;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: 1 ... 267 268 269 270 [271] 272 273 274 275 ... 548   Go Down

Author Topic: [MFF] FINAL DESTINATION 666 AKA FALLEN DESTINY chapter 4 di hal 538  (Read 123809 times)

charmed4ever

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10239
  • I'm the person of interest
Re: FF Final Destination 2 : Water Breaks - Chapter 12 [index di page 1]
« Reply #2700 on: February 16, 2009, 03:45:22 PM »

Itulah tujuan akhirnya :D
Final Destination gitu loch :P
Logged
Serial TV keren!!!!

lady_mannequin

  • Forum Machi
  • ***
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 3145
  • bright and shiny :D :D :D
Re: FF Final Destination 2 : Water Breaks - Chapter 12 [index di page 1]
« Reply #2701 on: February 17, 2009, 08:35:08 AM »

nenok kudu siap mental neeh
baca adegan metongnya nadine
secara kan nadine bakal dimetongin sama charmed di eps terakhir ini
Logged

charmed4ever

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10239
  • I'm the person of interest
Re: FF Final Destination 2 : Water Breaks - Chapter 12 [index di page 1]
« Reply #2702 on: February 17, 2009, 09:43:53 AM »

Wekekek
Pake siap mental buat bc fanfic ;D
Logged
Serial TV keren!!!!

evan_howles

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 7253
  • i'm going COMPLICATED!
    • CHOPYCAT PAPER
Re: FF Final Destination 2 : Water Breaks - Chapter 12 [index di page 1]
« Reply #2703 on: February 17, 2009, 04:25:52 PM »

jam brapa dipost?? hari ini kan???
Logged

GRAMEDIA BOOKSTORES

nenok_cuantik

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 11721
  • kenapa dikau masih Cuakep aja Sihhh
Re: FF Final Destination 2 : Water Breaks - Chapter 12 [index di page 1]
« Reply #2704 on: February 17, 2009, 04:37:55 PM »

nenok kudu siap mental neeh
baca adegan metongnya nadine
secara kan nadine bakal dimetongin sama charmed di eps terakhir ini

wekekekeke

aku justru penasaran jeng
mentongku lebih kejem gk daripada season kemarin hehehe
Logged
"joachim loew"

charmed4ever

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10239
  • I'm the person of interest
Re: FF Final Destination 2 : Water Breaks - Chapter 12 [index di page 1]
« Reply #2705 on: February 17, 2009, 04:47:31 PM »

bentar lagi ya

tunggu.....

baru bangun tidur neh [hmpfh]
Logged
Serial TV keren!!!!

charmed4ever

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10239
  • I'm the person of interest
Re: FF Final Destination 2 : Water Breaks - Chapter 12 [index di page 1]
« Reply #2706 on: February 17, 2009, 05:00:13 PM »

Chapter 13.
Last Time - I'll See You Soon



Hidup dan mati memang sudah ditentukan. Terutama kematian. Setiap makhluk pasti akan merasakannya. Tapi, apakah kita bisa mencuranginya di saat waktunya sudah tiba? Jawabannya cukup mudah - "Tidak".

Kehidupan baru akan mengalahkan kematian. Apa maksud kalimat itu? Jika mereka mengetahui makna kalimat itu, apakah mereka bisa menghindari diri dari kematian yang sudah digariskan.

Mereka tahu, suatu saat kematian akan menghampiri mereka. Tapi apakah adil jika kematian itu harus datang dengan cara yang mengerikan seperti itu.

Apalagi mereka masih sangat muda. Masih ingin bersenang-senang menikmati hidup.

Lagi-lagi sebuah insiden terjadi. Kali ini Jessica dan Sylvia harus tewas dengan cara yang tidak wajar, seperti korban-korban sebelumnya.

Kehadiran seorang pria misterius yang muncul di tengah-tengah pembicaraan serius mereka, membuat rasa penasaran yang tinggi.

Pria dengan penampilan dan ekspresi wajah menakutkan, berkulit gelap, berkepala botak, dan memiliki senyuman yang cukup membuat bulu kuduk mereka merinding.

"Hahaha... Kalian ingin tahu siapa aku?" kata pria tersebut.

"Ya. Siapa kau? Mengapa kau menyela dalam pembicaraan kami?" tanya Nadine.

