan bpk2 lain saya ikut prihatin dan mendo’akan semoga masalah yg bpk2 hadapi saat ini segera terselesaikan.
Bagaimanapun juga walaupun saya bukan konsumen GDC saya turut merasakan peliknya masalah yg Bpk2 hadapi
semoga Allah SWT memudahkan penyelesaian masalah ini, amiinn

179.    joel_212 Berkata:
Juli 9, 2008 pukul 9:46 am
sekedar sharing info
untuk Pengelolah GDC :
sejak beberapa bulan , terdapat tumpukan sampah di sekitar sektor Aster, sebelah kiri jalan raya menuju kantor pemasaran GDC yang baru atau menuju pintu gerbang GDC , yang sangat mengganggu pemadangan , sepertinya tidak pernah untuk dicari kan solusi, semakin hari sampah semakin banyak.

180.    Eddy Berkata:
Juli 10, 2008 pukul 7:06 am
Dear All,
Saya setuju banget dengan Jatmiko76, memang itu yang diharapkan dari awal pemikiran jg seperti itu namun implementasi di lapangan ternyata kow beda banget after sales servicenya? ya kalau suruh sabar sich kurang apalagi ya 2005 - 2008 memang gampangnya disuruh cari developer lain yang kompeten misal pesona khayangan estate toh dibandingkan soal harga dengan menunggu
Tapi intinya saya setuju dengan pendapat Jatmiko76, semoga saja bebek-bebek yang lain tidak masuk ke jurang yang sama. .. huehue yang doyan bebek…
Anggap saja dewi fortuna belum disisi saya..
Tambahan :
Untuk pengelola GDC jalan menuju sektor gardenia tambah hancur terlebih dengan rumah-rumah yang di pinggir sungar yang kian hari makin longsor ditambah jalan utamanya sudah hilang tolong dibenahi.
Kemudian fasilitas taman tidak kunjung ada yang ada hanya hamparan tanah kosong penuh dengan rerumputan liar tolong dipangkas dan dibenahi

181.    Hilman Berkata:
Juli 10, 2008 pukul 8:15 am
Kayanya orang dari GDC gak ada yang mau ikut nimbrung di situs ini ini lagi, karena dilarang ikut ……. di situs ini ini katanya.
Jadi urusan belum bisa dibenahin ……

182.    bunda anggrek 3 Berkata:
Juli 11, 2008 pukul 3:03 am
Kedamaian pada situs ini ini dapat terjadi jika hak2 konsumen yang sudah lama dibiarkan, diabaikan dan disepelekan dapat diubah menjadi diperhatikan, diselesaikan, dituntaskan, ‘diputihkan’, Membeli kawasan GDC sama juga dengan membeli masalahnya yang harus diselesaikan. Pemda setempat idealnya turun juga dapat menjembatani dan mencarikan solusi atas masalah warganya, karena warga juga telah kontribusi atas pajak.
Semoga saja nanti bisa ‘berenang dengan damai’ dengan menikmati waterparknya, meski masalah kita belum pada selesai ? refreshing lah, jangan pusing terus pikir sertifikat aja

183.    jatmiko76 Berkata:
Juli 11, 2008 pukul 4:16 am
Walikotanya kebanyakan ngursin belimbing bu….

184.    jimmy Berkata:
Juli 31, 2008 pukul 4:36 am
terima kasih atas info mengupas tuntas ttg GDC /Grand Depok City.
saya jadi mengurungkan niat untuk menyicil rumah disana, saya tertarik karena iklannya gencar.
Semoga yang sedang berusaha mendapatkan hak-haknya tidak putus asa.

185.    Juragan Garment Berkata:
Juli 31, 2008 pukul 6:11 am
Salam Sejahtera semua,
Sharing buat para calon pembeli dan para penduduk GDC baik di sektor anggrek 1,2,3 dan sektor lainnya. Saat ini saya masih memiliki kendala untuk menagihkan DP yang sudah kami setorkan ke pihak developer ( pada saat pembangunan rumah walaupun DP sudah kami lunasi tp rumah tetep ga jadi2, sehingga kami memutuskan melanjutkan pembangunan rumah dengan biaya pribadi, setelah dilakukan perhitungan CUT OFF ternyata pihak developer masih punya hutang ke kami yang sampai dengan saat ini belum di bayarkan) , sementara AJB juga belum kami terima. Walaupun saat ini kami masih tetap melaksanakan kewajiban kami ke pihak bank. sejak tahun 2004 yang lalu.
Kami mohon saran dan petunjuk kepada temen2 yang sudah berpengalaman, tentang “Bagaimana cara yang efektif agar dana yang masih tersisa di pihak pengembang dapat kami ambil kembali”.
Atas saran dan petunjuk nya kami ucapkan banyak terima kasih. Dan bagi usulan nya nanti yang ternyata berhasil kita pergunakan untuk menagih… akan kami sebarluaskan …agar dapat bermanfaat bagi teman2 yang memiliki masalah yang sama dengan kami.

186.    malakanist Berkata:
Agustus 6, 2008 pukul 4:03 pm
Apa maksudnya Tuan khudana dengan mailing khusus GDC tersebut?????. Kalau saya menganalisa GDC sudah kualahan dengan Situs ini ini yang bisa diakses siapapun juga, bukan hanya dari GDC dari dari mana aja, sehingga bisa menyebar kemana mana.
Mailing ini mungkin dibuat biar orang yang diluar GDC tidak bisa baca lansung kecuali dia daftar. Tidak mungkin orang luar mau daftar di mailing list ini kalau dia tidak punya kepentingan. Tapi di situs ini ini, orang tadinya mau mencari info lain tapi bisa baca mengenai GDC.
SARAN SAYA, ABAIKAN MAILING KHUSUS GDC INI, KALAU DI SITUS INI INI SIAPA PUN BISA BACA TANPA HARUS DAFTAR DI MAILING LIST GDC.
BRAVO ALL VICTIM OF GDC/DAS/DAKSA
KEEP SPIRIT, KEEP FIGHTING, KEEP STRUGGLE.

187.    Aryo W Berkata:
Agustus 8, 2008 pukul 6:39 am
Udah lama ga comment. Sepi 2 ajah seh.
Rumah saya belum di bangun sama sekali pak Hendra, cuman baru si pagerin kayu doang.
Padahal yang di seberang udah mulai di bangun. Tau nech kapan. Janjinya awal Agustus dah mulai.
Semua tukangnya lagi di suruh ngebut ke water park.
Katanya Water Park mo di buka 08/08/08, koq blum jadi jg???
Pak Hendra,
Bapak di Anggrek 2 juga?
Lupa saya.. Blok mana yach
Pak Willy,
Maaf pak, email bapak masuk ke Spam. Jadi ga ke baca.
Baru di reply kemaren2. hehehehe….

188.    Ghaisan Berkata:
Agustus 8, 2008 pukul 10:33 am
Buat semua yg nulis di situs ini GDC ini, Saya minta informasi yg jelas bgmn sih permasalahan yg ada di GDC. Saya berencana membeli rumah di Puri Insani 2 dan sudah menaruh booking fee 1 jt, sudah menyerahkan berkas2 persyaratan utk KPR di BTN. Hari Kamis, 7 Agustus 2008 pagi saya ditelepon dari pihak BTN (wawancara) dan siangnya ditelepon bagian KPR GDC yg memberitahukan bahwa KPR disetujui dan diminta utk datang ke BTN Jum’at, 8 Agustus 2008 utk ttd akad kredit. Saya bilang saya ada acara ke luar kota jadi tidak bisa utk akad kredit tgl 8 Agustus 2008 dan direncanakan Jumat, 15 Agustus 2008.
Lewat situs ini ini saya minta informasi kepada bapak/ibu penghuni GDC dan yang sudah akad kredit di GDC, apa sih yg terjadi di GDC ini?
Sbg informasi, Saya nanya kawan saya yg ambil rumah lewat KPR (via Bank Mandiri) bahwa setelah akad kredit sekitar 5 bulan kemudian dia terima copy Sertifikat Hak Milik rumahnya (yg asli di Bank sbg agunan). Apakah nanti di GDC seperti itu juga setelah akad kredit kita terima copy sertifikat SHM juga?? Dan apakah pihak Bank atau pihak Developer menjamin pengeluaran sertifikat SHM??
Sampai sekarang saya masih pikir2 dan ragu utk ambil KPR BTN di GDC. Tlg infonya.
Tks.

