;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1]   Go Down

Author Topic: Beginilah Keseruan Eks Mahasiswa Ikatan Dinas yang Tersisa di Havana  (Read 342 times)

andresteav

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 169

Bekas Mahasiswa Ikatan Dinas yg Tersisa di Havana
Generasi muda saat ini mungkin tak ketahui apabila histori Indonesia di saat lantas udah bikin beberapa pemuda/pelajar Indonesia di saat itu terpisah dari keluarganya sepanjang beberapa tahun.

Sama dengan disaat saya bakal di tempatkan di Kuba, salah satunya senior yg sempat di tempatkan di Havana mengemukakan kalau di Kuba ada beberapa Bekas Mahid.
Artikel Terkait : sekolah ikatan dinas di indonesia

“Eks Mahid? Batin saya ajukan pertanyaan! Makna apalagi itu? " disaat senior saya menjelaskannya, baru saya tahu. Bekas Mahid merupakan Mahasiswa Ikatan Dinas Indonesia di jaman Presiden Soekarno, lebih kurang tahun 1960-an,  yg dikirim ke luar negeri buat menyambung pendidikan S1 di sekian banyak negara seperti Uni Soviet, Chekoslavia, serta sekian banyak negara sosialis komunis yang lain di Eropa Timur.

Disaat itu, Interaksi Pemerintah Indonesia dengan Uni Soviet serta negara sekutunya sangatlah dekat. Pengiriman beberapa ribu mahasiswa Indonesia keluar negeri oleh Pemerintah Indonesia diperuntukan biar sekembalinya dari sekolah di luar negeri mereka bisa membuat Indonesia.

Akan tetapi, apa pengin dikata, apabila nasib tentukan beda. Disaat mereka tengah ada di luar negeri, berlangsung moment G30S yg lantas disertai dengan perubahan pemerintahan.

Banyak pada mereka yg dicabut paspornya lantaran tak ingin bikin surat pengakuan beri dukungan pemerintahan yg baru hingga berubah menjadi stateless.

Sejumlah kecil mahasiswa ini selanjutnya terdampar serta bertempat di Kuba. Mereka berubah menjadi sahabat-sahabat saya disaat bekerja di Kuba sepanjang 3, 5 tahun (2005-2008) serta berubah menjadi salah satunya yg sebabkan saya senang tinggal di Havana Kuba.

Pertemanan saya dengan kawan-kawan bekas Mahid berikan kesan-kesan khusus. Mereka udah seperti orang tua saya. Dengan sifat serta sektor pengetahuan yg berlainan, banyak pelajaran yg dapat saya mengambil dari mereka yg tidak akan terabaikan selama hidup saya.

Walaupun umur mereka jauh terpaut dengan saya (lebih kurang 30-35 tahun) akan tetapi kami dapat berkawan. Sahabat-sahabat saya itu merupakan Almarhum Gunadito (wafat pada 2011) , Widodo Suwardjo, Ahmad Soepradja, serta Salim. Almarhum Gunadito, Soepradja, serta Widodo adalah lulusan S2 di Rusia.


Gedung Khusus di Kuba (Poto : REUTERS/Stringer)
Dua yg pertama terdampar di Kuba lantaran menikah dengan wanita Kuba yg bersekolah di Kampus yg sama di luar negeri. Sesaat Widodo tinggal di Kuba lantaran dapatkan penawaran project dari Pemerintah Kuba. Pak Salim sesungguhnya bukan bekas Mahid akan tetapi disaat moment G30S tengah berobat ke Cina (negara sosialis komunis) .

Almarhum Gunadito, biasa dipangil Pak Gun, umpamanya, merupakan tipikal orang yg suka mendukung orang beda, termasuk juga kawan-kawan di KBRI, tegas, senantiasa jelas, serta berani.

Doktor sektor Ekonomi ini (disaat itu berumur lebih kurang 70-an tahun) udah pensiun dari Kementerian Ekonomi serta Investasi Kuba hingga memilik cukuplah banyak sekali waktu buat berhubungan dengan kami.

Salah satunya soal yg gak sempat saya lupa merupakan disaat beliau dengan mobil Fiat Uno mungil yg sangat tua membawa saya ke Rumah Sakit buat berobat, walaupun sebenarnya saya tak memintanya.

Perihal ini di mulai disaat beliau mengabari saya lewat telpon serta merasa saya sakit. Tiada saya mohon beliau langsung melesat ketujuan rumah saya yg jaraknya lebih kurang 3 km, walaupun beliau sendiri kala itu dalam keadaan sakit.

Saya ungkapkan kalau saya tak usah diantar serta dapat ke dokter sendiri. Akan tetapi jawaban gak tersangka dilepaskan beliau " Saya itu udah tua, bila pengin mati ya nggak apa, namun kamu itu tetap muda, terdapat banyak impian, ” jawaban itu bikin saya tertegun.
Simak Juga : pengertian siklus krebs


Beliau berikan contoh yg baik, tak dengan banyak kata namun lewat tabiat. Dalam soal ini, ada teladan dari beliau. Kebanyakan jadi manusia biasa, kita bakal memperlakukan seorang menurut resiprokal.