"Emosi anak muda. Selalu terburu-buru. Ah...aku tidak heran karena kematian sedang mengejar kalian, jadi adrenalin masih berpacu"

"Kumohon jangan berbelit-belit, beritahu kami siapa kau sebenarnya?" ucap Casey.

"Kalian bisa memanggilku Bludworth.  Sebenarnya aku adalah seorang pengurus mayat. Tapi hari ini kebetulan aku sedang menghabiskan waktu di tempat ini. Dan tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang telah melakukan kecurangan dalam kematiannya" jelas pria yang bernama Bludworth itu.

"Mencurangi kematian? Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Joaquin.

"Hahaha....aku bisa melihatnya di wajah kalian" lagi-lagi hanya tawa yang ditebarkan oleh Bludworth.

Tawa yang sama sekali tidak membantu. Tapi malah membuat suasana semakin mencekaam. Tiap detik waktu berlalu semakin mendekatkan mereka pada kematian.

Terutama Lois. Ia tahu kalau sekarang adalah gilirannya. Sejak tadi ia hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk diucapkan. Mulutnya seolah-olah terkunci. Selain mendengar teman-temannya berbicara dengan pria aneh itu, ia hanya bisa diam mewaspadai dirinya jika terjadi sesuatu yang akan merenggut nyawanya.

"Baiklah, jika kau mengetahui semua hal tentang kematian, apa kau tahu bagaimana cara mengalahkannya?" tanya Nadine.

"Mengalahkannya? Mengalahkan kematian katamu? Hahaha..." gelak Bludworth sambil melangkah mendekati Casey.

"Ayolah, kau pasti tahu sesuatu" kata  Joaquin.

Bludworth diam sejenak sambil memandangi wajah mereka satu-persatu. Wajah yang menyimpan kekalutan. Wajah yang menyimpan ketakutan. Dan wajah yang menyimpan kekhawatiran. Sempat terbesit rasa iba, ketika ia melihat ekspresi itu di wajah mereka.

"Baiklah, aku hanya bisa bilang, untuk menghancurkan rancangan kematian itu, kalian harus menemukan kehidupan baru di saat kematian akan mengunjungimu" jelas Bludworth.

"Aku masih tidak mengerti" kata Casey.

“Berfikirlah” kata Bludworth sambil melangkah pergi meninggalkan mereka.

“Hey! Kau mau pergi kemana? Kita belum selesai” pekik Nadine.

Bludworth menghentikan langkahnya dan berbalik badan sambil tersenyum melihat anak-anak remaja itu.

“Aku harus mengurus dua mayat lagi, dan….aku sudah selesai di sini” sahut Bludworth, “Oh ya, aku akan melihatmu segera” tambah Bludworth sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan Casey dan ketiga temannya.

Nadine merasa kesal melihat sikap pria yang misterius itu. Ia menendang sebuah batu sebagai ungkapan kekesalannya.

“Apa maksud pria itu? Ia menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lainnya. Aku benar-benar sudah muak. Baiklah, aku ingin pergi dari sini. Kalian ingin tetap di sini silahkan saja, yang jelas aku ingin pulang, dan jika kematian bodoh itu muncul lagi, aku akan menendangnya jauh-jauh dari hadapan ku” ucap Nadine dalam kekesalan.

“Ok, aku setuju. Kita pergi dari sini. Aku berharap kita bisa menemukan maksud ucapan orang itu nanti” kata Joaquin.

Joaquin mengajak Casey dan Lois masuk ke dalam mobil. Nadine sempat gusar ketika melihat Joaquin memegang tangan Casey. Sesaat ia menyentuh kantung jaket yang sedang ia kenakan. Sepertinya ia menyimpan sesuatu di dalam jaketnya.

“Lois, kau yakin ingin menyetir?” Tanya Casey.

“Ya. Aku yakin” jawab Lois.

“Jika kau ingin istirahat, biarkan aku yang menyetir” kata Joaquin.

“Aku benar-benar yakin, aku tidak apa-apa. Aku yakin kita bias melewati semua ini” jawab Lois.

“Baiklah kalau begitu” ujar Joaquin.