189.    malakanist Berkata:
Agustus 9, 2008 pukul 5:30 pm
Bpk/ Ibu ghaisan,
Deveeloper yang benar akan mematuhi semua aturan yang sudah dituangkan dalam SPPJB, seperti teman bpk/ibu yang ambil KPR via bank mandiri, apakah teman bpk/ ibu tidak ambil rumah di GDC kan??????.
Saya sarankan bpk/ibu tidak meneruskan akad tersebut, masih banyak PR devlp ini yang belum terselesaikan, baik yang konsumen lama or baru. Bpk/ ibu belum terlambat, biarlah hilang 1 juta dari pada mendapat beban permasalahan yang tidak pernah henti2nya. Di sini tidak ada SHM bpk/ibu, SHGB aja belum tentu dapat or mendapatkannya setengah mati, apalagi SHM, jangan mimpi bpk/ibu untuk SHM.
Developer yang benar yang saya tau, sudah mengkavling2 dulu tanahnya menjadi beberapa pecahan sertifikat (SHGB/SHM) atas nama pemiliknya or devlp nya. kalau ada konsumen yang mau beli, akad dan tinggal balik nama. Tapi di GDC kan beda, sertifikatnya disekolahkan terus ke bank tanpa pernah diwisudakan ke konsumen, mulai dari dev lama (daksa) sampai ke dev yang skg (DAS/SMR).Makanya permasalahan tidak pernah terselesaikan.
Sekali lagi saya infokan, manajemen GDC pun tidak bisa membuat kepastian kapan nasib2 komsumen ini akan selesai. Bagaimana mereka mau buat kepastian, lah sertifikat digadaikan terus.
Untuk bpk/ ibu ketahui, di GDC ini yang namanya AJB dan Sertifikat seperti makhluk halus, sulit untuk menyentuhnya, untuk melihatnya pun konsumen susah. Berbahagialah teman bpk/ibu yang ambil KPR via mandiri. Dan berbahagialah bpk/ibu karena masih ada orang yang mau berbagi info mengenai GDC.
Bpk/ ibu harus percaya dengan konsumen bukan devlp. Di GDC uang yang sudah disetor susah akan kembali lagi ketangan kita, tangan mereka kayak GURITA. Kalau ada uang yang dikembalikan, paling mereka cicil, itu juga sudah pakai tegang urat syaraf dulu dan harus dimonitor setiap bulannya apakah mereka mangkir bayar or tidak.
Cukup saya dan konsumen lainnya yang sudah terlanjur TERTIPU dengan dev yang gak jelas, bpk/ ibu jangan seperti kami. Dulu kami tidak ada yang memberikan informasi seperti ini, makanya kami jadi korban, tapi kalau bpk/ibu mau seperti kami, silahkan akad, setelah itu tidak ada bulan madu.
Mari kita dukung terus situs ini ini, mari kita abaikan ML ini “granddepokcity-subscribe@yahoogroups.com”, ini hanya menguntungkan pihak GDC, tapi akan merugikan konsumen lama, baru or calon konsumen. Ini adalah cara2 lama yang mereka pakai untuk menutup nutupi KUDIS mereka. Berbahagialah kita punya SITUS INI ini, kita bisa sharing dengan fakta2 yang kita miliki dan alami masing2, bukan omong kosong. SITUS INI ini dibuat untuk mencari kebenaran berita or informasi.
Coba kalau kita masing2 buat statistik di situs ini ini, apakah komentar positif or negatif yang banyak dilontarkan di situs ini ini?, silahkan menghitung masing2.
Again bpk/ ibu, please do not hesitate to cancel it, finish, no nego.
TELL THE TRUTH,
BRAVO ALL VICTIM OF GDC/DAS/DAKSA
KEEP SPIRIT, KEEP FIGHTING, KEEP STRUGGLE.

190.    eddy Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 8:36 am
Petisi gabungan dari warga Grand Depok City, untuk pengajuan gugatan kepada Pihak developer mengenai surat, AJB, Sertifikat rumah2 yang bermasalah.
Saya khususnya Warga Gardenia khususnya Blok R, telah mengajukan mediasi dengan pihak Legal dari developer namun tidak ada tanggapan, oleh karena itu wajib diumumkan ke media massa yang dimana telah di muat dibeberapa media seperti, SINDO, Kontan, Indo Pos, MonDe, Warta Kota, dll.
Mohon kiranya disampaikan ke khalayak ramai, agar bisa terlaksana kelanjutan dari petisi awal.
Anda bisa melihat berita rangkuman tersebut di http://gardenia.tk atau anda bisa melayangkan e-mail ke eddy@msii-asia.com, dengan mencantumkan status tanah, pembelian, keterangan, tahun beli, nama dan blok jangan lupa

191.    Pompey Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 8:40 am
Tidak perlu banyak menulis, saya hanya bisa komplain melalui situs diskusi di sini dimana saya sepertinya menanggalkan nilai-nilai intelektual karena kekecewaan yang sangat mendalam.. Ada juga situs yang nulis promosi GDC yang menyesatkan walo saat ini sedang under construction..
TIps bagi anda sebelum terjerat.. baca-baca dulu di internet dan TANYA penghuni lama mengenai GDC ini, jangan sampai terjebak dan memboroskan sumber daya waktu, tenaga dan UANG untuk sesuatu yang percuma.. juga cek di internet…
Salam intelektualitas!

192.    Pompey Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 8:42 am
Saya sebenarnya juga di awal sangat suka dengan keberadaan lokasinya dst. bahkan sudah booking, namun setelah beberapa kali interaksi dengan banyak pihak, dan terutama kurang diapprove oleh keluarga untuk kami tetap keukeuh ambil di GDC, akhirnya batal.
Nah, yang saya sangat sesalkan adalah kok kami jadi sangat sulit ya utk mengambil hak kami sendiri.. yang “hanya” 4 juta padahal saya sudah iklaskan 1 jutanya. Kalau memang developer yang baik, ya paling nggak 1 juta itu bisa dipakai lah untuk biaya-biaya administrasi sampai urusan kami selesai.
Tapi ya sudahlah, Alhamdulillah barusan kemarin uangnya sudah masuk ke rekening dari Giro yang kami ambil (dengan terpaksa cuti dan spend money lagi untuk bolak balik pakai taxi antara Sunter - Depok)

193.    Adit Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 8:43 am
Memang untuk urusan pembayaran ke GDC memang agak ribet. Mereka harus kordinasi dengan kantor pusat, kemaren juga saya cuma dapat kwitansi sementara waktu membayar DP, baru 2 minggu kemudian dapat kwitansi resminya. Seharusnya online antara kantor pemasaran di proyek dengan yang di pusat, sehingga tidak membuat was-was para customernya. Mungkin demikian juga untuk pembayaran ke customer yang membatalkan pembelian rumah di GDC.

194.    Aryo Wisnudarto Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 8:45 am
Saya rencana mo ambil B6 / 4, (posisi Hoek) kemaren ada yang cancel. jadi saya mo ambil.
Rumah kita sebelahan dong pak? (sok yakin)
tolong email ke saya dung ke:
mujadoel_99@yahoo.com
Pengen ngobrol2, saya agak ngeri juga ambil rumah di GDC melihat komentar2.
Tadinya saya ambil anggrek 2 awal bulan may.
Kemaren saya liat lagi koq masih banyak tanah kosong, ga ada aktifitas pembangunan and ada beberapa rumah yang berdiri sendirian tanpa ada tetangga kiri kanan.
Merasa takut di “kibuli” (lama pembangunannya)
akhirnya saya cancel, saya minta yang di alamanda yang sudah jadi.
Ternyata ada orang yang cancel.