Apabila seorang memperlakukan kita dengan baik, kita bakal lakukan perbuatan sama. Demikian pula sebaliknya, apabila kita diperlakukan tak baik oleh orang beda sekurangnya kita bakal menjauhi orang itu atau bahkan juga yg berlebihan kita bakal membalasnya.

Akan tetapi, apa yg dilaksanakan Pak Gun? Disaat seorang memperlakukan Pak Gun dengan tak baik, tetapi masih dibantunya disaat butuh pertolongan, saya pernah memberi salam “Pak, bukankan ia udah menyakiti hati Bapak? Kenapa Bapak terus membantunya? ” papar saya. “ Ah, biarlah, tak apa-apa, ” jawab beliau.

Bigitulah Pak Gun, apabila membantu sama-sama itu tiada pamrih, sangatlah tulus, tidak sempat balas dendam. Beliau pula miliki prinsip seandainya kita membantu orang beda, orang itu bakal puas, begitu pula kita bakal terasa puas.

“Perasaan puas membahagiakan orang beda itu bakal bikin kita panjang umur”, kata Pak Gun. Sekembalinya dari Kuba, kami tetap kerap kirim berita lewat e mail sampai pada Januari 2011, Tuhan menyebut Pak Gunadito. Susah sekali terasa.


Poto 1. Almarhum Bapak Gunadito serta istrinya, Ibu America (Sumber : Koleksi keluarga Gunadito)

Beda Gunardito, beda juga Widodo. Master di sektor Metalurgi lulusan salah satunya Kampus di Rusia serta Doktor dari Kampus di Havana ini miliki sifat yg tenang, sabar, serta komit pada janji.

Perihal ini juga yg sebabkan kejadian hidupnya memperoleh banyak liputan wadah buat atau online di tahun 2006. Ini berasal dari kunjungan Presiden SBY serta rombongan ke Havana Kuba buat mengunjungi KTT GNB September tahun 2006.

Kebetulan ketika ramah tamah, Presiden SBY dengan banyak WNI di Havana, Pak Widodo duduk satu meja dengan Bapak Andi Mallarangeng yg disaat itu merupakan jubir Presiden SBY.

Hasil dari percakapan tersingkap, kejadian hidup Pak Widodo yg tetap membujang di umur 66 tahun lantaran udah mempunyai komitmen dengan kekasihnya buat menikah sekembalinya dari Rusia.

Pergantian politik di Indonesia udah memicunya kehilangan kontak dengan kekasihnya. Lewat seseorang jurnalis yang staf Andi Mallarangeng, kejadian hidup Pak Widodo yg tengah mencari kekasihnya diterbitkan di berapa wadah online hingga banyak menarik simpati.

Publikasi yg luas selanjutnya sukses menemukannya kekasih hati Pak Widodo. Akan tetapi sayang, kekasih Widodo itu udah menikah serta beranak cucu. Sangatlah ironis khan? Politik udah menelan banyak korban.

Atas pemberian “Hamba Allah”, pada Juni 2008, Widodo bisa bertandang ke Indonesia. Kunjungan itu udah dimanfaatkannya buat menjumpai eks kekasih hatinya buat memberikan permintaan maaf lantaran tidak bisa mengerjakan kontak sepanjang lebih kurang 40-an tahun sejak mulai paspor WNI-nya dicabut.

Seusai menjumpai eks kekasihnya, Pak Widodo lantas selanjutnya terasa lega. Seperti itulah kejadian menyentuh Bapak Widodo. Pada kunjungan ke Indonesia itu, beliau udah juga bersua Ayahnya di kota Blora yang udah beberapa puluh tahun terpisah. Pertemuan yg sangatlah mengharukan.

Sekian tahun kemudian, Bapak Pak Widodo berpulang kepangkuan yg Maha Kuasa. Di Jakarta, Pak Widodo pernah pula bersua dengan Bapak Andi Mallarangeng buat menyampaikan terima kasih.

Sekarang di usianya yg beranjak 76 tahun, Pak Widodo tetap aktif jadi pengamat di salah satunya institusi Pemerintah Kuba serta belum menikah. Jadi catatan, di Kuba tiap-tiap pegawai dipersilahkan buat senantiasa kerja sampai pegawai itu dengan sendirinya ajukan diri buat pensiun.


Poto 2. Pertemuan Andi Mallarangeng dengan Widodo Suwardjo di saah satu kedai Soto di Jakarta Pusat pada 11 Juni 2008 (Poto : koleksi pribadi)

Kawan akrab yg ke-tiga, Pak Salim, merupakan tipikal orang yg ceria, aktif serta senantiasa berpikiran positif. Beliau punyai pandangan hidup sehat dengan melakukan olahraga serta makan sehat.