Lois seperti biasa duduk di bangku setir, sementara di sebelahnya ada Nadine. Di jok belakang ada Joaquin dan Casey. Pintu bagian belakang van yang satu sudah tidak ada lagi. Mesin van biru milik Lois pun menyala, dan mereka berempat meninggalkan taman hiburan tersebut.

Beberapa saat mereka meinggalkan tempat itu, terdengar sebuah lantunan lagu yang berasal dari sebuah radio yang ada di salah satu loket tiket permainan. Mereka berempat sama sekali tidak mendengar lantunan lagu tersebut. Sebuah lantunan lagu berjudul “Surf song” dari Bag of Toys.

“Cruising to the beach in my piece of shit
Got my surfboard jammed in and it barely fits
The sun pouring down and it floods the dash
Hula girls sways as I find my stash

Thumping hands tap to the beat of the street
The back sweating hard sticking to the seat
Got the Sublime pumping on the stereo
But my heads still thumping from the night before………”


****

Hampir jam tiga pagi, Casey ingin menghubungi orang tuanya, namun baterai ponselnya habis. Pandangannya menatap keluar jendela dan perasaan aneh kembali dirasakannya. Ia melihat sebuah pub dengan lampu neon orang sedang melakukan surfing di atas surfing board. Namun lampu pada bagian kepalanya tidak menyala.

“Lois, hentikan mobilnya” kata Casey.

“Casey, ada apa?” Tanya Joaquin yang merasa heran.

“Ia datang lagi” jawab Casey.

“Apa?” Tanya Lois sambil menoleh ke belakang melihat Casey. Namun Lois tidak sadar kalau mereka hamper melewati sebuah persimpangan lampu merah. Seharusnya ia menghentikan mobilnya, namun karena tidak sadar sudah berada di persimpangan, Lois melajukan van nya melewati lampu merah.

Sementara sebuah mobil sedang melaju dengan kencang. Sehingga membuat mereka hamper bertabrakan.
“Lois, awas!!” teriak Nadine.

Lois membanting setirnya ke kiri sehingga mobilnya mesuk ke jalur parkir mobil di pinggir jalan. Sayangnya saat ia hendak mengerem, rem vannya mengalami blong. Dan selanjutnya van Lois menabrak dengan keras sebuah mobil Cadillac yang sedang terparkir di pinggir jalan. Di atas mobil tersebut, terdapat sebuah papan surfing. Karena tabrakan yang cukup keras, papan surfing itu meluncur dan memecahkan kaca depan van milik Lois. Dan ujung nya yang runcing langsung menggorok leher Lois, dan membuatnya hamper putus.

“AAAAA!!!!” teriak Nadine dan Casey.

Darah terciprat ke wajah Nadine. Melihat kejadian itu, Casey panik dan langsung turun dari van tersebut. Tanpa sadar ia mundur ke badan jalan. Sementara dari arah lain sedang melaju sebuah truk sampah.

“Lois!! Tidak…!!”

Pada papan surfing tersebut terdapat tulisan “Dump Your Life”. Kalimat itu membuat Joaquin berfikir cepat kalau Casey sedang dalam bahaya. Ketika truk sampah itu hamper menabrak Casey, Joaquin berlari secepat mungkin menyelamatkan Casey ke pinggir jalan. Keduanya tersungukur di dekat trotoar.

“TREEETT!!!” suara klakson turk sampah tersebut. Truk itu sempat oleng karena berusaha menghindari Casey dan Joaquin, dan menyerempet sebuah tiang listrik. Tiang listrik itu pun mengalami kemiringan. Pada gardu listriknya terjadi korsleting dan menjalar hingga ke sebuah tiang pancang bendera yang terdapat di atas salah satu bangunan.

“Casey…kau tidak apa-apa?” Tanya Joaquin.

Casey tidak menjawab, ia masih histeris meneteskan air mata, meratapi kematian teman dekatnya yang terakhir. Joaquin. Joaquin mengajak Casey menghampiri van milik Lois. Namun langkah mereka dihadang oleh Nadine yang kini sedang memegang sebuah pistol dan mengarahkan ujungnya kepada Casey.

“Nadine…apa yang sedang kau lakukan? Dari mana kau mendapatkan benda itu?” Tanya Joaquin.