195.    Pompey Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 8:46 am
saya juga sudah ambil di Alamanda, namun ternyata turun plafon, itulah yg membuat kami cancel karena tidak direstui oleh anggota keluarga yang lain sebab kami tidak siap kalau turun plafon dan harus bayar DP sekitar 20jutaan. Maklum modal belum mencukupi hehe.. baru aja terkumpul modal buat married.
Alamanda adalah pilihan terbaik dari GDC. Itu yang bisa saya simpulkan. Walaupun terpaksa cancel dan ternyata cuapek bin ribet ngurusin pengembalian uang, tapi secara umum, dari harga, lokasi dan “rencana fasilitas” utk Alamanda, adalah yang terbaik sejauh ini.
Untuk informasi, GDC merupakan proyek ke - 4 atau 5 dari SMR (pengembangnya) dimana memang GDC sepertinya termegah dan SMR ini walo kata marketingnya perusahaan besar, namun memang belum berpengalaman. Baru 4-5 lokasi, namun saya lupa persisnya, yang pasti Taman Anyelir (konsumen menengah kebawah), Bogor Asri (menengah ke bawah), GDC (menengah ke atas), dan satu atau dua lagi saya lupa, letaknya juga antah berantah klo ga salah di Kalimantan. Ini saya liat sendiri di Kantor pusatnya. Dan GDC, Anyelir, dan Bogor Asri ini semuanya tergolong perumahan yang BARU DIBANGUN.
Jadi, memang tidak salah kalo banyak komplain, lah kurang profesional..

196.    Pompey Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 8:47 am
Btw, mengenai promo BEBAS DP, ada juga yang mengeluhkan seperti situs ini yang saya kutip diatas. Sebab ternyata memang bebas dp kalo ngga turun plafon KPR nya. Nah, dia ini tidak diberitahu oleh marketing (menurut dia) kalau saya sih sudah tahu. Jadi standard orang sales nya juga kurang seragam. Mungkin anda dapat yang “baik” dan rekan lain dapat yang “cuek”.

197.    dewieq Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 8:49 am
Salam kenal. Saya calon penghuni block C.3 Alamanda 45/120. Kalo saya kok meragukan kualitas bangunan Alamanda yah, malah cenderung mengatakan bahwa kulitas bangunan yang ditawarkan tidak sesuai dengan harga yang sudah kita beli. Liat aja kualitas kayu-kayunya itu sangat jelek sekali (bukan oven) dan rangka atapnya terlihat sangat rapuh jadi saya yakin paling cuma bisa bertahan 5 tahun ke depan. Anggap tulisan saya ini sebagai pelampiasan kekecewaan saya terhadap kualitas yang ditawarkan pihak GDC.
Memang ada fasilitas apa ya yang ditawarkan untuk Alamanda? Sepertinya tidak ada karena GDC pun tidak membangun fasum seperti free taman bermain untuk anak, tempat ibadah dll…

198.    Pompey Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 8:50 am
Maksudnya paling baik diantara cluster-cluster lain deh mbak.. kalau di Alamanda aja ngga dibangun Fasum ya yang lain juga sepertinya tidak akan dibangun. Soalnya saya lihat, Alamanda adalah “jagoannya” GDC baru. Ya mungkin nanti ada Alpinia dst tapi tetap kalau d compare lokasi dan harganya (sesama cluster di GDC ya) itu Alamanda paling baik.
Saya ngga tau kalau jadinya tidak sesuai janji. Soalnya komparasi saya sebatas diatas kertas dan sempat survey dan mo ambil waktu itu.
(Masjid, Lapangan bulutangkis, tenis dll yang ada pada saat ini, Insya Allah maaf kalau salah adalah FULL 100% WARGA YANG BUAT. Hanya KOlam renang sih kalo mo ngomong fasilitas..)

199.    anton Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 8:58 am
saya juga pernah hampir menjadi korban daksa group ini. tahun 2003, saat menonton pameran perumahan di JHCC saya ditawari kavling di Puri Sriwedari Cibubur oleh sales Daksa Group yg bernama Tiara. Setelah memberi deposit Rp. 5 juta sbg tanda keseriusan/booking, saya melihat lokasi yg ternyata memang cocok dg keinginan saya. Berhubung harga belum masuk budget saya (offer 250 juta), saya mau mencoba nego lagi. Tapi Tiara bilang untuk dapat nego, deposit harus ditambah lagi 60 juta dan harus disetor ke rekening seseorang yang katanya manager puri sriwedari. kenapa kok nggak ke rekening daksa saja? kata Tiara agar dana benar2 digunakan untuk membangun rumah saya dan tidak digunakan untuk KKDR yg sedang dalam masalah. ketika saya mau lihat sertifikat tanahnya dia bilang nanti saja pas nego dg managernya.
Disini saya mulai curiga. kebetulan pas saya cerita ke teman, teman saya itu punya teman yg kerja di puri sriwedari. langsung si teman ini saya telpon untuk mengecek status tanah kavling yg mau saya beli itu.
Ternyata kavling itu masih bermasalah (belum dibeli oleh daksa) karena ahli warisnya ada beberapa orang dan masih berebut hak atas tanah tersebut. walaaaah……
Malahan, kata temen tadi, rumah disebelah kavling saya sudah 2 tahun sertifikatnya belum kelar juga.
Busyet dah itu sales…. ngejebak banget.
alhamdulillah 2 minggu kemudian, setelah saya telpon tiap hari, duit saya yg 5 juta dibalikin juga.

200.    avriel Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 8:59 am
katanya KKDR sekarang dipegang Mr.Tony Winata?? baca tuh thread sebelah soal tommy (cibubur). Tapi kayaknya gak jaminan siapa yang pegang, tetep pengurusan sertifikat bermasalah. bagi yang pengen rumah, sebaiknya memang hindari KKDR.

201.    calupict Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:00 am
Kota Kembang, ya.
Jadi inget pas ke BPN di sana….
Satu hal yang saya ingat adalah: jalannya jueeeleek!!
Mendingan BSD kemana-mana deh

202.    priyadi Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:01 am
tomy winata itu bossnya artha graha. nah si daksa ini menjaminkan aset2nya ke artha graha untuk mendapatkan kredit dari artha graha. jadi memang sertifikat induk KKDR dipegang tomy winata. nasibbbbb nasiibbbbbb (yg jadi korban penipuan)

203.    dwee Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:02 am
KKDR = kEdeeeerrrr

204.    cheat games Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:02 am
Wah..gawat juga nich. Makin banyak aja perumahan yang nepu2

205.    odetz Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:04 am
PT. Inti Karsa Daksa ini bagian dari daksa grup bukan ?
di kalimantan timur juga ada beberapa kasus
-korban pematokan lahan

206.    isnaini Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:04 am
Punya temen di kota kembang juga. Tapi itu lho, rumahnya gak selesai-selesai dalam waktu 4 tahun. Padahal, tiap bulan, setoran rumah jalan terus. Udah gitu lokasinya jauh banget. Tapi untung, tdk mengikuti jejak teman itu beli rumah di Kota Kembang

207.    jesie Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:05 am
Turut bersimpati, sekarang emang kudu ati2 mslh pemilikan rumah, kalo g developernya jelek, pihak banknya juga bandel, konsumen sering “didorong paksa” untuk memiliki rumah via KPR, dengan tenor yang lama (20 tahun) walau kemampuan finasialnya bisa untuk melunasi tenor 5-10 tahun. Dan akhirnya malah invest ke tanah kampung sekitar area perumahan

208.    rizali Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:06 am
moral cerita: hati2 beli properti dari developer nggak jelas. yg jelas aja, spt lippo, masih bisa bermasalah, apalagi yg nggak jelas. apalagi nama developer nya kayak nama makanan/soto, soto daksa ????

209.    dryae Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:07 am
Dulu sempat dengar selentingan bermasalahnya perumahan ini ketika mo nyari rumah di Depok, dan membuat urung niat survey disana

210.    ulfra deni Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:07 am
saya juga punya tanah disektor melati .sampai sekarang belum bisa digunakan.saya betul-betul bingung .tidak tahu apa yang bisa diperbuat.saran dan komentar serta nasihat benar-benar bisa membantu.

211.    doelmnf Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:08 am
ati-ati di jalan kota kembang sering ada perampasan motor, maklum aja namanya juga kampung ya masih sepi getho

212.    lia Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:08 am
slm kenal yak!!!
cuma 1 kata aja buat KKDR…BAD!!!
gw ambil di anggrek 2 secara berthp alias 7x pembyrn.
skrg tgl 1x pembyrn lg tp tuh rmh ga jadi2.
mreka janjiin 9bln serah terima kunci, tp nyatanya ini sdh 1th 5bln.
Beli rmh baru dgn tujuan utk ditempatin krn menghindari banjir, tp koq ga jadi2!!!
mana janji manismu manajemen KKDR????………

213.    bimo Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:09 am
DEVELOPERNYA MASIH IDUP GAK SIH?.LAMPU LAMPU JALAN NYA PADA MATI SEMUA…JALANAN BANYAK YANG RUSAK….POKOKNYA SEPERTI LEPAS TANGGUMG JAWAB TU DEVELOPER.
Sy salah satu warga di VMC2 sektor anggrek 2.

