;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1]   Go Down

Author Topic: Beginilah Pelat merah asing ekspansif di Indonesia  (Read 116 times)

achasawi

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 119
Beginilah Pelat merah asing ekspansif di Indonesia
« on: April 19, 2019, 12:37:43 am »

Indonesia yaitu tujuan empuk beberapa pemodal asing. Perusahaan sovereign wealth fund sebagai kendaraan investasi negara asing menyasar investasi di Tanah Air. Berita terkini, konglomerasi usaha punya Kerajaan Thailand, Siam Cement Kelompok (SCG) , kembali jadi besar jumlah investasinya di Indonesia.

SCG Retail Holding Co Ltd, anak upaya SCG Kelompok, bisa menjadi pemegang saham strategis di PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) , perusahaan bahan bangunan pemilik brand gerai Partner 10. SCG bakal punyai 9, 09% saham CSAP.

Masuk melalui sistem private placement, SCG bakal membenamkan Rp 324 miliar. " Konsumen siaganya SCG, 9, 09% yang bakal dilepaskan pada harga Rp 800 per saham, " kata Idrus H Widjajakusuma, Sekretaris Perusahaan CSAP, pada KONTAN, Senin (16/7) .
Baca Juga : tabel distribusi frekuensi

Presiden serta CEO SCG, Roongrote Rangsiyopash, menyaksikan kesempatan pasar Indonesia di bidang perdagangan moderen serta ritel. " Kami bangga jadi partner serta bangun perkembangan di Indonesia dengan cara terus terusan, " katanya dalam keterangan terdaftar yang di terima KONTAN.

Ekspansi raksasa investasi punya negeri tetangga ke Indonesia bukan kesempatan ini saja. Awal kalinya jejak investasi dipijakkan oleh beberapa sovereign wealth fund. Katakan saja Temasek Holdings, Government of Singapore Investment Corporation (GIC) dan Khazanah Nasional Berhad Malaysia (lihat tabel) .

Temasek Holding
Property : Keppel Land-Modernland ; Keppel Land-
CapitaLand
Maskapai : Singapore Airlines (beroperasi di Indonesia)
Layanan keuangan : Bank Danamon Indonesia
E-commerce : Lazada, Alibaba
Start-up : Go-Jek
Alat : Mediacorp-KapanLagi Network
Government of Singapore Investment Corporation (GIC)
- Investasi di PT Nusantara Sejahtera Raya (NSR) sejumlah Rp 3, 5 triliun (US$ 265 juta) . NSR yaitu pemilik jaringan bioskop yang mengangkat merk Cinema 21, Cinema XXI serta The Premiere.
- Menyuntik modal Rp 5, 2 triliun ke PT Trans Retail, anak upaya CT Corp.
Siam Cement Kelompok
- PT Semen Jawa (industri semen)
- PT SCG Readymix Indonesia (ready-mixed concrete)
- PT Keramika Indonesia Assosiasi Tbk (lantai/ubin dinding)
- PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (etilena, propilena, dan sebagainya)
- PT Kia Keramik Mas (genteng)
- PT Tangguh Pokok Arebema Tbk (distribusi)
- PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (bahan bangunan)
Khazanah Nasional Berhad
- Peningkatan project jalan tol Cikopo-Palimanan (Cipali)
- Punyai saham di CIMB Niaga, lewat CIMB Kelompok.
- Kuasai saham Axiata Kelompok Berhad, induk upaya PT XL Axiata Tbk (EXCL) .

Awal tahun ini, Temasek masuk perusahaan aplikasi transportasi paling besar di Indonesia, Go-Jek. Bersama dengan Google serta Meituan-Dianping asal China, Temasek menginjeksi modal fresh ke Go-Jek sejumlah US$ 1, 6 miliar.


Asing menyaksikan usaha Go-Jek, terlebih di metode pembayarannya, benar-benar mengundang hasrat. Lantaran, Indonesia mempunyai kelebihan, ialah populasinya besar dengan ekonomi yang selalu bertumbuh.
Artikel Terkait : BEP adalah

Kendaraan investasi punya Pemerintah Singapura yang lain, GIC pun gak pengen ketinggal. Perusahaan ini salah satunya berinvestasi Rp 5, 2 triliun ke PT Trans Retail, anak upaya CT Corp, dan berinvestasi US$ 265 juta atau Rp 3, 5 triliun di PT Nusantara Sejahtera Raya, operator jaringan bioskop Cinema 21, Cinema XXI, serta The Premiere.

Demikian juga Khazanah Nasional Berhad. Kendaraan investasi asal Malaysia ini tertarik membiayai project infrastruktur di Indonesia. Melalui anak upayanya, Plus Expressways Berhad, Khazanah punyai jalan tol Cipali.

Sesaat lewat CIMB Kelompok, Khazanah kuasai saham Bank CIMB Niaga. Perusahaan ini pun menguasai perusahaan telekomunikasi PT XL Axiata, lewat Axiata Kelompok Berhad.

Selayaknya Indonesia tidak jadi pirsawan di negeri sendiri. Lebih dari tujuh dekade berdiri, Indonesia belum punyai perusahaan investasi sendiri alih-alih ekspansi ke negeri berbeda.
Logged
Pages: [1]   Go Up