“Maksudmu pistol ini? Ow, waktu kejadian di taman hiburan bebarapa jam lalu, aku mencurinya dari salah seorang petugas keamanan ketika ia lengah. Aku tidak tahu mengapa aku mencurinya. Sepertinya aku memang membutuhkannya” jelas Nadine.

“Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti?” Tanya Casey.

“Kau tahu? Aku mulai mengerti apa yang dimaksud oleh pria aneh itu. Untuk menghentikan semua ini, kau harus mati Casey. Kau yang memulai dan kau juga yang harus mengakhiri” kata Nadine sambil melepaskan pengaman pistol tersebut.

“Nadine…kau sudah gila, ini tidak akan menghentikan segalanya. Hentikan niat mu itu” bentak Joaquin.

“Tidak!!! Kau yang harus mengakhiri semua ini Casey” teriak Nadine yang hendak menarik pelatuk pistol tersebut. Namun tiba-tiba tiang pancang bendera yang kebetulan berada di atasnya, patah dan jatuh meluncur, kemudian menancap tepat di ubun-ubun Nadine dan membunuhnya seketika itu juga.

Sesaat sebelum tubuhnya jatuh, reaksi tubuhnya masih berfungsi. Tangannya sempat menarik pelatuk pistol itu. Di fikiran Casey terlintas, bahwa sekarang giliran Joaquin. Dia melindungi Joaquin dari letusan pistol tersebut. Pistol itu meletus dan menembakkan pelurunya. Seharusnya peluru itu akan mengenai Joaquin, namun malah mengenai dada Casey, karena Casey berusaha mencampuri kematian Joaquin lagi.

Dada Casey mengeluarkan darah segar. Tubuhnya jatuh namun masih bisa ditahan oleh Joaquin yang berada di dekatnya.

“Casey!! Jangan mati!! Casey.. sadarlah. Ku mohon Casey!!!!” teriak Joaquin. “Siapa saja, tolong aku!! Casey…sadarlah!!!!


****


Tiga bulan kemudian

Pantai california benar-benar memiliki pesona tersendiri sore itu. Ombak saling berkejar-kejaran menuju tepi pantai. Angin berhembus semilir terasa menyejukkan. Matahari semakin merangkak ke ufuk barat, mulai berganti tugas dengan sang rembulan.

Di tepi pantai, terlihat Casey dan Joaquin sedang berjalan menikmati keindahan pantai California sore itu. Joaquin berada di sebelah kanan Casey, lebih dekat dengan bibir pantai. Saat itu Joaquin sedang memegang sebatang ranting berukuran cukup panjang. Ia berjalan sambil menghentak-hentakkan ranting itu di pesisir pantai.

"Indah sekali" puji Joaquin.

"Ya. Benar-benar indah" sambung Casey.

"Andai yang lainnya bisa bersama kita di sini menikmati pemandangan indah sore ini" ujar Joaquin.

"Aku juga berharap begitu" sahut Casey.

"Lihat!" ucap Joaquin ketika melihat sebuah batu karang yang terdapat di pinggir pantai. "Ayo, kita duduk di sana" ajak Joaquin.

Keduanya menghampiri batu karang tersebut, kemudian menaikinya dan duduk di atasnya. Ekspresi bahagia terpancar di wajah mereka berdua. Di awali dengan saling memandang, selanjutnya kedua anak manusia itu pun saling memagutkan bibir mereka. Atmosfer keromantisan tempat itu benar-benar mendukung suasana hati mereka saat itu.

Namun beberapa saat kemudian, Casey menghentikan ciumannya. Hal itu cukup membuat Joaquin heran atas sikap Casey.

"Ada apa?" tanya Joaquin.

"Hmm...tidak, tidak ada apa-apa" jawab Casey.

"Ayolah, aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu" ujar Joaquin.

"Aku hanya masih memikirkan kata-kata pengurus mayat itu"

"Pengurus mayat? Maksudmu... Bludworth?" tanya Joaquin.

"Ya, dia" jawab Casey.

"Mengapa kau masih memikirkan dia. Semuanya telah berakhir, Casey"

"Aku hanya berfikir, maksudku...dia pernah bilang bahwa untuk mengalahkan teror kematian itu, kita harus mendapatkan kehidupan baru ketika kematian mendatangi kita. Sementara waktu aku terkena tembakan Nadine, saat itu aku sedang mencampuri kematianmu"

"Jadi?"