214.    dionisius nuriman Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:22 am
rumah saya di anggrek 2 dari thn 2003 blum jadi sampai sekarang, saya mesti kemana yaach…kok si pengembang ga ada tanggung jawabnya?, semoga pak Pri bisa kasih jalan keluarnyamentang2 aku wong cilik kali yaa..

215.    dzaki Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:24 am
Saya seorang calon konsumen perumahan Grand Depok City di sektor gardenia. Setalah membaca comments di situs ini ini saya jadi pusing pak antara jadi atau tidak membeli rumah (secara KPR) di perumahan ini.
Saya sebenarnya sudah lama mengetahui adanya perumahan ini (KKDR) hanya saja saya baru tahu kalau developernya bermasalah (dulu Inti Karsa Daksa sekarang Dinamika Alam Sejahtera). Saya baru membayar booking fee saja (Rp. 1 Jt) dan belum membayar DP-nya.
Menurut saya sebenarnya prospek perumahan ini cukup bagus terutama sekali ditunjang oleh adanya kompleks perkantoran Kodya Depok (sebagian dinas/kantor) yang menurut hemat saya seharusnya menjadi semacam “jaminan” bahwa perumahan ini memang “bekerjasama” dengan Pemkot Depok. terlebih ditunjang oleh luasnya areal dan Siteplan perumahan yang menurut saya “bagus banget”.
Saya jadi bingung sekali nih, terutama ada teman saya mantan marketing IKD yang kasih advice ke saya supaya membatalkan rencana pembelian rumah di sana karena tanahnya bermasalah (sengketa) dan developernya juga bermasalah (gk bisa penuhi komitmen ke bank artha graha, kondisi keuangan yang buruk, dsb).
Dengan demikian, saya mohon kiranya bapak bapak disini bersedia memberikan saran dan masukan terkait dengan permasalahan saya tersebut. Saya berharap keputusan membeli rumah tersebut tidak menjadi suatu “petaka” bagi saya dikemudian hari.
Sekiranya jawaban bapak bersifat private and confidential saya mohon dikirimkan balasan ke email saya pak di perkakastua@yahoo.co.id.
jawaban dan advice anda anda semua sangat saya harapkan.
Trims

216.    lucky Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:26 am
mo nanya apa bener sektor anggrek 2 mo nutup jalan yg menuju sektor gardenia(VMC2),bukankah jalan tersebut milik developer,jadi warga sektor gardenia berhak lewat jalan tersebut.
Dan lagi bukannkah merupakan suatu kenikmatan yg luar biasa dgn terciptanya kerukunan dalam bertentangga,walau saya tauk sektor anggrek 2 dari segi rumah lebih gede dan bagus dan dari sisi finansial jg lebih besar,tapi itu semua gak akan di bawa mati.yg di bawa mati dan tidak putus pahalanya salah satunya sodakoh jariyah,klu memang jalan akses tersebut yg buat warga anggrek 2 kenapa tidak dijadikah sodakoh aja(Wakaf).
demikian ungkapan pribadi saya,sekedar mengetuk hati nurani sesama korban DAKSA.
mohon maaf bila ada yg tersinggung

217.    indra Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:27 am
Mohon dikasih tau kondisi terakhir tentang perumahan ini? soalnya saya baru saja ambil perumahan di sana takutnya uang saya hilang rumah ga dapat trims ya pak

218.    Wahyu Kencono Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:28 am
niat cari info yang selengkap lengkapnya tentang perumahan Gran d Depok City, membawa saya cari info di google dan ketemu situs ini. OK juga , salam kenal.
Tapi setelah baca banyak comment kok malah jadi bingung ya.
Saya udah bayar booking fee Rp 1 jt untuk cluster Chrysant (deket sektor melati ya?), tapi belum memutuskan melanjutkan bayar DP nya.
Mohon infonya tentang status tanah dan rencana pengembangannya Pak, khususnya di cluster Chrysant dan Grand Depok City pada umumnya.
Terima kasih

219.    edho Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:30 am
Saya seorang calon konsumen perumahan Grand Depok City di sektor gardenia. Setalah membaca comments di situs ini ini saya jadi pusing pak antara jadi atau tidak membeli rumah (secara KPR) di perumahan ini.
Saya baru membayar booking fee saja (Rp. 1 Jt) dan belum membayar DP-nya.DP nya saya di kasi wkt paling lambat Tgl 3 bln 11, 2007. nah yang anehnya lagi saya datang tu langsung di suruh bayar DP 1 jt serta ga di mintain surat2 sebagai mana mestinya perumahan yg lain nya . yg harus pake syarat2 nya bnyk bngt. nah ini engga malah 2 bulan lg suruh nempatin rumah di VMC2 yg DP nya harus segera dilunasi sebesar 26jt dlm wkt 2 bln ,dp lunas rumah katanya bisa langsung ditempatin.
Dengan demikian, saya mohon kiranya bersedia memberikan saran dan masukan terkait dengan permasalahan saya tersebut . Saya berharap keputusan membeli rumah tersebut tidak menjadi suatu “petaka” bagi saya dikemudian hari.
Sekiranya jawaban bersifat private and confidential saya mohon dikirimkan balasan ke email saya pak di ( edhochraciaz@yahoo.com )

220.    wahyu Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:31 am
Saya calon konsumen perumahan grand depok city, khususnya sektor alamanda. Dan seperti yang lainnya saya juga telah membayar booking fee Rp 1 Jt. Dan akan dikenakan biaya KPR sebesar 17 jt.
Saya dan istri ragu2, setelah banyak mendengar keluhan dari email2 diatas. dan seperti di ketahui saat ini developernya telah berpindah tangan ke SMR yang berada dibawah Dinamika Alam Sejahtera.
Mohon Saran, apakah investasi ini akan merugikan di kemudian hari ? Sebagai tambahan apakah air disana banyak mengandung besi dan mangan seperti yang banyak dikeluhkan oleh sebagian warga kota kembang

221.    edho Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:31 am
hm………..swt deh…ternyata msh aja ada korban kaya saya.saya aja mengambil keputsan untuk tidak jadi mengambil rumah dsn.masalahnya knp??? karena pd wkt blm wkt nya mereka merubah perjanjian, bahwa kalo mau rumah langsung ditempati dlm wkt 3 bulan harus membayar DP kes.berubah dr perjanjian awal, yg tadinya dah disepakati DP bisa di angsur dlm wkt 3 bln.dan rumah langsung siap huni. ini mereka langsung minta kes.nah dngn itu saya langsung mengambil keputusan u/ tidak jadi beli rumah di KOTA KEMBANG.DARI PD SAYA HILANG UANG YG LEBIH BESAR LG MENDINGAN SAYA KORBAN UANG 1 JT.

222.    ade koswara Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:32 am
Saya baru tau situs ini, kebetulan saya sedang mencari informasi tentang reputasi grand depok city.
Setelah baca beberapa komen yang negatif tentang GDC, saya jadi bingung, saya sudah masuk booking fee 1.8, rencananya mau mengambil cluster chrysant. Saya mohon tanggapan atau siapapun yang mengetahui GDC,
Terima kasih

223.    lazuardi Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:33 am
Bagaimana kejelasan tanah di sektor-sektor yang ditawarkan seperti type crysant? ini agar konsumen tidak kecewa. terima kasih, semoga informasi nya dibalas oleh Tuhan

224.    rosa Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:34 am
saya mau tanya tenatang GDC, karna saya udah ambil unutk sektor Alamanda.
Setelah membaca koment temen2 diatas saya jadi ragu, tp uang yang masuk juga udah cukup lumayan banyak……
Apa pengembangg yang ini lebih baik dari sebelumnya , atau sama aja?

