;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: 1 [2]   Go Down

Author Topic: Cerita Rakyat Indonesia  (Read 12600 times)

sate_ayam

  • Chingu
  • **
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 1.747
  • kyk kodok
Re: Cerita Rakyat Indonesia
« Reply #10 on: March 09, 2009, 06:46:09 am »

Legenda Danau Toba

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pemuda tani yatim piatu di bagian utara pulau Sumatra. Daerah tersebut sangatlah kering. Syahdan, pemuda itu hidup dari bertani dan memancing ikan. Pada suatu hari ia memancing seekor ikan yang sangat indah. Warnanya kuning keemasan. Begitu dipegangnya, ikan tersebut berubah menjadi seorang putri jelita. Putri itu adalah wanita yang dikutuk karena melanggar suatu larangan. Ia akan berubah menjadi sejenis mahluk yang pertama menyentuhnya. Oleh karena yang menyentuhnya manusia, maka ia berubah menjadi seorang putri.

    Terpesona oleh kecantikannya, maka pemuda tani tersebut meminta sang putri untuk menjadi isterinya. Lamaran tersebut diterima dengan syarat bahwa pemuda itu tidak akan menceritakan asal-usulnya yang berasal dari ikan.Pemuda tani itu menyanggupi syarat tersebut. Setelah setahun, pasangan suami istri tersebut dikarunia seorang anak laki-laki. Ia mempunyai kebiasaan buruk yaitu tidak pernah kenyang. Ia makan semua makanan yang ada.

   Pada suatu hari anak itu memakan semua makanan dari orang tuanya. Pemuda itu sangat jengkelnya berkata: "dasar anak keturunan ikan!"Pernyataan itu dengan sendirinya membuka rahasia dari isterinya.Dengan demikian janji mereka telah dilanggar.

     Istri dan anaknya menghilang secara gaib. Ditanah bekas pijakan mereka menyemburlah mata air. Air yang mengalir dari mata air tersebut makin lama makin besar. Dan menjadi sebuah danau yang sangat luas. Danau itu kini bernama Danau Toba



credit: http://www.indonesiawisata.com/
Logged
Shawn Spencer: Though not as ridiculous as Denise Richards playing a nuclear
physicist named Christmas Jones in a Bond movie. But still!  ;D
http://natanedan.tumblr.com/  http://natanedan.wordpress.com/

sate_ayam

  • Chingu
  • **
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 1.747
  • kyk kodok
Re: Cerita Rakyat Indonesia
« Reply #11 on: March 09, 2009, 06:49:13 am »

Legenda Komodo di pulau Komodo

Konon, orang-orang pulau Komodo di Timur Indonesia percaya, kalau dulu Komodo adalah bagian dari nenek moyang mereka (mudah-mudahan, aku nggak salah berpersepsi, yah..). Mereka percaya kalo asal-usul komodo tuh dari manusia. Jadi, dulu banget, ada manusia yang melahirkan anak kembar. Tapi pasangan kembar itu berbeda spesies. Satu manusia, satu komodo. Sayangnya, orangtua mereka kemudian membedakan perlakuan terhadap dua anak kembar itu, alias lebih sayang dan perhatian sama anak yang wujudnya manusia. Akhirnya, karena sedih, sang komodo pergi dari rumah, masuk hutan, dan menetap di sana sampai beranak pinak.

Warga pulau Komodo biasa hidup berdampingan dengan Komodo. Dan kini, sebagai wujud penghargaan mereka kepada komodo, yang notabene masih sodaraan dengan nenek moyang mereka, warga pulau komodo membuat patung-patung komodo mini.

