;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1]   Go Down

Author Topic: Pengintaian Bawah Laut: Bagaimana China ‘Mencuri Dengar’ di Wilayah Sekitar Guam  (Read 121 times)

politik

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 31

China memiliki sensor akustik mutakhir yang dapat digunakan untuk melacak pergerakan kapal selam di Laut China Selatan dan wilayah sekitar Guam, dan dapat mencegat sinyal bawah laut antara kapal selam dan basis komando mereka. Sensor akustik di perairan dekat pangkalan militer AS di Pasifik Barat tersebut adalah ‘praktik standar’ bagi negara besar untuk memantau lalu lintas kapal selam, kata analis AS.

Oleh: Stephen Chen (South China Morning Post)

China telah menanam perangkat pendengaran yang kuat di dua landasan strategis di perairan dekat Guam, yang menjadi pangkalan militer terbesar Amerika di Pasifik Barat.

Sensor akustik mutakhir—yang beberapa di antaranya memiliki jangkauan pendengaran lebih dari 1.000 km—digunakan untuk penelitian ilmiah seperti mempelajari gempa bumi, topan, dan paus, menurut pemerintah China.

Namun para ahli keamanan mengatakan bahwa sensor tersebut juga dapat melacak pergerakan kapal selam di Laut China Selatan, dan mencegat sinyal bawah laut antara kapal selam dan basis komando mereka.

Perangkat pengawasan kualitas tinggi ini telah beroperasi sejak tahun 2016, meskipun informasi tersebut baru dikeluarkan oleh Akademi Ilmiah China bulan ini.

Salah satu sensor akustik tersebut terletak di Palung Mariana—tempat terdalam di Bumi pada ketinggian 10.916 meter di bawah permukaan laut—dan yang lainnya berada di dekat Yap, sebuah pulau di Negara Federasi Mikronesia, menurut pengungkapan informasi tersebut.

Palung Mariana dan Yap masing-masing terletak sekitar 300 km dan 500 km barat daya Guam, antara Guam dan Palau.

Guam adalah rumah bagi pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di Pasifik Barat, dan juga merupakan pusat pengadaan dan perawatan penting untuk kapal selam angkatan laut AS lainnya di wilayah Pasifik. Palau adalah salah satu titik masuk utama ke Laut China Selatan untuk kapal angkatan laut AS.

Detektor suara yang sangat canggih yang ditanam di dasar laut di wilayah tersebut mungkin bisa mendeteksi komunikasi kapal selam, menurut seorang ahli militer China yang meminta tidak disebutkan namanya karena sensitivitas masalah ini.

Isi pesan akan dienkripsi, namun sinyal tersebut bisa memberikan informasi bermanfaat lainnya mengenai kapal selam tersebut, kata ahli itu.

Seorang analis AS mengatakan bahwa langkah tersebut adalah praktik standar bagi negara-negara besar dengan angkatan laut yang kuat.

“China telah menjadi negara yang hebat dan bertindak layaknya negara hebat,” kata James Lewis, wakil presiden senior di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington.

“Semua negara besar menempatkan sensor yang disiapkan di dasar lautan untuk perang anti-kapal selam.”

Menurut Akademi China tersebut—yang mengawasi pengembangan dan penyebaran sensor akustik—perangkat tersebut dilekatkan pada kabel panjang di sepanjang dasar laut.

Kabel itu terhubung dengan sebuah pelampung kecil yang membawa perangkat komunikasi satelit, dan memasok daya baterai lebih dari satu tahun ke perangkat tersebut, yang berukuran kecil dan hanya membutuhkan sangat sedikit daya.

Jaringan pengintai bawah laut China ini telah bertahan dari tekanan yang menghancurkan di kedalaman terbesar di dunia, dan menangkap suara dari sumber yang berjarak lebih dari 1.000 km, menurut akademi tersebut.

Perangkat pengintai tersebut secara teratur dipelihara oleh kapal penelitian China, tambahnya.

Perangkat untuk mencuri dengar ini bekerja dengan menangkap gelombang suara, yang bisa dimanfaatkan sebagai intelijen militer. Gelombang suara bisa mencakup suara yang dihasilkan oleh kapal selam.

Kapal selam sering menghasilkan suara dengan frekuensi rendah yang dimaksudkan untuk melakukan perjalanan jarak jauh. Mereka juga secara teratur mengirimkan sinyal akustik ke pelampung atau kabel yang terhubung dengan satelit di dasar laut, untuk berkomunikasi dan tetap berhubungan dengan markas mereka.

Pangkalan angkatan laut AS di Guam menjadi tuan rumah bagi Skuadron Kapal Selam 15, yang armadanya terdiri dari kapal selam nuklir kelas satu Los Angeles, termasuk USS Oklahoma, USS Chicago, USS Key West dan USS Topeka.

Dari Guam, cara tercepat bagi kapal selam untuk mencapai Kepulauan Spratly, misalnya, adalah melalui Laut Sulawesi antara Indonesia dan Filipina. Perjalanan sejauh 3.500 km tersebut akan memakan waktu kurang dari empat hari bagi kapal selam bertenaga nuklir.

Kepulauan Spratly adalah rantai pulau yang diperebutkan di Laut China Selatan, dan merupakan titik yang memicu sengketa teritorial.

Pasukan angkatan laut AS di Guam diyakini telah meletakkan jalur komunikasi di rute kapal selam yang sering digunakan. Kabel di dasar laut terhubung dengan perangkat yang dapat memancarkan atau menerima gelombang suara, sehingga memungkinkan kapal selam untuk tetap terhubung dengan komando di darat tanpa harus memasang komunikasi satelit dan menimbulkan risiko.