225.    abang Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:36 am
GDC saat ini sedang berpoles diri, namun apapun polesanya belumlah dikatakan cantik, selama permasalahan di masa lalu tidak diselesaikan dengan komitmen yang kuat, terutama pemnuhan aspek legalitas berupa sertifikat tanah dan bangunan. Saya saja di Anggrek 1, beli rumah tahun 1998, pernah tandatangan AJB tahun 2002 hanya sepihak di notaris. ALHAMDULILAH sampai saat ini, tidak jelas dan bosan untuk menanyakannya. Idealnya, jika ada komitmen diberikan surat penjelasan rencana kerja (action plan) kepada warga eksisting, karena warga eksisting merupakan markerting tool yang baik.
Produk-produk baru memang betul sedang dibangun, tetapi produk lama kaya Anggrek I, II, III dll, kayanya habis manis sepah dibuang, jalannya jelek ada sebagian tidak di aspal, tidak ada pagar beton, kabel bawah tanah tidak jelas teridentifikasi (berpotensi bahaya), tiang dan kabel telepon semerawut dll. Maklum produk yang dibuat agar cepat laku…..
Kami di Anggrek 1 punya fasilitas telepon, sarana ibadah, penerangan , sarana olah raga, perbaikan pagar bambu (maaf tidak punya pagar beton) adalah swadaya warga yang sama-sama prihatin dan kadung tinggal.
Perubahan nama kota kembang ke GDC juga, tanpa ada sosialisasi pada KTP dan dokumen lainnya yang tetap Kota Kembanglah. Kota sulit berkembang, karena ada orang-orang (konsumen) yang ‘teraniaya’. Orang yang teraniaya, bisa bersumpah serapah, ngomel, ngedumel, dan yang paling berat berdoa/dialog dengan Tuhan …………
Tidak terbayang bagaimana dari sisi waris, jika ternyata Warga yang punya rumah meninggal, tetapi sertifikat rumahnya tidak ada, kasihan nasib ahli waris yah……..
Gerbang sektor Anngrek 1 juga cukup menarik, dijadikan terminal angkot

226.    Benci PT dAKSA Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:37 am
HATI HATI DENGAN KOTA KEMBANG.DEPELOPERNYA MAPIA SEMUA.DAKSA ADA DIBELAKANG SEMUA.(TW) GITU LHO

227.    Benci PT dAKSA Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:38 am
AWAS KENA TIPU… DAKSA ( MAFIA) PERUMAHAN

228.    adil Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:38 am
Solusinya, masalah lama segera diselesaikan dan dibuatkan ‘task force’ dengan program kerja yang jelas terukur. Penyelesaian masalah lama, mungkin hanya biaya semata dan tidak menguntungkan secara finansial, tetapi hal ini harus menjadi kebijakan investasi dalam pengembangan cluster produk baru.
Membiarkan dan menutup-nututupi masalah lama hanya cenderung menghambat bagi pengembangan cluster produk baru. Sebagai contoh, perbaikan jalan, tentunya tidak hanya menuju cluster baru, tetapi dibutuhkan juga dibutuhkan juga ke cluster lama. Jika dapat dilakukan, menunjukan developer punya emppati dan keadilan pada semua konsumen, dan kota kembangpun akan berkembang.
jika yang tetap dipakai ‘paradigma daksa’, meski berganti nama berapa kalipun ya…susah berkembanglah

229.    pa’de Sugeng Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:39 am
GDC-Kota Kembang… sudah 4 tahun saya nyicil tiap bulan untuk sebuah rumah di hoek Sektor Melati belum ada AJB juga, muteeeer aja… ketika cicilan telat kita berhadapan dengan Bank, coba pasang iklan “DIJUAL/OVER Kredit” banyak sih yang hubungi…pada akhirnya saya harus berterus terang di depan “calon peminat” kondisi yang sebenarnya….nggak tega juga lihat orang lain mengambil alih “stress” nya kita. Akhirnya stress saya berbuah dalam bentuk kesabaran, entah sampai kapan…
Saran saya, berpikir yang matang untuk membeli/KPR di perumahan manapun

230.    anakdepok Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:40 am
Yaa ampyuunnn….help…help…gw udah terlanjur nge-DP 1 juta ke GDC jumat kemaren..hiks..hiks..gimana dong

231.    pa'de sugeng Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:40 am
Di rubrik Surat Pembaca Koran SINDO edisi hari ini, Sabtu 19 april’08 bisa Anda baca keluhan salah satu konsumen Grand Depok City…mungkin bisa jadi bahan pertimbangan buat Anda , kita tunggu surat pembaca berikutnya, mungkin akan mengalir bak banjir jakarta… lumayan buat baca-baca calon konsumen

232.    pa'de sugeng Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:41 am
Hari ini saya kesal dan benar2 marah!!!! sabtu 26 april 2008 kemaren saya dapat telpon gembira dari bank artha graha cabang jatinegara, “besok selasa bapak bisa AJB di Kantor Pemasaran Grand Depok City, silakan lakukan pembayaran sejumlah Rp 8.257.726,-” Hari ini senin 28 April saya melakukan pembayaran dengan semangat ‘45! Namun… ketika saya kembali ke kantor dan baru berjalan kira2 25 menit dari Bank, telpon saya berdering, “maaf pak, untuk AJBnya tunggu konfirmasi lagi…” kenapa? tanya saya menahan emosi, “iyah, pihak developer harus membereskan ini itu bla bla bla…! ooooh shit!!! pengen meledak rasanya isi kepala… saya tidak bisa komentar apa-apa…SILAKAN PARA PEMBACA MEMAKNAI tulisan saya ini sendiri

233.    endro Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:42 am
jangan coba coba memasuki kawasan KKDR, soalnya nanti keluar error message :
Forbidden
You don’t have permission to access / on this server

234.    dzaki Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:42 am
Alhamdulilah saya sudah membatalkan rencana beli rumah di GDC. Saya dapet di Gaperi (Cibinong) walaupun agag jauh gapapa yang penting aman dan terjamin gag ada masalah..

235.    Mr X Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:43 am
tolonggg.. saya harus DP hari Selasa ini, jadi atau nggak… hiks hiks bingung banget niiihh.. Lagian saya ambil rumah yang Melati/Edelweis.
Rekan2 mohon doanya, sabtu saya akan clearkan semua masalah LANGSUNG DI KANTOR PEMASARANNYA. Apa jaminan dan pertanggungjawabannya. Kalau nggak puas, saya akan cabut! biarin Ilang 1 juta daripada nyesel!
Saya sudah save semua komentar di internet utk ditunjukkan ke muka marketing sono. Seumur idup gw lum pernah ditipu orang maupun mencoba ditipu orang, bisa gw bunuh tu orang klo mo nipu

236.    papa nau Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:45 am
perkenalkan saya pembeli rumah di Anggrek 3, secara kes keras, pada September 2002. Waktu berlalu, dan akhirnya rumah saya selesai juga pada Akhir 2006, yang dilanjutkan dengan penandatanganan AJB di Notaris Yani Suryani yang ditunjuk Daksa. Setelah Ttd, disampaikan bahwa saya diminta untuk membayar SPPJB jika surat-surat tanah sudah selesai dan akan diserahkan kepada saya, dengan jangka waktu antara 6 s/d 12 bulan. Pihak Notaris mengatakan akan menghubungi saya. Gilanya, saya masih percaya, karena yang bicara adalah NOTARIS.
18 bulan berlalu tanpa kabar apapun. bulan kemarin saya mendapat pemberitahuan (surat dan telepon) dari developer Dinamika, bahwa AJB saya yang pertama batal, dan saya dapat menandatangani AJB baru setelah (wajib katanya) membayar SPPJB, dan surat tanah akan keluar +/- 8 bulan ke depan.
Ha ha ha, mereka belum berhenti juga “ngerjain” saya, . . . . ha ha ha, jadi Bapak dan Ibu hati-hati yaaaaa untuk berhubungan dengan Developer siapapun dan dimanapun, khususnya “nyang n’tu”, atau mau bergabung dengan kami di sini ????? ha ha ha ha
Demi Allah saya nyatakan bahwa mereka telah menipu dan menganiaya saya sekeluarga. Semoga Allah mengingatkan dan menyadarkan mereka. Amin

237.    papa nau Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:45 am
silakan cek ke Notaris Yani secara langsung, menurut dia AJB lama saya sekarang sudah diserahkan ke developer koq, AJB batal karena surat kuasa untuk Kuasa (yang ttd) dari developer sudah dicabut, he he he, kebalik atuh kang, masa saya yang dibilang pembohong, ha ha ha. Halo pak Edi Kuntadi, kumaha ieu teh, tong waka kabur atuh kang, beresan heula ieu urusan