credit: sihircinta@blogspot
Logged
Shawn Spencer: Though not as ridiculous as Denise Richards playing a nuclear
physicist named Christmas Jones in a Bond movie. But still!  ;D
http://natanedan.tumblr.com/  http://natanedan.wordpress.com/

asrina_1986

  • Special Member
  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 8.116
  • It's not me!
    • book rants
Re: Cerita Rakyat Indonesia
« Reply #12 on: March 10, 2009, 12:58:41 pm »

hmm karna sate pol banget nyariin cerita rakyat sekalian cariin cerita rakyat tentang sandikala donk!
penting nih! cariin ya!
Logged

sate_ayam

  • Chingu
  • **
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 1.747
  • kyk kodok
Re: Cerita Rakyat Indonesia
« Reply #13 on: March 10, 2009, 02:43:28 pm »

hmm karna sate pol banget nyariin cerita rakyat sekalian cariin cerita rakyat tentang sandikala donk!
penting nih! cariin ya!

cerita dari mana ya? ???
dari bali?
aku gak yajin nih tp ini dr bali post :/
http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2005/6/19/sip1.html

Cerita seputar Petualangan Sang Hyang Kala

Yang pertama tercipta di dunia adalah gelap dan terang. Dalam terang terdapat titik kegelapan yang dapat menciptakan kegelapan dunia, demikian juga dalam kegelapan terdapat titik terang yang membuat dunia ini terang benderang. Terang sebagai lambang perbuatan baik dan buruk sebagai perbuatan negatif, berarti dalam hal ini cenderung merupakan pengendalian moral. Untuk menjaga agar tidak terpengaruh pikiran negatif, dapat dilakukan sembahyang empat kali dalam 24 jam -- pagi, siang, sore, dan malam. Gelap dan terang, simbolis itulah yang diungkapan dalam wacana (kemudian dipakai tema) Pesta Kesenian Bali (PKB), yang dibuka Sabtu (18/6) kemarin.

---------------------

 

SUMBER tertulis tentang Bhuta Kala berawal dari Sruti, yaitu Weda keempat dari Catur Weda (Atharwa Veda) yang menyatakan, "Tuhan menguasai alam semesta serta menjaganya, laksana wadag jagat raya yang disebut juga Bhuta (bhu), tumbuh sebagai dasar, ada tumbuh berkembang dan sirna berganti terus menerus utpati, stiti, pralina, demikian seterusnya." Juga terdapat dalam Sarasamuscaya, "Pada awalnya sarwa wisaya, hanya manusia yang dapat mengolah untuk dijadikan baik atau buruk, dengan tingkah laku bisa mengurangi perbuatan yang jelek atau negatif."

Di samping di Sundarigama, juga terdapat dalam lontar Siwagama, "Pada yoga yang keempat, terciptalah Sanghyang Catur Suksma, Catur Bhuta, yaitu utara-selatan-timur-barat. Pada yoga kelima terciptalah Panca Tanmatra, Panca Mahabutha, Panchawibudhi. Pada yoga keenam terciptalah bumi, lautan, mega, dan langit. Pada yoga ketujuh terbentuklah pertemuan Panca Tanmatra dengan Panca Mahabhuta menjadi Panca Indriya dan Panca Karmendriya, kemudian terciptalah manusia, setan, binatang, ikan hewan, tumbuh-tumbuhan, tumbuhan melata, semak belukar."

Secara mitologi, kisah Sang Hyang Kala dalam lontar Kala Purana diuraikan sebagai berikut. Kala Purana adalah awal dari permulaan Dewa Siwa di Swargaloka yang sangat berwibawa dan dihormati. Ia memiliki dua putra -- Sang Hyang Kala yang berwajah seperti raksasa, dan Panca Kumara yang berwajah tampan. Sang Hyang Kala lahir pada saat sandikala (pertemuan waktu antara siang dan malam) pada hari Wrespati Pon wuku Wayang dan Panca Kumara lahir pada hari Kliwon wuku Wayang.

Sang Hyang Kala dikisahkan pergi bertapa meninggalkan sorga, tetapi Panca Kumara tinggal bersama ayahnya di sorga. Ketika Sang Hyang Kala sudah besar, ia memperoleh panugrahan dari Dewa Brahma -- boleh memakan orang yang lahir pada wuku Wayang, orang yang berjalan pada saat matahari tepat berada di atas kepala, dan orang yang berjalan pada saat sandhyawela (antara sore dan malam). Setelah memperoleh panugrahan tersebut, teringatlah Sang Hyang Kala dengan adiknya, Panca Kumara.