"Jadi...saat itu bukanlah giliranku untuk mati..."

"Baiklah, kau ingin berkesimpulan kalau kita berdua masih berada dalam daftar kematian?" tanya Joaquin.

Casey hanya memberikan jawaban dengan menganggukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus berkata apa, tapi selama tiga bulan terakhir, hal itu masih terus mengganggu fikirannya.

“Ayolah Casey, semua itu sudah berakhir. Percayalah padaku, kita berdua berhasil mengalahkannya, kita telah melewatinya. Ok” ujar Joaquin sambil menggenggam erat jemari tangan dan menatapnya dengan mesra. “Hidup kita memang ditakdirkan untuk terus berlanjut, percayalah padaku”

“Baiklah, aku percaya padamu” sahut Casey sambil tersenyum, meski di dalam hatinya yang paling dalam ia masih merasa ragu-ragu.

Tidak lama kemudian, mata Casey menangkap sesuatu yang sedang mengapung di permukaan laut dan semakin lama menepi ke pinggir pntai.

“Lihat! Apa itu?” Tanya casey sambil menunjuk ke benda yang sedang mengapung tersebut.

“Itu… itu seperti sebuah botol” sahut Joaquin, “Ayo kita lihat” ajak Joaquin yang merasa penasaran dengan benda yang merupakan botol tersebut.

Joaquin menggunakan ranting yang tadi ia bawa untuk meraih botol tersebut agar kebih mudah mengambilnya. Mereka mengambil botol kaca berwarna putih transparan tersebut dan merasa penasaran dengan sesuatu yang terdapat di dalam botol tersebut/

“Pesan di dalam botol” kata Casey.

“Seseorang pasti telah menghanyutkannya, hingga akhirnya kita yang menemukannya” sahut Joaquin.

“Ayo cepat buka pesannya, aku ingin lihat apa isiny” ucap Casey yang sudah tidak sabar lagi melihat isi pesan tersebut.

Joaquin mengeluarkan gulungan kertas yang terdapat di dalam botol itu. Berdua mereka membuka dan membaca isi pesan tersebut. Namun rasa heran dan terkejut ketika mereka membaca pesan yang tertulis di dalam gulungan kertas itu. Sebuah kalimat yang benar-benar tidak asing di telinga mereka. Sebuah kalimat yang membuat mereka kembali memikirkan sesuatu yang baru saja akan mereka lupakan. Sebuah kalimat yang meyakinkan mereka kalau ini semua belum berakhir.

“I’LL SEE YOU SOON” ucap Joaquin.

Kedua nya saling pandang sesaat setelah membaca pesan tersebut.


^THE END^


Logged
Serial TV keren!!!!

evan_jojo

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 384
  • cause you're my everything, i'll give you everythi
Re: FF Final Destination 2 : Water Breaks - Chapter 12 [index di page 1]
« Reply #2707 on: February 17, 2009, 05:04:31 PM »

bang charmed... chapter 13nya di save dolo ya...

chapter 7 - 15 nya udah ku kirim lewat email... baca ya...ada perubahan cast juga...  ;) ;) :D :D :D
Logged
facebook --> evanjojo@yahoo.com
email --> evanajah@yahoo.com

FF FD 1 : Deadly Vacation
FF FD 2 : Water Breaks
FF FD 3 : High Die
FF FD 4 : Walk To Death
FF FD 5 : Lethal Hospital [Coming Soon]

nenok_cuantik

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 11721
  • kenapa dikau masih Cuakep aja Sihhh
Re: FF Final Destination 2 : Water Breaks - Last Chapter - P. 271 [index di page
« Reply #2708 on: February 17, 2009, 05:13:03 PM »

hampir aja aku kecolongan lagi hihihi

charmed pasang FF ending oeee

baca dulu ya charmed  ;) ;) ;)
Logged
"joachim loew"

charmed4ever

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10239
  • I'm the person of interest

jojo
yoa ntar buka e mail

nenok
ok baca2 dulu

guys sorry kalo endingnya jelek ya ;D
Logged
Serial TV keren!!!!
Pages: 1 ... 267 268 269 270 [271] 272 273 274 275 ... 548   Go Up