238.    monitordepok Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:48 am
Distakotbang masih tebang pilih
28-Jul-2008 08:44:11
DEPOK, MONDE: Depok Government Watch (De‘Gowa) menyesalkan metode tebang pilih yang diduga masih dilakukan Distakotbang Kota Depok terkait keberadaan bangunan tanpa Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).
“Ibarat peribahasa, semut di ujung lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak terlihat,” ujar Koordinator De`Gowa, Cahyo Putranto, kemarin.
Menurut LSM pemerhati kebijakan daerah, peribahasa itu layak diberikan kepada Pemkot, khususnya Dinas Tata Kota dan Bangunan (Distakotbang). “Kenapa ruko atau rumah petak kecil ditindak tegas dan diteriaki terus soal IMB-nya, namun pengembang-pengembang besar yang belum mengantongi izin tetap dibiarkan membangun,” kata Cahyo, pekan lalu.
Contohnya, lanjut Cahyo, pengembangan perumahan dan sarana bermain di kawasan Kota Kembang. “Apakah karena melibatkan nominal besar-besaran, biarpun tanpa IMB didiamkan aja,” tandasnya.
Cahyo juga mempertanyakan sejauhmana pihak Distakotbang menindaklanjuti laporan atau temuan dari DPRD maupun LSM terkait bangunan tanpa IMB, tapi masih berlangsung pengembangannya. “Apakah Pemkot menerima jaminan dari pengembang-pengembang besar itu,” ucapnya.
Belum lama ini, Komisi B DPRD mengungkap temuan terhadap enam titik pembangunan yang belum memiliki IMB, di sekitar kantor mereka sendiri di kawasan Kota Kembang, Sukmajaya.
Seperti yang dikatakan Komisi B, dari enam titik pembangunan tak ber-IMB itu, empat di antaranya baru memiliki Izin Pemanfaatan Ruang (IPR) yakni Sektor Aster, Alamanda, Yasmin dan Wahana Permainan Air 1001 Malam. Sementara dua lainnya masih belum ada bangunan, namun sudah dimulai pengerjaan.
“Tanpa mengantongi IMB, pengembang masih berani melanjutkan pekerjaan. Hal ini menjadi tanda tanya besar. Orang awam pun masih wajar menilai Pemkot dan Distakotbang penuh dengan intrik kepentingan,” ujar Cahyo.
Kepala Satpol PP Kota Depok Sariyo Sabani berjanji akan melayangkan perintah pemberhentian pembangunan terkait temuan DPRD tersebut. Salah satunya adalah proyek pembangunan Wahana Permainan Air 1001 Malam, Jl. Raya Boulevard, Kota Kembang. “Setelah dilayangkannya surat itu dan ternyata pengembang masih membandel Satpol PP siap melakukan eksekusi penyegelan,” tandasnya pekan lalu.
Sariyo yang sebelumnya telah mendapatkan informasi adanya pembangunan tanpa IMB melalui media, mengungkapkan sebenarnya Satpol PP melalui surat bernomor: 300/255/sat.pol/VI/08 telah melayangkan pemanggilan terhadap pimpinan Perumahan Grand Depok City (GDC).
Kepala Distakotbang Kota Depok Rendra Fristoto menuturkan lamanya pengurusan IMB juga terkait dengan proses pergantian pengelolaan di dalammya.
Dia menjelaskan awalnya perumahan itu dikelola dengan membawa bendera Kota Kembang, tapi kini berganti menjadi GDC. Distakotbang, lanjut Rendra, sebenarnya telah melayangkan Surat Penghentian Pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan (SP4) lantaran proses pembangunannya tanpa disertai IMB itu.
Namun demikian, pernyataan telah dilayangkannya SP4 oleh Distakotbang ditepis oleh Kepala Satpol PP Sariyo. Pasalnya, Satpol PP sebagai eksekutor mengaku belum mendapatkan surat tembusannya

239.    hedwig Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 9:57 am
Ada satu blok yang sampai saat ini belum tersentuh pembangunan di sektor 3 angrek (lihat url dibawah), entah kenapa, di daerah tersebut masih diselimuti belukar dan alang-alang. Bahkan jika beruntung kita dapat berjumpa seekor atau dua ekor ular tanah atau bahkan ular kobra yang berwarna hitam pekat
http://www.hedwigus.com/wp-content/uploads/2008/03/gdcanggrek3.jpg

240.    Eddy Setyowibowo Berkata:
Agustus 10, 2008 pukul 10:06 am
Perumahan Grand Depok City bermasalah
Saya sebagai pembeli rumah wilayah Grand Depok City Cluster Gardenia Blok R2 yang dahulu terkenal dengan Wilayah Kota Kembang Depok, dimana kami membeli sebidang rumah dengan luas 90 Type 45 secara tunai.
Dimana Pada tahun 2006 Pengembang saat itu masih Dinamika Alam Sejahtera yang Kemudian dibuat Perjanjian Jual beli mengacu pada No. 004/DAS/Kaw – KKDR/Tan – Jin/ 07.06 tertanggal 31 Juli 2006 yang memberitahukan bahwa dijanjikan akan segera dilakukan penandatanganan Akta Jual Beli didepan notaris secepatnya. Namun setelah lama menanti dan lelah berdebat dengan bagian administrasi dan keuangan dikeluarkan Surat Pernyataan tertanggal 26 Pebruari 2007 mengacu pada Surat No 19/DAS/KKDR/02-2007 yang dimana menerangkan akan dalam 8 bulan setelah penandatangan surat tersebut diatas sesuai tanggal tersebut pengembang akan menaikkan status IMB Rembug menjadi HGB Induk dan AJB akan ditanda tangani setelah HGB Induk tersebut selesai, dan 8 bulan setelah penandatangan AJB akan dijanjikan balik nama pada pecahan sertifikat tersebut.
Tapi, apa yang terjadi bukan seperti yang ditunggu-tunggu sampai kami lelah berdebat kembali dikeluarkan lagi surat keterangan dengan No. 010/DAS/GDC/PERIJINAN/03.08 tertanggal 26 Maret 2008 yang dimana menerangkan bahwa bulan Juli 2008 baru akan terjadi proses peningkatan menjadi HGB Induk bukan menjadi pecahan NIB yang akan siap ditanda tangani di depan notaris.Sangatlah disayangkan bahwa kejadian serupa bukan hanya kami sekeluarga yang mengalami, namun banyak warga lain yang tinggal di wilayah Grand Depok City mengalami hal serupa, bukannya itu merupakan penipuan terhadap konsumen, lain halnya dengan pemilik rumah dengan KPR BTN dimana mereka sudah memegang AJB sedari awal kepemilikan rumah.
Sampai saat ini hanya janji-janji pengembang yang diberikan lewat telepon untuk penyelesaian dan permohonan agar masalah tersebut tidak di layangkan ke media surat kabar membuat kami merasa tidak seharusnya hal tersebut ditutup tutupi, dan khalayak ramai harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Jadi pikirkan kembali untuk membeli rumah di Wilayah Grand Depok City dengan iming-iming hadiah mobil, TV dan lain-lain sebagai kamuflase belaka.
Demikian kiranya yang dapat kami sampaikan, terima kasih kami haturkan Kepada pihak Redaksi sedalam-dalamnya atas penayangan berita ini dalam kolom Surat Pembaca.
Eddy Setyowibowo
IT Manager for PT. Kreasi Maharani
Indonesia Project Manager for MSII Asia Co. Ltd