Setelah mohon pamit kepada Dewa Brahma, Sang Hyang Kala datang ke Swargaloka menghadap Dewa Siwa. Kepada Dewa Siwa, Sang Hyang Kala menyatakan keinginannya, "Hamba ingin minta makanan kepada ayah. Karena, atas panugrahan Dewa Brahma, hamba boleh memakan adik hamba Panca Kumara karena ia lahir pada Tumpek Wayang dan orang yang lahir pada wuku Wayang." Dewa Siwa ternyata mengizinkan permintaan tersebut dengan satu syarat. "Anakku, kamu tidak boleh me-nadah orang yang belum mencapai akambuhan (tiga bulan) sampai lima tahun," kata Dewa Siwa.

Lima tahun lewat sesuai dengan perjanjian, Sang Hyang Kala datang menuntut janji. Dewa Siwa memberi petunjuk, karena Panca Kumara lahir pada Saniscara Kliwon wuku Wayang, sebaiknya Sang Hyang Kala me-nadah-nya tepat pada hari lahirnya. Setelah Sang Hyang Kala pergi, Dewa Siwa memanggil Panca Kumara, sambil berkata, "Anakku, tidak dapat dihindari engkau akan di-tadah oleh Sang Hyang Kala pada hari Saniscara Kliwon wuku Wayang. Sekarang ada usaha ayah untuk membantumu, sebagai pembersihan atau pengeruwat jati dirimu, agar bisa dipergunakan sebagai teladan oleh masyarakat, bangsa, dan negara yang ada di muka bumi."

 

Turun ke Dunia

Lalu, Dewa Siwa memerintahkan Panca Kumara turun ke dunia menghadap Sang Prabu Mayasura, raja yang tinggal di Kerta Negara. "Di sanalah kamu mohon perlindungan karena kakakmu Sang Hyang Kala segera akan datang," ujar Dewa Siwa. Lantas Panca Kumara langsung turun ke dunia menuju kerajaan Kerta Negara. Ia langsung duduk di pangkuan Raja sambil menangis minta perlidungan, bahwa dirinya akan di-tadah oleh Sang Hyang Kala.

Prabu Mayasura kaget serta minta penjelasan Panca Kumara lebih lanjut. Panca Kumara menceritakan problemnya. Setelah tuntas, Prabu Mayasura berkata, "Baiklah, aku akan melindungimu bersama para patih sekalian." Lalu diperintahkan para patih dan rakyatnya untuk menghadapi Sang Hyang Kala. Prabu Mayasura sendiri duduk di kerajaan menjaga keselamatan Panca Kumara.

Maka, sesuai dengan perjanjian, Sang Hyang Kala pun datang hendak meminta adiknya ke hadapan Dewa Siwa tepat pada hari yang ditentukan. "Silahkan kamu cari dia di dunia. Di Swargaloka tidak boleh terjadi pembunuhan sebab bisa mencemarkan kesucian," ujar Dewa Siwa. Sang Hyang Kala pun mohon diri, lalu turun ke dunia. Sampai di dunia, dia bingung, ke mana harus mencari adiknya Panca Kumara. Sementara Sang Hyang Kala melihat banyak orang membawa senjata di situ. "Wahai manusia semua, kenapa kamu membawa senjata dan menggunakan pakaian perang, siapa sesungguhnya musuhmu? Coba katakan supaya aku tahu," kata Sang Hyang Kala.