Beliau miliki obyek hidup sampai 120 tahun. Orang mungkin ketawa mendengarnya. Begitu juga dengan saya. Akan tetapi, apa pun kata orang, Pak Salim terus yakin. “Setiap bangun pagi minum satu gelas air putih, dilanjut dengan jogging sepanjang 30 menit serta sarapan pagi dengan dua buah pisang. Buat makan siang, cukuplah sup kacang serta sayur-sayuran. Malam hari, roti serta susu " kata Pak Salim perihal lifestyle sehatnya.

Adakalanya disaat ada aktivitas atau acara di KBRI atau di Wisma Duta yg memberikan masakan Indonesia, Pak Salim lantas tak melepaskan buat mengecap makanan Indonesia yg jarang-jarang dijumpainya.

Dengan lifestyle sehatnya, di usianya yg capai 86 tahun, Pak Salim tetap kelihatan kuat serta sehat. Pak Salim yg hidup sendiri adalah dosen bahasa Inggris di Universtas Havana, yg sangatlah akrab dengan banyak mahasiswanya.


Poto 3. Pak Widodo (no. 3 dari kiri) , serta Pak Salim (no. 2 dari kanan) , mengapit Duta Besar RI buat Kuba sekarang, Duta Besar Alfred Palembangan (no. 3 dari kanan) , 19 Maret 2018 sebentar seusai pemungutan sumpah serta penandatangan Pakta Jujur dan berkarakter kuat Panitia Penentuan Luar Negeri (PPLN) serta Sekretariat PPLN Havana. (Poto : Koleksi KBRI Havana) .

Kawan akrab yang lain merupakan Soepradja, biasa saya panggil Pak Pradja. Beliau adalah master sektor Ekonomi dari salah satunya Kampus di Chekoslovakia (sekarang berubah menjadi negara Cheko serta Slovakia) .

Disaat saya pertama di tempatkan di Havana, Pak Pradja udah lama mengundurkan diri dari tugasnya di institusi Pemerintah Kuba. Beliau lantas kerja jadi penjaga Wisma Duta yg penghasilannya berlipat lipat tambah besar ketimbang kerja di institusi Kuba.

Seperti yg beda, kehidupan Soepradja gak kalah kerasnya. Anak tunggal salah satu yg cantik wafat lantaran lukeumia disaat berusia 29 tahun. Istri tersayangnya lantas wafat lantaran kanker sekian tahun yang silam.

Sekarang Soepradja tinggal seseorang diri di apartemennya. Akan tetapi, trik pandangnya yg senantiasa positif membuat terus sehat di usianya sekarang yg kira-kira 80 tahunan.

Pada 2007, sewaktu upacara Bendera 17 Agustus, pemerintah Indonesia lewat KBRI Havana menyerahkan paspor WNI terhadap sahabat-sahabat saya diatas.

Sekarang mereka tak berubah menjadi stateless . Mereka sangatlah terharu serta menitikan air mata, lantaran udah disadari kembali berubah menjadi WNI. Satu penghargaan yg gak terhingga untuk mereka. (Pemerintah kala itu lewat Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 berikan peluang terhadap orang Indonesia yg udah lama bertempat di luar negeri buat dapatkan status WNI) .


Poto 4. Dari kanan ke kiri : Almarhum Gunadito, Pak Pradja, serta Pak Widodo, ketika upacara 17 Agustus 2007 serta saat penyerahan paspor WNI. (poto : koleksi pribadi) .

Impian sahabat-sahabat saya buat memakan saat tuanya di Indonesia sesungguhnya terus ada. Akan tetapi, sebagai pertimbangan merupakan agunan dalam hari tua seandainya mereka tinggal di Indonesia. Sesaat sejauh ini pemerintah Kuba udah sediakan tempat tinggal serta agunan hari tua terhadap mereka yg udah pensiun.

Untuk saya pribadi bisa mengetahui mereka lebih dekat merupakan suatu hal yg menakjubkan. Saya banyak belajar dari keuletan, daya juang serta nilai-nilai positif mereka sama seperti saya beritahukan diatas.

Sangatlah disayangkan prahara politik udah sebabkan mereka tidak bisa memberikan kepiawaiannya untuk perubahan Indonesia.

Satu yg saya kagumi yaitu dengan kecerdasan, pengalaman, serta pengetahuan yg dipunyai, mereka bisa bergaul serta berkawan dengan barang siapa bahkan juga dengan anak-anak muda yg usianya terpaut jauh dari umur mereka.

Ini merupakan soal yg perlu ditiru buat kurangi gap pada generasi muda serta generasi tua, hingga generasi muda tak kehilangan arah lantaran tak mengetahui histori negaranya sendiri.

Demikian, sepenggal narasi dari Kuba mudah-mudahan bisa berfaedah untuk semua.
Logged
Pages: [1]   Go Up