241.   V for Vendetta Berkata:
Agustus 11, 2008 pukul 1:10 am
Developer atau Pengembang Bermasalah
May 19, 2008
Mong-omong soal pengembang atau developer bermasalah, berikut adalah berita yang ditulis di Sinar Harapan tahun 2006. Sekarang sudahkah pengembang ini berubah?
Pemprov DKI Jakarta memberi sanksi puluhan perusahaan pengembang perumahan yang belum menyerahkan kewajiban lahan fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum). Selain terkena sanksi di tingkat wilayah, para pengembang nakal itu juga akan mengalami penundaan perizinan yang tengah mereka urus di tingkat provinsi.
“Dari 162 pemegang Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah (SIPPT) di Jakarta Barat yang mempunyai kewajiban fasos/fasum, 13 di antaranya telah mendapat “pencekalan“ yang dikeluarkan Gubernur DKI Jakarta sesuai dengan Pasal 21 Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 41 tahun 2001,” kata Kepala Bagian Administrasi Sarana Perkotaan (ASP) Pemkot Jakarta Barat, Bambang Djoko Susilo, Selasa (5/12).
Ke-13 pengembang yang masuk daftar itu, ungkap Bambang, antara lain :
PT Pakuwon Utama (pemegang SIPPT 17 April 1997)
PT Amandole (5 Maret 1974)
PT Benua Permai Lestari (6 Februari 1989)
PT Kumara Latifa (12 Januari 1996)
PT Pelita Adi Makmur (7 April 1994)
PT Sinabung Jaya (28 September 1994)
PT Satwika Permai Indah (28 Juli 1994)
PT Prima Karya Kencana (10 Oktober 1995)
PT Taman Kedoya Barat Indah (16 Juni 1994)
PT Mutiara Idaman Jaya (24 Februari 1999)
PT Taman Ratu Indah (16 Juni 1994)
PT Prisma Agung Realty (16 Juni 1994) dan
PT Kusuma Raya Utama (pemegang SIPPT 5 Oktober 1994).
“Kami akan terus mengawasi keberadaan lahan fasos/fasum yang hingga kini belum diserahkan 13 pengembang bermasalah tersebut,” tegasnya. Dia juga menambahkan selain 13 pengembang yang telah masuk daftar, puluhan pengembang lainnya juga tengah diproses untuk masuk daftar selanjutnya. Menurutnya, dari total 162 pengembang yang memiliki kewajiban fasos/fasum di Jakarta Barat, baru 62 pengembang yang telah memenuhi kewajibannya.
Fasos dan Fasum yang telah diserahkan itu telah dimanfaatkan antara lain untuk membangun sarana pendidikan, pos kesehatan, peruntukan hijau rekreasi (PHR), peruntukan hijau taman (PHT), suka sosial budaya (SSB), suka sarana kesehatan (SSK), jalan, tempat ibadah, gedung pertemuan, waduk dan saluran air. Luas lahan fasos dan fasum yang telah diserahkan pada 2004 itu dalam bentuk lahan seluas 137.464 m2, sedangkan luas bangunannya 2.349 m2.
“Secara keseluruhan penerimaan lahan fasos dan fasum dari pengembang di Jakarta Barat berupa lahan seluas kurang lebih 3.000.000 m2 (300 ha) dan yang terbangun dalam bentuk sarana dan prasarana seluas kurang lebih 1.000.000 m2,” jelas Bambang.

242.    papa nau Berkata:
Agustus 11, 2008 pukul 1:12 am
Salam Boss,
Dalam daftar pengembang bermasalah, mohon dibuat yang skala Nasional, atau saya yang tidak tahu ya kalau sebenarnya ada ??, misalnya Daksa Group, dimana saya membeli rumah di Kota Kembang (dulu) / Grand Depok City (sekarang) tahun 2002, secara kes keras, rumah baru selesai akhir 2006 (setelah ngamuk dulu), ttd AJB harus dua kali, etc, etc. Hatur Nuhun Boss

243.    Himawari Berkata:
Agustus 11, 2008 pukul 1:17 am
Monday, March 17, 2008
Promosi Menyesatkan Grand Depok City
Down Payment (DP) 0%. Tanpa Uang Muka. Kata-kata itu yang membuat aku (dan istriku) memberanikan diri membeli sebuah rumah tipe 45/105 di Cluster Jasmine, Grand Depok City (GDC), lewat proses kredit (KPR). Aku hanya perlu membayar biaya pemesanan (Booking Fee) sekitar 1,6 juta Rupiah. Tanpa harus membayar uang muka, maka aku hanya perlu memikirkan cicilan KPR per bulan. Walaupun nantinya harus memikirkan hal itu selama 180 bulan (15 tahun x 12 bulan), aku tidak menganggap itu sebagai beban. Seiring waktu, insya Allah, kemampuan membayar aku akan bertambah baik. Bukan tidak mungkin aku melunasi sisa hutang KPR tanpa harus menunggu 15 tahun. Apalagi harga rumah kemungkinan besar akan terus bertambah. Pada titik ini aku merasa sudah mengambil keputusan yang tepat.
Fakta mengatakan manusia hanya bisa merencanakan; bukan menentukan. Manusia hanya bisa memilih di persimpangan jalan tanpa bisa tahu apa yang ada di ujung jalan yang dipilih. Keputusan yang tepat itu tersandung kenyataan bahwa aku harus menambah DP. Informasi yang mengatakan bahwa aku harus menambah DP itu datangnya dari pihak bank penanggung. Aku harus menambah DP 20 juta Rupiah. Aku benar-benar kaget. Bisa dikatakan aku tidak siap menerima kenyataan bahwa aku harus menambah DP. Sejak pertama kali aku mengunjungi GDC, lalu melakukan pemesanan, sampai akhirnya bank penanggung melakukan analisa, pihak GDC sama sekali tidak memberikan peringatan bahwa ada kemungkinan penambahan DP sesuai keputusan dari bank penanggung.
Aku benar-benar kecewa. Semua uang, waktu, dan tenaga yang sudah aku keluarkan untuk mengurus pembelian rumah di GDC bisa jadi kandas di tengah jalan. Aku memang tidak bisa menambah DP. Perencanaan keuangan rumah tanggaku tidak memungkinkan aku untuk mengeluarkan uang sejumlah 20 juta Rupiah. Belum lagi biaya pengurusan KPR dengan jumlah sekitar 10 juta Rupiah. Aku terang-terangan menolak menambah DP yang diminta. Aku tetap pada keputusanku dengan mengatakan bahwa seharusnya kemungkinan penambahan DP ini disampaikan dari awal; bukan setelah pemesanan atau setelah penilaian dari bank penanggung.
Setelah melewati diskusi alot yang terjadi berulang-ulang dengan pihak GDC, kekecewaanku menemui jalan buntu. Pihak GDC masih meminta aku menambah DP, sementara aku tetap tidak bisa menambah DP. Mereka menyatakan bahwa aku bukan satu-satunya orang yang harus menambah DP. Bahkan ada pembeli lain yang harus menambah DP lebih besar 20 juta Rupiah.
Sepertinya pihak GDC tidak merasa bahwa mereka sudah menipu aku. Aku tidak mempermasalahkan besar DP yang harus aku tambahkan. Aku terima kalau keputusan menambah DP itu bukan dari GDC, tapi merupakan keputusan bank penanggung. Aku tidak peduli kalau pembeli yang lain memilih menambah DP; bahkan dengan jumlah yang lebih besar dari 20 juta Rupiah. Aku merasa ditipu karena aku sudah terlanjur percaya bahwa aku tidak perlu menambah DP. Aku merasa ditipu karena kemungkinan menambah DP itu tidak diingatkan dari awal.
Booking Fee sekitar 1,6 juta Rupiah, akhir pekan yang habis untuk pulang-pergi Tangerang-Depok untuk mengurus pembelian rumah, dan berbagai kerugian lain akhirnya membebani pikiranku. Semua itu bisa jadi hilang tak berbekas. Kalau pihak GDC bersikeras meminta penambahan DP, aku tidak punya pilihan lain selain membatalkan pesananku. Saat itu terjadi, semua yang aku sebut di awal paragraf ini sudah pasti hilang tak berbekas.
Untuk saat ini aku masih menunggu keputusan perihal penambahan DP itu dari pihak GDC. Jalan tengah yang ditawarkan pihak GDC adalah mencicil penambahan DP tersebut. Mereka menawarkan mekanisme cicilan selama 3 bulan. Itu berarti sekitar 6,5 juta Rupiah per bulan. Jumlah yang terlalu besar karena aku juga harus membayar cicilan KPR pada saat yang bersamaan. Aku meminta mekanisme cicilan selama 12 bulan. Pihak GDC sedang mempertimbangkan penawaranku itu.
Saat ini aku masih menunggu. Aku menunggu seraya menegaskan pada hatiku untuk TIDAK LAGI MEMPERCAYAI PROMOSI APA PUN TANPA BERUSAHA MENCARI INFORMASI LEBIH DALAM. Alhamdulillah dalam setiap kejadian senantiasa ada hikmah yang bisa dipelajari. Paling tidak hal itu akan mencegah diriku jatuh ke dalam lubang yang sama