Tanpa basa-basi, para prajurit Prabu Mayasura langsung menyerang Sang Hyang Kala. Namun, para prajurit itu tidak bisa berkutik, justru akhirnya semua terbunuh. Sang Hyang Kala kemudian menghadap Prabu Mayasura untuk mencari Panca Kumara. Karena melindungi Panca Kumara, maka tak terelakkan lagi, Prabu Mayasura pun akhirnya berperang melawan Sang Hyang Kala. Pada saat peperangan itu berkecamuk, Panca Kumara melarikan diri dan akhirnya beristirahat di perempatan jalan.

Pertempuran berlangsung dengan sengit. Akhirnya naas, Prabu Mayasura dapat dikalahkan oleh Sang Hyang Kala. Sang Hyang Kala pun mengejar Panca Kumara tepat pada siang hari. Panca Kumara lalu menangis memanggil-manggil ayahnya, Dewa Siwa, di perempatan jalan. Dewa Siwa akhirnya hadir bersama istrinya, Dewi Parwati, menaiki Lembu Nandini. Pada saat yang sama, Sang Hyang Kala juga datang. "Anakku Sang Hyang Kala, sebelum kamu me-nadah adikmu, jika engkau bisa, silahkan engkau makan juga ayah sendiri dan ibumu, serta seekor lembu ini," kata Dewa Siwa.

Namun, sebelumnya Dewa Siwa memberi syarat khusus yakni memberi pertanyaan pada Sang Hyang Kala dan pertanyaan itu harus bisa dijawab. "Astapadosastikarno dwi srnggi sapta locana, catur bhuja tri nabhinaca eka das bhagi dwi purusah," ujar Dewa Siwa. Sang Hyang Kala pun bingung dan tidak bisa menjawab tentang makna yang terdapat dalam kalpika yang merupakan ongkara sinunggal sebagai wujud Tuhan yang Maha Esa. Karena tak bisa menjawab, maka Panca Kumara pun terhindar dari santapan Sang Hyang Kala.

Panca Kumara selamat dan melarikan diri ke tengah alang-alang atau ambengan. Di sana dia bersembunyi dan mengikat ambengan di antara orang lewat. Setelah diketahui Panca Kumara menyelinap di tengah alang-alang, Sang Hyang Kala mengejar. Sang Hyang Kala terjatuh, sehingga Panca Kumara sempat melarikan diri ke rumah penduduk pada tumpukan kayu bakar yang masih terikat. Sang Hyang Kala mengutuk, "Barang siapa yang mengikatkan ambengan di tengah jalan agar di- tadah oleh Sang Hyang Kala."

Panca Kumara diketahui bersembunyi pada tumpukan kayu bakar yang masih diikat, di bawah kelumpu atau tempat penyimpanan padi. Ketika meraba-raba Panca Kumara di atas tumpukan kayu bakar tersebut, mata Sang Hyang Kala tertusuk kayu bakar. Panca Kumara pun dapat meloloskan diri lagi, lalu lari ke dapur dan bersembunyi di bungut paon -- tungku berlubang tiga. Sang Hyang Kala pun mengutuk lagi, "Barang siapa yang mengikat kayu bakar, agar di kemudian hari di-tadah oleh Sang Hyang Kala. Sang Hyang Kala mengejar Panca Kumara ke dapur. Panca Kumara melesat dari dapur dan minta perlindungan kepada dalang yang sedang mengadakan pertunjukan wayang.

Hari menjelang malam. Sang Hyang Kala mengetahui Panca Kumara menyelinap pada pertunjukan wayang. Panca Kumara sempat menangis di pangkuan Mpu Leger atau sang dalang untuk minta pertolongan. Maka disuruhnyalah Panca Kumara duduk di sekitar orang yang membunyikan gender. Dalam keadaan seperti itu, datanglah Sang Hyang Kala yang sangat lapar, langsung menyantap upakaraning bebanten sehingga habis tidak ada sisa.