Angkatan laut AS juga sejak tahun 2008, telah mengembangkan sistem komunikasi bawah laut, Deep Siren, yang memungkinkan kapal selam untuk melepaskan pelampung hingga ke permukaan, dan menggunakan sinyal akustik untuk mengirim dan menerima pesan dari dasar laut terdalam. Sinyal ini dikirim ke satelit yang dikendalikan oleh Badan Keamanan Nasional AS dan kemudian diintegrasikan ke dalam jaringan informasi globalnya.

Jaringan pengintaian bawah laut China dapat mendeteksi komunikasi semacam itu, karena beberapa sensornya beroperasi pada kedalaman yang serupa dengan Deep Siren. Sensor tersebut memiliki kedalaman kerja maksimal lebih dari 12 ribu meter, yang memungkinkan mereka bekerja secara efektif bahkan di dasar laut terdalam.

“Semakin dalam di bawah permukaan, semakin tenang dunia, dan ini memungkinkan kita untuk berkonsentrasi pada tanda yang paling ingin kita dengar,” kata Zhu, yang memimpin program pengawasan dan komunikasi laut di Institut Akustik Akademi China.

Dia menambahkan bahwa terdapat embargo ekspor ke China pada detektor suara dengan kedalaman operasional di luar 1.000 meter. Perangkat semacam itu sulit diproduksi karena memerlukan bahan khusus dan teknologi canggih untuk memastikan mereka dapat terus mengumpulkan informasi yang akurat untuk waktu yang lama di bawah lingkungan tekanan tinggi yang ekstrem, katanya.

Misalnya, di bawah kedalaman 10 ribu meter, tekanan yang ditanggung oleh sensor mencapai sekitar 6.000 kg—atau setara dengan berat gajah Afrika dewasa.

Sensor tersebut juga kecil dan hanya sedikit mengonsumsi daya. Zhu tidak bisa mengungkapkan rincian lebih lanjut tentang bagaimana sensor tersebut dibuat karena sensitivitas masalah ini, namun mengatakan “ini adalah terobosan bagi China”.

Menurut institut tersebut, sensor akustik dalam sistem pengintaian bawah laut, digunakan untuk memantau gelombang suara yang dihasilkan oleh alam, seperti angin topan dan gempa bumi, untuk tujuan peringatan bencana.

Sensor tersebut juga telah digunakan dengan cara lain seperti di kapal pesiar laut dalam, dan ditempatkan di perairan sensitif lainnya seperti Laut China Selatan, kata institut tersebut.

Sistem pengintaian tersebut mencakup sensor lain, seperti meter arus dan selang sonde, yang mengukur turbulensi air, suhu, dan kadar garam air laut (salinitas).

Lewis, analis AS tersebut, mengatakan bahwa suhu air, salinitas, dan faktor lainnya mempengaruhi perambatan gelombang suara, dan diukur untuk meningkatkan deteksi kapal selam.

Beberapa frekuensi suara menempuh jarak yang jauh di bawah air, dan program komputasi yang canggih dapat menafsirkannya, untuk menemukan kapal selam bahkan yang berjarak lebih dari 800 km jauhnya, katanya.

“Anda ingin sensor di perairan dalam karena bisa menangkap lebih banyak suara dan cenderung tidak terdeteksi,” katanya, dan menambahkan bahwa sensor AS terutama terletak di sekitar Rusia, untuk membantu mendeteksi kapal selam rudal balistik mereka.

Informasi oleh akademi China tersebut tentang jaringan pengintaian laut China, diungkapkan di tengah meningkatnya kekuatan perlawanan terhadap AS yang berusaha menguasai Samudera Pasifik.

China—yang merupakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia—telah menghabiskan banyak uang untuk meningkatkan kekuatan dan pengaruh globalnya.

Aktivitasnya yang meningkat di dekat Guam telah menarik perhatian AS. Para ilmuwan di kapal penelitian China mengatakan kepada South China Morning Post, bahwa operasi mereka di dekat Guam telah terlihat jelas oleh pesawat mata-mata AS, namun mereka terus melakukannya, dan bersikeras bahwa mereka beroperasi di perairan internasional.

Tapi aktivitas China di wilayah tersebut jauh lebih besar dibandingkan perangkat dengar. Februari lalu, Institut Geologi dan Geofisika akademi tersebut, memulai serangkaian gempa buatan manusia di dasar Laut Palung Mariana dengan ledakan kuat. Percobaan pertama yang dilakukan di wilayah tersebut, memungkinkan China mendapatkan informasi berharga tentang medan bawah laut, kata institut tersebut.

Guam adalah bagian dari Rantai Pulau Kedua—yang merupakan sebuah garis pertahanan militer yang dibangun oleh AS selama perang dingin untuk mencegah perluasan komunis ke Samudra Pasifik.

Menurut para ilmuwan China yang terlibat dalam proyek ini, satu tujuan utama operasi China di dekat Guam dan daerah lain di Pasifik Barat adalah, untuk memecah rantai pulau tersebut dan menunjukkan kekuatan angkatan laut China di jantung Pasifik.

Artikel ini muncul dalam edisi cetak South China Morning Post dengan judul: China Mendengarkan Kapal Selam AS dari Dasar Samudera.

Sumber : Pengintaian Bawah Laut: Bagaimana China ‘Mencuri Dengar’ di Wilayah Sekitar Guam
Logged
Pages: [1]   Go Up