244.    Himawari Berkata:
Agustus 11, 2008 pukul 1:19 am
Goodbye Grand Depok City
Melanjutkan tulisan : Promosi Menyesatkan Grand Depok City.
Aku tetap menolak menambah uang muka. Sementara Grand Depok City (GDC) hanya bisa menawarkan solusi pembayaran uang muka dalam bentuk cicilan sebulan sekali selama 3 bulan. Solusi tersebut pada akhirnya tidak bisa aku manfaatkan. Aku tetap akan kesulitan membayar uang muka 20 juta Rupiah dalam waktu 3 bulan. Apalagi pada saat yang bersamaan aku harus mulai mencicil KPR sekitar 2 juta Rupiah. Itu belum menghitung biaya hidup keluargaku sehari-hari yang meningkat karena kehadiran 2 calon anakku.
Akhirnya aku memutuskan untuk membatalkan pemesanan rumah di GDC. Aku memang kecewa atas pembatalan ini. Setelah semua usaha yang aku sudah lakukan untuk membeli rumah di GDC, pembatalan ini cukup mengesalkan. Tapi Islam mengajarkan aku untuk senantiasa berpikir positif dan mencoba mencari hikmah di balik setiap “nasib buruk”. Islam mengajarkan aku bahwa tidak ada yang namanya nasib buruk karena Sang Pencipta senantiasa menyayangi -paling tidak mengasihi- setiap manusia. Aku tidak pernah bisa tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi untuk saat ini, dalam kasus GDC ini, aku mencoba menerima fakta bahwa waktunya tidak tepat bagiku untuk mulai mencicil rumah.
Kembali ke pokok pembicaraan. Seiring waktu saat aku dan pihak GDC bernegosiasi masalah penambahan uang muka tersebut, aku tidak melihat adanya niat baik yang menyeluruh dari pihak GDC. Salah satu hal yang perlu aku garis bawahi adalah bagian Marketing GDC dan bagian KPR GDC seperti dua pihak yang berbeda. Saat aku mencoba menjelaskan kesalahan bagian Marketing GDC saat menawarkan promosi uang muka 0%, bagian KPR GDC seperti menyalahkan bagian Marketing GDC tanpa mau peduli lebih jauh lagi. Bagian KPR GDC seperti tidak mendengarkan keluhanku perihal promosi uang muka 0% yang tidak sesuai kenyataan itu. Bagian KPR GDC itu hanya bisa menanyakan kapan aku siap dan mau melanjutkan ke akad kredit.
Sementara bagian Marketing GDC merasa sudah menjelaskan masalah penambahan uang muka itu kepada diriku. Padahal aku (dan istriku) sama sekali tidak merasa topik penambahan uang muka itu dibahas selama bagian Marketing GDC itu mengajukan penawaran. Yang lebih parah lagi adalah bagian Marketing GDC itu justru malah mencoba membujuk aku untuk menambah uang muka dengan iming-iming harga rumah yang naik dua kali lipat dan berbagai kata-kata manis lainnya.
Sigh.
Semua yang aku ungkapkan di atas dan keluhan-keluhan lain yang tidak terungkap membuat aku ragu untuk bertahan. Penawaran cicilan uang muka dari pihak GDC pun aku abaikan. Sulit bagiku untuk kembali mempercayai pihak GDC. Ditambah lagi status rumah yang indent selama 12 (dua belas) bulan sejak pemesanan rumah. Hal itu hanya semakin membuat aku khawatir untuk meneruskan pemesanan rumah di GDC itu.
Sigh (lagi).
Aku rasa cukup sekian keluh-kesah yang bisa aku tuangkan tentang pengalamanku bersama GDC. Semoga saja tidak ada pelanggan GDC lain yang mengalami hal yang sama dengan yang aku alami bersama GDC. Tulisan ini sama sekali tidak bertujuan untuk menakut-nakuti pelanggan atau calon pelanggan GDC. Tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan agar pelanggan atau calon pelanggan GDC bisa lebih berhati-hati dalam bernegosiasi dengan pihak GDC atau produsen perumahan mana pun yang suka neko-neko
Masih buanyaakk sebenernya yg kkurang lebih mengeluh dengan nada kurang lebih sama dan malah ada yg lebih cerita cerita lebih serem lagi..katanya GDC ini tanahnya sengketa alias bermasalah dan ada penghuni2 yg udah tinggal disitu belum terima sertifikatnya walaupun udah lunas bayar…hiiyyyy…..:bigcry:
gw jadi maju mundur mo mo nerusin proses KPR di GDC ini.
Oleh karena itu, gw perlu bantuan teman2 yg mungkin bisa kasih pencerahan sama share pengalamannya sama GDC

245.    Budi Harton Berkata:
Agustus 11, 2008 pukul 1:30 am
Pengembang Grand Depok City Mengecewakan
Thursday, 12 June 2008
TANGGAL 13 Januari 2003 saya membeli sebuah rumah tipe 58/135 di Grand Depok City (dulu namanya Kota Kembang Depok Raya) sektor Puri Insani. Proses yang saya lalui untuk mendapatkan rumah yang saya beli melalui KPR Bank Artha Graha ini sangat mengecewakan dan melelahkan, yaitu harus melalui banyak perdebatan sampai ke YLKI dan ke pengacara.
Sesuai Surat Perjanjian Pengikatan Jual Beli (SPPJB) yang dikeluarkan pengembang (PT Inti Karsa Daksa), bangunan rumah akan diselesaikan selambat-lambatnya 6 bulan, terhitung setelah 14 hari sejak permohonan KPR disetujui oleh bank, Akta Jual Beli ( AJB) akan dilakukan 3 bulan setelah KPR dan Sertifikat Hak Guna Bangunan dan IMB akan diberikan setelah KPR dilunasi.
Dalam kenyataannya, rumah saya baru selesai pada Februari 2005 dan AJB sampai saat ini belum dilakukan. Bahkan setelah KPR saya lunas pada 8 Mei 2007, pengembang tetap belum memenuhi kewajibannya menyelesaikan legalitas rumah. Saya sudah mencoba dengan berbagai cara dengan menelepon, mengirim surat resmi, dan sampai datang ke kantor pemasaran, tetapi pengembang selalu menunda-nunda menyelesaikan kewajibannya tersebut.
Saat ini pengembang Grand Depok City sudah beralih dari PT Inti Karsa Daksa ke PT Dinamika Alam Sejahtera. Tetapi sebenarnya mereka hanya berganti nama saja untuk menghindari kewajiban terhadap konsumen dan menghindari denda keterlambatan. Sampai saat ini banyak konsumen yang nasibnya sama seperti yang saya alami . Selain itu fasos dan fasum juga tidak dipenuhi sesuai yang dijanjikan di brosur pemasaran, seperti tidak adanya tempat ibadah, lampu penerangan jalan yang minim, dan tidak adanya dinding arkon yang mengelilingi setiap cluster. Meskipun demikian pengembang berani memasarkan kembali Grand Depok City dengan berbagai macam janji yang indah-indah, di antaranya dengan pemberian hadiah mobil, motor, AC dan lain-lain.
Mudah-mudahan pemerintah bisa membuat peraturan yang bisa melindungi konsumen di antaranya iklan pemasaran harus ditepati dan dapat dijadikan bukti hukum. Tidak seperti saat ini di mana pengembang selalu mencantumkan dengan tulisan kecil di brosur pemasaran bahwa brosur tersebut tidak dapat dijadikan bukti hukum dan tidak mengikat. Dan konsumen pun supaya berhati-hati dalam memilih rumah, jangan mudah tergoda dengan janji-janji manis pengembang.
Dui Budi Hartono—
Grand Depok City, Sektor Puri Insani Blok G3/03
Logged

Rini-chan

  • Special Member
  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 9578
  • Toma's officially wife <3
    • My Blog Tumblr
Re: Pengembang bermasalah di Grand Depok City - Kota Kembang Depok Raya
« Reply #3 on: September 04, 2008, 11:56:56 PM »

maksud tred ini apa ya?
ngebahas ttg perkembangan depok ya?

Gw juga lahir dan besar di Depok nih.
Udah cukup lama lah, 18 taun.
Dari kota yg dulu sebutannya Jin Buang Anak, sekarang Mallnya berderet2.
Padahal dulu klo mau belanja adanya HERO doank. ;D
Logged
Pages: [1]   Go Up