 

* wayan watra

Logged
Shawn Spencer: Though not as ridiculous as Denise Richards playing a nuclear
physicist named Christmas Jones in a Bond movie. But still!  ;D
http://natanedan.tumblr.com/  http://natanedan.wordpress.com/

asrina_1986

  • Special Member
  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 8.116
  • It's not me!
    • book rants
Re: Cerita Rakyat Indonesia
« Reply #14 on: March 11, 2009, 08:54:44 am »

makasih sate!
referencenya ternyata koran yang aku baca sehari2 [hmpfh]
Logged

reza-echa

  • Special Member
  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 16.237
  • ^_^
    • Just an Ordinary Me
Re: Cerita Rakyat Indonesia
« Reply #15 on: May 06, 2009, 04:23:22 am »

Legenda danau toba paling gw inget tuh ampe cover depan bukuny gw jg inget he9 ada juga sangkuriang. Setiap daerah punya cerita rakyat masing2 lengkap dgn ke khas-annya, kalo gw peratiin smua cerita rakyat ada makna tersirat. Inget lg gw ada jaka tarub, legenda tengger, asal mula banyumas. Dulu gw suka bc cerita rakyat, sayang skrg literasiny sdh semakin dikit, tergerus bacaan import.
Logged
You are my past, my present & my future

asrina_1986

  • Special Member
  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 8.116
  • It's not me!
    • book rants
Re: Cerita Rakyat Indonesia
« Reply #16 on: May 07, 2009, 05:13:45 am »

Maaf, ini sekedar pendapat.

Cerita rakyat indonesia tidak kalah dengan cerita rakyat impor. Tapi yg membuat miris adalah pengemasan cerita rakyat kita. Banyak sekali jika kita kembali ke masa sd cerita rakyat yang kita baca, tapi adakah yg memakai edisi lux?
Lagipula kebanyakan cerita rakyat yg sekarang beredar adalah legenda terbentuknya sesuatu. Artinya, bukanlah happy ending, sedangkan masyarakat kita (termasuk saya) adalah penyuka happy ending.

Sekali lg ini IMO, CMIIW.
Logged

reza-echa

  • Special Member
  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 16.237
  • ^_^
    • Just an Ordinary Me
Re: Cerita Rakyat Indonesia
« Reply #17 on: May 08, 2009, 05:08:41 am »

Rin, kalo gw ngeliatnya bukan suatu yg sad ending tp sesuatu yg apa ya bs dbilang ada bhn pembelajarannya, kejahatan dibalas dgn kebaikan.
Logged
You are my past, my present & my future

eglyan

  • Tomodachi
  • ****
  • Keong: 2
  • Offline Offline
  • Posts: 4.597
Re: Cerita Rakyat Indonesia
« Reply #18 on: July 12, 2009, 01:47:33 pm »

Bnyak bnget lg crita rakyat indonesia,yg paling gw inget ya malin kundang,trus bnyak bnget kalau asal sesuatu,pasti ada critanya.kyak batu menangis d kota gw,gw seh lom liat btunya,ltaknya d atas bkit, critanya seh ttg anak durhaka gtu.maaf nyelong aja
Logged

Monox D. I-Fly

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 701
Re: Cerita Rakyat Indonesia
« Reply #19 on: October 20, 2016, 11:57:19 am »

Maaf, ini sekedar pendapat.

Cerita rakyat indonesia tidak kalah dengan cerita rakyat impor. Tapi yg membuat miris adalah pengemasan cerita rakyat kita. Banyak sekali jika kita kembali ke masa sd cerita rakyat yang kita baca, tapi adakah yg memakai edisi lux?
Lagipula kebanyakan cerita rakyat yg sekarang beredar adalah legenda terbentuknya sesuatu. Artinya, bukanlah happy ending, sedangkan masyarakat kita (termasuk saya) adalah penyuka happy ending.

Sekali lg ini IMO, CMIIW.

Saya berharap nggak ada kisah Sangkuriang yang happy ending, karena itu artinya bakal jadi parental incest...
Logged
Salam dekek. Jo para Inyek jo Cindako, ambo badiam di talinan inda putuy, sabab mandari pado ako, garo mandari pado harimau! Berubah! Satria Harimau, Torga!
Pages: 1 [2]   Go Up